Berita yang dibeberkan Mas Bayu Tri ke mahkamah milis bismania@yahoogropus.com, yang dikutip dari forum BlackBerry Messanger (BBM) BMC Jateng Utara, sungguh-sungguh menggegerkan, meletupkan kehebohan, bikin gempar, dan naga-naganya membidani lahirnya ragam opini, seteru pendapat, sengketa pemikiran, serta pro dan kontra dalam menanggapinya.
“Merinding membaca status Pak Guru Solo…Merinding di tengah malam, setelah menelepon Mas Ibnu Soetowo (member Bismania Community dari Todanan, Blora-pen).
Satu armada Pahala Kencana & dua truk semen mengalami musibah mistis di hutan daerah Todanan, Blora. Tiga kendaraan ‘tau-tau’ berada di tengah hutan jati, di pucuk pegunungan.
Dari olah TKP, tidak ada jejak roda sehingga kemungkinan ‘digondhol’ penunggu Hutan Todanan. Peristiwanya terjadi pada Rabu malam, pukul 02.30. Evakuasi sulit dilakukan karena bus dan truk berada di antara pohon-pohon jati.
Menurut paranormal setempat, ketiga armada tersebut beruntung karena mendengar kokok ayam. Seandainya tidak, para penumpang berikut tiga kru tidak akan pernah kembali ke dunia beserta armadanya.
Awalnya, bus jurusan Jakarta-Madura baru saja lepas dari Kota Juwana. Karena ruas Juwana-Rembang macet oleh adanya perbaikan jalan, sopir mencoba lewat jalur alternatif. Sesampainya di pertigaan Jaken (wilayah Kabupaten Pati bagian selatan), dia merasa seolah-olah di depannya adalah Jalur Pantura. Namun nahas, ternyata jalan yang dia maksud malah mengarah ke Kabupaten Blora.
Yang dilalui merupakan jalur desa, sementara sopir merasa melewati Jalan Pantura. Ternyata dia ‘diarahkan’ ke arah hutan Gadogan, di mana hutan ini berada di Desa Kedung Bacin Kec. Todanan Kab. Blora. Perlu diketahui, wilayah ini merupakan daerah pegunungan hutan jati.
Entah kenapa saat mau mendahului truk yang berhenti di sebuah tanjakan, kernet mencoba menahan sopir agar truk selesai menanjak terlebih dahulu. Setelah truk berhasil, bus pun mencoba naik namun ban belakang justru selip, dan mundur. Kemudian terdengar suara benturan.
Kernet seketika turun dan mencoba memeriksa keadaan. Setelah melakukan pengecekan bersama sopir, mesin mendadak mati. Seketika mereka kaget, karena di sekitarnya yang dilihat adalah jajaran pohon-pohon jati. Setelah berjalan mengitari sekeliling bus, barulah disadari bahwa mereka berada di tengah hutan.
Dan kernet mencoba membangunkan penumpang yang berjumlah 33 orang. Semua panik, sopir hanya bengong. Selama empat jam di tengah hutan, tiada lampu penerangan. Sekitar pukul 06.30 WIB, kru mencoba mencari pemukiman warga dan meminta pertolongan.
Kemudian warga melapor kepada lurah setempat dan kemudian menindaklanjutinya ke Polsek Todanan. Aparat kepolisian turun langsung ke TKP.
Namun apa boleh buat, mobil patroli tidak bisa masuk ke lokasi karena aksesnya berupa jalan setapak/ jalan ternak. Hampir lima jam bus dan truk terdampar di sana. Mekanik Pahala Kencana yang didatangkan dari pul Kudus juga kaget melihat posisi terakhir busnya.
Sekitar jam lima sore, bus bisa dikeluarkan dengan cara memotong sebagian pohon dan memapras tanah agar jalur lebar dan bisa dilewati bus dan truk. Pukul 18.35 WIB, armada bisa dibebaskan dan dibawa ke jalan desa.”

Wow…unbelieveable!
Dahiku berkernyit usai membaca. Akal terbata manakala menelaah kalimat per kalimat. Nalarku sulit menjangkau untuk sekadar urun kebenaran akan kevalidan kabar irasional yang demikian. Sebagai insan yang hidup di era hyper modern, sontak logika ini ditantang untuk menjelaskan secara ilmiah bagaimana fenomena ganjil bisa menimpa bis dan dua truk, sehingga terdampar di daerah yang baru pertama kali ‘diperawani’ kendaraan besar lagi lebar itu?
Berbekal sedikit pemahaman tentang geografis alam Pati kidul wetan dan penjuru barat daya Kabupaten Rembang — tatkala zaman berseragam putih abu-abu aku pernah menjelajahinya saat tandang ke rumah teman-teman sekelas yang tersebar di daerah Batangan, Jaken, Sumber dan Kaliori –, aku pun hanya kuasa berandai-andai mengilustrasikan rute ketersesatan ketiga kendaraan ban dobel tersebut.

Kesimpulanku, pasti dan pasti… di ‘lorong gelap’ itulah mereka terjebak dalam pusaran ‘mesin waktu’.
“Di dalam sana itu daerah hitam, Dik. Kalau tak ada keperluan penting, tak usahlah pergi ke sana. Cari penyakit!” demikianlah nasihat salah satu kawan SMA-ku kala itu, menunjuk satu jalan ke rimba yang sepi dan seolah tak bertuan. Pepeling itu seakan menyembunyikan kemisteriusan areal hutan jati dan ‘bukit barisan’ Kendeng Utara, yang membujur dari wilayah Pati, Grobogan, Blora, Rembang, Tuban dan berujung di Lamongan.
Dalam benak remaja sweet seventeen yang naif dan masih ijo, aku pun manggut-manggut, kutelan mentah-mentah larangan yang jelas-jelas absurd dan ku-haqqulyakin-i saja omongan karibku. Kupenuhi pamali itu, hingga belasan tahun kemudian kulanggar juga gara-gara tergelitik rasa penasaran untuk mencari jawab, mengapa obyek yang aku interest-i, — bus –, bisa-bisanya kelayapan ke dalam area kelabu itu.
Jujur saja, aku juga bakalan keder jikalau nekat sendirian ke sono. “Lebih afdal berjamaah,” pikirku. Satu orang penakut, meski ditemani satu orang penakut, niscaya berdua jadi pemberani. Itulah premis yang jadi dalih pembenarku untuk nyari makmum.
Beruntung, waktu menunggu keberangkatan HR-47 Haryanto di Terminal Rawamangun, aku bersua Mas Yeremi Adi, yang kebetulan juga pulang ngetan dengan PO yang sama, namun beda armada.
Dari obrolan singkat dengan Pujangga Parakan, aku pun rasan-rasan, menawarkan diri sebagai host event turing mistis. Dan aku pun berharap, bukan hanya dia yang ‘mendaftar’, syukur-syukur dapat menggandeng rekan-rekan penggemar bus yang lain.
Bak gayung bersambut, ajakanku tak bertepuk sebelah tangan. Meski masih tentative, tercatat Mas Choirul Arifin, Mas Ponirin, Agus Yulianto, Mas Priya, Yuanito Bayu dan WAG’s-nya, Miss Sera, Koh Hary Intercooler feat GPS-nya, menyatakan siap bergabung.
—-
“Mas, kalau Bayu dan Agus tiba di Rembang di atas jam sembilan, kita urung saja ke Todanan!” kesahku skeptis kepada Mas Ponirin dan Mas Yeremia, saat dua sejoli itu aku gelandang untuk menikmati sarapan sate srepeh di kawasan Pecinan, Gambiran, pada Sabtu pagi (7/7).
Berdua adalah anggota kloter pertama yang berlabuh di Kota Rembang lantaran start take off-nya dari jarak paling dekat, Jogjakarta. Dari tutur cerita, semalaman mereka mengekspresikan gairah malam dengan mengais sisa-sisa keganasan Sumber Kencono, bersafari bersama Royal Safari ke Semarang, dan dipungkasi acara bernostalgia naik PO Indonesia menuju bumi Dampo Awang.
“Mengapa, Mas?” tanya Arjuna Wirobrajan yang sedang mencari cinta itu penuh ketidakmengertian.
“Waktu kita sangatlah sempit, Mas. Dari sini menuju Kedung Bacin, setidaknya butuh dua jam. Praktis, waktu yang tersedia bagi kita hanya empat jam-an, karena pukul setengah dua kita mesti berkumpul di agen Garuda Mas, Blora.” kilahku saat kami bertiga duduk lesehan mencicipi kuliner sate ayam bercita rasa khas pesisir itu.

“Kita harus cermat mengatur waktu.” imbuhku.
Kecemasanku cukup berdasar.
Satu jam yang lalu, si gibol, Bayu dan Sera, yang tengah di dalam kabin Pahala Kencana Super Eksekutif dan jejaka berjuluk Alay yang lagi bermesraan dengan Mas Sulikan, driver HR-51 Redbull, sama-sama mewartakan baru menapak Kota Pati.
Adalah pengecoran badan jalan antara ruas Juwana-Batangan yang jadi akar kerisauanku. Kondisi lalu-lintas sulit diprediksi, tak gampang ditebak soal flow-nya. Bahkan, beberapa hari yang lalu, sempat stagnan lama dan butuh tiga jam untuk mengarunginya. Parah bin akut…
Inilah yang aku takutkan pagi ini bakal terjadi, walaupun dua atau tiga jam yang lalu, saat duet Santoso Lover dan Sumber Alam Lover mengaspalinya, terbilang ramai lancar.
But…it’s our lucky day. Dewi Fortuna rupanya berpihak pada kami. Tepat jam 08.00, datang rikues yang hampir berbarengan dari Bayu dan Agus, agar aku menjemput mereka di Terminal Rembang dan Taman Kartini.
Yup…meski mepet, aku harus berani berspekulasi agar tetap menggelar pelesir dunia supra-natural ke Alas Todanan. Tak akan kusiakan-siakan jerih payah, perasan keringat serta terkurasnya isi dompet mereka, yang datang jauh-jauh dari ‘tanah seberang’.
Sate sebanyak 70 tusuk dalam sekejap pindah ke dalam rongga pencernaan. Diseling bincang-bincang ringan, kami berenam menyusun alokasi waktu, memetakan jalur, serta menggarap draft sederhana tentang rundown acara yang bakal kita lakoni setengah hari ke depan.
Sayang sejuta sayang, ‘pakar ayam goreng’ dari Mojoagung mundur dari rencana semula demi alasan yang tidak bisa aku ganggu gugat.
Pun dengan penggawa harian Tribun News, juru tinta berinisial CA. Andai beliau dapat turut serta, tentu aku tak bakal diplekotho tamu-tamuku untuk menulis cerita keisengan dan keingintahuan kami yang menggebu-gebu terhadap musibah mistis serta sarat aroma klenik itu.
Padahal aku sudah ambil ancang-ancang, andai yang ngikut lebih dari tujuh orang, hendak kusewakan Colt pick-up bak terbuka. Hehe…
“Ayo, berangkat. Tak usah ngulur-ngulur waktu!” ajakku membuyarkan keasyikan leyeh-leyeh menghirup kesejukan udara pagi, saat jarum jam menunjuk angka 08.45.
Segera kupacu roda empat berdapur pacu 1.3 liter membelah keriuhan truk-truk yang melaju lambat di atas trek Pantura. Kira-kira 10 menit berlalu, sampailah kami di pertigaan Tambak Omben, Kaliori, dan segera kuarahkan kemudi menyimpang ke kiri dari jalan besar.
Hamparan tambak berhektar-hektar menyejajari jalan Desa Dresi Kulon. Petani garam tengah sibuk dengan prakaryanya, mengolah air laut menjadi butiran ‘emas putih’ yang bernilai jual. Hasil kerja merekalah yang memberi warna perekonomian bagi kabupaten miskin di ujung timur Jawa Tengah, sehingga tanah kelahiranku diidentikan dengan sebutan kota garam.

Mengarungi wilayah Kaliori bagian selatan hingga memasuki distrik Sumber, tak ada lagi pemandangan tambak-tambak garam. Gelaran alam menjelma jadi ladang dan persawahan yang keadaan tanahnya berangsur kering, merana, nelo-nelo (pecah-pecah), dipapar terik mentari.
Dua kilometer menjelang ‘ibukota’ Kecamatan Sumber, mobil MPV 7 seaters pun berbelok, merangkaki connecting road perekat Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati. Setelah berjibaku dengan kerusakan jalan yang masif lantaran acapkali kendaraan berat menindihnya sebagai imbas ‘perselingkuhan’ dari jalur utama, sampailah kami di pinggir Desa Jaken, Kec. Jaken, Kab. Pati.
Dari titik inilah, kami akan mengawali simulasi sekaligus napak tilas, bagaimana Pahala Kencana jurusan Madura itu ‘kehilangan navigasi’ sehingga melenceng jauh dari ‘alur pelayaran’ yang semestinya.
Mulanya, dari jalur Juwana-Ngebruk-Jakenan-Sidomukti-Jaken — sebagai posisi awal perjalanan bus Pahala Kencana dari barat/ Jakarta –, sampailah kami di simpang tiga Jaken. Rambu petunjuk yang berdiri menjulang, serta papan darurat yang tertempel pada badan drum yang diletakkan persis di tengah pertigaan, terlihat sangat kentara. Tanda panah ke kiri mengarahkan kendaraan ke Batangan, dan sebaliknya, ke kanan menunjukkan tujuan Blora.


Asumsi kami, driver bus berkaroseri model Setra Adi Putro tersebut ingin menghindari Batangan, karena biasanya, daerah tersebut belum sepenuhnya terbebas dari kemacetan. Arah yang kemudian diambil oleh Pahala Kencana divisi Jakarta tersebut adalah berbelok kanan, menyusuri jalan perbatasan dua desa, yakni Jaken dan Sidoluhur.
Dirintisnya percobaan kedua dalam usaha kembali ke medan Pantura, yakni via Sumber. Jalan alternatif ini bisa menembus Kaliori ataupun Rembang, dua daerah yang sudah jauh dari simpul kekarut-marutan lalu lintas, efek dari pembetonan jalan di ruas Batangan-Juwana. Atau bagi yang familiar, dapat memanfaatkan shortcut Sumber-Sulang-Banyu Urip-Jape Rejo hingga berujung di Kota Kecamatan Lasem, tanpa melewati Rembang Kota.

Karena minimnya lampu penerangan serta petunjuk arah yang terpasang, – maklum setiap ada proyek yang melibatkan beberapa pihak, selalu muncul kurangnya koordinasi antar bagian terkait– sesampai di persimpangan Desa Sidoluhur, seharusnya ‘moda raksasa’ tersebut mengarahkan moncongnya ke kiri, yang merupakan jalan urat nadi penghubung Kabupaten Pati dan Kabupaten Rembang.
Memang sih, ada dua handicap yang menghadang para pelintas rute ini. Terlebih bagi kendaraan besar semisal bus atau truk. Selain dibutuhkan ketrampilan dan kejelian memanfaatkan ruang sempit, dituntut pula nyali serta keberanian.
Ada dua jembatan kecil yang jauh dari kata layak untuk dibebani kendaraan di atas 7 ton. Yakni Jembatan Sri Katon, yang membentang di atas Sungai Randu Gunting, yang merupakan batas alam antara wilayah Pati dan Rembang. Bangunan peninggalan penjajah Belanda ini masih melestarikan bentuk asli berupa bridge barrier (penghalang samping) dengan ciri beraksen lengkung khas Eropa, serta buk (aproach barrier) yang fisiknya tampak tebal, kekar lagi kokoh.

Satu lagi adalah Jembatan Sekarsari, yang diampu Desa Sekarsari, Kec. Sumber, Kab. Rembang. Jembatan ‘ala kadar’nya ini bahkan jauh lebih berbahaya, karena lebarnya sedikit di atas 2.50 meter. Bus yang nekat melewatinya harus bersiap diri, tubuhnya bakal tergores sayap jembatan bila kurang titis (akurat) dan waspada. Sementara, titik sambung antara jembatan dan badan jalan mulai ambles dan tebing sekitarnya rawan longsor, dilintasi puluhan kendaraan per hari dengan tonase di atas batas kemampuan gelagar jembatan.

Belum lama, saat perjalanan pulang jalan-jalan bersama keluarga dari Kudus dan memilih opsi jalan kelas III ini, aku dituntut bersabar saat antri bergiliran melintasi jembatan mini. Aku pun jadi saksi mata bagaimana saat dua bus Nusantara — NS-39 dan NS-29 –, dua Pahala Kencana Bojonegoro serta empat bus wisata Akas NNR dari timur, begitu pelan dan berhati-hati saat meloloskan diri dari tantangan berat ini.
Faktanya, keberadaan jalan pintas ini tak berhasil diendus driver Pahala Kencana. Lantaran tak ada petunjuk jalan yang memadai ditambah buta jalur, bus bermesin Hino varian RG yang seharusnya membelok ke kiri, akhirnya bablas, lurus menuju ‘negeri antah berantah’.

Awalnya, kondisi medan cukup menipu. Jalanan relatif mulus, aspal terpelihara dengan baik dan lebarnya masih memungkinkan andai saja berpas-pasan dengan roda empat yang lain. Mobil yang kutanggangi pun sanggup berlari di angka 50 km/ jam, tanpa takut penumpang bagian belakang terguncang oleh body roll kendaraan nan hebat.

Kanan kiri jalan didominasi hamparan bulak (areal persawahan nan lapang) yang kini berubah fungsi menjadi ladang. Lantaran sawah tadah hujan, selama kemarau dikaryakan para petani penggarapnya untuk budidaya palawija.
Sekilas tanaman cabai, jagung, kacang tanah, tembakau, tebu serta kebun jati milik warga setempat mewarnai alam di pinggiran hutan yang cenderung berpartikel tanah lempung.
Di penghujung wilayah Sidoluhur, berdiri meraksasa empat pohon trembesi yang di mata kami cukup unik dan eksotik. Kuartet tumbuhan peneduh berumur ratusan tahun, dengan jarak tanam yang simetris, menaungi badan jalan. Seakan-akan konfigurasi dahan-dahan yang menjuntai memberi ucapan selamat datang nan ramah kepada kami.
Namun, itu tidak disepahami oleh Agus Alay. Dia berucap lirih, “Mas, hati-hati. Kita mulai masuk kerajaan gaib yang besar dan megah. Ini adalah pintu gerbangnya!”
Ups… kami langsung terdiam. Sebagai ordinary people, toh, apa yang ada di sekeliling kami adalah ruang hampa, tak ada makhluk lain yang tampak dan bisa dirasakan kehadirannya.
But…well, the show must go on…
Kian masuk ke dalam, jalanan semakin rusak, bergelombang dan aspalnya mengelupas merata. Kendaraan kecil tak bisa lagi dipacu dan laju kami kalah dengan roda dua yang sesekali melintas.
Setelah ditemani kebun tebu yang cukup luas, diseling vegetasi pohon-pohon jati hasil reboisasi, menyusuri jalanan yang sepi, dan sebelumnya melewati jembatan yang sempit, kami tiba di suatu kampung yang lumayan ramai. Desa Ronggo, namanya.


Kami pun membelah desa terpencil di wilayah tenggara Pati, yang dihimpit Desa Ronggo Mulyo, Kec. Sumber, Kab. Rembang serta Desa Kedung Bacin, Kec. Todanan, Kab. Blora.
Saat melintasi pasar Ronggo, dan sesekali memandang wajah-wajah innocent warga dusun, ada semacam ke-kurangwelcome-an yang kami terima. Entahlah itu perasaaanku saja ataukah benar adanya. Seakan mereka melihat kami dengan tatapan mata yang nanar, penuh curiga, tidak seperti penduduk desa-desa lain di Pulau Jawa yang habitnya ramah. Mungkin saja, adanya mobil asing yang melintas di pelosok kampung adalah sesuatu yang mereka anggap aneh dan menimbulkan tanda tanya besar.
Apalagi saat kami berpas-pasan dengan beberapa laki-laki bersepeda motor, yang hebatnya sambil menjinjing balok jati ukuran 12 cm X 12 cm X 250 cm secara sendirian, semakin antipati saja mereka melirik kami.
“Orang sini tampangnya seram-seram ya, Mas?” ujar Lek Ponirin mengungkapkan keawamannya.
Aku hanya bisa berbisik dalam hati, inilah yang kumaksud lorong gelap di awal tulisan ini. Dan (semoga saja tidak) bisa berpotensi untuk mendatangkan ‘penyakit’ bagi kami. Ada sebuah rahasia yang saat turing waktu itu tidak aku bongkar kepada Bayu dkk.
Hidup di tengah lingkungan yang keras, ditempa panasnya alam untuk sekadar mencari sesuap nasi, dikelilingi kawasan hutan yang angker, — dan seringkali terjadi ‘rebutan lahan’ antara masyarakat dengan Perhutani –, kondisi sosio-ekonomi yang termarginalkan, serta jauh dari hingar bingar kehidupan kota, melahirkan sosok-sosok manusia yang tahan banting, jiwa-jiwa pemberani, darah kesatria, bermental baja, gampang tersulut, rentan dan labil serta tak kenal kompromi dengan segala urusan yang tak cocok di hati mereka.
Maka lahirlah pendekar-pendekar pribumi yang kesaktiannya cukup moncer hingga ke desa-desa tetangga.
Ada beberapa dusun yang cukup ditakuti serta disegani terkait sepak terjang para jagoan-jagoannya. Pagak, Sobo, Keso serta Ronggo adalah beberapa di antaranya. Dahulu, setiap ada tawuran massal, keributan di pentas hiburan, atau gesekan antar geng kampung, hampir selalu di antara pemuda-pemuda dari dusun-dusun ini terlibat di dalamnya. Tak jarang, akhir dari keonaran-keonaran dipungkasi dengan tetesan darah, atau istilahnya Maduranya-nya carok.
Konon katanya, gali-gali (gabungan anak liar) itu sengaja ‘diternak’ oleh penguasa Orde Baru dengan tujuan politis, untuk mengalihkan isu-isu tingkat lokal maupun regional. Meski kini tingkat kerawanannya tak seperti dulu, tapi sisa-sisa dan bahaya laten muncul kembalinya premanisme dan laku barbar tetap wajib dicermati.
Yang lebih membelalakkan mata, dari bocoran artikel yang pernah kubaca dari website Perum Perhutani Jawa Tengah, Desa Ronggo disinyalir sebagai pasar kayu curian terbesar di Pulau Jawa. Para cukong dan mafia illegal logging banyak yang bermain, memanfaatkan masyarakat di sekitar hutan dalam menggerakkan modus operandi mereka. Siapa yang tak tergiur dengan keuntungan yang sangat besar, seiring kian mahalnya harga bahan baku kayu? Apalagi, menurut klaim kartel perkayuan, kualitas kayu jati daerah Blora adalah highest grade. Nomor wahid. Tak mengherankan, sewaktu Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dibangun, sebagian besar kayu pembuat anjungan-anjungan rumah adat, materialnya didatangkan dari daerah ini.
Karena bukanlah bisnis resmi, tentu saja, orang-orang yang kepalang terjun ke dunia kriminal ini berbekalkan bondo nekat, sehingga perlu bermodal olah kanuragan atau ilmu bela diri sebagai tameng perlindungan serta memupuk kepercayaan diri.
Dari berita yang aku dengar, berkali-kali Desa Ronggo ini disweeping pihak Kepolisian bekerjasama dengan Perhutani untuk memutus mata rantai jaringan kayu ilegal. Namun, sekian kali itu pula gagal. Bahkan aparat negara terkesan kapok setelah mendapatkan perlawanan masyarakat di pinggir hutan, lalu angkat tangan, dan akhirnya membiarkan aksi pembalakan liar.
Namun, secara alamiah, susutnya jumlah pohon jati dengan sendirinya menyusutkan pula bisnis kayu gelap ini.
Barangkali, dengan pengalaman pahit dan hubungan yang kurang harmonis dengan para penegak hukum, masyarakat Ronggo terkesan tertutup, high resist serta low permissive terhadap kedatangan orang lain yang kebetulan melintas.
“Siapa saja yang lewat sini, patut dicurigai sebagai intel-intel yang sedang mengintai kami”. Mungkin demikian yang terpatri di benak mereka.
Sampai pojok desa, jalan utama itu semakin memprihatinkan kondisinya. Ngenes. Nyaris tak ada lagi aspal yang tersisa di permukaan jalan. Hanya menyisakan gravel dan pasir kuning yang menghambur-hamburkan debu kala disisir tapak-tapak roda yang melindas.



“Gila, jalan amburadul begini tak menyadarkan driver bus malam itu untuk setidaknya berhenti dan mengevaluasi rute yang telah ditempuhnya?” benakku diliputi ketidakpahaman.
Pertanyaan lain kembali mencuat. Mengapa ketiga kendaraan besar itu bisa menerobos Desa Ronggo, yang rumah-rumah penduduknya berderet kurang lebih 2 km-an dan berhimpitan dengan badan jalan? Bukankah suara mesin dalam kecepatan rendah pasti terdengar riuh menderu, sehingga setidaknya membangunkan salah satu warga tentang anomali peristiwa tengah malam saat itu?

Nyatanya, bertiga lolos-lolos saja, mulus tanpa mengalami kendala apapun. Ataukah memang benar adanya tentang tuduhan ‘penculikan’ si penunggu hutan terhadap mereka?
Mbuh, ah…
Setelahnya, kami berenam benar-benar merasa sendirian berada di planet yang asing, dikepung kawasan hutan dan disorot terik surya yang membakar. Meski siang, jalanan bak areal pemakaman, sungguh-sungguh lengang, jarang sekali kami berpas-pasan dengan warga setempat.


Karena ragu, jangan-jangan bukan jalan ini yang menyesatkan kendaraan-kendaraan ber-cc besar tersebut, serta tak sekalipun ada jejak telapak ban besar yang menempel di atas jalan raya, kami pun bertanya pada seorang ibu yang tengah pulang merumput, mencari pakan ternak.
“Bu, niki leres radosan arah Todanan?” tanya Mas Yeremia, yang fasih melafalkan bahasa jawa halus. (Bu, benar ini jalan ke arah Todanan?)
“Leres, Mas.” jawab ibu yang sudah berumur itu. “Mas badhe tindak pundi?”(Mas mau kemana?)
“Kedung Bacin, Bu”.
“Inggih, leres niki radosane, Mas.” sekali lagi ia menegaskan. (Iya, benar ini adalah jalannya.)
“Bu, mireng menawi ndek wingi wonten bus kesasar teng mriki?” lewat lisan lajang Parakan itu, kami mengorek keterangan satu narasumber dadakan, sebagai counter bahwa berita itu benar adanya, bukan hoax. (Bu, sudah mendengar kalau kemarin ada bus tersesat di sini?)
“Oh, inggih Mas, dereng suwe wonten bis kalih truk kesasar teng Alas Bonggan. Nggih, leres lewat radosan mriki.” ujarnya berapi-api. “Cen nggih mokal, Mas. Saestu niku digondol demit mriki!” (Iya Mas, belum lama ini ada bis dan truk tersesat. Ya benar, lewat jalan ini./ Sungguh-sungguh mustahil, Mas. Yakin, itu pasti digondol demit sini.)
Kesimpulan si ibu benar-benar membuat kami shock sesaat. Ternyata, sekelompok masyarakat konservatif dan tertinggal masih memasrahkan pada hal ghaib bila memandang fakta yang sulit dinalar akal.
Tak selang lama, melintas searah dengan kami pasutri yang berboncengan motor, dan kemudian turut berhenti, berempati terhadap kebingungan kami.
“Arep neng ngendi, Mas?” tanya Bapak yang secara umur terhitung paruh bayah itu. (Mau ke mana, Mas?)
“Kedung Bacin, Pak. Teng lokasi bis kesasar ndek wingi.” jawab Lek Pon. “Nanging dereng ngertos arahipun,” (Kedung Bacin, Pak. Tempat bis tersesat kemarin. /Namun belum tahu arahnya.)
“Wis, nututi aku wae. Mengko tak ancer-anceri dalane,” beliau menawarkan bantuan, meski dengan air muka keheranan dengan misi kami. (Sudah ikutin saya saja. Nanti saya kasih tahu arahnya.)
“Taksih tebih, Pak?” tanya Mas Ponirin menyidik. (Masih jauh, Pak)
“Isih, Mas”. (Masih)
Kami pun tambah ciut nyali. Mau balik, sudah kepalang tanggung. Mau meneruskan rencana, khawatir skedul Garuda Mas tak bakalan terkejar.
Sementara jam digital yang terbenam di dashborad depan memampangkan angka 10.15. Kami semakin ditindih waktu.
Sekali njebur, basah saja sekalian. Terus ah, pantang mundur!
Sepeda motor tua itu jadi voorijder bagi mobil kecil kami. Meski butut, larinya susah diikuti, karena aku sangatlah pengecut untuk melibas trek yang kasar dan berbatu, mengingat kabin dalam status full load.

Kurang lebih 2.5 km memandu kami, di satu percabangan jalan beliau berhenti dan telunjuknya menunjuk arah lurus. Sementara suami-istri baik hati itu berbelok kiri, yang berdasar papan petunjuk kecil mengarah ke Desa Kalinanas, Kecamatan Japah, yang nantinya bisa menembus Kecamatan Ngawen, Blora.
Secuil dusun kemudian menyambut kami. Sebuah dusun di ujung utara pinggiran hutan, sekaligus dusun ter-utara dari Kabupaten Blora, yang terhampar dalam tlatah wilayah Kedung Bacin, Todanan.
Rumah-rumah yang begitu sederhana dan jauh dari modernitas ilmu sipil dan arsitektur dibangun berkoloni satu dengan yang lainnya. Jarak antar mereka lumayan berjauhan, menandakan populasi masyarakat di sini tidaklah banyak.
Fisik jalanan kian parah, menerjemahkan arti bahwa daerah ini memang dianaktirikan oleh pemda setempat. Bahkan ada beberapa ratus meter panjang jalan yang berkomposisi dominan batu makadam, tanpa media aspal yang memadai.


Ditambah trek yang menanjak dan terjal khas kontur perbukitan, dengan lebar yang tak seberapa, serta dipayungi dahan-dahan pohon yang merambah jalan, kian menambah pula kehati-hatianku dalam mengemudikan kendaraan.



“Edan…sekali lagi edan! Tidak ngeh-kah juga pengemudi-pengemudi yang telah malang melintang dan berjam terbang tinggi di jalur Pantura dengan situasi jalan yang demikian, sehingga kudu memutuskan untuk me-reroute jalur perjalanannya?” pikiranku semakin dijejali banyak pertanyaan.
“Mas, pohon ini penunggunya berwajah seram, berbadan tinggi besar.” sesekali Agus mewartakan hasil penerawangannya, setelah kami mendekat pada sebuah pohon besar yang memayungi jalan.

Ah, Agus. Kelebihan indera keenammu memang luar biasa. Tapi malah membuat darah kami berdesir, bulu kuduk berdiri.
Di ujung kampung, tak ada lagi kompleks hunian penduduk. Kanan kiri jalan hanyalah jajaran pohon jati yang masih terlihat hijau, meski kemarau mulai meluruhkan sebagian daun-daunnya. Ini pertanda, kami mulai memasuki kawasan hutan Bonggan, yang belum lama ini jadi buah bibir atas ‘kehandalannya’ menjebak salah satu armada Pak Hendro Tedjokusumo dan dua truk semen milik PT Varia Usaha, anak perusahaan Semen Gresik.


Jalanan menyempit, dengan semak belukar yang rimbun di sekelilingnya. Berkali-kali mobilku mengeluarkan bunyi gesekan, bersalaman mesra dengan ranting-ranting yang menjulur ke badan jalan, meninggalkan baret-baret di bodi.

Sepertinya rute ini memang jarang dijamah kendaraan roda empat, justru malah lintasan binatang berkaki empat. Pantas saja, media ‘mengolok-oloknya’ dengan sebutan jalan ternak.


Tudingan bahwa penyebab disorientasi arah perjalanan lantaran faktor kelelahan fisik, kondisi mengantuk, beban pikiran yang menumpuk, melamun dan menurunnya psikis para pengemudi dipatahkan dengan realita bahwa tanpa adanya konsentrasi tinggi, stamina yang prima dan daya pandang yang tajam, semestinya bus dan dua truk nahas sudah terperosok ke pinggir jalan, ataupun tubuh kendaraannya tersangkut dahan-dahan pohon. Faktanya, saat ditemukan, bodi bus cukup mulus, tanpa ada goresan akibat teriris ranting-ranting tanaman.
Aku pun berani ‘berfatwa’, untuk menembus grey area ini butuh perjuangan ekstra, kesadaran penuh serta kecakapan di balik setir. Tak bisa sembarangan dan asal-asalan. Apalagi bagi kendaraan gede.
Kalaupun ada teori konspirasi dari ahli parapsikologi yang menyatakan bahwa pengemudi mengalami halusinasi alam pikiran, mengapa penyakit psikologis itu berbarengan menghinggapi beberapa orang sekaligus? Halusinasi massal kah?
Ada empat rambu petunjuk bagi kami yang bisa jadi patokan untuk memindai Tempat Kejadian Perkara. Yakni jejak roda, dahan-dahan yang dipangkas, pohon yang ditebang, maupun tanah yang dikepras.
Sayang, tanda-tanda itu satupun tak berhasil ditemui, bahkan kami sendiri juga semakin bingung jalan. Bayang-bayang sing mbahurekso Kedung Bacin akan iseng mengerjai, menghantui. Semoga kalau ada apa-apa, kami masih bisa mendengar kokok ayam jantan. Hehe…
Kami sudah masuk jauh ke pelosok hutan, tripmeter mengakumulasi jarak 15 km dari titik Desa Jaken, tapi mana lokasi dimaksud?
Dihinggapi rasa putus asa, kuhentikan kendaran di tempat yang agak teduh di pinggir jalan. Kami semua turun membumi, berharap ada warga yang melintas, sebagai sandaran untuk bertanya.
Di dekatnya terdapat satu pelang nama yang dipancang oleh Perum Perhutani, sebagai ‘isyarat buatan’ bahwa kami sebenarnya sudah di seputaran lokasi musibah mistis tersebut.


Selain itu, sampah-sampah yang berserakan di atas tanah memandakan bahwa belum lama terjadi keramaian massa di daerah ini.
Tapi di mana?
Mata menyapu ke penjuru arah, dan seketika kami ingat akan foto yang menampilkan gambar dua truk varian Hino FL 260 tengah jadi pesakitan. Inilah background tempatnya.


Ngreng…ngreng….ngrengg…
Suara knalpot terdengar memekakkan telinga. Seorang bapak tua dengan tunggangan motor pretelan tanpa pelat nomor, mendekat. Kami pun menyetop beliau.
“Pak, nyuwun sewu. Niki leres alas Bonggan?” sekali lagi Mas Ponirin dengan gelar XBC itu menempatkan diri sebagai jubir kami. (Pak, permisi. Benar ini hutan Todanan?)
“Inggih Mas. Lha badhe teng pundi?” (Iya, Ma. Memang mau kemana?)
“Lokasi bis kalih truk ingkang ingkang ndek wingi kesasar, Pak.”(Lokasi bis dan truk yang kemarin tersesat, Pak)
“Wah, sampeyan bablasen Mas. Balik ngalor malih, kinten-kinten satunggal kilo.” demikian instruksinya. (Wah, anda kebablasan Mas. Kembali ke utara lagi, kira-kira satu kilo.)
“Ketingale, teng berita, kok gambar truk-e wonten mriki, Pak?” (Sepertinya, di berita, kok gambar truknya ada di sini, Pak?)
“Niki lokasi wekdal truk muter endas-e, Mas. Soale pas mogok teng tanjakan, mboten saged mundur utawi muter. Mangkane, dipun pekso mlampah dugi mriki, pados dalan ingkang saged kagem puter balik.” (Ini lokasi waktu truk putar kepala, Mas. Soalnya, pas mogok di tanjakan, truknya tidak bisa mundur atau memutar. Makanya, dipaksa jalan sampai sini, cari tempat buat putar balik)
Wealah…kami berjalan terlalu jauh ke dalam?
“Leres, alas mriki angker nggih, Pak?” kucoba mengorek keterangan darinya, yang dari penampilan nan sederhana dan bersahaja, pastilah penduduk daerah sini. (Benar, kalau hutan ini angker, Pak?)
Beliau pun bercerita panjang lebar, bahwa pernah beberapa kali terjadi peristiwa mobil, sepeda motor dan truk tersesat, masuk ‘terowongan gaib’ Alas Bonggan, seperti yang telah dipulish oleh media. Termasuk di antaranya grup kesenian Kethoprak yang pernah manggung di tengah hutan, karena mereka merasa telah tiba di tempat orang yang punya hajat.
Konon katanya, Alas Todanan adalah kota gaib, yang pernah jadi jujukan raja-raja di Pulau Jawa tempo doeloe untuk bersemadi serta meditasi, demi memperoleh tambahan kekuatan mistik untuk melanggengkan tampuk kekuasaan yang dipegang.
Pun saat zaman Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Menurut tutur para sesepuh, saat Raden Mas Sahid (nama asli Sunan Kalijaga) berontak dan akhirnya terbuang dari kehidupan keluarganya yang kontradiktif dengan kondisi rakyat jelata, dan Beliau memilih mengabdikan diri sebagai ‘berandal’ yang merampok harta orang kaya nan kikir untuk dibagikan kepada kaum miskin, Alas Kendeng Utara adalah tempat persembunyian sekaligus base camp untuk menghindari kejaran musuh-musuhnya. Konon katanya pula, ribuan penghuni kawasan hutan ini melindungi keamanan dan keselamatan Berandal Lokajaya — julukan Sunan Kalijaga sewaktu muda — kala itu.
“Nanging sakniki masyarakat malah salah kaprah. Alas niki didadoske panggonan kagem golek pesugihan. Ngregeti sucine alas Bonggan mriki!” curhat Bapak itu dengan ekspresi ketidaksetujuan dengan perilaku sebagian masyarakat yang menyimpang. (Tapi sekarang masyarakat malah salah kaprah. Hutan ini dijadikan tempat mencari kekayaan. Mengotori kesucian alas Bonggan sini)
Sekonyong-konyong Agus van Yulianto lari tergopoh-gopoh dan langsung masuk kembali ke dalam mobil.
“Ah…aku nyerah, Mas. Kekuatan penunggu sini luar biasa. Banyak benar makhluk halus yang berkumpul di sekitar kita!” keluhnya mengerang sambil memegangi perutnya yang mulai mual.
Kami seketika terperanjat. Apalagi Sera juga mengamini hal yang sama sehingga semakin mengikis keberanian jiwa kami. Couple turing Bayu itu ternyata memiliki kepekaan mata batin yang tajam untuk menembus dunia lain, dan baru saja menggambarkan apa saja yang baru dilihatnya.
“Oh iya, Mas. Jalan kecil di depan kita inilah jalan menuju lokasi mencari pesugihan. Di sana ada punden kecil, tempat orang-orang menjalani ritual bersekongkol dengan iblis, demi mendapatkan harta secara instan,” sambung Bapak itu semakin menggentarkan nyali kami.

“Misalkan nanti sampeyan melihat ada pakaian tergantung di batang pohon, ya jangan kaget!” wanti-wantinya.
“Lho, memang kenapa, Pak?” tanyaku setengah kaget.
“Laku ritual, Mas. Itu adalah bajunya orang yang akan dijadikan tumbal pesugihan.”
Blaik…gawat. No…no…Tanpa buang waktu, kami pun bersegera pamit, undur diri kepada bapak tua tersebut.
Kami bersegera balik arah, beringsut mencari TKP dan berketetapan hati untuk mampir barang sebentar saja. Rasanya tak bijak berlama-lama kluyuran di belantara Kedung Bacin. Merujuk kata Agus, auranya sangat-sangat negatif.
“Ya Allah, ini tho tempatnya?” lirihku, setelah melihat lokasi dengan ciri-ciri yang disebutkan bapak tadi.
Mengapa pas lewat di sini kami tak sampai melihat scene wingit ini? Jangan-jangan tadi dijangkiti halusinasi pikiran, sehingga tak menyadari adanya daerah ini.


Kami bergegas turun, mengeksplorasi ‘tempat demit Bonggan bersemayam’. Pola jalannya berupa busur atau cekungan dalam, dengan kemiringan tanjakan-turunan penyusunnya yang lumayan ekstrim. Perkiraanku di atas 35o.
Tidaklah jadi bahan pertanyaan, mengapa kedua truk pengangkut semen curah akhirnya terkapar, tidak kuat menanjak. Biarpun ber-horse power besar, tanpa ancang-ancang dalam menaklukan tanjakan, dalam perhitunganku pastilah akan ketenggak atau kehabisan nafas.
Dengan sedikit kejelian mata kami, barulah terlihat jelas ‘prasasti’ serta ‘artefak’ yang ditinggalkan ketiga raja jalanan yang lagi apes. Tebing kecil yang dikepras, tapak-tapak roda yang masih ‘hangat’ menempel di tanah, jejak hitam rem kendaraan, semak belukar yang dibabat, ceceran oli, sampah-sampah makanan serta penemuan satu keping vcd yang sepertinya milik salah satu dari armada-armada tersebut.






“Podho ngopo iki, Mas?” tiba-tiba seseorang yang tidak kami sadari kehadirannya, mendekat. (Lagi ngapain ini?)
“Eh….ningali panggenan bis kesasar, Mas?” jawabku dengan sedikit gagap. (Melihat tempat bis tersesat, Mas)
“Sampeyan wartawan?” telisiknya dengan ketus dan agak curiga.
“Sanes, Mas!”
Dialog antar aku dan dia terasa canggung. Seolah pria yang dari garis wajahnya merefleksikan umurnya sedikit di atasku itu tidak senang dengan keberadaan kami di sini.
“Kemarin bis dan truk ketahuannya di sini ya, Mas?” tanyaku untuk memecah kekakuan dialektika.
Dia menarik nafas panjang, dan sejurus kemudian memberikan jawaban…
“Iyo. Tanah yang dikepras itu tempat kedua truk semen mogok. Kata sopirnya bukan mogok, tapi lagi menunggu lampu merah di depannya menyala hijau.” jelasnya. “Kemudian Pahala Kencana datang. Melihat di depannya ada truk berhenti, sopir mencoba menyalip, tapi dicegah oleh kenek. Eh…taunya bis malah melorot dan kemudian mati mesin.”
“Di sini posisi terakhir bis Pahala itu.” jelentrehnya.

Ck ck ck…benar-benar extra ordinary case.
“Terus cara mengeluarkan truk dan bisnya dari sini gimana, Mas?” lanjutku setelah suasana pembicaraan mulai mencair.
“Truk ya dipaksa naik. Karena perlu tempat ‘bermanuver’, tebing di sebelahnya kudu dikepras dan diratakan. Butuh usaha keras agar bisa menanjak. Setelah sampai atas, truk yang di depan menarik truk di belakangnya. Setelah berjam-jam dicoba, akhirnya bisa.”
“Kalau bisnya?”
“Yo mundur sampai ketemu lapangan, kira-kira 2 km jaraknya dari sini. Itupun sampai kampas koplingnya habis dan mesti nunggu mekanik dari garasi Kudus.”
What? Atreet dalam posisi jalan sempit dan tanjakan panjang sejauh itu?
“Sebenarnya bukan itu yang membuat repot masyarakat sini, Mas”? dia mencoba membagi segelintir rahasia, karena dari tuturnya, dia adalah salah satu sukarelawan yang membantu proses evakuasi.
“Terus apa?” tanyaku kian penasaran.
“Yang ruwet itu saat kami harus menenangkan para penumpang yang marah-marah kepada sopir. Nyaris saja dia mau dikeroyok untuk melampiaskan kekesalan mereka. Dikiranya sopir ngga tau jalan dan ngawur dalam mengemudi. Setelah diberikan penjelasan oleh warga, barulah mereka mengerti.”
Ops…kasihan kru Pahala Kencana bernomor armada HT 5xx itu. Sudah sial, malah dituduh sengaja menyesatkan seisi bus.
“Mas, saya buru-buru, ada perlu. Sampeyan lekas pulang saja!” pesannya seraya berpamitan, meski kami belum puas menggali keterangan seputar kejanggalan peristiwa Alas Bonggan.
Hmm…manusia yang aneh!
Tiba-tiba semerbak aroma wangi kembang melati menusuk rangsang penciuman. Kami pun saling berpandangan.
“Sudah Mas, tak usah lama-lama. Kita pulang saja!” pinta Agus. “Ssst…ini ada sosok perempuan menghampiri kita, Mas.” bisiknya kepadaku.
Tanpa dikomando, kami serempak naik ke dalam mobil sesuai arahan Agus. Saat hendak berangkat, pemuda berdarah Klaten dengan ciri rambut polem (poni lempar) itu kembali menyampaikan siaran pandangan matanya.
“Mas, penumpang mobil ini ngga cuma kita berlima, lho?” ungkapnya.
“Hmm…maksud elu, Gus?”
“Ini ada beberapa dedemit ikut di dalam mobil. Belum lagi yang mengiring di kanan kiri kita. Seabrek, Mas!!!”
Mati aku…
Sudahlah Gus, tak usahlah cerita macam-macam apa yang kau lihat, bikinku mati kutu saja. Mpufh…
Kulajukan sedikit cepat oto sejuta umat garapan pabrikan Toyota itu. Selain gerah, pengap serta panas dengan atmosfer alam Kedung Bacin, jarum detik rasanya semakin cepat berdetak. Sekarang sudah jam 11.45, sementara countdown waktu tinggal tersisa 1 jam 45 menit untuk mencapai kantor perwakilan Garuda Mas di Blora. Kuasakah aku membawa Agus dan Lek Pon mengejar kepakan sayap Si Ijo dari Kedaung, Cirebon, yang akan diberangkatkan jam 13.30 dari agen Kaliwangan?
Sementara mereka harus mampir dulu ke rumahku, beristirahat barang sejenak dan rencananya akan kujamu makan siang.
“Oh, ini kali Mas yang dimaksud lapangan tempat bus Pahala Kencana itu putar arah?” sahut Mas Yeremia, setelah melihat tanah lapang dengan sidik kembangan ban kendaraan masih membekas di atasnya. Sekitar dua minggu pasca kejadian Bonggan, tyreprint itu masih terawat dan lestari, belum terhapus oleh taburan debu maupun siraman air hujan.


Hanya dua atau tiga menit singgah, kami pun melanjutkan perjalanan, sekaligus memungkasi acara tamasya ke negeri 1000 hantu itu.
Kutiti rute kepulangan dengan jalan yang sama persis sewaktu berangkat. Tak selang lama, dari balik kaca spion tengah, kulirik Bayu sudah tertidur di pundak Sera. Lek Pon sudah terbang di alam mimpi, dan Mas Yeremia di sampingku teklak-tekluk melawan kantuk. Agus tampak gelisah dalam peraduannya, dan sesekali terjaga terusik ketidaknyaman dunia lain yang sewaktu-waktu menyusupinya.
Sementara tinggal aku sendiri yang tersadar di balik kemudi.
Entahlah, teka-teki itu masih bergentayangan di labirin otakku. Meski aku telah menapaktilasi sirkuit ketersesatan bus Pahala Kencana, menyaksikan sendiri medan akhir kandasnya ketiga monster jalanan, mereka-reka kalkulasi teknis dan melakukan simulasi bagaimana cara kendaraan beroda enam lebih itu bisa blusukan di tengah hutan, mencoba berakrab ria dengan masyarakat sekitar hutan sebagai sumber referensi, namun di akhir episode aku justru bakalan speechless, gugup dan hilang akal andai disidangkan di hadapan para dosen dan guru besar untuk mempertahankan disertasiku bahwa kejadian Bonggan sebenarnya bisa dijelaskan dengan nalar dan logika. Itu bukanlah kemustahilan, di luar kewajaran atau menyingung dimensi supranatural.
Aku tak punya acuan formula, rumus sakti, kaidah a-b-c-d, metode komparatif, hitungan njlimet, maupun analisa detail untuk memecahkan perkara itu. Aku terlihat bego!
Nothing can be explained…
Ketika posisi mobil persis di bawah rindangnya empat pohon bernama latin Albizia Saman, yang merupakan gate entry menuju ‘benua gaib’ yang agung, adi luhung dan menakjubkan di kalangan para cenayang itu, tiba-tiba Agus terbangun.
“Mas…gua lega sekarang?” kata Agus dengan wajah sumringah.
“Kenapa, Gus?” jawabku.
“Yang ngikutin kita telah balik badan, Mas.” gamblangnya dengan senyum penuh kemenangan. “ Kita ini ibarat tamu akbar ya, Mas. Disambut, ditemani jalan-jalan dan diantar pulang sampai tapal batas oleh penghuni Kerajaan Bonggan.”

“Untung mereka bersedia mengantar sampai di sini ya, Mas. Kalau tadi kita ditawan, gimana coba?”
“Husss…, jangan bercanda, Gus! Kualat nanti !?” dampratku.
—-
How could Pahala Kencana trapped into Alas Bonggan? It’s still ‘Unsolved Mystery’.

T – a – m – a – t
Didik Edhi
Catatan Perjalanan yang lainnya:
Kunjungan BisMania ke Mobil Nova
Seputar Komunitas : Meriahnya Gathering di Lebak Bulus
Pembuktian diri BMC Sumatra
Buka Bersama BisMania Community Yogyakarta dan PO. BIMO
Explore Your Indonesia !!!
BMC Lolos ke ICE Workshop




Komentar