Ilustrasi (dok. ijonk_album's, photobucket.com)

Ilustrasi (dok. ijonk_album's, photobucket.com)

Indahnya Perbedaan Bila Terbingkai dalam Kebersamaan*)

*) Sebuah Caper Otokritik Monolog

Hasrat hati ingin berganti suasana.  Namun apa daya, kode bis yg menuju terminal terdekat dari rumahku jelas terbaca di sudut kanan atas formulir DP yang tergeletak di meja sang agen, huruf dan angkanya sudah sangat akrab denganku: “B …. X lagi….???”.

Terbesit pikiran ikut yang bertujuan terminal lain, namun yang terbayang, ….ketika nanti sampai kota tempat tinggalku aku harus mengeluarkan isi kocek lebih banyak lagi atau setidaknya membuang waktu lebih lama agar bisa sampai ke rumah dan bertemu keluarga tercinta. Akhirnya….“Ya sudah…pasrah sajalah..” (Kalau begini “Touring is a Journey” or “a Destiny” ya ?)

Sampai dengan jam keberangkatan yang dijanjikan si B …. X belum juga nampak batang hidungnya (hhmmm…emang bis punya hidung ? He he he….). Penumpang – penumpang lain sudah mulai gelisah…., lama-lama akupun ikut resah juga.

Sekitar 20 menit kemudian muncul satu unit armada masuk ke pelataran parkir agen (tepatnya  kantor perwakilan PO). Banyak penumpang yang satu tujuan denganku beranjak dari duduknya seakan pingin segera naik karena tak sabar menunggu terlalu lama, sebaliknya aku tetap tenang-tenang saja. Kenapa ? karena yang baru masuk bukanlah B ….X. “Lha wong liverynya saja beda kok…., kasihan betul orang-orang yang bukan member bismania itu ya..” kataku dalam hati. “Mereka gak bisa bedakan mana yang B……X dan mana yang bukan, mesti ngeliat plat nomornya dulu baru bisa bedakan. he he he….” Aku jadi ketawa sendiri (cukup dalam hati saja, supaya gak disangka orang gila.).

Baru sekitar tujuh setengah menit kemudian si B ….. X datang. Penampilannya sudah sangat akrab di mataku bahkan deru mesinnyapun tak asing ditelingaku.

Lucunya, begitu si B….X ini datang, penumpang-penumpang yg tadi “kecele” kali ini malah tak beranjak. Barangkali saja mereka takut “kecele” lagi (salah bis lagi). Padahal… justru kali ini mereka  “kecele” kedua kalinya, “lha wong bisnya sudah datang malah kok malah tenang-tenang…Ha.. ha… ha…ha…. untung lagi…. aku bismania… jadi ga ikutan kecele”

Beberapa detik setelah kedatangan bisku, diikuti dengan keberangkatan bis yang tadi datang lebih awal dan telah membuat orang-orang “kecele”.

Hari itu penumpang agak rame. Kurang lebih 3/4 kapasitas bis terisi, bahkan bis yang lebih awal jalan tadi seat kosongnya hanya tersisa beberapa seat saja.

Akhirnya hujan gerimis mengiring keberangkatan bisku menuju kota tempat tinggalku dan keluargaku.

3 jam perjalanan pertama berlangsung biasa-biasa saja. Bis dipacu oleh driver dengan kecepatan sedang dan agak cenderung cepat (sekitar 80 – 90 km/jam). Tidak ada aksi balapan karena memang tidak ada lawan yang sebenarnya aku harapkan. Beberapa kali bisku menyalip bis lain tapi bis lain itu teman sendiri alias bis-bis PO yang sama, itupun gara-gara yang disalip sedang menaikkan penumpang di agen-agen. Sebentar kemudian terjadi hal yang sebaliknya ganti bisku yang disalip kawannya. Intinya yang terlibat aksi salip menyalip yang sama sekali tidak seru ini ada 4 bis dari PO yang sama.

Jadwal rutin berikutnya adalah makan bersama dengan menu yang sama. “Hhmmm… Jujur kata bosan juga dengan keadaan seperti ini…”

Hari mulai gelap ketika bisku melanjutkan perjalanan. Kembali lagi episode iring-iringan 4 armada berulang. Tak ada PO lain, yang ada hanya truk – truk besar yang mendominasi jalan dan beberapa kendaraan kecil lainnya.

Di sebelahku duduk seorang bapak yang usianya tak terlalu jauh beda denganku. Kuperhatikan sejak naik bis dari rumah makan bapak ini hanya ingin istirahat. Wajahnya nampak lelah hingga kamipun hanya sempat berbasa-basi sebentar karena bapak ini cepat-cepat menarik reclining seat menuju “PW” (apa itu PW ?, PW is Posisi Wueenaakk !!!, he he he). Bantal dan selimutnyapun ditata sedemikian rupa, hingga akhirnya dalam waktu kurang dari sejam selepas dari rumah makan si bapak ini terbuai di alam mimpi nan indah….

Sementara aku…???, mau pindah ke depan (bangku CD) kasihan sama bapak sebelahku karena aku kebetulan duduk dti dekat kaca di baris ke empat dari depan, artinya kalau pindah ke depan aku harus melangkahinya. Kasihan orang yang kelihatan sangat letih ini kalau sampai terbangun.

Kucoba ambil HP ku, aku buka YM…..“Ya ampun…pada kemana semua makhluk-makhluk bismania di malam minggu begini ya…?, statusnya kok off line semua sih… aarrrgghhh…!!!”. Buka facebook, gak ada status atau thread yang menarik untuk dikomentari. Nge “PING” teman-teman lewat BBM juga belum ada yang statusnya delivered.

Akhirnya…. reclining bikinan Malang yang nyaman itu mulai aku rebahkan mencari PW juga. Kucoba pejamkan mata namun… pelan-pelan…. lamunanku melayang….

Suatu ketika…….., beratus hari yang lalu, saat aku masih bermalas-malasan di tempat tidur karena kebetulan hari minggu, tiba-tiba saja isteriku masuk kamar membawa koran Kompas dan bilang “Pa..pa… Lihat ini…., kamu pasti seneng…” kukira istriku mau menunjukkan gambar mobil atau gambar cewek cantik

Aku hanya menjawab dengan “Hhmmm….”

“Ini ada komunitas bismania nih…..” katanya

“Haa…, bismania..???”, langsung aku meloncat dari tempat tidur dan kusambar koran yang dipegangnya. Kubaca artikel itu…….. dan……..singkat cerita di hari itu juga aku menemukan nomor-nomor telepon genggang orang bismania.

Adalah Machrizal Masri alias Big Mack orang bismania pertama yang kukenal via telepon karena nomor telepon sang ketua (Joko Puspito Murti alias Ithok sedang tidak aktif).

Aku benar-benar berterimakasih kepada isteriku, walaupun pernah ikut hidup menderita akibat dua kali kuajak mengadu nasib dengan berbisnis bis yang kemudian gagal dan gagal lagi, namun dia sadar betul bahwa suaminya tak pernah bisa dilepaskan dari bis. Bahkan mungkin dia “rela dimadu” karena tahu bahwa suaminya telah “menikahi bis, jauh hari sebelum menikahi dirinya”.

Tak lama setelah perkenalanku dengan Big Mack, Bismania Community (BMC) mengadakan acara Sunatan Masal di terminal Rawamangun. Acara itulah yang membuatku makin mengenal bismania dan orang-orangnya.

Usiaku yang jauh lebih tua ketimbang teman-teman bismania sempat membuat aku agak kikuk berada dalam komunitas baru itu. Namun karena merasa sesama penggemar bis akhirnya kukalahkan rasa canggungku…. Kuleburkan perasaan “tua” ku kedalam kebersamaan hobby yang kuakrabi sejak aku masih kecil.

Doni Bemo, Budi Mbudz dan Gus Gopenk yang pagi itu datang dari Surabaya dan Semarang mengikuti acara Sunatan Masal (tapi bukan sebagai peserta sunatan masal, tentunya) membuat aku makin merasa komunitas baruku ini sangat menyenangkan.

Haris Fajar Rahmanto, sang ketua panitia sunatan masal membuatku makin terpesona dengan komunitas ini. Betapa tidak, anak muda secerdas diapun mau bergabung dalam komunitas yang diasosiasikan dengan terminal, calo, ugal-ugalan di jalan raya serta cap negatif lainnya.

Adit Putra kuingat sebagai penolongku untuk menemukan kembali buku agenda yang berisi dokumen-dokumen penting yang tertinggal di dalam bis PK Hino RK8 Proteus yang dipakai di acara Sunatan Masal tersebut.

Ingatan-ingatan tentang mozaik perjalanan kehidupanku dengan bismania terus berlangsung saat suasana perjalanan yang membosankan bersama B …. X masih berlanjut.

Kopdar pertama yang kuikuti setelah acara Sunatan Masal adalah Kopdar di Lebak Bulus. Saat itulah wajah Choirul Arifin dan Hendi KiperPon Similikithi, Wahyudi Irianto serta Raiyan mulai aku kenal.Kebetulan aku datang paling awal bersama Choirul di Lb Bulus. Akupun teringat aku rela jadi asisten Choirul membawakan jaket dan mengikutinya dari belakang saat dia mutar-mutar di pelataran parkir memotret bis-bis yang ada disitu.

Di sisi lain…., sejak itu milis bismania menjadi sarapan pagi, makan siang dan juga pengantar tidur malamku. Tak pernah seharipun sejak kukenal BMC kulewatkan tanpa membuka milis BMC.

Suatu saat ada yang menggembirakan hatiku….!!! Ternyata aku bukanlah satu-satunya “orang sepuh” di BMC. Ternyata lewat chattingan kuketahui ada seorang Abang yang seangkatan dengan salah satu boss dikantorku, “Siapa lagi kalau bukan Bang Mukhlisin Aziz yang lebih sepuh dari aku he he he…. “.  Hal yang lucu juga pernah aku alami ketika janjian ketemu dengan Bang Edi Ginting. Dia mengira diriku lebih muda darinya sehingga ketika sms dan telponan dia hanya panggil namaku dengan “Didik” saja, sementara aku panggil namanya dengan “Bang”. Pas ketemu akhirnya diapun kaget bahwa BMC yang bernama Didik rambutnya sudah putih semua he he he…..

Itulah hebatnya BMC, tua – muda, miskin – kaya, orang kota – orang desa, berpendidikan tinggi – rendah tak ada bedanya…!!!, semua sama…, semua bismania…!!!. Dengan bismania kurasakan tiba-tiba dalam hitungan detik langsung menjadi akrab dengan Awan Bakoel Toak, Jozef, Rossi, Dudi dan lain-lain dari negeri Jawa Timur. Dengan bismania kukenal Rio Simamora di Jambi, kukenal dan dibantu banyak oleh Bhenny ketika di Bukittinggi dan juga bercengkerama dengan Mas Tulus Emirzaky, Pak Iie Harfam dan Bobby di Padang.

Acara ICE, Famgath di Yogya, Kunjungan ke PK Bandung dan Kopdar-Kopdar lainnya membuat aku makin merasa lebih mengenal BMC, mengenal Ithok, Cahyo, Alone, Doddy, Tanto, Aam, Desika, Plenthonk dan lain-lain. Tak luput juga wajah-wajah bismaniatun seperti Cah Ayu Nick, Julia Ijul Imut, Rabiah Ahmad dan tentu saja Nina Bobo si anak emas Sumber Alam menjadi akrab di benakku.

Perkembangan selanjutnya……Awan Gelar Sunan Tuban Dato Gwan Tanamera Bakoel Toak (panjang bener namanya), Ryan Haur Koneng dan kemudian si Penyair Rembang Didik Edhi Nurcahyo adalah inspiratorku untuk rajin turing dan menulis Caper. Mereka mampu membangun dan berbagi suasana indahnya turing yang ternyata tidak hanya bisa dinikmati sendiri. Ternyata catatan tentang turing bisa dinikmati bersama dan jadi hiburan yang menarik. Luar biasa…begitulah pengalaman dan kebersamaanku bersama bismania.

Lamunanku sempat terhenti saat si Driver menginjak rem agak mendadak karena ada truk yang tiba-tiba membelok masuk ke Timbangan (Uji Petik Muatan) ……, Sebentar kemudian kuangkat kepalaku kupandang ke depan. Formasi iring-iringan 4 bis dari PO yang sama masih juga tetap sama. Dua bis dari tetap di depan dan satu lagi masih tetap di belakang. Suasana ramai lancar, liukan – liukan bisku di pantura di perbatasan Jatim – Jateng nampak lincah seperti biasa, namun sekali lagi karena tidak ada “lawan” dari PO lain maka liukan -liukan itu tetap kalah menarik dibanding dengan lamunanku tentang bismania community. Apalagi jarak iring- iringan antara bis satu dan bis lainnya dijaga agar tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh. Kuperhatkan depan – belakang, kanan – kiri hampir semua penumpang tetap tertidur lelap……… Akhirnya kembali kurebahkan badanku ke jok favoritku dan lamunanku berlanjut lagi.

Tiba-tiba BB ku bergetar “brrr…brrr” tanda ada pesan masuk. “Piye Kang, B….X ngejozz ora ?” (Gimana mas, B…X ngejoss ga ?) Siapa lagi malam -malam begini yang kirim pesan kalau bukan makhluk penggila bis.  Si pengirim BBM yang telah membuyarkan lamunanku malam itu adalah seseorang yang hampir tiap malam BBM an denganku. Tiap malam topiknya hanya ngobrolin masalah bis….!!!!, tidak pernah ada bosannya dan tak pernah ada batas ujungnya. Dia adalah Gusida seorang bismania dari Pulau Dewata.

Kujawab “Lumayan ngejozz lah…tapi ora ono musuh” (lumayan ngejoss..tapi tidak ada lawan). Obrolan via BBM kemudian berlanjut soal Driver – driver favorit, sampai soal rencana penambahan armada baru oleh PO yang aku naiki yang konon ada sekitar 20 unit baru yang diperkirakan semuanya secara bertahap akan melintas berkerlap-kerlip memecah malam menghiasi lintasan pantura di bulan Juni nanti.

Gusida seakan telah menjadi kawan lama……. padahal,….. nyatanya kami belum pernah ketemu muka, tapi intensitas komunikasiku dengan dia hampir tak pernah terputus. Tiap hari selalu kami sempatkan chatting via BBM barang cuman 5 menit. Chattingan yang selalu berlangsung dalam bahasa Jawa (karena Gusida pernah tinggal lama di kota Gudeg saat menimba ilmu di perguruan tinggi ternama di sana) begitu menarik. Aku ingat obrolanku pertamu dengan Gusida, yang membuat langsung nyambung (connected) adalah ketika aku mengungkap memori tentang bis-bis lama, khususnya bis yang pernah melayani trayek sampai ke Bali diantaranya soal Simpatik dan Cakrawala yang dulu merupakan bis terbaik dari Pulau Dewata.

Oblolan nostalgia soal bis-bis tua juga selalu “gayeng” bila kulakukan lewat milis karena ada Mas Waris dan Mas Karnoto yang sama-sama penggemar aliran “Oldiess”. Namun jangan salah…ternyata orang muda seperti Hari Budi Wijaya dan Gusida juga punya memori yang luar biasa terhadap laskar-laskar veteran yang diantaranya telah lenyap ditelan jaman.

Lamunanku tentang bismania telah membunuh rasa jenuhku akibat perjalan yang monoton ini. Tadi…, saat tidak ada kawan yang online, saat tak ada lawan bicara aku merasa tetap terhibur karena membaca kembali Caper-caper Hendra Saylendra, KiperPon Similikithi dan lain-lain yang masih kusimpan rapi di inbox ku. Caper-caper itu begitu bermakna. Caper-caper itu adalah telah menjadi penguat perekat diantara member yang ada.

Beberapakali kebetulan aku pernah berkesempatan menikmati  pesawat udara kelas Executive untuk menjangkau ke beberapa kota besar di manca negara, namun tak sekalipun dalam perjalanan-perjalan itu yang senikmat perjalanan naik bis. Mengapa ….?, belum pernah aku naik pesawat diantar / dijemput teman-teman sebanyak bila aku naik bis, sebagaimana kualami di Jombor, di Bungur atau di Lebak Bulus. Belum pernah aku naik pesawat ditanya “pesawatmu ngejozz ora kang ?…he he he…, emang pesawat ada yang gak ngejoss, bisa-bisa nyungsep kalo gak ngejoss “. Belum pernah aku terlantar tengah malam bersama isteri lantas ditemani kawan seperti yang kualami di Pekalongan saat ditemani Dadik RG/RK.

Kata Kahil Gibran, “teman bukanlah untuk membunuh sang waktu, tapi untuk menghidupkan sang waktu” dan itulah yang kurasakan bersama sejak aku bergabung dengan BMC.

Sayang sekali diantara sederetan nama-nama yang kusebutkan itu mulai ada yang menghilang. Mereka tak pernah lagi menyapa lewat milis, YM ataupun Kopdar. Bukankah pepatah bijak mengatakan “kehilangan seorang teman itu terlalu banyak, sedangkan kedatangan seribu teman itu terlalu sedikit”

Aku yakin kita semua pasti setuju, betapa membosankan bila kita hanya mau berteman dengan yang “itu-itu” saja. Betapa menjenuhkan bila BMC hanya berisi orang-orang yang satu selera (terhadap satu PO saja). Seperti yang kualami dalam perjalananku kali ini,. Sudah lewat perjalanan selama berjam-jam hanya ketemu 4 bis dari PO yang sama, dengan livery yang sama…

hhmmm………. Untungnya di BMC ada yang Harjay mania, ada yang APBN, ada PKS, ada pecinta Haryanto, Bejeu dan lain-lain sehingga menjadikan bmc “penuh warna”

Tekadku……, selama aku ada dalam BMC akan aku tak akan pernah berpihak kepada upaya-upaya pemaksaan kehendak. Aku aku tak mau bersekutu dengan tindakan-tindakan yang bisa memicu konflik antar member atau tindakan-tindakan yang tidak santun yang merendahkan member lain. Aku tidak gembira bila ada orang yang merasa paling mengerti soal bis dan paling berpengalaman soal bis. Akupun tak sepakat dengan pembiaran, aku tak mau rujuk dengan watak-watak yang suka melepas tanggung jawab yang telah diamanahkan.

Saat mengetik Caper ini, tiba-tiba  sayup-sayup kudengar….. isteriku sedang mengajari anakku yang kecil bernyanyi Pelangi, Kebunku dan Balonku.

Pelangi pelangi…. alangkah indahmu
merah, kuning, hijau …. di langit yang biru
pelukismu Agung…. siapa gerangan…??
Pelangi pelangi …. Ciptaan Tuhan

Hhhmmm…… tepat sekali…. BMC adalah ibarat pelangi……, yang menjadi makin indah karena warna-warni perbedaan kesukaan para membernya…….  Apalah indahnya pelangi bila hanya ada satu warna…..

Lihat kebunku….penuh dengan bunga….
ada yang putih dan ada yang merah….
setiap hari kusiram semua…..
mawar melati…. semuanya Indah…..  

Sungguh……betapa indahnya bila bunga-bunga PO mania, chassis mania, karoserie mania semua bisa berkembang dalam taman Bismania,

Tugas Pengurus BMC tinggal merawat, memupuk dan menyiraminya sehingga semuanya tumbuh subur mekar harum dan mewangi.

Balonku ada lima….
rupa-rupa warnanya…
Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru
meletus balon hijau…. doorr !!!
hatiku sangat kacau
balonku tinggal empat
kupegang erat-erat

Wah…wah…wah…. lagu inipun adalah pengingat……, kita semua harus makin saling berpegang erat-erat, jangan sampai lagi kita kehilangan satu “balon”pun (jangan ada lagi member BMC yang hilang…. )   Tak ada satu memberpun di BMC yang boleh diremehkan, dihina, direndahkan , sebab tanpa mereka maka BMC tidak akan ada artinya.

Ternyata…., Kejenuhan… Kebosanan perjalananku yang monoton itu terhapus seketika saat aku melamun dan mengingat kembali bahwa perjalananku bersama bismania community ternyata begitu elok….., begitu cantik, menarik dan indah, …..Dan…. dalam Kejenuhan… Kebosanan dan suasana monoton di perjalanan tetap bisa membut emosiku tercurah ketika menulis Caper Otokritik Monolog ini.

Kawan….., Mohon maaf di Caper-caperku akhir-akhir ini tidak banyak kisah cerita blong-blongan yang bisa aku tuturkan……., karena bagiku ternyata mozaik kisah cerita kebersamaan tidak kalah menariknya dengan pengalaman blong-blongan.

Salam hangat,

Didik
0811 149 5358


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Ditulis oleh

'BisMania Community Yogyakarta Berhati NyamNyam'

1 Comment

  1. po.adung bercahaya
    adung /

    sejatinipun seduluran..
    nyok qt junjung tinggi dr kata2 mutiaraa diatas!!
    BRAVO BISMANIA!!!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;