Rabu, 16 Mei 2012
Long Weekend di tengah bulan Mei, hmmmm……… coba apa lagi yaa?? Begitu bisik batinku. Kondisi libur panjang membuatku sedikit santai, tidak terlalu terburu-buru untuk harus tiba di rumah pagi-pagi sekali. Menimbang kondisi neraca keuangan yang sedang defisit, maka alternatif “jajanan” kali ini harus yang bernuansa ekonomis.
Kutukar dua lembar kertas biru dengan secarik kertas yang dicoret-coret di beberapa bagiannya, turut serta dengan kertas besar ini, selembar kertas hijau dan selembar kertas ungu menjadi bagian dari pertukaran tadi. Perjalanan kali ini kupercayakan pada Jetbus hijau RK 8 langsiran bulan tiga tahun ini. Di dalam kabin yang dilengkapi sekat pemisah antara majikan dan pelayan ini terjajar rapi sepuluh deret bangku di sisi kiri, dan dua belas bangku di sisi kanan. Dengan konfigurasi seat 2-3, maka total 56 bangku menjadi kapasitas maksimal dari bus ini. Sebilik kecil Toilet menjadi pelengkap di ujung kiri belakang bus, tepat di sebelah jatah kursi yang akan kutempati.
Di dalam kabin Jetbus RK-8
Pukul 17.00 lewat, menuju setengah enam, aku sudah boarding, kebetulan pula AC sudah dinyalakan sehingga tidak perlu khawatir bakal sauna di dalam kabin Royal Coach E ini. Dua buah LCD TV yang sedang menampilkan aksi panggung OM Monata hanya menjadi hiburan sambil lalu bagiku, karena masih ada hiburan lain yang lebih mengasyikan apabila melirik ke jalan Raya di depan Pool yang parkirannya hanya pas untuk dua bus ini.
Satu hal menarik adalah tepat di sebelah bus ku terparkir Purwo Widodo Prestise, dan di dalamnya pun sebagian bangkunya mulai terisi. Jam lima sore lebih, biasanya Purwo Widodo sudah berada di sekitaran Arjawinangun-Cirebon, namun sore itu masih ngetem di kawasan Pulo Gadung.
Bersanding Mesra
17.41 Busku mulai beranjak meninggalkan sarang kecilnya menuju ke arah barat, melewati Terminal Pulo Gadung, kemudian memutar arah di depan Gedung Pertemuan Arion. Saat kembali melewati depan Terminal Pulo Gadung, tampak Setia Negara setra biru “Hercules” bersiap take off melalui runaway Cempaka Mas.berbarengan dengan itu, Sebuah Harum tampak meninggalkan terminal menuju arah Cakung. Apakah Harum ini dicarter oleh Agen Handoyo seperti biasanya atau memang mencoba melewati rute yang tidak biasanya, aku tak pernah tahu karena busku melaju duluan di depan bus yang semestinya mengangkut penumpang Jakarta menuju Bandung Leuwi Panjang ini.
Tepat di lokasi sebrang pool, bus berhenti untuk proses kontrol. Cukup lama waktu terbuang untuk mensensus lebih dari lima puluh penumpang di dalam kabin Jetbus HD ini. Seperempat jam lewat pukul enam petang, bus dengan kode perjalanan TZ03 ini memulai perjalanan lintas malamnya menuju timur. Seperti biasanya, malam itu Jalan Raya Bekasi menuju Akses Tol Cakung masih saja macet. Bersama dengan TZ 03, turut pasrah dalam antrian PK Old Travego livery Nirwana, Raya dengan lampu evobus (Junior Exe??), dan Muncul Legacy-Suryana. Dari arah timur meluncur Malino Putra AC Eko Hino RG, entah pemberangkatan pagi dari Purworejo, atau mungkin dari Lebak Bulus menuju Pool Pulo Gadung.
18.54 Mulut Tol Cakung telah dilalui, bus dihela standard saja, mungkin karena masih serba baru, jadi unsur kehati-hatian mendominasi driving style driver pinggir. Delapan menit waktu dihabiskan untuk mencapai interchange Cikunir, bergabung dengan kepadatan lalu lintas Ruas Tol Jakarta-Cikampek. Dalam kepadatan lalu lintas ini TZ 03 masih mampu mengungguli Sumber Alam non AC Laksana Comfort 291153. Kedua bus beriringan mencoba mencari lintasan paling ‘bersih’.
19.14 Melintasi KM 19, dan masih seperti biasa Rest Area yang konon memiliki pendapatan terbesar se Asia Tenggara ini malam itu berubah menjadi Garasi Pelangi Sinar Jaya. Sebuah MGI dan Sumber Alam Nucleus 3 no body 288316J mengisi daftar kedua dan ketiga bus yang dicentang, berikutnya Sumber Alam 295256 ikut memperpanjang daftar. Malam itu cukup banyak, bahkan tidak dapat dipatahkan bahwa dominasi Sumber Alam Grup masih menjadi pilihan utama bagi warga Mas DuSel (Banyumas dan Kedu Selatan). Di sisi kiri jalan Tol tampak bahwa antrian mengular menuju exit Tol Cikarang sangat panjang, uniknya dari sekian banyak kendaraan yang mengantri, Bus Karyawan Parahyangan Grup dan Sinar Jaya Langgeng Utama tampak memberikan sumbangsih terbesar bagi panjangnya antrian. Terselip diantara antrean kendaraan-kendaraan tersebut sebuah Laju Prima dan Bejeu Scorpion King.
Back to track, lalu lintas sedikit lengang selepas Gate Cikarang Utama, dimana TZ 03 sempat beradu sprint lawan OH 1518 berbaju Nucleus 3 dibawah manajemen PO Gunung Mulia. Tampak RK 8 ini cukup kewalahan meladeni permainan bus yang diatas kertas seharusnya mampu dilewati dengan mudah ini. Perlahan namun pasti Pasukan Wonogirian bernomor registrasi AD1714xx ini makin menjauh.
19.54 Busku meninggalkan Tol menuju Karawang Timur. Empat bangku yang tersisa segera terisi penumpang dari Agen Karawang. Bahkan penumpang yang naik lebih banyak dari jumlah bangku yang tersedia. Pengaturan penumpang lebih ini akhirnya diselesaikan dengan turut dikaryakannya area-area cadangan di dalam bus.
20.20 Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan arteri yang cukup sepi . Cikampek dilalui dengan santai, barulah setelah lepas dari Cikampek power mesin dapat dioptimalkan. Dari kondisi jalan yang cukup lengang, tampaknya exit Tol Dawuan ataupun Cikopo macet, sehingga banyak kendaraan yang masih terjebak di sana. Saat berjalan sendirian, dari kanan muncul Mulyo Indah body Antero new Livery yang membalap TZ 03. Kedua bus cukup lama bertarung, sebelum akhirnya setelah hampir setengah jam menikmati pemandangan ekor Antero, busku berhasil menyalipnya dari sisi kiri.
21.22 Melintasi Pasar Sukamandi, Mulyo Indah berhasil di depan lagi, Bus dengan body yang tampak “Ceper” dibanding Si Jetbus Bongsor itu kemudian memandu TZ 03 hingga sampai ke Peristirahatannya di RM Taman Sari.
21.50 TZ 03 berhenti di Rumah Makan Nusantara, sebuah Rumah makan yang berada di sebelah SPBU langganan Bus-Bus malam (di sebelah Rumah Makan ada Restoran CFC). Rumah makan bersih dengan menu yang berasa, dan harga terjangkau menjadi nilai plus dari Pelayanan PO pendatang baru ini. Bersama dengan TZ 03, terparkir pula Giri Indah Legacy, bus yang lebih akrab dengan predikat sapu jagat ini mampu berangkat lebih awal karena tingginya animo penumpang pada Long Weekend kali ini.
Giri Indah Legacy
22.40 Lima puluh menit waktu yang dihabiskan dalam pemberhentian kali ini, selain makan, juga mengasup bahan bakar. Lingkar kemudi kali ini dipegang driver ke-dua. Pitstop yang cukup lama, atau mungkin malah sangat lama menurutku. Laju bus yang konstan membawaku terlelap tak berapa lama setelah meninggalkan rumah makan. Sebelum benar-benar terpejam, aku ingat Mulyo Indah Antero yang tadi sprint bareng, berhasil dilewati kembali saat sedang membuka kap mesin.
Sekitar pukul setengah dua dini hari aku bangun, posisi kami sudah berada di wilayah Tegal, di depan bus tampak Harta Sanjaya AG1405GF yang sedang ditempel ketat sebelum akhirnya di overtake. Tak seberapa jauh di depan tampak Bayu Megah, bus Muriaan reguler dengan ‘appearance’ yang sedikit berbeda dibanding tetangga-tetangganya. Kendati penampilannya berbeda, namun sejatinya Bayu Megah tetaplah Muriaan. Beberapa jembatan dilewati tanpa ada pengurangan kecepatan secara signifikan, beberapa lubang jalan diterjang oleh kaki-kaki buatan Jepang yang menopang chassisnya. Cukup lama kami menyaksikan permainan panas “Mas Bayu” (tanpa Yuanito tentunya……), sebelum akhirnya faktor usialah yang memindah posisi kami menjadi di depan Bayu Megah. Hmm aku yakin, kendati kami sudah di depan, pasti “Mas Bayu” masih menempel di belakang.
2.15 Saatnya menapaki jalan yang dibenci, namun terkadang menyuguhkan aksi menarik, yaa itulah Lingkar Pemalang. Sempit dan buruknya kualitas bentangan aspal selalu menantang perpaduan power mesin, kelenturan suspensi, kestabilan body, dan tentunya skill dari Sang Juru Mudi. Dedy Jaya marcopolo made in Tempuran Magelang menjadi santapan pembuka. Bus dengan chassis front engine itu sukses dilewati tanpa perlawanan. Sebelum jalan menyempit jadi dua lajur kres, Si Ijo TZ03 dijejeri oleh Bayu Megah, benar dugaanku bahwa sekencang apapun TZ 03 melaju, Bayu Megah akan tetap menempel, bahkan kemudian dengan agresif berhasil melewati kami tepat sebelum penyempitan jalan. Dari belakang kusaksikan sendiri betapa gaharnya determinasi Bayu Megah melewati kendaraan-kendaraan di depannya. Beberapa kendaraan angkut barang menjadi figuran berikutnya.
Lepas Lingkar Pemalang Dewi Sri Comfort “Joker” hanya “naik panggung” sekelebat saja, kemudian Bus jarak Jauh Rasa Sayang Jakarta-Bima dengan body Evolution berikut bagasi “Hi Deck”nya juga hanya menjadi figuran tatkala Rasa Sayang sedang start melanjutkan perjalanan panjangnya setelah rehat di SPBU langganannya.
2.46 Traffic Light Wiradesa membantu kami untuk kembali menjejeri Bayu Megah, dan bahkan selanjutnya meninggalkannya karena lintasan kami lebih bersih. Di depan Bayu Megah tampak GMS body Genesia juga tercentang karena tersangkut “Grandong”. Tampak tak seberapa di depan ada Gunung Mulia dan Ramayana AC Vip, sepertinya bakal segera tercentang. Pandangan under estimate-ku terhadap kedua bus itu ternyata salah. Terbukti hingga ujung timur Kota Pekalongan, kedua bus ini masih mampu memimpin kami di depan. Justru Haryanto Phoenix yang berhasil kami dahului. Ramayana sendiri baru bisa diovertake di tanjakan Sembung, sementara Gunung Mulia justru semakin tidak terkejar.
3.50 Kebersamaanku dengan TZ 03 berakhir saat bus menepi ke kiri di pertigaan dekat Rel Kereta di Weleri. Atas kebaikan driver tengah, mereka mau melewatkan busnya masuk kota Weleri.
Di seberang, tempat ngetem bus Weleri-Sukorejo sama sekali belum ada bus ngetem, hanya seorang ibu yang hendak ke Pasar Sukorejo yang sudah stand-by di sana. Tak sampai lima belas menit bus yang dimaksud datang, namun bus masih ngetem dan baru beranjak pukul 05.00. Penumpang yang mayoritas langganan mengisi sebagian besar bangku bus ini, bahkan dalam perjalanan penumpang terus bertambah hingga mengisi lorong tengah.
Angkatan pertama dari Weleri
05.50 Tiba di Bunderan Sukorejo, sebuah bus Citra BSM menyambutku, menjadi konektor terakhirku menuju Parakan. Bus dengan satu driver dan satu kondektur tanpa kernet ini meninggalkan Sukorejo dengan santai, alat komunikasi HP menjadi media pengatur slah. Menikmati udara pagi pegunungan akupun terkantuk-kantuk. Hingga kemudian selepas Candiroto aku terbangun, bus berhenti di tepi jalan, tanpa ada pemukiman. Sebagian penumpang mulai protes, sementara crew yang masih ada di bus hanya drivernya. Usut punya usut, beberapa saat sebelumnya kondektur muda ini menerima telpon, kemudian terlihat ketegangan dalam pembicaraan, hingga klimaksnya HP-nya dilempar keluar dari bus, sementara dia turun lalu pergi entah kemana. Duhhh…… sepertinya gawat.
Bus berikutnya segera menyusul, PO Dua Putri, penumpang tujuan setelah Parakan dioperkan ke bus tersebut, sementara penumpang tujuan Ngadirejo-Parakan masih tetap di bus ini, karena bus ini akan perpal pulang ke garasi di Parakan.
“Nyonge tombok setoran maning kiye” perkataan ini semakin menumbuhkan rasa simpatiku pada Pak sopir, memang kalau perpal tanpa ada kerusakan konsekuensinya yaa harus tetap setor. Ok lah pak, Tuhan maha adil, tak kan sekalipun dilupakanNya setiap ciptaanNya.
07.00 Aku menjadi penumpang terakhir yang turun, tepat di depan Pasar Kayu Parakan.
Sekian…..
Zentrum TZ03 Pulo Gadung-Purwodadi
Salam
Yeremia A P (Bukan Karoseri)
Dari Kota: Jakarta
Jam Berangkat: 17:41
Tujuan Kota: Weleri
Tiba jam: 3:50
P.O: Zentrum
Harga Tiket: 70000
Kelas: AC Ekonomi (kursi 2-3)
Tanggal: 05/16/2012












Komentar