Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

 Kali ini catatan perjalanan saya menceritakan mengenai perjalanan saya yang menempuh jalur berbeda, catatan perjalanan kali ini menceritakan pengalaman ketika saya melalui Jalur Selatan. Jalur selatan seperti yang kita ketahui agak unik, jalur tersebut terkenal dengan ratusan kelokannya, serta tanjakan atau turunan yang terkadang cukup ekstrim untuk dilalui.

tipikal supir untuk jalur ini agak berbeda, kelincahan serta kepiawaiannya dalam mengatur ritme perpindahan perseneling, pengaturan injakan antara pedal rem, gas dan pedal kopling bagaikan alunan dan hentakan diorama suatu adegan dalam drama yang sedang mementaskan aksi dengan dari satu adegan ke satu adegan lainnya, halus, terkadang dibumbui dengan ayunan-ayunan pedal rem angin yang menimbulkan suara bersiul nyaring tapi halus.

Suatu pengalaman tersendiri, mengingat sensasi kelak-kelok seperti ini tidak semua orang bisa merasakannya dengan nyaman. Ada beberapa karakter orang yang tidak terlalu menyukai tipe jalanan seperti ini, menurut keterangan yang saya peroleh, hal tersebut akan menimbulkan rasa mabuk dan pusing yang berkepanjangan.

Lebak Bulus Jam 17.30 sore tgl 27 November 2011

Hari itu, saya memang sudah jauh-jauh hari mengajukan cuti. Saya mengambil cuti satu hari untuk maksud menengok keadaan keluarga saya (istri & anak). Hari itu hari biasa saja, menjelang akhir bulan, dan okupansi penumpang tidak begitu padat. Saya berangkat dari salah satu terminal di Jakarta Selatan, yang akhir-akhir ini santer diberitakan akan terkena imbas pelebaran kota yang kian hari kian tak terbendung. Jadi teringat waktu dahulu, sekitar tahun 90-an, saya baru saja pindah dengan orang tua saya ke daerah  Tangerang, yang pada waktu itu masih menjadi kawasan Jawa Barat (saat ini Banten).

Terminal kalau tidak salah dibangun pada akhir tahun 90-an, dan lokasinya terasa begitu jauh di pinggiran ibukota dan masih dikelilingi dengan pepohonan besar serta perkampungan, tetapi kini terasa sudah terhimpit dengan timbulnya berbagai macam bangunan perkantoran, mall, dan pusat perbelanjaan serta perumahan disekitar lokasinya dan juga jalan tol JORR yang menganulir waktu tempuh para pekerja yang memiliki rumah di pinggiran Ibu Kota.

Ironi memang, suatu fasilitas umum terkalahkan oleh ambisi dan keinginan pribadi pihak-pihak tertentu yang terkadang  tidak jelas peruntukkannya. Tetapi semua itu kalau sudah kepentingan salah satu pihak yang sangat berkuasa, apa daya, warga masyarakat biasa tidak dapat menolaknya, bahkan pihak-pihak dari oposisi pun tidak dapat membendungnya.

Kembali pada sore hari itu, sempat ber-sms ria dengan Mas Wahyu Nugroho Nurhidayat, bertanya-tanya tentang jalur selatan, beliau cukup informatif dalam memberikan informasi yang saya masih belum ketahui. Ditambah pula saya mencoba mencari tambahan referensi informasi dengan menghubungi Mas Ponirin Similikithi, yang saya tahu, beliau ini juga sudah khatam “menggauli” jalur selatan dengan armada-armada pilihannya, serta merasakan berbagai macam peruntungannya melalui jalur ini, dan beliau berdua ini tidak lupa juga memberikan saran untuk kendaraan apa saja yang dapat menjadi alternatif saya menuju kota Purwokerto disepanjang jalur yang saya lalui tersebut.  Setelah puas mendapat referensi, saya memantapkan diri serta yakin untuk mencoba jalur selatan tersebut.

Kali ini armada yang saya tuju adalah armada Primajasa, salah satu pemain kawakan lintas jalur Tasik, Garut, Bandung dan sekitarnya. Bis yang rencananya saya naiki tampaknya berbalut baju karoseri milik grupnya sendiri yang saya sendiri masih asing menyebut nama karoserinya. Dan mesin yang diusungnya terlihat seperti Hino RG. Bis terkesan pendek seperti bis-bis medium, tetapi tetap panjang seperti bis pada umumnya. Saya mencoba melongok ke dalam kabin, ternyata masih kosong, bis ini jurusan Tasikmalaya, dan seorang crew berpakaian batik ala Primajasa menghampiri saya dan mengatakan bahwa bis baru akan berangkat sekitar jam 7 atau setengah delapan nanti, karena baru saja bis yang didepannya berangkat kurang lebih 5 menit yang lalu.

“Whaduh! masih lumayan lama” batin saya. Keliling terminal dulu lah! Sembari mencuci mata dengan penampakan yang apa adanya sore itu. Sembari melihat-lihat pemandangan terminal diufuk sore menjelang maghrib tersebut, tak lupa saya mampir di Masjid pojok terminal untuk melaksanakan kewajiban beribadah dari sang Maha Kuasa.

Selepas Ibadah, kembali saya melangkahkan kaki dan menelisik terminal. Keadaan terminal sudah mulai sepi, tampak hanya beberapa Sinar Jaya, Gapuraning Rahayu, dan Sumber Alam yang masih berbaris diujung belakang dan di tengah terminal, sedang menunggu okupansi dan perintah berangkat dari agen yang bersangkutan. Ada sedikit hasrat ingin mencoba Gapuraning Rahayu, karena berdasarkan informasi dari sedulur-sedulur, banyak armadanya yang mengusung mesin OH 1525 dengan baju Karoseri dari  Rahayu Santosa.

Tapi, itu nanti… Kali ini ingin ku coba terlebih dahulu armada Primajasa ini, tekad sudah kuat, ah….kalau memang rejeki, satu persatu pastinya akan kujajal nasib perjalananku dengan armada-armada pengisi jalur selatan ini, tapi nanti. Kali ini cukup yang simple dan paling mudah dikenal terlebih dahulu.

Agak ke barat sedikit mendekati arah mesjid tadi, disini saya melihat beberapa bis Soloan yang sedang perpal  tampaknya Selamet, Langsung Jaya, dan Gunung Mulia, melihat dari gelapnya kabin dan tidak adanya tanda-tanda akan keramaian di posisinya berdiri.

Satu hal yang mengunci pandangan mata saya temukan, di deretan parkiran tempat biasa Raya parkir, ada sebuah bis Lorena baru berbalut baju Evonext buatan New Armada, bis ini penuh dengan atribut baru, serta promosi ala stikernya, bahwa bis ini mengusung mesin MB OH 1526 dan EURO 3. Andaikan saya tidak bergabung dengan komunitas BMC seperti saat ini, pastinya saya sudah kepincut habis-habisan dan mengklaim bahwa bis ini memang keluaran terbaru dan sesuai dengan apa yang dipromosikan melalui stikernya.

Tetapi berdasarkan hasil obrolan dengan beberapa sedulur yang pernah saya temui, ada yang mengklaim bahwa bis ini masih mengusung mesin lawas, entah apakah bis yang dibicarakan itu bis  yang saya temui kali ini atau bukan, Menurut info, kalau tidak OH, ya… Intercooler atau sejenisnya, kalau ini serius saya masih agak bingung untuk membedakannya, paling-paling saya bertanya ke seseorang punggawa ahlinya yang bernama Koh Intercooler Jumbo aka Koh Harry di Jawa Timur sana, yang pastinya menjawab dengan logat Jawa timuran dan kelakarnya yang khas.

“Koh.. Koh… Pantes si cici betah ambek awakmu, wis gembul, lucuan maneh… tambah unyu-unyu dirimu koh!!!” (Parental Guide, Just Kidding).

Saya kemudian mencoba  bertanya dengan  salah seorang bapak yang berpakaian seragam Lorena Hijau dan sedang duduk manis di bangku 3 barisan pertama (belakang kemudi) di dalam kabin bis Lorena tersebut.

“Pak,  bis ini tujuan Purwokerto? berangkat jam berapa?” Tanyaku.

“ Bener mas, tapi nanti, jam 7 atau 8 malam…. Sudah beli tiketnya? Terangnya sekaligus melemparkan pertanyaan balik.

“Belum pak!” Memang berapa harga tiketnya?” tanyaku lagi. Walau aku sendiri sebenarnya sudah bisa mengira kisaran harganya. Tetapi tak disangka sang supir menyahut dengan angka nominal yang cukup besar.

“sembilan puluh ribu mas, Sudah termasuk makan koq…” sahutnya

“Weh..weh..weh.. mahalnya!!!” teriak batinku, gatal rasanya ingin mencoba menawar dengan jurus mautku.

“Bukannya 75 pak biasanya? Koq jadi mahal banget sich!! Saya sering naik ini ke purwokerto loh!” Jawabku dengan sedikit jurus pertama.

“Bis yang biasanya kemana pak?” tambahku lagi, guna memberi keyakinan si bapak tersebut, bahwa saya sering naik bis armadanya. Jurus kedua pun mengalir.

“owh… yang itu mas, itu udah diganti sama yang ini, naik yang ini aja enak… masih gress, baru 2 kali jalan mas!!. “ terangnya dengan mimik meyakinkan diri saya.

“eh….maaf pak! Saya kali ini hendak ke Tasik, lain kali saja pak! Saya sebenarnya pengen juga mau coba bis baru ini, tapi saya sedang ada keperluan di Tasik!” jelas saya sedikit berbohong.

Apa daya, kali ini saya sudah bersikeras menjajal jalur selatan, bahkan saya sempat mengajak beberapa sedulur yang kemudian sempat beberapa berminat untuk ikut dengan saya menjajal jalur selatan ini, tetapi sayang,…. terkendala waktu dan hari yang tidak sesuai. Sempat sms juga dengan Mas Wahyu dan Mas Ponirin… eh lha koq mereka berdua mengompori saya dengan pesan. “wah sebenarnya enak loh mas! Naik Lorena, Udah tinggal tidur, dapat makan, sampai tujuan…. beres!!!!!!” Lho…. Lho… Penasehat koq malah jadi pengompor sech!.

Haduhhhh…… ternyata jiwa saya masih gampang dipengaruhi, dikompori, dibujuki, diajaki dan ki-ki sejenis lainnya.  “Maklum masih Nubie” (kata dulur-dulur), sempat juga pikiran lagi untuk menjajalnya, tetapi buru-buru saya hapus keinginan itu dan bertekad untuk tetap pada rencana semula. Kapan lagi! saat ini diri saya sudah menikah, kalau tidak ada kesempatan seperti saat ini, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi.

Buru-buru saya bergegas menuju ke parkiran bis Primajasa, waktu saat itu jam 18;30-an. Memang kalau sudah asyik dengan hobi, membuat kita lupa akan waktu. Bis sudah mulai diisi oleh beberapa penumpang, tumben jok depan sebelah kiri tidak berpenghuni, kesempatan tidak saya sia-siakan….. tetapi alamak!!! Tragedi dengkul mepet terjadi kembali, ternyata jok depan dibatasi oleh pembatas yang berguna untuk sandaran bangku untuk sang kenek.

Wah… Wah… mau pindah koq ya bangku dua-nya sudah terisi semua, ada beberapa yang kosong, tapi itu bangku tiga (kalau saya menyebut istilah konfigurasi bangku 2-3 ya sesuai dengan namanya, Bangku sebelah kiri karena  berjejer dua, ya saya sebut dua, begitu sebaliknya).

Terpaksalah saya bertahan di bangku paling depan tersebut. Mau pindah, koq ya rasanya berat kaki ini, tak lama bis perlahan mulai dijejali penumpang, para komuter mingguan ini telah hapal benar akan jadwal keberangkatan bis ini. Tak lama bis pun melaju sekitar pukul 19.15-an bis meninggalkan terminal Lebak Bulus ini, okupansi penumpang tampak sudah penuh, tapi ada beberapa bangku 3 yang masih menyisakan satu atau dua jok yang kosong, tapi itu tidak akan lama, karena bis akan masuk tol JORR untuk sekedar menghindari kemacetan jalan Fatmawati dan sepanjang jalan TB Simatupang, bis akan keluar lagi di area Pasar Rebo untuk mengambil tambahan penumpang,

dan tampaknya disinipun para penumpang sudah hapal juga akan jadwal bis ini, buktinya begitu bis merangsek masuk di lepas lampu merah kolong fly over Pasar Rebo, tak perlu menunggu lama, beberapa orang bahkan berlari mengejar bis ini mengharap masih mendapatkan jatah bangku untuk bisa diduduki. Tak berlama-lama parkir, Bis pun kembali memasuki tol JORR di pintu tol Pasar Rebo tersebut.

Melaju dengan suara sedikit garang, meliuk-liuk mencari celah diantara kepadatan kendaraan di akhir minggu. Bis tampak tidak ragu untuk memperlihatkan aksi tempel, walau terasa kasar, tapi lumayanlah untuk pemanasan, pembuktian bahwa memang mesin dan sistem rem-nya terlihat bekerja sempurna. Perawakan supir masih muda dengan badan sedikit gempal, dan agak necis sedikit, dengan gaya perlente ala Jaket Kulit, Kemungkinan Jaket kulit Domba Garut yang lumayan terkenal itu, dan topi pet yang selalu dibenarkan posisinya.

Sempat  menerima sms lagi dari mas Ponirin yang penasaran dengan armada yang saya peroleh. Saya mengabarkan bahwa kali ini armada yang saya dapat seperti Hino RG, dan sedang kebut-kebutan dengan GMS yang kemalaman disekitaran KM 30-an. Mas Ponirin tak lupa memberi pesan agar berhati-hati selama di jalan dan salam kenal kalau ada makhluk halus disamping saya.

“weleh!!… ini maksudnya makhluk halus beneran, atau makhluk halus jadi-jadian, wong sebelahku bapak-bapak dengan kumis jamblangnya sedang duduk manis sembari matanya  sayu menahan kantuk. Ada-ada saja sedulur kita yang satu ini.”

Ketika mengarung jalan tol Cikampek ini Kami baru dimintai uang pembayaran, tiket seharga 35.000,- rupiah saya tebus, dan ternyata bis ini menempelkan tarif jauh-dekatnya di kaca depan sebelah kiri dalam  untuk mempermudah agar penumpang yang naik tidak lagi tawar menawar, karena sepengetahuan saya, tiket LB-Tasik atau LB-Garut lebih murah ketimbang LB-Bandung, entah kenapa, saya sendiri sempat bertanya dengan beberapa sedulur, tetapi mereka banyak yang belum menemukan jawabannya.

Sebelum pertigaan Cipularang bis memasuki Rest Area, disini bis melakukan kontrol dan juga mengisi solar. Ada saja penumpang yang turun,  untuk keperluan ke kamar mandi atau sekedar membeli air mineral atau makanan kecil bekal minuman dan cemilan sepanjang jalan nanti.

Tak lama kemudian bis pun melaju kembali, sang supir cukup lihai menembus kepadatan  parkiran truk di kawasan jalur keluar rest area tersebut, bis perlahan melaju di jalan tol kembali,  tidak jauh selepas rest area, bis masuk menuju tol Cipularang yang mengarah ke Bandung dan berujung di Cileunyi, disini sang supir tampak sudah terbiasa dengan kontur jalan yang dihadapi. Injakan gas pun tidak dikurangi, bis masih dipacu dengan kecepatan sekitar 80 – 90 km/jam.

Ada pemandangan berbeda dijalan tol ini, kelak kelok jalan dan juga naik turunnya yang cenderung ekstrem membuat suasana malam dan kerlap kerlip lampu menjadi berbeda, terkadang seolah kita berada diatas kendaraan sedang melaju dari arah berlawanan karena efek dari jalanan yang menurun, sungguh pemandangan yang bagi saya masih asing. Beda dengan jalur Cikampek yang terkesan hanya lurus saja. Atau karena sudah sering saya lalui ya?.

Disini sang supir melaju dengan kecepatan konstan dan tidak terkesan ragu dalam meliak-liuk di jalur tol tersebut, mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari bagi dirinya melalui jalan tol ini. Memasuki gerbang tol pertama yang mendekati kota Bandung, (saya masih asing dengan nama-nama pintu tol di sini), bis lalu melaju kembali, sang supir masih tetap dengan aksi menempel, kali ini mendapati iring-iringan armada Sinar Jaya Jalur  Selatan. Ternyata banyak juga armadanya yang melalui jalur ini. Hemmm… Patut dijajal juga rupanya lain waktu, adakah yang rekomended?

Saya tidak sempat menghapal nomer body dari rombongan Sinar Jaya yang saya temui, karena bis yang saya naiki dengan lincah melibas jalur kanan dan tanpa ampun,  dengan menge”dim” penghalang jalurnya. Ada satu lagi hal unik yang saya temui, jalan tol dikawasan Bandung ini menjadi ajang tempat pemberhentian seperti Halte, mulai dari kalau tidak salah Buah Batu, Cibulan, dan lain-lain (maaf kalau tidak urut). Para penumpang yang turun tersebut tampak hapal dengan pemberhentiannya masing-masing, dan parahnya lagi sang crew pun juga hapal dengan pemberhentian itu, dan tidak lupa selalu mengingatkan apabila akan mencapai tempat tersebut.

Whaduh.. mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa ketika bis Kami berhenti di jalur darurat, mengingat banyak kendaraan yang terkadang mendahului melalui jalur ini. Saya sendiri mulai dihinggapi rasa kantuk ketika melalui jalur tol Bandung ini, kira-kira beberapa kilometer  sebelum Gerbang tol Cileunyi, karena saya sempat terhenyak dan langsung tersadar kembali  sewaktu bis mengerem mendadak,  dan pada saat itu gerbang tol Cileunyi tampak di depan mata.

Bis memasuki Cileunyi sekitar jam 10-an malam, bis tak lantas beranjak , karena okupansi penumpang sudah mulai berkurang setengahnya, memancing crew kembali bertugas mencari para penumpang disekitaran Cileunyi yang berniat ke arah Tasik.

Demi memenuhi setoran atau demi mencapai angka nominal dalam satu rit yang diinginkan. Bis kemudian “ngetem” sejenak. Crew sempat turun untuk mencari sewa atau calon penumpang yang tampak berjejal dipinggiran jalan. Ada sekitar 4 hingga 5 orang yang naik, tampaknya mereka pun komuter mingguan yang bekerja di kota Bandung dan hendak pulang ke daerah Tasik atau mungkin sepanjang jalan yang akan Kita lalui nanti.

Bis melaju kembali, tetapi ketika bis tiba di jalan Cileunyi tepatnya disekitar kawasan Pabrik, bis kembali mengambil jalur kiri, berbaris dibelakang angkot serta elf yang juga berjajar rapi tampaknya berniat ikut menunggu bubaran karyawan suatu pabrik. Tak lama kemudian memang benar, ratusan atau ribuan wanita berhamburan keluar dari salah satu pintu pabrik, tak jauh letaknya dari bis saya parkir, tampak para crew serta para supir angkot saling meneriakkan tujuannya masing-masing, serta  dengan sigap menggaet sewa yang mungkin bisa diraih demi memenuhi okupansi penumpang di kendaraan umum milik mereka masing-masing.

Sang crew Primajasa pun tak mau ketinggalan, dirinya pun berteriak memberitahukan jurusan mana yang akan mereka tempuh, sehingga banyak dari para karyawan tersebut yang akhirnya kepincut naik dengan bis yang saya tumpangi ini, Wah! Seandainya mas Ponirin ikut…. mungkin dirinya akan menganggap kejatuhan durian Montong kelas Kakap, tidak hanya satu atau dua, bahkan lebih dari lima orang gadis-gadis belia yang bersedia menaiki bis ini untuk mengantar mereka ke tempat tujuannya, dan kesemuanya tampak enggan duduk di Bangku  barisan tengah dan belakang yang kosong dan hanya berdiri disekitar selasar atau koridor bis atau mencari bangku barisan depan yang masih kosong, salah satunya ada yang duduk disamping saya (teng…teng!!!).

Bis ku pun melaju kembali menyusuri jalan Cileunyi yang tampak dipadati dengan jajaran kawasan pergudangan dan berbagai macam pabrik. Kian ke atas kian beralih menjadi  temaram lampu-lampu pemukiman penduduk  yang tampak dikejauhan dan makin menambah suasana perjalanan malam itu, dan jajaran kios-kios oleh-oleh khas Bandung yaitu Ubi Cilembu, Tapai atau Peuyeum dan lain sebagainya yang hampir 24 jam selalu buka.

Bis melaju dengan mantap, karena sang supir tampak sudah hapal dengan kelokan atau kontur jalan di daerah ini. Tak lama kemudian penumpang satu persatu mulai ada yang turun kembali, tak lama persimpangan nagrek pun terlewati, tak ada tanda-tanda bis akan beristirahat atau berhenti untuk sekedar kontrol, karena sepanjang jalan Malabar tampak Rumah Makan peristirahatan pesaing-pesaingnya sudah mulai dipenuhi oleh bis-bis yang searah seperti. Budiman, Gapuraning Rahayu, dan beberapa bis pariwisata. Bis yang saya tumpangi masih melaju dengan pasti, tak lama jalur Malangbong gentong pun terpampang di hadapan, disini mulai kelokan – kelokan jalan kembali tajam dan kian sering. Tampak sang supir dengan kelincahan bermain dengan setir, tuas kopling serta 3 buah paddle yang terdiri dari kopling, rem, dan gas saling berpadu dengan halus dan tidak terkesan canggung.

Supir kawakan juga rupanya, walau perawakan masih tampak muda, tapi ditilik dari umurnya, sudah cukup lama supir tersebut tampaknya bermain dengan jalur ini. Tak lama kemudian entah di daerah mana tepatnya, yang jelas masih dikawasan Malangbong. Bis berhenti di sebuah warung kecil. Semula saya pikir bis tersebut akan kontrol atau ada janji dengan salah satu crew untuk bertemu di lokasi tersebut, tetapi ternyata sang supir berteriak “istirahat!… istirahat!…” yang sudah jelas menandakan bis akan berhenti untuk melepas penat dan lelah dari crewnya tersebut.

Tak ada panganan yang menggugah selera, hanya beberapa gorengan yang sudah mulai ciut dan dingin karena dihembus dingin malam, dan juga tapai yang tergantung di dinding warung yang memenuhi etalase toko dagangannya. Camilan biskuit dan juga minuman kaleng cukup banyak tertata di sini, tetapi saya tidak melihat warung tersebut menyediakan sekedar nasi rames atau bungkus, ketika saya tanya, sang pemilik warung hanya menggeleng dan kemudian menawarkan saya Pop Mie untuk pengganti nasi rames. Sempat tergoda namun urung, saya berpikir nanti saja di Tasik saya akan mengganjal perut ini sembari menunggu bis menuju Purwokerto.

Selang lima belas menit kemudian bis kembali melaju, kali ini ada sedikit pertarungan seru, ada beberapa bis pariwisata ber plat jawa Tengah, tepatnya surakarta yang berada di depan bis yang saya tumpangi. Kurang jelas saya bis tersebut ber PO apa. Hanya liverynya berwarna abu-abu dengan beberapa garis merah dan sediki hitam tampak di sisi kanan dan kirinya. Bis pariwisata tersebut bermesin Mercy, itu saya ketahui dari sang supir yang “nyeletuk” sang kernet mengolok bahwa mesin Mercy sudah pasti alot di tanjakan, sehingga mudah untuk dilibas. Karena sang supir sering melibas Gapuraning Rahayu ketika sedang berjuang di tanjakan.

Mungkin dalam hal ini ada yang bisa menjelaskan atau mengkoreksi lebih rinci mengenai fenomena tersebut?

Bis kembali melaju dengan tanpa hambatan berarti, bis pariwisata tersebut, mulai tertinggal jauh, mungkin kalah dari jam terbang serta performa mesin. Yang jelas sudah tak tampak nyala head lightnya mengiring di belakang. Ada kejadian menarik, bis hampir saja bersenggolan dengan mobil di depannya yang tidak mau mengalah ketika ingin disalip, tetapi tidak kalah lincah, sang supir merangsek perlahan tapi pasti kesisi kanan mobil dengan mengiring suara klakson untuk memberi peringatan kepada sang supir, sembari menggerutu.  Jantung saya serasa mau copot dengan aksi tersebut, karena hampir saja bis berpepetan dengan kendaraan tersebut, untung saja sang supir dengan sigap mengelak dan bermanuver.

Tak lama bis tiba di terminal Tasikmalaya setelah melalui jalur lintasnya yang masih asing dan  belum begitu saya kenal. Tiba di Terminal Tasik jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam, hampir lima jam saya menempuh perjalanan Jakarta – Tasik, waktu yang tidak begitu jelek menurut saya, penumpang yang turun disini pun tidak sebanyak yang saya duga, mungkin karena sebagian ingin turun di terminal terpadu milik Primajasa. Sejenak saya melihat sekeliling bermaksud mencari warung makan guna mengisi perut, tetapi sayang, ternyata warung makan saat itu sudah kehabisan stok makanan dan berniat akan tutup, dan hanya ada warung Indomie rebus dan beberapa warung camilan yang masih buka demi mengais rejeki pada tengah malam itu.

Tetapi untung saja, ada warung rokok yang masih menyediakan panganan gorengan dan “arem-arem” (bahasa jawa untuk lontong yang berisi oncom atau sayuran atau sejenisnya). Bisa sedikit mengganjal perut saya, dan saya juga memesan segelas susu hangat untuk sekedar melawan dingin malam pada saat itu.

Saya sempat bertanya dengan pemilik warung, apakah bis untuk tujuan Purwokerto masih ada atau tidak, dan menurut keterangan pemilik warung, memang bis masih ada, tetapi saya paling menunggu agak lama, karena jedanya sudah jarang. Benar saja, selang sekitar setengah jam kemudian, bis PO Harum dengan Body seperti body RS atau Laksana melintas, saya sempat agak kaget dan berniat untuk buru-buru mengejar,

namun pemilik warung segera memberitahu saya bahwa bis pasti akan “ngetem” sejenak demi mencari penumpang. Wuh!!!…. sempat kaget saya, takut akan tertinggal bis yang mungkin menjadi bis terakhir pada malam itu. Saya pun bergegas naik dan mencari bangku yang kosong.

Saya menemukan ada bangku kosong di baris kedua sebelah kanan, segera saya bertanya dengan penumpang sebelahnya apakah bangku tersebut sudah ada yang menempati. Ternyata bangku tersebut masih belum berpenghuni, saya pun duduk dan mencoba mensejajarkan punggung, ternyata apesnya bangku tersebut stelannya sudah dol, dan setelannya tidak bisa disesuaikan, terpaksalah saya berniat mencoba mencari bangku lain, tetapi apesnya, bangku lain sudah mulai terisi penumpang lain.

Akhirnya saya kembali ke bangku tersebut, dan harus mencoba menahan agar bangku tidak menjungkal ke belakang. Tetapi lebih apes lagi, ternyata ibu-ibu yang duduk di depan saya menyetel bangkunya terlalu mundur dan saya sudah mencoba untuk bilang kepada ibu tersebut untuk memajukan setelan bangkunya, tetapi malah makian yang saya dapat, duh…duh….!!! dasar “dul beubeuh” ibu satu ini, wong saya minta ruang sedikit saja, toh dirinya sudah duduk paling depan.

Tapi sudahlah, saya tidak ingin berpanjang-panjang debat dengan ibu tersebut, terpaksalah saya menerima nasib untuk menahan bangku tersebut, ingin rasanya pindah, tapi koq ya  penumpang sudah padat, bahkan selang beberapa waktu makin banyak penumpang yang naik yang tidak mendapat bangku untuk duduk. Bis tidak kunjung jalan, ternyata ada sedikit “trouble” di mesinnya, sempat sang supir dan kernet serta kondektur mengotak-atik mesin dan membuka kap mesin di belakang, hingga membuat beberapa penumpang kembali turun, entah ada kendala apa, tetapi tampaknya tidak begitu riskan.

Bis ini memiliki pendingin udara, tetapi tidak ada satu hembusan anginpun yang terasa di blowernya, saya duga AC nya pasti dimatikan, toh malam itu sudah terasa dingin, tetapi untungnya bis ini masih memiliki kaca jendela kecil dibagian atas yang masih dapat dibuka untuk sekedar mencari sepoi angin malam. Sekitar jam 00.40 bis yang saya naiki pun melaju, dan sang kondektur mulai menagih tiket perjalanan ke sebagian penumpang yang baru naik.

Bis melintasi kota Tasik yang sudah sepi malam itu, disekitaran Tasik, bis masih memperoleh beberapa penumpang lagi yang hendak naik, bahkan di depan agen Budiman pun bis masih mendapatkan beberapa penumpang. Bis kian penuh, bahkan ada beberapa penumpang yang berdiri di selasar ruang kabin. Giliran saya ditagih oleh sang kondektur, seperti pesan mas Wahyu, kisaran harga bis dari Tasik hingga Purwokerto tidak melebihi 30 ribu rupiah. Saya pun mencoba memberikan 2 lembar uang dua puluh ribuan, ternyata oleh sang kondektur uang saya dikembalikan lagi 10 ribu rupiah. Hmmmm….. ternyata tidak meleset prediksi mas Wahyu. Matur nuwun mas……

Bis ini terdengar dari suaranya mengusung mesin Mercy, mungkin mercy Cooler, sepintas saya melihat diameter setir dan juga dahsboard tampak menunjukkan panel-panel yang sudah uzur dan jarang yang sudah aktif. Tetapi dari suara mesin, Mercy memang tidak diragukan lagi, walalupun tua tetapi suara yang dihasilkan memang masih halus. Mungkin perawatannya yang masih rutin diperhatikan. Body bis memang terlihat sudah baru, mungkin sempat ada perombakan dari karoseri lokal yang bekerja sama dengan PO tersebut. Karena bodynya saya melihat meniru body RS Evo atau Laksana. Tetapi lampu belakang masih berupa lampu tumpuk. Dan head light memakai lampu smile.

Supir masih berperawakan muda, dan terlihat dari cara menyupirnya masih agak kasar, terutama ditikungan-tikungan tajam, masih terasa rem mendadaknya, bahkan perpindahan giginya pun kurang pas. Karena bis sering dipaksa gasnya. Tetapi tampak sang supir sudah lumayan hapal jalur Selatan ini. Tak lama bis pun Masuk Kota Banjar yang sebentar lagi pasti akan memasuki kawasan Hutan Lumbir, masih banyak cerita misteri di Hutan ini yng mengisahkan cerita-cerita tragis atau kisah-kisah para supir bis atau truk yang mungkin lebih banyak mengandung unsur mistis.

Tetapi rasa kantuk sudah menghinggap, terlebih bangku yang saya duduki kian sulit untuk diajak kompromi, badan kian pegal, dengan rasa kantuk yang setengah-setengah. Saya pun mencoba memejamkan mata, tetapi perasaan masih setengah sadar, karena belokan-belokan yang masih saya rasakan dan juga harus membenarkan posisi kembali ketika sang supir mengerem mendadak. Tak banyak lawan berarti di jalur ini pada jam-jam seperti ini, hanya beberapa truk dan juga mobil pribadi. Bis pun melaju dengan pasti, saya menduga di kisaran 60 atau 70 km/jam.

Sepanjang perjalanan lumayan banyak penumpang yang turun terutama di daerah Karang Pucung, hingga beberapa penumpang yang tadi berdiri sudah tidak tampak lagi, saya pun kembali memejamkan mata, bermaksud tidur. Hingga akhirnya benar-benar tertidur dengan segala ketidak nyamanan ini. Karena begitu terbangun, hari sudah beranjak pagi, tampak terminal Wangon baru saja terlewati. Berarti bis ini mengantar beberapa penumpang ke Wangon terlebih dahulu.

Saya pun mencoba melirik ke belakang, dan tampak barisan bangku paling belakang sudah kosong, saya pun mencoba pindah ke belakang untuk sekedar meluruskan urat-urat kaki yang kaku dan juga punggung yang sudah kian pegal menahan bangku yang tidak jelas posisinya.

Ditemani oleh sang kondektur, hanya Kami berdua yang duduk di belakang, tak lupa sang kondektur menyebutkan daerah yang sekiranya ada penumpang yang hendak turun, tetapi ternyata penumpang kesemuanya tampak bertujuan sama dengan saya yaitu Purwokerto.

Jam sudah menunjukkan sekitar jam 05.30 ketika bis tiba di jalan Gerilya Kota Purwokerto. Saya pun bergegas bersiap-siap untuk turun. Tak lupa saya berpesan kepada Kondektur untuk minta turun di Bundaran Terminal Lama. 10 Jam saya mengarungi jalur Selatan dengan 2 bis “penguasa”nya. Sebuah catatan yang saya kira masih dapat saya perbaiki, mengingat ini masih kesan pertama. Mungkin lain waktu catatan yang saya tempuh lebih baik dari ini.

Sekian.

Pamuji

Jkt – Tasik : Primajasa Jam 19.15

Tiket: Rp. 35,000,-

Tasik – Pwkt : PO Harum Jam 00.40

Tiket: Rp. 30,000,-

Pwkt jam 05.30 Pagi

Dari Kota: Jakarta

Jam Berangkat: 19:15

Tujuan Kota: Purwokerto

Tiba jam: 5:30

P.O: Primajasa

Harga Tiket: 35000

Kelas: AC Ekonomi (kursi 2-3)

Tanggal: 11/27/2011


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;