Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

-Every bus has a different taste…-

Jam buka kantor masih tersisa empat jam lagi. Sementara tugasku hari Jumat ini 100% completted. Menyandang status non job, justru mendatangkan kesempatan. Yup…melonggarkan pilihan dalam merencanakan perjalanan pulang ke Rembang.

Bergegas kurapikan alat tulis dan tumpukan berkas pekerjaan, packing berbekalan pulang yang tak seberapa muatannya. Andai disensus, tas backpacker-ku hanya berisi payung,charger, air mineral, minyak angin, kaos kaki dan balaclava alias tutup kepala. Tak sampai satu kilogram beratnya.

Tampak di luar jendela, langit mempertontonkan pergulatan alam. Di sisi timur, sinaran surya masih mampu menembus lapisan ozon untuk menghadirkan terang bagi bumi, sedang di sisi barat awan tebal mulai berdatangan bergelayut di atas Teluk Jakarta. Rinai gerimis yang turun seakan tak mau kalah bersaing dengan mentari dan mendung, bertarung siapa yang akan memberi  rona cuaca siang di kawasan pelabuhan laut terbesar se-Indonesia.

Begitu juga apa yang sedang menimpaku, terjadi pergulatan batin dalam menentukan titik keberangkatan mulih ndeso. Bimbang hati, mencontreng di antara pilihan-pilihan, Rawamangun…Pulogadung…ataukah Tanjung Priok sendiri.

Mau ikut rombongan Mas Rully cs visit Madura, yang mulai “pelayarannya”  jam 11 siang, sudah telat. Pakai jurus nghitung kancing, dengan mantra-mantra similikithi enak ngendi enak iki, juga tidak ketemu jawaban yang memuaskan.

Tiba-tiba ingat rayuan Mas Kus Kuntarto tadi pagi via telepon untuk naik Garuda Mas. Tapi…ahhh… kondisi dompet meradang terkena dampak sistemik tanggal tua. Jujur saja, jumlahnya selisih tipis di atas dana yang dibawa Tuan Gwan Tanah Merah sewaktu survei pemetaan wilayah Mangga Besar-nya Pati.

Hiks, maaf ya Mas Kus, kutolak tawaranmu. Bulan depan saja kulampiaskan rindu akan kepak perkasa Sang Garuda, saat gelontoran gaji bulanan sudah di-dropping

“Ah, begini saja”, kata nuraniku. “Pertama-tama ke Priok, kalau tak ada yang menarik, pindah ke Rawamangun, kalau (kebangetan) tak ada yang heartcatching juga, bergeser ke Pulogadung.”

Sebuah mediasi nan solutif.

Turun dari angkot KWK-01 Cakung-Tanjung Priok, kumasuki area embarkasi debarkasi bus antar kota. Tengah hari itu didominasi bus-bus Tangjung Priok-Bogor, Laskar Karawang –Warga Baru– dan skuad Prima Jasa. Di jalur Madura, seperti biasa, tampak empat sekawan peserta acara harian take me out, Kramat Djati (KD), Pahala Kencana (PK), Karina dan Haryanto.

Karina yang pertama kucoret, karena ini armada produk 40, eks KE-461 yang kunaiki belum lama ini, dimutasi dari jalur Bojonegoro ke Madura. Grand Aristo-nya Kopral yang kedua kusisihkan. Tiga minggu yang lalu mencumbuinya, jadi belum lupa sama rasanya. Nah, ini yang menarik. PK Setra berdaleman Hino RG dengan tampilan motif baju hasil cat ulang. Mungkin, inilah warning awal kegerahan PK terhadap masuknya Si Biru ke jalur Madura.

PK-Madura

PK-Madura

Tapi…engga ah. Seringkali naik PK Madura, dan seringkali pula kurang mengesankan ceritanya…

Tinggal pilihan akhir, kalau tak cocok, mbonceng bus kota P-43 yang akan menghantarkan ke Rawamangun. Yaitu bus Kramat Djati.

Kudekati sosok putih bersih ini. What!!! Ngetem sekian lama, masih kosong melompong. Memang, di Tanjung Priok, KD menempati dasar klasemen bus favorit orang-orangMadunten. Pengais sisa-sisa penumpang, bahkan kalah pesona dibanding newcomer, PO Haryanto.

Bayangan bus lemot, pengusung aliran netralisme, pengetatan kebutuhan solar serta armada anak tiri di keluarga besar Kramat Djati menyeruak dalam benakku.

Namun, hatiku malah klop dengan karakter miring yang diciptakan pasar. Mengapa?

Dalam analisisku, kalau rata-rata waktu tempuh bus Jakarta-Rembang 12 jam, dengan bis lambat tentu bisa lebih dari itu. Kalau bus ini berangkat jam 2, taruhlah…perjalanan nanti memakan masa selama 13 jam, jam 3 dinihari baru tiba di Rembang. Dan aku tak kesulitan meneruskan perjalanan  menuju Kota Kecamatan Sulang dengan mikro bus Rembang-Blora yang biasanya buka line antara jam 3-4 pagi, plus nanti bantuan ojeg untuk mengantarkan hingga ke depan rumah.

Maklum, akses transportasi hingga ke desaku sangatlah terbatas dan mengenal waktu. Coba tanya Mas Hary “Coklat” beserta Meme tercintanya yang pernah berjuang sekuat tenaga menggapai kampung halamanku. Berjarak 20 km dari jantung kota, melewati areal persawahan, melintas daerah angker dan miskin sinyal komunikasi, jauh di pelosok lereng perbukitan kapur Pasedan. Jangan kapok main ya Mas Hary…

Yes…tekatku sudah bulat, naik bis pelan aja. Tak buru-buru di kejar waktu dan acara keluarga pada Sabtu pagi.

“Berangkat jam berapa, Pak?” tanyaku pada seorang bapak petugas agen KD.

“Paling telat jam 2, Mas”

“Pak, turun Rembang bisa?”

“Boleh Mas, 125 ribu…” jawabnya sekenanya.

Pak…pak…bis tak laku begini kok jual mahal, aku membatin.

“Pak, boleh kurang ya. Masak segitu…” coba kutawar secara halus.

“Mas nawar berapa?” dia memberi respon.

Tapi aku juga prihatin dengan nasib Si Putih ini. Mau nego ke harga 100 ribu, mengikuti tarif floating tujuan Surabaya yang didiskon “hanya” 130rb, jiwa bismania-ku sungguh tak tega. Kasihan…

“Ya sudah Pak. Kemarin saya naik Haryanto dikasih 120rb. Samain saja ya Pak”, pintaku.

“Ya sudah Mas, monggo naik…”, balasnya dengan lega, berharap aku jadi penglaris siang ini.

Dan ternyata tidak seluruhnya doa terkabul. Hingga bus akan diberangkatkan, agen hanya mampu meraup enam penumpang.

“Ayo Mas, berangkat”, kata driver mengingatkanku yang masih asyik bermasyuk ria berwisata otomotif, menikmati eksotisme bus-bus di dalam terminal.

Jam 13.20, bus melenggang keluar terminal, dengan ciri khas suara kemriyet dari gesekan material per daun penyangga chasis MB OH 1521. Bis langsung dipacu sesaat menapak tol Wiyoto Wiyono.  Weih…apa tidak salah ini?

Gimana sih koordinasi antar agen. Katanya bus langsung berangkat, tak mampir-mampir. Ini malah dadakan disuruh ke Pulogadung. Payah, agen-agen itu kerjanya…”, gerutu Pak Sopir, bercurhat pada asistennya.

Oh…jadi ini toh alasannya sementara waktu bus ini ngebut. Takut dikomplain penumpang Pulogadung. Namun, aku malah senang, bisa mengulur waktu keberangkatan. Jangan sampai kepagian sewaktu turun di Rembang.

Setengah jam kemudian, memasuki Terminal Pulogadung, menghampiri dua penumpang yang telah booking sebelumnya. Mungkin, agen berharap masih mendapatkan penumpang tambahan, dengan men-delay keberangkatan. Hal ini membuat muak penumpang di seberang lorong.

Tau gini naik Haryanto, ngga ngetem. Kemarin saya turun di Gresik jam ½ 4 pagi. Kirain tadi langsung masuk tol, ternyata mampir Pulogadung. Pakai ngetem lagi…!”

Yang sabar Pak, Every bus has a different taste. Jangan digeneralisasi, disamaratakan. Belum tentu, Bapak naik Haryanto lagi bisa tiba di Gresik dengan waktu yang sama. Nikmati sajalah, Pak. Kalau hati nggerundel, perjalanan makin tak nyaman, terbawa suasana hati yang dirundung kekecewaan. Lagi-lagi aku membatin…

Dan nihil, tak ada penumpang lagi. Delapan orang penumpang. Bagaimana hitung-hitungan keuntungan bisnisnya coba?

Pukul 14.30 bus full take off, tanpa singgah di agen lagi. Menyusuri jalan raya Pulogadung-PTC-IG-Tipar, lalu masuk mulut tol di entry Cakung. Sewaktu lewat garasi Si Ijo dari Cirebon, armada E 7527 HA yang akan membawa Mas Kus sudah siap di gridpemberangkatan.

Aku pun pasrah, jikalau nanti selama melahap tol Cikampek, akan diwarnai aksi netral, menahan rpm di posisi idle, sekitar 1000 kali putaran per menit. Aku sikapi, itulah tastebus bernomor registrasi B 7244 ZX ini…

Justru meleset dugaanku. Pedal akselerasi dibejek habis-habisan oleh driver I. Bukan tipikal manusia pelit dalam “menyedot” isi tangki solar.

Setelah lewat interchange Cikunir, bertemu dengan  adik kandungnya, B 7245 ZX, yang berdinas menggawani trayek Lebakbulus-Madura. Sayang seribu sayang, senasib dengan kakaknya, hanya mengangkut 5 orang penumpang. Tak bisa dipungkiri, pasca liburan tahun baru, memang okupansi penumpang jarak jauh sedang nge-drop

Setelah saling ledek antar kru, dengan pamer jumlah penumpang, penumpang Gresik tadi bertanya ke pengemudi.

“Apa ngga dioper dijadikan satu bus saja, Pak?”

“Wah, di Kramat tak ada istilah bus balik pool Pak. Kalau disuruh jalan, berapapun penumpangnya ya tetap jalan”, tandas Pak Sopir.

Mantap, inilah kelebihan PO berjuluk “Tripple X”…eh “Tripple Eggs” ini…

Dan gerakan anti lelet disempurnakan anti gigi 0, terbukti di sepanjang rute 70 km tol Cikampek hingga daerah Losarang. Bersama dengan adik, Hino RG air suspension, saling menguntit kemudian susul menyusul, rajin mengambil jalur paling kanan yang diperuntukkan untuk menyalip.

Kramat Djati

Kramat Djati

Meski sempat di-overtake Rosalia Indah 319, tercatat pula empat bus yang diasapi, Sinar Jaya Sobo Merak 37 S, Bogor Indah Skania, Si Buruk Rupa “Dahlia Indah” dan Scania New Marcopolo Harapan Jaya. Bahkan bus terakhir tampaknya bingung mau makan di Taman Sari ataukah Kalijaga. Sewaku ditempel, tiba-tiba sein kiri dan berhenti 100 m setelah Taman Sari.

Pak Sopir tak mampu menahan tawa, mengira bus tersebut kebablasen, lupa tempat rumah makan persinggahannya.

Lepas dari RM Singgalang Raya, aplus-an dengan driver II.  Tipikalnya lebih smoothnamun tak berkurang spirit of speed dibanding driver I. Tak beda dengan karakter bus Plat K. Meski dari logat bicaranya, berasal dari daerah Pemalang atau Tegal.

Di ruas Celeng-Widasari, ekor angkutan berat begitu panjang. Saat terjerembab, bus model Setra ini dilibas Langsung Jaya Hino front engine. Ya, wajar…posisi padat merayap, mesin depan lebih unggul tarikan dan kegesitan.

Tak selang lama, gantian Purwo Widodo Putro berbaju buatan Hadi Putro yang begitu bergairah untuk mengalahkan Kramat Djati. Meski ciri fisiknya tidak berbohong, Prestige Tri Sakti.

Gila…bus-bus ranah AD kelas medioker makin berlari-lari. Apa virus Ros-in yang bertagline “Semakin Kukejar Semakin Jauh” hinggap juga di bus-bus papan tengah?

Satu pemandangan paling menarik di jalur Pantura adalah penampakan empat chasis telanjang yang akan dibawa ke karoseri. Saya tak bisa menilai, ini jenis apa. Saya curiga, jangan-jangan ini MB OH 1526 yang sedang hangat dipergunjingkan.

Masuk tol Palimanan-Kanci, kecepatan Kramat Djati makin memuncak. Berkali-kali bodi usang Adi Putro ini bergetar hebatnya saat jarum tachometer nyaris menyentuh redline, di angka 2500 rpm, sehingga sopir berupaya men-slow down laju bus.

Lepas tol, aksi bus kelas eksekutif ini makin tak terbendung. Akhirnya, dua anggota Genk Soloensis yang tadi sempat mencundangi gantian direnggut kejayaannya di daerah Losari. Ck ck ck… hanya decak kagum yang bisa kualamatkan pada pilotnya.

Sayang, slot time Kramat Djati bukanlah peak arus mudik bus-bus arah timur. Sehingga tiada lawan lagi yang mumpuni untuk ditaklukan.

Dan it’s sleeptime…

Aku terbangun saat bus menuruni alas Roban. Tampak jauh di depan, di antara jajaran kendaraan yang mengular, duo New Marcopolo Pahala Kencana, bertuliskan Euro 3 di dinding kaca samping. Wah, boleh ini sekali-kali dicoba. Ini PK Bandung apa Jakarta ya?

Sayangnya, saat dicoba untuk diikuti, Kramat Djati kehabisan nutrisi, dan masuk SPBU di daerah Cepiring, Kendal. Namun, aku bisa mencuri pandang plat nomor PK, B 7519 IZ. Satu yang pasti, memang bus baru, bukan ganti busana.

Dan satu “dosa” tercatat lagi, mesin OM366 LA dihembusi asap karbon bus Ezri Cirebon-Malang. Wah, pion Pak Tong masih ganas juga…

And then, the next sleeptime…

Bangun lagi saat bus melewati koridor Kudus-Pati yang jalannya sebagian hancur menjelma menjadi kubangan kerbau dihajar curah hujan yang tinggi. Paling parah tepat di depan kantor Mas Ilyas, PT Pura Kudus.

Kukeluarkan henpon untuk mengintip waktu. Ya ampun, 00.24??? Kok secepat ini bus ini? Berharap jam 3-an masuk Rembang, melihat waktu yang berhasil ditempuh, bisa jauh lebih cepat.

Yang membuatku salut dan appreciate, PO yang satu grup dengan Pakar Utama ini konstan dan stabil dalam kecepatannya. Meski tak selamanya numbero uno selama menyusuri Pantura, tapi greget dan determinasinya tak pernah surut. Tidak membuat jengkel bagi penyuka bis banter.

Dan benar adanya, jam 01.40 menyelesaikan finishku di depan Taman Kartini, Rembang. Kuucapkan terima kasih kepada Pak Sopir dan asistennya atas lancar, nyaman dan cepatnya perjalanan.

Capaian luar biasa Kramat Djati menempatkannya pada posisi tiga besar rekor best lapperjalananku Rembang-Jakarta, di bawah PK 10:30 pada tahun 2002 dan NS 39 11:00 tahun 2005. Dengan raihan 11 jam 10 menit, ditengah terpaan berita negatif, dan kondisi jalan yang carut marut akibat kerusakan dan perbaikan jalan, catatan waktu PO Kramat Djati B 7244 ZX ini terbilang “fantastik!!!”

KD-Madura

KD-Madura

Segera kususuri jalanan Kota Rembang, menuju Pasar Kota tempat mangkal micro busRembang-Blora. Keadaannya persis kota mati, tak ada denyut nafas kehidupan. Masyarakat masih terlelap tidur, dibuai mimpi-mimpin indah.

Kini, aku harus menanggung karma setelah underestimate dengan satu dari beberapa legenda bus bumi Nusantara, PO Kramat Djati. Seakan “The Flying Eggs” ini mematahkan anggapan-anggapan absurd yang terkesan menomorsekiankan kehebatan nya. Kini kuhadapi kenyataan, 1 ½ jam terkatung-katung di terminal bayangan pasar Rembang, menunggu bus mini jalan pertama ke Blora.

Dalam kesendirianku menanti angkutan ke selatan, selintas dalam bayanganku, sekarang ini adalah era bus cepat, bukan masanya bus pelan. It’s not slowtime…

Berkaca pada perjalananku sebelumnya, dengan OBL V-engine, Karina Madura, Karina Bojonegoro, Malino Putra Macan, Haryanto Madura, dan Kramat Djati Madura, (untuk bis Muria tak usah ditanya…), yang tak pernah mengecewakanku dalam soal kecepatan.

Apakah aku berani berani “berfatwa”, 11 dari 10 bus malam adalah bus banter?

Ah, belum. Masih ada satu PO lagi yang akan kujadikan saksi ahli sebelum menggenapkan kesimpulanku. Dan yang pasti, sebentar lagi akan kubuktikan…

(Artikel dan Poto oleh Didik Edhi)


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Ditulis oleh

'BisMania Community Yogyakarta Berhati NyamNyam'

2 Comments

  1. anggaraminded /

    hahahaha… bt juga yah…kalo sampe kepagian…
    tapi dah 3x baca report touring.. enak dibaca semua nih..
    berasa ikut touring juga…
    keren2

  2. dwiawig
    dwiawig /

    Setiap postingan Caper dari Mas Edhi selalu saya tunggu2, enak dibaca, halus tutur penulisannya terkesan yg membacanya ikut hanyut dalam isi Caper tersebut. Makasih mas atas Caper-Caper Fantastisnya

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;