KE-461, Karena Karina Ingin Dimengerti

Hangatnya obrolan tentang rumor “The Legend is Back”  yang dibumbui cerita Lorena mundur dari jalur udara, peniadaan batas fuel consumption, re-call pengemudi-pengemudi jagoan yang hengkang ke berbagai PO, sang “jenderal” turun gunung hingga statement Pak GT Soerbakti yang nombok solar silahkan minta ganti ke kantor, ibarat rapal mantra-mantra yang menghipnotis pendirianku.

Sudah hampir lima tahun ini aku melepaskan diri dari ikatan yang bernama pelanggan PO yang berkandang di Tajur ini. Dulu, aku sempat terdaftar sebagai loyalis LE-460/1 (eks LE-380/1), Jakarta-Rembang-Bojonegoro vise versa, selama hampir setahun.

Mulanya, aku masih mau berkompromi dengan service-nya yang mulai menurun. Soal armada yang mulai menua, jam keberangkatan yang seringkali offtime, hingga harga tiket selangit yang tak sepadan dengan pelayanan yang didapat, aku bisa menolerir. Tapi aku mulai berkata…tidak!!! ketika Sang Legenda kebanggaanku ini mulai menyiput jalannya. Saat itulah, aku rela setengah hati meninggalkannya, meski dalam lubuk sanubariku berharap “dia”  akan cepat siuman untuk meninggikan kembali pamor gemilangnya masa silam.

Terlebih pesona bis-bis lokal mulai menampakkan kemilau. Satu di antaranya adalah Nusantara. Mengusung genre, powerfull and speedfull bus on the road, mem-balikseratusdelapanpuluhderajat-kan kesetiaanku. I must to say goodbye, Lorena. A matter of time is more than just a fanatism. Demikian sebait kalimat perpisahan yang kuucap sembari menahan bulir air mata agar tak jatuh ke pipi.

Bahkan, semenjak Lorena membuka agen yang tidak jauh dari rumah tinggalku, tak membuatku bergeming dengan tawaran kemudahannya. Jarak 15 km ke agen PO selingkuhan”ku masih terasa ringan ditempuh, dibanding melangkah ke agen Si Ijo yang “hanya” sejengkal. Meski armada Bojonegoro telah berganti kulit, dari Lorena berubah wujud menjadi Karina, bagiku, tak ada proses metamorfosa. Tetap saja begitu sosok rupanya

Namun, gaung berita burung di atas seolah menghembuskan hawa sejuk, pencerna dahaga kerinduan menikmati kharisma Lorena-Karina yang sekian tahun ini terkubur. Memang belum cukup banyak bukti. Namun, ada hal yang menegakkan kembali hasratku untuk latah mencobanya. Adalah testimoni beberapa member BMC yang telah merasai “api asmara” PO yang belakangan gencar blusak-blusuk ke pelosok desa gara-gara tertindih Low Cost Carrier (LCC) pesawat terbang.

Berbekal tiket seharga Rp.140.000,00, akan kulakukan perjalanan bersejarah, re-ride with KE-461. Stigma rate Lorena adalah termahal, masih benar adanya. Dari tempatku, Ombak Biru  cumaRp.130.000,00, sedang The City of Manhattan sepuluh ribu lebih murah lagi. Tak apalah, demi menebus rasa penasaran. Yang penting pembuktian, Is that right, Si Ijo has back to right way?

Janji jam empat sore akan tiba, dipenuhinya. Salut, on time. Kesan pertama terpuaskan soal ukuran waktu kedatangan.

Dengan setelan busana Setra Selendang  karya Adi Putro, membalut mesin OM366LA yang bertengger di atas chasis Mercedes Benz OH-1521, Karina masih terlihat  ayu menawan, seakan tampilannya tak lekang digilas perputaran roda jaman.

1

KE-461

Sesaat setelah merebahkan punggung di seat 6A, sisi window sebelah kiri, tak lupa mengupas aspek interior. Warna langit-langit dan kulit jok yang membungkus busa Restindo tampak kusam dan memudar, tapi masih worth untuk dipertahankan sementara waktu. Sayang, minus kelengkapan footrest. Di lengkapi pula smooking room, dan satu-satunya bis Bojonegoro yang menyediakannya. Fasilitas audio-video masih dalam batas layak dan termanfaatkan sepanjang perjalanan. Paket hiburan di-set up dengan tembang Indonesian Oldies, yang cukup menghanyutkan rangsang pendengaran, yang selanjutnya menstimulus otak untuk bernostalgia membuka kenangan lama. Album kompilasi Ratih Purwasih, Iis Sugiarti, Endang S Taurina dan Dina Mariana silih berganti mengisi.  Mungkin, pasar penumpang yang dibidik adalah generasi 70-an, seperti Pak Didik, Pak Karnoto dan Pak Irfan. (Hehehe Piss ya Pak). Kalau buat aku sih kurang sreg, mestinya artis-artis New Pallapa, sekelas Lilin Herlina, Ratna Antika, Agung Juanda atau Vivi Rosalita, nah itu baru cocok. Hehehe

But, its OK untuk urusan entertainment, satu nilai plus lagi untuk service Karina.

Kondisi penumpang baru terisi 1/3 dari kapasitas 28 seat. Not bad, artinya masih bisa mengambil kue dari penguasa jalur Bojonegoro, Pahala Kencana. Dan mayoritas mereka makhluk parlente, berpenampilan rapi. Membuktikan kemapanan strata sosial dan ekonomi. Hanya aku yang bersandal jepit. Cuek ahaha

Ah, apa gunanya service plus plus tanpa disertai aksi lari di jalanan? Harap-harap cemas aku mengharapnya.

Deru knalpot langsung menggelegar, membahana memecah keramaian Kota Sulang, karena posisi pemberhentian bis tepat di tanjakan. Jangan-jangan ini bunyi isyarat bahwa laju bis akan nge-jos nantinya. Setelah paripurna menanjak, aku terhenyak, prediksiku tak meleset, benar-benar kurasakan kuasa tenaga 210 HPnya. Pedal gas digeber habis-habisan menaklukan ruas jalan Sulang-Rembang. Kondisi jalan yang relatif mulus memudahkan driver memacu armadanya secara maksimal. Meski sedikit kurang halus dalam handling kemudinya, namun tidak ada proyek penghematan solar, tiada penyelenggaraan aksi netral dan jauh dari istilah jalan ogah-ogahan. Penuh determinasi. Bahkan yang kurasakan adalah naik Lorena rasa Nusantara. Beda banget dengan wajah empat tahun yang lalu. Seikat titik terang telah kugenggam, bahwa The Legend memang bangkit kembali.

Agen Rembang kosong penumpang, hanya numpang lewat. Duh duh jangan-jangan ya cuma segini penumpangnya. Belum terpikir meraup keuntungan, bagaimana menutup biaya operasional? Ini sudah masuk area Muria Raya, ceruk pasar makin dangkal, makin banyak raja-raja kecil yang jadi pesaingnya dalam memperebutkan penumpang.

Memasuki jalur Pantura, aksi Karina produk 040 tak berkurang. Tetap menawan di bawah kendali driver setengah baya, yang menandakan jam terbang tinggi. Barisan truk-truk barang dilahapnya satu persatu, meliuk ke kanan ke kiri, pandai memanfaatkan celah sesempit mungkin. Ck..ck..ck aku hanya bisa berdecak kagum. Mantap, bisa jadi hiburan malam ini kalau driver konsisten dengan style-nya.

Bis bintang empat ini masuk agen di Terminal Juwana. Wow..jangan-jangan Kota Bandeng adalah kawasan green forces, belasan penumpang mengisi seat yang masih kosong, tersisa dua kursi lagi yang sudah di booking agen Kudus.  Ah, siapa bilang Si Ijo ditinggal penumpangnya? Biarpun luntur pesona, masih banyak juga pecintanya.

Dan menuntaskan intermediate I Rembang-Semarang, bis ini masih layak dinominasikan sebagai anggota dewan PBB (Persatuan Bis Banter). Aku yakin, bagi penggemar jet darat, tak rugi sepeserpun bila saat itu satu bis denganku. Hehehe…

Namun, bagiku itu belum final. Ujian sesungguhnya untuk mengukur kedahsyatan sang maestro ada di kosmos per-bis-an tanah Jawa, yakni jalur Semarang ke barat, yang merupakan titik pertemuan tiga jalur, yakni Solo, Jogja dan Kudus sendiri. Pasti akan ketemu lawan sejenis. Berhubung aku berniat jadi juri penilai, kupaksakan diri untuk menyisihkan rasa kantuk, yang biasanya sudah membuatku lelap selepas Kota Demak.

Bis bernomor polisi B 7866 VB ini melenggang masuk kota Semarang. Ada satu pemandangan yang benar-benar menyentuh sisi humanis. Di depan SPBU Kaligawe, Pak Sopir menghentikan armadanya, menemui istri tercintanya yang sedari tadi menunggu di pinggir jalan, untuk menukar tas yang penuh pakaian kotor, dibarter dengan bekal pakaian bersih. Bisa jadi, sudah berhari-hari beliau tak pulang ke rumah. Tak banyak kata di antara keduanya,  karena sebentar kemudian pengemudi itu kembali ke belakang kemudi karena posisi bis sedikit memacetkan jalan. Mungkin, tak ada kalimat untuk sekedar menanyakan kabar keluarga, kondisi anak-anak atau urusan di rumah karena diburu waktu. Padahal intensitas pertemuan mereka sangat jarang, kalaupun ada hanya singkat. Betapa beratnya profesi seorang pengemudi bis jarak jauh, yang deminya harus rela kehilangan waktu bercengkerama bersama keluarga.

Sedang si istri terlihat tegar dari sorot matanya yang tak pernah lepas menatap raut sang suami, mengantarnya kembali bekerja. Berharap Bapaknya anak-anak diberikan keselamatan selama menjalankan tugas, dan pulang membawa rejeki halal bagi kelangsungan rumah tangganya. Aku terkadang dihadapkan adegan kemanusiaan semacam ini selama menjalani perjalanan mingguan. Bagiku, istri-istri mereka adalah orang-orang hebat, wanita-wanita yang tabah, tak manja dan tak cengeng ditinggal suami bekerja meski dengan resiko tinggi di sekelilingnya, yang tak pernah berkeluh kesah menjalani single parent dalam mendidik dan membesarkan anak, serta pribadi yang mandiri, tak semata bergantung pada suami saat menangani masalah yang ada.

Ya Allah, di balik kerasnya atmosfer jalan raya, Engkau berkenan menyuguhkan realita kehidupan yang penuh makna untuk dihayati.

Tanpa aku sadari, bis terjebak kemacetan sebelum memasuki Jalan Pandanaran. Ternyata jalan pengubung antara Simpang Lima dan Tugu Muda ditutup untuk even Pandanaran Food Festival 2009. Untunglah, Pak Sopir adalah warga Semarang sendiri, sehingga tak susah mencari jalan tembus ke Kalibanteng. Diarahkannya armada berkelas eksekutif ini menyusuri rute Bilangan Mugas-Kaligarang-Simongan-Pamularsih hingga tembus Jalan Siliwangi.

Setelah lapor di check point Krapyak, aku bersiap untuk pembuktian kehebatannya…

Berderet bis lewat saat Karina mulai bergerak perlahan. Tercatat dari depan Shantika Merah, dua bis Ezri Pariwisata, Harta Sanjaya Panorama DX, Shantika Volvo, dan HS 151 Scania. Bis-bis inilah yang kujadikan kelinci percobaan, mana yang akan bisa disantapnya.

Perlahan tapi pasti, dengan lincahnya KE-461 menyeruak di dalam keramaian jalan raya, yang dijejali truk-truk angkutan barang. Buah usahanya, berhasil mengasapi mesin Scania HS 151 dan Harta Sanjaya yang terjerembab di barisan kendaraan berat. Wah, Scania tumbang di trek padat. Satu armada Handoyo juga mampu di-overtake. Dan selang tak lama kemudian, Shantika Volvo kelihatan bidang pantatnya. Tak perlu bersusah payah, ditaklukannya. Dengar-dengar Volvo eks Tri Star ini kurang greget larinya. Pantas saja

Sudah dua mesin ber-cc besar, di atas kapasitas ruang mesin Mercy Intercooler dilumpuhkan, Scania dan Volvo. Lumayan, buat mendonasikan laporan kesaktian Lorena-Karina grup sekarang ini.

Namun, di koridor ringroad Kaliwungu-Brangsong, usia mesin dan karoseri tak bisa bicara bohong. Nafas engine ber-volume 6.000 cc terengah-engah di trek lurus dan sepi kendaraan. Apalagi bunyi riuh rendah gesekan antar material bodi mulai ramai bersahutan di dalam kabin, saat menapak jalanan yang tak seluruhnya rata. Semakin kencang dipacu, semakin menurun kenyamanan di dalamnya. Akhirnya, revenge of HS 151 terjadi, Karina yang semakin uzur dilibas habis, dan dalam hitungan detik bis berkode NS 18 hilang ditelan kegelapan malam.

Seakan-akan bis-bisnya Pak Hans belum puas mempecundangi, beraninya main keroyokan. Wah..wah…Armada tua dikerjai anak-anak muda. Di belakang Scania, dilanjut NS 29 Lebakbulus, NS 39 Pulogadung dan NS 28 Ciledug, yang berjalan rapat beriringan. Dan yang bikin hati ini tak terima, cara menyalipnya yang terkesan melecehkan…Sotoy..Lampu dim berulang-ulang dimainkan dengan sorot yang menyilaukan, merenggut secara kasar lajur kiri untuk menyalip, mendiamkan fungsi klakson. Padahal laju Karina juga sedang kencang-kencangnya dan riskan untuk disalip. Namun, rombongan itu secepat kilat tetap memaksa masuk. Yang bikin semakin kesal, saat posisi sejajar, sengaja dibuat mepet bener. Bahkan, ujung luar spion NS 39 nyaris menempel di dinding kaca. Apa bis Cepu-Pulogadung  ini akan memberi pelajaran, gara-gara tahu kalau ku-dua-kan. Serrr…deras darahku mengalir menahan kengerian. Dua kendaraan besar adu speed, dengan jarak antar bodi tipis sekali. Apa penumpang di dalam bis Nusantara ngga takut ya? Hehehe…

Setelah sempurna menyalip, ketiga armada yang terdiri dari dua unit OH 1525 dan satu unit K124IB itu semakin melesat, meninggalkan jauh Karina-ku. Hikss…Si Ijo belum mampu mengimbangi

Mungkin itulah cara PO berlambang nyiur melambai memamerkan hegemoni dan superioritas atas PO lainnya.

Sebenarnya tadi aku berharap, cukup bis-bis Soloensis atau Bumi Mataram yang jadi pengukur tingkat kedigdayan Intercooler Jumbo ini. Tapi nyatanya, justru langsung dihadapkan lawan berat, selevel PO Nusantara. Jadi terasa tenggelam lagi prestasi spektakuler yang telah ditunjukkan empat jam sebelumnya.

Jalur Rembang hingga RM Sendang Wungu, Gringsing, bagiku sudah cukup sebagai bahan pembuktian rumor di atas. Selebihnya, sisa perjalanan kugunakan untuk beristirahat, menata stamina karena esoknya mesti beraktivitas seperti biasa.

Esoknya, jam 05.30, bis yang bernama lengkap Ryanta Mitra Karina ini telah mendarat di pos Cikampek untuk keperluan kontrol. Masih cukup waktuku untuk mengejar jam masuk kerja. Apalagi 15 menit kemudian disusul KE-521 Sumenep-Tanjung Priok. Apa tidak hebat, bis Madura tiba Jakarta saat matahari terbit? Atas perkenan kru, aku diijinkan untuk oper merasakan armada Mercy Electric, selain agar mudah mencapai lokasi ladangku.

KE-521

KE-521

Meski raihan hebatnya semalam sempat dicederai  kepiwaian bis Muria Raya, namun aku berani ber-milist pers, bahwa selama ini Karina ingin dimengerti. Dan itu dirasakan oleh para pemiliknya. Berkat re-touch tangan dingin Pak GT Surbakti, Lorena-Karina telah bangun dari tiarapnya. Mulai tumbuh kembali fight for competition, sense of passanger needs, memegang prinsip time is priority and speed oriented. Mencoba menghapus kesalahan masa lalu, yang membuat pelanggan setia seperti aku sampai lepas dari rengkuhannya.

Never give up, Karina…

Didik Edhi – JKT012

Rembang-Jakarta, never ending journey…

http://cintanismara.multiply.com/

http://didiksalambanu.wordpress.com/

Comments

  1. Walopun jg smpet tergoda dgn bus2 lain yg lbh menggiurkan,,insya allah sy teteb pelanggan setia lorena gruph
    *bahkan sy pny nilai historikal dg si ijo..tp ga usa dipaparkan,,maluu…xixixi

    sy masi yakin bahwa lorena akan kembali berjaya seperti halnya tempat sy bekerja yaitu honda motor..yg saat ini masi ditempel bahkan slg salip menyalip dg yamaha!! (Hehhehehe,nyambung ga yaa?)
    Nama besar honda dan lorena memang tak akan terlupakan begitu saja oleh penggemarnya yg sudah melegenda!!walopun berbeda pasar,tp kita bs lihat adanya kecenderungan konsumen yg akan lebih memilih yg ber”merk” asalkan jg didasari oleh mutu&servis yg baik thadap penggunanya…

  2. Sebagai orang yg br pertama naik lorena, saya agak kecewa sama pelayananya. Kemarin saya naik lorena LE 373 jogja-jkt, tiketnya plg mhl kalo dibndingin obl & ramayana. Pake bus AP setra 1521, getaran mesinnya kenceng bgt, trus ga ada leg rest, cuma ada foot rest, itu aja udah jebol. Pdhal di tiket tertulis ada leg rest.
    jalannya juga lambt bgt, waktu di jalan diselip ros-in, raya, nusan, shantika, senja furindo, ramayana, obl, dll sampe berkali2. Udh gitu sampe tol cikampek, bannya bocor, wkt bocor ad 5 lorena yg ikut bantuin, sampe wkt bosnya lewat sopirnya dimarahin. Sampe di jkt bdn sakit semua, capek bgt. Kalo dibndingin waktu ke bali naik blue star, jauh bgt, pdahal blue starnya kpsitas 45, dan lorena 30 tp jauh lebih capek lorena. Paling nilai plus lorena itu tmpt makannya yg khusus sehingga ga usah antri lama.

  3. akhirnya,
    pelan tapi pasti!

  4. salut dengan kualitas tulisan mas didik…..mengalir dan enak dibaca…semoga LORENA-KARINA segera on the track lagi….

  5. semoga lorena bangkit dr keterpuruka+meningkatkan pelayanannya lg^_^

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.