Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

PO. Tri Sumber Urip

PO. Tri Sumber Urip

Di entitas railfans, fusi dua kata “Sapu” dan “Jagat” yang membentuk idiom “Sapu Jagat” tentu bukanlah barang baru yang terdengar asing di telinga. Kosakata yang diadopsi dari istilah “Doa Sapu Jagat” menjadi “Kereta Sapu Jagat”, seringkali menjadi salah satu bahan pembicaraan hangat di forum masyarakat transportasi tentang keberadaannya yang kontroversial. Meski penampakan wujudnya hanya saat momen ramai penumpang, — semisal arus mudik lebaran — sebutan yang merujuk pada kereta terakhir yang dibebani tugas mengangkut sisa-sisa penumpang yang tak tertampung kereta reguler, sempat diakui secara resmi oleh Pemerintah sebagai penamaan baku salah satu rangkaian kereta api. Meski kini kereta sapu jagat dihapus dan bermetamorfosis menjadi kereta komunitas, namun kepopuleran sapu jagat terlanjur melekat dan melebur di dalam dunia perkereta-apian tanah air.

Tak perlu ditanya soal kenyamanan di atas kereta sapu jagat. Kereta yang berstatus moda angkut tambahan ini diterjunkan ala kadarnya, minim fasilitas dan cenderung tidak manusiawi. Hingga kereta kargo sah-sah saja disulap menjadi jajaran gerbong tanpa isi, hanya los tanpa sekat dan tempat duduk. Penumpang  dipersilahkan duduk lesehan bila dengan terpaksa mau ikut. Karena kembali kepada fungsi awal Sang Sapu Jagat, “membersihkan” penumpang yang masih tertinggal di stasiun dikarenakan tidak mendapatkan tiket kereta terjadwal.

Meski dalam konteks berbeda, di kosmos perbisan  pun tertular “virus” sapu jagat ini untuk mewakili “the last bus standing”, menawarkan solusi bagi penumpang yang kemalaman tiba di terminal, melakukan trip tanpa perencanaan atau tak kebagian kursi yang diincar sebelumnya.  Mengambil contoh, di trayek Jakarta-Surabaya ada Setia Bhakti dan Agung Bhakti, PO Tri Mulia di jalur Solo-Jakarta atau Purwokerto-Jakarta yang diisi Anggrek Cempaka.

Sekali lagi, jangan menuntut soal pelayanan berkelas dan armada yang up to date. Karena yang dijual bus ini adalah waktu take off paling akhir dengan harga yang bersahabat,  mengais rejeki dari ketidakberuntungan calon pengguna bus.

Dan dalam persepsiku, tak jauh berbeda dengan PO berkebangsaan Lasem, Tri Sumber Urip (TSU). Bus ketiga yang berangkat setiap harinya dari timur ini layak kalau aku angkat sebagai sapu jagatnya jalur Rembang-Kudus-Jakarta.

Mengapa tidak?

Dengan pemberangkatan paling malam dibanding bus-bus lain, yakni jam 5 sore dari Terminal Kota Rembang, 1-2 jam dibelakang Pahala Kencana, Nusantara, Haryanto, Karina maupun  TSU I dan II, melayani segala jurusan mulai Pulogadung, Lebakbulus, Cibinong hingga Gunung Putri serta fare tiket yang sedikit rendah dari pesaingnya, adalah sederet requirement yang mampu dilengkapinya untuk mendapatkan gelar sapu jagat.

Aku juga paham diri untuk tidak berharap banyak dari “tukang sapu” ini. Aku sungguh rela hati berkompromi soal armada yang tua, tingkat kenyamanan yang pas-pasan, service on board yang biasa-biasa saja, skill driver yang kurang smooth dan anti ngeblong, asal satu harga mati yang kudu dipenuhinya. Yup, absensi kerja kantor Senin pagi jam 08.00 meski mepet di injury time, harus bisa dikejarnya.

Dalih shahihku mengapa aku berani menyandarkan badan pada sapu jagat ini karena ada nilai berharga yang bisa kuunggah, yakni berupa bonus tambahan waktu di rumah. Bayangkan, biasanya jam 3 sore sudah sibuk berkemas mengejar schedule Nusantara, kini selepas waktu ashar masih cukup leluasa buat berleha-leha di rumah. Bisa ikut momong yang kecil, mengantar jemput si sulung sekolah di madrasah diniyah, ngurusi sawah atau bbs (bobo-bobo siang) barang sebentar.

Sebagai bukti pertaruhanku, hampir dua bulan terakhir ini saat bertandang kembali ke ibukota, penguasa jagat ini kupilih sebagai tungganganku. Dan puji syukur, meski pesona armada Muria Raya jarang aku rasakan bersama TSU ini, namun rekor cleansheet tak pernah terlambat sampai kantor bagiku prestasi yang fenomenal.

Tak terkecuali Minggu sore, 11 April silam. TSU kembali kucontreng sebagai “bouraq” yang membawaku balik ke ladangku. Tak terbesit bayangan untuk melirik bus lain.

Pukul 16.24, saat aku berangkat dari pondok kedamaian yang terletak jauh di pelosok kabupaten, diantar ibunya anak-anak berboncengan naik roda dua.

Ketika di tengah jalan, tiba-tiba ada SMS masuk. Sambil tetap di atas motor, kuminta istri untuk membacanya, khawatir agen memberi info kalau busnya sudah menunggu. Ternyata dari sohibku, Mas Hary Intalan Intercooler yang mengabarkan habis kres dengan NS 19 serta NS 39 di Kaliori. Loh, kemana arek ini? Sedang menunaikan ritual wajib bismania-kah?

Ternyata oh ternyata… Petinggi PO Cendana beserta couple-nya ini sedang turing tanpa restu orang tua, naik RK8 berbaju Prestige yang dipunya PO Indonesia.  (Hayo, tak bilangin Papi nanti)

Dan kuminta istriku untuk menjawab pesannya karena aku sedang pegang setang kemudi. (Maaf ya Mas Hary, kalau bahasa SMS bukan aku banget, soalnya istriku yang menulisnya. Hehehe)

Jam 16.50, tiba di Terminal Rembang. Suasananya sudah lengang, tinggal empat orang yang senasib sepenanggungan denganku, menunggu kedatangan armada TSU.

Sekali lagi datang SMS dari lelaki berpostur atletis ini, sesaat setelah bus patas Semarang-Surabaya yang disewanya melewati kota kecamatan Lasem.

“Karangturi tainment : Calon mantu Bah Do abal-abal mengabarkan ada TSU biru panorama 3, gubuk reyot part 2. Hahaaiii”

Aku hanya tersenyum kecil selepas membacanya.

“Mau dapat armada “sebusuk” apapun, aku sudah siapkan mental Mas,” gumamku.

Sesuai adat, armada sapu jagat TSU ini tak pernah seragam, lebih bersifat untung-untungan. Kalau nasib baik, bisa berjodoh dengan Mercy XBC-1518 New Travego Morodadi Prima,setengah beruntung naik OH King Setra Morodadi Prima,kalau apes ya dihadiahi  Sprinter ala Tri Sakti, yang sering dicap gubuk reyot dengan pagupon doro nangkring di atasnya.

Lantunan ayat-ayat Al Qur’an dari corong Masjid Besar Alun-Alun Rembang lantang berkumandang, penanda Maghrib akan segera tiba. Tapi, TSU tak kunjung juga terlihat sosoknya. Sinar terang mentari telah menyurut, berganti rona lembayung senja yang mulai menggantung di ufuk barat tanah kelahiranku.

Satu penumpang yang sedang duduk di emplasemen terminal mulai resah dan gelisah.

“Sudah setengah enam, kok belum datang ya Mas,” tanyanya padaku.

“Ah, biasa telat kok Mas. Pernah jam enam seperempat baru datang” kilahku.

Aku sih tidak kaget, namanya juga sapu jagat. Semua serba asal-asalan. Jadi wajib hukumnya berdamai dengan segala keterbatasannya.

Justru yang terlihat melintas Pahala Kencana dengan bodi racikan Centralindo. Tumben, cepat benar sebelum matahari tenggelam sudah menjejak jalanan kota Rembang.

Di susul kemudian Galaxy Tentrem memajang jurusan  Madura-Jakarta. Nah, ternyata benar soal gosip kalau armada-armada kelas premium Ombak Biru mulai digeser ke jalur Madura, setelah Marcopolo Adi Putro mulai berdatangan memperkuat skuad divisi Jakarta .

Tepat di belakangnya, akhirnya datang juga.

Oh me…, yang datang ternyata kembaran Marcopolo Tri Sakti berlivery dunia bawah laut yang pernah aku naiki sebelumnya.

Meski beda dalam hal body painting, yang ini mengusung corak grafis minimalis dengan theme “Pinky”, tapi soal “kesederhanaan” armada, setali tiga uang. Sami mawon. Bahkan, plat nomornya yang dipakai “The Blue” dulu sekarang berpindah kepemilikan ke bus ini. Akal-akalan yang jamak lumrah dilakukan para pengusaha otobus.

Tak apalah, toh aku sudah men-declare, “I’m busmania not PO mania”. Aku harus belajar menyayangi bus yang tampil apa adanya ini.

Kondisi interior sungguh memprihatinkan. Kulit jok dan langit-langit tampak kusam dimakan usia edar bus ini. TV tabung dan CD Player hanya jadi pajangan semata. Jok bermerek “Perfect” yang aku duduki piranti reclining sudah rusak, tanpa dilengkapi selimut, apalagi bantal. Kaca samping mengusung dual mode, kaca mati dan kaca buka tutup, yang notabene ciri khas bus bumel. Meski tubuh luar masih terlihat mulus, tapi di beberapa titik cat terlihat mengelupas. Bahkan, di sisi kanan, tulisan “Urip” telah hilang, menyisakan sepenggal nama “Tri Sumber”. Benar-benar tak terawat sebagaimana mestinya.

Meninggalkan terminal Rembang, dengan 70% kapasitas kursi reserved, bus langsung disambut hujan lebat. Entahlah, apakah Sang Pencipta sedang memberkahi bumi kawista yang beberapa hari ini dihujami panas terik ataukah  alam sengaja memandikan bus bernomor K 1585 AD agar terlihat segar, wetlook dan kinclong? Petir yang menggelegar bersahutan seakan memberi cambuk bus ini agar segera berlari, sekaligus membentakku karena melupakan teman lama (Nusantara) setelah kenal sahabat baru.

Ya Allah, tak mengapa Engkau pertemukan hamba dengan bus macam begini, tapi hamba mohon, lancarkan perjalananku malam ini. Amin…

Baru saja selesai berdoa, tiba-tiba penumpang di seat 23 dan 24 meloncat.

“Oalah Pir, gendenge bocor”, teriak salah satunya dari belakang. (Oalah Pir, gentengnya bocor)

Hahaha…cucuran air dari atap deras membasahi jok berwarna merah maroon kucel itu.

“Ember bocor ngene kok isih dilakokno tho Pir. Koyok ra nduwe bis liyo”, imbuhnya.

(Ember bocor begini kok masih dijalankan. Seperti tak punya bis yang lain)

Demikian kekritisan, kevokalan dan kevulgaran penumpang Muria Raya dalam menyampaikan uneg-uneg, keluhan dan aspirasinya.

Tiba di Batangan, bus mampir di agen. Tapi herannya, setelah penumpang naik, bus tak jua berangkat. Malah terdengar tools beradu dengan komponen bus…kluthak kluthik…entah kru sedang memperbaiki apa, karena rinai gerimis masih membumi serta suasana agak gelap sehingga tak tampak jelas apa yang dikerjakan.

Bus berjalan kembali. Tapi sungguh di luar dugaan, bus malah menyiput. Tak ada greget cara pembawaan pramudinya. Yang aku tak habis pikir, lampu besarnya begitu redup, tak kuasa menerangi jalan. Bahkan, acapkali separo roda bus terbuang ke bahu jalan karena tak bisa melihat jalan.  Ada apakah ini?

Jam menunjuk angka 18.29 ketika melenggang masuk Terminal Juana. Sekitar 8-10 penumpang naik memenuhi kursi yang masih kosong. Aku akui, kota bandeng adalah tambang emas PO berlogo bola dunia ini. Selain banyak loyalis dari daerah ini, banyaknya pengusaha kuningan memanfaatkan TSU sebagai bus paket untuk mengusung produk mereka ke Jakarta .

Telah 15 menit berhenti, bus tetap tak beranjak dari tempatnya. Malahan, sopir mengajak kenek makan malam di belakang terminal. Ya ampun, mana pendekatan ke konsumen agar TSU makin dipercaya kalau seenaknya begini dalam melayani penumpang?

Menyinggahi terminal Pati, laksana masuk area kuburan. Sepi, hening dan remang-remang karena tak ada lagi aktivitas. Yang menginap di dalam terdapat dua armada Sumber Larees dan beberapa bus medium Purwodadi-Pati.

Di jalur Pati-Kudus, seolah Mercy Intercooler ini semakin tak berdaya. Bahkan suara gemlodagan makin menjadi-jadi karena jalur sepanjang 25 km ini penuh lobang dan konturnya bergelombang. Tak ada aksi pecicilan, yang ada malah jadi bahan blong-blongan truk-truk bermuatan sedang. Aku semakin bingung, sebenarnya bus ini sakit apa? Kapan kau tunjukkan merahmu, TSU? Kalau very very slow begini, jam berapa sampai Pulogadung?

Tiba di Terminal Jati Kudus, tak terlihat satupun armada Muria Raya. Yang sudah-sudah, saat singgah di kota Mas Fathur Raras ini, setidaknya masih menemui kabilah bumi Kartini, PO Muji Jaya dan satu armada PO Haryanto.

Yang semakin aku tak mengerti, di saat TSU perlu memangkas waktu, yang ini malah masih sibuk mencari penumpang. Padahal semua kursi telah terjual. Tebakanku, yang dicari adalah sarkawi-an.

Memang profit bagi kru, 3-4 penumpang ilegal didapat. Meski harus berdesak-desakkan di space depan toilet, karena sudah tidak ada bus alternatif yang lain lagi.

Penumpang mulai menggerutu. Apalagi ada dua penumpang baru sebagai tambahan memaksa turut.

“Iki tok anggep gabah opo piye Pir…ditumpuk-tumpuk ngene”, olok-olok dari salah satu penumpang. (Ini apa dianggap gabah…kok ditumpuk-tumpuk begini).

Akhirnya, jam 20.48 keluar dari terminal baru tersebut dan bertemu pantat LE-411, bus Lorena pertama dari Surabaya . Secercah rasa pesimis mulai merambat dalam pikiranku. Besok aku terlambat ngantor. Hiks…

Lagi dan lagi, sopir masih berusaha memungut Si Sarkawi di depan Ponpes seberang SPBU Nusantara.

Duh…duh…duh…pan sudah full seat, mestinya sekarang kan waktunya berlari, apalagi yang mau dicari?

Bis kembali melaju, tapi tak ada kemajuan, tetap saja pelan. Kalau aku kira-kira tak sampai 80 km/ jam. Satu persatu laskar Sakera mendahului. Karina, Kramat Djati, Haryanto dan Pahala Kencana.

Untunglah, ada poin baiknya dari bus kelas VIP ini. Selain bunyi klaksonnya yang unik mirip bus Cirebon -an, adalah hembusan pendingin udara yang begitu dingin menusuk tulang. Hati penumpang yang sedang panas bisa diredam kesejukan AC Thermo King kandang merpati ini.

Ya sudah, pasrah. Obat kecewa ya tidur…

(bersambung)

Didik Edhi – JKT012

Rembang-Jakarta, never ending journey…


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Ditulis oleh

'BisMania Community Yogyakarta Berhati NyamNyam'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;