“Engga enak nyalipnya kalau yang di depan kita juga sportif, main lampu dan membuka jalan buat kita,” ujar pak Wahid, pengemudi bis DMI no lambung 41 J ini. Malam tanggal 24 Juli, aku yang sejak lama mendengar kegarangan pak Wahid cukup tersentuh mendengar kata-katanya itu. Betapa tidak, sejak aku menemuinya di terminal Grogol, tak terbersit sedikitpun wajah penuh kegarangan yang kata orang kerap ia lakukan saat berkendara.

Sunatan Massal

Seminggu lalu, saat Sinar Jaya Group menyelenggarakan sunatan massal di daerah Paguyangan, Jawa Tengah. Aku dan beberapa teman Sinar Jaya Mania telah berketetapan hati untuk ikut berpartisipasi, bahkan dalam chatting conference, kami sempat membicarakan bis no lambung berapa yang hendak kami naiki. Namun aral tak dapat ditolak. Arga membatalkan rencananya karena bulan ini adalah saat-saat buah hatinya akan terlahir ke dunia. Begitu pun aku, urusan kantor di hari Minggu, tak ayal membuatku urung untuk ikut. Walau begitu, Dody dan beberapa teman lain akhirnya berangkat ke Paguyangan. Dan Happy nya, kami diundang secara resmi oleh managemen Sinar Jaya Group.

Sabtu sore, 18 Juli 2009, aku dan Arga mengantar para duta SJM ke Paguyangan melalui pul 1 Cibitung. Saat itu, pul 1 riuh ramai dengan para penumpang yang hendak pulang kampung. Karena statusnya undangan, para duta SJM ini menurut saja hendak dinaikkan ke bis Sinar Jaya manapun. Ramainya penumpang tak urung membuat divisi biskota menurunkan armadanya. Melihat gelagat ini, aku dan Arga pun bercanda, ” Udah naikin bodi RS Concerto aja.” secara ini adalah bis-bis generasi pertama Sinar Jaya yang berkaroseri Rahayu Santosa. Dan tak lama, mas Tulus menyampaikan berita yang kurang enak didengar. ”AC nya penuh, naek ekonomi aja yah,” ujarnya memberitahu para duta SJM. Dody sebagai ketua delegasi pubn bilang,”Siap. 86. kita sih oke aja.” ”Naik 41 J aja sama paj Wahid. Mau..mau..mau,” tanyanya.

Sontak, para duta SJM ini pun terkesima. Betapa tidak, bis yang selama ini dicari-cari untuk dinaiki akhirnya malah datang sendiri. Pucuk dicinta ulam tiba. 5 kursi terdepan segera direserve. Sebelum berangkat, para duta SJM sempat berfoto dengan pak Wahid kecuali aku, karena jadi tukang fotonya. Saat itu, godaan untuk ikut begitu besar, namun pertimbangan pekerjaan lebih mendominasi pikiran. ”Udah besok kapan-kapan, masih ada waktu,” hibur mas Tulus. Gejolak untuk naik 41 J ini tiada padam seusai melepas keberangkatan duta SJM. Apalagi Dody sempet sms,” Kanan terus bro. It’s show time!” hari Minggu pagi, 19 Juli 2009, Dody sms aku minta no Hp pak Wahid. Maka makin gundahlah hati ini. Mereka PP bersama pak Wahid, coba kemarin ikut, mantap nih.

Jatuh Cinta Sama si Gajah Putih

Selasa siang, 21 Juli 2009, aku pun sempat chatt dengan Dody. Alhasil ceritanya penuh dengan bumbu. Sampai-sampai ia sendiri ketakutan dan memilih untuk tidur selama di perjalanan. ”Oh Dody, kenapa kau tidak menikmati perjalanan itu,” batinku. Cerita-cerita Dody membuatku makin dan makin penasaran dengan pak Wahid ini. Rabu malam, aku sms pak Wahid, Sabtu ini jalan ke Wonosobo ga? 1 menit – 2 jam, sms belum juga dibalas, harapan menipis. Pukul 22:00 wib, sms berbunyi, ”Mobil lagi dandan. Ga tau jalan apa ga.”

Hitung punya hitung, jika pak Wahid sesuai jadwal maka Sabtu ini ia akan ke arah Wonosobo. Agar terealisasi, niatpun diwujudkan dengan mengubah status di Facebook. ”Berharap DMI 41 J Gajah Putih ke Wonosobo, ngelen hari Sabtu,” demikian kira-kira tulisannya. Status ini pun mengundang banyak komentar. Dari SJM, ada yang bilang makanya ikut pas kemarin,coba tanya mas Tulus jadwalnya, sampe akhir bulan aja bro turingnya, belum gajian nih. Bahkan beberapa teman non BisMania berkata,” Dasar BisMania, lagi ngecek kelayakan bis Antar Kota ya Sx, dll.

Kamis, status di FB tidak banyak berubah. Tetap berharap ikut 41 J ke Wonosobo. Di sore hari, di FB, mas Tulus komen, jadi naik 41 J? Telepon kantor segera kuraih dan kuhubungi no mas Tulus. Jawabannya adalah besok coba telepon lagi, pak Wahid jalan apa ga? Juma’t, pukul 10:00 wib, kupencet no pak Wahid dan jawabannya adalah kalo mau ikut saya, nanti malam jalannya. Alamak apa kata dunia! Saya tidak membawa apa-apa dari rumah ke kantor. Seragam BisMania dan SJM tidak dibawa, handuk, sabun, odol, dan seabreg peralatan turing semua ada di rumah.

Pilihan yang Sulit

Gelisah hati ini, antara ikut malam ini atau tidak. Apalagi motor juga harus dicarikan tempat parkir selama 3 hari 2 malam. Kebetulan, mas Widi teman sekantorky mendengar hal ini. ”Udah pergi aja. Mumpung ada kesempatan. Kapan lagi!” begitu ujarnya. Ia pun bilang, ”Beli aja kaos 20 ribuan, handuk kecil, sabun cair, pasta gigi, dan sikat gigi. Di Mangga Dua banyak.” sontak aku pun berpikir, ”kapan lagi yah.” tapi bagaimana dengan motornya? Lantas, aku teringat seniorku, Adijaya yang kantornya di Pangeran Jayakarta. Hp pun kupencet dan telepon, boleh ga nitip motor. ”Emang loe mau kemana, Surabaya? dan sama siapa?” tanyanya. ”Engga, mau ke Wonosobo sendirian. Mau coba bis banter,” jawabku. ”Ya udah bawa sini. Ntar g bilang ke satpam,” jawabnya. Malam itu, sebenarnya aku harus les mandarin dan ikut rapat persiapan Kongres HB di Mataram Nopember mendatang, namun adrenalin ngebis sudah telanjur memuncak, maka kedua hal ini pun dikesampingkan. Izin melalui pak Sekjend untuk tidak ikut rapat sudah didapat demikian juga halnya dengan guru les Mandarin. Maaf ya harus absen lagi.

Saat keputusan sudah final, sms pun dilayangkan ke pak Wahid. “(Saya) ikut bapak malam ini,” begitu sms saya. Tak cukup dengan sms-aku pun menelpon lagi. Dan tak lupa mengabarkan lewat sms ke mas Tulus kalau saya naik dari Grogol-tidak dari pul satu karena takut tidak masuk. Saat jarum jam menunjukkan angka 12 siang, saya segera semburat keluar kantor-menghidupkan motor-ke kantor senior-bertemu dengannya-dan menitipkan kunci motor serta stnk. ”Kapan loe balik?” tanyanya. ”Minggu pagi dah sampe Jakarta lagi,” jawabku. Terlihat ia sedikit heran dan geleng-geleng kepala.

Di siang hari yang panas, Indomaret menjadi target utama untuk membeli perlengkapan turing. Setelah semua didapatkan, tinggal kaos yang belum terbeli. Di lantai 3 kantor, terbelilah sebuah kaos baru bertuliskan Jakarta. Sebuah kantong plastik dengan beberapa cemilan telah digenggaman tangan. Siap untuk turing. Lewat YM, aku pun berkomunikasi dengan Arga dan Dody. Responnya adalah mereka sepertinya terlihat syok sekaligus tertawa-tawa mengetahui aku tidak siap turing. Karena tidak ada persiapan apapun. Usai makan siang, waktu rasanya berjalan lambat sekali, sementara hati ini sudah tak sabar lagi untuk segera melaju menuju terminal Grogol, tempat si 41 J berlabuh.

Waktu kok Lama Jalannya ya?

Setelah merampungkan beberapa pekerjaan, waktu pun mulai terasa berjalan walau Lynda, seorang rekan kerja sempat berkata,” Dah ga konsen nih.” saat pukul 17:25 wib, tas segera dirapihkan, sepatu ditinggalkan, dan diganti dengan sandal pinjaman dari Anand yang diambil dari sandal hotel. Laptop pun dititipkan ke seorang teman. Tepat pukul 17:35, aku dan seorang teman segera semburat keluar kantor untuk mengejar Kopaja 86 Kota Lebak Bulus. Mangga Dua yang macet membuatku dag dig dug takut ditinggal si Gajah Putih. Jam ditangan menunjukkan pukul 18:00, posisi 86 masih di Pangeran Tubagus Angke. Macet dan tidak bergerak. Makin dag dig dug lah hati ini. saat menjelang Grogol, 86 ini masuk tol dan kami pun diturunkan di dekat pintu masuk tol Grogol. ”Alamak, lumayan jauh ya kalau ke arah terminal,” batinku. Tak lama, aku pun berpisah dengan temanku. Sesaat di depan terminal AKAP Grogol, saya langsung menelepon pak Wahid. Ia pun menjawab,” Saya ada di dalam mobil.” Lega…..

Lega hati ini, si Gajah Putih belum jalan. Waktu menunjukkan pukul 19.30, si Gajah belum jua diisi penumpang, kecuali penumpang setia pak Wahid. Penumpang setia ini sebenarnya tinggal di Kalibata Pasar Minggu, namun saking loyalnya, ia rela datang ke Grogol hanya untuk bisa ikut pak Wahid. Kami pun mengobrol kanan dan kiri. Saat mobil kedua ke Wonosobo jalan, barulah DMI ini diisi. Alhasil baru di dapat 5 orang penumpang. Jodoh dan niat baik memang tak kemana. Saat kami sedang makan di pinggir terminal, seorang agen DMI menghampiri bahwa ada orang yang mau kirim motor. Maka deal bisnis pun terjadi, motor iap untuk dipaketkan di DMI. Penumpang pun bertambah menjadi 7 orang minus aku.Turing yang Belum Pasti.

”Situ beli tiketnya nanti di pul aja. Soalnya kalau sampe (saya) ketendang (penumpangnya di oper ke bis lain –red), uangnya ga bisa dibalikin,” sarannya. Maka saat bis berangkat, statusku belum jelas, bisa ikut pak Wahid terus atau tidak. Hati pun berdoa, semoga pak Wahid tidak ditendang. Kalau sampai ketendang. Turingnya batal total. Pukul 22:00, bis kami masih melaju di dalam

tol dalam kota. Jalanan masih tetap saja padat sehingga kami pun harus tetap bersabar. Pukul 22:30, bis tiba di pul satu. Saat itu hanya tersisa beberapa gelintir bis Sinar Jaya. Saat surat jalan diberikan, sempat dibilang, ya Cuma tujuh, bisa ditendang nih!” ”Tapi ada motornya tuh,” ujarku. Tak lama keputusannya pun keluar 41 J tetap berangkat ke Wonosobo. Lega hatiku mendengar berita itu. Tiket pun dibeli dan siap mengarungi malam bersama si Gajah Putih. Pukul 23:30, bis kami pun keluar dari pul satu dengan membawa 14 penumpang dan sebuah motor di belakang. Hingga kini, datangnya motor menjadi sebuah keajaiban karena jika tidak 41 J pasti ketendang.

Masuk tol Cikampek, jalan tetap padat merayap. Melihat hal ini, pak Wahid berinisiatif untuk lewat Sadang. Malam itu, tak banyak bis yamg kami temui, secara kami adalah bis kemalaman. Bis terakhir dari pul Sinar Jaya ke Jawa. Saat melalui jalan alternatif Srengseng kata pak Wahid, di depan nan jauh kami melihat liak liuk mahkluk yang tak asing lagi, bis! Ya sebuah bis yang sedang lenggak lenggok berjalan perlahan menghindari tebaran lubang-lubang di jalan. Setelah kami dekati, bis itu adalah Raya. Tengah malam buta, Raya baru sampe sini. Kami pun konvoi bersama hingga keluar dan masuk jalur utama Pantura.

Kearifan Berkendara.

Disinilah, saya tersentuh dengan kearifan pak Wahid. Kalau dia sportif kita juga sportif. Jadi ga enak menyalipnya. Maka tak heran, kami cukup lama mengikuti Raya dan saling mengisi konvoi. Jika Raya memberikan sein kiri pak Wahid juga demikian. Jika Raya kasih sein kanan pak Wahid juga. Sungguh indah konvoi malam ini. ”Kita kan sama-sama cari makan di jalan, harus punya banyak teman,”tandasnya. Suatu ketika, posisi Raya terjebak diantara truk-truk yang konvoi, sementara sisi kanan cukup lowong. Pak Wahid yang ”semestinya” bisa masuk menyerobot, malah mengerem dan mematikan lampu utamanya. Raya pun tanpa ragu masuk ke sisi kanan yang disediakan si Gajah Putih. ”Sungguh-sungguh indah kolaborasi malam ini,” seruku dalam hati. Di satu kesempatan, karena Raya melambat-si Gajah Putih mengambil alih konvoi-saat kedua kepala bertemu-pak Wahid pun memberikan klakson-yang juga dijawab oleh driver Raya. Manis-sungguh manis kerja sama yang terjalin walau mereka hanya berbicara lewat lampu dan klakson.

”Kalau semua supir ngerti klakson dan lampu, semua pasti aman-aman saja,” serunya. Usai meninggalkan Raya, si Gajah Putih pun melesat jauh, tak berbanding dengan julukannya Gajah Putih. Permainan stik yang begitu tipis beberapa kali diperlihatkan oleh pak Wahid. Dan ini tentu membuatku yang duduk di kursi CD berdesir dan berdebar kencang. ”It’s show time,” batinku. Pak Wahid juga jelas sangat menghargai setiap pengguna jalan, bahkan terhadap sepeda motor sekalipun, asal paham akan aturan lalu lintas. Tidak grasak grusuk dan seenaknya. Di daerah Indramayu, sebuah truk colt diesel tampak tidak jelas posisinya, berada di tengah hendak menyalip namun tidak menyalakan lampu sein kanan. Oleh pak Wahid yang hendak mendahului diberi lampu jauh dan klakson, namun tetap saja si truk cuek. Maka dengan sedikit gerakan, truk pun dipinggirkan dan dilewati. Dan sebagai hadiahnya, si Gajah Putih mengambil bahu kanan jalan, terciptalah deru debu bagi si truk yang cukup nakal tadi. ”Rasain, ga tau aturan,” umpatnya.

Si Gajah yang Berlari.

Setibanya di rumah makan Taman Selera, DMI 40 J Jakarta Wonosobo yang baru saja usai beristirahat beranjak keluar dari rumah makan. Padahal bis ini berangkat satu jam lebih awal dibanding kami. Kecepatan 41 J memang tidak bisa dibantah. Memasuki wilayah Brebes, antrian pendek mulai terlihat, beruntung di 2 titik kemacetan sebelumnya, kami luput dari kemacetan. Karena memang tidak macet, di depan terlihat Raya yang telah kami salip sudah berada di depan. Sementara, Dieng Indah Wonosobo yang saya lihat berangkat dari terminal Grogol juga ada di depan kami.

Untuk diketahui, Dieng Indah ini berangkat pukul 19.30 dari terminal Grogol. Dan kini ia tertangkap oleh kami di Brebes. Satu buah pembuktian lagi bukan. Pembuktian lain adalah Lorena ke Bobotsari yang berangkat pukul 20:00 tertangkap juga di daerah ini. lepas dari kemacetan, kami segera memutar haluan ke daerah Songgom. Jalan kecil yang sempit tak membuat si Gajah Putih mengurangi akselerasinya. Tetap full speed dan safety. Di satu jalan, dari arah berlawanan sebuah truk tampak terlalu ke kanan, pak Wahid mengalah ke kiri sedikit namun langsung membanting bis ke kanan karena ternyata di sebelah kiri tampak sebuah batang pohon miring ke jalan. ”Trek memang suka nakal,” ungkapnya sebal.

Jalanan pagi yang sepi semakin memacu pak Wahid. Dan saya pun tetap setia mendampingi. Sampai-sampai pak Wahid bilang,”Kalau ngantuk bilang aja. Ga pa-pa.” Bumiayu, dan dekat Purwokerto saya pun pindah ke bangku kiri depan, namun karena sulit tidur, saya pun pindah ke bangku paling belakang dan sekejap terlelap. Walau tidak bisa benar-benar pulas karena goyangan si Gajah Putih yang luar biasa. Pukul 07:30, si Gajah Putih sudah tiba di Banjarnegara. Kami berhenti sesaat di depan sebuah pom bensin untuk menurunkan paket motor. Di belakang kami, tampak Sinar Jaya Wonosobo kedua yang berangkat dari terminal Grogol. Sebuah pembuktian lain betapa garangnya si Gajah ini.

Banyak Belajar dari Pak Wahid.

Usai mengantarkan penumpang, si Gajah Putih pun dibawa ke tempat pencucian. Bersama pak Wahid, saya pun meninggalkan si Gajah Putih mandi. Dan sore nanti, saya akan kembali mengarungi malam bersamanya. Namun, sebenarnya siapakah pak Wahid ini? orang Indramayu jelas, suka dengan dangdut dan tarling juga jelas, ngejos apalagi! Pak Wahid yang punya 1 istri dan 1 anak ini sejak kecil memang sudah bandel katanya. Belajar nyetir yang memang punya sendiri. Sampe melamar di Sinar Jaya pun sendirian. Ayahnya yang seorang tentara tidak pernah mengizinkannya menjadi seorang driver. ”Kamu harus sekolah,” begitu kata pak Wahid menirukan ucapan ayahnya. Namun karena memang bandel, tetap saja ia mencuri-curi kesempatan mencoba mengemudi. ”Bisa dibilang, mengemudi adalah hobinya,” pikirku. Sebelum bergabung di Sinar Jaya, pak Wahid ini  sudah pernah bergabung di PT Jarum-sama sebagai driver-namun karena ingin mengemudikan bis, maka ia memilih Sinar Jaya.

Saat pertama kali dites oleh bagian seleksi pengemudi Sinar Jaya. Ia hanya mengemudikan beberapa meter saja. Setelah itu digantikan oleh calon yang akan dites lainnya. ”Saat itu (saya) deg-deg an, diterima ga yag,” ucapnya. Bagi kita, tes mengemudi yang hanya beberapa meter saja tentu membuat stres. Stres takut tidak diterima. Namun, stres itu sirna saat ia melihat di papan, namanya tercantum sebagai pengemudi yang diterima. Dan hebatnya, pak Wahid ini termasuk pengemudi senior di Sinar Jaya. Nomor induk pegawainya saja di kisaran angka 1-10. ”hm, great,” pikirku.

Inilah sekilas perjalananku dari Jakarta ke Wonosobo. Sungguh sebuah cerita yang menarik dan menginspirasiku. Di jalanan yang keras, masih ada sosok santun dalam berkendaraan. Dan itu aku pelajari dari pak Wahid. Malam nanti, semoga ada cerita dan inspirasi lain yang dapat saya ceritakan kepada teman-teman.

Recovery yang Singkat

Pukul 14:00 wib, pak Wahid telah bangun dari tidurnya, semalaman mengemudi tak membuat ia tidur lelap sepanjang hari. Bahkan, saat tiba, ia makan dahulu, lalu berjalan kaki di jalan di depan mess Sinar Jaya untuk memijat kaki-kakinya. Kaki yang dipijat alami karena berjalan di atas jalan yang batu-batunya berkerikil. Pukul 15:00, ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap menuju terminal Banjarnegara, tempat si Gajah Putih langsir menunggu penumpang. Dengan membawa 2 buah tas yang cukup berat, salah satunya berisi kaset-kaset kesukaannya, ia pun naik becak. Sementara, aku berjalan kaki menikmati kota Banjarnegara yang sejuk usai hujan mengguyur sore itu. Pukul 16:25, suara speaker pun berkumandang memanggil para penumpang untuk segera menaiki si Gajah Putih.

Malam ini, aku akan mengarungi malam bersama dengannya lagi dan menuju Tanah Tinggi, Tangerang kota transit terakhir dari Banjarnegara. Malam itu, aku bersama dengan 5 penumpang lain telah bersiap-siap untuk berangkat. Sebelum sampai di Mandiraja, seorang pengurus DMI mengawal kami. Selepas Mandiraja, penumpang tak jua bertambah, dan si agen pun telah turun. Hujan masih mengiringi kami selepas Mandiraja. Konvoi kendaraan terlihat di depan kami, dan didominasi sepeda motor. Malam minggu, malam yang panjang untuk anak-anak muda. Dengan speed dan perhitungan, si Gajah Putih melesat berakselerasi.

Selepas melewati terminal Purwokerto, si Gajah Putih bertemu Sinar Jaya Proteus, dengan sekali klakson, dan kedipan matanya, proteus pun minggir dan membiarkan kami lewat. Rupanya si proteus sudah tahu jam segini si Gajah Putih \lewat. Masuk wilayah Bumiayu, kami pun larut dengan 4 buah konvoi Sinar Jaya dari Bobotsari. Saat masuk rumah makan Panorama, sudah berjejer beberapa armada Sinar Jaya. Setelah kenyang mengisi tanki, kami melanjutkan perjalanan.

Sepeda Motor yang Ugal-Ugalan

Dengan menempel ketat Sinar Jaya bodi lambung 13 DX, kami menyusuri jalan malam itu. Sebelum masuk terminal Bumiayu, saya disuguhkan atraksi Sinar Jaya yang berkonvoi. Saat itu, seorang pengendara sepeda motor yang di kiri kanannya penuh dengan barang rupanya tak mau kalah dengan deretan Sinar Jaya. Ia pun berakselerasi di jalan yang naik turun dan penuh tikungan ini. ”Konyol,” kata pak Wahid melihat tingkah polah pengendara itu.

Walau penuh barang, si pengendara motor menguntit ketat 13 DX di depan Gajah Putih. Aku yang duduk di kursi cd, cuma bisa geleng-geleng kepala. Nekat dan bodoh, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kenekadannya. Melihat gelagat ini, pak Wahid lalu membunyikan klakson berulang-ulang memperingatkan si pengendara motor untuk minggir. Itu dilakukan demi keselamatan si pengendara motor itu sendiri. Bayangkan, dengan beban yang lebar dan berat, si pengendara nekat menguntit ketat bis di depan padahal jalanan di depan curam.

Pak Wahid lantas memaksa dan meminggirkan sepeda motor ke samping kirinya. Sepeda motor pun kini di belakang si gajah, namun tetap saja berusaha menyalip kembali. Karenanya, si gajah pun menutup jalur dan tidak membiarkan si motor lewat.  Sungguh pemandangan yang akan berubah mengerikan, jika sampai motor tersenggol sedikit saja, maka maut adalah akibatnya. Sungguh bodoh perilaku mengemudi si pengendara motor itu.

Setelah cukup lama menempel ketat 13 DX, si Gajah lalu meninggalkannya. Dan kini kami pun memasuki daerah Songgom. Pertunjukkan berhenti sesaat, karena tak terlihat lagi satu pun armada Sinar Jaya, yang ada hanya selingan pasar malam di beberapa desa.

Others Can Only Follow

Memasuki pantura, deretan bis malam terlihat memanjang. Pertama yang kami dekati adalah Coyo Cirebon Semarang, setelah beberapa lama diikuti, Coyo pun ditinggalkan. Deretan Dewi Sri terlihat, si Gajah Putih menempel lalu meninggalkannya. Tak ada perlawanan dari mereka. Mereka yang biasanya berakselerasi, melihat si Gajah Putih teratur undur diri. Begitu pula dengan beberapa Dedy Jaya. Awalnya Dedy Jaya pertama tidak memberikan jalan, tetap diam di tengah padahal jalan di depannya kosong. Dengan beberapa liukan, si Dedy pertama pun takluk. Hal yang sama terjadi kepada Dedy Jaya kedua. Setelah tahu si Gajah Putih, mereka pun takluk dan mundur teratur.

Selepas itu, kami mengikuti Metropolitan Volvo. Akselerasinya yang mantap, lampunya yang sportif, membuat pak Wahid lagi-lagi sungkan untuk menyalipnya. Kami pun cukup lama mengikuti dan menutup jalur yang ditinggalkan Metropolitan. Goyang kanan-goyang kiri melahap setiap bis dan truk yang ada di depan, itulah kerja bersama kami malam itu. Namun, rupanya Metropolitan pun lama-lama kelelahan dengan kolaborasi ini, apalagi si Gajah Putih dengan setia nempel di belakangnya. Dengan smooth, Metropolitan perlahan ke kiri, seperti memahami maksud Metropolitan, si Gajah Putih mengambil alih dan memberikan klakson persahabatan. Klakson itupun dibalas Metropolitan.

Sebuah tanda persahabatan dari hati tanpa banyak bicara. Pertarungan pun berakhir dengan Metropolitan ini. Pertarungan yang dimenangkan secara gentle tanpa ada yang merasa disakiti. Selanjutnya kami membututi Metropolitan yang lain, dengan mesin yang sama, walau yang ini bermain tidak seciamik Metropolitan sebelumnya. ”Bagusan yang tadi mainnya,” ujar pak Wahid.

Metropolitan ini pun akhirnya tersalip di pintu gerbang Cikopo. Waktu menunjukkan pukul 00:30 wib, saat kami meninggalkan Cikopo. Memasuki tol, si Gajah Putih tak jua menurunkan akselerasinya. Tidak kencang dan ngebut namun tetap stabil di kisaran 80 km per jam. Yang penting stabil saat bawa mobil itulah kata-kata pak Wahid. Kami selanjutnya bertemu dengan bis Sinar Jaya yang pemberangkatan pertama dari Bobotsari. Di sini kami sempat menyalip Budiman, dan Sinar Jaya Ajibarang yang berangkat paling awal. Dengan gerakan yang meliak liuk Gajah Putih bergoyang di depannya. ”Biar dia ga ngantuk,” kata pak Wahid. Gerakan itu juga dilakukan kepada para truk yang mulai mengantuk.

Ini rupanya salah satu cara membangunkan para pengemudi yang ngantuk agar segar sesaat karena kaget mungkin. Budiman yang tadinya di belakang, tiba-tiba ngeblong kami. Melihat itu, pak Wahid tetap santai, namun menjelang pintu keluar Cibitung, Budiman yang jauh di depan, ia salip kembali dengan kecepatan full speed. ”Mercy mah ga ada apa-apanya dibanding Hino,” kelakarnya. Dengan tetap kecepatan yang lumayan, ia memasuki tikungan keluar sambil menyalip sebuah bus kecil yang sedang merayap keluar tol.

Pukul 01:10 wib, Pul Satu Cibitung sudah di depan mata. Aku pun bergegas menyiapkan barang-barang. Sesampainya di pul, aku pun menyalami pak Wahid dan mengucapkan terima kasih karena sangat menikmati perjalanan bersama si Gajah Putih. Di luar, udara masih dingin, malam masih menjelang, dan aku kini sedang memandangi si Gajah Putih yang berdiri gagah di parkiran. Baru ada beberapa bis Sinar Jaya yang datang. Dan si Gajah Putih menjadi yang pertama tiba dari Banjarnegara. Dengan bingung aku melangkahkan kaki dan duduk di kursi kayu panjang. Mau pulang naik apa, tengah malam (begini?

(Himawan Susanto)

DMI 41 J – Others Can Only Follow..


Catatan Perjalanan yang lainnya:



himawan
Ditulis oleh

'Loving bus'

13 Comments

  1. Suplentonk Jaya
    plentonk /

    mantap!
    ayo temen2 yang laen pada bikin tulisan ya …

  2. hendi_Yk01
    hendi /

    kok bisa disebut gajah putih?
    mana gajah dan putihnya hehe..
    abu-abu gitu je..

    • himawan
      himawan /

      Di sebut Gajah Putih karena Pak Wahid pernah berkata ke gurunya spiritualnya jika nanti jadi pengemudi akan menambahkan kata “Gajah Putih” di setiap bis yang dikendarainya. Begitu je…. Salam Mas Hendi…

  3. fathur-rozaq /

    perlu dicoba ini kalo dari grogol

  4. sigit
    blackedeck /

    abis lebaran nyobain gajah putih yuks…

  5. Pincuxs
    pincuxs /

    Wah Hebat Penggemar Sinar Jaya Ya…???
    salam Kenal ya

  6. ILHAM PRAYUDI
    iprayudi_obl_newtravego /

    muantep tenan mas …. saya harus nyoba nih … klo temen2x SINAR JAYA MANIA biasa ngumpul dmn ??

  7. fananie-gandie /

    saya ada rencana touring jkt-purwokerto-sby…
    kalo boleh tahu,gajah putih ini jadwal ngelennya kapan y?!?!
    trus berapa hraga tiketnya?!?!
    trimakasih..

  8. Mr.Nova
    mr-nova /

    Capernya sangat informatif sekali mas… top deh..
    Walaupun ga ad image pendukung, tp saya serasa ikut di dalamnya…
    Ditunggu caper selanjutnya..

    Salam kenal ..

  9. bainul /

    Keren mas….salam kenal daus JKT

  10. jokerzbismania
    jokerzbismania /

    waah gaul

    kapan kapan main ke daerah asalku lagi yaaaa naik sj atawa dmi

  11. siapa bayu?
    bayu-sanjaya /

    weiz baek bener pak wahid, kapan-kapan coba naek si gajah putih ahhh

  12. Andika Gusmantoro
    andifay /

    pak wahid dah gamti batangan sepertinya.

    11zx rw mangun-wn sobo
    hino rk8 r260 adi putro new marcopolo

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;