Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Caper sehari bersama Mayasari Group

Sebuah telepon membangunkan siang suramku sebagai penganggur pasca resign dari Pahala Kencana.
“bapak Andreas?”
“ya, saya sendiri. Ini dari mana?”
“ini dari Cipaganti. Kami mengundang anda untuk interview lanjutan besok”
“ohya. Di Grogol lagi pak?”
“bukan, di….Bandung”
Alamak jang, duit lg tongpes gini k Bandung.
“kami sediakan tiket kesana tapi hanya untuk berangkatnya, bagaimana?”
“baik pak”, jawabku
“untuk travelnya, bapak lebih dekat dengan Jatiwaringin atau Cibubur??”
“Dewi Sartika bukannya ada Cipaganti pak??”, pintaku tanpa sadar sebenarnya Jatiwaringin lebih”depan” dengan tol Cikampek.
“oh iya, ada pak. Baik nanti kami uruskan tiketnya. Ditunggu sms konfirmasinya”

Selang 15 menit kemudian dating sms notifikasi “pemesanan tiket berhasil atas nama Andreas berangkat pukul 06.30 Cipaganti Dewi Sartika”

******

Pagi itu kemacetan luar biasa (sebenarnya biasa) melanda Taman Mini raya. Hujan yang masih mengguyur menjadi salah satu penambah kemacetan. Revo 2008 (yang sering kuibaratkan AP Setra engine RK8) kugeber sekuat tenaga dengan style Mayasari, selip kanan selip kiri. Namun detik yang kurasa tampaknya tidak bisa kutaklukan.
06.35 aku sampai ke Cipaganti Dewi Sartika. Terlihat 1 elf hijau terparkir disana, namun tidak ada tanda-tanda akan berangkat. Pasti yang seharusnya kunaiki sudah berangkat
Masuk ke ticketing aku bertanya
“keberangkatan jam 6.30 sudah jalan ya mas?”
“sudah mas”, jawab ticketing yang hari itu formasinya 2 orang batangan.
“sial”, pekikku dalam hati. Aku ingat ketika jadi ticketing KD maupun PK, tidak sedikit pun tega meninggalkan orang jika hanya 10-15 menit.
Bayangan calon pekerjaan hilang sudah di depan mata, sampai mamaku bilang
“udah berangkat aja. Nanti mama carikan uang buat ditransfer. Yang penting sampai Bandung dulu”.
Wejangan khas Jatim membuatku memiliki semangat lagi.
“ya udah berarti kita ke Pasarebo”, pintaku.
“kan ada Primajasa. Ke poolnya aja”, usul mama. Kepanikan yang mendera membuatku tidak bisa berfikir jernih kalau ada pool Primajasa yang hanya berjarak 3 KM dari tempatku berdiri.

Sang Revo segera beranjak dari Cipaganti ke pool Primajasa Cililitan. Ah “pool Cililitan”, kode yang mirip dengan milik Kramatdjati, sang mantan ;-p. Sekilas pool Primajasa Cililitan, dahulu pool ini merupakan milik Mayasari. Terutama untuk menunjang keberadaan bis-bis rute Cililitan, karena dahulu sebelum dipindahkan ke Rambutan salah satu terminal utama di Jakarta adalah terminal Cililitan. Bis-bis dari Priangan yang melintas Puncak (belum ada Cipularang) masuk ke Cililitan. Jejak-jejak kejayaan Cililitan masih terlihat dari banyaknya pool bis sekitar Cililitan mulai dari Kramatdjati, PPD (depo H, C, E), Mayasari (sekarang dipakai Primajasa) hingga agen bis tujuan Sumatera yang masih eksis hingga saat ini. Sekarang Cililitan tidak berbekas ditimpa PGC.

Masuk ke pool Primajasa (terakhir kesana saat mau naik AC04, juga sama mama), terlihat barisan bus putih garis merah. Di antrian ada rute Bandung Eksekutif,Tasik AC Ekonomi, dan Garut AC Ekonomi. Setelah Tanya Satpam, aku diarahkan ke sebuah Hino RG berbalut Travego MU. Versi Eksekutif Primajasa mirip dengan versi Eksekutif nya SinJay, yakni VIP nya KD n PK. Tak apalah, aku ga butuh kenyamanan. Tapi kecepatan. Di dalam hanya terisi tidak sampai 4 orang termasuk aku. Seat 1 kosong, rejeki buatku. Setelah berpamitan tidak lama bis ini melaju. Hanya dengan 6 orang. Udah mirip terakhir kali naik KD (mbayar) dari Malang.

Selepas dari pool bis masih terjebak kemacetan Dewi Sartika, melewati pula shelter Cipaganti yang tadi.“hwueeek, gw ke Bandung juga dong”, ejekku dalam hati kesana (lho koq jadi dendam).Penumpang yang sedikit plus sedikit guyuran hujan membuat AC Denso dengan dealer Kikijaya Airconindo (juga Mayasari Bakti group) terasa dingin sekali. Bis memasuki tol Cikampek, sang RG mulai digeber. Masuk Jatibening sempat minggir sejenak. Bersama Sahabat, SetiaNegara dan sang sesepuh Mayasari AC 122 kami nyeser nyari tambahan sewa. Ada 2 orang pemuda, tampaknya low budget. Baik kernet maupun penumpang tidak berani mengucapkan kata deal. Jatibening dilewati tanpa tambahan sewa.

Arah sebaliknya masih terlihat pamer susu (padat merayap susul-susulan). Tampak beberapa PK Maduraan dan KD Malang sudah menunjukan dirinya. Pertanda Pantura lancar. Di Bekasi Barat bergabung Primajasa dari Harapan Indah dengan sewa yang cukup bagus, Evo X RKT itu tidak lama berada di depan kami sebelum diatasi oleh pak sopir yang tampak senyum-senyum pasrah Cuma dapat 6 orang penumpang. Sang kernet pun menggunting, selembar Rp 50rb dengan sedikit kurang rela kuserahkan (mestinya gretong nih, hahaha).

Di Rest Area wilayah Karawang bis ku masuk. Isi solar plus checking. Termasuk si Harapan Indah itu. Tampak sopir dan kernet Harapan Indah mentertawai bis kami (ini serius) yang hanya mengangkut 6 orang. Kedua kru bis ku hanya tersenyum kecut.

Selepas rest area baru bis ku menunjukkan karakternya. Setelah sebelumnya diselip Sinar Jaya Evo X tujuan Wangon, sang RG menunjukkan keperkasaannya. Tepat di tanjakkan pertama si Harapan Indah yang terengah disantap dengan mudahnya. Bokong Sinar Jaya Wangon itu terlihat di kejauhan seakan seperti kain merah matador menggoda banteng. Kalau melihat style nya, sang sopir merupakan perpaduan Mayasari dan Kramatdjati. Aksi netral masih ditunjukkan. Namun aksi netral kali ini membuaku menggeleng-gelengkan kepala karena memecah rekor BMC 164 yang menyentuh 85 KM/jam di turunan Fatmawati. Ketika turunan sang sopir baru menetralkan gigi ketika kecepatan menyentuh 90. Curamnya turunan-turunan Cipularang membuat kecepatan netral menembus 120, tanganku mulai menggenggam erat sandaran tangan. Beruntung sang sopir tidak jumawa, setiap kecepatan menyentuh 120 rem mulai diinjak meski kadang “kecolongan” sampai jarum 125. Disaat netral itulah SinJay Wangon itu kami salip.
Lepas dari SinJay tampak bokong ayu si Gapuraning Rahayu, juga body Evo X dengan mesin mercy (ga tau OH berapa). Tak beberapa lama giliran si GR yang kami lewati. Sewa sedikit tidak membuat sang sopir mengurangi kecepatan.

Berbekal informasi aku turun di Pasirkoja, oper angkot ke Dago turun Pasir Kaliki oper angkot lagi ke BTC. Beberapa mojang geulis jadi “korban”ku dengan modus pura-pura Tanya alamat. Yang kusuka tiap ke Bandung adalah gadis-gadisnya yang cantik nan ramah.

Lepas wawancara, aku sempatkan muter ke BTC. Cuci mata sekaligus cari info travel Cipaganti. Sempat ingin menikmati pemandangan naik Parahyangan namun kuurungkan karena baru ada kelas bisnis jam 4 sore. Akhirnya Leuwipanjang tetap jadi tujuanku. Angkot kuning tujuan Cibaduyut kunaiki. Sayang aku berada di stasiun sisi utara, kalau selatan pasti pilihanku ya Damri Goyobot. Kalau ga salah P9 juga namanya, naik nya dari Pasarbaru pula.

Sesampai di Leuwipanjang tampak barisan MB grup macam Primajasa, MGI dan BPS parkir diselingi Harum  grup plus barisan Hiba Grup mulai dari LP, Bela Utama, dan Hiba grup Sukabumian. Warung nasi khas Sunda dekat tem-teman Primajasa Bekasi jadi persinggahanku. Dimulai ketika pertama kali naik Malabar dari Malang, warung ini menjadi langgananku tiap ke Leuwipanjang. Pernah sekali mencoba ke warung sebelahnya yang lebih bersih, namun rasa masih enak langgananku. Oncom leunca plus rendang menjadi makan siangku. Tidak lupa sambal khas sunda yang manis semanis mojangnya melengkapi laukku. Semua kutebus hanya dengan Rp 9rb, coba di Jakarta….

Setelah kenyang saatnya memilih tunggangan. Seperti biasa aku tidak langsung naik, penampilan orang kerja (hem, celana bahan khas orang habis interview) membuatku aman dari tarikan calo. Tampak BPS Legacy mulai beranjak dari jalur ngetem. Stiker khas bis kota Mayasari menempel di depannya. Bandung-Jakarta; Leuwipanjang-Rambutan; AC Ekonomi; PT Mayasari Bakti. AC ekonomi, tidak apa lah. Sekalian ngirit. Aku didekati seorang calo (ternyata kernetnya).
“Rambutan a?”, sapanya ramah full senyum (tp sumpah saya bukan homo!)
“sabaraha?”, jawabku dengan bahasa Sunda tingkat basic hasil gaul di Mayasari plus gaul dengan montir KD.
“35”, jawabnya.
“lho biasanya 30??”
“udah naik a. Patas sekarang 50rb”, ujarnya menunjuk ke Harum.
Akhirnya aku naik ke BPS itu dari pintu belakang. Seat depan sudah penuh, kucari seat jendela. Sayang tinggal baris kanan. Padahal pemandangan sebelah kiri Cipularang cukup indah. Setelah aku naik, naik pula seorang mahluk halus. Dengan mengandalkan ke“Lucky”an ku aku bergumam dalam hati
“manis manis manis”…tapi sayang, si mahluk halus nyangkut ke seat belakangku yang masih kosong.

Bis meninggalkan Leuwipanjang. Di lampu merah Pasirkoja aku beli sebungkus wingko yang baru kumakan setelah di tol. Sialnya, itu wingko enak banget. Tau gitu beli banyak deh.

Seperti biasa bis AC Ekonomi, BPS ini keluar tol Padalarang. Disana ngetem sejenak bersama saudara kandung Karunia Bakti arah Singaparna. Naik beberapa pria, kembali aku bergumam “pait pait pait” Tapi ternyata Andreas Lagi Ga Lucky Lukwira. Pria cepak itu duduk disebelahku. Pas dengan potongan rambutku yang juga ABCD (Abri Bukan Cepak Doang). Berhubung sebelahku bukan mahluk halus, maka aku mencanangkan Tidur Nasional sepanjang arah pulang.

Ngetem di Padalarang diakhiri ketika saudara yang lain Doa Ibu mendorong antrian. Sang Bintang Permata Sari pun melaju (sumpah sampai saat ini saya belum tau mesinnya apa, om Angga bisa bantu?). Dilihat sepintas Padalarang terlihat seperti tem-teman MB dan Hiba Grup dengan diselingi Langgeng Jaya dan Damri bis kota. Pun begitu dengan Cipularang, terlihat seperti jalan tol nya MB grup dan Cipaganti. Primajasa, KarBak, Doa Ibu, MGI, CBU, Travel Cipaganti mendominasi dengan diselingi Harum grup, Saluyu Grup, Budiman dan GR.

Kembali masuk Cipularang sang kernet kembali menggunting dengan senyum ramahnya (kembali, saya bukan homo). Di baris sebelahku tampak 3 pemuda kebingungan.
“kami mau ke Bekasi”
“Bekasi nya mana?”, tny sang kernet ramah.
“aduh abdi tidak tahu kang. Heula abdi telpon yang di Bekasi”
“Bekasi gampang, dari Rambutan banyak Mayasari”, jelas sang kernet. Diiringi senyumku ;-p.
“Bekasi Barat kang, BTC”, jawab si pemuda setelah menelpon.
“oh BTC, kalau gada PJR bisa deh turun disana”, ujar sang kernet.

Selepas percakapan tadi gerakan Tidur Nasionalku diberlakukan. Mataku sempat terbuka ketika sudah berada di trek datar dimana mulai kulihat barisan PK Maduraan plus BMC187 yang sudah mulai ngetan. Kembali aku tertidur. Aku kembali bangun ketika sang kernet keluar dari smooking room dan bilang,
“Bekasi Bekasi, siap-siap a”
Ketiga pemuda itu pun bersiap. Tampaknya ini rejeki mereka, PJR tidak terlihat. Dengan sedikit petunjuk dari sang kernet mereka turun. Aku ingin melanjutkan tidur, tapi perjalananku tidak jauh lagi. Sisa wingko kumakan, lumayan membuat mata melek. Ketika melintas Jatiwarna aku beranjak ke kokpit.
“turun mana?”, Tanya kernet depan.
“Polsek Cipayung a”, jawabku.
BPS pun berhenti di Bambu Apus, aku turun dengan iringan kata “muhun” agak maksa. Sedikit penyesalanku adalah ketika lupa melihat kokpit untuk mengetahui chasis apakah yang kunaiki.

Perjalanan sehari bersama Mayasari Grup yang mengantarku ke Bendera keempat dalam karirku di bidang transportasi.

Mayasari Bakti; Kami memang bukan yang terbaik, tapi kami selalu berusaha menjadi lebih baik

Salam patas

Andreas Lucky Lukwira
@LukwirAndre

 

 

Dari Kota: Jakarta

Jam Berangkat: -

Tujuan Kota: Bandung

Tiba jam: -

P.O: Mayasari Bakti

Harga Tiket:

Kelas: -

Tanggal:


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;