
PO. Pahala Kencana (FB. Pahala Kencana Sedjati)
Kecil-kecil Kompor Meleduk, begitulah aku menjuluki Raiyan APBN. Mengapa?, karena sebenarnya untuk turing long weekend kemarin tidak terlintas untuk memakai PK. Rencana awal yg ada di kepala adalah brgkt dgn OBL SE pulang dengan RAYA SE dari Solo. (Alias pingin memanjakan badan selama turing)
Peristiwa Kopdar bersama Bang Aziz di RM membuat rencana berubah 180 derajad. “Kompor Meleduk” si Raiyan membuat ideologi dan paradigma berpikirku dan Rian Haur Koneng jadi berubah total. Bayangkan saja keinginan naik SE Class dalam beberapa detik berubah menjadi kepastian naik VIP Class…ck…ck…ck….apa yg salah ya ?
Dengan tutur kata gaya teatrikal dan aktor ulung mirip Al Pacino, Raiyan memprovokasi aku dan Rian agar pulang dari Yogya naik PK saja. PK kelas VIP yang ngeblong dan bisa bikin kaki gemeteran…(nah tuh…. Dasyat kan provokasinya…?)
Provokasi ala Kompor Meleduk ditimpali oleh Yudi agen PK RM yang bilang bahwa sejak los solar PK Jkt – Blitar pun bisa sampe Blitar jam 05.00 pagi (hmmm…, hasratku berkecamuk dan mulai tergoda mendengar ocehan itu)
Runding punya runding, Rianpun lantas bilang “gimana kalo kita naik PK saja mas pulang dari Yogya ?”
“Eemm…boleh aja !”, jawabku, karena memang penasaran juga dengan impact dari kebijakan los solar, secara aku belum pernah menikmati PK sejak los solar.
Beberapa hari setelah Kopdar aku YM mas Febri BMC Yogya. Dengan kebulatan tekad yg mantap tak tergoyahkan badai maupun tsunami aku minta tolong mas Febri pesankan 2 seat PK ke Jkt LB untuk tanggal 27 Feb.
Bayangan seat 2 – 1 nyaman dengan leg rest terhapus seketika dengan fakta yang akan terjadi yaitu seat 2 – 2 Aldilla tanpa leg rest. Biarin…. yang penting nge-blong !!!
Beberapa setelah YM an dengan mas Febri, ganti mas Suplenthonk Jaya telpon aku. Dia bilang tiket PK sudah dipesan untuk tanggal 27 Feb dapat seat 1C – 1D. “Horree…. !!!” , kataku dalam hati saat terima telpon.
Waktupun berlalu…..
Perjalanan menuju yogya tanggal 25 Feb sudah aku tuturkan lewat caperku sebelum ini.
Sebelum aku berangkat mas Suplenthonk sempat telpon lagi. Pesanan tiketku diestafetkan ke mas Desika karena dirinya sedang “bertugas mendadak” ke Medan (He he he…. gara-gara aku ke Yogya, setidaknya ada 3 orang kawan yogya yang harus dibikin sibuk repot ngurusin tiket kami… Sorry dan thanks mas-mas ya….)
Singkat cerita tanggal 26 Feb, Mas Desika telpon ngajakin Kopdar jam 3 sore di pelataran Parkir Abubakar Ali Malioboro.
“Sorry berat Mas…., aku baru berangkat menuju Wonosari pingin lihat pantai Baron, Kukup, Krakal dan Drini…”Kataku. “Nanti kalau aku datang dari sana aku kabari. Kita bisa Kopdar”, sambungku
Jumat 26 Feb aku dan Rian dan satu orang teman dari komunitas fotographi menghabiskan waktu di pantai-pantai indah nan exotic di daerah Gunung Kidul itu.
Sore setelah maghrib mas Desika telpon lagi menanyakan apakah kami sudah sampai Yogya lagi.
“Belum mas…masih on the way, soalnya tadi nunggu sun set di pantai”
“Ya sudah mas..nanti saya ke hotel” kata mas Desika
“Okay mas…”Jawabku
Tak lama setelah itu mas Desika telpon lagi dan memberitahu bahwa “Teman-teman Yogya malam ini kumpul di Omah Loring Pasar Gede mas…apa mau kesana saja ?”
“Ya mas… Aku kesana saja”, balasku.
Sampai di Yogya sekitar jam 19.30 langsung makan dulu di Bebek Slamet. Saat makan itu mas Desika sms membatalkan ketemuan di Omah Loring Pasar Gede karena anaknya lagi rewel.
“Ya wis mas gak apa-apa besok aja Kopdarnya”.
Malamnyapun kami tidak pergi kemana-mana karena kecapekan hanya tidur saja di hotel.
Sabtu tanggal 27 Feb 2010 sekitar jam 9.30 pagi mas Desika sudah muncul di hotel. Kamipun ngobrol panjang lebar soal BMC. Soal cita-cita bagaimana mengembangkan BMC ke depan supaya makin berkembang. Kamipun bertukan pikiran tentang konsep desentralisasi dan bentuk presidium organisasi BMC sebagai pilihan yang tampaknya tepat dan sesuai dengan arah organisasi ke depan.
Aku sampaikan rasa salutku kepada teman-teman BMC Yogya yang jaringan ke PO-PO dan karoserie makin kuat.
Tak terasa, waktu sudah hampir jam 11 siang. Mas Desika pamit dan berjanji akan ketemu lagi bersama teman-teman Yogya lainnya di Jombor sekalian Kopdar mengantar kami pulang Jkt.
Sebelum mas Desika pulang aku telpon agen PK Yogya untuk merekonfirmasi tiketku sambil kutanyakan soal informasi armada yg akan membawaku pulang ke jkt pakai armada yang mana.
Harapanku sederhana saja paling-paling aku dapat yg RK8 235 Proteus eks Madura atau RG Selempang Livery baru lampu smile yang pernah dinaikin Raiyan.
Sayang sekali jawaban dari Mas Priyo Agen kurang menjelaskan. Dia hanya bilang “bisnya masih di Klaten pak…belum tahu armada apa yg ke Lebak Bulus hari ini”.
“Ya sudah pasrah saja.., biasanya kalo pasrah kita dapat yang lebih baik” (ngarep mode on), kataku ke Rian.
Jam 11.30 kami naik taxi menuju agen PK di Janti. Sampai Janti cuma ada 2 unit PK, satu Travego rombakan TriUn berchassis MB 1521 dan satu RG Setra Selempang.
Setelah aku tanya kedua bis itu bukan bis yang jalan ke Jakarta. Yg MB adalah bis ke Bandung sementara yg RG adalah cadangan Yogya – Denpasar.
Sewaktu naik taxi menuju Janti aku sempat YM an sama mas Leo PK Wisata. Di jawab sama mas Leo agar saya ketemu Mas Jaya dan Mas Deden di agen Yogya. Akhirnya begitu sampai di di Janti aku langsung temuin mas Jaya dan tanya bisku yang mana dijawab oleh dia ” Nomornya 7916 mas..”
“Bisnya yang mana ya ?, Proteus atau yang RG ?” tanyaku
“Yang jelas bukan yang Proteus mas. Soalnya proteus hari ini jalan ke Merak. Bisnya ini (maksudnya bis yang akan aku naiki) bis bantuan, belum pernah kesini, biasanya jalan ke Madura mas” tambahnya lagi.
Waduh… makin penasaran aku, kira-kira armadanya yang mana ya ?, mendengar kata Madura bayanganku langsung ke RG rombakan Centrium. Ya sudah…. pasrah aja kataku menghibur diri.
Karena waktu masih panjang dan perut belum diisi, kuputuskan makan dulu di warung sebelah agen PK Janti. Rupanya penasaranku belum hilang…. kira-kira bisnya yang mana yang 7916 ini, apalagi huruf belakang plat nomornya juga gak diberitahukan ke aku. Ide cerdasku muncul, ku sms Yudi agen PK Rawamangun aku tanyakan bis yang mana yang plat nomornya B 7916. Agak lama dia tidak membalas, kira-kira 15 menit kemudian baru ada sms masuk “ B 7916 IW RK8 Jupiter, bonus buat penumpang Yogya”
“Wouuw… mantaff” balasku. Segera kutunjukkan sms ku ke Rian sampir meringis tersenyem gembira.
Beberapa saat kemudian sesosok RK Proteus 8 Proteus jurusan Merak masuk. Setelah naikkin penumpang dan laporan sesaat kemudian berlalu. Disusul kemudian sesosok RG AP Setra Selempang livery baru B 7923 datang, laporan, naikkin penumpang dan berlalu menuju Bogor.
Jaraknya kurang lebih 30 menit setelah RG AP Setra Selempang berlalu, sosok yang kutunggu-tunggu baru muncul. Ternyata info Yudi agak meleset sedikit karena yang datang bukan si Jupe melainkan Galaxy yang masih satu induk semang dengan Jupe.
Bibirku tersenyum sumringah… ”akhirnya dapat juga Galaxy yang kuimpi-impikan selama ini”, gumamku dalam hati.
Sudah sejak lama sejak Galaxy ini memperkuat jajaran pasukan PK dia selalu luput untuk aku tangkap dan tunggangi. Galaxy ini ibarat kuda liar yang sulit ditangkap dan ditunggangi. Entah berapa kali aku pergi ke Surabaya pasti pas si Galaxy ini lagi gak nongol di terminal, hingga akibatnya aku selalu dapat yang lain: Jupe atau Proteus 1525. Tampaknya kali ini aku baru beruntung “tak kusangka-sangka kutangkap dikau di Yogya”.
Keluar dari Janti menuju Giwangan berjalan santai biasa – biasa saja. Dari Giwangan - Gamping beberapa kali menaikkan penumpang dari agen-agen PK sepanjang ring road. Begitu sampai Jombor rupanya Pasukan Keraton BMC Mataraman di bawah Pimpinan Sultan Desika Buwana sudah menunggu menyambut dan akan mengantarkan kami keluar dari batas negeri Mataram dengan membawa bendera dan umbul- umbul tanda kebesaran keraton (he he he…. lebay lagi ya….). Pastinya ada lebih dari 15 aktifis BMC tumplek blek di depan agen PK Jombor. Sayang sekali waktu transit di Jombor hanya beberapa menit sehingga kami hanya sempat bersalam-salaman sebentar dengan mereka dan naik Singgasana kursi keramat lagi sambil melambaikan tangan salam perpisahan. Terimakasih kawan-kawan Yogya atas kebaikan kalian semua …., aku janji akan datang lagi merepoti kalian lagi…..
Driver pertama namanya Mas Yoto, orangnya masih cukup muda. Cara bawanya agak kurang mulus, tertutama ketika pindah versnelling sering agak telat serta terasa hentakan ketika melepas kopling. Dia sempat cerita bahwa semalam bis ini masuk Giwangan jam 3 pagi. (Eeeddiaan… tenan… kataku). Tapi aku sempat ragu karena begitu masu masuk Muntilan si RG Selempang yang lagi berhenti sempat disalip gara-gara lagi benerin lampu sein, namun selepas Secang. RG Selempang ngacir kencang sementara Galaxyku gak bisa ngikutin lagi.
Pertarungan Yang Sesungguhnya
Pertarungan yang sesungguhnya baru terjadi ketika kendali berpindah ke tangan Bang Amir (Driver 2) setelah berhenti makan malam di Sendang Wungu.
RG Selempang sudah melenggang duluan beberapa menit sebelum Galaxy ku take off.
Keluar dari Sendang Wungu mulai terasa skill Bang Amir memang jauh lebih mantap. Pindah gigi halus tanpa hentakan. Posisi manuver bispun ketika menyalip lebih manis. Dan….. begitu naik tanjakan Plelen, ketika penumpang masih pada melek semua, disaksikan 34 pasang mata penumpang yang kebetulan full seat pada hari itu, Galaxyku langsung membantai 6 bis di tanjakan.
Rian langsung bilang “wah…wah… wah… mantaff nih mas”
Keluar dari tanjakan Plelen ada Haryanto biru 1525 dari arah kanan mau masuk ke jalur kiri minta jalan. Bang Amir melambatkan bisnya dan memberi jalan. Ketika Haryanto mulai membejek gasnya, Galaxykupun langsung ikutan bejek gas dan wuzz…. Haryanto disalip dari kiri.
Sejak itulah maka pembantaian berpuluh-puluh bis bisa aku saksikan di layar lebar karena posisi dudukku yang strategis. Setiap nampak ada pantat bis lain maka Galaxy ini dengan ganas menyusul dan membantainya tanpa ampun. Di sekitar Banyuputih sempat terjadi perlawanan sengit dari Raya, namun karena dapur pacu RK8 yang lebih muda dikombinasi dengan skill drivernya yang yahuud maka dengan sedikit memaksa akhirnya Raya diblong dari kiri.
Selanjutnya tak terhitung lagi serombongan Rosin, serombongan Raya, serombongan Ramayana, Shantika, Muji Jaya, SSM, GMS, Slamet bahkan Nusantara, apalagi sekedar Sumber Alam dan Sinar Jaya jadi “kudapan ringan” bagi Galaxy ku. PK RG AP Selempang, PK Ombak, PK Kupu-kupu pun ikut jadi korbannya.
Selama perjalanan hanya ada 3 bis yang mampu meladeni Galaxyku. 3 bis inilah yang bisa saling bergantian di depan yaitu Shantika 1525 kuning, Haryanto 1525 Biru dan satu lagi Nusantara London Bridge Ungu (tidak jelas kodenya).
Dari ketiga bus yang mampu meladeni Galaxyku yang aku paling salut adalah sama Nusantara, soalnya ketika masuk toll Cikampek. PK Galaxyku dibejek lari 130 km (aku saksikan sendiri karena aku duduk tepat di belakang Bang Amir), dengan enaknya diblong Nu3 itu. Bang Amir saja sampai kaget “Gilee…. lari berapa tuh Nusantara ??…. mobilnya apa ya ? Scania apa 1525 ya ?”, tanyanya ke Mas Yoto. (Bang Amir ini memang gila juga soalnya sejak dari Sendang Wungu dia tetap membawa galaxy sampai Jakarta tanpa minta gantian sama Mas Yoto) Aku juga ikut penasaran apa mesin Nu3 itu, tapi yang jelas bukan Scania.
Ketika menurunkan penumpang di Cikarang baru terjawab ternyata Nu3 itu adalah RK8 terlihat jelas dari stir dan as roda depannya. Rupanya Bang Amir dan Mas Yoto tetap tidak bisa mengenali chassis apa bis Nu3 itu. Itulah hebatnya Bismania bisa lebih tahu ketimbang Crew yang setiap hari bawa bis.
Bang Amir hanya sempat berteriak “Anjing loe….” (dengan nada bercanda) karena si Driver Nu3 ternyata adalah temannya yang dulu eks PK juga.
Keluar dari Cikarang masuk lagi ke toll dan diblong lagi sama Nu3 itu…….
Masih dengan kecepatan 120 – 130 mengejar Nu3 tapi gak ke-uber. Akhirnya Bang Amir pasrah dan menyerah…..
Alhasil Galaxyku masuk LB jam 04.15 ………, kutengak-tengok dimana Nu3 tadi ya…ternyata baru tahu kemarin sore dari Raiyan si Provokator bahwa Nu3 itu kemungkinan besar jurusan Cikarang – Poris.,…….. Pantesan…… gak ketemu batang hidungnya di LB
Secara umum perjalananku dengan PK B 7916 IW , HT 591 RK8 – 260, GALAXY TENTREM sangat – sangat memuaskan.
Bila XBC Ramayana yang saya pakai waktu berangkat is recommended maka PK ini is absolutely recommended !!!
Terimaksih Rian partner yang menemani turingku, terimakasih Mas Desika yang membantu mengurus tiketku, dan terimakasih Raiyan atas provokasi “Kompor Meledukmu” …. Kompormu benar-benar Meleduk !!!!
Tiada gading yang retak….
Tiada bikinan manusia yang serba sempurna,……
Turun dari LB badan terasa rontok semua
Karena suspensi RK8 ini Nauzdubillahii… kerasnya
Salam,
Didik
kalo PK jurusan Pati-Lebak bulus kok sering ngecewain ya???
kemarin dicurhati ibuk kalo masuk LB udah setengah 6 dengan kondisi kursi yang tanp leg rest serta armada tua…
gak kaya Nu3 yang pasti ngeluarin armada yang sip untuk melayani rute yang sama…
jadi ragu ntar pengen berangkat k jakarta pake PK…
emangnya nu3tara ad yg pke RK8, setahu saya cuma scania ama MB dah……mohon koreksi
ada mas RK8, udah mulai banyak malah … kalo pengen naek yang RK8, naek jurusan yang dilayani ama nusantara CN, jangan HS