Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Estafet Sengsara (dari pagi ketemu dinihari) mengejar GA-184
———————————————————-

Karena suatu tugas kantor pas hari Senin dan dapat jatah tiket Garuda jam 8.55 akhirnya setelah menimbang-nimbang kondisi pantura, perjalanan ke kantor, pick up barang/toolset dan batas chek-in maka kuputuskan balik ngulon diluar kebiasaan (yakni estafet pagi dan ijin istri sudah clearence). Hitung-hitungan waktu maka saya harus sampai Jkt sebelum jam 5 subuh tidak boleh kurang. Flasback Jumat sebelumnya (25May12) hunting tiket Senja Utama dari Semarang untuk Minggu (27May12) sudah Sold Out menambah alasan estafet.

Start : 07.45 menumpang  Bus Mini (Pati – Jepara) dari pertigaan Waturoyo (Margoyoso, Pati)
Lanjut Pati – Semarang dengan PO Jaya Utama 7517? (body New Armada) start Terminal Sleko Pati jam 09:00 sampe Semarang 10.30 an. Jayut bumel masih dengan sytle ngeblong, gerakan mepet yng ciamik. Tiba di terminal Terboyo clingak-clinguk lupa kalau bis ke Barat dah pindah ke Mangkang (koq baru nyadar ya? memoryku full maklum wis tuwek)

Akhirnya naik shuttle Bis Mini Line jurusan Term Mangkang, diatas bis mini melihat Nusantara Patas Cirebon meluncur masuk terminal (sudah niat coba Nusantara Jetbus RK8 ini malah kurang berjodoh) Bis berjalan superlelet sepi penumpang ditambah kemacetan proyek flyover  Kalibanteng sampai Mangkang jam 11 lewat.

Masuk ke Terminal Mangkang pertama kali (untuk sengaja singgah) Loket NS patas masih tutup (hari minggu pas tutup atau hari lain juga masih tutup). Menuruni tangga licin dari lantai 2 interchange area bus mini dan bus AKAP/AKDP hanya terlihat new Ismo jurusan Solo.

Opsi lain adalah patas Coyo Semarang Tegal (Rp 40.000), begitu selesai transaksi melintas ke timur Coyo dengan body EvoNext New Armada warna crem edisi ulangtahun PO Coyo (kalau dapat yang ini boleh juga nih) Jam 11.30 calon armada datang body new Armada (entah model apa?). Ternyata drivernya jos gandos, style mengemudi tidak kalah dengan driver Muriaan.

Selah tipis, late brake dan goyangan lincah malahan hampir-hampir cium pantat truk box. Jarak tipis menyisakan beberapa centi saja. Jes, jes, jes…. secara reflek mulutku menirukan suara rem.  Kaki pun gemeteran. Tidak menyangka sytle Coyo Patas yang dibawa Mas driver muda ini berbeda jauh dengan pengalaman sekali naik patas Coyo beberapa tahun lalu, yang terkesan lelet dan minim manuver.

Lingkar kemudi masih pakai Mitsubisi, mesin belakang, stik kopling tinggi hampir sama dengan tinggi stang.  (ini tipe BM atau RM , mohon koreksi rekan) tarikan jos entah mesin sudah dicanibal dengan mersi kah?.

Depan RM Pantes pengerukan jalan. Ruas Pekalongan-Comal makin runyam dengan perbaikan 3 jembatan di Tirto, Pait dan batas Comal. Cres dengan muriaan Angkatan Pagi Pulogadung, Bejeu AP Selempang dan 2 Scorking.

Lepas Pemalang, seorang ibu (mungkin) pegawai ticketing Coyo yang ikut nebeng maju hendak turun. Terjadi obrolan antara crew tsb… Mas Driver bercerita dengan meluap-luap kalau pernah satu saat mengalahkan (Take Over) Haryanto dan membalap Nusantara Patas.

Sampai Term. Tegal makan Nasi padang dekat loket Nusantara Patas. Nasi+Terong+Ayam Bakar=11.000. Lanjut jamak shalat.Sambil tanya armada AC ke Jkt baru ada sehabis maghrib (jam 7 an). Bus Jakarta hanya ada Menara Jaya livery Kuda lari (JarJay). Penumpang cuma segelintir hanya terlihat 3 atau 4 sewa. Apakah harus  naik bus ini saja? Duit peron 500 sudah kusiapkan untuk kembali masuk terminal, pikiran kembali berubah. ya-tidak-ya-tidak?

Sekitar jam 16.15 sore masih ragu melanjutkan pakai apa, kembali muncul ide ke Stasiun Brebes. Berharap keberuntungan dapat tiket duduk seperti pas goshow balik lebaran 2011.

Naik bis mini satu pintu mirip bis Jetak-Jepara untuk menuju ke Sta.Brebes dengan hasil jawaban dari mbak loket bahwa tiket Cireks ludes. (payah cuma wasting time). Duh… terpaksa harus ke Cirebon guna melanjutkan estafet.  Kemudian berjalan kaki ke area alun2 Brebes sambil sesekali tengok ke belakang. Lama menunggu belum satupun bus lewat, apa tadi si Menara Jaya sudah terlewat?

Jam 18 kurang akhirnya muncul bis lawas body putih yakni PO Mios. Yup segera naik,  cuma terlihat 6 sewa termasuk saya. Bus bertujuan line : Solo-Semarang-Pkl-Tgl-Crb-Bandung ini bermesin Hino AK. Pada sebelah kiri mesin dipasang bangku panjang menghadap ke tengah. Walau glondang (istilah bus kosong) bus tetap dipacu kencang terbukti sanggup nutul angkatan sebelumnya yakni Sahabat warna abu-abu strip merah.

Pak Kondektur nyolek, uang 10 ribu dengan pedenya kusodorkan “Cirebon pak”. Ternyata ongkos seharusnya 13ribu, kembali saya kasih lembar 5 ribuan. Sambil memberi kembalian dia bilang, “gak langsung bandung wae kang” menandakan minimnya sewa. “Saya mah ke Jakarta pak.”

Sampai Cirebon jam 19.15 Kondisi terminal gelap gulita, jalan masuk rusak parah, tidak ada peningkatan berarti masih persis pas estafet jaman kuliah dulu. Satu bis mulus terparkir di dekat lampu merah membua ku penasaran. Setelah selesai sholat di masjid belakang Termnal ku memberanikan mendekati bus tsb walau terlihat beberapa awu-awu bergerombol.

Bus Pariwisata I Gde Bali dengan livery mirip PO Asli Prima, corak-corak sayap warna hijau semu biru. Armada Mercedes OH1526. Lho kok bisa ngetem? dari obrolan crew bahwa bis bali ini habis sewa ke Jakarta kemudian dari pada balik glondang ke Bali disuruh cari penumpang oleh ownernya. Makanya bus ini menawarkan jasa jurusan Semarang, Solo, Surabaya. Campur baur asal ke timur. Selesai ambil foto sebentar aku harus kembali fokus ke Jakarta.

Kemudian menyebrang menuju spot ngetem  bis Bandung/Jakarta depan terminal. PO. Setia Negara warna orange terpampang tulisan Priok dikaca belakang. Begitu aku mendekat awak  PO dan awu-awu pun menawarkan Jakarta,Jakarta.  Kemana-kemana? beberapa orang meghampiri. “Ini pulogadung, Lebak Bulus, kemana saja diantar”. Hah ?? Sedikit ogah-ogahan saya jawab:  “Yang AC tidak ada?” Dia menjawab kalau jam segini tidak ada yang AC sambil dia berlalu kemudian dipanggillah seseorang yang katanya satu orang pengurus PO. (Oh berarti pertanyaan tentang Armada AC tadi cukup ampuh untuk meredakan para Awu-awu…).

Dari pada gak final-final akhirnya kuiyakan ajakan pengurus PO tsb tentang tawaran Jakarta Pulogadung tadi. Aku balik bertanya: “kenceng gak Mas?” Dia malah nyengir sambil diplomasi “ya tergantung jarak selahnya mas, bisa kenceng bisa kalem”

Beberapa saat kemudian driver bersiap naik, “ayo berangkat mas” ajak mas tadi.

Jalur Cirebon-sampai Palimanan ternyata bis alon-alon.  Seorang penumpang yang duduk belakang driver ngomel-ngomel. Baru setelah Palimanan bus berjalan kencang. Klakson terompet berbelegar, 3 orang crew bahu-membahu mencari sewa pada titik-titik tertentu.

Memperhatikan cara menawarkan jasanya mirip para calo tiket merayu penumpang di terminal-terminal.  Begitu ada titik keramaian bis yang semula kencang direm mendadak, crew turun bercakap dengan calon penumpang, sayang kebanyakan calon penumpang bertujuan Slipi/Merak yang berarti jatah PO saingan “Sahabat”.

Informasi selah bis dikorek dari para penjual asongan. Penyebutan armada pun dengan nama-nama tertentu seperti dewa ruci, jaringan dll. Rupanya info inilah yang semakin meluapkan gas pancal pak driver mengejar armada depan. Aksi selanjutnya oleh pak driver bis dipacu kencang. Para penumpang perempuan banyak yang menjerit ketika bus dipaksa rem mendadak, gerakan frontal menyelah antar truk yang tipis.
Jelas-jelas belum cukup space untuk nyelah, body panjang bus seperti dipaksa masuk sambil membunyikan klakson terompet.

Cresh dengan Muriaan Sore NS SE Biru Dongker, juga NS Marco High Deck 1526 dll. Hadeuh … dasar nasib estafet ..  sampai cresh dengan muriaan angkatan pagi dan sore….

back to Setia Negara…

Alhasil Sahabat Slipi/Merak berhasil disusul, kemudian Menara jaya yang tadi terlihat ngetem di Tegal. 3 PO cirebonan bertarung para penumpangpun dibuat konsentrasi hadap depan sambil berpegangan handrail. Crew di pintu memberi aba-aba sambil sesekali kompor mledug.

Antrean macet setelah RM Taman sari bus nekat goyang kanan sendirian, tercatat 2 kali goyang kanan terakhir ngemel 20rb ke petugas yang ngotot menghalangi bis. Sampai-sampai para asongan dalam bus ikutan koment “pura-pura wae lah”, can nyaho sepi yeu?”

Tem-teman tol Cikopo.

Baru sejenak parkir satu Setia Negara lain (caya-caya) ikut ngetem. Berarti ini tadi ikut jadi korban pas busku goyang kanan kah?. Dua buah makhluk halus bertujuan Lebak Bulus perpindah bis. Berusaha duduk disebelahku, meleng pura-pura gak tahu tas kutaruh ke jok seat. Caya-caya pun jalan duluan.

Tol Cikampek kulirik speedometer pada jarum antara 110-120 kpj, diselingi rem halus dan goyang zig-zag, penumpang perempuan kembali riuh. Di salah satu kolong tol JORR pak driver yang super joss menyerahkan kemudi ke mas kenek (mas pengurus PO tadi). Haha.. si kenek tidak kalah josnya. Kemudian unloading di pasar Cakung, halte Bor terus menuju PG.

Landing depan Pulogadung jam 01.00, langsung berjalan masuk terminal melewati jalur busway grid muriaan pagi ngetam. Baru pesan popmie dan kopi susu, kembali Setia Negara Caya-caya baru masuk dan menuang penumpang. Tidur-tiduran di media stop parkir dekat Mushola belakang. Harapan langsung ke kantor gagal paling  gerbang masih terkunci.

Jam 2.30 mulai masuk pasukan SJ/DS

***

Teng-teng !! saatnya bergegas dari Pulogadung.
Jam 3.40 pas bergegas naik 57.  Begitu bayar ongkos …
zzZZzz

Jam 4.30 melek-melek sudah di Blok M.
Hah..berarti tadi tertidur di kabin Mayasari R-57 langsung meraba dompet dan hp… untung masih utuh semua.  Hehehe..

Huhff benar-benar estafet yang melelahkan walau berbonus klimaks top speed @120 kpj dengan Setia Negara.

====

Sekedar share cerita perjalanan secara estafet dari timur (pati) ke Jkt.  Rasa sengsara (rekoso) dan Wasting time sdikit terobati oleh syle “Ngeblong” driver PO-PO yang saya naiki.
Beruntung deadline jam 5  terpenuhi walau keleleran di PG dari jam 1 dinihari.

Namun percobaan dengan PO-PO estafet pagi masih layak di-explorasi sampai adanya line khusus Muriaan pagi ke barat. (Ngarep.Org)

1. Waturoyo-Sleko Pati (Bis 3/4 Pati-Jepara = Rp4000)
2. Pati-Terboyo (PO Jaya Utama = Rp10.000)
3. Terboyo-Mangkang (Bis 3/4 superlelet = Rp5000)
4. Mangkang-Tegal (Po. Coyo Patas = Rp40.000) “Coyo 21 Very recomended”
5. Tegal-Brebes (Bis Mini/Tuyul = Rp2000)
6. Brebes-Cirebon (Po. Mios = Rp.13.000)
7. Cirebon-Pulogadung (Po. Setia Negara = Rp40.000) maaf stiker/tag SN lupa “Sri…”
8. Pulogadung-Blok M (Mayasari R57 Rp3000) lanjut kopaja19.

Salam,

Umam, Jkt-Tayu PP

—————————————————-

Dari Kota: Pati

Jam Berangkat: 7:45

Tujuan Kota: Jakarta-Pulogadung

Tiba jam: 1:0

P.O: Jaya Utama

Harga Tiket: 10000

Kelas: Ekonomi 2-3

Tanggal:

 


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Ditulis oleh

'Rembang, Kudus, jakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;