Artikel

SEPUTAR TERMINAL BIS DI INDONESIA

SEPUTAR TERMINAL BIS DI INDONESIA

PENGANTAR

Berawal dari diskusi ringan di grup TS mencatat bahwa ternyata ada isu2 di seputar “Terminal” yang mungkin belum dipahami oleh sebagian teman-teman.

Untuk sekedar refresh, pada tahun 2011, TS juga pernah sharing info singkat mengenai “Terminal” berdasarkan data tahun 2009 (bisa baca di https://www.facebook.com/notes/bismania-community/jumlah-terminal-di-indonesia/10150371815985114/).

Tulisan ini tidak akan keluar di ujian sekolah/kuliah, tapi sebagai anggota BMC masa gak ngerti sedikit pun soal terminal.


PENGERTIAN

Secara umum terminal merupakan suatu titik simpul dan berbagai moda angkutan, sebagai titik perpindahan penumpang dan berbagai moda ke suatu moda, juga merupakan suatu titik tujuan atau titik akhir orang setelah turun melanjutkan berjalan kaki ke tempat bekerja, rumah atau pasar.

Menurut UU No 40 Tahun 2015, Terminal adalah pangkalan kendaraan bermotor yang digunakan untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda angkutan.


FUNGSI TERMINAL

Fungsi terminal berbeda-beda dari perspektif pihak2 yang terlibat di dalamnya, sesuai penjelasan ahli transportasi, Edward K. Worlok (2005).

Bagi penumpang adalah untuk menunggu & berpindah dari satu moda atau kendaraan lain, tempat fasilitas informasi & fasilitas kendaraan pribadi.

Sedangkan fungsi terminal bagi pemerintah dari segi perencanaan & manajemen lalu lintas untuk menata lalu lintas dan angkutan serta menghindari kemacetan, sumber pemungutan retribusi & sebagai pengendali kendaraan umum.

Adapun fungsi terminal bagi operator adalah untuk mengatur operasi bus, penyadiaan fasilitas istirahat & informasi bagi awak bus & sebagai fasilitas pangkalan.

Jika berdasarkan studi Direktorat jenderal Perhubungan Darat tahun 1994 fungsi terminal ditinjau dari 4 (empat) unsur:

a. Titik konsentrasi penumpang dari segala arah yang berkumpul atau menuju ke terminal.

b. Titik dispersi, yaitu tempat penyebaran penumpang ke segala arah

c. Titik tempat penumpang berganti moda angkutan;

d. Pusat pelayanan penumpang

e. Tempat untuk memproses kendaraan dan muatan.


TIPE TERMINAL

Berdasarkan Kemenhub No 31 tahun 1995 pasal 2 mengklasifikasikan terminal bis menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu:

a. Tipe A, untuk melayani kendaraan angkutan antar kota dan antar propinsi (AKAP) dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan kota dalam propinsi (AKDP), angkutan dalam kota (ADK) dan angkutan pedesaan (ADES);

b. Tipe B, berfungsi melayani angkutan dalam kota dalam propinsi (AKDP), angkutan dalam kota (ADK) & angkutan pedesaan (ADES);

c. Tipe C, berfungsi melayani angkutan dalam kota (ADK) dan angkutan pedesaan (ADES).


JUMLAH TERMINAL BIS TIPE A

Karena jumlah terminal di Indonesia cukup banyak sementara yang sedang hangat saat ini adalah pengalihan tanggung jawab pengelolaan Terminal Tipe A, maka data yang disajikan di tulisan ini hanya jumlah Terminal Tipe A.

Menurut data resmi dari Kemenhub di http://www.terminaltipea.id/terminal/guest/data_terminal/ (akses per tanggal 24 Juli 2017), jumlah terminal bis di Indonesia ada 110 buah, dengan rincian sesuai propinsi:

- Banten (4)
- D.I. Yogyakarta (3)
- DKI Jakarta (13)
- Jawa Barat (12)
- Jawa Tengah (23)
- Jawa Timur (15)
- Bali (2)
- NTB (1)

- Bengkulu (1)
- Riau (1)
- Jambi (2)
- Sumsel (2)
- Sumut (2)
- Lampung (2)
- NAD (3)

- Kalbar (4)
- Kalsel (2)
- Kaltim (2)

- Sulsel (6)
- Sulteng (3)
- Sultra (1)
- Sulut (3)
- Gorontalo (3)

Menariknya, Propinsi Sumatera Barat tidak tertulis di daftar di atas! Apakah ini berarti bahwa memang tidak ada satu pun terminal tipe A di Propinsi Sumbar? Silahkan dicek kebenarannya di lapangan oleh member BMC yang kebetulan tinggal di propinsi terkait.


PENGELOLAAN TERMINAL BIS TIPE A

Sesuai amanat UU No 23/2014 tentang Pemerintah Daerah disebutkan bahwa terminal tipe A akan dikelola langsung oleh pemerintah pusat dalam hal ini Kemenhub (lihat “Sub Urusan Lalu Lintas Angkutan Jalan”, butir C).

Berdasarkan informasi yang bisa ditelusuri, sampai dengan bulan Nopember 2015, sudah ada 12 Kabupaten/Kota yang menyerahkan Terminal tipe A kepada Kemenhub (baca di http://industri.bisnis.com/…/12-kabupatenkota-sudah-serahka…).

Di Jakarta, salah satu Terminal Tipe A yang disebut-sebut sebagai termegah, termoderen dan terbesar di Asia Tenggara (?), yakni Pulogebang, sudah diresmikan penggunaannya pada musim mudik Lebaran tahun 2016 yang lalu setelah diuji kelaikannya oleh BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek) pada tanggal 6 Juni 2016, namun pengelolaannya belum secara resmi diserahkan kepada Kemenhub.


BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)

Sebagai konsekwensi diserahkannya pengelolaan Terminal Tipe A ke Kemenhub, lalu siapakah atau badan apakah di Kemenhub yang akan mengurus pengelolaan Terminal Tipe A?

Sejauh yang TS ketahui, yang berwenang mengelola Terminal Tipe A adalah BPTJ sesuai dengan pernyataan di situs resminya (lihat http://bptj.dephub.go.id/?tag=terminal-tipe-a).

Badan ini dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No 103 Tahun 2015 tentang BPTJ, namun sejauh yang sudah TS baca, PP tersebut tidak menyebutkan salah satu fungsi BPTJ sebagai pengelola Terminal Tipe A.

Payung hukum lainnya terkait BPJT adalah Permenhub No 66 Tahun 2016 tentang Pendelegasian Wewenang Menhub Kepada BPTJ, juga tidak menyebutkan adanya pasal yang menyatakan bahwa salah satu wewenang yang didelegasikan oleh Menhub ke BPTJ adalah pengelolaan Terminal Tipe A.


REFERENSI

1. UU No 23/2014 tentang Pemerintah Daerah;

2. UU. No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan;

3. Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM.31 Tahun 1995 tentang Terminal Transportasi Jalan;

4. SK. Dirjen Perhubungan Darat No: SK.1361/AJ.106/DRJD/2003 tentang Penetapan Simpul Terminal Transportasi Jalan di Seluruh Indonesia;

5. http://www.terminaltipea.id/terminal/…/home/home_event/81/14

6. http://publicapos.com/…/DKI-Serahkan-Pengelolaan-Terminal-P…


Repost tulisan Neng Nong Ara di Grup BMC Jakarta Raya

Kegiatan HARI INI