Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Setelah beberapa kali melakukan perjalanan naik bis, akhirnya baru kali ini saya beranikan diri untuk membuat catatan selama perjalanannya. Karena ini adalah caper perdana saya, mohon dimaklumi kalau masih terlalu panjang dan belum bisa seindah & semenarik caper-caper Mas Didik Edhi, Mas Ponirin, Kyai Faizi, dan senior BMC lainnya. Mohon dukungan dan supportnya buat saya yang masih newbie ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih khusus untuk Mas Andreas yang telah memberikan Private Service-nya yang sangat luar biasa, dan Mas Salman Selalu Sejahtera yang seperti kamus berjalan untuk dunia perbisan :-)

Berikut ini capernya:
Tanggal 7 Januari 2013 saatnya harus kembali ke Ibukota setelah seminggu yang menenangkan di kota apel. Setelah dilepas dengan rengekan sang junior yang seolah tidak ingin ditinggal Bapaknya, saya diantarkan ke Gadang untuk kemudian naik angkot AMG menuju terminal Arjosari. Sempat timbul pertanyaan di orang-orang rumah, kok tumben gak diantar sekalian ke terminal, “Mau latihan ngangkot.” ujarku berusaha menjawab keheranan tersebut. (Mas Salman Selalu Sejahtera, saya sudah berusaha memenuhi ajakanmu Mas untuk naik angkutan umum hehehe…)
Setelah kurang lebih 1 jam dalam angkot AMG yang sama sekali tidak ngeblong itu (karena harusnya 30-45 menit sudah sampai), akhirnya sampailah saya di Terminal Arjosari. Saat itu masih jam 12.45, sementara jadwal keberangkatan bus yang tertera di tiket Kramat Djati yang ada di tangan saya adalah 13.30. Untuk perjalanan hari itu saya sengaja pilih naik Kramat Djati, sebagai “pemanasan” naik bis untuk ke Jakarta.
Karena merupakan pengalaman pertama (biasanya naik kereta), saya pilih yang menurut review paling nyaman. Sebagai seorang bismania (walaupuan masih newbie hehehe..) rasanya juga tidak afdhol kalau turing tapi tidak duduk di hot seat. Dan untuk hal yang satu ini juga sudah jauh-jauh hari diamankan (makasih ya Mas Andre saya bisa dapat seat no. 3). Dan hari itu saya akan naik bus KD I dengan tujuan Cililitan.
Selesai sholat di musholla tepat belakang agen KD, saya langsung masuk ke Terminal Arjosari yang ternyata sedang direnovasi sehingga suasana parkir bus dan tempat tunggu penumpang jadi lumayan kacau. Apalagi ruang tunggu bus AKAP (di plangnya disebutnya ruang tunggu bus malam) yang terletak di sebelah barat terminal, menurut saya sangat tidak layak.
Untuk jalur pemberangkatan bis AKAP tidak beraspal, alias masih beralaskan tanah. Jadi kalau habis hujan bisa dibayangkan “kekacauannya”. Semoga saja renovasinya bisa segera sehingga agar penumpang kembali merasakan kenyamanan berangkutan umum.
Suasana ruang tunggu bis AKAP
Saat itu waktu menunjukkan tepat jam 13.00 saat saya tiba di tempat tunggu bus AKAP yang ternyata langsung disambut bis Kramat Djati New Travego Lampu Smile yang sepertinya baru masuk Arjosari. Dan itu adalah KD pertama yang datang. “Jam segini baru nyampe Malang, berarti semalam muuuaaacet banget dong.
Bisa-bisa saya nyampe Jakarta besok sore nih”, gumam saya dalam hati. Tapi melihat sudah ada KD yang datang, saya langsung lega karena berarti bisa berangkat tepat waktu jam 13.30. “Kan lumayan masih ada 30 menit untuk bersih-bersih”, gumamku dalam hati hasil berkaca dari kebiasaan bis-bis Muriaan angkatan Pulogadung pagi yang sering kunaiki. Datang, bersih-bersih sekedarnya, langsung jalan lagi deh.
KD bernopol B-7528-PV ini pun langsung menempatkan diri di barisan bis yang baru datang dan siap untuk dicuci dan dibersihkan yang akan langsung puter kepala, tepatnya di sisi selatan jalur keberangkatan. Sebelumnya di barisan tersebut sudah ada bis Malino Putra berbaju Scorpion King, Nusantara, dan bis parwis Sarwonadhi. Sistem pencuciannya yang model antri, plus bukan model “cuci ala kadarnya”, membuat perkiraan saya salah terhadap waktu tunggu persiapan puter kepala.
Begini kira-kira suasana tempat antrian cuci bus yang mau puter kepala
Sementara itu, di sisi utara jalur keberangkatan, telah berjajar rapi bis-bis yang siap diberangkatkan. Tercatat yang sudah siap take-off adalah Gunung Harta yang siang itu menerjunkan armada andalannya Mercy OH-1626, Pahala Kencana Nano-nano juga dengan OH-1626 (Muantep juga nih PK sudah punya 1626, semoga saja bukan stikernya doang hehehe..), dan OBL dengan armada andalan yang kondang ngejossnya yaitu si Gajah Kebayoran, B-7168-IZ.
GH dan PK sepertinya pakai armada dari pool Malang, karena infonya semalam adalah puncak arus liburan sehingga hampir semua bis telat sampai Malang. Kalau si Gajah Kebayoran saya tidak tahu apa saat itu puter kepala atau memang lagi perpal di Malang. Kalau KD karena tidak punya armada perpal di Malang, otomatis harus nunggu bis dari Jakarta, kalau masuknya telat ya resikonya berangkatnya jadi molor juga, seperti yang saya alami saat itu :-)
Bis-bis yang sudah siap untuk diberangkatkan
Kemudian satu per satu bis Jakarta mulai jalan. Diawali oleh GH di jam 13.15, disusul OBL 13.30, menyusul kemudian PK. Selanjutnya datang Lorena OH1526 dan PK kedua dalam kondisi yang sudah bersih (bukan bis dari Jakarta nih sepertinya), menaikkan penumpang dan take-off berturut-turut di jam 14.00. Di sisi lain, ternyata Malino Scorking sudah selesai dicuci dan sedang menaikkan penumpang. Sementara bis KD kedua dari Jakarta baru sampai dan langsung mengantri untuk dibersihkan.
Saat saya coba mendekat ke bis MP yang sedang mau take-off untuk foto-foto, saya sedikit kaget dan kagum karena ternyata sopirnya pakaiannya rapi sekali, pakai dasi dan jas. Baru tahu nih ada bis AKAP pakaian sopirnya seperti ini. Maklum masih “bismania wannabe” hehehe… Jadi penasaran nih pengin merasakan pelayanan bis yang satu ini. Selanjutnya MP Scorking ini pun melenggang.
Waktu sudah lewat dari pukul 3 sore, bis KD pertama B-7528-PV akhirnya selesai dibersihkan, paket-paket kiriman barang juga selesai dimasukkan, bis siap untuk dinaiki calon penumpangnya. Dengan pede saya langsung mau masuk ke bis tersebut, tapi saya coba iseng bertanya dulu ke Ibu yang sepertinya bagian mengurusi data penumpang, “Ini bis satu ya Bu?”, “Bukan Mas, ini bis dua, bis satu itu masih dibersihkan”, sahut Ibu tersebut sambil menunjuk armada KD bernopol B-7002-IS, yang dibalut baju Setra selempang AP dengan lampu depan bentuk smile.
Sebagai orang yang masih awam saya awalnya agak bingung, kok bis yang pertama kali mau jalan bukan bis satu tapi malah bis dua. Saya kemudian berfikir mungkin itu hanya pengidentifikasian untuk membedakan trayeknya saja, bukan menunjukkan urutan jalannya bis. Yo wis lah, sepertinya saya masih harus bersabar. Mungkin ini resikonya kalau naik KD dari Malang di waktu-waktu ramai seperti sekarang ini hehehe…
Tiga puluh menit ditunggu, Bis KD I belum juga siap. Bahkan sampai akhirnya keduluan bis Malino Putra ke-2 yang berbaju Jupiter Tentrem dan Karina SE KS-421 yang berbaju New Travego Marcopolo AP yang sebenarnya datang dan dicuci lebih belakangan. Bahkan sampai akhirnya di jalur pemberangkatan AKAP sebelah utara sudah habis bis jurusan Jakarta dan mulai disesaki oleh bis-bis jurusan Malang-Denpasar seperti PK, Zena, Malang Indah, Medali Mas, Restu Mulya, dan Santoso.
Akhirnya…jam 16.05 bis siap di jalur keberangkatan. Butuh waktu 15 menit untuk loading penumpang, sejurus kemudian bis meluncur meninggalkan Arjosari. Jadi hampir 3 jam molor dari jadwal, pyuuhhh… Bis yang berkapasitas 30 tempat duduk dengan formasi 8 baris kanan – 7 baris kiri ini membawa sekitar 20-22 orang (saya agak lupa) dari Arjosari, dan sisanya akan naik dari agen di Lawang, Pandaan, dan Tuban. Demikian informasi yang saya dengar ketika Ibu pengurus KD Malang berkomunikasi dengan sang Sopir. Jadi hari itu KD yang saya naiki resmi Full Seat. Sepertinya musim ramai belum selesai nih.
Inilah bus Kramat Djati BMC-156 yang saya naiki
Keluar Arjosari bis berkode BMC-156 ini dibawa dengan kecepatan standar cenderung lambat. Dan karena berangkatnya sudah terlalu sore, di sepanjang jalan Malang – Surabaya praktis jarang sekali ditemui bis malam tujuan ke Barat. Ketemu sekali pas diblong duo Cirebonan, Ezri dan Colby Persada, pas sedang menaikkan penumpang di agen Lawang.
Masuk arteri porong jam 17.55 yang dilanjutkan masuk tol dengan kondisi ramai lancar, sehingga bis hanya bisa dipacu maksimal 80 km/jam. Kurang lebih 1 jam di jalanan bebas hambatan, akhirnya keluar juga di pintu tol Gresik. Setelah sekitar 1 jam hanya bertemu truk-truk besar dan mobil pribadi, di sekitar Lamongan bisa ketemu bis lagi yaitu B-7776-IZ berbaju Evonext New Armada, sempat berkonvoi bersama diantara truk-truk selama 20 menit, akhirnya si Ijo tersebut berhasil diblong.
Malam semakin larut, ternyata pak sopir pertama yang belakangan saya ketahui bernama Pak Ama, semakin bersemangat untuk memacu bis yang berdapur pacu Hino RK8 tersebut, terbukti walaupun sempat tertinggal jauh karena beberapa kali berhenti di agen plus isi solar di Lawang, sebelum masuk Tuban bis Colby Persada kembali berhasil dilangkahi. Setelah itu bis terus berlari secara konstan tanpa lawan yang seimbang, karena cuma bertemu truk-truk saja. Tepat jam 22.15 akhirnya bis masuk RM Mitra di daerah Kragan yang sudah masuk Kab. Rembang.
Setelah 40 menit istirahat, perjalanan dilanjutkan lagi. Kali ini kendali diambil alih Pak Gatot, yang sepertinya sopir batangan BMC-156 ini. Sekedar mengingatkan, Pak Gatot adalah sopir yang sempat dikabarkan di milis BisMania ini telah meninggal dunia di kandang macan 156 ini, sebelum akhirnya direvisi bahwa yang meninggal adalah Pak Muanam :-) . Dari style-nya saya menebak bahwa sepertinya mantap nih bawanya, dan memang terbukti benar dugaan saya, larinya rata-rata di 100+ km/jam. Saat itu sudah mendekati tengah malam sehingga mata terkadang tidak bisa diajak kompromi, jadi saya tidak bisa terus-menerus menikmati kelihaian Pak Gatot, kadang tertidur…kadang terbangun.
Masuk alun-alun kota Rembang jam 23.40. Saya sengaja bela-belain mau catat check-point di kota ini karena terinspirasi caper Mas Didik Edhi yang sepertinya mempunyai standar limit 12 Jam waktu tempuh JKT-Rembang untuk menilai kecepatan suatu bus. Saya jadi penasaran juga untuk mengetahui apakah BMC-156 ini bisa menembus limit tersebut.
Setelah itu, saya kembali mata saya lebih banyak terpejamnya, bangun-bangun sudah mau keluar tol Manyaran, saya lihat jam di tangan saya saat itu pukul 1.50. Kok lihatnya jam di tangan, memangnya di bis gak ada jam digital? Ada sih tapi gak akurat, kelemahan mayoritas kru bus sepertinya sering kurang memperhatikan hal ini, sepele tapi sangat mengganggu hehehe…
Keluar pintu tol Manyaran langsung hilang rasa kantuk, betapa tidak, saya langsung disuguhi “bioskop pantura” yang selama ini sering dibicarakan para BisMania. Iring-iringan maupun susul menyusul bis-bis dari Jakarta begitu menarik untuk dilihat. Nusantara, Shantika, Pahala Kencana, PO Haryanto, Rosalia Indah, Muji Jaya silih berganti memamerkan pesonanya. Sayang saat itu saya hanya bisa jadi “penonton” saja. Semoga saja lain kali bisa terlibat langsung di “bioskop pantura”.
Tapi entah kenapa, sepanjang perjalanan tersebut, saya malah tidak ketemu satu pun salah satu bus favorit saya, si bus hitam Bejeu, apa sudah lewat atau sayanya saja yang kurang awas. Entahlah, yang jelas saya kok merasa malam itu bioskopnya seperti sayuran kurang garam, gak ada loe gak rame hehehe….
Kembali ke BMC-156, sekitar jam 2.40 sampailah di tanjakan Plelen, Gringsing. Semangat Pak Gatot masih membara. Di tanjakan tersebut, Damri 3428 dan PK Putih New Marco dengan mudah dilewati, semakin menegaskan kehandalan RK8 di tanjakan. Jam 3.10 di daerah Batang, berturut-turut OBL MAN, KD B-7480-IS, OBL Silver bertuliskan Euro 3 dengan mudah ditaklukan. Sampai akhirnya pada jam 3.40 petualangan Pak Gatot harus segera diakhiri sementara karena bus harus mengisi solar di sebuah pom bensin di daerah Pekalongan. Dan untuk selanjutnya kemudi diambil alih kembali oleh Pak Ama.
Jilid ke-2 petualangan Pak Ama ternyata lumayan berhasil meneruskan laju mantap dari Pak Gatot. Selepas kembali ke sirkuit pantura, tercatat Sinjay dan PK 7189BW berhasil diovertake dengan enteng. Selepas itu tak banyak yang bisa terekam di memori karena mata saya kembali meminta jatah istirahat.
Sempat terbangun ketika bus memilih untuk lewat dalam kota Pemalang untuk menghindari kemacetan di jalan lingkar luar Pemalang yang sedang ada perbaikan jembatan dekat terminal. Kembali terbangun ketika hampir memasuki kota Tegal. Tepat jam 4.30 bis menginjakkan rodanya di kota Tegal. Saya langsung catat sebagai check-point ke-2. Pas saya coba iseng menghitung waktu tempuh Rembang – Tegal, wooowww… kurang dari 5 jam!!!
Tegal saya catat sebagai check-point kedua karena saya juga gak mau kalau dengan Mas Didik, saya juga memiliki standar limit waktu tempuh untuk Tegal-JKT, yaitu 6:XX Jam (meminjam istilah di olahraga golf, maka saya sering menyebutnya sebagai angka “Par”) hehehe… Jika bisa di bawah Par, saya kategorikan bisnya banter. Jika waktu tempuhnya Par di 6:00-6:59 jam, saya kategorikan standar-standar saja, jika diatas Par, saya kategorikan bisnya lambat. Dan sampai saat ini, “sependek” yang sudah pernah saya coba, baik naik bus PPT maupun Muriaan, belum ada yang bisa sampai di bawah Par, yang di atas Par banyak hehehe…
Di daerah Tegal sampai Brebes, bus berjalan biasa saja karena saat itu jalanan sudah mulai ramai oleh orang-orang yang mau beraktifitas, terutama di sekitaran pasar. Motor-motor juga sudah mulai ikut berpartisipasi di ruas pantura. Jadi praktis laju bus kurang bisa dipacu secara optimal. Di pertigaan Pejagan, bus diarahkan lurus yang artinya tidak dilewatkan ruas tol Bakrie. Akhirnya baru tepat jam 6.00 bus masuk tol Kanci.
Sekitar jam 7 di daerah Larangan ada pemandangan menarik karena akhirnya bis bertemu juga dengan bis Muriaan yang sepertinya “kesiangan” yaitu PO Haryanto Ungu B-7777-IG. Yang agak tak lazim, sepertinya bus tersebut agak kurang terawat, tidak seperti armada Haryanto yang selama ini saya sering lihat. Larinya pun tidak bisa dibilang banter. Kalau saja saat itu belum dekat dengan RM Singgalang Jaya tempat istirahat ke-2, pasti dengan mudah si Ungu tersebut di-overtake.
Dan KD saya akhirnya memutuskan untuk membuntuti saja hingga akhirnya KD keluar lintasan untuk pit stop ke-4 (2 pom bensin + 2 RM) di RM Singgalang Jaya di Losarang, Indramayu. Ternyata di RM tersebut juga sedang berjajar bus KD II Malang yang tadi berangkat lebih dari 1 jam duluan dan bus Malino Putra ke-2 yang berangkat 45 lebih awal. Kembali saya bergumam woooowww ke BMC-156 ini…
Tepat jam 7.50 bus kembali ke trek, tapi kok sopirnya tidak ganti. Ternyata Pak Gatot masih terlelap di kandang macan dan sepertinya tidak ada yang berani mengganggunya hehehe… Dan sepertinya stamina Pak Ama sudah agak menurun sehingga berimbas ke larinya bus yang akhirnya saya nobatkan periode tersebut menjadi periode “slowest time” untuk perjalanan kali ini.
Sampai akhirnya menjelang Sukamandi, muncul adegan yang baru pertama kali saya lihat seumur hidup (agak lebay sedikit hehehe…). Diawali dengan Pak Gatot yang sudah bangun muncul dari belakang dengan rambutnya yang sudah klimis, selanjutnya bilang ke Pak Ama, “Ayo…”.
Lalu tibalah klimaks dari adegan tersebut yaitu Pak Ama langsung bangun dari kursi kemudinya untuk kemudian secara spontan digantikan oleh Pak Gatot dalam kondisi bus masih jalan dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang lambat. Woowww…saya langsung speechless, antara itu pertunjukkan keterampilan skill, berbahaya, ataukah hal yang biasa saja. Ya sudahlah, yang penting sukses estafet pengemudinya, pikirku kemudian.
Setelah hampir 1 jam asyik menikmati aksi jilid II Pak Gatot di Pantura Jabar di cuaca yang sudah mulai panas, saya akhirnya harus bersiap turun di Cikopo Cikampek karena tadi sebelum sampai RM Singgalang dapat BBM dari salah seorang rekan untuk ketemuan di Cikampek karena ada urusan pekerjaan. Akhirnya tepat pukul 9.25 saya minta difinishkan dini di depan Mega Baja Cikopo.
Alhamdulillah sampai dengan selamat dan cepat. Torehan waktunya yang 17 Jam 05 Menit antara Malang-Cikampek membuat Kramat Djati BMC-156 ini langsung mengubah anggapan saya terhadap armada BMC (bis malam cepat) si “Telur Terbang” ini bahwa “Kramat Djati (Tidak) Semuanya Lambat”. Yang di dalam kurung adalah sisipan untuk perubahan anggapannya. Apalagi kalau mau lebih didetilkan lagi, Rembang – Cikampek = 9 Jam 45 Menit, Tegal – Cikampek = 4 Jam 55 Menit sehingga rasa-rasanya sampai Jakarta masih ada potensi untuk memecahkan rekor di bawah nilai Par yang saya tetapkan :-)
—Selasai capernya—-
Karena beberapa bulan ke depan sepertinya saya akan sering bolak-balik Malang – Jakarta, maksud hati ingin sekalian mencoba sekaligus membandingkan semua PO Malang – Jakarta yang ada, jadi mau buat semacam Liga Malang-lah kira-kira. Rencana awalnya, KD inilah yang pertama mau saya nilai, tapi berhubung saat itu sedang terjadi “force majeure” di trayek Malang – Jakarta dimana terjadi kekacauan jadwal gara-gara bus telat masuk, maka akan sangat tidak adil kalau saya menilai pelayanan KD saat ini. Mungkin saya akan bisa mulai menilai setelah kondisi Malang – Jakarta “normal” kembali.
Adhe Irawan
JKT-TGL(-MLG) Commuter

Dari Kota: Malang

Jam Berangkat: 16:05

Tujuan Kota: Jakarta

Tiba jam: 09:25

P.O: Kramad Djati

Harga Tiket: -

Kelas: Eksekutif

Tanggal:


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;