Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

CIREBON — Kondisi perusahaan bus trayek Cirebon-Jakarta, kian memprihatinkan. Hal itu menyusul maraknya perang tarif yang dilakukan oleh bus-bus jurusan Jakarta asal Jateng dan Jatim yang melintasi jalur Cirebon.
Akibatnya, para awak dan pengusaha bus asal Cirebon terpaksa menurunkan tarif hingga 50 persen dari tarif yang sebenarnya. Kondisi itu dilakukan agar mereka tetap mendapat penumpang meski harus menanggung kerugian.
Berdasarkan data yang dihimpun Republika dari lapangan, tarif bus patas jurusan Cirebon-Jakarta, seharusnya mencapai Rp 45 ribu per penumpang. Namun, tarif yang berlaku di lapangan hanya sebesar Rp 20 ribu per penumpang. Sedangkan bus ekonomi (bumel) yang tarif resminya sebesar Rp 20 ribu per penumpang, terpaksa turun menjadi Rp 12 ribu per penumpang.
”Tarif sebesar itu merupakan hasil tawar-menawar dengan penumpang. Kalau kami menolak, penumpang tidak mau naik,” ujar salah seorang kondektur yang bekerja untuk sebuah perusahaan bus di Cirebon, Yadi Kurniadi (33 tahun), saat ditemui di terminal Harjamukti, Kota Cirebon, Rabu (14/5). Yadi mengungkapkan, ‘banting harga’ yang dilakukan para awak bus jurusan Cirebon-Jakarta itu dimaksudkan untuk mengimbangi tarif bus-bus jurusan Jakarta asal Jateng dan Jatim.
Saat ini, menurut dia, bus-bus asal Jateng dan Jatim itu kerap memberlakukan tarif yang sangat murah kepada penumpang yang naik di sepanjang Pantura Cirebon-Cikampek hingga Jakarta. ”Saat sampai di Cirebon, bus asal Jateng dan Jatim kan sudah penuh dengan penumpang. Jadi mereka tidak masalah mengambil penumpang dengan tarif yang murah di Cirebon,” tutur Yadi.
Hal senada diungkapkan sopir bus jurusan Cirebon-Jakarta lainnya, Budi (41). Dia mengatakan, kondisi itu menyebabkan tarif batas atas dan batas bawah yang telah ditetapkan pemerintah, menjadi tidak berlaku. Kalau wak bus dipaksakan menerapkan tarif batas atas dan batas bawah, menurut Budi, pihaknya tidak akan dapat penumpang.
Banyaknya bus antarkota antarprovinsi (AKAP) yang ‘menyerobot’ penumpang di sepanjang pantura Cirebon hingga Jakarta itu, jelas membuat kesal para kondektur dan sopir bus reguler. Mereka tak segan-segan menghadrik bus asal Jateng dan Jatim itu untuk tidak menaikan penumpang. Kalaupun ketahuan menaikan penumpang, maka penumpang itu disuruh turun kembali.
Ketua Organda Kota/Kabupaten Cirebon, H Iskandar Agus Banaji, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya perang tarif tersebut. Bahkan, sambung dia, kondisi itu sudah lama terjadi. Karena itulah dia pun menyatakan bahwa saat ini, nasib para awak dan pengusaha bus Cirebon benar-benar di ujung tanduk. Iskandar mengaku telah menyampaikan masalah tersebut kepada Organda Jabar dan pusat serta instansi terkait. Pihaknya berharap, masalah perang tarif dapat diselesaikan secara tuntas.
(lis )
Dikutip dari Harian Republika, 14 Mei 2008

Catatan Perjalanan yang lainnya:



febri handoko
Ditulis oleh

'lampung - jogja via utara'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;