Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Rabu 27 Juni 2012

Hari itu aku sedang menunaikan tugasku di Sidoarjo Jawa Timur. Saat istirahat siang chating dengan istri, yang lagi curhat kalau lagi suntuk dengan kerjaanya. Langsung saja kutawarkan untuk jalan-jalan agar suntuknya berkurang. “Mang mau kemana yang?” kata Istriku. “Kemana saja terserah yang penting bisa naik bus”, kataku. “Kita ke Jepara aja tah, lumayan ada obyek wisata sekaligus bisa mencoba bis-bis muriaan yang terkenal dengan armada mewahnya!”, lanjutku. Percakapan via media chattingpun terpotong dikarenakan aku harus melanjutkan aktivitasku mencari nafkah. Malamnya percakapan suami istri yang hampir di tengah minggu selalu berjauhan ini berlanjut.

Jepara tampaknya sudah menjadi tempat yang dituju, tinggal menggali cara menuju kesana mula dari naek apa, dari mana, dan pakai dana dari mana? Hehe. Dana ternyata sudah tersedia, kebaikan hati pemerintah kepada pegawainya yang mencairkan gaji ke 13 untuk istriku bisa kita gunakan sebagai dana non budgeter touring kali ini :D

Dikarenakan sinyal operator gadged dan koneksi internet di hotel tempat aku menginap cukup memprihatinkan maka istrikulah yang mendapat tugas mencari nomor telp agen2 bis di terminal poris. Lewat bantuan mbah google akhirnya istriku mengirimkan nomor2 agen bis yang kuminta. Sekitar jam 9 malam, percakapan kamipun ditutup dikarenakan kondisiku yang sudah sangat lelah setelah paginya harus berangkat sebelum subuh menuju bandara Soekarno Hatta.

Kamis 28 Juni 2012

Menjelang sore hari tugasku berbagi ilmu dan pengalaman di salah satu pabrik karung plastik yang berlokasi di Sidoarjo tersebut berakhir. Sambil menunggu driver yang mengantarku ke bandara Juanda akhirnya aku mengontak agen Shantika Poris. Untuk Jepara ikut bis no 5 ada seat 13-14 yang siap disediakan untukku jika aku menyetujui tarif Rp 150.000,- yang ditawarkan. Coba contact Nusantara harga ternyata sama Rp 150.000,- selama masa liburan dengan seat nomor 25-26.

Dengan pertimbangan kursi yang lebih depan dan status Shantika sebagai raja di daerah Jepara maka akupun kembali menghubungi nomor 081585589394 untuk mengamankan seat 13-14 untuk hari Jumat tanggal 29 Juni 2012. Entahlah kenapa hanya 2 PO itu yang kuhubungi, padahal masih ada Bejeu, Haryanto dan Muji Jaya yang bisa menjadi alternatif mengantarku ke Jepara..

Jumat 29 Juni 2012

     

Dengan alasan semalam pulang malam dan dilanjutkan nonton Italy vs Jerman maka jumat pagi ini kuputuskan untuk membolos, toh di kantor kolega2ku pada tidak ada ditempat.. hehe. Sekitar jam setengah 3 sore kamipun berjalan kaki menuju terminal poris yang memang cuma butuh waktu sekitar 5 menit dari rumah. Sampai di terminal tampak bis-bis muria raya sudah keluar dari tempat peristirahatannya untuk dilangsir menuju area keberangkatan di bagian tengah terminal. Lapor ke agen ternyata mbak shanti yang akan mengantarku ke Jepara masih belum nongol di area keberangkatan.

Baru bejeu B 10, Haryanto Phoebus HR 29 dan Selamet yang sudah on position. Jam 14.50 merapatlah bis Shantika Merah MB 1525 Air Suspension beregristrasi kepolisian H 1741 BG yang sudah tidak asing lagi dimataku. Lha gimana mau asing wong hampir tiap hari liat itu bis Shantika saat berangkat berangkat menuju kantorku di Jakarta Selatan. Aku baru tau ternyata meski di poris itu paling tidak ada 2 atau 3 bis Shantika yang biasa parkir yaitu nomor 5, 5B dan 5C, sekali-kali 8B tapi ternyata hanya si nomor 5 yang start dari poris, yang lainnya cuma numpang mandi dan istirahat di terminal Induk Tangerang tersebut. Mungkin di tempat pemberangkatannya tidak menyediakan kamar mandi dan tempat istirahat buat bis kali ya ?? hehehe. (Btw, yang 5B start dari mana ya ? Mungkin rekan-rekan bisa membantu!)

Setelah memarkir bisnya crew dari shantika nomor 5 ini malah pada keluar untuk mandi, hehehe. Jam 15.15 WIB seluruh penumpangpun dipanggil untuk segera menempati posisinya masing-masing. Kuamati interiror bis yang cukup mewah ini tampak dominasi striker dari tetangga ada di interior bis ini. Mulai dari toilet sampai pintu sekat antara kabin penumpang dan ruang kemudi. Pantas saja banyak yang bilang kalo Shantika itu bisnya tetangga.. hehehe, meski aku sendiri tidak setuju dengan hal itu, buktinya di bagian eksterior pintu depan sebelah kanan dan kiri saling berbagi stiker antara komunitas kita dan tetangga.

Jam 15.35 akhirnya mbak shantipun keluar meninggalkan terminal poris, hampir bersamaan dengan Pahala Kencana dan Rosalia Indah Ponorogo. Si Haryanto sudah berangkat duluan, tinggal bejeu dan NS 71 yang masih menunggu para penumpangnya di Poris. Sempat berhenti beberapa kali di pinggir jalan untuk mengambil penumpangnya yang tidak bersedia ikut meramaikan terminal Poris Plawad yang baru saja mendapat penghargaan sebagai terminal terbersih di Indonesia. Sekitar 1/2 jam berjalan sampailah bus kami ke terminal yang sempit dan sangat padat yaitu Kalideres. Di sini beberapa penumpang naik dan juga terjadi pertukaran penumpang antara busku dengan shantika 8B warna biru jutusan Pati-Tayu yang memulai garis start di Kalideres.

 

Di kalideres ini kembali busku bertemu dengan Haryanto, Zentrum, PK, Laju Prima. Tepat jam 16.30 akhirnya bus kami mulai dipersilahkan meninggalkan terminal kalideres. Di perempatan Cengkareng belok kiri dan selanjutnya masuk tol lingkar barat melalui pintu tol Rawa Buaya. Keluar pintu tol Kapuk untuk mengambil penumpangnya di agen Kapuk, disana kembali bertemu HR 29 dan Shantika 8B. Kembali masuk tol Wiyoto Wiyono, dilanjutkan masuk tol dalam kota yang langsung disambut dengan kemacetan. Di bilangan semanggi bus yang kami naiki kalah licin dalam mencari celah kemacetan dibanding asli prima, Mayasari Bakti, Blok M – Bekasi dan feeder busway Kemang Pratama. Baru sekitar jam 18.00 shantika merah kami bisa memasuki tol Jakarta-Cikampek.

Bisa berjalan lancar sebentar selanjutnya kembali dihadang kemacetan mulai km 3. Kemacetan mulai terurai (meski masih cukup padat) lepas gerbang tol Cikunir yang merupakan titik pertemuan dengan Jalan tol Lingkar luar. Baru bisa bernafas dari kemacetan mbak shanti langsung disesaki dengan residu hitam dari pembakaran mesin Handoyo berbodi Trisakti. Selanjutnya mantan penguasa bus pariwisata di Jakarta Hiba Utama kembali menyungkurkan bisku yang tengah berjuang di membelah kepadatan tol Jakarta Cikampek dengan aksi menyusur badan jalan.

Ternyata bus Cirebon Setia Negara juga gak mau kalah dengan Hiba Utama, kali ini dengan mengambil jalur 4 shantika merahkupun menyerah. Dilanjutkan dengan aksi berani Selamet Kuning yang sama-sama berangkat dari poris memotong jalan penguasa Jepara ini. Sampai gerbang tol Cikarang Utama busku yang merupakan anggota skuadron pasukan bus elit muriaan hanya mampu menaklukkan Agramas Bogor-Cikarang dan bus karyawan Parahyangan. Baru setelah antri di gerbang tol Cikarang, Handoyo yang sebelumnya menjadi bis pertama yang menaklukkan shantika merahku di tol Jakarta-Cikampek bisa kembali di OT.

Bisa dibilang gerbang tol Cikarang merupakan batas wilayah padat dan wilayah lengang jalan tol di malam itu. Di sini kembali busku mampu melewati si Selamet kuning ditambah Sinar Jaya RS Evolution di Km 35. Raya Supertop MB 1518 juga bisa ditaklukkan dengan mudah. Di rest area km 39 mbak shantiku minggir untuk mengambil 3 penumpang terakhir. Heran juga aku dengan ini bus, penumpangnya banyak banget, tercatat di kursi ruang kemudi ada 3 penumpang, di belakang kursi deret terakhir ada semacam bangku yang isinya ada 4 penumpang. Entah semuanya penumpang legal atau tidak, soalnya kontrol yang dilakukan petugas checkernya juga relatif sangat longgar, sangat berbeda dengan checker Pahala Kencana yang naik keatas dan lampu kabin harus hidup.

Jam 19.10 WIB kembali masuk ke jalur cepat tol Jakarta-Cikampek. Sempat menaklukkan perlawanan Gapuraning Rahayu sebelum akhirnya diasapi Arimbi Merak-Bandung di Km 68. Memilih keluar via gerbang tol dawuhan bersamaan dengan Shantika berbody setra tanpa kode. Menyusuri kawasan industri Cipularang dalam kondisi macet. Saat mengantri dengan sopan di kemacetan langsung saja di blong oleh GMS, Sinar Jaya (Jakarta – Pekalongan), dan saudaranya sendiri Shantika setra warna biru yang tadi ketemu di pintu tol. Di daerah ini sempat berpapasan dengan bus kondang Sumber Selamet yang sepertinya dipakai pariwisata. Masuk cikampek jalanan mulai sedikti lancar, karena tidak ada aksi menawan dari driver pinggir shantika merah yang kami naiki akhirnya akupun tertidur. Terbangun saat tercebak kemacetan di Ciasem. 5 menit, 10 menit tidak bergerak akhirnya akupun kembali tertidur. Terbangun ketika lampu kabin menyala dan bis terparkir di Rumah Makan Barokah sekitar jam 21.50.

Langsung saja masuk dalam antrian untuk segera memberi jatah cacing dalam perut yang sudah berteriak karena rangsumnya terlambat selama 3 jam. Kesan untuk rumah makan ini adalah menu makanannya sederhana dan kontrolnya sangat ketat. Koh Hari sebagai ahli nilep ayam goreng juga pasti akan mati kutu disini, lha wong ayam atau terus dadarnya diambilin petugas.. :) ) laughing. Usai makan dan Sholat magrib + Isya akupun kembali naik ke bus. Ternyata aku dan istriku menjadi penumpang terakhir yang naik bus, jadi gak enak sendiri.. hehehe. Padahal baru 25 menit aku meninggalkan bus lha yo kok cepet banget istirahatnya, mungkin karakter penumpang muriaan yang pinginnya serba cepat.

Jam 22.20 bendera start di pitstop pertama dikibarkan. Lingkar kemudi sudah berpindah ke driver tengah. Cukup berharap ada peningkatan tensi lari dari Shantika merah ini, karena biasanya kedigdayaan bis malam berada di driver tengah. Baru masuk sirkuit pantura bus langsung di over take oleh Garuda Mas. Berkonvoi dengan 3 bus Pariwisata PO NV APD melahap makanan ringan seperti sumber alam. Saat bisa melewati 1 dari 3 bus PO pariwisata tersebut tanpa ampun Shantika merahku disungkurkan oleh PO Bhineka. Tak lupa bus Cirebonan tersebut juga menyingkirkan 2 bus pariwisata didepan busku.

Sempat berhenti rame-rame saat ada salah satu saudaranya mengalami trouble. Kembali berjalan setelah cuma say halo pada rekannya yang bermasalah. Ternyata bis yang kami tumpangi memilih jalan lurus di pertigaan Lohbener daripada bis2lain yang rata2 belok kanan untuk menuju tol Palimanan. Menyusuri jalan Daendels yang cukup sepi membuatku mengantuk dan akhirnya tertidur. Yang aku herankan kenapa aku bisa tidur begitu nyenyak, bangun2 sudah berada di Gringsing saat busku ditaklukkan oleh bus pariwisata Symphony Nusantara. Ternyata bangku  bermerk Hai berbalut bahan sintetis yang cukup keras dan sering membuatku melorot ke depan tersebut tetap mampu membuatku dan Istri tidur nyenyak diatas bis. Hehehe.

Jam 03.30 mbak Shanti merah yang kunaiki masuk pitstop ke 2 di Rumah Makan Bukit Indah. Cukup 5 menit berhenti untuk kontrol dan ganti driver langsung berangkat lagi. Selama perjalanan crew terus mengontak bis didepannya untuk mencari informasi kemacetan di Mangkang. Shantika 8B pun melewati bisku dengan mudah. Hanya satu bus yang mampu dilewati sebelum mencapai kemacetan di lingkar luar weleri yaitu OBL Setra. Macet lagi, ya akhirnya tidur lagi. Hehe. Benar2 acara pindah tidur nih. Terbangun saat busku sudah berada di dalam tol sekitar jam 5 pagi. Jam 05.15 berhenti sejenak untuk sholat shubuh di sekitar Genuk.

Butuh waktu sekitar 15 menit untuk memberikan kesempatan sebagian penumpangnya menunaikan ibadah wajib tersebut. Akhirnya jam 06.30 sampailah busku di Kudus. Penumpang yang arah pati dioper menggunakan suttle. Jam 06.50 masuk SPBU di daerah Mayong. Disini terliat armada Pak kopral gak tau HR berapa dan NS 71 yang kembali mengarah ke Kudus. Entah dimana tujuan akhir dari Pak Kopral dan Nusantara tersebut. Saat isi BBM terjadi pertukaran penumpang. Karena tujuanku kota Jepara maka aku diminta pindah ke bus 5B. Kutanyakan terminal Jepara ke driver, dijawab OK pak.

Melanjutkan perjalanan lagi sampai aku baru dasar sudah melewati kota Jepara. Ternyata busku justru mengarah ke Bangsri, bukan ke dalam kota.. Wkkk, bismania kesasar nih. Ya sudah berhenti sampai bis ini finish di garis akhirnya kemudian balik lagi ke Jepara dengan angkutan umum disana. Jam 08.15 sampailah busku ke Terminal Bangsri lanjut naek angkutan bus dengan roda belakang engkel. Tepat jam 09.00 mendarat dengan selamat di Terminal Jepara. Terminal yang kecil dan sepi, pantas saja meski Shantika memberangkatkan armada sangat banyak ke Jepara hanya 1-2 bus yang masuk terminal ini. Langsung saja aku membeli tiket untuk kepulangan kami di sore harinya.

Pengalaman pertama touring tanpa tujuan ini, meski sebenarnya ini hanya pindah tidur. Semoga nanti malam pulangnya dapat armada yang lebih greng sehingga aku tidak perlu merubah judul Caperku menjadi : Gaji ke 13 Istriku Kuhabiskan untuk tidur di bis bintang 4.

Salam

Hendri

Dari Kota: Jakarta

Jam Berangkat: 15:35

Tujuan Kota: Jepara

Tiba jam: 9:0

P.O: Shantika

Harga Tiket: 150000

Kelas: Eksekutif

Tanggal: 06/29/2012


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Ditulis oleh

''

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;