
Ilustrasi (http://forum.banjarmasinpost.co.id)
“Los Solar” adalah istilah jalanan untuk menyebut bahwa uang “dropping” yang diserahkan kepada crew tidak termasuk untuk pembelian solar. Artinya, PO memberlakukan suatu mekanisme pengisian solar oleh Perusahaan (biasanya ditempat-tempat SPBU yang ditentukan oleh Perusahaan) tidak dengan memberikan uangnya kepada crew. Sebagai konsekuensi kebijakan ini biasanya crew cenderung menggeber kendaraannya tanpa berpikir pengiritan BBM karena tidak ada
“manfaat” ekonomis buat mereka, sehingga bisnya cenderung “lari kencang (ngejoss)”
Kebalikan dari kebijakan ini adalah kebijakan “dropping solar” dimana
PO memberikan tanggung jawab pembelian solar kepada crew dengan
membekali uang pembelian solar yang termasuk dalam “uang dropping”,
konsekuensinya crew harus pandai mengatur agar uang solar tersebut
cukup untuk membeli kebutuhan BBM selama perjalanan dan sedapat
mungkin ada kelebihan yang bisa mereka nikmati. Akhirnya, bis
dijalankan dengan gaya pengiritan, dengan dijaga pada rpm rendah dan
timbullah apa yang lazim disebut dengan “aksi netral” (alias gigi nol
ketika mencapai kecepatan tertentu).
Secara teoritis, kebijakan “Los Solar” akan membuat kendaraan cepat
rusak karena digeber terus selama perjalanan. Beberapa spare parts
fast moving misalnya kampas rem dan ban akan cepat aus (usia pemakaian
lebih pendek) ketimbang bila PO menerapkan kebijakan “dropping solar”
. Namun disisi lain, yang harus dicermati bahwa kebijakan “dropping
solar” membuat jangka waktu perjalanan lebih lama akibatnya masa
istirahat crew (bila harus jalan PP / tanpa menginap) akan lebih
pendek, selain itu jangka waktu istirahat kendaraan dan waktu
pengecekan kendaraan juga lebih pendek. Proses pengecekan kendaraan
yang akan diberangkatkan lagi pada hari tersebut menjadi terburu-buru
karena harus mengejar waktu untuk segera siap berangkat lagi.
Yang sering tidak diperhatikan oleh crew adalah masalah istirahat
mereka. Suatu contoh bila bis jurusan Jakarta – Surabaya – Malang tiba
di tujuan sudah jam 09.00 lebih dan harus siap berangkat lagi jam
13.00 siang maka praktis crew hanya bisa istirahat di luar bis sekitar
maksimal 2 jam saja.
Belum lagi bila dikaitkan dengan kepentingan penumpang bis yang
umumnya menginginkan perjalanan yang lebih cepat (tapi juga harus
selamat), maka kebijakan “dropping solar” pasti akan berpotensi
“meresahkan” penumpang.
Penumpang bis memiliki karakter yang berbeda dengan penumpang Kereta
Api. Misalnya Penumpang bis dari Jakarta ke Surabaya sangat peduli dengan
pilihan bis yang akan dinaikinya karena banyak pesaingnya sesama bis
dalam kelas yang sama. Mulai dari penampilan armadanya, harga
tiketnya, pelayanannya, kenyamanannya hingga faktor ketepatan
waktunya. Sedangkan penumpang kereta api , misalnya Argo Bromo
Anggrek, tidak punya pilihan kecuali menerima apa adanya yang
ditawarkan PT. KAI. (Bahkan memilih gerbongpun “tidak bisa”. Seandainya
bisapun tidak akan ada pengaruhnya).
PO memang harus jeli menangkap kemauan pasar bila tidak ingin kalah
bersaing dengan PO lainnnya.Keinginan pasar ditentukan oleh karakter
penumpang masing-masing daerah yang berbeda-beda. Misalnya, karakter
penumpang jurusan Madura atau Muriaan yang senang dengan bis yang
kencang maka menerapkan kebijakan “dropping solar” sama saja “bunuh
diri” karena bis tersebut tidak akan dilirik oleh pasar.Dengan kata
lain apabila PO dan crew hanya ingin berhemat tetapi pendapatan dari
penumpang kurang maka penghematan ini tidak ada artinya buat kegiatan
usaha.
Idealnya dalam hukum ekonomi adalah pendapatan besar dan pengeluaran
kecil, namun dalam kondisi yang tidak ideal, secara berpikir bisnis
yang harus dikejar duluan adalah pendapatan yang besar dulu baru
pengontrolan pengeluaran agar bisa ditekan.
Dahulu banyak bis yang melakukan strategi “los solar” dikombinasi dengan
kontrol teknis sederhana tapi “ketat”, yaitu dengan “menyegel” pedal
gas sehingga tidak bisa diinjak melebihi torsi maksimal (rpm ideal)
untuk menghasilkan tenaga maksimal, sehingga meskipun los solar tapi
pemborosan solar untuk hal-hal yang tidak perlu bisa dikendalikan.
Pada akhirnya persaingan PO adalah persaingan untuk mendapatkan
penumpang sebanyak-banyaknya. Tanpa itu maka PO akan mengalami
kerugian di jangka panjangnya, jangan-jangan malah bisa bangkrut /
tutup. Selera / tuntutan pasar adalah yang harusnya dijadikan
pertimbangan utama sebelum menentukan kebijakan apa yang dipilihnya.
Kembali pada kemauan pasar, saya kira mayoritas penumpang bis
lebih senang bis yang jalannya cepat ketimbang yang lemot.
Cepat disini tentunya bukan berarti ceroboh / ngawur / ugal-ugalah,
tetapi dalam arti positif yaitu “tepat waktu”.
Pada akhirnya kemauan / kehendak pasar untuk cenderung memilih bis
yang “tepat waktu” harus diterjemahkan dalam kebijakan operasional PO,
apalagi semua PO tentu sangat tahu bahwa sumber pendapatan mereka dari
Penumpang / Pasar, sehingga suara pasar harus dijadikan pertimbangan
utama dibanding pertimbangan-pertimbangan yang lain.
Manajemen PO haruslah dilihat secara utuh, dimana Pemilik, crew, agen,
karyawan, montir dan lain-lain saling terkait untuk saling menghidupi.
Maka dari itu semua pihak harus saling “memahami” satu sama lain demi
kehidupan bersama. Bila tidak saling memahami (alias egois pada
kepentingannya sendiri-sendiri) maka sama saja mereka sedang menuju
“kuburan” bagi keberadaan PO itu sendiri.
Sudah banyak pengalaman PO besar yang jatuh terpuruk akibat kesalahan
manajemen, akibat kenakalan crew, akibat kecurangan agen maupun
ketidak cakapan montir / teknisi. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak
terjadi lagi
(Artikel oleh Didik S. Setyadi)




thx bgt. penjelasannya sangat berarti buat saya yang masih awam.
setuju skali.cepat bkan berarti ugal2lan.sya biasa naek slh 1 PO jur merak-mlg.sempat merasakan aksi netral gtu.alhasil sampenya siang.badan pegel semua…. tp kmrn naek po tsb udh ga maen netral lg mlhan full speed.alhasil sampenya pagy trs badan g krasa pegel.
Sepintar-pintarnya manejemen po trsebut,tp masih pinter crew untuk ngakali los solar.soalnya ak dulu pernah nglami kbijakan los solar tp tetap bs di akali,walaupun pihak manejemen po sampai nyegel pedal gas,tutup tangki.slm kenal semua soko cah gunung
Sepintar-pintarnya manejemen po trsebut,tp masih pinter crew untuk ngakali los solar.soalnya ak dulu pernah nglami kbijakan los solar tp tetap bs di akali,walaupun pihak manejemen po sampai nyegel pedal gas,tutup tangki.mudah2an apa yg di harapkan po PK terkabulkan dan tidak merugi.slm kenal semuanya
pernah ada PO x yang agen-agennya nakal dengan memberi tiket ganda pada n0omor kursi yang sama sehingga mengakibatkan ada yang berdiri. Sehingga butuh penanganan tersendiri itu untuk agen-agen yang nakal serta kontrol yang lebih ketat.
Kondisi jalan terutama jalur Pantura yang sudah mulus dan lebar memungkinkan bus berjalan cepat tanpa harus mendahului dengan memaksa. Dengan kecepatam rata-rata 60-80 Km/h jarak Jakarta-Solo bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 10 jam tanpa kemacetan yang berarti. Dengan demikian maka kebijakan drop solar akan menstimulasi pengemudi untuk bekerja dengan lebih smart dan resposible sehingga merekapun akan merasakan benefitnya secara langsung.