MENDADAK KENEK 41J

Poto Bersama

Poto Bersama

Saya     : “pak mengko sore ya aja kelalen 10 bangku terdepan  dikosongna”

Pak Wahid  : beres, tenang bae”

Begitulah kira-kira awal percakapan saya dengan Pak Wahid, pengemudi DMI no lambung 41 J atau yang biasa dijuluki Gajah Putih ini. sang Gajah ini mengenakan pakaian jahitan Laksana yaitu Great Panorama II dan berdapur pacu hino RG.

Abdul Wahid, itulah nama lengkapnya, berbadan gemuk dengan logat khas Indramayu-nya. Walaupun terkenal garang dalam mengemudi tapi beliau merupakan sosok yang sangat ramah kepada para penumpangnya termasuk kami para anak muda yang ingin merasakan goyangan si Gajah ini. Terdiri dari 10 orang yaitu, saya (hans), cak irul, cak awig, cak arifin, kang asep, mas dodi, mas derta, dan beberapa rekan dari SJM, kami berniat untuk merasakan goyangan sang Gajah Putih ini hingga pada saat yg telah ditentukan yaitu jumat, 29 Januari 2010 kami semua melakukan deal untuk melakukan perjalanan sekaligus wisata kuliner di daerah yang akan kami kunjungi.Pukul 20.00 kami semua telah berada di TKP yaitu terminal lama Grogol tempat singgah sang Gajah Putih menunggu penumpang.

21.00 Setelah penumpang terasa memenuhi target yaitu 42 orang termasuk kami, sang Gajah Putih ini pun meninggalkan terminal lama untuk memasuki Terminal Grogol.

SAATNYA PETUALANGAN DIMULAI

Pukul 21.30 kami pun di lepas oleh kang Slamet perwakilan agen Grogol, “ wah kemaleman pak gak ketemu bis muriaan”, ujar rekan-rekan yang memang ingin melihat sekaligus menikmati bila sang Gajah ini meliak liuk bersama armada muria. Masuk Tol dalam kota bis yang satu group dengan sinar jaya ini sudah terjebak oleh macetnya Jakarta di malam hari..

Pukul 22.15 kami memasuki gerbang Tol cikampek dan disini akselerasi sang Gajah Putih baru bisa ditunjukan oleh Pak Wahid, goyang kanan, goyang kiri dilakukan oleh Pak Wahid. Tetapi untuk masuk ke lajur 4 Pak Wahid agak sungkan “ mbok ntar diuber ma polisi mas, kendaraan besar gak boleh masuk lajur 4”, begitulah kira-kira yang diucapkan oleh Pak Wahid

Di dalam Tol ini kami saling salip-menyalip (read: ngeblong) dengan bhineka nucleus 3 hino AK.

UJIAN PERTAMA

Nah beberapa KM sebelum memasuki KM 19, bhineka dilepaskan oleh Pak Wahid karena kami akan memasuki KM untuk kontrol dan mengisi solar, tapi kejadian lucu sekaligus menengangkan terjadi beberapa ratus meter sebelum memasuki KM. 500 meter sebelum KM kami merasa bingung dengan Pak Wahid “wah kok tetep banter yo ( wah kok tetep kenceng ya)” ujarku didalam hati, Karena Pak Wahid masih memacu kecepatannya di angka 80kpj dan ternyata benar dari lajur 3 kami digoyang memasuki lajur masuk rest area, betapa terkejutnya saya yg duduk di kursi kenek, saya yang sedang asik-asiknya ber SMS ria dengan mas derta dikejutkan dengan goyangan itu, begitu juga dengan teman-teman yang lain, ada yg tercengang, ada juga yg menutup mata, bahkan ada yg mengeluarkan jurus ngerem mendadak hehehe piss yo mas awig.

Bagaimana tidak tercengang, Pak Wahid menggoyangkan si Gajah ini di antara 2 buah container yang sedang melaju di lajur 1 dari lajur 3. Pak Wahid terlihat sangat santai sedang kami terlihat pucat pasi, setelah masuk ke tempat control SJ kami langsung mengungkapkan kekaguman kami ( sebenere yo podo ndredeg) hahaha disini kami menjemput kang derta yang sedari tadi menunggu.

Rame-rame

Rame-rame

PANTURA…KAMI DATANG

Setelah kontrol dan mengisi solar, kami pun melanjutkan perjalanan goes to Wonosobo di Tol Cikampek ini kami tidak menemukan lawan yang menantang, hanya beberapa SJ yang diajak berkonvoi oleh Pak Wahid. Tapi Karena respon dari para pengemudi yg lambat membuat Pak Wahid tidak bernafsu melanjutkan konvoi, dan melesat menyusuri Tol Cikampek hingga keluar sadang,masuk jalur pantura kami pun masih belum menemukan lawan bis malam, dan tentu saja lawan kami hanyalah truk-truk dan mobil pribadi yang melintas menuju ke daerah jawa, dan tak lama kami melahap kendaraan pribadi dan truk-truk, kami melihat sosok bokong Laksana Panorama dx dan livery pelangi. Tak lain dan tak bukan adalah SJ, wah ternyata dia sedang berusaha untuk menaklukan Tante Dewi di depan hehehe dan yang lucunya pada saat Gajah Putih belum mendekat si driver di depan ini terkesan ogah-ogahan untuk menaklukan Tante Dewi, tapi setelah melihat Gajah Putih akan mandahului, sang driver di depan menggoyangkan bisnya secara tiba-tiba, kemudian Pak Wahid berujar kepada kami “ hahaha kae bis ngarep sing nyopir wong reang juga ( itu bis depan yang nyupir orang Indramayu juga)” dan tak lama kemudian driver bis depan menelpon Pak Wahid dan terjadi obrolan yang agak menggelitik kami.

Pak Wahid : “priwe?(gimana?)”

SJ depan   : “gawa penumpang pira hid? ( bawa penumpang berapa hid?)”

Pak Wahid : “ 42 kiye, wis ya kae dewine digoyang (42 ini, dah ya, itu Dewi Srinya di goyang)”

Dan sesuai obrolan mereka SJ di depan pun bergoyang bersama Gajah Putih berusaha melibas Tante Dewi yang berjalan perlahan tetapi menutupi jalan yang ada, akhirnya dengan goyangan kiri dan kanan khas bis malam, 2 armada satu grup ini berhasil mendahului Tante Dewi dan berakselerasi bersama. Setelah kira-kira jarak 20 km driver SJ didepan kami terlihat agak lelah dan membiarkan kami untuk mendahului, dan dengan halus Pak Wahid menginjak pedal gas dan mendahului SJ yang dari tadi konvoi bersama kami, setelah kedua kepala bertemu Pak Wahid memberikan klakson dan dibalas oleh SJ tersebut. sebuah komunikasi yang cantik yang dilakukan kedua driver senior SJ ini.

KONVOI BELUM BERAKHIR

Setelah mendahului, Pak Wahid menunjukan keahliannya melibas pantura, tangannya tak pernah lepas dari lampu jauh dan sen. Dan pukul 00.30 kami pun berhenti di tempat istirahat pertama di RM Taman Selera.

Disini kami beristirahat selama kurang lebih 30 menit, dan terlihat Pak Wahid sedang membersihkan kaca depan bisnya, dan teman-teman disini meledek saya “ wah keneknya ini gimana sih, masa harus Pak Wahid juga yg mbersihin”. Dengan senyum-senyum agak malu dan beralibi saya menjawab “ kan saya lagi training mas, moso yo langsung kabeh.” dan di hati saya nggerundelasem iki, udah gak bisa tidur malah diledekin.” Hehehe.

Selepas taman selera kami pun melanjutkan perjalanan dengan perut terisi full dan diiringi lagu-lagu tarling kesukaannya yaitu gejug bumi, Pak Wahid melesat full speed tapi tetep safety. Dan di depan terlihat Dewi Sri yang tadi kami dahului, dengan sekali kedipan lampu dan kalkson, Tante Dewi ini pun memberikan jalan kepada Gajah Putih. “ wis ora wani macem-macem iku (dah gak berani macem-macem itu)” ujar salah satu dari kami.

Dan sekali lagi kami disuguhkan aksi SJ yg malam itu bisa dibilang joss, setiap akan mendahului SJ yg didepannya, pasti SJ didepan itu bergoyang seolah ingin bermain-main dengan Gajah ini. Dan teman-teman pun bersorak seolah menginginkan hal yang lebih dari permainan ini.

REJEKI GAK KEMANA

Hal yang diinginkan teman-teman terkabulkan, pada saat akan menyalip sebuah armada SJ didepan kami, ternyata driver SJ didepan adalah sahabat Pak Wahid dan juga satu mess di rawa buaya. Dan konvoi pun terjadi, goyang kanan-kiri dilakukan sambil menyalip kendaraan didepan kami.

Beberapa armada SJ, dedi jaya, Dewi Sri, di asapi dua armada yg saling bekerjasama melibas pantura malam itu. Dan setelah agak lama ternyata driver armada didepan memberi isyarat agar Gajah Putih ini mendahului. “ dah capek itu ya” ujar cak awig. Seperti biasa, setelah kedua kepala bertemu Pak Wahid memberi klakson, dan dibalas dengan lembut oleh driver SJ yang satu ini, setelah itu Gajah Putih ini pun berakselerasi sendirian di tengah kerasnya kehidupan jalur pantura.

Didepan terlihat sesosok Lorena sedang berlari membelah jalur pantura yg malam itu terlihat agak padat oleh mobil pribadi dan truk. “wah Lorena tuh pak, kayaknya kenceng tuh” ujarku kepada Pak Wahid. “ oia itu didepan ya?” tanpa banyak bicara Pak Wahid menambah akselerasinya dan berusaha mengejar Lorena didepan. Tetapi sebelum berhasil mengejar Lorena kami kurang memperhatikan bahwa tidak jauh dari kami ada sesosok UDANG SARI berlivery cumi-cumi, dan dengan mudah udang sari rasa cumi-cumi ini diasapi oleh Gajah Putih ini.

Memasuki daerah Indramayu, Gajah Putih ini tak jua menurunkan akselerasinya tetap stabil di kisaran 100. Didepan terlihat sesosok Dewi Sri yang berjalan tidak jelas. Dikanan gak, di kiri juga mboten. Padahal Pak Wahid sudah memberi klakson dan lampu jauh berulang kali. Dan agak sedikit kesal Pak Wahid mendekatkan Gajah ini hingga jarak berapa cm saja, tentu saja hal itu membuat saya yang duduk di kursi kenek menjadi “agak “ ngeri kalo-kalo driver dewi di depan sengaja menjerumuskan kami hingga terjadi sesuatu, tapi ndilalah dan untunge driver dewi di depan segera memberi jalan kepada kami. “ wahaha tak kiro  arep dilawan, malah ngono tok ( hahaha saya kira mau dilawan, ternyata gitu saja.)” ujarku dalam batin untuk menutupi ketakutan. Dan sekali lagi kami dikejutkan dengan armada SJ yg tadi bergoyang bersama kami ternyata menguntit dengan ketat dibelakang kami, padahal di speedometer tercatat sampai 125kpj. “tuh mas SJ yg tadi ngikutin” ujar Pak Wahid kepada kami. Dan seolah mengerti akan maksud SJ di belakang agar bisa berkonvoi kembali, Pak Wahid pun memacu bisnya dengan stabil di kisaran 100kpj, dan lampu sen pun tak pernah mati. Sen kanan sen kiri, goyang kanan goyang kiri pun sangat menghibur kami yang notabene haus akan bis banter ini. dan memasuki Tol Kanci beberapa rekan terlihat sedikit terlelap oleh goyangan sang Gajah Putih ini. suspensi yang masih empuk dan goyangan yang yahud membuat teman-teman semakin pulas tertidur.

Memasuki gerbang Tol Pejagan, kami bertemu dengan lorena yang tadi kami liat. Lorena ini tidak melewati Tol Kanci-Pejagan, tetapi belok kiri melewati daerah losari yang merupakan tempat kontrol dan RM mereka. Memasuki Pejagan teman-teman semakin pulas tertidur. Keluar pintu Tol Pejagan dan memasuki daerah songgom Gajah Putih agak mengurangi akselerasinya, maklum saja jalan yang agak sempit dan berlubang sangat beresiko untuk dibawa joss. Tetapi Pak Wahid tidak terlalu menurunkan akselerasi sang Gajah Putih, jarum di speedometer menunjukan angka 80 kpj. Dan juga setiap berpapasan dengan kendaraan dari arah lawan pasti beliau menyalakan lampu sen kiri, tanda beliau memberi jalan kepada lawan.

Di daerah Songgom tepat di tikungan tajam 3 buah armada truk berjalan agak ke kanan dan BRUAK bunyi sang Gajah Putih menghajar lubang yang tergenang air. Penumpang dan teman-teman yang sedang terlelap tidur terlihat kaget dengan apa yang baru saja terjadi, “ wahahaha enak-enak turu malah kaget to kena lobang ( wahahaha lagi enak-enak tidur kaget kan kena lubang).” Ujar saya dalam hati.

Tak lama kemudian terlihat sesosok benda sedang meliak liuk menghindari lubang, wah ternyata sesosok damri jurusan Wonosobo. Dengan sekali kedip sang damri memberikan jalan, tapi sekali lagi Gajah ini terkena lubang, tapi tidak sedalam lubang yang tadi. Dan setelah melewati damri tadi, Gajah Putih pun melesat tanpa ada yang bisa menandingi kecepatannya. Di daerah ini Gajah Putih hanya menyalip beberapa SJ dan Tante Dewi. Pukul 03.30 Gajah Putih ini merapat ke tempat istirahat kedua di rumah makan panorama prupuk. Disini terdapat beberapa armada SJ dari Jakarta yang menempuh jarak lebih jauh dari Purwokerto dan. Tercatat beberapa armada yang berangkat beberapa jam lebih awal daripada sang Gajah ini tersusul disini.setelah puas ngopi dan foto-foto kami melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo.

Memasuki daerah bumiayu tercatat beberapa armada SJ terlibas disini, beberapa Damri, Tante Dewi, Pakde Dedi. Dan melewati daerah Paguyangan Pak Wahid menunjukan bangkai bis Javana dan SJ yang dulu terlibat adu kambing di daerah ini. ajibarang, karanglewas dilewati tanpa ada halangan. Jam 05.30 bis kami ini memasuki daerah Purwokerto, tempat tinggal saya tercinta ( tapi maaf gak bisa pulang karena pengen jalan-jalan mpe Wonosobo).Tepat di prapatan Tanjung Dewi Sri yang tadinya di kanan tiba-tiba masuk ke lajur kiri tanpa menggunakan sen. Dan Karena berniat mau menyalip dari kiri Pak Wahid pun dengan respon tingkat tingginya memberi klakson panjang. “ mas omehi kae kon nganggo sen( mas marahin tuh suruh pake sen)” ujar Pak Wahid agak kesal kepadaku. “ ok pak”. Jawabku kepada Pak Wahid. “woi nganggo sen( woi pake sen)” teriakku kepada supir Dewi Sri dan dibalas dengan klakson.

Masuk kota Purwokerto tidak ada yang special. Memasuki kota purbalingga barulah peranku sebagai kenek keliatan. Wkwkwkwkwk. Penumpang pertama turun, saya hanya cengar-cengir sambil membuka pintu. “han, jadi kenek kok cengar-cengir tok. Bilang dong semoga puas dengan pelayanan kami” ledek mas dodi dan mas awig. Dan Pak Wahid pun membela saya “ wee jangan salah mas, si han dah lulus jadi kenek ni”. Wahahahaha, akhirnya ada yang membela saya juga, setelah bundaran terminal purbalingga terlihat sesosok Malino Putra yang berangkat jam 5 sore dari grogol tertangkap basah di sini, ujian ke dua saya datang, penumpang kedua turun dan terdapat barang di bagasi. “ han buka tuh bagasinya, masa kenek gak mau buka bagasi” ledek mas asep sekarang. “Bukan gak mau mas, gak iso iki mbok malah kejepit” alibi saya berikutnya. Di daerah terminal Banjarnegara,  Malino Putra ini berhasil di asapi oleh Pak Wahid. Tidak jauh kemudian Malino yang berangkat sekitar jam 6 sore juga diasapi disini. Tepat sekitar pukul 06.55 Gajah Putih mendarat di pencucian bis sekitar 1 km dari terminal Wonosobo.

Kesimpulan :

1. Cepat bukan berarti ugal-ugalan dan mengorbankan pengendara lain

2. Kebersamaan di jalan raya itu sangat indah dibandingkan egois menampakan “ngeblonk” semata

Sekian caper dari saya, maaf kalo tempat-tempat yang kami lewati tidak disebutkan rinci, soalnya saya kurang hapal. hehehe

salam

HANS

Comments

  1. jgn heran mas, wahid 41 jengkol emg pembalap…… aku pernah jg ngalamin sndiri, waktu lg nyalip truck yg penumpangnya sapi semua, kepala sapi2 tu smpe pd bergesekan sm kaca samping gajah putih, bukan cm jantungku aj yg dag dig dug,kacanya jg smpe bunyi begitu, bayangin aj ngeri…

  2. wah keren yaw jd pengin coba goyangnya hehe, kalo bleh tau brngkat dari wsb jam brp? kalo da yg tau hub aku
    081814071915

  3. wah keren yaw jd pengin coba goyangnya hehe, kalo bleh tau brngkat dari wsb jam brp? kalo da yg tau hub aku
    081804071915

  4. @mas add : kalo hal gitu buat pak wahid dah biasa mas…
    @mas ekasan : pak wahid dari banjar negara jam 5 mas… dia ada di terminal banjar negara mas…

  5. mas kalo gajah putih ke wonosobo hari apa jam piro

  6. gak tentu mas jadwalnya, jam 8 biasanya mas dari grogol.

  7. [...] [...]

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.