Hugh…

Baru dua hari menjejakkan telapak kaki di ibukota sejak hari Kamis kemarin (19/11), rasanya seperti sewindu ngga pulang mudik. Bosan dan jenuh dengan ritme Jakarta yang ternyata masih “itu-itu saja”…

Ah, peduli amat dengan badan yang didera kecapaian setelah perjalanan 600 km sebelumnya. Hari Jumat ini mesti balik lagi ke Rembang. Working mood-ku belum pulih pasca menjalani cuti panjang. Lagian, masih ada sedikit hutang urusan yang mesti ditunaikan di kampung, meski sebenarnya masih bisa ditunda. “Never put off till tomorrow what you can do today”, seolah aku mencari pembenaran diri sendiri atas keputusan yang aku buat.

Selepas sholat Jumat, segera kutinggalkan “ladang” yang selama ini mendekatkan rejeki bagiku.

“Maaf ya Kang Ladang, aku belum bergairah menggarapmu kembali. Esok aku akan kembali dengan gairah dan semangat yang baru,” kataku saat tiga jemariku menyusup ke dalam piranti finger print yang terpasang di ruang lobi kantor.

1 jam kemudian…

Kupercepat langkahku setelah turun dari tangga berbahan plat bordes Metromini 46, karena rinai gemiris mulai turun tipis membasahi bumi. Bis bermesin Isuzu 100 PS dengan tubuh bopeng-bopeng ini yang mengantarku hingga ke depan mulut gerbang Terminal Rawamangun, sebagai titik keberangkatanku mulih ngetan.

Memang, dari awal tak ada keinginan nantinya naik bis apa. Akhir-akhir ini, aku prefer go show aja. Entahlah, rasanya pergi “tanpa tiket di tangan” memberikan tantangan, harapan, sensasi dan kepuasan tersendiri dibanding sistem booking. Kalau aku analogikan, go show di terminal tak ubahnya acara cari jodoh Take Me Out. Anggap saja bis-bis itu wanita cantik yang sedang menawarkan cinta, tinggal kita sebagai sang arjuna memantapkan hati, hendak ke mana melesatkan busur panah asmara yang kita punya. (Hehehe…keliru beranalogi ya?)

Di lapak Pahala Kencana, terlihat dua armada, Jupiter Banyuwangi dan Setra Blitar. Hmm…malas ah, harga susah digoyang. Maklum, cuma bermodalkan kantong tipis.

Seratus langkah ke depan, tampak di lajur 3 berjajar Lorena Blitar, Rosin Ekonomi dan Harapan Jaya. Hmm…kok cuma ini penampakan Si Ijo, mana LE 44…, LE 41…, LE 42… atau KS 420?

Menggeser ke blok nomor 2, ada CV Pelangi dan berderet dua armada Super Eksekutif Rosalia Indah di belakangnya. Ah, tak ada yang lewat pantura timur Semarang.

Pindah lagi ke line 1. Berturut-turut dari depan Sinar Jaya Wonosobo, Kramat Djati Malang, dan Malino Putra Malang.

Tidak banyak pilihan armada memang. Dan sepertinya, suasana terminal yang terletak di Jalan Perserikatan No. I lengang. Mungkin para penumpang menahan diri bepergian, mengingat minggu depan adalah libur lebaran haji.

“Mas, mulih Rembang yo. Ayo jajalen Shantika anyarku (High deck, maksudnya)!”, kurasakan seseorang menepuk pundak. (Mas, pulang Rembang kan? Ayo coba Shantika terbaru)

“Eh, sampeyan Mas. Waduh, bismu mangkat jam pitu, kesuwen aku olehe ngenteni,”

jawabku sambil mengingat-ingat, bahwa dia adalah Mas Lilik, staff ticketing Shantika. (Eh, kamu Mas. Aduh, bisnya berangkat jam tujuh. Kelamaan kalau menunggu)

“Mas, naik Kramat aja ya. Ini mau berangkat. Sudah, aku kasih harga 150, eksekutif dapat snack dan makan. Repot lho kalau naik Malino, kalau ada apa-apa di jalan, bisnya cuma satu”, tiba-tiba agen Kramat Djati menyela pembicaraan, dan berusaha mempengaruhiku. Sepertinya dia nguping obrolan barusan.

“Maaf Pak, saya pikir-pikir dulu,” dengan halus kutolak tawarannya.

(Sorry Bos, netralisme adalah momok terbesar dalam perjalananku…)

“Mas, gelem taknyangke Malino,” Mas Lilik membuka pembicaraan lagi setelah agen Kramat Djati menjauh. (Mas, mau aku negokan tiket Malino)

Batinku berbisik dan setengah memaksa, “Sudahlah, naik bis ini saja, belum pernah dinaiki kan? Ayolah, kesempatan datangnya cuma sekali. Tak apalah bukan yang Galaxy EXL, bis ini juga menarik hati kok. Masak mau ke Pulogadung, NS 39 lagi, NS 39 lagi. Bismania macam apa pula kau ini!!!”, imbuhnya dengan nada mengejek.

“Yo wislah, mengalah, aku naik Malino saja…”, palu vonis akhirnya kuketuk.

Dan berkat bantuan Mas Lilik pula, akhirnya deal di harga Rp.140.000,00 untuk tujuan Rembang.

Aku mesti kompromistis. Cita-citaku mengecap Galaxy EXL sampai detik ini belum kesampaian. Tak apalah, mendapatkan Malino Putra lawas, berplatform MB OH 1521 berbalut busana Tentrem Setra Inspiro. Livery-nya bukan ombak biru khas Malino Putra, melainkan sticker printing bergambarkan sekawanan spesies hewan buas berjenis Singa Afrika (Panthera Leo; latin). Ditambah lampu beam model mata burung hantu, menjadikan bis ini kelihatan garang…

1

Kesan pertama saat menilai interiornya…Duh, langit-langit sudah kusam. Jok Alldila-nya pun mulai memudar warnanya. TV pun asal ada, hanya LCD kecil, itupun selalu terlipat selama perjalanan. Apalagi konfigurasi seat 8 baris, terasa sempit. Namanya juga menjajal “kembang perawan”, pastilah sempit, pikirku menghibur diri…


2

Namun, nilai plusnya disediakan ruang muktamar ahli hisap yang dilengkapi dispenser di kompartemen belakang.

Jam 15.15, Singa Tua ini mulai mengaum, membawa beban 18 penumpang. Dengan sisa-sisa kekuatannya, OM 366LA ini harus menebus jarak 800 km Jakarta-Malang. Drivernya pun modis dan tampil elegan, mengenakan kemeja putih, dibungkus jas biru laut dan berpeci. Cara pegang kemudinya smooth dan safety, menandakan senioritas di jalan raya.  Asisten drivernya pun sopan dan ramah,. Itu terlihat saat pembagian snack, yang berisi tisue basah, air mineral, mie gelas dan kopi n*esc*fe, beliau sabar dalam melayani keinginan, pertanyaan dan komplain penumpang. Itulah yang aku suka jikalau naik Bis Malang-an. Kru tak ubahnya abdi raja bagi penumpang.

Masuk tol Cikampek, taring Sang Singa mulai dikeluarkan. Pedal akselerator mulai dibejek perlahan-lahan. Makin lama makin kencang berlari. Memang tidak pernah menyentuh skala 100 kph karena mesti tahu diri, usia mulai menua. Istilah memforsir kinerja mesin dijauhi, demi meminimalisir hal yang tak diinginkan di jalan. Tapi, kekurangan ini bisa terobati dengan smart action driver saat malahap  kendaraan-kendaraan di depannya.

Di km 10 seputaran Bekasi Barat, terlihat Satrio Sindoro Mas (SSM) Laksana Clurit sedang ngeban di kolong jembatan saat hujan deras mengguyur. Aku yakin ini kesengajaan kru mencari tempat berteduh.  Pepatah “sedia payung sebelum hujan” bisa digugat oleh insan jalanan. Mestinya “sedia kolong jembatan sebelum hujan”. Hehehe…

Bis pun mampir di rest area Bekasi Timur, menjemput tiga orang penumpang dari Lebakbulus. Jadi memang benar, sore ini Malino Putra hanya memberangkatkan satu armada ke Malang. Tak perlu waktu lama, kemudian diberangkatkan kembali menuntaskan rute tol Cikampek sepanjang 72 km.

Sayang, kelihaian raja rimba ini seakan tak berarti ketika versus bis-bis Priangan saat menyusuri jalan tol. PO yang bernama lengkap Malino Putra Kencana ini dibuat tak berdaya. Tercatat asap knalpot Doa Ibu, Karunia Bhakti dan Prima Jasa mesti dihirupnya. Tipikal safety player, karena solorun…

Keluar Jomin, langsung dihadang kemacetan parah. Karena mengutamakan kenyamanan dan keselamatan, bis pun tertib dalam antrian. Tidak ada aksi liak liuk mengambil hak pengguna jalan yang lain. Hanya jadi pihak yang termarginal saat dua bis Rosalia Indah dan SSM B212 (pengganti 212) memaksa dan memotong jalan bis berkode bodi 16 ini, saat nekat mengambil jalur berlawanan..

Escapes from traffic jam, Malino Putra memamerkan taringnya kembali. Sesekali rpm melewati area greenline, mempercepat ayunan langkah untuk menggantikan waktu yang dimakan kemacetan. Hampir semua armada yang sedang mengaspal di depannya, tak terkecuali Bogor Indah, Gunung Mulia dan Langsung Jaya, dijadikan mangsanya. Aksi show goyang kanan kiri go on, mengingatkan pesona jalur Jakarta-Surabaya tempo doeloe…

Menikmati kelihaian Pak Sopir, tak terasa lambungku berteriak. Namun, hingga Kandanghaur tidak ada gelagat berhenti. Padahal daerah Patokbeusi hingga Pamanukan adalah sentra pemberhentian bis malam. Aku jadi bingung, jangan-jangan RM Aroma Lorasi? Damn, padahal tadi siang hanya makan mie, itupun sebelum sholat Jumat. Hujan di luar yang tak kunjung reda seakan menambah hembusan hawa dingin ke dalam kabin semakin memperparah rasa laparku. Mau demo membuat mie rebus instan, malas membuka selimut.

Untung, dugaanku meleset. Ternyata RM Padang Singgalang Raya di Lohbener yang dipilih. Meski bagiku, masih terlalu jauh dari titik keberangkatan. Masakannya pun kurang mengena di lidah. Daripada tak ada alternatif lain, diterima saja. Daripada semalaman konser musik keroncong di dalam perut. L

Lanjut driver II, tak ada beda tipe dengan driver I. Mungkin ada standarisasi skill pengemudi di PO yang mempunyai usaha sampingan ekspedisi barang dan pembuatan kanopi bangunan ini.

Di daerah Losari, sempat terlibat race dengan Rosalia Indah 263 dan Gajah Mulia Sejahtera (GMS). Seru, karena ketiganya saling memperagakan aksi overtake. Saling bergantian posisi dengan adu kelincahan menyeruak di antara monster-monster jalanan malam itu. MP-ku yang pertama melibas armada 263, namun terkulai saat berusaha mencundangi GMS. Tak selang lama, Rosin kembali mengambil posisi MP. Dari belakang, MP hanya menyaksikan lomba balap antara GMS dan Rosin. Berkali-kali tukar tempat antar mereka terjadi. Sesama Soloensis seakan musuh bebuyutan, mengejar buruan target waktu tiba di Solo sebelum fajar menyingsing. Aku angkat topi, bis-bis jalur tenggara Jawa Tengah pun tak kalah hebat determinasinya. Andai saja Presiden Formula 1 Bernie Ecclestone ada di kursi keramat Malino Putra, niscaya tahun depan sirkuit Pantura akan dimasukkan dalam agenda balapan F1, saking tertegunnya bule Inggris ini menyaksikan bus race di Indonesia. J

Namun, usia bukan halangan untuk unjuk taring. Tak mau ketinggalan jauh dari GMS dan Rosin, bis berplat no B 7889 WM tak mau kehilangan pantat incarannya. Meski terengah-engah, kerja kerasnya berbuah manis, di depan Terminal Tegal, GMS pun ditaklukannya, meski gagal mengambil alih kejayaan tengah malam Rosin. Akhirnya, bis yang berhomebase di Palur semakin menjauh dan hilang ditelan kegelapan malam. Seakan, taring singa tua ini retak dipatahkan hegemoni dan superioritas Rosin 263.

Finally, buaian lembut suspensi leaf spring Mercy Intercooler membuat pertahanan diri runtuh diserang kantuk. Membawaku tertidur pulas sampai sebuah goncangan keras membangunkanku. Saat kulongok keluar dari dinding kaca, bis yang berslogan “don’t worry be happy” ini telah menapak jalan di antara areal tambak Kaliori, yang berarti sebentar lagi bakalan sampai tujuan akhirku. Kukeluarkan gadget lawas dari saku, kutatap jam digital di pojok kanan atas. 03.14 AM.

Hmm…not bad, 12 jam waktu tempuh Rawamangun-Rembang, plus aksi menawannya selama perjalanan. Impressed bus too…

3

Proficiat buatmu Malino!!! Meski taringmu retak, tapi aku mengakui, engkau masih tajam menggigit…


Didik Edhi – JKT012

Rembang-Jakarta, never ending journey…



Catatan Perjalanan yang lainnya:



Ditulis oleh

'BisMania Community Yogyakarta Berhati NyamNyam'

4 Comments

  1. nozu /

    wew…JKT-RBG si biasanya q naek Pahala yg SE..klo diliat dr interiornya td si y lumayan kurang..hehehehehehe….
    tp lo speed nya si lum bsa bandingin..lum pernah coba MP siii…

  2. earl_an99a
    earl_an99a /

    memang sekarang dah ada PK SE?? baru denger nih..

  3. michael-arka /

    Mas,Rembang’e mana?Aq jg wong Rembang lho!!
    Sekarang lg kuliah di Bandung.

  4. rangga
    rangga /

    wah mas didik tulisannya bagus bgt. saya suka bgt baca tulisan2 di blog anda.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;