Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Berawal dari surat undangan perihal jatuh temponya jadwal heregistrasi sekolah saya, maka saya terpaksa harus ke Jogja PP Rabu 31 Oktober kemarin. Izin kepala kantor sudah didapat, saya bergegas ke stasiun Cirebon hunting tiket ke Jogja sambil berharap dalam hati mudah2an tiket sudah full boked semua, maklum saya pengennya sih naik bis tetapi ketersediaan waktu dan terbatasnya waktu membuat saya masih ragu untuk naik bis. Nyampe Stasiun langsung ke Mbak CS yg manis, saya tanya apakan masih ada tiket yg tersisa untuk tujuan Jogja malam ini? ternyata untuk malam ini sudah habis bahkan 15 hari kedepan hampir seluruh tiket kereta tujuan Jogja nyaris ludes terjual, Yess ini yg saya harapkan berarti malam ini saya ke Jogja naik bis.

Selasa 30 Okt jam 18.30, saya langsung menuju terminal Harjamukti naik elf. Turun di harjamukti saya berjalan ke timur terminal kira-kira 50meteran dari pintu keluar terminal. Sengaja saya mencoret CAL Cirebon-Jogja dalam rencana perjalanan malam itu. Pertimbangannya: sudah bosan, perjalanan jalur selatan kurang menarik, tarif relatif lebih mahal, serta alasan yg paling utama adalah “i hate slow”. Sore itu bus bus malam Soloensis intervalnya sangat rapat, maklum masih momentum arus balik idul Adha. Dan yg beruntung mendapatkan tambahan poin saya adalah Tunggal Daya tujuan Wonogiri. Bus mercedes tua bertenaga 180 HP karoseri Trisakti yg tampilan depannya sudah menggunakan headlamp miliknya Legacy ini berpenumpang sekitar 20 orang. Saya beruntung mendapatkan seat paling depan setelah seorang ibu separuh baya mempersilahkan saya untuk menemaninya nonton laga pantura hehehe..

Transaksi akad pun langsung dilakukan antara saya dan Mas kondektur disaksikan Ibu paruh baya yg duduk disamping saya. 50ribu saja yg diminta Mas kondektur kepada saya untuk perjalanan sejauh 380km ini.

Tepat pukul 19.40 bus keluar kota Cirebon, saya langsung terkesan dengan performa bus (relatif) tua ini. Walaupun karoseri sudah berumur tetapi suasana kabin depan hening minim kriat..kriet.., hanya suara derit mirip engsel pintu yg sedang dibuka atau ditutup saat Pak Driver menginjak pedal kopling. Bus melaju dengan kecepatan 60-90kpj beriringan dengan duo Purwo widodo. Semprong2 tua ini rupanya garang juga di Pantura bahkan cenderung nekat dengan diperagakannya susul menyusul antara ketiga bis tua ini secara bergantian namun tetap dengan gaya santai dan dingin jauh dari kesan emosi pengemudinya. Entah berapa bus pariwisata yang diovertake, dan terhitung hanya satu armada SSM Legacy SR1 yang mampu melewati Trio soloensis ini. Sayang sekali masih terlalu sore sehingga bus bus Muria belum meramaikan jalan Cirebon-Tegal ini.

Tepat jam 11 malam bis masuk RM (namanya saya lupa) Gringsing. Satu cup mie instan saya tebus dengan 8rb, berarti lebih murah voucher makan Budiman Tasik-Jogja langganan saya yg salah satu paketnya mie cup+teh botol hehehe..

Ada yg membuat saya penasaran, tadi begitu bus masuk area RM langsung dikontrol petugas (istilah di Jabar sih petugas Checker). Berarti saya dan 3 orang penumpang yang di dapat di perjalanan Cirebon-Pemalang statusnya bukan “sarkawi” dong? Trus mekanisme hitung2an setoran yg dicatat di kertas laporan perjalanan busnya bagaimana? #bingung sendiri#

Setelah istirahat 30 menit bus kembali mlanjutkan perjalanan. Wah nyampe Solo bisa jam 2 nih berarti sampe Jogja jam 3an. Masih terlalu pagi dan jika ambil kamar hotel sayang lha masa Cek in cuma untuk mandi tok. Saya putuskan nanti nyampe Solo saya mending naik ATB ke Madiun pp untuk numpang istirahat dan menunggu pagi. tetapi baru 15 menit lepas Gringsing tiba2 Cessss…. ternyata ban belakang bagian dalam bocor, yess dalam hati akhirnya saya bisa nyampe Jogja pagi hehehe.. entah berapa lama saya terlelap.

Jam 3 dinihari bus masuk terminal Boyolali untuk menurunkan penumpang. Di jalan lingkar Boyolali, beriringan dengan Harjay New marcopolo tiba2 dari belakang di overtake dengan mudah oleh Sugeng rahayu Legacy. Bus bus yang begitu garang di pantura ternyata dengan mudah dilewati SR ini, butuh waktu tak lama SR ini untuk menghilang begitu saja dari pandangan.

Jam 03.30 bus masuk area penurunan penumpang, tepat jam kedatangan ratusan bus2 asal Jakarta. Saya langsung bergabung dengan kerumunan orang di pojok area kedatangan bus tersebut yang saya tebak pasti orang-orang tersebut menunggu bus SK-MIRA jurusan Jogja. 10 menit kemudian masuk MIRA Scorking dari timur dan langsung jadi artis dadakan terminal dinihari itu, kerumunan masa langsung mengejar bus tersebut termasuk saya hehehe..

Jam 03.45 bus keluar gerbang Tirtonadi dan tak perlu waktu lama posisi presneling langsung Top Gear. Bus ATB dengan kabin relatif mewah ini begitu berkesan buat saya, walau sudah menempuh perjalanan jauh dari Surabaya tetapi keadaannya begitu bersih tak nampak sampah kulit kacang sekalipun. Berbeda sekali dengan kondisi bus bus ekonomi di tempat saya (jawa barat) yg hampir pasti selalu tampak sampah berserakan mulai dari kulit kacang, daun pisang bekas lontong, dan botol minuman ringan.

Dalam hati saya bertanya apakah ada perbedaan kebiasaan ya? Antara penumpang bus di Jatim dengan penumpang bus di Jabar. Hanya 7500 saja yg harus dibayarkan untuk mendapatkan servis bus ini dari Solo ke Jogja. Keterlaluan saja jikalau saya masih juga menggunakan KL untuk mendapatkan discount khusus mengingat tarif normalnya saja sudah semurah itu. Di daerah Delanggu naik petugas kontrol MIRA, heran juga jam 4 pagi masih berpenampilan rapi nampak profesional tak nampak kusut karena ngantuk seperti Checker di Gringsing tadi. Lagi lagi saya harus angkat topi melihat sistem kontrol bus-bus Jawa timur yang akuntable dan penuh disiplin dan bebas kongkalikong antar crew dan checker.

Tepat pukul 5 bus masuk terminal Giwangan. Saya langsung bersistirahat di mushola terminal sambil menunggu pagi untuk menyelesaikan urusan saya di UMY.

Perjalanan sore ke Cirebon saya menggunakan Royal Class Efisiensi berjadwal Giwangan 14.00. Perjalanan pulang ini seakan menjadi antiklimak touring kali ini. overtake truk yg susah, sampai sampai sepanjang Jogja-Pwkerto tak sekalipun posisi presneling masuk Top gear. Bertarif 50rb untuk prjalanan Jogja-Pwkerto ini saya mendapatkan air mineral botol 330ml bergambar bus Efisiensi, sepotong roti, dan tontonan “Bioskop Efisiensi” di Efisiensi TV sepanjang perjalanan.

Jam 7 sore bus masuk terminal Purwokerto, momentum arus balik Idul adha masih terasa karena selama di perjalanan tadi saya melihat setiap agen bus Sinar Jaya dijubeli calon penumpang. Alhasil di terminal Purwokerto hanya nampak bus2 sapujagat menunggu penumpang di jalur pemberangkatan. Pilihan saya jatuh pada bus Setia Negara yang saat itu sudah berjalan mundur persiapan take off. Bus ekonomi non ac ini segera saya naiki dan saya dapat seat di tengah. Nuansa pengap asap rokok begitu mengganggu tapi yang penting saya harus segera nyampe rumah untuk istirahat. Tepat 4 jam perjalanan dari Purwokerto bus keluar pintu tol Plumbon dan saya melanjutkan perjalanan dengan Ojek.

Sekian caper morat-marit dari saya.

Firdaus
Plumbon, Cirebon

Dari Kota: Cirebon

Jam Berangkat: 19:40

Tujuan Kota: Solo

Tiba jam: 3:30

P.O: Tunggal Daya

Harga Tiket: 50000

Kelas: Eksekutif

Tanggal: 10/30/2012


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;