Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

“Keberadaan Perusahaan Otobus (PO) di Yogyakarta sejak awal berdirinya tidak lepas dari upaya pemerintah di era itu, upaya pemerintah ini diawali  pada tahun 1953 dengan mengumpulkan sebanyak 32 veteran perang revolusi untuk disekolahkan menjadi montir. Selesai menjalani pendidikan montir, peran pemerintah tidak berhenti sampai disitu saja, dengan bekal pendidikan montir, pemerintah memberikan modal kepada 32 veteran untuk mendirikan usaha angkutan penumpang, dan dari modal tersebut keseluruh veteran sepakat untuk mendirikan PO yang diberi nama NV Peni.”

Bait Tulisan diatas merupakan petikan dari buku :

PO DI JOGYA: DAHULU DAN KINI

Oleh:

BMC Yogya

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga buku sederhana berjudul “ PO Di Yogya: Dahulu dan Kini” dapat saya susun. “PO Di Yogya: Dahulu dan Kini” merupakan sebuah buku yang di dalamnya berisikan sejarah beberapa perusahaan otobus di Yogya. Penyusunan buku tersebut sebagai wujud dari kecintaan saya terhadap bus terutama dari sisi historisnya.

Untuk memudahkan para pembaca buku memahami isinya, berikut ini saya sampaikan sistimatikanya sebagai berikut:

1.    Peni

Ambruknya Usaha Para Veteran

2.    Baker

Pergulatan Sukses Sang Perintis

3.    Suharno

Kisah Sukses dari Yogya Barat

4.    Semeru

Eksis dengan Armada Renta

Buku sederhana ini saya susun disela-sela kesibukan menyelesaikan pekerjaan kantor  dan urusan panitia Jambore II. Walaupun tidak bisa meluangkan waktu sepenuhnya untuk penyusunan buku saya telah mengupayakan semaksimal mungkin agar buku ini mampu bercerita lebih detail dan kekurangan yang ada diminimalisir.

Dengan telah tersusunnya buku “PO Di Yogya: Dahulu dan Kini” saya mengucapkan terimakasih kepada:

1.    Siswo Sumarto (70)

Mantan Kru Po Peni

2.    Mardjono (84)

Mantan Pemilik PO Peni

3.    Maryanto, SH

Pemilik PO Prayogo

4.    Dollin Ardian Risakota

General Manager Ardian Transport

5.    Valentina

Manajer Operasional PO. Semeru

6.    Arief “Juprex”

Disainer BMC Jogya

7.    Semua pihak dari Bismania ataupun dari PO di Jogya

Akhir kata semoga buku ini bermanfaat bagi para bismania dan pihak-pihak yang berkepentingan

Sleman, 25 Februari 2009

Penyusun

I.PENI

Ambruknya Usaha Para Veteran

Keberadaan Perusahaan Otobus (PO) di Yogyakarta sejak awal berdirinya tidak lepas dari upaya pemerintah di era itu, upaya pemerintah ini diawali  pada tahun 1953 dengan mengumpulkan sebanyak 32 veteran perang revolusi untuk disekolahkan menjadi montir. Selesai menjalani pendidikan montir, peran pemerintah tidak berhenti sampai disitu saja, dengan bekal pendidikan montir, pemerintah memberikan modal kepada 32 veteran untuk mendirikan usaha angkutan penumpang, dan dari modal tersebut keseluruh veteran sepakat untuk mendirikan PO yang diberi nama NV Peni.

Dengan modal pemerintah tersebut, PO. Peni miliki 5 bus bermesin ford yang keseluruhannya digunakan untuk melayani trayek Yogyakarta-Solo PP. Sehingga boleh dikatakan PO. Peni merupakan PO pertama non plat merah (subsidi pemerintah-red) yang menjalani rute Yogyakarta-Solo. Memang, untuk trayek Yogyakarta – Solo kala itu belum seramai sekarang, interval masing-masing bus bisa mencapai lebih dari 15 menit.

Selain PO. Peni, sebenarnya saat itu sudah ada beberapa PO lain yang melayani rute Yogyakarta-Solo. PO tersebut antara lain PO Kidang Mas (tutup usaha tahun 1975), PO Kilat (tahun 1980 gulung tikar) dan Damri (kantor Yogya).

Seiring persaingan antar PO kala itu memang tidak seketat sekarang, namun dengan kondisi perekonomian yang juga masih merangkak, PO. Peni dapat berkembang dengan pesat.

Hal ini terbukti dengan cepatnya PO. Peni membayar pinjaman kepada pemerintah, padahal satu buah bus Ford saat itu seharga 70 ribu, dalam kurun waktu satu tahun telah balik dananya. Dengan kondisi manajemen PO yang sehat dan mampu bersaing dengan PO lainnya, maka menginjak tahun 1960 armada PO Peni mencapai belasan bus.

Memasuki era 70an PO Peni mulai mengalami kesulitan dalam membagi trayek belasan bus nya, untuk mengatasi ini para pemipik PO Peni mulai mencari jalan keluar yang jitu dengan menyewa trayek perusahaan otobus lainnya. Trayek yang disewa adalah milik PO Trimbuko dengan jurusan Surabaya – Malang dan Surabaya – Jombang.

Solusi jitu ini rupanya tidak sesuai dengan yang diharapkan, banyaknya pengeluaran biaya operasional untuk menyewa garasi serta trayek yang tidak sebanding dengan pendapatan, maka PO. Peni memutuskan untuk mengakhiri kiprahnya di Jawa Timur. Namun demikian, kegagalan ekspansi ke Jawa Timur tidak menyurutkan para pemilik PO. Peni untuk menyerah begitu saja. Semangat perjuangan yang masih membara di dada para veteran ini, akhirnya pada era 80-an tercetuslan ide baru untuk membuka trayek baru Yogya – Cilacap.

Dengan terkonsentrasi pada wilayah Jawa Tengah, segala jurus untuk memperbaiki manajemen dan tertatanya system keuangan yang ada, PO Peni terus meningkatkan pelayannya kepada para penumpang dengan memberikan kenyamanan dan keamanan.

Di tengah giat-giatnya PO. Peni meningkatkan kinerja perusahaannya, pertengahan tahun 80-an mulailah bermunculan para pesaing PO. Peni, bahkan tidak hanya siap bersaing, para pesaingnya juga mampu memberikan pelayanan kepada penumpang dengan armada baru.

Di tengah kancang persaingan yang begitu ketatnya, PO Peni rupanya tidak mampu untuk mengikuti kompetisi yang diawali dengan penuh percaya diri dapat bersaing dengan PO-PO lainnya. Guncangan awal yang dialami PO Peni adalah ketika perusahaan ini tidak mampu lagi untuk meremajakan armadanya yang jauh lebih tua ketimbang konterpartnya. Ketidak mampuan ini sebenarnya diawali oleh kesalahan manajemen pengelolaan armada yang lebih memilih pendapatan yang selama ini mereka hasilkan lebih ditujukan atau diperuntukan kepada para anggota sekutu PO Peni selaku pemilik perusahaan, sementara peremajaan armada mereka abaikan.

Dengan munculnya benih-benih perpecahan, maka para anggota sekutu PO Peni selaku pemilik perusahaan yang terdiri dari veteran perang tidak mampu mewujudkan kata sepakat untuk mengakhiri permasalahan di PO. Peni. Dengan perpecahan pendapat ini maka pada tahun 1990 armada PO. Peni banyak yang dijual. Bahkan bukan hanya itu saja, krisis ini rupanya terus berlanjut hingga akhirnya seluruh armada PO Peni habis terjual dan berubah menjadi usaha bengkel. Namun bengkel tersebut juga tidak mampu membangkitkan kegemilangan PO. Peni. Dengan berbagai kesulitan yang dialaminya, memasuki tahun 1998 kiprah PO. Peni di dunia otobus berakhir.

Saat ini para saksi sejarah keberadaan PO. Peni sebagai PO pertama yang dimiliki kota Yogyakarta sudah semakin berkurang, dari 32 veteran perang yang bersekutu kini tinggal 2 orang yang masih hidup yaitu Pak Mardjono (84) dan Bapak Ngadiyo. Sementara untuk kantor dan garasi yang berada di jalan Solo, kini telah dijual dan beralih kepada pemilik baru dengan main bisnis baru juga yaitu sebagai lapangan futsal “Next”

II. BAKER

Pergulatan Sukses Sang Perintis

Selain PO. Peni, jika kita berkunjung ke Yogyakarta khususnya jika kita ingin berdharmawisata ke Kaliurang, maka kita akan bertemu dengan PO. Baker yang sejak awal berdirinya hingga kini masih eksis melayani rute Yoyakarta-Kaliurang. Adapun sejarah berdirinya PO Baker juga menyimpan berbagai kenangan bagi warga Yoyakarta khususnya pada era tahun 50-an.

PO. Baker awal berdirinya mempunya nama PT. Baker (Badan Angkutan Kerjasama Ekonomi Rakyat) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang angkutan penumpang. Perusahaan yang didirikan oleh Bapak H.M. Digdosudarto pada tanggal 12 Juli 1950, pada awalnya memiliki kantor di jalan Pojok Pasar No. 54, sebelah Utara Shopping Center (Beringharjo Center). Pada saat berdiri PT. BAKER bukanlah perusahaan angkutan penumpang melainkan angkutan pasar yang mengangkut hasil-hasil pertanian dari Godean ke Yogyakarta, dan armada yang digunakan dalam operasinya hanya sebuah truk kecil.

Kurang lebih 3 tahun beroperasi dalam bidang angkutan barang dan menunjukan kemajuan yang cukup pesat, PT. BAKER mulai mengembangkan sayapnya dengan membuka jalur penumpang dari Godean ke Yogyakarta dengan satu buah bus angkutan penumpang dan satu buah truk sebagai angkutan pasar. Dengan perkembangan kebutuhan akan alat transportasi yang begitu pesat saat itu dan banyaknya permintaan dari para penumpang, khususnya dari penjual hasil pertahian dari Godean, akhirnya PT. Baker mencoba untuk menambah satu buah bus sebagai angkutan penumpangnya. Keberadaan angkutan ini meningkat, melihat kondisi transportasi penumpang yang berkembang begitu pesatnya, PT. Baker memutuskan untuk menghentikan angkutan pasar dan beralih kepada angkutan penumpang sepenuhnya.

Dengan main bisnis barunya ini PT. Baker berkembang sangat pesat, untuk itu PT. Baker pun mulai meningkatkan jumlah armada bus dimana hampir tiap tahunnya PT. Baker mampu membeli rata-rata satu buah bus penumpang.

Seiring perkembangan yang dialami oleh PT. Baker, maka kantor lama yang hanya menampung beberapa bus saat itu sudah tidak memungkinkan lagi, oleh karena itu perusahaan pun memindahkan lokasi kantornya ke Jalan Veteran No. 129 Umbulharjo Yogyakarta. Pemilihan lokasi kantor baru ini atas dasar pertimbangan lokasinya dekat dengan terminal Umbulharjo, sehingga kemungkinan untuk memperluas trayek sangat besar.

Harapan untuk memperluas trayet rupanya menjadi kenyataan, pengembangan trayek lain ini diawali dengan mencoba jurusan Yogyakarta – Kaliurang sekitar tahun 1970-an. Pembukaan trayek ini disebabkan adanya kenaikan jumlah penumpang yang tinggi sepanjang trayek tersebut, khususnya para pelajar dan mahasiswa. Selain itu juga PT. Baker juga mempertimbangkan bahwa para pesaing hanya menggunakan armada angkutan yang berkapasitas kecil, sehingga kemungkinan semakin banyak penumpang yang terangkut oleh bus Baker semakin tinggi dan ini secara langsung akan meningkatkan keuntungan perusahaan.

Tidak cukup sampai Kaliurang, Sekitar tahun 1985 PT. Baker kembali memperluas trayeknya dengan pilihan jurusan Yogyakarta – Cilacap dan Yogyakarta – Purwokerto. Mengingat Trayek Yogyakarta – Godean juga dilalui oleh trayek Yogyakarta-Cilacap dan Yogyakarta-Purwokerto, maka untuk trayek Yogyakarta-Godean dihentikan oleh PT. Baker. Disamping itu, perusahaan juga mempertimbangkan adanya pengalihan armada bus ke kedua trayek tersebut akan lebih menguntungkan perusahaan.

Perjalanan PT. Baker menuju sukses terus merangkak menuju puncaknya, walaupun banyak menghadapi rintangan-rintangan, namun PT. Baker dapat terus bertahan bahkan sat ini perusahaan tengah mengembangkan trayek baru yaitu Yogyakarta – Solo. Keputusan pembukaan trayek baru ini diambil setelah melakukan serangkaian pengamatan dan penilaian studi kelayakan dengan melihat para pesaing dari perusahaan bus lain yang telah lebih dahulu memasuki jalur jurusan Yogyakarta – Solo serta jumlah penumpang yang kemungkinan masih dapat dilayani.

Pembukaan trayek-trayek yang dilakukan PT. Baker khususnya jalur Yogyakarta – Solo ini tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit, untuk menutupi meningkatnya dana operasional tersebut, pihak perusahaan pun mendapatkan pinjaman kredit dari Bank Bumi Daya dan kekurangannya diambil dari dalam perusahan sendiri.

Kemajuan yang dialami PT. Baker sejak berdirinya kurang lebih 59 tahun yang lalu, tentunya juga telah mengalami pasang surut sebagai akibat persaingan dalam industry transportasi, baik dari segi keadaan, bentuk kendaraan, maupun dari segi pelayanannya. PT. Baker telah berhasil mempertahankan kelangsungan hidup usahanya, bahkan pada tahun-tahun terakhir telah tumbuh dan berkembang pada tingkat yang cukup menggembirakan.

III. SUHARNO

Kisah Sukses dari Jogya Barat

Keberadaan PO ini memang tidak setua PO-PO yang ada di Yogyakarta, namun demikian keberadaanya sejak awal hingga kini telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi dunia transportasi di Yogyakarta.

PO Suharno. PO ini termasuk salah satu PO  lama di Yogya yang hingga kini masih eksis dan terus berkembang. PO yang sejak awal melayani rute Yogya-Srandakan ini didirikan oleh Bapak Mugihartono (75) pada tahun 1973 ini beralamatkan di Jl. Godean Kruwet Sumber Agung Moyudan Sleman.

0e81cd494c8f959bdddeac0a2fa5101bJika kita berbicara soal PO. Suharno, ada dua hal yang menarik dari perusahaan ini, yaitu seringkali masyarakat keliru menafsirkan karena umumnya mereka mengira Suharno adalah nama pemilik PO Suharno. Padahal Suharno merupakan putra pertama dari Bapak Mugihartono. Hal kedua yang tak kalah menariknya adalah, PO. Suharno mampu berkembang menjadi besar dan aktif membeli perusahaan lain yang sedang kesulitan.

Berikut kisah PO. Suharno yang mampu menampung kehancuran beberapa PO lainnya, dan menjadi tonggak penting perkembangan PO yang mendapat perhitungan dari PO-PO lainnya:

Ketertarikan PO. Suharno untuk membeli beberapa PO yang sedang mengalami kesulitan, diawali pada tahun 1985 dimana saat itu PO Suharno melakukan pembelian seluruh armada PO Sumber Waras termasuk ijin trayeknya. Bekas pemilik PO Sumber Waras mengijinkan Suharno untuk tetap memakai nama Sumber Waras hingga kini. Bahkan hingga kini jalinan hubungan antara mantan pemilik Sumber Waras dengan Suharno tetap berjalan dengan baik.

Memasuki era 87an, sebagian armada Suharno dialihkan pengelolaannya kepada Ibu Suhartati putra kedua Bapak Mugihartono. Armada yang dialihkan kemudian diganti nama menjadi Prayogo. Di tahun yang sama PO Suharno kembali membeli seluruh armada PO. Tri Sulatama putra Nusa dengan trayek Magelang – Wonosari dan Yogya – Semarang.

-    Tahun 1992

Tidak cukup hanya sampai disitu, kepedulian Suharno kepada PO yang kolaps pun terus meningkat, bahkan pada tahun 1992, Suharno kembali membeli PO Cemara tunggal bus medium dengan trayek Yogya – Borobudur. Bahkan di tahun yang sama Prayogo juga membeli sebagian besar armada PO Kukuh dengan trayek Yogya – Wates. Dan kepedulian ini berhujung pada era 2000-2006 dimana pada masa itu Suharno membeli PO Mustika.

d76ceffcbb02553ae070bbc9de7792f4Kini di tahun 2009 armada Suharno telah mampu melayani trayek Yogya – Cilacap, Yogya – Purwokerto, Yogya – Solo dan Yogya – Semarang, serta Cemara Tunggal dengan trayek Yogya – Borobudur. Sementara itu, kantor dan garasi masih tetap berlokasi di Moyudan dengan pengelola Bapak Mugihartono. Sedangkan Sumber Waras, Trisulatama dan Mustika dikelola oleh Bapak Suharno (putra sulung).

Kemajuan pesat yang dialami PO. Suharno rupanya tidak cukup hanya membeli beberapa PO yang kolaps, dengan pertimbangan meningkatkan pelayanan, perusahaan yang dikelola Bapak Suharno mulai meremajakan armadanya dengan body Morodadi Prima hal tersebut di luar tradisi, karena selama ini selalu memberikan kepercayaan kepada  Tri Sakti.

Dengan jumlah armana yang cukup besar saat ini, ada satu hal yang menarik dan mungkin dapat menjadi kenangan bagi pemiliknya, yaitu PO Suharno masih melestarikan armada pertama yang dimiliki, dimana body bus masih terbuat dari kayu, namun Sayang bus tersebut kini dalam kondisi tidak terawat.

IV.SEMERU

Eksis dengan Bus Renta

Hampir sama dengan kisah berdirinya PO lainnya di Yogyakarta, PO ini pun diawali dengan kejelian pemilik perusahaan yang melihat pasar jasa angkutan barang kalah menguntungkan jika dibandingkan dengan jasa angkutan penumpang.

PO. Semeru adalah PO yang selama ini kita kenal sebagai PO yang bergerak dijalur pariwisata, didirikan oleh Tjan Hing Sien (Pak Lego) pada tahun 1970. Pada awal berdirinya, PO Semeru merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa angkutan barang, dan mulai beralih ke jasa angkutan penumpang pada tahun 1975 yang ditandai dengan pembelian 5 bus. Keseluruhan bus tersebut bermesin Mercedes Benz, dengan trayek yang dilayani adalah Yogya – Wonosari. Di koridor tersebut, PO. Semeru hanya mampu bertahan selama tiga tahun, karena pemilik perusahaan Pak Lego merasa tingkat kebocoran pemasukan sudah tidak bisa ditolerir lagi.

Melihat jasa angkutan penumpang masih tetap menjanjikan, Pak Lego pun mencoba untuk beralih usaha dari melayani trayek tertentu menjadi penyewaan bus, dan dalam usaha ini Pak Lego dapat menjalankannya dengan baik.

Upaya kerja kerasnya ini ternyata membuahkan hasil yang cukup gemilang, hal ini ditandai dengan perlahan tapi pasti PO. Semeru mulai mendapat pelanggan dan armada yang dimiliki pun terus bertambah walaupun pada kenyatannya armada tersebut bekas dari perusahaan lain.

Kini Semeru memiliki 5 bus medium dan 10 bus besar. Satu bus diantaranya bermesin Mistubisi sedangkan lainnya MB. Semeru dengan 15 armadanya mampu menyerap 20 karyawan yang terbagi menjadi karyawan operasional bus, karyawan bengkel dan karyawan kantor. Eksistensi Semeru di tengah deru perkembangan industri otomotif yang kian pesat ini tentunya juga tak luput dari dukungan dan penataan manajemen yang sehat, seperti:

1.    Perusahaan ini masih mengedepankan fungsi sosialnya. Tarif untuk acara bersifat rekreatif dan senang-senang dibedakan dengan tarif untuk pelayatan dan rombongan jemaah dengan selisih yang cukup besar. Strategi ini membuat Semeru mendapatkan pelanggan dari kalangan tertentu dan di mata masyarakat PO Semeru identik dengan bus pelayatan.

Walaupun strategi di atas dianggap menguntungkan namun ujian berat juga pernah menimpa Semeru hanya untuk mengedepankan fungsi sosialnya. Ujian berat tersebut berawal  ketika PO. Semeru menyewakan kepada pelanggannya, namun pelanggan tersebut tidak mampu untuk membayar biaya sewanya. Hal ini disebabkan pelanggan yang menyewa PO. Semeru tiba-tiba meningal dunia, sementara pihak ahli waris tidak bersedia menanggung biaya sewa bus tersebut. Sementara itu, pihak yang memesan bus merasa tidak memiliki tanggungjawab karena merasa hanya diperintahkan saja oleh ahli waris. Akibat kejadian ini, pihak manajemen PO. Semeru merelakan uang sewa yang tidak dapat dibayarkan dan diputuskan tersebut sebagai wujud sumbangan.

2.    Kiat lainnya dari PO. Semeru adalah sangat menjaga perawatan bus dan untuk perawatan ini tentunya juga didukung oleh tenaga perawatan mesin dan body yang berpengalaman. Mercedes Benz seri OF dengan usia lebih 20 tahun (tertua OF III3/34 tahun pembuatan 1975) masih mampu berkelana jauh dan mendaki tanjakan seperti di Kaliurang, Wonosari, Ketep dan lain sebagainya.

Awal tahun 2000 Semeru juga pernah meluncurkan dua armada unik. Dikatakan unik karena atap bagian dalam dilapisi anyaman bamboo (gedheg). Menurut pemikiran kerabat Pak Lego selain artistic, dirasakan dengan kulit bamboo yang halus mendatangkan kesejukan. Sayangnya terobosan tersebut tidak bertahan lama. Salah satu armada beratap gedheg kecelakaan. Hasil rekomendasi pemerintah dengan atap gedheg risiko terluka penumpang semakin tinggi (kepala yang membentur gedheg mudah luka). Akhirnya gedheg tersebut dilepas dan dibawa pulang karyawannya.

Di saat persaingan PO pariwisata semakin ketat PO. Semeru tetap konsisten dengan pilihanya ini, bahkan PO Semeru kini terus berupaya dan bertahan dengan memberikan layanan angkutan penumpang carteran dengan armada bus. Pihak manajemen optimis di masa mendatang masyarakat tetap memerlukan angkutan jasa pariwisata seperti yang dimiliki PO. Semeru. Hal lainnya yang mendukung keoptimisan mereka adalah  letak kantor Po. Semeru yang berada di pusat kota, Jl. Suryonegaran 10 Bumijo Kidul memudahkan  masyarakat untuk mengunjunginya.


Catatan Perjalanan yang lainnya:



akbar
Ditulis oleh

'Akbar adalah seorang bismaniak dari jogja'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;