
Ilustrasi (sumber cetak.kompas.com)
“ Kalo gak dibantuin istri, gak tahu lagi mas…” Kata-kata jujur itu keluar begitu saja dari bibirnya.
“Nyari duit sekarang susah mas…”, sambil menghela nafas agak panjang diapun melanjutkan “ga kaya dulu… waktu jaman-jaman edan…”
“Maksudnya..?” Tanyaku
“Aku dulu waktu ikut PO … (dia sebutkan nama sebuah PO besar berpusat Solo yg sekarang sudah lenyap) gampang banget nyari duit he he he…” Jawabnya dengan senyum kecil sambil tangan kirinya menarik tongkat versnelling memindah ke gigi yang lebih tinggi mengikuti irama putaran mesin, untuk menurunkan rpm mesin yg sudah melewati angka 2500.
Matanya menerawang, dahinya mengerut membentuk garis-garis tanda mengingat peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya di masa lalu. “Dulu….” katanya, bak hendak memulai cerita yang panjang ” Saya akui saya ini maling mas…., maling duitnya juragan…, bayangkan saja…, saya dan teman-teman dulu sampai berani malsu DP (maksudnya daftar penumpang)” ungkapnya dengan kalimat yang agak terputus-putus seakan ada beban perasaan bersalah.
Dengan sedikit memasang wajah pura-pura tidak mengerti maksud cerita itu, kutatap matanya karena kebetulan dia melirik dan sedikit menoleh ke aku. Diapun melanjutkan ceritanya “Dulu uang penjualan tiket dari agen dititipkan ke Crew mas. Mulanya saya diajari teman-teman yang lebih senior, akhirnya sayapun jadi keenakan ikut melakukan itu bahkan mengajari ke crew-crew yang baru”
Cerita sempat terputus, dia harus menginjak rem agak mendadak karena ada truk 3/4 dari arah berlawanan sedang ngeblong hingga nampak seperti akan adu kambing dengan armada yang dikemudikannya. Meskipun begitu dia nampak tidak gugup, seakan pengalaman di jalanan bertahun-tahun sanggup melatih refleksnya hingga dia terlihat tenang menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan, sementara aku sempat merasa jantungan.
Setelah kondisi aman, lalu disambungnya lagi cerita yang dituturkan itu “Kami dulu berani cetak formulir DP palsu, pesan stempel palsu. Kebetulan ada satu kenalan crew yang ahli bikin tanda tangan palsu…he he he..” Katanya dipadu ketawa yg agak getir
“DP yang ditanda tangani dan distempel agen, sebelum sampai pool untuk dilaporkan dan diserahkan uangnya, kita ganti dulu,… kita rubah dengan DP palsu he he he….” Lagi-lagi pengakuan jujur itu meluncur mulus dari bibirnya.
“Bayangkan saja mas…, penumpang 30 orang kadang-kadang cuman kita laporkan 12, 15 tergantung dari kebutuhan kita”
“Hmmm…” Komentarku tanpa menyebut satu katapun, tapi tetap kutatap wajahnya berharap agar dia melanjutkan ceritanya.
“Belum lagi soal sarkawian yang naik dari luar agen resmi…”
“Lho… Sudah kayak gitu masih sarkawian juga ?” Tanyaku
“Ya iyalah mas….,yang penting kami dapat duit, duit, duit !!!”
Cerita terpotong lagi ketika hp si penutur cerita ini tiba-tiba berbunyi dengan nada dering lagu Shalawat. Kaget juga aku dengan pilihan nada dering lagu itu. Memang tadi saat di Rumah Makan aku sempat melihat dia khusyuk berdo’a sehabis Sholat di Mushola.
“Ya…ya.. Dua hari lagi Bu..aku turun…” Katanya menjawab lawan bicaranya dari hpnya.
“Si xxx…gimana ?, sudah gak panas ?” Tanyanya
“Alhamdulillah. …, besok tak carikan sekalian di Pasar Senen…, mana dia sekarang…? “ Lagi-lagi dia bertanya ke lawan bicaranya
“Yo wis…biarkan istirahat. Gak usah dibangunin.. yo wis ya… Assalamualaikum. .” Menutup pembicaran via hp itu.
“Dari istri saya mas…” Katanya kepadaku menjelaskan siapa yang barusan menelponnya walaupun aku tidak menanyakan.
“Anak saya yang kecil habis sakit panas… , kasihan dia…begitulah nasib anak sopir mas. Sakitpun bapaknya gak bisa nungguin…”. Kata-kata itu langsung menohok keras ke jantung perasaanku. Baru kusadari bahwa ditengah-tengah adu kecepatan lalu lintas pantura, diwarnai silaunya kilapan “high beam” head lamp smiley, marcopolo serta kerlap-kerlip lampu sein kendaraan yang lalu lalang dari mulai senja, tengah malam hingga pagi buta masih terdapat kilatan cahaya hati cinta, kasih-sayang, ada sebersit kerinduan seorang bapak kepada anaknya yang sedang terbaring sakit di rumah.
“Bentar lagi dia mau masuk SD mas. Tapi syukurlah… kata istriku dia sudah gak panas. Saya sempet deg-deg’an ketika sudah tiga hari panas tinggi. Takut dia kena demam berdarah seperti anak tetangguku yang akhirnya meninggal” Tuturnya sambil mengurangi kecepatan bis yang dikemudikannya, meskipun jalanan agak sepi dia memilih membawa kendaraan lebih santai.
Aku dari sejak dia pegang stir selepas dari rumah makan memang memperhatikan gaya nyetirnya memang lain. Ketika jalanan ramai dia agak agresif menyalip kendaraan-kendaraan apapun yang ada di depannya, namun ketika jalanan sepi kecepatan dijaga konstan sekitar 80 -90 dan maksimal 95 km/jam.
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan berkomentar “Sampean tak perhatikan kok kalau sepi gak mau banter mas?, tapi kalo rame kok galak banget ?”
“He he he….” Jawabnya hanya ketawa kecil, tapi buru-buru dijelaskannya
“Saya pernah kecelakaan justru waktu jalan sepi” katanya
“Di jalan sepi orang cenderung lengah, ngantuk dan ngelamun..” Katanya dengan gata seperti dosen yang memberiku kuliah teknik mengemudi yang baik.
“Beda dengan jalan ramai, biasanya orang biar ngeblong tapi tetap penuh konsentrasi dan perhitungan, …. Naah.. di jalan sepi…..?” Tuturnya dengan nada tanya, yang kemudian dijawabnya sendiri “Bisku pernah terbalik mas…., karena sepi aku injak gas poll tapi konsentrasi kurang, tiba-tiba ada truk dari depan yang mungkin sopirnya ngantuk melebar ke kanan memakan jalanku, langsung aku banting kiri…trus kebalik di sawah…. Untungnya gak ada korban meninggal. Ini hasilnya mas…” Dia menunjukkan menarik lengan bajunya dan membuka sedikit kerahnya disitu terlihat bekas jahitan luka di lengan kirinya sampai leher.
“Hhmmm…bener- bener mas…” Komentarku mengiyakan, tanda setuju dengan pendapatnya.
“Kadang-kadang Sopir muda-muda suka gak menyadari itu” sambungnya.
“Padahal…, yang dibutuhkan penumpang sebenarnya adalah ketepatan waktu bukan hanya kecepatan. Saat-saat jalan ramai itulah saatnya kita harus pintar-pintar mengatur waktu supaya kita tidak berlama-lama terjebak dikepadatan. Tapi setelah sepi… dengan kecepatan rata-rata 80 saja, kalau kita jalan 10 jam berarti sudah 800 kilo yang kita tempuh… Artinya kalau jalan sepi terus kaya gini Jakarta – Surabaya cuman butuh waktu 13 jam sudah termasuk istirahat di rmh makan… kaya jaman bis-bis OF di tahun 70 – 80 an dulu”. Terangnya memberi pelajaran kepadaku.
Tak lama dengan topik soal teknik mengemudi, tiba-tiba saja dia lanjutkan ceritanya dan kembali ke topik awal “Dulu…jaman jadi maling dan duit gampang didapat. Hidupku gak karuan mas. Minum, Judi dan maksiat lainnya jadi gaya hidupku sehari-hari” sambil membunyikan klakson karena berpapasan dengan kawannya dari PO yang sama ketika mau masuk satu lajur jalanan yang sedang diperbaiki.
“Sampean gak ngantuk toh ?” Tanyanya dengan sopan.
“Gak apa-apa mas, aku seneng kok ngobrol-ngobrol gini” jawabku.
“Sampean rugi lho, sdh bayar seat mahal kok malah duduk di sini (di bangku kenek maksudnya)”
“Istriku yang sekarang ini sebenarnya istri sambung mas” lanjutnya lagi
“Aku dulu cerai sama istri pertamaku” kali ini dia berbicara sambil mebuka kaca pintu disamping kanannya karena menyulut rokok. Sebelumnya dia sempat melirik spion di atas kemudinya untuk memastikan apakah masih banyak penumpang yang melek. Dasar mulutku juga sudah merasa asam, akupun jadi pingin merokok juga. Rupanya diapun tahu dan menoleh kepadaku menawarkan Sampoerna Mild ke arahku sambil bilang “Sampean buka aja jendela itu kalau pingin ngrokok mas..monggo lho…”
“Suwun mas…, rokokku rokok putih menthol mas..aku masih ada stok kok” jawabku menyambut tawarannya. Akupun ikutan membuka jendela kaca depan di pintu sebelah kiri. Sebelum menyalakan korek kutengok ke belakang, semua penumpang lagi asyik tertidur dibuai mimpi karenya kenyamanan Sang Pengemudi ini dalam membawa bis.
Disertai kepulan asap rokok yang disemburkan keluar jendela (supaya tidak mengganggu penumpang), penuturan kisah nyata inipun dilanjutkan.
“Waktu kawin sama istri pertama dulu…aku tahunya cuma seneng-seneng thok mas. Kami masih sama-sama muda, dia baru lulus SMA, aku juga baru nyopir bis sekitar 2 tahun. Modalnya cuman cinta…. Gak ngerti tanggung jawab” Waduh..filosofi hidup apalagi yang hendak diceritakan ini ? (Tanyaku dalam hati)
“Setiap saya pulang isinya cuman habiskan duit hasil nyolong itu…, istriku juga tahunya makan enak, dan belanja semua sesuai keinginannya, tanpa peduli sebenarnya butuh barang itu atau tidak”. Aku jadi teringat pelajaran hidup tentang “need” and “want” (antara kebutuhan dan keinginan) yang kerap diajarkan oleh motivator –motivator handal yang sekarang lagi laris buku-bukunya.
“Di sela-sela kerja aku foya-foya. Di rumah istriku pun seenaknya sendiri habiskan uang…., tapi…karena kami jarang berkomunikasi …karena saya jarang pulang, akhirnya sering cek-cok (berantem)” lanjutnya.
“Saya sempat juga kecantol sama agen di xxxx mas. Terus kayak punya istri dua gitu…yang satu resmi yang satu…ya gitulah…. He he he…” disertai dengan suara tawanya kecilnya yang khas. “Buntut…buntutnya. .. bubar semua…!!! He..he..he.. .”.
Saat kami lagi asyik ngobrol sambil merokok, tiba-tiba saja…. dari sebelah kiriku terlihat bis “lawan” PO yang aku naiki sedang ngotot berusaha menyusul, padahal di pinggir kiri jalan ada sepeda motor.
Dengan gaya safety drivingnya si penutur cerita yang memecah malamku dengan cerita humanis nan menarik ini segera mengurangi kecepatan dan mempersilakan si “lawan” itu mendahului.
Si “lawan” ini terkesan bernafsu sekali memenangkan balapan melawan bis yang aku naiki dengan menambah kecepatan dan menggoyangkan bodynya ke kanan menghindari motor di depan.
Driverku tampaknya paham betul bahwa aku penggemar bis banter makanya diapun lantas berkata “Biasanya begitu itu gaya sopir-sopir baru mas. … Sampean kan gak seneng kita kalah sama dia kan ? He he he….” Tanyanya seakan mengerti persis selera penumpang BisMania yang gemar naik bis banter.
Show time dimulai, kemahiran seorang Sopir senior mulai ditunjukkan. Transmisi kendaraan bikinan Nippon tahun 2004 itu dipindahkan ke gigi yang lebih rendah untuk mencari ratio yang pas untuk akselerasi yang lebih cepat.
Kehebatan teknisi PO yang merawat bis ini mulai semakin terbukti. Dengan suara mesin yang “renyah” hanya butuh beberapa puluh detik tiba-tiba bisku sudah menempel ketat di belakang sang “lawan”.
Merasa di tempel ketat di belakangnya si “lawan” makin bernafsu memacu kecepatan.
Suasana tempel menempel berlangsung cukup lama. Perasaan senang bercampur aduk dengan “deg-deg”an berpacu di hatiku. Sopir si penutur cerita kehidupan ini dengan lincah dan halus mengendalikan kendaraan yang sedang lari dalam kecepatan tinggi. Nyali dan skillnya luar biasa. Perhitungannya matang seakan jiwanya sudah menyatu dengan kendaraan yg dibawanya. Dengan posisi balapan yang menegangkan itu tetap saja pengereman, pemindahan gigi, manuver jalur kanan-kiri dikendalikan dengan halus tanpa mengusik kenyamanan mayoritas penumpang yang tertidur lelap.
Beberapa kali aku lihat ada kecepatan untuk menyalip tapi driver bis yang kutumpangi tidak memanfaatkan dan lebih memilih untuk mempertahankan posisi menempel ketat di belakang hingga si lawan beberapakali gelagapan ketika hampir “crash” dengan kendaraan di depan.
Akhirnya…. . Sopir “lawan” barangkali mulai tak kuat jantungnya, mulailah dia melambatkan kendaraannya, memberikan lampu sein kiri ketika jalanan sepi tanda mempersilakan bisku untuk mendahului. Di saat seperti itulah kemudain bis ku menyalip dan tak lupa “mengucapkan terimakasih” dengan membunyikan klakson pendek 2 kali “Tet–Tet” Driver lawan mulai bersikap sopan dengan membalas klason pendek juga dan menengok ke jendela keluar sambil senyum dan mengangkat tangan ke pelipis seperti tentara memberi hormat. Akhirnya “breeem…..” gas diinjak lebih dalam… ngacir meninggalkan “lawan” yang sudah menyerah.
“Nahh…. Itu tadi baru sportif mas…itu namanya Sopir Bis Malam bukan Sopir Bumel….sayang saya belum kenal sama sopir itu” Kata driver ku mulai membuka lagi perbincangan.
“Besok saya cari dia. Kalau mau saya ajak ikut masuk kesini (PO ini). Saya mau ngajari dia. Dari sikapnya saya yakin dia bisa dididik jadi Sopir yang baik dan sportif” Katanya mengomentari sopir “lawan” yang kelihatan usianya jauh muda itu. Inilah yang membuatku makin kagum dan respect kepada orang ini.
“Beginilah mas sebenarnya sopan santun di jalan raya…., bila kendaraan kita kalah cepat sama yang lain atau bila keahlian nyetir kita kalah sama orang lain, kita harus mengakui dan mempersilakan orang atau kendaran lain menyalip. Kita tidak boleh ngeyel”
Karena keburu ngacir meninggalkan “lawan” yang sudah menyerah akhirnya tak sadar bisku lari cukup kencang sehingga di depan tampak dua armada PO lainnya lagi yang sedang beriringan. PO ini armadanya memang bagus-bagus tapi terkenal suka ber “netral ria”. Dus….sudah bisa ditebak iringan dua bus tersebut dengan mudah dilalui.
Saat menyalip, tak lupa sapaan dengan bunyi klakson pelan dibunyikan.PO lain itu membalasnya, rupanya driver-driver PO lain itu rupanya teman driver ku karena saat menyalip bis ku sempat dijejerkan dan mereka terlihat saling menyapa. Akupun sok akrab turut menyapa dan melambaikan tangan ke sopir PO lain itu.
Setelah itu kecepatan kembali normal, sekitar 80 – 90 km/jam. Belum sempat kami melanjutkan perbincangan, dari arah belakang ada lampu dim dinyalakan beberapakali tanda minta ijin mendahului. Sopirku menengok ke spion dan melambatkan kendaraan.
Sekilas kemudian PO lain lagi ber cc besar berbasis chassis bikinan Eropa melintas mendahului. Akupun iseng bertanya “Gak diajak balapan mas..? He he he…”
“Gak mas… Kasihan dia jalannya masih jauh..harus nyebrang pulau.. dia harus sampe penyebrangan lebih cepat menghindari kemacetan. Kalo kita kan sebentar lagi sudah nyampe tujuan” jawabnya.
“Tapi sudah pernah tak tes mas … Ini (bis ini) gak kalah larinya sama itu… He he he….” Sambungnya
“Makanya aku seneng bawa ini. Aku dikasih wxyz yang baru aku emoh…, aku lebih seneng ini” katanya lagi.
“Aku usul sama juragan supaya bis ini di body baru lagi tapi boss cuman setuju dirombak depan belakang dan di cat ulang… Yo wis…gak apa-apalah.. .wong bodynya juga masih bagus” Sambungnya lagi
Akhirnya pembicaraanku dengannya kembali ke topik semula. Dia ceritakan bahwa istrinya yang sekarang pinter cari duit bantu suami. Istrinya buka warung rokok di rumah dan juga melayani katering kecil-kecilan (rantangan) buat karyawan pabrik yang tak jauh dari rumahnya.
“Lumayan mas…. dari masak kateringan itu bisa menghemat uang belanja. makanan di rumah gak perlu masak lagi” katanya sambil tersenyum
“Hidup saya sekarang normal mas. Gak neko-neko lagi, apalagi anakku tiga perempuan semua” akunya
“Anakku yang besar kuliah di xxxx (kota pusatnya karoseri di Jatim), yang nomor dua SMP dan yang kecil baru mau masuk SD…. Jaraknya jauh-jauh (maksudnya jarak lahir anak satu dan lainnya)”
“Besok aku langsung putar kepala balik Jakarta lagi terus perpal di Jakarta. Sampean balik Jakartanya kapan ?” Tanyanya.
“Aku dua hari lagi mas” jawabku
“Oo..yo wis…tak pikir mau bareng lagi besok…ha ha ha….”
“Gak mas… Aku ada sedikit urusan di xxxxxx”
“Lusa perpal di Jakarta langsung ke pasar senen mas, terus pulang ke xxxxxxx naik Sepur mas”
“Ada apa di Senen?, kenapa numpak Sepur ?” Tanyaku
“Anakku yang kecil pingin tas Barbie warna pink… Sejak sebelum sakit sudah tak janjiin tapi belum sempat-sempat beli” jelasnya
“Aku sudah bener-bener kangen sama anak-anakku mas…, maklum musim liburan kemarin ini aku gak sempat perpal-perpal” Sambungnya lagi
“Gak kangen sama Ibunya..?” Tanyaku bergurau
“Ya kangen juga lah mas…, aku bener-bener bersyukur punya istri dia.., orangnya nerimo dan pinter cari duit halal buat bantu suami.”
Perasanku sangat tersentuh mendengar cerita yang dilantunkannya. Akupun ikut larut dalam suasana rindu keluarga. Bayangan wajah anakku yang kecil yang hampir seusia dengan anak driver ini mendadak muncul memenuhi seluruh ruang pandangan mata hatiku. Banyak hal yang aku pelajari dari dialogku dengan driver ini. Tentang pengalaman buruk di masa lalu, tentang perubahan dalam hidup, cinta kasih kepada keluarga, etika di jalan raya dan lain-lainnya.
Turing menikmati bis memang bukan hanya soal blong-blongan dan aneka rupa teknis dan estetis bis dan karoserienya.
Untuk meraih kepuasan turing, Driver memang memegang peranan penting, sungguhpun begitu driver adalah manusia biasa yang memiliki pengalaman, harapan, pikiran dan perasaan. Driver bukan robot /operator yang sekedar menjalankan bis dengan aksi dengan blong-blongan demi kepuasan pelanggan.
Di saat – saat tertentu, bahkan di saat bekerja, Driver tetap berhak memikirkan keluarganya, berhak merindukan keluarganya, karena Driver juga punya kehidupan sendiri, punya kepuasan sendiri yang tidak selalu sama dengan kepuasan turing bagi BisMania
Hari itu aku merasa sangat beruntung karena di dalam turingku aku mendapatkan teman berdialog tentang perjalanan hidup yang luar biasa, bukan hanya dialog tentang perjalanan bis dari provinsi satu ke provinsi lainnya.
Ya… perjalanan hidup dari seorang Driver bis….., seorang yang biasanya hanya ditempatkan tak lebih sebagai pelaku blong-blongan, pemuas syahwat turing penggemar bis kencang.
Salam,
Didik
*) Disarikan dari obrolan di perjalanan beberapa waktu lalu




ternyata sopir juga punya perasaan, lebih berperasaan dari koruptor hehehe
sumpah…saya terharu baca artikel di atas…sedikit pencerahan buat hidup saya
hebat…
bangga…
salut…
hanya bertajuk tas barbie warna pink. cerita ini mebuat diri saya kagum akan jati diri seorang “driver” yang diceritakan…
segala macam pekerjaan apapun di dunia ini, adalah sama sama untuk melanjutkan suatu kehidupan yang lebih baik… asal tetep dalam rule yang digariskan…. dan harus yang halal loh…
hidup manusia pasti akan berputar…
waktu yang berjalan ini membuat manusia akan sejenak berpikir, apa yang harus saya kerjakan besok.harus melakukan apa esok.harus makan apa esok. dsb..
huh…. jangan menyerah (d’masiv) itu point pertama yang harus dilakukan…
tetap semangat jalani hidup ini.
Tuhan pasti akan menolong umat-Nya, yang setia pada-Nya