Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Banyak sekali kenangan manis yg dulu pernah kulewatkan bersama si Ijo. Harus kuakui, kala itu Ijo adalah idolaku, Ijo adalah fantasiku, Ijo adalah obsesiku. Bagiku belumlah pantas menyebut naik bis malam, bila bis yg naik bis malam selain bis Ijo.

Masih sering terbayang Ijo model “kapsul” MBM, model “Banteng” GMM, model “Jet liner”, “Setra”, “Millenum” karya-karya seniman RS hingga model “Intalan”.

Dalam sejarah semua orang harus mengakui bahwa Ijo pernah tercatat sebagai bis paling bergengsi dalam segala hal. Ijo kala itu adalah bis dengan banyak menyandang predikat “paling”. Paling rutin meremajakan bis, paling banter jalannya, paling bagus servisnya, paling hebat sopir-sopirnya dan lain-lain sebagainya.

Sayangnya, sang waktu berbicara lain. Sejak Ijo berkolaborasi dengan pembikin body asal kota Bakwan (Adi Putro) dengan label Royal Coach Old Travego hingga Setra, serta Millenium, Concerto dan Celcius bikininan pemasok setianya RS, reputasi sang raja jalanan pantura ini justru mengalami penurunan drastis.

Julukan yang “paling” terhadapnya, yang dulu selalu berkonotasi positif, sayangnya sekarang banyak berubah menjadi makna yang negatif.

Sungguh memprihatinkan belakangan ini Ijo identik dengan yang “paling lambat jalannya”, “paling lambat peremajaan armadanya”, “paling jelek servisnya”, “paling payah sopir-sopirnya” hhmm… Lunas sudah kenangan indahku bersamanya. Kenangan manis yang dulu-dulu sering kunikmati, di tahun –tahun terakhir ini kian tergerus oleh pengalaman-pengalaman yang mengecewakan bersamanya.

Sekalipun begitu, sekecil apapun sisa kenangan manis yg pernah kurasakan dengannya tak mudah menguap begitu saja. Kerinduanku akan nostalgi elok bersama Ijo tiba-tiba bersemi mekar kembali sejak Ijo hadirkan diri dalam sosok molek Karina SE berbusana Marco baru yang menawan karya agung perancang busana Adi Putro.

Adalah pendekar Ijo mania muda bernama Bob Andy yg jadi rujukanku untuk meng-explore tentang keberadaan Ijo saat ini. Cerita yang menggiurkan tentang bagaimana Ijo Karina SE memanjakan penumpangnya dengan andalan-andalan lamanya, bertemu dengan hasrat kerinduan nostalgia bersama membuatku mantab bulat ingin menggauli si Karina SE.

Bukanlah kali pertama hasratku untuk menggauli KS ini mencapai puncaknya. Sebelum ini juga pernah terjadi, namun sayang keadaan berbicara lain. Hasrat yang ingin kutumpahkan bersama Ijo terpaksa harus kupendam dulu, dan akupun sangat yakin …sekarang inilah saatnya melampiaskannya…!!!

Mata dan telinga tak bisa ditipu. Di depan tempatku bekerja mengais-ngais rezeki untuk menghidupi anak – istri, kusaksikan kenyataan, bis-bis dari Jatim / Jateng banyak yang telah melanggar pakem kedatangannya di Lebak Bulus. Ketika matahari sudah menuju arah tegak 90 derajad dari atas tanah yg kita pijak, bis-bis itu baru melakukan “approaching pendaratan” ke Lebak Bulus. Keadaan itulah yang akhirnya menjegal langkahku untuk bercengkerama bersama si legenda Ijo.

“Jalur Kudus – Pati hancur om !”,

“Jangan lewat pantura om”,

“Apa gak sebaiknya pilih jalur selatan saja om..?”

“Aku dari arah Pati ke Kudus kena macet 4 jam om”

Begitulah komentar-komentar “mengerikan” yang kuterima di saat hati berbulat tekad menumpangi Karina SE.

Provokator-provokator Jatimers (Hari Jumbo Intercooler, Dudi, dll) tak jemu-jemu menggempur pertahanan hasratku untuk bersama Ijo. Akhirnya gumpalan kekerasan hasratkupun terpaksa hancur luluh lantak kala kisi-kisi asaku menjadi kepingan-kepingan kecil yg tak mampu lagi membentuk wujud bayangan Ijo.

Kuubah bayangan Ijo ke bayangan lain yang tak melintas ke arah pantura Jatim.

Bagai membuka buku menu makanan di restoran mewah, di saat sore menjelang pulang kantor kutebar pandanganku ke jalan toll di depan kantor, banyak bayangan yang muncul, namun akhirnya hatiku terpaut pada sosok putih bergaris-garis coklat bernama Gunung Mulia.

Kenapa Gunung Mulia ?. Alasanku sederhana: Aku penasaran karena belum pernah menggaulinya. Aku salut dan menaruh respect yang penuh kepada PO ini karena kemampuan bertahan dan berkembang di era persaingan yang makin keras ini.

Sehari menjelang keberangkatan, saat tumpahan air dari langit usai mengguyur wilayah Jakarta bagian selatan, kudatangani terminal bis terdekat dari rumah dan kantorku. Karena baru pertama kali aku akan naik salah satu legenda soloensis ini, ketika masuk pelataran deretan loket penjualan tiket sempat nyasar ke Gunung Mulia Putra. Ternyata loketnya lain dengan Gunung Mulia (non Putra).

Seperti umumnya bis soloensis, tiket Gunung Mulia sangat minimalis, hanya selembar, tanpa gambar bis, tanpa lembar tembusan / salinan. Sayangnya deretan kursi favorit depan telah ludes terjual, akhirnya hanya dapat tiket baris kedua dari depan di belakang seat Driver.

Kulirik di jalur pemberangkatan, disitu armada terbaru Gunung Mulia Executive berbusana Legacy bersiap-siap berangkat menembus pantura Jabar – Jateng menuju kota Tengkleng Solo. Dengan begitu sudah pasti besoknya aku tak bisa mendapatkan armada yang kuincar (Legacy) ini. Probabilitasnya tinggal 50 : 50 antara yg Nucleus 3 atau Proteus (begitulah info dari Bob Andy).

Singkat cerita esok harinya aku langsung ke Lebak Bulus dengan nawaitu menunaikan ibadah wajib bismania (turing) menuju Solo. Aku sempat mengabarkan ke beberapa teman BMC tentang rencana turingku itu, bahkan sempat pula dibroadcast melalui sms agar sekalian diacarakan kopdar di Rwmangun mengantarku naik Gunung Mulia karena informasi yang aku terima bahwa bisku akan mampir Rwmangun dulu sebelum berangkat ke Solo.

Ketika sedang di perjalanan menuju Lebak Bulus teleponku berdering. Wahyu Nugroho mengabarkan bahwa dirinya juga akan ke Solo, dan berminat bareng naik Gunung Mulia. “Waah..kebetulan ini” jawabku.

Kutelepon agen Gunung Mulia dan dijawab “seat sebelah bapak masih kosong pak”. Tanpa pikir panjang kupesankan seat sebelahku untuk Wahyu. Meskipun keputusan ini bisa menghilangkan kesempatan bagiku untuk (siapa tahu) bisa bersebelahan dengan “makhluk halus”, tapi ya sudahlah… sesama bismania dilarang saling mendahului.

Untung saja ketika melaporkan kedatanganku ke loket Gunung Mulia kupastikan lagi apakah bisku akan mampir Rwmangun. Ternyata jawaban mas-mas yg ada disitu : “mboten mampir pak, kolo wingi saking wetan rame, bisipun mangkat kalih. Dinten meniko saking Rawamangun mangkat setunggal, saking mriki setunggal” (tidak pak, kemarin dari timur ramai, bisnya berangkat dia, hari ini dari Rawamangun berangkat satu dari sini satu).

Buru-buru kukabarkan info itu ke mas Wahyu Nugroho dan teman-teman lain yang sudah kadung menunggu di Rawamangun.

Singkat cerita akhirnya mas Wahyu menutuskan tetap naik Gunung Mulia, tapi dengan armada yang berangkat dari Rawamangun.

Sosok RK-8 Nucleus sudah menungguku di tempat pemberangkatan. Diiringi rintik-rintik air gerimis kecil, cepat-cepat kuangkat tas ranselku dan bergegas masuk dalam cabin bikikan Ungaran itu. Hmmm…. seat kirinya hanya enam baris terasa lega.

Kuhempaskan badanku ke seat bikinan Versa, sayangnya untuk seatku yang berada di posisi window (jendela) ternyata minus arm rest. Sebelum bis berjalan, ketika penumpang masih sepi aku coba explore interior bis ini. Kutengok toiletnya,….hhmmm…bersih dan tidak berbau !, sayangnya ada ember besar di taruh pas di pintu masuk. Mungkin maksudnya supaya tidak kehabisan stock air untuk mengguyur closet, namun bagi yg lagi pipis jadi sulit ambil posisi yang pas.

Akhirnya mesin bikinan Jepang bertenaga 260 PS pun mulai bekerja, mendorong gardan dan menggelindingkan roda Tak lama setelah itu Asisten Driver mulai membagikan Snack. Sajian snacknya cukup lumayan. Isinya kue2 kering, cocok buat kudapan dan tidak perlu khawatir basi.

Driver pertama jalannya tidak stabil, lumayan kencang namun kadang pelan. Dari cara bawanya, saya hanya ikhlas untuk memberi nilai C. Caranya melepas kopling setelah pindah gigi agak kasar sehingga selalu terasa hentakan. Saat berjalan kencang cara menyalip suka ragu-ragu.

Beberapa bis yang terkenal pelan berhasil diasapinya antara lain Sinar Jaya dan Sumber Alam, namun sudah pasti Gunung Mulia bukanlah bandingan bagi Muriaan, sehingga Nusantara, Haryanto dan Shantika pun melesat dengan mulus meninggalkan Gunung Muliaku.

Masuk RM Markoni saya sms mas Wahyu, ”sampai dimana mas?”

rupanya dia masih di toll di daerah Cikarang. ”Cepat juga bisnya pak ya…?” komentarnya.

Selesai makan ganti Driver 2. Berharap dapat yang lebih ngejoss tapi halus, ternyata gaya putri Solo lemah gemulai yang kudapatkan. Shantika Merah, Nusan, PK bahkan Gunung Mulia Putra MB lama mengasapi bisku.

Selama di jalan bisku hampir tidak menyalip satu bispun. Bahkan Sumber Alampun cuma dibuntuti saja dari belakang tanpa ada upaya mendahuluinya. Daripada bosan kuputuskan tidur saja, hingga bangun sekitar jam 02.30 ketika bis masuk di RM Sari Rasa.

Jam 3 keluar dari Sari Rasa. Kemudi kembali dipegang Driver 1. Gaya jago kandang mulai dipertontonkan. Ketika mulai dekat kandang sendiri baru berani ngejoss. Selepas Salatiga Rosin non AC 241 livery baru jadi korban pertamanya, Raya tampak belakang model nucleus serta Rosin 253 jadi korban berikutnya. Taruna AC dan Muncul Patas dari arah Solo ke Semarang sempat dipaksa turun dari aspal ketika Gumulku ngeblong truk gandeng.

Di tengah-tengah speed yang tinggi, dari kejauhan nampak sosok ”alap-alap” (nama burung yang kencang sekali terbangnya) yg akrab di mataku. Sosok garang itu lincah menari-nari menyelusup kepadatan arus di jalan sempit menanjak dan berliku. Akhirnya sosok itu terjebak lampu merah keluar dari kota BuayaLupa (Boyolali). Sosok yang dibuntuti oleh Gunung Muliaku tak lain adalah SK ATB Legacy W 7722 UY.

Setelah iring-iringan uji nyal, akhirnya si Garang ini berhasil diasapi dengan cara yg kurang sportif di daerah Kartasura, saat si garang sedang menaikkan penumpang.

Masuk kota Solo gas masih dibejek. Mengekor di belakang Gunung Mulia lain bermesin MB berbody cangkokan Legacy dan Nucleus 3 berkode no kode 65. Dan….dengan modal tenaga Hino yang lebih besar ketimbang si MB tua itu maka sudah pasti Gunung Muliaku lebih unggul dalam Penang Guadara yang tidak seimbang ini.

Pukul enam kurang beberapa menit Gunung Mulia Nucleus 3 ku merapat di Tirtonadi. ¾ jam kemudian mas Wahyu pun tiba dengan selamat bersama Gunung Mulia RK-8 Proteusnya, menyusulku menikmati sarapan pagi disana

Meskipun rencana turing bersama ijo belum terlaksana, namun menikmati Gunung Mulia cukup memberikan kepuasan bagi turingku saat itu. Armadanya, kebersihannya, harga tiketnya dan pelayanannya dapat nilai bagus semua, cuma sayang Drivernya nilainya masih pas-pasan dan suspensi RK8 nya kayanya belum dimodifikasi (masih terasa keras bantingannya).

Salam, Didik SS


Catatan Perjalanan yang lainnya:



PAIDI
Ditulis oleh

''

1 Comment

  1. rudey86 /

    mas didik tiket gunung mulia berapa..dpt service mkn gk??
    tnx..
    :)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;