Jogjakarta 11 Juni 2011
Drrttttt…… drttt………… kurasakan geli-geli di celanaku. Gadget Nokia lawas yang batrenya sudah nggembung mencoba berontak dari saku celana yang semakin menyempit (duhh dieetttt bosss). Kuacuhkan signal getaran ini karena posisiku tanggung sedang persiapan terjun dari kabin Mercy OF Jaya Putra koridor Solo-Yogya.

Hap…… sedikit melompat aku menjejak ke tanah, bus dengan body Great Panorama orisinil ini menurunkanku di Perempatan Giwangan. Kurogoh saku, kutekan tombol “telpon ijo”

“Halo Mas, posisiku nang Giwangan, iki Dennys nang ngarepku persis, nek nunut tekan agen bisa ga yo” (mas posisiku di giwangan, ini Dennys ada di depanku , kalo ngikut ke agen bisa ga ya ?) cerocosku tanpa memberi jeda bagi penelpon untuk berkata-kata.

“Yo coba ae, ngomong karo kernet’e” (Ya, coba ngomong sama kernetnya)

“OK”

Aku melangkah sekitar lima meter ke timur, masih di tengah-tengah jalan kebetulan lampu bangjo belum menyalakan warna hijau.“Mas, kula penumpange agen Gamping, mangke nderek bis niki” (Mas, saya penumpang agen Gamping, nanti berangkat naik bus ini) kubuka pembicaraan dengan co driver Dennys tadi. Lawan bicaraku agaknya paham, dan segera membukakan pintu. Mungkin daripada harus menungguku naik angkutan umum dari Giwangan ke Gamping.

Kurasakan aura bersih dalam kabin Legacy keluaran pertama ini. Kududuki seat nomor 13-14 yang katanya menjadi lapakku semalaman nanti. Hmmm…… hembusan sejuk pendingin udara Thermo King mendinginkanku setelah berpacu dengan waktu menempuh stage singkat Janti-Giwangan.

**********************************************************************************
Flash Back kisah di hari itu. Setelah Jerman memastikan kemenangannya atas Portugal pada Fase penyisihan grup Euro dini hari tadi, kembali aku memejamkan mata di kamar tidurku, hingga aku terbangun saat matahari sudah bersinar terang benderang. Wadaooo telat bangun nihh…untung jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Segera aku mandi, mencuci baju yang sudah direndam semalaman, serta tak lupa sarapan.

Pukul 08.35 PO Putra Perdana “Trendy” mengantarku dari Parakan menuju Magelang. Sesuai janji, kali ini aku langsung menuju ke rumah teman di Magelang, selanjutnya nebeng mania ke Jogja. Wusssshhhh…… Honda Tiger biru langsiran 2006 melaju kencang hingga sesekali menyentuh 120kph membuat tubuhku bergetar mengikuti putaran mesin yang meninggi, mana yang kupakai Cuma kaos tanpa jaket dan hanya sandal merk salah satu pusat perbelanjaan lagi. Temanku yang satu ini memang sedang mengejar jam tayang di kampusnya di daerah Babarsari Yogyakarta.

Maklum, mahasiswa yang baru saja meraih gelar sarjana, namun masih terikat dengan kampus sebagai Asisten Dosen. Sempat mampir di Kampusnya yang se-jurusan dengan Bro Tito BMC Jogja dan Laksamana Artha Galih BMC Jogja, hari itu aku mendapat tugas dadakan menjadi AsAsDos (asisten dari asisten dosen) yang turut membantu dalam merekap penilaian. Menengok sebuah kampus, membuatku merasa muda lagi, hehehehe

Jam satu kurang seperempat kami meninggalkan kampus. “Makan dulu yo” ajak temanku satu ini. Dipilihlah Warung kaki lima Ayam Geprek di Mrican, tempatnya mblusuk bin sempit, tapi jangan tanya antriannya. Hmm Ayam goreng tepung feat Sambal by request (satu orang langsung dibuatkan sambal, dan bisa request jumlah cabainya) benar-benar membuatku ssshhhh…….ahhhh…….ssshhh……ahhhh (kepedasan lhoo bukan lainnya…..).

Pukul 13.35 aku sampai di pertigaan Janti, wah ngepress banget dengan jam kumpul di agen yang “katanya” pukul dua siang. Beruntung Jaya Putra menjadi penyelamatku dari wanprestasi terhadap agen.

Drtttt…….drttt……. lamunanku terbuyarkan tatkala HP dengan puluhan draft Caper ini kembali bergoyang. (melamun apa hayooo???)

“Nang ndi Yer?” (Dimana Yer??) suara yang diseberang.

“Wis nang jero 12BL, hehehehe” (Sudah di dalam bis) jawabku.

“Lho?? Wis tekan ndi??” (Lho?? Sudah sampai mana??) tanya yang di seberang.

“Ugama” jawabku, merujuk pada Pool Bus Pariwisata binaan Universitas Gadjah Mada ini.

“Yo wis, aku mangkat” (Ya sudah, aku berangkat) sambungan diputus.Gabruuukk, klontang, grombyangg……. mungkin begitulah suasana di rumah penelpon tadi saat gedandapan busnya sudah mau sampai agen.

14.07 Bus menepi tepat di Pertigaan Gamping. Aku turun menemui agen untuk pertama kalinya untuk menebus tiket. “Atas nama Hendi yaa??” kata Pak Agen. Rupanya tiket yang dimaksud juga sedang ditebus oleh si penelpon tadi. Jiaann mepeettt tenan, pas tadi bus tiba di agen, rupanya “Si Hendi” ini juga baru sampai di agen.

Bus segera melanjutkan perjalanan diiringi lambaian tangan penuh kasih sayang dari seorang bunda pada anaknya yang hobi turing yang semalaman akan duduk di sebelahku ini. OK lets play to get her, eh together….. Pergesekan keenam roda mulai membawa chassis Mercedes 1526 ini menapaki Ambarketawang, terus menuju ke arah Barat Daya. Pengemudi bertopi dengan julukan “Si Penyendiri” mulai membawa tunggangannya dengan santai. Style Econo Drive dimainkan, tanpa mengurangi kenyamanan penumpang. Hembusan AC Thermo King yang menyejukkan dipadu nuansa warna biru di dalam kabin semakin dipermanis dengan alunan lagu-lagu langgam jawa yang mengalun bening dari Sound system non standard yang ditanamkan di bawah kursi kernet ini.

Perjalanan tanpa ada hal yang special siang itu, hanya kekagumanku atas interior Dennys yang lekat imagenya dengan Pak Rachmad “Si Penyendiri” ini. Ngobrol ngalor ngidul kami lakukan untuk mengisi perjalanan ini. Memasuki Terminal Wates, bus menaikkan beberapa penumpang, termasuk penumpang langsiran ke Pool Kutoarjo. Dennys melanjutkan perjalanan lagi ke barat, sebelum kemudian berhenti beberapa saat dengan mesin dimatikan entah karena apa, yang jelas posisi bus ada di jalan raya, di mana ada jasa Tambal Ban di tepi jalan.

Pukul 16.15 Kami sampai di Pool Kutoarjo, ritual isi tangki menjadi hal pertama yang dilakukan, sebelum masuk ke Pool untuk beberapa keperluan. Masuk di pelataran Pool langsung disuguhi pemandangan indah 10 unit Legacy Sky SR-1 yang masih kinclong tanpa plat nomor terjajar rapi menghadap ke Tenggara. Kesepuluh Hino RK-8 ini siap meramaikan Arus mudik/balik yang akan datang sebentar lagi.

BarisanLegacy Sky SR-1

Proteus King

Ini dia Sang Jagoan…..

pukul lima sore kurang sedikit kami baru bisa keluar Pool, aktivitas mengoplos penumpang, dan pergantian ban cadangan cukup menguras waktu. Walhasil status Pertamax dari Jogja pun lepas dari genggaman Dennys.Kutoarjo, Kebumen, Gombong dst hingga Sampang, tiap daerah pasti ada agen Sumber Alam di sana, dan setiap agen dijejali penumpang cukup padat petang itu. Stop n Go di setiap wilayah. Satu-satunya Blong-Blongan terjadi saat mengantri persilangan KA di Sumpiuh, dimana Dennys dengan PeDenya menyodok kanan, mendahului sekitar tiga sampai empat saudaranya, dan sebuah bumel Utama Putra.

Meninggalkan Sampang yang menjadi loading point terakhir bagi Pasukan Biru Kutoarjo, lalu lintas telah sepi, inilah keunggulan lewat jalur selatan, dimana saat petang sedikit masyarakatnya sudah kembali ke rumah masing-masing berkumpul dengan keluarga, sehingga hanya menyisakan para Musyafir di jalanan itupun dengan jumlah yang tak seberapa dibanding Pantura. Satu-satunya lawan sepadan hanyalah kompatriot dengan Tag line “Sergep Sodaqoh”. Pengusung chassis Dong Feng itu mampu berlari lincah di jalur selatan yang berkelok. Agaknya Si “Rajin beramal” ini memiliki dna pelari, berbeda dengan mayoritas kawan-kawannya (Colek Yuanito Bayu buat nyoba).

Beberapa Sinar Jaya turut berbaur dalam konvoy Mayoritas Biru ini, sekali lagi perbedaan mencolok dengan jalur Pantura, dimana nuansa adu gengsi “Siapa terdepan” sungguh kental terasa, di jalur selatan rata-rata bus berkonvoy, tak pandang bulu Siapa mengusung Bendera apa.Pelataran Rumah Makan Sumber Alam Ajibarang sudah mulai penuh dengan pasukan Biru Malam. Dennys memilih parkir di sisi utara. Segera ke meja prasmanan, ambil nasi, sayur kentang balado, sayur jagung muda, Sambal goreng ati, dan perkedel serta teh manis hangat cukup ditukar dengan uang tujuh belas ribu rupiah. Makan malam dengan rasa yang lebih dari cukup kami santap dengan lahapnya.

Tak lupa menunaikan hasrat BAK sebelum melanjutkan perjalanan, harap maklum, meskipun bus yang kami tumpangi memiliki fasilitas Toilet, tapi saat siang tadi kusambangi bilik di pojok kiri belakang kabin bus, yang kutemui adalah sebuah gentong yang memakan tempat 80% dari luasan lantai toilet, jadi males untuk ke sana kedua kalinya. Duhh sayangnya di toilet RM kok yaa harus antri, mana sudah kebelet lagi…  Perjalanan diteruskan kembali, setelah prosesi kontrolan di pintu keluar Rumah Makan. Masih di belakan Si Sergep kami melaju. Cklik…. TV LCD dimainkan, kali ini menyuguhkan lakon dagelan jawa, yang mengocok perut seisi bus.

Perjalanan dengan santai (entah pelan, atau nggak, yang jelas tidak ada gas poll rem poll), dengan dipadu tontonan dagelan membawa suasana benar-benar nyaman seperti suasana di rumah sendiri di desa sambil menonton TVRI. Beberapa kali bus berjalan sangat pelan, entah karena medan jalan yang tidak memungkinkan atau dalam rangka saving budget. Bumiayu kami lalui, sempat mengintip pelataran Terminal yang sunyi, hanya ada beberapa Dewi Sri yang terparkir bisu di sana. Masih dalam jalan berjuta kelokan, bus melaju santai memanfaatkan kontur jalan yang menurun. Belum ada pukul sepuluh malam, mmmm…… nggak lemot lah menurutku.

Aku dibangunkan partner touringku saat bus mulai merayap pelan. “Heh, Ciregol iki..” bus merayap pelan, masih dalam antrian “biru-biru”. Suspensi standard 1526 bekerja ekstra keras saat kabin bus terhuyung berbarengan dengan tapak enam roda yang menggilas jalan tanah. Jalan tanah?? Yupp….. apabila dari arah selatan hendak ke utara, maka akan menemui sisi kanan jalan yang lebih rendah sekitar tiga meter dari sisi kiri. Nantinya kedua lajur akan sejajar. Pengeprasan ini menjadi solusi dari berulang kalinya tanjakan Ciregol putus karena ambles. Saat ini sisi kanan sudah diratakan, namun belum diaspal ataupun dibeton, sementara sisi kiri sedang dikepras. Semakin dekat ke lokasi longsoran, guncangan di dalam kabin semakin terasa. Tlusurr……. tampak Sergep meluncur dan menjauh meninggalkan Dennys selepas lokasi longsor. Pelannn…..pelannn……dan yak, titik kritis berhasil kami lewati. Di seberang tampak antrian yang tak seberapa.

Zzzzz………. setelah lewat Ciregol, rasanya sudah tidak ada hal menarik lagi, sehingga mata kupejamkan, bagaimana dengan kursi sebelah??? MiWon alias Sami Mawon (Sama Saja)….zzzzz….

“Kadipaten” tulisan ini kubaca saat mata terbuka, oo… ternyata lewat jalur tengah, menghindari Pantura. Meskipun bernaung di bawah manajemen PO yang mengusung efisiensi bahan bakar, namun pemilihan jalur tengah sama sekali tidak menampakkan sikap pelit baik dalam pribadi Pak Rachmad ataupun manajemen. Zzzz…… nggak asyik ah memaksakan mata terbuka menyaksikan hutan dan sawah yang gelap gulita. Sempat mata ini menangkap bayangan Kramat Djati divisi bus kota yang sedang diovertake. Ahh… pasti sudah lewat Subang, kembali bobok lagi.

Bayangan yang teridentifikasi selanjutnya adalah Gate Entry Tol Sadang. Di dalam Tol laju bus masih standard, tidak ada raungan mesin terdengar di dalam kabin. Benar-benar perfect situation untuk merem.Aku terbangun saat sudah di dalam Tol JORR dengan kondisi masih gelap gulita. Meskipun mata sudah melek, namun baru benar-benar tersadar saat bus sudah masuk Terminal Lebak Bulus. Diluar masih gelap. Wow…… masih pagi coy….

Di parkiran tampak Ramayana E1 bersanding dengan Raya seri C sudah mematikan mesinnya, sementara tak jauh di sana tertangkap radar partner touringku Santoso Seri C sudah terparkir rapi. Meninggalkan kabin AA1512BL kami menuju shelter Busway, dimana kali ini Partner touringku tidak perlu tergesa-gesa karena masih cukup waktu tersisa untuk kembali ke Kost sebelum aktivitas pagi dimulai. Sesaat sebelum kami berangkat menggunakan busway, tertangkap dalam indera penglihatan kami Si Sergep baru saja masuk terminal.

Sekian…….

Salam

Yeremia A P

 

Dari Kota: Yogyakarta

Jam Berangkat: 14:10

Tujuan Kota: Jakarta

Tiba jam: 5:0

P.O: Sumber Alam

Harga Tiket: -

Kelas: Eksekutif

Tanggal: 06/11/2011

 


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Yeremia
Ditulis oleh

''

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;