Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Assalamu’alaikum, alhamdulillah saya masih bisa nulis di sini :).   karena hasrat ingin naik bis kadang susah di bendung, dan tambah berat lagi kalau dana tidak memadai (hehe), saya pun membaca caper sedulur2 yang mengobati rasa ingin naik bis. dan mencoba menulis cerita perjalanan yang pernah dilalui (bernostalgia ceritanya), mengikuti jejak-jejak caperis handal di groups BMC.

kali ini saya ingin berbagi cerita perjalanan saya pada tanggal 17 Juli 2010. dengan menggunakan armada Laju Prima B 7409 xa. memang sudah cukup lama perjalanan tersebut, namun masih banyak serpihan-serpihan (halah, kaya beling aja) dari perjalanan tersebut yang masih saya ingat. dan mohon pemaklumanya dari teman-teman jika dalam cerita kurang menarik, lebay (tapi bumbu lebay lebih enak dari masako :p), dan wagu. monggo…
# #

Melaju Dengan Prima

Kamis 8 Juli 2010, siang hari

Siang itu, matahari begitu terik ketika aku mengendarai sepeda motor berlambang 3 garpu tala menuju terminal Tirtonadi Surakarta. Hawa yang panas khas perkotaan di Jawa Tengah membuatku berpeluh menyusuri aspal hitam, kota kelahiranku. Debu yang berterbangan dari tapak roda kendaraan yang berlalu lalang membuat nafasku sedikit terganggu.

Tujuanku siang ini akan menuju agen bus jurusan Jakarta. Sepekan lagi, tepatnya tanggal 17 Juli 2010 aku berencana ingin menghadiri sebuah acara di daerah Bekasi untuk sekedar menambah ilmu pengetahuanku.

Setiba ku di perempatan Gilingan (dari utara), kuarahkan gagang kemudi berbelok ke kanan menyusuri jalan Ahmad Yani. Di jalan ini berjejer agen-agen bus jurusan Jakarta, mulai dari Langsung Jaya yang agenya berada di bengkel membuat kijing, di seberang jalan ada agen Bogor Indah yang disampingnya ada parkiran Harum Prima (dulu), ada juga agen Putra Perkasa yang menyatu dengan agen Harum Prima, lebih ke barat lagi ada agen Harapan Jaya (lama) dan pool Putra Remaja, disampingnya lagi ada kantor agen Pahala Kencana, lalu menyusul agen Lorena. Di seberang agen Lorena ke barat sedikit inilah yang menarik hatiku siang itu, agen Sindoro Satriamas yang menyatu dengan agen laju Prima dan Family Raya Ceria.

Bila ingin menambah panjang daftar keagenan, di barat agen Laju Prima ini ada Agen Kramat Djati Jakarta. (Saat itu agen Shantika dan Gunung Harta belum ada). Lalu lebih ke barat lagi, di dekat perempatan Sumber ada agen Rosalia Indah. (ada yang kurang lengkap di sepanjang Ahmad Yani, monggo ditambahken nggeh + koreksinya kalau salah :-) )

Kletak !…, suara `strandat’ motor kuturunkan untuk menyangga motorku parkir di depan agen Laju Prima. Sejurus kemudian aku sudah berada di dalam agen yang berupa rumah kecil sederhana ber-cat krem kusam,  didepanya berupa halaman parkir yang cukup lega untuk menampung calon penumpang. Di dalam ruangan terdapat sebuah meja kayu dan kursi, serta foto-foto bus oldies di dinding. Seingatku, salah satu foto tersebut adalah bus Muji Jaya entah tahun berapa.

Seorang mas-mas menghampiriku

“mau ke mana mas?”, Tanya si mas-nya

“ke Jakarta mas tanggal 16 juli, kalau Sindoro Satriamas sama Laju Prima harganya berapa ya mas?”, tanyaku padanya.

“Sindoronya 110rb, kalau Laju Prima 115rb”, jawabnya.

“saya pilih Sindoro-nya saja mas, lebih murah, turun Bekasi yo mas”, ku mulai transaksinya.

“Sindoro nggak masuk Bekasi mas, tapi Pulogadung”, jawabnya memberitahuku,… … … dst. (percakapan hingga aku akhirnya memilih Laju Prima)

Yo wes, akhirnya setelah merenung sejenak (buat masnya mungkin lama iki nda), kuserahkan sejumlah uang untuk disusuki 5ribu rupiah, menebus tiket Laju Prima no. kursi 1.

-Kenapa Laju Prima?, karena bisa turun Bekasi. Disamping itu, kawanan Laju Prima yang sering kulihat melintas dengan kencangnya di ringroad dekat rumahku dan di Palur berbaju AP Marcopolo plus livery yang `prima’ benar-benar menarik minat ini untuk bersyahdu denganya.

“jam setengah tiga kumpul di sini ya mas”, pesanya.

Oke nda“, sembari ku-acungkan jempol dan beranjak meninggalkan agen, kembali ke teriknya siang di kota Solo, menunggu tanggal 16 Juli 2010…

# #

Jum’at 16 Juli 2010, menjelang sore hari

Karena sang kekasih belum ada kegiatan saat itu, maka kuputuskan naik sepeda motor ke terminal untuk dititipkan di `parkiran 24 jam’ yang banyak ditemui di terminal sepanjang jalur Yogyakarta-Surabaya.

Suasana yang hangat sore itu, ditambah aroma perjalanan yang sudah mulai tercium, serta……,keberangkatan-ku dari rumah yang jam 14.15 menit !!, membuatku ketabyakan (tergesa-gesa) di jalan. Begitu tiba di parkiran, segera kulihat jam yang sudah menunjukan 14.35 menit. Takut ketinggalan dan mblenjani janji, kuputuskan segera beranjak dari parkiran 24 jam yang terletak di sudut perempatan Gilingan, dekat tem-teman bus ngGemolong Purwodadi-an. Parkiran tersebut sedikit ke depan dibanding parkiran 24 jam langganan Bapak-ku dulu yang letaknya tepat di seberang pintu keluar bus yang akan menuju Timur.

Sembari melihat jam tangan, sesekali ku berlari-lari untuk mempersingkat jarak dari prapatan Gilingan menuju agen Laju Prima yang kira-kira berjarak +500 meter (mungkin saja lho yaa).

“hap…hap…hap”…deru nafasku memburu, berlari menyusuri jalan A. Yani

Heh..heh…, setibaku di agen Laju Prima, sekitar pukul 14.45 menit, telat 15 menit dari waktu yang ditetapkan. dengan tubuh mulai berkeringat (secara udara panas), aku menghampiri agen menanyakan armada, wis budal opo gurung (sudah berangkat atau belum).

rung teko mas, delok engkas. Enteni sek ae (belum datang, ditunggu dulu)”, katanya mas-e.

Kuputuskan duduk di lingiran (tepian) parkiran NETRA, yang ada di samping agen sambil meminum air barang clegak-cleguk,…Menunggu…,tak sebentar kemudian, munculah bus Laju Prima Marco dari arah terminal, di sela-sela ramainya arus lalu lintas jalan Ahmad Yani.

Melihat itu, sang agen segera keluar menyeberang jalan dan melambai-lambaikan kertas pertanda ada musuh ,….halah, penumpang.

Tampak penumpang dalam bus ini sudah penuh, bahkan ada yang berdiri.

mas, numpak disik yo, engko neng Kartosuro agi pindah bis seng asli (mas naik dulu, nanti di Kartosuro pindah bus aslinya)”, demikian wanti-wanti sang agen agar aku tidak protes nomor tempat duduk.

Perjalanan itu kumulai lagi…

Raungan mesin Hino di ujung lorong bus mengawali perjalanan ini. Dalam bus, kususuri lorong menuju buritan bus yang ternyata banyak kursi kosong. Nampaknya sebagian penumpang memilih berdiri karena malas jungkat jungkit (berdiri-duduk, berdiri-duduk, ngglethak, ..oh… ora yo, kebablasen :P ) untuk perjalanan menuju Kartosuro.

Sepanjang jalan, kunikmati pemandangan sore di sisa Kota Solo. Sekumpulan anak sekolah yang kongkow pulang sekolah, puluhan sepeda motor  yang bersliweran di daerah Kleco, beberapa armada bus menuju ke barat di sepanjang jalan depan RS Ortopedhi dan RS Yarsis, serta sekumpulan mahasiswa UMS yang hendak pulang kampus menjadi lukisan `ini sore hari’ yang tergambar di luar kaca sebuah moda bernama bus.

Ah…temaramnya cahaya matahari yang masuk ke dalam kabin bus melengkapi hangatnya suasana sore itu.

# #

Goyangan bus bermanuver di dalam terminal Kartosuro

Kulihat dari balik kaca bus, sekawanan bus Laju Prima sudah terparkir rapi di depan sebuah agen. Pastinya bus ini pun akan segera bergabung di sana.

Ces…ces…ces…, begitu kiranya ketika moda aspal raksasa ini parkir sejajar dengan kompatriotnya, menghadap ke agen, menunggu titah untuk melanjutkan perjalanan ke barat.

Di terminal ini, penumpang Laju Prima di pilah-pilah sesuai tujuan dan nomor kursi yang dipesan. sambil menunggu proses tersebut, ku langkahkan kaki menuju sebuah musola kecil yang tertutupi rimbunya pohon di samping tempat parkir armada Laju Prima, untuk melaksanakan sholat ashr.

Selesai solat, sekedar ku berkeliling di sekitar barisan bus untuk melihat terminal baru Kartosuro yang baru kali ini menginjakkan kaki di sana (biasanya Cuma di atas bis je). Tampak kejauhan debu-debu beterbangan dari putaran roda bus-bus yang melintas di dalam terminal yang memang kering dan gersang ini.

“mas, bis nya yang ini ya”, kata pak agen menunjuk sebuah bus LP ber-nopol B 7409 XA, berbaju Marco yang sedang cidera karena kaca belakang-nya hancur dan ditutup dengan plastik yang diisolasi.

[IMG]http://i1260.photobucket.com/albums/ii569/aboeoemar/bismania/Laju%20Prima%20Jakarta%2017%20Juli%202010/LPkartosura1Story_zps0cd27b94.jpg[/IMG]

“o..iya pak”, jawabku mengamini.

Sejurus kemudian, sekitar pukul 16.00 wib, tubuh ini sudah kuselaraskan dengan kursi berlapiskain beludru yang modelnya unik, seperti kursi di bus ekonomi, alas duduk yang menyatu (bersambung, tidak terpisah masing-masing) untuk dua orang, tetapi memiliki dua sandaraan untuk masing-masing penumpang. Terlihat di hadapanku kesibukan agen menjuruskan penumpang ke bus masing-masing.

Namun lama bus belum dijalankan, padahal bus disamping yang ber-body besutan Tentrem mulai beranjak dari barisan Laju Prima. Lamat-lamat, terlihat penumpang bus ku bolak-balik ke agen dan terlihat percakapan serius dengan agen. Usut punya usut, penumpang tersebut akan turun di terminal Cirebon, tapi agen mengatakan nggak bisa karena bus masuk tol Pejagan. Barulah setelah mengadukan ke sopir, penumpang tersebut lega karena sopir menyetujui menurunkan di terminal Cirebon sambil berkata :

“agen tu nggak tau jalan pak, yang tau sopir, udah ayo jalan, nanti saya lewatkan terminal Cirebon”, kata pak sopir tengah yang berperawakan kurus dan masih paruh baya.

Barulah setelah ada kejelasan penumpang, mesin Hino RK ini mulai dipancal untuk meninggalkan terminal Kartosuro, perlahan dan pasti, tapak moda be-roda 6 ini mantap mencengkram aspal, merangsek keluar terminal menuju jalanan Solo-Boyolali.

Kuperhatikan ke bagian belakang bus, wah, ternyata tidak full seat. Dan kursi di sampingku ini pun masih kosong (yang akhirnya tetap kosong sampai aku turun di Bekasi, hehe).  Dengan kecepatan yang cukup deras bus ini melahap aspal Kartosuro Boyolali. Memasuki lingkar Boyolali, pak sopir yang rambutnya sudah memutih ini mulai mengganas, aksi goyang kanan di jalur dua arah nampak menjadi habit-nya. Beberapa kali laju bus harus dikurangi secara drastis karena kres dengan kendaraan dari arah berlawanan. Mantap lah poko’e.

Lepas terminal Boyolali dan melewati jembatan, teridentifikasi seorang `makhluk halus’ yang terlihat menawan dari belakang, sedang berjalan sendirian menyusuri trotoar jembatan. Pak sopir yang sudah beruban ini entah mengapa melambatkan laju bus-nya ketika berpapasan dengan si makhluk halus (pinjam istilahnya ya mas Pon ! ;)), lalu noleh nontoni mbak’e (menoleh melihat mbaknya), begitu pula kenek-nya. Oalah….

Laju bus tetap trengginas di atas aspal Salatiga hingga Ungaran. Lepas Ungaran, bus LP ini berada di belakang Rosalia Indah (sudah menggunakan livery ter-anyar saat itu). Berdua, bus beda rasa ini (soalnya kata sopir, rosalia indah kae ra ngganteng, seng ngganteng jenenge laju prima. –mbuh opo karepa supire) berlari, dan Laju Prima berhasil mendahului sang penunggu Palur ini di jalan yang notabene berkelok-kelok.

Keluar lingkar ungaran dihadang kemacetan Banyumanik. Bosan hanya diam, pak sopir du kali goyang kanan kiri mencari celah. sedang bingung terjeremban, tiba-tiba dari belakang, nguess…nguesss…, beberap bus goyang kanan melahap jalur lawan.

`Woooo…’, gerutu pak sopir melihat aksi tersebut.

 Setelah bersabar, akhirnya sampailah di otak kemacetan yang ternyata sebuah kontainer yang selip. Lepas macet, jalanan kembali normal. Sang Laju Prima kembali melaju konstan menggetarkan aspal kota Semarang.

# #

Hari sudah semakin malam saat bus-ku melaju di ruas tol Kaligawe. Memasuki Manyaran, terlihat lampu-lampu perumahan yang gemerlip di sisi kanan dan kiri ruas tol, yang seolah tol ini bagaikan lintasan roller coaster membelah kota Semarang. Sebuah pemandangan nan syahdu yang baru kali ini aku jumpai.

Mata mulai kriyep-kriyep pertanda ngantuk. Akhirnya, sukses terlelap di kursi yang cukup nyaman, hingga pukul 19.30 wib terbangun karena bus berhenti di sebuah pelataran rumah makan di daerah yang saat itu masih asing bagiku.

RM Raos Eco

Memasuki rumah makan, berjejer meja-meja yang tersaji makan prasmanan di atasnya. Masing masing meja memiliki nama untuk masing-masing PO yang memberikan servis ma’em di situ. Kuingat, akulah orang pertama yang mengambil piring dan menukar kupon makan. –luwe tenan je : )

Selesai menjajal servis makan yang lumayan, segera ku bergegas menunaikan sholat jama’ maghrib-isya. Lalu kuputuskan sekedar duduk di luar untuk menghirup udara kotor (ingat asap knalpot) dan memandangi area sekitar yang baru pertama ini kuinjakkan kaki di sana. Barisan Laju Prima dan beberap bus menghiasi pelataran rumah makan malam itu.

Pukul 20.00 wib, LP yang kutumpangi sudah kembali ke aspal pantura. Kini lingkar kemudi sudah berpindah ke sopir tengah. Masih sama, pak sopir ini tak kalah ganas dari sopir pinggir. Tercatat di kemacetan lepas Alas Roban, terlihat barisan bus sudah terjebak di dalam antrian.  Pak sopir langsung saja goyang kanan melahap aspal yang sepertinya masih di perbaiki. Memasuki Tegal, ada kontrolan Laju Prima. (Namun nantinya, entah di daerah mana (lupa, pastinya setelah lepas Cirebon) pak sopir ini menaikkan 2 penumpang gelap –roman-romanya kenalan pak sopir karena sudah kontek-kontek sejak lepas raos Eco- , menggantikan penumpang kursi 3-4 yang sudah turun di Cirebon.)

Kembali terlelap

Terbangun ketika bus berada di Cirebon. Kulihat di luar kaca bus, terlihat ratusan `ababil’ di sepanjang jalan dan beberapa patroli polisi. Weleh, ada apa ya? Padahal waktu sudah terlalu larut malam. (setelah baca berita esok hari, ternyata ratusan `ababil’ itu mau atau hampir atau sudah tawuran –lupa tepatnya)

Melintas Cirebon, LP yang kutumpangi mengekor sesama laju Prima yang juga berbody Marco, hingga akhirnya Laju Prima di depan terus lurus ke arah Bandung (mungkin mau lewat Subang menghindari macet Indramayu), sedangkan bus-ku belok kanan ke arah Indramayu. Mata kembali tak kuat menahan kantuk dan tertidur.

Terbangun ketika bus sedang berhenti. Hujan sedang mengguyur daerah tersebut malam hari itu. Tengok kanan kiri ternyata sedang berada di dalam kemacetan. Di samping kanan belakang bus, terlihat sosok bus Bejeu `Black Bus Community‘ yang baru pertama kali kusaksikan dengan mata kepala sendiri -halah lebay. …setelah itu kembali ku terpejam.

Terbangun lagi ketika laju bus kembali berhenti. Kini pemandangan sudah berganti dengan lampu-lampu temaram oranye khas jalan tol. Benar saja, bus ini sedang berhenti sejenak setelah memasuki gerbang tol Cikampek untuk pergantian driver plus pak sopir membuang hajat kecil di roda bus. Hal yang cukup unik mengingat hampir setiap naik bus, sopir dan kenek selalu mengencingi roda bus.

kembali melaju di dalam tol Cikampek.

Entah Karawang atau Cikarang, seingatku ada seorang mbak-mbak yang turun. Oleh pak sopir, diturunkan sesaat setelah gerbang tol dimaksud. Begitu turun, ojeg pun sudah siap mengangkut mbak tadi menuju tujuan-nya. Terlihat di bawah temaram lampu oranye sebuah OBL Travego Smile berkelas patas hendak kembali ke tol setelah juga menurunkan penumpang. Tak lupa ku laksanakan solat subuh di atas bus karena bus tidak berhenti untuk solat.

# #

`Bekasi…Bekasi…’, teriak kenek menyadarkanku.

Segera saja ku kemasi barang-barang yang ku bawa dan bersiap turun. Bus kemudian memasuki gerbang tol (mungkin Bulak kapal) yang masih sepi dari kendaraan. dan sesaat kemudian aku turun bersama beberapa penumpang. Tak lupa kuucapkan syukron kepada punggawa bus.

Udara yang dingin sekitar pukul 04.45 wib terasa menusuk kulit. Sorot merah lampu bumerang milik Laju Prima sudah kian menjauh dan kemudian menghilang di balik gerbang tol. Ahh…, kutolehkan pandangan ke kanan kiri di jalanan yang masih sunyi, mencari sosok angkot. Rasanya seperti orang hilang mengingat semua rencana ini kususun berdasarkan panduan Google Maps maupun Earth. Daerah yang benar-benar masih asing bagiku.

Beberapa tukang ojeg mendekat dan menanyakan tujuanku. Karena masih mbingung-I tak melihat angkot, akihirnya ku coba menanyakan berapa tarif menuju masjid al Azhar Jakapermai, Kalimalang.

“Rp 30.000,00 mas”, jawab pak ojeg

Walah….larangeeee… , nggak bisa kurang mas?”, aku menawar.

Nampaknya tarif ini tak bisa kurang lagi melihat aku yang mbingung-i sendiri. Ya sudah lah, apa daya, wong tak kunjung ada angkot yang terlihat pagi itu.

# #

Semilir udara dingin menerpa tubuh ini ketika sepeda motor ojeg yang kutumpangi melaju menyusuri jalanan antah-berantah –bagiku-. Ku pandang bangunan di kanan dan di kiri yang menyiratkan kemegahan di banding kota-ku tinggal. Sesosok truk Peterbilt bermoncong yang melintas menambah asing penglihatan mata ini. `ongkos jegang’ senilai 30 ribu pun masih mengusik alam fikiranku.

Dalam pagi yang mulai temaram, ku berkata dalam hati…,Ooo…, seperti ini ya Jakarta.

(bagian dari kemegahan Jakarta maksudku)


 

Taufik Akbar

Dari Kota: Solo

Jam Berangkat: 15:0

Tujuan Kota: Jakarta

Tiba jam: 4:45

P.O: Laju Prima

Harga Tiket: 115000

Kelas: VIP

Tanggal: 16/07/2010


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

4 Comments

  1. Taufik Akbar
    bung-topik-solo /

    bisa keluar gak ya gambarnya, coba dulu
    [IMG]http://i1260.photobucket.com/albums/ii569/aboeoemar/bismania/Laju%20Prima%20Jakarta%2017%20Juli%202010/masjidJakapermai_zps296f5a81.jpg[/IMG]
    masjid jaka permai

    [IMG]http://i1260.photobucket.com/albums/ii569/aboeoemar/bismania/Laju%20Prima%20Jakarta%2017%20Juli%202010/lpkartasura4_zps6ba07d81.jpg[/IMG]
    kartosuro

    [IMG]http://i1260.photobucket.com/albums/ii569/aboeoemar/bismania/Laju%20Prima%20Jakarta%2017%20Juli%202010/LPkartosura1Story_zps0cd27b94.jpg[/IMG]
    lp dinaiki

  2. awasbus
    awasbus /

    mohon maaf maaf mas, gambarnya sudah saya coba tuk dikeluarkan tapi tetep ga bisa,

  3. Taufik Akbar
    bung-topik-solo /

    o gapapa mas, saya juga masih belum faham biar tampil. tak cobane brwongsing lebih lanjut. suwun mas

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;