Ngga zaman punya pacar satu saja
Ngga zaman pacaran harus setia
Ngga zaman cewe itu harus ngalah
Ngga zaman cewe selalu di bawah

Hingar bingar audio sound system membahana ke awang-awang. Alunan irama remix dengan tempo nge-beat menyelarasi kelincahan jari-jari keyboardist menekan tut-tut mainannya. Vokal seksi lagi genit dua biduanita larut menjiwai lirik-lirik nakal yang dilantunkan. Ditingkahi goyang nan aduhai di atas panggung, temaram mendung perlahan terkikis hangatnya mentari.

Meski hobi bermusik, eksotisme suasana seperti itu tak membuatku kepincut untuk merapat ke venue outdoor yang lagi disewa pabrikan pengolah tembakau untuk kegiatan promo.

Aku tetap terpaku pada bangku halte stanplat bus, duduk menyendiri. Kukhidmati acara “menunggu sesuatu” dengan masyuk membaca esai-esai ringan yang terunduh lewat gadget lawas.

“Rokoknya, Om!” mendadak suara lembut seorang dara menyapa membran telinga. Setengah terkejut, kutolehkan kepala dan sekilas menatap binar mata nan menggoda.

“Tidak, Mbak, terima kasih!” tepisku menolak tawarannya.

“Ayo dong, Om, beli satu…” bujuknya sekali lagi dengan gesture mengiba.

“Maaf, Mbak, saya tidak merokok!”

Dengan raut keruh oleh kekecewaan, wanita belia itu beranjak pergi, bermigrasi dari lelaki satu ke lelaki lain demi mengejar  target penjualan yang dibebankan pada pundaknya. “Pemandangan pilu” itu seketika membuatku terenyuh dan selanjutnya mengutuk diri sendiri.


“Ya Allah…mengapa aku tak berbelas kasihan padanya. Meski aku bukanlah golongan ahli hisap, semestinya aku meluluskan rayuannya. Hati gadis itu pastilah senang melihat belasan rokok yang diampu tangannya berangsur susut. Ah, aku terlalu egois, pelit, kurang sosialis dan miskin empati pada sesama!” sesalku. “Cuma seginikah kualitasku sebagai bangsa manusia?”

“Mas, bus Priok sudah masuk!” panggil Bapak Agen membuyarkan lamunanku.

Ya ampun…dari mana datangnya makhluk merah ini, tahu-tahu sudah terparkir di depan kios tempatku bertransaksi sebelumnya.


“Nomornya 5106,” ujarnya, seraya menuliskan angka tersebut di atas “tiket darurat” yang aku pegang.”Nanti ini ditukar sama yang asli di atas ya, Mas!” imbuhnya dengan nada memerintah.

Kupandang cowl sudut depan kiri, lokasi di mana PO ini biasa mencantumkan nomor penciri armada. 5106, itulah yang terpampang si sana. Fix, inilah transporter-ku.

***
45 Menit Sebelumnya

“Bapak, Agra Mas ke Tanjung Priok masih ada kursi kosong?” tanyaku pada shopkeeper sebuah biro perjalanan sekaligus agen PO universal di dalam kompleks Terminal Banyumanik.


“Sebentar ya, Mas, saya menghubungi kru dulu.”
“Hmm…harganya berapa, Pak?” selidikku agar tak terjebak membeli kucing dalam karung.
“115 plus makan.”

Pas, tidak lebih dan tidak kurang, sesuai informasi tripfare yang kukorek dari Pemangku Wilayah Tingkir, Mas Doni Prast.

“Kalau ada saya pesan satu, Pak!”

Bergegas si Bapak memungut handphone yang tergeletak di atas meja, dan menelepon seseorang. Meski berdiri agak jauh dari posisiku, sayup-sayup terdengar pembicaraannya.

“Priok masih ada?”
“x!#%^%&??!@”
“Apa? Baru isi 15? Aku ambil satu ya!”
“x!#%^%&??!@”
“Tiketnya sama aku apa kamu?”
“x!#%^%&??!@”
“Oke, jadi sama kamu saja ya.”

Laki-laki yang secara fase sudah masuk paruh baya itu kemudian mengambil secarik kertas non formal sebagai bukti booking, sambil melengkapi kolom nama, alamat, destinasi, hari dan tanggal keberangkatan, serta nominal tarif yang ditetapkan.

“Ini tanda pemesanannya, Mas, kira-kira setengah lima busnya sampai sini!” pungkasnya menutup pasar sore.

***

16.35

“Banyak yang kosong, Mas, silahkan duduk di mana saja!” instruksi kenek saat aku mulai melantai.

Sejurus kemudian, Agra Mas mengembangkan layar, meninggalkan sub terminal dengan grade Tipe C, menyusul pelayaran kameradnya, BM-002.

Bus hanya mengangkut 17 sewa — termasuk tambahan aku dan anak muda yang hendak menuju Pademangan — sehingga kabin terkesan melompong. Dua plus satu kursi di deret ke-8 bisa aku kangkangi karena yang lain menumpuk di front rows.

Kini aku mencoba berkalkulasi serta berspekulasi. Bila Muria-an tinggal landas dari Semarang sekitar setengah sembilan dan tiba jam enam esok hari, secara logika, si Merah ini bisa menyingkat waktu 3-4 jam-an saat mencapai ibukota, di muka kedatangan gerombolan Nusantara cs.

Hmm…Kalau begini modusnya, inilah saatnya aku mengukir prestasi gemilang, memecahkan rekor paling pagi mencumbui ladang pencaharian. Meski klan Wonogiren tak sebanter entitas pelat K, tapi aku yakin, pasti bisa!!!

Gen Hino spesies RG yang sess dan ngeri-ngeri sedap tersembul tatkala mengacak-acak jalur berlawanan di pertigaan Sukun. Orientasinya adalah nyolong start, berpacu dengan countdown timer traffic light menyala hijau.

Pun saat menyungkurkan Tunggal Dara Putera bermodelkan Skania jurusan Purwantoro-Jakarta di Turunan Jatingaleh, dan dipertegas ketika melibas PO Puspa Jaya BE 2372 W line Lampung.


Tak usahlah kecepatannya disandingkan dengan gaya injak gas ala Pak Ali Kantong feat Abah David, penggawa HR-47. Kuasa mengungguli konco-konco kidul-an kuanggap show off  ke-superioritas-an yang sepadan untuk disombongkan.

Di Krapyak, kupotret sosok bus yang (berdasar klaim Koh Hary) paling memanjakan penumpang, khususnya yang bermodalkan lambaian tangan di pinggir jalan. AE 7061 UB, tjap dua segitiga merah. (Hehe…) Take off dari mana dan jam berapakah hingga Jatimer yang satu ini sudah menapak wilayah Semarang?

Usia driver yang sepuh dan agak temperamen tak menghalangi skillnya untuk tampil menyala-nyala. Patas Semarang-Cirebon, Coyo, G 1489 AA, diasapi di tengah kerumunan lalu lintas oleh momen bubaran kerja.

“Nyawamu serep to, Mbak, wani-wanine mungsuh bus malem!” umpatnya saat berondongan klakson tak digubris seorang cewek biker. (Nyawamu double, Mbak, berani-beraninya melawan bus malam)

Petugas retribusi Terminal Mangkang dibiarkan menganggur, karena besutannya langsung bablas, melipir ke Lingkar Kaliwungu. Di jalur pengurai sepanjang 8,1 km ini, berpas-pasan dengan Pahala Kencana Evonext jurusan Bangilan, salah satu akademia pagi Pulogadung.

Semangat juang tinggi tak jua mengendur. AKAP yang terdaftar di Kantor Samsat Bekasi Kota ini benar-benar merajai kelompok terbang bus malam pertama yang heading to the west.

Langsung Jaya, AD 1480 AF, dilempar dari persaingan di atas permukaan trek Bugangin. Dan kemudian spot Patebon merekam scene saat menghempaskan PO Coyo bergaun Prestige bikinan Tri Sakti.

Hah!!! Tiba-tiba aku teringat sesuatu! Aku ini kan belum ber-KTP (Kartu Tanda Penumpang) legal. Mengapa tidak ada gerak-gerik atau gelagat dari ajudan sopir untuk membarter “tiket palsuku”?

Hmm…apa gara-gara kelupaan, dan nanti akan diserahkan sesaat sebelum memasuki rumah makan? Toh, dulu sewaktu mengencani Tunggal Dara Putera, “tiket asli” pun diberikan setelah bus mengangkat jangkar. Barangkali ini hanya beda masalah timing saja.

Tapi…apa arti ucapan “Jadi, tiket sama kamu saja ya!” yang dilafalkan agen Banyumanik saat menelepon kru?

“Jangan-jangan…jangan-jangan!” aku dirambati keraguan tentang status halalku.

“Oh, no…kamu kudu tetap positive thinking!” wejang sisi nurani walaupun beragam pertanyaan bergelayut di benakku.

Properti milik PT. Anugerah Mas ini serasa tak kenal gentar menerjang medan laga. Aku mengagungkannya sebagai sang Pemberani, meresonansikan makna warna merah yang melumuri sekujur tubuhnya.

17.18
Legacy Sumba Putra undur gelanggang dipameri kegesitannya menaklukan aspal ruas Truko, Cepiring. Dan selanjutnya mengadakan “reuni” bersama BM-002, B 7143 KGA, yang senja itu juga tak kalah perform mengumbar semburan daya 260 HP.



Berdua rancak membelah jalan, menyelenggarakan persekutuan untuk menekan dan mendorong-dorong armada PO Tegal Indah.

Tak ingin dipecundangi dengan mudah, bus wisata berkaroseri Scorpin King itu meningkatkan tensi permainannya. Cara sedikit lacur diperagakan dengan memblokir luasan badan jalan. Tak sekalipun duo Agra Mas diberikan celah untuk menusuk ke depan, dan akhirnya tetap pada formasi semula hingga tamat menuntaskan ringroad Weleri.

Bus berbasis bodi Evolution garapan tools Rahayu Santosa ini mengistirahatkan lelah setelah tujuh jam berjibaku menyisir rute Pacitan-Wonogiri-Solo-Bawen-Gringsing.

Para penumpang berikut kru serempak keluar, sementara di sudut lain, aku justru bertambah bingung. Mana “lembar asli” yang dijanjikan agen?

“Mana tiket untuk saya, Mas?” tagihku pada kenek, di saat “teman-temanku” menuju antrian service makan malam.

Dia memandangku tajam, dan kemudian menjawab “Sebentar ya, Mas!”, sambil berlalu menaiki busnya kembali.

Dari luar kaca, aku bisa melihat kesibukannya membersihkan lantai dan ruang interior, terkesan tak nyadar bahwa seseorang sedang menunggu janjinya.

Asem…aku mulai mencium aroma ketidakberesan. Kukeluarkan “tiket palsu” itu dan kuhampiri dia sesaat setelah turun dari armada.


“Mana, Mas?” tanyaku dengan intonasi meninggi. “Kata agen dapat makan, mana kuponnya?” pancingku.

Empat atau lima pasang mata serentak menoleh ke arah kami berdua.

“Sudah, Mas, ayo ikut saya saja!” redamnya setengah berbisik, seraya menggandeng tanganku dan diarahkan menuju ruang makan kru.

Busuk!!! Aku dijadikan begundal sarkawi secara halus dan rapi!

Argh…betapa bobroknya sendi-sendi kehidupan di republik karut marut seperti tanah airku ini. Iktikad untuk menjadi orang baik dan patuh aturan justru diselewengkan oleh pengingkar kaidah-kaidah kebenaran.

Kewajiban pra-touring sudah kulunasi. Membeli tiket dari agen resmi, dengan tarif resmi, diberikan bukti resmi, dan yang kupilih PO resmi. Tapi nyatanya?

Apa bedanya aku dengan penumpang ilegal yang nyetop di tengah jalan? Tak henti-hentinya aku menggerutu.

Pufh…aku ibarat keledai, dua kali terperosok ke dalam lubang yang sama. Aku kembali terperangkap di dalam jeruji sarkawi. Bodohnya aku, mengapa gampang percaya pada mulut manis orang lain? Apa khilafku hingga dijadikan boneka kebohongan dan obyek skandal tipu-tipu antara agen dengan kru?

Mau tak mau, kuturuti saja permintaannya. Entahlah, aku juga bimbang harus berbuat apa. Mengajak cekcok hingga membikin gaduh dan menarik perhatian pengunjung Raos Eco pun tidaklah elok dan bukan tipikalku. Biarlah, kalau memang ini dosa, aku siap mempertanggungjawabkannya.

Kuambil sejumput nasi dan sepotong ayam goreng di hadapan sorot curiga kru-kru Agra Mas yang lain. Sebab hanya aku satu-satunya “pegawai” yang tidak mengenakan seragam hitam-oranye. Jangan tanya soal rasa dan fitur ambil suka-suka. Niatku di sini hanya ingin menghargai perasaan orang, tidak terpikir seberapa banyak suapan yang harus aku telan untuk menganjal volume perut.

“Mas, saya ke belakang dulu. Terima kasih sudah diajak makan!” basa-basiku pada kenek setelah menghabiskan menu dengan terburu-buru. Rasanya jengah, kikuk dan tak kerasan menyantap sajian gala dinner yang semestinya bukan hakku ini.

18.28

“Yak, sudah komplit. Ayo jalan!” seru controller usai mengecek “isi muatannya”. Seolah kena pecut, sopir tengah pun tidak sabar memundurkan “bendi jepangnya”.

“Iki piye, belum komplit kok mau jalan saja!” sergah Bapak-Bapak penghuni bangku 19 saat teringat dua bangku di depannya yang semula diduduki dua orang masih terlihat kosong.

Kenek pun merecheck dan memang benar bahwa ada yang belum mengisi buku absen keberangkatan. Dan butuh dua menitan menanti kehadiran mereka berdua.

Aku hanya menggumam, “Payah…benar-benar payah! Ini bagian controlling gimana sih? Aku yang gelap, tak tercatat di daftar manifes, lolos dari pemeriksaan! Kurang dua orang dibilangnya penuh! Apa gunanya pakai petugas-petugas segala kalau kerjanya saja asal-asalan, formalitas doang dan asal bapak senang! Pantas saja “barang ilegal” seperti aku ini gampang diselundupkan ke dalam.”

Ah, lupakan dulu soal peristiwa memalukan barusan. Perjalananku masih jauh, tak bijak berlama-lama memendam kedongkolan di dalam raga. Bisa menumbuhkan bibit-bibit penyakit nantinya.

Aku harus tetap enjoy dengan trip ini, betatapun kehinaan dan loosing my esteem kini tengah melingkupi.

Seperti pilot pinggir, subtitutornya ini juga tak kalah garang. Meski sempat disungkurkan PO wisata Kawan Lima di Tanjakan Plelen, aku optimis, tak butuh tempo panjang untuk melakukan revans.

Hujan intensitas ringan mengguyur kawasan Alas Roban. Potensi slip when wet seakan dilalaikan saat bus yang teregistrasi di berkas kepolisian dengan nomor B 7736 YL ini berikhtiar melengserkan PO Putera Mulya, AD 1432 DG. Perjuangan luar biasa juga dipertontonkan dan membuahkan hasil positif. Balas dendam setelah dipecundangi Kawan Lama terbalaskan. New Marcopolo tersebut mengibarkan bendera putih di daerah Tulis.

Nusantara dari divisi CN, yang menggawangi lapak Semarang-Tegal juga dijungkalkan secara open play meskipun harus melewati tantangan yang tak mudah.

Badan yang tengah didera kecapean, membuatku tunduk pada aspirasi rasa kantuk. Menjelang Kota Batang, aku laksana dihembus-hembusi sirep yang ditiupkan asap pembakaran mesin varian J08C-TI ini.

23.38

Grekk…grekk…grekk… grekk…grekk…grekk…

Monotonitas bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh gesekan ban dengan jalannan bopeng membangunkanku dari peraduan. Kukucek mata dan mengedarkan pandangan keluar dinding kaca.

Ha!? Aku terkaget melihat papan nama sebuah sekolah menengah, MTsN, yang memahatkan nama Kandanghaur.

Cepat amat! Jam segini, bus langgananku biasanya masih berkutat dengan hiruk pikuk kehidupan malam Kota Tegal.

Di depan, tampak buritan Sinar Jaya, 38 Y, dengan trayek Balamoa-Jakarta. Berdua pun seiring sejalan menelesup di dalam barisan truk-truk yang seolah tiada putus bergantian menjajah jalan. Barulah di lintasan sepi Sumur Adem, B 7316 NL itu mulai ditinggalkan.

23.59

Bus berkasta VIP 39 seat ini lalu melawat ke rest area UUN, Pamanukan. Sepertinya tak ada keharusan wajib lapor, dan kru hanya mengambil jatah perbekalan yang diulurkan pihak rekanan sebagai imbal balik hubungan harmonis yang telah terjalin.

Berbarengan itu pula, hadir sebuah armada Asli Prima kelas ekonomi, Damri 3065 dan Shantika divisi Pariwisata terparkir di areal rumah makan yang (menurutku) mempunyai masjid termegah se-Pantura itu.

Aku pun merangkai mimpi-mimpi kembali. Zzz…zzz…zzz…

Duet bus karyawan, Arion kode 123 dan Hiba Utama 140, dilangkahi di depan Kawasan Industri Kujang Cikampek (KIKC). Aku berkesimpulan, sementara waktu bus ber-smoking room ini menihilkan peran Tol Cikampek-Jakarta, demi keperluan unloading penumpang yang bertujuan Klari.

Ruas jalan bebas hambatan sepanjang 73 km dan melewati 6 kota ini hanya dikaryakan sejauh 38 km untuk memangkas jarak antara Karawang dan Bekasi.

01.55

Separuh okupansi telah menghilang saat “sempalan” PO Giri Indah ini berlabuh di perempatan Cempaka, tak jauh dari gate exit Tol Bekasi Timur.

Kemudian menyisir jalanan Kota Bekasi, dengan rute Jalan Inspeksi Kalimalang-Jalan Cut Metia-Perempatan Rawa Panjang-Pertigaan Pekayon-Jalan Ahmad Yani-Jalan Jendral Sudirman-Pasar Kranji-Jalan Sultan Agung- Gerbang Harapan Indah-AURI Ujung Menteng, sambil sesekali menuruti request bagi mereka yang minta di-discharge di tengah jalan.

Agra Mas rupanya menganut sistem sapu bersih untuk debarkasi para penumpang. Setelah melewati pertigaan tol Cakung, giliran kawasan Pulogadung yang disinggahi. Hanya berhenti di pertigaan Igi menurunkan seorang penghuni, sementara spot terminal malah nol peminat, sehingga tak perlu masuk jalur penurunan di dalamnya.

Lalu lintas ibukota yang sepi dan lengang seakan menyembunyikan wajah asli ibukota. Berkendara di waktu dinihari, setiap kendaraan dapat menjelma menjadi pelukis malam. Leluasa melenggang dan bebas berkreasi, bisa menjajal kemampuan maksimal “kuda pacunya”, tak perlu risau dengan hiruk pikuk pengguna jalan yang lain.

Kecepatan di atas rata-rata juga mampu dipentaskan pencangkok AC merek Thermo King ini di Jalan Perintis Kemerdekaan. Di simpang empat Cempaka Putih, haluan pun berbelok ke kanan,  melahap aspal beton Jalan Yos Sudarso dengan rakus.

Aku tersenyum kegirangan. Inilah saatnya detik-detik pemecahan rekor!!!

Area Tanjung Priok yang biasanya macet parah di siang hari, tersendat oleh aktivitas pembangunan akses tol Cilincing-Jampea, traffic-nya sangat-sangat lancar dan deras mengalir. Suasana yang cukup menunjang dan mendukung terjadinya “geger dan kehebohan” itu.

“Turun mana, Mas?” tanya kenek saat aku berkemas dan menumpang duduk di bangku depan.
“Mambo!” jawabku dengan riang.

2.40

Itulah display waktu yang terpampang di pojok kanan atas handphone-ku, mendokumentasikan catatan manis yang baru saja teraih.

Dengan bangga dan penuh apresiasi, medali emas sebagai moda paling gasik yang mendekatkan dengan pesisir Jakarta,  aku kalungkan di leher armada 5106.

Top, takzim dan salut atas perjuangan Agra Mas. Applause for it…

Dan rasa-rasanya, kuncian jam dua lebih empat puluh menit akan menjadi rekor abadi, sesuatu hil yang mustahal bakal bisa dipertajam oleh PO lain, selama aku masih berkesempatan menekuni lakon hilir mudik mingguan Jakarta-Rembang.

3.25

Mata ini sulit terpejam di ruang istirahat yang secara ekslusif disediakan oleh kantor bagi karyawan. Sengaja  fasilitas ini kupilih sebagai tempat merehatkan diri, sebab ada ancaman kebablasan bangun pagi andai leyeh-leyeh di indekos-an.

Masih terkenang akan adegan-adegan yang merangkai notula perjalanan satu malam, yang baru saja kugeluti. Nyandung nyrimpet tak karuan, kebahagiaan dan kenistaan teraduk menjadi larutan tanpa pola, tersaruk aral yang bernama sarkawi, meski endingnya secara sah dan meyakinkan jika dilabeli happy.

Namum, hati kecil ini terus-terusan berteriak nyaring, “Ngga fair…curang…culas…keji lakumu!”.

Argh…dilematis, but keputusan berat harus berani kujatuhkan.

Legitnya gelar numero uno yang belum satu jam direguk oleh Agra Mas dengan terpaksa aku lucuti. Tak elegan dan mencederai nilai sportifitas andai kupertahankan. Lantaran secara “syarat administrasi” —tanpa pegangan tiket resmi–, aku memang gagal dan patut terkena diskualifikasi sebagai kontestan dalam perebutan tropi siapa yang memegang best hour saat menginjak tanah Jakarta Raya. Aku tercabik-cabik oleh ulah tangan-tangan kotor sarkawi, menjerembabkan identitasku dari penumpang resmi menjadi penumpang terlarang. Aku terlibat di dalam lingkaran “sarkawi-poli”.

Kuhapus angka 2.40 yang diukir si Merah dari Guinness Book Records versi abal-abal. Aku pun me-remove capaian spektakuler itu dari daftar, dan kuanggap tidak pernah ada.

Selanjutnya, selempang juara kusematkan kembali kepada B3, anggota keluarga PO Bejeu yang pernah menerjunkan “tas punggungku” di Terminal Pulogadung pada pukul 3.50, tiga tahun silam.

Torehan  mentereng yang sejauh ini tetap aman terjaga, sebelum terusik dan tercoreng oleh sepak terjang si Merah Pemberani, Agra Mas.


Sayang seribu sayang, aspek yuridis serta kepantasan moral kemudian membatalkannya

Dari Kota: Semarang

Jam Berangkat: 16:35

Tujuan Kota: Jakarta

Tiba jam: 2:40

P.O: Agra Mas

Harga Tiket: 115000

Kelas: VIP

Tanggal: 03/13/2013


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;