Setelah mesam-mesem sendiri membaca catatan perjalanan lawas milik rekan-rekan
Akhirnya jadi termotivasi untuk menggubah sebuah cerita yang latar waktunya bisa dikatakan seangkatan.
Benar-benar masih polos dan lugu waktu itu
Seragam sekolah dasar beratasan putih dan celana berwarna merah masih menjadi pakaian dinas setiap hari, belum seperti sekarang yang harus berjibaku dengan rutinitas dan sekelumit problema hidup yang datang silih berganti.
Sudah sedikit lupa kapan tepatnya salah satu perjalanan lawas ini terjadi
jika tidak salah ingat aku masih duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar
Dalam satu kesempatan, adik laki-laki Ibu yang saat itu berkuliah disini akan melakukan perjalanan ke Medan dengan maksud mengunjungi *Oppung
Kebetulan beberapa tahun sebelumnya Oppung memutuskan pindah dari Jambi dan kembali berdomisili di Deli Serdang (Sumut) untuk melanjutkan usaha mereka.
Entah kebetulan atau bagaimana
Paman yang biasa kupanggil dengan sebutan *Tulang ini akan melakukan perjalanan bertepatan dengan masa libur sekolah
Aku yang kadung senang “bertamasya” (bahasa taman kanak-kanak ini eheheh) apalagi jika yang namanya naik bus segera merespon saat tak sengaja mendengar pembicaraan antara Ibu dan Tulang saat beliau berkunjung kerumah.
Seruanku yang intinya ingin ikut serta dijawab dengan penolakan
Ibu tidak mengizinkan sedangkan Tulang hanya manut saja dengan keputusan yang dibuat
Tapi aku tak hilang akal.. namanya juga masih anak-anak
berbagai jurus kukeluarkan untuk meluluhkan hati mereka
Mulai dari rengekan ala anak SD hingga janji-janji seperti
“Aku tidak minta macam-macam mak”
“Aku tidak minta mobil-mobilan mak”
Terucap berkali-kali dalam tempo yang tidak beraturan
Sekedar berbagi saja
Entah kenapa dari dulu aku memang maniak sekali dengan salah satu mainan yang bernama mobil-mobilan
Mau berbahan plastik, metal, hingga kayu.. asal bentuknya mobil pasti langsung jatuh cinta
Sampai-sampai Ibu cukup “ngeri” jika mengajak aku pergi ketempat-tempat yang kebetulan “ber-tagline” toko mainan baik dipusat perbelanjaan atau lapak emperan sekalipun
pokoknya kalo lihat dan suka bawaannya harus punya
Ibu bukannya tidak mau membelikan
Tapi ada alasan yang cukup masuk akal setelah aku dewasa seperti sekarang
Semua mainanku dulu umurnya tak lebih dari seminggu
beli hari ini dan besok tangan mulai “gratil” untuk melepaskan komponennya satu persatu
Apakah semua itu karena didasari oleh sifat keingintahuan yang besar
Entahlah..
Bahkan saat naik dari kelas 4 aku minta dihadiahi 4 MB O 404 (Jetliner) diecast karena berhasil menjadi peringat 2 dikelas
ada 2 model, 2 bagasinya bisa dibuka dan 2 berpintu tengah dengan skala yang cukup besar
Mau tau kelanjutanya?
Entah hari keempat atau kelima aku mulai bermain dengan obeng dan selotip
bodinya kubuka dan semuanya kupasangi toilet berbahan selotip hitam eheheh
Mereka cukup beruntung karena berumur lebih lama dari yang lain
dan beberapa bulan setelahnya bus berbodi metal tersebut berakhir menjadi cerita
Jujur sekarang aku cukup menyesal berhubung tak ada satupun mainan masa kecil yang bisa kujadikan koleksi, apalagi jika melihat disalah satu forum jual beli terbesar saat ini
bus dengan model ini masih ada yang menjual dengan harga yang cukup lumayan
250k per-unitnya.. Hmmm
Itulah alasan kuat yang menjadi dasar Ibu tidak mengizinkan aku untuk ikut ke Medan
Beliau takut aku akan merepotkan dan minta macam-macam
Setelah puas berorasi dengan janji-janji
Tampak air muka Ibu tak kuasa meredam keinginanku
Jawaban yang kunantikan itu akhirnya terdengar juga ditelinga
“kamu boleh ikut.. tapi jangan macam-macam disana”
Perasaan yang sulit digambarkan kualami sore itu
benar-benar tak terlukiskan
Hari H
Setelah tiga hari susah tidur karena mendapati kenyataan cerita diatas
Hari yang dinanti-nantikan akhirnya datang
Pagi-pagi sekali aku mandi
Demam keberangkatan ini sedikit membuat siklus hidupku sedikit berubah
Ibu malah sempat bilang..
“pagi-pagi kok sudah rapi sekali? berangkatnya nanti siang yo”
Tapi aku tak peduli, aku sudah terlanjur menyelami atmosfir perjalanan ini
Perasaan tak menentu berkecamuk pagi itu
Jika boleh aku lukiskan..
mirip-mirip gambaran jatuh cinta je.. eheheh
Senang dan gembira diaduk menjadi satu dan semakin “matching” karena diselingi dengan kehangatan segelas teh.
Entah berapa puluh kali jam yang bertengger didinding ruang tengah kupandangi
Putaran waktu terasa sangat lambat.. benar-benar lambat seperti ada yang meredam geraknya
Posisi angka yang ditunjuk seolah tidak menunjukkan perubahan yang berarti
Penantian ini memicu tingkat stress yang akhirnya membuatku berkunjung ke kamar mandi berkali-kali
Lebih kurang 3 jam-lah begitu
Dahulu benar-benar menarik dan hal ini mungkin terjadi juga tempat lain
Satu orang saja yang berangkat biasanya yang mengantarkan serombongan
Begitulah yang terjadi di pagi menjelang siang yang tak begitu terik
Persiapan perjalananku menjadi tontonan teman-teman sepermainan
lucu juga mengingatnya.. Apalagi saat itu beberapa teman malah nekat bersepeda mengikuti VW Bapak hingga ke simpang depan
eh eh eh
Kebetulan dari kediamannya, tulang langsung menuju loket bus yang akan kami naiki
Sedangkan aku diantar dari rumah.
VW safari Bapak menjadi jalan kami menuju Simpang Kawat.
Setelah belasan menit menyusuri jalanan kota yang saat itu belum seperti sekarang
tibalah kami ditempat yang dimaksud
Bus yang akan kunaiki terparkir dengan buritan menghadap ke jalan
Untuk perjalanannya kali ini
Tulang menjatuhkan pilihan pada BSS (Alm)
PO dengan kepanjangan nama Bintang Sumatra Saritama ini hanya berkelas ekonomi 2-2
Tapi aku tak terlalu peduli, bagiku naik bus apa saja sensasinya tetap tak berubah
Tetap menyenangkan..
Aku lihat tiket ditangan Tulang tertulis bangku 7-8 yang menandakan posisi duduk kami ada dibaris kedua sebelah kanan
Jika diibaratkan bus pulau Jawa kami ada diposisi 2C-2D
Maklum saja, penomoran seat bus Sumatra dari jaman baholak bahkan hingga era teknologi maju seperti sekarang rata-rata memang jarang menggunakan abjad layaknya bus dari pulau seberang. Disini lebih ditekankan pada jumlah bangkunya.
Keberangkatan masih memberi ruang waktu setengah jam kedapan
Tapi perasaaan menggebu untuk berada didalamnya sudah tidak terbendung lagi
Pelan tapi pasti kaki ini mulai beranjak meninggalkan keluarga yang masih setia menunggui kami hingga berangkat.
Sosok gagah nan tangguh itu akhirnya tepat dihadapan
“base” putih gading bercorak sekumpulan bintang terpampang dipojokan belakang bodinya.
benar-benar sederhana tapi cukup nyambung dengan namanya
ibarat sebuah visi misi… singkat, padat dan jelas.
Jika bisa dilukiskan
Bus ini mengusung model banteng yang sempat booming dan merajai chart model bus malam di Indonesia. Saat itu aku kurang begitu mengerti bodi yang diusungnya jebolan karoseri mana
Yang masih terekam kaca depannya berbelahan dihiasi 2 wiper yang berdiri tegap
Pintu belakangnya kujadikan akses untuk masuk kedalam
Detail interior bus ini kuamati satu persatu
Mulai dari dek, barisan bangku hingga model lantainya
Untuk model lantai sendiri landasan bangkunya lebih tinggi dari lorong
mungkin saat ini pemandangan seperti itu sudah sangat jarang terlihat
Jadi lorong yang membelah lantai kabin ibarat saluran airlah..
pasti mudengkan apa yang kumaksud? eh eh eh
Lain cerita untuk barisan bangkunya
Mungkin jika diadu dengan seat bus ekonomi bahkan kelas vip masa kini mereka kalah jauh
Konfigurasi seat 2-2 dengan jumlah bangku yang tidak menyiksa lutut cukup lapang untuk perjalanan jauh.
Jika boleh aku sematkan nama yang pantas untuknya adalah kelas Ekonomi dengan jarak bangku Eksekutif.
Sedikit selingan saja
Makna ekonomi sendiri sedikit berbeda antara Sumatra dan Jawa
Jika di Jawa ekonomi adalah konfigurasi bangku 2-3.. lain ceritanya dengan disini
Di Sumatra kelas ekonomi identik dengan non AC
Mau bagaimanapun jumlah seatnya bahkan hingga seperti Karona Big Top 1-1-1 rec. seat
Jika sebuah bus minus dengan pendingin udara tetap saja disebut Ekonomi
Kembali lagi kelintasan..
Hampir semua bangku digarda belakang merasakan rebahan pantatku
Tak puas dikiri pindah kekanan dan begitulah selanjutnya
Aku mondar-mandir tak karuan menjajal tiap bangku dan merasakan sensasi berbeda dari tiap anglenya
Setelah terpuaskan bermain diarea belakang..
Lorong yang diisi dengan 2 bangku panjang menjadi jalanku menuju bagian depan bus ini
Setelah menghitung urutan bangku dari depan, aku mendapati apa yang kucari dan langsung duduk pada bangku tersebut
Dari sana bisa terlihat air muka Tulang dan keluargaku yang tidak heran lagi melihat tingkah seperti ini..
Belum berjalan saja mataku sudah terpuaskan melihat kearah depan
Karena sudah nyaman dalam posisi ini
Aku benar-benar tak mau beranjak barang sedetikpun
Kemanapun aku memandang baik kesisi kiri ataupun kanan sama puasnya
Bahkan Alm. Bapak masih bisa kuingat jelas saat mengawasi adikku yang kebetulan bermain diatas kap bagasi VW Safari kebanggaannya.
Selain penumpang..
Era ini bus ekonomi Sumatra sarat muatan diatapnya
Dan begitulah yang terjadi..
Aku sudah lupa berapa jumlah sepeda motor yang dinaikkan keatas BSS yang kunaiki ini
belum lagi barang-barang para pedagangan antar kota yang tak mau ketinggalan menyesaki roofrack yang memanjang dari depan hingga kebelakang..
Ya… roofrack-nya benar-benar fullbody
Dapur pacu yang mulai menderu menandakan waktu keberangkatan segera tiba
Penumpang lain dalam perjalanan ini mulai naik satu persatu
Seat yang tadinya kosong mulai berpenghuni
Tulang masih disana dan aku tetap sibuk sendiri dengan duniaku
Tak berapa lama terlihat Tulang menyalami satu persatu mulai dari Bapak, Ibu, adik dan kakakku.. ini menandakan beliau akan segara bergabung keatas
Disinilah aku “pause”-kan sejenak alam lain ini
Aku bergegas turun dengan maksud pamit pada kedua orang tua dan adik kakak yang sepertinya exciting sekali menyaksikan mukadimah perjalanan ini
Wajar mereka ikut senang
Kebetulan diantara kami kakak beradik..
Inilah kali pertama ada yang melakukan perjalanan ke Medan
Maklum saja masa kecil kami banyak dihabiskan di Jambi dan kota bersahaja Yogyakarta
Disela-sela nasehat orang tua tentang apa saja yang tidak dan harus kulakukan
Terdengar suara yang menghimbau penumpang untuk naik
Gegasku tak mau ketinggalan dengan penumpang lain
Aku berlari meninggalkan mereka
Momen yang sedikit membuat haru biru jika diingat-ingat kembali
Menjelang keberangkatan aku dan Tulang sengaja bertukar posisi duduk
Aku memilih duduk dipinggir kaca dengan maksud memuaskan pandangan kearah keluarga beruntung karena bus ini menganut paham kaca “full geser” aku bisa mengeluarkan kepala, mengamati sekitar sambil sesekali melambaikan tangan kearah mereka.
Barang-barang yang tersisa disisi kanan dimasukkan asisten kemudi kebagasi yang letaknya tepat berada dibawahku.
Disudut lain percakapan roaming antara pengurus dan crew lain terjadi
kurang begitu menyimak apa yang mereka bicarakan
tapi tak berapa lama setelahnya crew tersebut naik dan langsung menuju lingkar kemudi
Oh ini toh supirnya..
Raut wajahnya memperlihatkan beliau sudah cukup berumur
Tapi dari tampilan fisik dan gayanya tergambar Bapak yang satu ini benar-benar matang dijalan.. Berbeda dengan 3 crew lain yang masih masuk dalam kategori “unyu”
Beriring seruan asisten kemudi “terus.. terus.. kanan.. balas!”
Rodanya perlahan menggelinding mundur dan sukses memidahkan posisi bus ini hingga melintang ditengah jalan
Aku semakin menjadi-jadi melambaikan tangan pada mereka
Tak pedulilah mau dibilang kampungan atau bahasa apa yang pantas menggambarkannya..
Toh sekarang semua itu menjadi salah satu kenangan yang berkesan
Bus berinisial MB ini perlahan melaju meninggalkan perwakilannya
Namun itu tidak menyurutkan niatku untuk mencari celah agar bisa melihat mereka
Sayang pandangan ini terhalang oleh lalu lintas siang yang benar-benar syahdu
Belum jauh saja sudah benar-benar rindu
Ah…
Pool raja jalanan era Orba yang letaknya tak jauh dari perwakilan BSS kami lewati
Melihat sekilas saja aktivitas disana benar-benar kontras..
Jika beberapa menit sebelumnya aku berhadapan dengan suasana yang membumi
lain ceritanya saat melintas disini, semuanya digantikan dengan euphoria para parlente yang tampak akan menunggangi Jetliner dengan kemasan Exclusive seolah menegaskan taraf hidup orang-orang yang bepergian dengannya.
Masih teringat jelas saat bus ekonomi yang kunaiki melintas dihadapan mereka
Belasan bahkan puluhan mata tertuju kearah kami
Menatap kearah bus yang kunaiki seraya menyiratkan pesan atau rasa iba yang mendalam
Untunglah itu hanya segelintir cerita lama yang kini sudah tidak berlaku lagi
Belum puas menikmati deru mesinnya
Kendaraan dengan enam roda ini masuk kedalam Terminal Antar Kota
Kalau boleh bercerita sedikit sebelum menempati Terminal Alam Barajo Simpang Rimbo dahulunya Terminal Bus AKAP di Jambi berada disimpang kawat.
Metafora Terminal Simpang Kawat jika diikuti cukup membuat dada ini sesak.
Setelah dipensiunkan dari aktivitas bus AKAP, terminal ini sempat menjadi pasar tradisional dan kini menjelma menjadi tempat ngetemnya travel AKDP dan IMI.
Kadang saat perjalanan pulang/pergi rutinitas kusempatkan sejenak melirik kesana.
Tenang kawan.. kau seperti kotak pandora yang menyimpan sejuta kenangan.
Bagaimanapun wajahmu kini.. ada segudang cerita disana.
Bintang Sumatra Saritama bersungut pelan diantara hiruk pikuk terminal yang temaram.
Gelagatnya seolah memohon izin kepada para penghuni lain untuk turut serta meramaikan suasana siang dijalur pemberangkatan terminal yang tak begitu luas
Teman-teman seangkatan yang kebetulan juga sudah menyandang titel Alm. ditrayek ini terlihat menghiasi agennya masing-masing
Melongok ke kiri ada pasukan ranah minang ANS, KMS dan Palapa
Berbalas ke kanan langsung disambut BS Putra, Jambi Indah, ACC dan CV. Makmur
pemandangan yang benar-benar menggugah meski aku sadar mereka bukan level Jetliner tadi
Tapi entah kenapa dibalik kesederhanaan busana dan “kemeriahan” bawaan yang menggunung diatapnya, mereka malah tampil dengan identitas yang kuat meski tanpa kosmetik sekalipun
Dahulu tidak seperti sekarang
Meski berbalut keterbatasan fasilitas, sistem dan regulasi transportasi umum jaman itu dirasakan lebih tertib ketimbang sekarang yang pada kenyataannya sudah banyak dibedaki oleh teknologi
Contoh kasusnya sederhananya saja
Kondisi terminal bus masa kini bukan wajah terminal bus jaman TVRI dulu
Sekarang sangat mudah sekali menjumpai terminal AKAP dengan luas area yang bisa membuat padangan masygul lengkap dengan pintu keluar/masuk megah bersandingkan pos-pos retribusi yang pada kenyataannya malah berbanding terbalik dengan aktivitasnya.
Sayang sekali miliaran rupiah yang terbuang untuk membangun mega proyek dengan alih-alih meningkatkan fasilitas pelayanan dan kenyamanan masyarakat saat menggunakan transportasi massal jika kenyataan dilapangan malah demikian..
Ya tahu sendirilah gambaran rata-rata Terminal jaman sekarang khususnya didaerah
Tak jauh seperti rumah hantu
Dahulu.. meski dihadapankan pada keterbatasan
Terminal sesuai dengan nama dan fungsinya.. benar-benar hidup
Jalur pemberangkatan selalu terisi dan aktivitas naik turun penumpang terlihat jelas meski beberapa PO membuka perwakilan diluar terminal.
Seperti halnya bus keresidenan Medan yang kunaiki ini..
BSS masuk kedalam terminal bukan bermaksud meniru adegan penalty pitstop “numpang lewat” ala F1, tapi memang benar-benar parkir diagen untuk menaikkan penumpang yang kebetulan memilih bergabung dari sini
Bukan satu atau dua orang..
Mungkin ada belasan orang yang memutuskan naik dari sini
Beberapa seat yang tadinya kosong secara acak mulai didiami tuannya
Meski sudah dijejali penghuni baru tak berarti bus berdapur belakang ini serta merta beranjak berlalu.
Ada satu lagi momentum yang tak bisa dilewatkan begitu saja
Penumpang tambahan tak mau ketinggalan menyesaki gundukan yang sudah diselimuti terpal diatas sana
Barang-barang yang sudah disusun dari perwakilan ditata ulang
Kegiatan susun menyusun layaknya puzzle kembali terjadi
Barang yang tadinya sudah diatas diturunkan untuk berganti posisi dengan barang diterminal
Mungkin hal ini dimaksudkan supaya bawaannya lebih klop dengan roorfack
Meski menyita tenaga tapi entah kenapa mereka tampak menikmati sekali pekerjaan ini..
Satu pemandangan yang sekarang mungkin ‘ogah’ dilakukan crew bus ekonomi sekalipun.
Menjelang tengah hari kami undur pamit dari sana
Tembang leluhur menjadi intro perjalanan ribuan kilometer menuju utara Sumatra
Keluar terminal lingkar kemudi BSS diarahkan kekiri
Menyebrangi pertigaan yang kini menjadi kantor pusat travel TOP dan langsung menyusuri jalanan Kota Baru yang kala itu belum selebar sekarang.
Jika sekarang rata-rata bus tujuan Medan dari Jambi melalui Lintas Timur Sengeti, Merlung, Simpang Rengat, Pangkalan Kerinci yang nantinya bermuara ke Pk. Baru
lain ceritanya dengan BSS yang kunaiki
Selepas menyusuri jalanan kota baru yang berujung diperempatan kenali
Bus ini lanjut bablas menuju Tempino yang notabenenya akan mengarah ke Palembang.
Nah kok bisa begitu..
Aku juga kurang tahu karena ini adalah kali pertama aku melakukan perjalanan ke pangkal Sumatra, jadi hal yang lazim dan tidak aku kurang begitu faham.
Jawabannya aku dapati saat kami tiba dipertigaan Tempino
BSS berpisah dari lintas timur, mengambil arah kanan dan menggulirkan rodanya ke Bajubang.
Seperti diketahui Bajubang adalah akses menuju Muara Bulian yang menjadi shortcut dari arah Bayung Lencir tanpa harus melewati Kota Jambi.
Laju BSS yang kunaiki biasa-biasa saja
Tidak ada yang namanya aksi bejek gas dalam-dalam
Tapi untungnya kala itu aku tidak terlalu peduli dengan yang namanya kecepatan.
Selama perjalanan hanya tergambar perasaan yang teramat sangat karena bisa mengecapi perjalanan bersama idola seumur hidup terlepas dari tetek bengeknya.
Itulah kepuasan masa kanak-kanak saat menilai sesuatu dengan cara yang sederhana.
Setelah memakan durasi perjalanan lebih kurang 1 jam
Riak pinggiran kota Ma. Bulian mulai terasa
Hanya satu dua rumah penduduk yang terlihat disisi kiri dan kanan jalan
Sebuah kondisi yang bertolak belakang dengan wajahnya sekarang
Hanya dalam hitungan menit Ibukota Kabupaten Batanghari ini seperti habis durasinya
Saat tiba dipertigaan pasar Ma. Bulian, juru mudi mengambil arah kiri
Disini aku tergerak bertanya pada Paman
“kalo kanan tadi kemana Lang?”
“oh kalo kanan itu arah ke Jambi.. kita sekarang ke Tembesi”
“nanti rumah makannya disana” tambahnya lagi
Hmm.. ya ya
Aku pernah dengar nama Ma. Tembesi meski sebelumnya belum pernah sekalipun kesana
Yang terbayang saat itu seperti apa kotanya?
Entah satu atau setengah jam setelah meninggalkan Ma. Bulian..
Ma. Tembesi sudah didepan mata
Aku terperangah saat BSS melewati rumah makan yang benar-benar megah
Parkirannya yang luas dijejali kendaraan pribadi dan bus-bus eksekutif dari PO ternama
Jika boleh aku komparasikan mirip-mirip kedigdayaan Pagi Sore dan Restoran Sederhana masa kini
Apakah ini rumah makan yang dimaksud Tulang?
Aku bertanya sendiri dalam hati dan beberapa detik setelahnya semua terjawab saat BSS semakin menjauh dari sana
Jadi rumah makan apa yang megah itu?
Rumah makan yang dengan tampilannya mampu mengalihkan perjalanan ini
Mudah-mudahan ada yang masih ingat nama ini “RM. Roda Baru”
Posisinya dikanan jalan dari arah Jambi
Jangan tanyakan bagaimana wajahnya saat jaman keemasan dulu
Mungkin Roda Baru termasuk jajaran topten rumah makan dilintasan Sumatra
Sayang nasibnya kini sesuai dengan filosofi namanya yang selalu berputar
Mungkin roda itu sedang ingin berdiam dibawah dan entah kapan akan bergulir kembali
Menit-menit setelahnya kami tiba pada sebuah lokasi yang hingga kini wajahnya tidak terlalu banyak perubahan
Gambaran umumnya masih sama dengan 17 tahun lalu
Entah apa nama tempat ini sebenarnya
Tapi aku senang menyebutnya “Simpang Ma. Tembesi”
Meluncur lagi pertanyaan.. kemana bus ini akan diarahkan?
Apakah lurus atau ke kiri?
Ternyata semuanya salah
Tak ada satupun opsi yang dipilih
BSS malah memberikan jawaban tentang rumah makan mana yang akan disinggahinya.
Ternyata ditengah-tengah pertigaan Ma. Tembesi berdiri sebuah terminal kecil
Suasananya tak jauh beda dengan kesunyian kota Ma. Tembesi saat itu
Jika tidak salah ingat ada satu bus lain yang juga beristirahat disana
Sayang aku lupa PO apa
Perlahan BSS masuk dari pintu barat dan menjadi bagian terminal ini
Bus berhenti tepat didepan sebuah kedai nasi
Jangan tanyakan apakah parasnya bisa dibandingkan dengan RM. Roda Baru tadi
Tapi tunggu dulu.. “Jangan menilai buku dari sampulnya”
Pribahasa ini adalah ungkapan yang tepat untuk gambaran kedai nasi ini
Aku makan cukup lahap dengan menu yang sederhana
Aku masih ingat betul.. hanya berkawan sayur sawi dan telur ayam
Tapi entah kenapa nikmat sekali
Bulirnya benar-benar klop dengan variasi lauknya
Tempat ini seperti memiliki cita rasa orisinil yang mungkin tidak dimiliki rumah makan diluar sana
Sayang.. keberadaan kedai nasi ini juga tinggal cerita
Tulang (paman) aku tinggalkan saat beliau masih sibuk menyantap hidangannya
Langkahku pelan saat berhadapan langsung dengan tampak muka BSS
Pandanganku menengadah seraya menikmati garis-garis wajahnya
Disanalah aku mendapati satu aksesoris bus Sumatra yang sudah langka saat ini
Lampu trayek seperti Taksi diatas kaca depannya.
Terakhir kali aku melihat lampu seperti ini digunakan Garuda Pribumi – Medan (2002)
Belum lagi puas menikmati wajahnya
Semuanya harus terhenti karena perjalanan ini sepertinya akan dilanjutkan kembali
Tak perlu waktu lama semua penumpang menempati bangkunya masing-masing
Begitu pula dengan kami berdua.
Aba-aba mundur membuka lanjutan perjalanan
Dengan sigapnya sang asisten kemudi meraih pintu depan dan masuk kedalam setelah menunaikan tugasnya, jika tidak salah ingat subtitusi lingkar kemudi belum terjadi disini
Kutanya lagi pada Tulang saat bus keluar Terminal Ma. Tembesi dan mengarah kekiri
“ini kemana lagi Lang?”
“Ma. Bungo” jawabnya singkat
Tak banyak yang kuingat setelah itu
Yang pasti ada satu momen menjelang senja yang masih membekas hingga saat ini
Aku muntah dan berserakan dimana-mana.. Ah!
Menyadari hal ini Tulang langsung membuka bajuku yang sudah belepotan
Dengan sigapnya beliau mencari baju gantiku pada tas yang diletakkan dibawah kursi
Tapi karena tak kunjung ketemu.. untuk beberapa saat aku tanpa busana atas ehehehe
Setelah dipakaikan baju ganti, Tulang memintaku untuk berdiri saja diatas kursi
Pasti nyambungkan apa yang kumaksud?
Kakiku berpijak diatas jok dan sandaran kepala beralih fungsi menjadi tempat rebahan punggungku. Dalam posisi seperti itu, kemanapun aku memandang seperti tak berbatas.
Ada lagi satu kejadian yang tidak bisa dilupakan begitu saja
Kurang tahu juga ini sudah didaerah mana
Hujan malam yang cukup lebat menjadi latar BSS saat melaju diatas jembatan tak bertiang yang rentangnya cukup panjang.
Bisa dibilang mirip-mirip jembatan Inderalaya – Kayuagung dan jembatan didaerah Air Molek.
BSS berjalan sendiri tanpa ada kawan searah didepan sana
Mungkin belum seperempat jembatan ini dijejaki
BSS bersiap kres dengan sinaran lampu yang sepertinya kendaraan sejenis
Entah bagaimana ceritanya saat dalam posisi kres kedua bus ini seperti berdempetan diatas jembatan
“Brak!!” kerasnya suara itu masih bisa aku ingat hingga saat ini
Penumpang dibelakang sontak berteriak hebat
Aku langsung pucat pasi menghadapi situasi ini
Sebelas duabelaslah dengan kondisi Tulang saat itu
Menyadari ada yang tidak beres, BSS spontan dihentikan lajunya
Begitu pula dengan bus diarah berlawanan yang akhirnya kukenali sebagai Alm. KMS (Kami Saiyo)
Tanpa bertanya-tanya lagi kesemua crew turun
Dengan penerangan seadanya, lewat spion bisa kusaksikan awak KMS mendatangi crew BSS yang sepertinya sedang mengamati kerusakan yang terjadi dibagian tengah hingga ke buritan
Entah apa yang mereka bicarakan
Yang terlihat sempat terjadi adegan bersitegang disana
Lewat percakapan alot yang mungkin berdurasi belasan menit BSS dan KMS akhirnya berdamai di TKP
Kami para penumpang tidak begitu mengerti bagaimana sistem ganti mengganti yang mereka anut, yang pasti lampu senja dan bodi sebelah kanan sukses “dilahap” KMS
Hujan turun tanpa ampun saat BSS melintas didaerah antah berantah
Entah sudah dimana dan jam berapa, sebagian besar penumpang mungkin tidak tahu
Maklum saja kabin bus era itu belum dipasangi alat penunjuk waktu
Ditambah lagi jam tangan mungkin masih menjadi aksesoris mewah jaman itu
Jadi penumpang dan crew mengira-ngira saja waktu sudah menunjukkan pukul berapa
Masih dengan latar hujan lebat
Untuk yang satu ini aku sudah lupa skema ceritanya bagaimana
Tapi yang masih aku ingat kami menjadi bagian sebuah keramaian yang benar-benar meriah berhiaskan gemerlap lampu yang aku ingat sebagai jejeran rumah makan bus AKAP
Bisa dibilang ini seperti komplek Rumah Makan
Suasananya persis terminal AKAP namun bedanya kemanapun mata memandang yang terlihat hanya rumah makan yang didepannya terparkir sekawanan bus dari berbagai PO
ALS dan ANS sangat mudah dijumpai dibeberapa sudut
Namun ada yang paling menyita perhatianku
Sebuah bus kuning bergambar bintang entah milik siapa
Bahkan hingga kini aku masih bertanya-tanya tentang asal usul bus ini
(sepertinya bukan bintang seribu)
Setelahnya aku lupa bagaimana kelanjutan cerita ini saat berada dirumah makan tersebut
Yang masih teringat disaat BSS meninggalkan rumah makan beriringan dengan bus kuning yang menjadi pembuka jalan saat itu
Suasananya masih sama..
Beratarkan hujan lebat yang membuat wiper dikaca depan sana bergerak kiri kanan dalam tempo yang lumayan cepat
Belakangan aku ngeh daerah yang kumaksud ini adalah Kiliran Jao – Sumbar
Hujan meninabobokanku..
Cukup lama aku terlelap dan tersadar setelah dibangunkan Tulang saat bus ini merapat dirumah makan selanjutnya
Entah didaerah mana lagi aku tak tahu
Berhubung dinihari rata-rata penumpang BSS tidak makan dan memilih tidur dibale-bale yang disediakan rumah makan
Penerangan disana benar-benar seadanya dan sepertinya memang daerah yang belum dilalui aliran listrik, bahkan rumah-rumah disekitarnya minus dengan penerangan
Sayangnya kesunyian dinihari harus dinodai oleh suara mesin diesel penyuplai listrik yang diletakkan didekat bale-bale..
Entah dari mana jalannya tiba-tiba BSS sudah berada diperwakilan Pk. Baru
Jika tidak salah ingat perwakilannya di Jl. Nangka yang dahulunya memang terkenal sebagai pusat kongkow-nya bus AKAP di Pk. Baru
Aktivitas pagi menyambut kami disana
Suasananya mungkin sekitaran jam 7 pagi
Lapak Nasi Uduk, Mie Instan, Warung Kopi dan sarapan pagi lainnya menjadi teman saat BSS ini terparkir untuk merenggangkan kaki-kakinya yang lelah.
Seperti sudah kompak atau bagaimana
Kegiatan dibale-bale rumah makan sebelumnya dilanjutkan kembali disini
Mayoritas penumpang masuk kedalam perwakilan BSS Pk. Baru
Sepertinya mereka sudah hafal dilantai dua ada ruang yang memang disediakan untuk beristirahat.
Aku dengan Tulang lain lagi ceritanya
Kami berdua lebih memilih sarapan pagi dilapak nasi yang berhadapan langsung dengan wajah BSS
Mungkin sekitar setengah jam kami ada disini
Penumpang yang tadinya beristirahat kembali terlihat diteras perwakilan BSS
Seperti sudah tahu tanpa perlu diinstruksikan lagi mayoritas penumpang naik keatas kabin
Lalu lintas pagi kota Pk. Baru tak begitu ramai
Bisa dikatakan kala itu mirip-mirip Jambi-lah
Cuma ada yang membedakan wajah kota yang dikenal dengan sebutan ladang minyak ini
Saat itu saja pembangunan sudah tampak dimana-mana, berbeda dengan Jambi yang sepertinya masih stagnasi.
Wajarlah .. income yang didapat kota ini sesuai dengan potensinya.
Setelah keluar dari dalam kota kami bergabung dengan lintas timur
BSS ternyata memiliki kombinasi perjalanan yang unik layaknya ALS
ada sesi lintas barat, lintas tengah dan lintas timur Sumatra
Menjauh dari Pk. Baru.. kami melintas didaerah Duri dan setelahnya disambut Minas dengan Jalur roller coaster-nya yang terkenal bisa membuat mabuk darat.
Pipa-pipa minyak berdiameter besar tampak mengular dan meliuk-liuk mengikuti kontur jalan
Belum lagi saat sesekali disuguhi pemandangan pusat pengeboran minyak dengan kobaran api yang seakan siap menjilat langit
Benar-benar industrial yang indah.
Tiba dipertigaan Dumai BSS mengambil arah kiri dan melanjutkan perjalanan ke Bagan Batu yang merupakan daerah perbatasan Riau-Sumut
Setelah itu aku lupa bagaimana kelanjutannya.
Menjelang sore kami merapat disebuah rumah makan didaerah Kisaran
Penumpang yang sudah kadung kelaparan segera menyerbu masuk kedalam
Cukup lama juga kami disini
Setelah memberikan klakson kebesarannya BSS beranjak pergi dari rumah makan ini
Senja sudah menggelayut dan malam siap menjemput
Tak terasa sudah didaerah sungai rampah
Tulang berkata beberapa jam lagi kami akan sampai dirumah Oppung
Datangnya malam tak bisa dielakkan saat melintas di Perbaungan
Tulang tampak beres-beres dengan bawaan kami
berarti apa yang dikatakan beliau tadi akan terjadi sebentar lagi
Suasana pinggiran kota Medan sudah mulai terasa kuat disini
Lalu lintas jaman itu saja sudah lumayan awut-awutan
Setelah perempatan timbangan Deli Serdang
Tulang kedepan dan memberitahukan crew tentang lokasi pemberhentian kami
Tak sampai 500 meter BSS berhenti ditempat yang dimaksud
Aku turun dipapah Tulang karena memang sudah lumayan ngantuk
Disudut lain tampak Oppung sumringah sekali menyambut kedatangan kami
Karena tidak ada bawaan dibagasi, BSS berlalu meninggalkan kami dan melanjutkan etape akhirnya menuju kota Medan
Bias lampunya yang kupandangi perlahan menghilang ditelan keramaian Lubuk Pakam
“Rumah Oppung yang mana?” tanyaku singkat
“Ya ini rumah kita” jawabnya sambil menggendongku
Wah aku baru tahu jika halaman rumah Oppung adalah jalan raya Medan – Deli Serdang
Mantap ini!!
Dan lebih diluar dugaan lagi saat aku mengamati sekitaran rumah Oppung
Mau tahu apa yang kudapat?
Ternyata rumah Oppung bertetangga langsung dengan Terminal Bus Lubuk Pakam
Terminalnya cukup besar dan bisa dikatakan luasnya mirip dengan Terminal Simpang Kawat
Entahlah.. Jodoh atau apa kata yang pantas untuk ini
Sayang.. berhubung sudah malam aktivitas pemberangkatan sudah tidak terlihat lagi
Tapi aku berjanji pada diri sendiri esok paginya aku harus kesana
Selamat malam Deli Serdang..
Rio G
Dari Kota: Jambi
Jam Berangkat:
Tujuan Kota: Medan
Tiba jam:
P.O.: Bintang Sumatra Saritama
Harga Tiket: -
Kelas: Ekonomi 2-3
Tanggal:




Komentar