
PO. Pahala Kencana (FB. Pahala Kencana Sedjati)
Waktunya balik ke JKT. Biasanya saya estafet bi2s Kudusan dengan pertimbangan lebih cepat (masuk PG jam 4 subuh), lebih murah (150rb) , dan bisa 2x dapat makan (dari Jayut Grup dapat makan, dari bis Kudusan juga dapat makan). Tapi konsekuensinya saya harus berangkat dari Malang paling tidak jam 9.
Padahal hariitu ada adik saya yg datang dari Makassar dan sudah 4 tahun gak ketemu. Akhirnya saya sedikit berkorban waktu senin pasti telat ngantor) dan biaya extra untuk naik bis dari Malang, agar bisa berangkat jam 2-an siang.
Sehari sebelumnya saya beli tiket ke agen Lawang, dan kagetnya kok hanya 220rb.
Padahal kalo long weekend beli di agen terminal Arjosari harganya berkisar 220
(Lorena), 230 (Malino & KD) & 240rb (PK). Cuma ketika saya bilang mau naik PK,
agen di Lawang mencoba merayu saya untuk naik Malino dengan alasan armadanya
baru2. Terjadi perdebatan kecil karena saya bilang bahwa Malino hanya bajunya
saja yg baru. Lalu agen juga sempat merayu saya untuk naik Lorena.
Kesimpulan saya :
1. Harga tiket di agen luar terminal lebih murah dibanding di terminal (sama
halnya dg tiket pesawat, kalo kita beli di bandara pasti lebih mahal dibanding
di travel)
2. Mungkin besarnya komisi tiap PO beda, kok sampai agen berusaha merayu
penumpang untuk naik PO tertentu.
Memang pada turing kali ini saya penasaran untuk mencoba PK atau Lorena. Saya
penasaran pada perubahan kebijaksanaan pembatasan solar yg selama ini banyak
diceritakan baik oleh para mania kedua PO tsb maupun para bismania netral.
Akhirnya saya putuskan untuk mencoba PK, karena kabar ttg perubahan
kebijaksanaan BBMnya sudah menghiasi media berita nasional sampai mengakibatkan
sejumlah driver di PHK.
Minggu jam 2 siang sesuai dg waktu yg ditentukan, saya sudah siap di agen
Niagara – Lawang. Datang 1 PK Proteus OH-1525, waktu saya tanya … ternyata itu
bukan bis saya. Lalu datang PK 1525 Marcopolo Adiputro yg terbaru … saya
berdoa semoga itu adalah bis saya. Sayang sekali, ternyata itu PK jurusan
Bandung. Kemudian datang PK RG Adiputro, saya berdoa semoga itu bukan bis saya
… Alhamdulillah benar, bis saya masih di belakang katanya.
Maaf, bukannya saya chassis mania. Terbukti saya sudah beberapa kali naik KD dan
Haryanto RK8. Cuma dalam turing penasaran kali ini saya benar2 ingin membuktikan
apakah PK sudah ngeblong kembali dan saya ingin merasakan ngeblong bersama PK yg mesinnya hanya 6374cc, bukan yg mesinnya 7900an cc. Secara pribadi, menang
ngeblong dengan mesin yg lebih kecil jauh lebih membanggakan dibanding menang
ngeblong karena memang mesinnya besar
Akhirnya sekitar jam 14:45 datanglah bis saya, PK Proteus 1525 dg kode body
HT-915. Bisa dibilang ini bis terakhir ke JKT, karena sebelumnya telah lewat 2
PK, 2 Malino, 3 KD, 2 Lorena dan 1 Karina. Entah OBL hari itu jalan atau tidak,
sepertinya OBL kurang serius menggarap trayek jkt malang.
Gak usah menunggu terlalu lama untuk membuktikan PK ngeblong … baru jalan
lepas Lawang PK sudah ngeblong. Cuma saya belum lega karena memang jalan dari
Lawang sampai Pandaan memang menurun. Saya baru yakin memang PK ngeblong ketika masuk tol. Di Lamongan saya menyalip 2 pasukan KD, menjelang Tuban saya menyalip Malino MPK 01 yg berangkat belakangan. Di daerah Pekalongan saya menyalip Malino MPK 03 Galaxy EXL. Di Tol Pejagan yg relatif sepi, kecepatan PK HT-915 mencapai 112 km/h. Ini masih lebih cepat dibanding waktu berangkatnya saya naik Haryanto Madura OH-1521 di tol yang sama yg hanya mencapai 102 km/h.
PK istirahat service makan di Tamansari – Tuban. Nilai minus dari saya untuk RM
ini adalah :
1. Musholla yg sempit sehingga harus mengantri cukup lama.
2. Tidak tersedia tissue di meja makan & tempat cuci tangan diruang makan,
sehingga saya terpaksa mencuci tangan dengan setengah gelas air teh tawar sisa
minuman saya.
LORENA IS BACK ???
Terus terang saya ingin mencoba. Tapi dengan melihat fakta yg saya alami sendiri
dan cerita rekan2 non ijo mania, keinginan ini terpaksa saya tunda dulu. Kenapa
non ijomania yg saya percaya ? Seperti yg pernah saya sampaikan, saya tidak
pernah percaya cerita ttg ngeblongnya suatu bis atau bagusnya pelayanan sebuah
PO dari para manianya, karena mereka seringkali kehilangan obyektivitas dalam
menilai PO kesayangannya. Sampai Lamongan saya melihat 1 Lorena Malang – JKT
perpal, dan 1 lagi menunggui.
Di daerah Tegal – Pekalongan, saya melihat 1 lagi Lorena perpal dan 2 bis lagi
menunggu. Di daerah subang saya melihat lagi 1 Lorena perpal, dan 1 bis menuggu.
Jadi sepanjang jalan dari Malang ke JKT, saya melihat 3 lorena Perpal. Dan
nyaris selama dijalan tidak ada fight yg seru dengan Lorena, karena hampir
semuanya dilalui dengan mudah. Ada apa dengan Lorena ? Padahal bis2 kudusan juga
banyak yg menggunakan OH-1521 bahkan OH-1518, larinya lebih ngebut dan sering
dipakai puter kepala (seperti Bejeu) tetapi jarang mogok ? Bagaimanapun juga
saya tetap berharap bahwa someday nanti Lorena benar2 is back, agar kompetisi
(terutama dalam hal service) menjadi lebih baik.
Memang tidak hanya Lorena yg saya lihat perpal. Malam itu juga ada 1 Harapan
Jaya perpal sambil ditungguin 4 HJ yg lain. Di tol Cikampek ada 1 Setia Bakti
SBY-JKT perpal & 1 bis Setia Bakti lainnya menepi untuk menghampiri. Satu hal yg
menjadi pertanyaan saya, sebenarnya SOP dari PO2 seperti apa ya jika ada
temannya yg perpal? Apakah memang harus menunggu, tetapi dengan mengorbankan
pelayanan pada penumpang yg lain? Atau adakah PO yg justru tidak memperbolehkan
armada yg lain menunggu temannya yg sedang perpal ?
KEKONYOLAN DI CIASEM
Jalanan macet parah, rupanya karena banyaknya arus balik ke JKT setelah long
weekend 3 hari. Bis saya masuk jalur kanan (jalur berlawanan) mengikuti beberapa
bis yg didepan. Setelah ngeblong kanan sekitar 1 km, tiba2 rombongan berhenti
pas disebuah jembatan. Terjadi kekacauan, karena ternyata didepan jalan untuk
masuk kembali ke jalur kiri diblokir oleh 3 orang PJR dengan motor patrolinya.
Seluruh rombongan yg ngeblong kanan diminta untuk balik lagi. Padahal dari jalur
JKT yg menuju ketimur kendaraan juga cukup banyak. Akhirnya dengan terpaksa
seluruh kendaraan memutar balik. Dapat dibayangkan betapa sulitnya memutar bis
pada jalan yg hanya 2 lajur dan ditengahnya terdapat marka beton. Cukup lama
memakan waktu untuk bisa menyelesaikan “kemelut” ini, kira2 sekitar 30 minit.
Ternyata peristiwa konyol tsb melibatkan beberapa bis. Ada 2 Sumber Alam, 1 OBL,
1 Bogor Indah, 1 Haryanto, 1 Bogor Jaya, 1 Harapan Jaya, dan 3 PK.
Tapi kenyonyolan ini justru menjadi bahan tertawaan penumpang. Apalagi waktu
driver bis saya ngabarin ke temannya yg belum berhasil mutar “Mbalik .. mbalik,
nang ngarep dicegat PJR. Wis aku balik nang Malang maneh ae”.
Setelah bis saya berhasil “kembali ke jalan yg benar” baru ketahuan ternyata yg
menjadi pembuka jalan peristiwa konyol tadi adalah …. Haryanto. Hehehe …
Posisi Haryanto, 1 Sumber Alam & Harapan Jaya masih diatas jembatan karena tidak
mungkin memutar diatasnya.
Tercatat kemacetan di Ciasem lumayan panjang, bahkan berlanjut ke Subang,
semakin parah menjelang Jomin sampai pintu tol Kopo. Alhasil saya sempat melihat
sisa2 pasukan Nusantara yg kececer juga ada sekitar 4 Sumber Alam, dan 1
Haryanto tadi yg masih kejebak diatas jembatan, yg seharusnya bis2 tsb sudah
sampai JKT paling lambat jam 6 pagi.
Kemacetan semakin parah menjelang pintu tol Jatibening dan pintu tol dalam kota.
Akhirnya PK saya masuk Rawamangun jam 10-an siang bersamaan dg 1 PK yg lain dan
1 KD. Setelah saya mandi di RM saya melihat 1 Lorena masuk. Secara umum saya
puas naik PK. Tapi jam kedatangan di jkt seperti inilah yg membuat saya mantap
menarik kesimpulan, bahwa jalan terbaik dari Malang ke JKT adalah estafet bis2
Kudusan.
Wahyudi Irianto




Komentar