Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Teringat sekitar 20 tahun silam sewaktu duduk di salah satu sekolah dasar negeri di desa Gunung Putri Bogor. Siswa sekolah dasar pada masa tahun 90an sebelum era reformasi di wajibkan untuk menghafal seluruh propinsi di Indonesia yang jumlahnya tidak sebanyak saat ini beserta nama-nama daerahnya dengan karakteristik dan budaya daerah-daerah tersebut. Satu daerah sangat mudah untuk diingat kala itu dan cukup membuat kami semua bangga karna tinggal di Indonesia adalah Bengkulu yang dulunya berada di dalam provinsi Sumatera Selatan.

Bengkulu cukup terkenal di dunia dengan adanya penemuan bunga Raflesia Arnoldi, ya bunga yang dinamai sesuai dengan penemunya. Di samping itu Bengkulu menjadi tempat pembuangan aktivis-aktivis kemerdekaan RI, termasuk Ir. Soekarno yang kelak menjadi Presiden RI pertama dan disanalah beliau bertemu dengan Fatmawati yang kelak menjadi ibu Negara.

Cukuplah nama Bengkulu memiliki kesan bagi saya pribadi, sampai pada akhirnya pada tanggal-tanggal awal di bulan April 2013 datang kabar akan ada kegiatan verifikasi di salah satu lembaga pendidikan tingkat atas di kota Bengkulu. Ya..ya saya ingin sekali ke sana, ingin sekali menginjakkan kaki di sana, tempat dulu Soekarno diasingkan dan teringat dengan Raflesia yang bukan bunga. Ya benar, raflesia yang saya ingat bukanlah sebuah bunga, tetapi Putra Raflesia bis asli Bengkulu yang memakai nama Raflesia sebagai ciri khas po asli Bengkulu.

Dan akhirnya sebuah skenario saya susun, bicara kepada kordinator verifikasi di kantor agar saya yang ditugaskan ke sana. Dan YES rencana pun berhasil dan di dapat tanggal pelaksanaan pada tanggal 18-19 April 2013. Langsung cek tanggalan pada bulan April, ya hari kamis dan Jum’at pas sekali. Tapi tunggu dulu….tanggal 18 April adalah hari terakhir palaksanaan UN untuk tingkat menengah atas, wah bisa lama nih kerjaan disana karna harus menunggu pelaksanaan UN selesai dahulu, bisa gak dapet surat jalan sesuai rencana dari menkeu di rumah karna memotong hari libur dirumah.

Sepanjang hari terus berfikir bagaimana agar kerjaan lancar dan hobi dapat tersalurkan dengan sempurna. Dan..AHA..pikiran licik pun hinggap, kenapa tidak saya kirim saja dokumen-dokumen yang harus diisi nanti dan apa saja yang harus dipersiapkan nanti dari sekarang kepada guru-guru disana. Dengan cepat langsung kuminta nomor hp penangung jawab disana dan kuutarakan niatku untuk mempersingkat pekerjaan dengan sedikit trik-trik khusus. Dan ternyata mereka setuju dan sangat senang, “ya mas kalau bisa seperti itu kami sangat senang karena kami pada minggu itu akan sangat lelah karna pelaksanakan UN bagi siswa kami” demikian ungkapan yang saya terima dari sana.

HOOORRREEEE senang sekali diri ini dan hati dipenuhi dengan bunga-bunga raflesia arnoldi (ups bukanya itu nama lainnya bunga bangkai ya, bau dong, ah bodo amat yang penting hobi bisa jalan), ssssttttt jangan terlalu senang, jangan sampai kantor tau akal bulusku bisa runyam nanti hahahahaha.

Kamis, Tanggal 18 April 2013

Pukul 3.00 pagi alarm hp sudah memanggil, ya cukuplah istirahat 3 jam malam ini karna semalaman mempersiapkan keperluan yang akan di bawa, biar nanti tidurnya di sambung di Damri dan pesawat. Ya maksimal jam 6.00 saya sudah harus berada di ruang tunggu penumpang. Jam 4.00 kurang naik Damri Legacy Sky dari terminal Kp Rambutan dan tidak lama Damri berlari-lari kecil menuju Bandara Soekarno Hatta.

Jam 5 lewat sedikit saya tiba di terminal 1b, langsung check in ke loket Sriwijaya karna saya akan mengudara bersama SJ 092 dengan jadwal take off 6.35. Check in sudah, bayar airport tax sudah, masih ada waktu untuk Shalat Shubuh setelah itu langsung ke ruang tunggu B5, berandai-andai ruang tunggu bis sama seperti ruang tunggu di bandara *:D big grin*:D big grin

Waktu terus meninggalkan pukul 6.00 dan tanda-tanda pesawat delay semakin nyata, dan ternyata “SJ 092 tujuan Bengkulu akan di berangkatkan jam 8.10” waduh udah siap dari pagi ternyata delay. Tetapi hikmahknya adalah saya tidak harus menunggu lama disana sampai dengan kegiatan UN selesai yaitu jam 11.00. Tidak usah saya ceritakan perjalanan mengudara sampai akhirnya pekerjaan saya selesai jam 15.30, ya berkat akal bulus ku saya sudah dapat menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya di laksanakan 2 hari pada sore itu juga.

Jam 16.00 meninggalkan sekolah dan minta diantar berkeliling kota Bengkulu, diantarlah melawati rumah pengasingan Soekarno dan rumah Fatmawati, melawati Benteng Marlborough, menyusuri pantai Panjang dan pantai Pasir Putih. Tempat-tempat tersebut hanya saya lihat dari dalam mobil karena waktu sangat tidak memungkinkan untuk dikunjungi satu persatu, tak apalah mungkin lain waktu ada kesempatan untuk mengunjunginya lagi.

Menjelang magrib saya sudah tiba di hotel Xtra di jalan Mayjen Sutoyo No.31 Tanah Patah. Mungkin hotel ini cukup nyaman untuk backpacker dengan harga relative murah. Sebelum masuk kamar kawan di Bengkulu (kawan, ya kawan walaupun baru hari ini bertemu tapi kami sudah cukup akrap karna sebelumnya sudah beberapa kali berhubungan via telepon) bilang nanti malam akan di jemput jam 19.00 untuk makan malam dan besok pagi akan di jemput jam 08.00 untuk berangkat ke agen Putra Raflesia. Ya memang sebelumnya saya sudah minta tolong untuk di belikan tiket PR menuju Jakarta.

Jum’at, Tanggal 19 April 2013

Tepat jam 08.10 saya tiba di Jl. S. Parman kantor pusat PO Putra Raflesia, sudah siap satu armada terbaru PR yang akan mengantarkan saya ke Jakarta. Lapor petugas dan diberitahukan akan berangkat jam 08.30 dan di suruh bersiap di dalam bus.

Kantor Pusat PO Putra Raflesia Bengkulu

Ini pertama kalinya saya naik bis di Sumatera dan pertama kalinya juga saya naik bis asli Sumatera, dan ternyata seperti ini bis executive versi PR dengan konfigurasi seat 9 baris kiri, 11 baris kanan ditambah 3 kursi di bagian paling belakang sebelah kanan, kursi dari aldilla yang besar dilengakapi dengan bantal kecil tanpa selimut dan tanpa leg rest, total 43 seat yang di peruntukkan bagi penumpang di dalam bis ini dengan no registrasi BD 7019 AN engine MB 1526 dan karoseri dari Adiputro model Jetbus non HD dan non Airsus dengan warna dominan hijau, berbeda dengan corak aslinya warna putih di sertai dengan gambar bunga raflesia.

Putra Raflesia BD 7019 AN

PR MB 1526 Jetbus Non HD Non Airsus

Masuk ke dalam kabin bis dan duduk di bangku nomor 8 sesuai dengan manifest dari agen dan pukul 08.35 terlambat 5 menit dari jadwal PR mulai bergerak meninggal agen, driver pertama berperawakan kurus (dalam perjalanan ini saya tidak bertanya nama dari driver 1, 2 dan asisten driver) dan memakai topi untuk mengurangi silau yang di timbulkan sinar matahari. Pada saat bus menaiki aspal sudah sangat terdengar bunyi kriyet-kriyet yang mungkin ditimbulkan dari suspensi bis, wah kurang nyaman juga sepanjang perjalanan nanti akan ditemani suara-suara ini.

Bengkulu Jakarta dapat di tempuh melalui dua rute, yang pertama melawati pesisir pantai selatan pulau Sumatra melalui kota Manna dan Liwa, yang kedua melewati jalur tengah sumatera melalui kota Curup dan Lubuk Linggau. Bis ini akan melewati rute kedua, lebih jauh memang karna memutar, tetapi biarlah jalur manapun yang akan dilalui saya akan tetap suka cita melewatinya.

Driver pertama siap diatas kemudi

Snack dalam box kecil berisi roti dan air mineral gelas di bagikan, dari sini bus membawa 12 penumpang dan 4 orang kru yang semuanya duduk mengobrol di depan, mungkin satu orang agen berjalan karna manifest penumpang dipengangnya dan dialah yang berkordinasi dengan 3 orang penumpang yang akan naik dari depan rumahnya karena memang jalurnya dilewati oleh PR.

Tidak lama keluar dari kota Bengkulu jalan masih relative mulus dengan lebar jalan yang cukup (cukup tetapi tidak besar seperti jalan dua arah di jawa) menuju Talang Empat tempat penumpang ketiga berhasil naik ke dalam lambung bis. Sampai dengan seluruh penumpang naik tidak ada lagi yang mendapat jatah snack dan berarti hanya penumpang yang naik dari agen saja yang mendapat snack, aneh saya baru menemui pola seperti ini.

Jalan menuju talang Empat

Bis terus melaju dan terasa jalan semakin sempit dan di beberapa titik terdapat longsor dan jalan rusak, dan benar saja jalan sudah berbeda, sekarang tikungan-tikungan tajam yang ekstrim mulai dilalui dengan mendaki. Saya sedang naik gunung, driver pertama dengan lincah memutar kemudi, driver terlihat santai melalui jalan ini padahal hampir sepanjang jalan melewati jurang di sebalah kiri dengan tebing atau rumah penduduk di sebelah kananya dan sebaliknya jurang di kanan tebing di kiri.

Dengan tikungan U yang sempit dan tak habis-habis driver masih sangat santai padahal hampir sebagian besar tikungan U tidak bisa langsung dilalui dari 2 arah harus ada salah satu yang mengalah memberi jalan untuk melaluinya terlebih dahulu. Jalur terus berkelok dan bis dengan lincah melewati kendaraan-kendaraan besar dan kendaraan kecil yang berjalan santai dengan sungguh mepet dan menerobos ranting-ranting pohon disisi kanan jalan, dapat di tebak siapa yang harus mengalah pada tikungan tajam yang di lewati.

Tidak jarang banyak mobil kecil melakukan pengereman mendadak karna melihat bis dengan cepat menikung dan ada beberapa yang harus mundur untuk memberikan ruang gerak bagi si bongsor untuk bermanufer menaklukkan tikungan. Ini memang Sumatera, ya baru pertama kali ini saya naik bis di Sumatra dan sangat terkesan di buatnya.

 Beberapa titik kerusakan jalan

Gerombolan truk

 Saat-saat akan melewati truk

 Sebagian jalan mulai diperbaiki

 Selepas tikungan memaksa truk harus mundur

Longsor

Sekitar jam 9.30 melawati kawasan wisata gunung Taba Penanjung dan memasuki wilayah Kepahiang jalan mulai landai dan mulai menurun sampai dengan bertemu dengan keramaian pasar dan berhenti di agen PR Kepahiang jam 10.35 untuk menaikkan penumpang. Di kota ini kru cukup agresif menjaring penumpang tanpa tiket dan naiklah 2 orang dara manis dengan tujuan Lubuk Lingau. Jalan tetap sempit tetapi tidak seperti sebelumnya yang di penuhi oleh tikungan tajam dan pada akhirnya samai di terminal Curup pada jam 11.29.

20 menit berhenti untuk menaikkan paket dan penumpang bis siap melaju kembali dengan driver ke 2. Pintu sebelah kanan dibuka, lho kok bapak agen berjalan yang naik ke kokpit disusul driver pertama dan satu orang asisten naik dari pindu sebelah kiri dan satu orang yang ikut dari Bengkulu sedang duduk manis di dalam agen.

Oh Ternyata….bapak yang saya kira agen berjalan itu ternyata driver kedua dan bis terus menuju kota berikutnya melalui rumah-rumah penduduk dengan udara yang cukup sejuk dan sebagian besar halaman rumah dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur kalau saya tidak salah tebak. Membuka obrolah dengan bapak di sebelah saya yang baru naik dari terminal Curup di ceritakan kondisi alam disini memang dingin karna merupakan daerah pegunungan seperti di puncak. Yups saya merasakan lagi suasana yang berbeda dari pulau asal saya.

Driver kedua dengan perawakan kurus tinggi berkumis tebal menjalankan bis tidak secepat driver pertama tadi. Didaerah ini crash dengan SAN Legacy disusul dengan PR Evonext dengan corak putihnya yang sama-sama dari Jakarta menuju Bengkulu. Memasuki Lubuk Linggau pada jam 13.05 dan berhasil menjaring sepasang suami istri dengan anak bayinya yang akan menuju Jakarta.

Manifes penumpang tetap di pegang oleh driver kedua ini karna setelah penumpang tersebut naik beliau terlihat mencorat coret posisi bangku yang ditempaiti pasutri tersebut. Sesaat sebelum bis di jalankan dari arah kanan mendahului SAN bermesin Cina dengan tulisan SANCHAI bus di bagian belakangnya diiringin dengan klakson dan lambaian tangan dari kru SAN dan dibalas juga dengan bunyi klakson oleh driver kedua.

Melihat SANCHAI tadi sedang brhenti di agen dan tidak lama PR pun berhenti di agen Lubuk Linggau pada jam 13.26 untuk menaikkan penumpang terakhir yang memiliki tiket. Wah agenya perempuan muda cantik, dengan lincah dia mengarahkan penumpang yang naik dari agenya untuk duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Penumpang sudah naik, paket juga sudah, driver kedua kembali mengecek manifest penumpang yang di bawanya, “masih ada sisa beberapa seat kosong” mungkin itu yang disampaikanya kepada rekanya dengan bahasa daerah asalnya.

Bis kembali di jalankan dengan SANCHAI berada di depan, melewati kemacetan antrian SPBU yang dipenuhi kendaraan besar dan terlihat Setia Negara ikut antri dengan body yang kotor, mungkin dia baru saja samapai di Lubuk Linggau. Setia Negara lah bis jawa pertama yang saya temui di pulau sumatera ini dan melewati agen bis Handoyo bis yang terkenal dengan rute yang sangat banyak. Masih di wilayah Lubuk Lingau tepatnya di sekitar pusat pemerintahan kabupaten Musi Rawas crash dengan NPM entah dari mana dan mau kemana dan melihat Handoyo dengan kap mesin terbuka di sisi jalan.

Kembali ke SANCHAI bus, sepertinya bis tersebut lebih lincah meliuk liuk sehingga sudah tak terlihat lagi dari pandangan sampai akhirnya terlihat bis ALS melaju jauh di depan. Semakin lama bis tersebut semakin jelas terlihat dan akhirnya dapat di tempel, bis dengan identitas BK 7903 … dengan Mercy yang lebih senior terus memimpin. Walaupun mesin yang di gunakan tidak bisa dibilang muda, dengan lincah bis tanpa AC dengan barang yang menggunung di atapnya tersebut terus memimpin di depan memandu sang adik menaklukkan tikungan-tikungan tajam disertai dengan jalan yang naik turun.

Mulai mendekati ALS

Sang adik terus menempel sang kakak tanpa bisa mendahului, seolah olah sang kakak masih ingin memberikan pelajaran dari pengalamanya selama ini kepada sang adik dia terus memandu dengan lampu sen yang terus berkedip bergantian kadang kanan dan kadang kiri untuk melalui rintangan-rintangan di depanya.

Sampai dengan wilayah Tebing Tinggi sang adik belum juga bisa melewati sang kakak. Driver melihat sebuah SPBU cukup kosong dengan dua kendaraan sedang mengantri solar, tanpa membuang waktu dan kesempatan yang ada driver langsung memasukkan bis ke dalam SPBU, ya memang sepanjang jalan SPBU selalu dipenuhui oleh antrian yang puluhan kendaraan besar dan kendaraan kecil untuk mengisi bahan bakar bahkan beberapa SPBU sangat sepi karna memang tidak ada lagi bahan bakar yang dapat dijual di SPBU tersebut.

Menempel ALS

Seperti sebuah keberuntungan menemui SPBU yang hanya di isi oleh 2 kendaraan besar disebelah kanan dan 2 di sebelah kiri pompa SPBU. Kru langsung mengisi full tank solar di SPBU dengan no registrasi 24.314.46. Entah berapa liter solar yang di pindahkan ke dalam tanki solah bis ini karna posisi selang solar ada di bagian kiri bis ini. Bis kembali di jalankan dengan lincah tanpa takut kehabisan solar, pada jam 15.47 di daerah Kikim cres dengan ALS dan LE 236 dan pada jam 16.25 cres dengan Handoyo.

Hari sudah semakin sore, sejak pagi tadi bis ini belum juga berhenti di RM untuk istirahat pertama, perut sudah mulai keroncongan karna pagi tadi hanya makan sedikit nasi goring di hotel. Bertanya kepada bapak di sebelah dimana biasanya bis akan istirahat si bapak juga kebingungan karena biasanya istirahat pertama di daerah Lubuk Linggau katanya dan ini sudah hampir Lahat belum juga berhenti istirahat.

Akhirnya hanya sekedar numpang lewat di terminal Lahat untuk bayar retribusi pada jam 17.05. Tidak jauh dari terminal Lahat di pertigaan bis diarahkan belok kiri dengan terlebih dahulu crew membuka pintu kiri dan bertanya ke agen Handoyo, “bisa dilewatin tidak?” dibalas dengan teriakan “bisa, jalan terus” akhirnya bis kembali di jalankan, awalnya saya pikir bis dilarang melewati jalan ini dan takut dihadang polisi di tengah jalan nanti.

Akhirnya pertanyaan yang dilontarkan crew terjawab sudah, ternyata di beberapa titik jalanya super hancur, mirip sekali dengan kubangan kerbau dengan lumpur coklatnya dan tanah becek sisa hujan sebelumnya. Driver sangat hati-hati sekali melewati jalan ini agar tidak terjebak lubang yang terlalu dalam dan selip, kendaraan lain berhenti memberi kesempatan salah satu kendaraan untuk berjuang melewati kubangan.

Truk, dua bis ALS dan sebuah mobil pribadi di belakang semua berhenti menyaksikan perjuangan kami menembus kubangan lumpur, ya semuanya berhenti walaupun cukup ruang untuk jalan 2 arah dan jalan sepi tapi mereka lebih memilih untuk berhenti untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan mobil pribadi di belakang kami baru berjalan setelah kami berhasil melewati kubangan, mungkin dia ingin mengetahui jalan yang aman untuk dilalui.

Ada 3 titik kubangan besar di jalan ini samapai dengan bertemu sebuah hotel Grand Zuri, ya di sebuah jalan yang sepi di tengah semak belukar terdapat hotel yang cukup bagus dengan mobil-mobil pengunjung yang memenuhi halaman parkirnya. HAH gak salah ini di jalan yg super sepi kayak gini ada hotel bagus, di Jakarta saya browsing hotel tersebut dan dapat informasi web nya di http://grandzuri.com ckckckck ternyata harga perkamarnya tidak murah, kok bisa ya hotel sebagus dan semahal ini berada di situ…..

Jalan seperti kubangan kerbau di daerah Lahat

Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, driver mengarahkan kemudi ke sebuah lahan parkir yang cukup luas untuk istirahat sejenak. Bis berhendi di RM Rantau Penantian cabang Lahat pada jam 18.06 bersama 2 bis ALS AC dan Non AC, mungkin karena sudah tidak tahan menahan lapar seluruh penumpang tanpa dikomando semuanya turun dan masuk ke dalam rumah makan padang ini.

Rumah makan ini cukup luas dengan banyak sekali meja dan kursi yang di buat berkelompok-kelompok, toilet yang banyak, lebih dari 10 pintu khusus laki-laki belum lagi yang khusus perempuan, mungkin toiletnya ini memang di fungsikan bukan hanya untuk BAK dan BAB tapi juga difungsikan untuk mandi, terlihat banyaknya penumpang ALS yang mandi di toilet ini.

Disini setiap orang yang ingin makan di kasih satu pirng nasi, air putih satu gelas dan beberapa lauk di piring-piring lainnya diantarkan ke meja masing-masing, jika ingin teh atau kopi tinggal pesan ke pramusajinya. Selesai makan memanggil pramusaji untuk di hitung, nasi satu porsi, sayur nangka, 1 telur bulat, 1 rendang dan air putih.

Pramusaji tampak menulis di kertas kosong dan menyerahkanya kepada saya untuk di bayarkan ke kasir, hah malal bener totalnya 31rb kok bisa ya ckckck. Selesai makan kembali ke toilet dan melaksanakan shalat magrib + isya. Berkeliling tempat parkir terlihat agak masuk ke dalam sebuah bis ALS sedang storing dengan mesin yang sedang di bongkar sepertinya sudah berhari-hari bis itu disini.

Tidak lama terdengar panggilan penumpang PR untuk segera naik ke dalam bis, sebelum naik masuklah bis FRC  dengan papan trayek Bk tinggi P Kumbuh BH 3014 FL memasuki parkiran. PR kembali menapak aspal hitam pada jam 18.51, hari sudah semakin gelap dan melewati plang jalan Muara Enim di coret pada jam 19.14. Keadaan di luar sudah semakin sulit dilihat karna gelapnya malam, bis tetap melewati jalan dua arah dengan kecepatan yang cukup tinggi, kali ini driver sudah berganti kembali ke driver pertama, cukup terasa perbedaan kecepatanya yang ini semakin JOSS.

Pada jam 19.35 saya memutuskan untuk memejamkan mata dan terlihat driver kedua akan berjalan ke belakang sambil memberikan pengumuman “yang di dekat kaca hordenganya tutup saja” sambil berjalan menyusuri kabin untuk memastikan anjuranya di taati. Langsung ku tutup hordeng di sebelah kanan dan bertanya kepada bapak di sebelah, “ya mas di sini daerahnya masih rawan kaca bus suka dilempar batu dari samping makanya tutup hordeng biar kalo dilempar batu serpihan kacanya gak kena muka” waaaahhhh ngeri ini, sesaat sebelum memejamkan mata terlihat crash dengan PO Transport dengan papan trayek Padang.

Sabtu, Tanggal 20 April 2012

Mata mulai terbuka melihat display jam di bagian depan, jam 0.16. Wah apakah sudah di wilayah Lampung, langsung ku makan cemilan dan minum air mineral agar tidak ngantuk lagi, ku buka hordeng yang sedari tadi tertutup dan ku tatap suasana jalan di sekitar. Ah tidak ada marka jalan maupun plang nama toko yang terlihat untuk mengidentifikasi daerah ini.

Tanpa putus asa ku tetap memandang sisi-sisi jalan, driver sangat lincah bermanufer mendahului kendaraan-kendaraan di depanya. Beberapa saat kemudian tampaklah plang toko dengan alamat Tanjung Karang, oh tidak… sudah lewat ternyata.

Ya benar rumahnya sudah lewat, saat itu saya ingin mengenang perjalanan pertama kali saya ke pulau sumatera walaupun hanya sampai provinsi lampung, tepatnya di perkemunan tebu milik gulaku di gunung sugih. Kenangan yang cukup membekas di hati saat mengantarkan pujaan hati berkunjung ke rumah orang tuanya dengan mobil pinjaman tahun 2006 silam hehehehe.

Saat itu rasa cemas dan takut melanda sepanjang malam menuju rumah orang tuanya, ya itulah saat-saat ku mulai serius untuk menjalin hubungan dan ingin berkenalan secara langsung dengan kedua orang tuanya. Sebelum hari itu saya selalu mengantarkan pujaan hati hanya sampai terminal bis Damri di Gambir yang akan berangkat jam 21.00, tapi pada hari itu ku akan mengantarkanya langsung sampai depan pintu rumahnya and bertemu dengan orang tuanya.

Tak dapat terbayangkan perasaan pada saat itu, mungkin sang pujaan hati mengetahuinya dari raut wajah yang terpancar tetapi seakan pura-pura tidak tau karna ku yakin perasaan tidaklah jauh berbeda dengan perasaanku saat itu. Hahahahaha masa lalu memang indah untuk di kenang.

Dalam perjalan malam itu masih terbayang wajahnya di lamunanku, tetapi manusia memang hanya bisa merencanakan dan hasilnya mutlak milik yang Maha Kuasa. Saat ini kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi lagi walaupun hanya sekedar sms ataupun menulis wall di FB, kami sama-sama sudah menjadi milik orang lain. Sudahlah lebih baik menikmati perjalanan malam ini dari pada mengingat masa lalu, sampai pada suatu saat driver memberhentikan bisnya karna crash dengan PR putih, kedua bis sama-sama berhenti sesaat dan mengobrol dengan bahasa daerah mereka.

Sepanjang jalan cukup banyak kami crash dengan bis-bis dari pulau jawa, yang sempat teringat 2 bus dengan corak seperti madu kismo entah itu benar madu kismo atau bukan, 2 NPM, 1 Sahabat, 3 Rosalia Indah, dan lebih dari 10 bis yang tidak dapat diidentifikasi karna gelapnya malam. Tak terasa mata kembali terpejam dan terbangun saat lampu kabin di hidupkan, jam 3.25 kembali berhenti di RM Bagadang 4 tanpa ada bis lain yang menemani. Jam 3 pagi makan masakan padang, wah bisa berabe nanti, maka saya hanya memesan pop mie seharga 6000 rupiah, dan meminjam toiletnya. Sama juga toilet disini ternyata dapat dibuat mandi juga dan jumlahnya banyak.

RM Bagadang IV

Meninggalkan bagadang IV dengan kembali kemudi dipegang oleh driver kedua pada jam 4.08, mata kembali terpejam dan terbangun pada saat memasuki pelabuhan bakaheuni sedang antri masuk kapal dibelakang SAN golden dragon entah di dermaga berapa. Sekitar jam 5.30 memasuki lambung kapal Rajarakarta dan parkir tepat dibelakang SAN golden dragon BM 7955 TU, suasana kapal cukup sepi, di dek paling bawah hanya diisi 2 bis ini dan 3 buah truk, begitu juga di dek atasnya tidak terlihat ramai, hanya ada truk dan kendaraan pribadi.

Naik ke dek paling atas dan duduk bersandar menikmati pemandangan bukit siger dengan tugu selamat datanganya dan pikiran kembali pada tahun 2006 silam mengenang suasana di atas kapal bersama pujaan hati, hah kok fikiranya kesitu lagi, lebih baik memikirkan istri dan anak yang sedang menunggu dirumah :D

Didalam lambung kapal Rajarakarta

Pagi itu selat sunda sungguh-sungguh tenang sehingga jam 7.40 PR sudah memasuki pelabuhan Merak. Karena SAN berada di depan maka SAN yang pertama kali keluar lambung kapal, tetapi setelah keluar pelabuhan SAN berhenti entah untuk urusan apa dan melengganglah PR dengan santai menyusuri tol Jkt Merak menuju Jl Pemuda Rawa Mangun. Dan akhirnya jam 9.50 kemudi diarahkan memasuki pelataran agen di jl Pemuda. Ayo yang Jakarta habis Jakarta habis yang tujuan Bandung lanjut dengan bis yang putih Bandung pindah bis itulah instruksi yang diberikan kepada kru.

Bergegas turun dengan mengucapkan terimakasih kepada kru yang bertugas setelah menempuh perjalanan 25 jam 20 menit dan melanjutkan perjalan pulang dengan taksi putih menuju Ciracas. Ini adalah perjalan terlama saya menaiki bis, dan sungguh di luar dugaan saya sebelumnya dengan jarak seat yang rapat serta memeluk tas polo yang cukup besar sama sekali badan tidak terasa pegal, terutama pada tulang ekor tidak ada rasa pegal karena terlalu lama duduk padahal  sering saya naik bis dan sering merasa sakit pada tulang ekor karena terlalu lama duduk.

=================================================

Kantor Pusat PO Raflesia
Jl. S. Parman No. 19 Tanah Patah
(0736)26162 – 24740

Andri Nugroho

Dari Kota: Bengkulu

Jam Berangkat: 8:35

Tujuan Kota: Merak

Tiba jam: 7:40

P.O: Putra Rafflesia

Harga Tiket:

Kelas: Eksekutif

Tanggal: 04/19/2013


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;