PERANTAU : Perjalanan Amron Tahapi Umur

Jum’at 17 Agustus 2012.
Hasrat lama untuk meluangkan waktu disela kesibukan menjalani fungsi dasar manusia memenuhi hajat hidup akhirnya terbuka dengan kesempatan tahunan pulang menjenguk kubur saudara serahim bernama ari-ari yang terlahir bersama setiap insan ke alam pergulatan batin dan perjuangan untuk mendedikasikan setiap usaha menjawab tantangan hidup.
Ba’da pemenuhan kewajiban Jum’at pada SANG AGUNG dengan bantuan tanpa pamrih dari sedulurku Yuanito Bayu Anggoro Tiko, kudapatkan contact mas Yanto agen bejeu LB. aku sempatkan telpon dan mendapatkan jawaban kemungkinan bejeu berangkat pada H+1, maka sore itu juga ku “DP” tiket untuk “hot seat” 1C dan 1D.

Senin 20 Agustus 2012.
Pagi itu smartphone hitam bergetar di meja kerjaku menampilkan sebuah sms dari mas yanto. Sentuhan pada tombol membuka sebuah kabar kurang menyenangkan tentang perpalnya semua armada bejeu pada hari itu.
Cukup membuat cemas, tetapi tanpa panik aku mencoba hubungi mas yanto dan beliau dengan sopan menjelaskan serta memberikan solusi untuk tetap mengusahakan bisa berangkat pada hari itu (nilai plus untuk penilaianku). Hampir pukul 09.00 WIB sebuah sms masuk dan tertulis dilayar “Mpun tk pesenke pahala mas kursi 6c6d. Jam setengah 1,kedah mpun dugi lebak bulus,,suwun”. Hilang sudah cemas yang ada dan berganti dengan ceria, segera kembali kuhubungi mas Yanto untuk memberikan kepastian atas tiket seharga Rp 500.000,- untuk 2 seat. Waktu yang mepet untuk persiapan membuatku terkesan jadi manusia super, tapi super sibuk.
Tepat tengah hari ku injakkan kaki pada terminal yang sepertinya akan segera menjadi kenangan akibat pembangunan tertatih akan transportasi terpadu di ibukota. Memasuki terminal dan mendapat hadangan petugas peron tepat di pintu keluar di depan Masjid, sebuah lembaran bergambar patimura dengan goloknya tidak juga membuat takut petugas tersebut untuk “menilep” pungli terselubung sebesar Rp 600,- dan memaksa tidak berlakunya tulisan yang dengan jelas terpampang @Rp 200,-/kepala pada gardu jaga. Kita lupakan dosa yang sudah jadi biasa tersebut dan
Melihat suasana sibuk khas terminal bis dengan banyak aktivitas manusia yang beragam dan menjadi obyek santapan mata ini untuk memperhatikan tingkah polah mereka, pedagang minuman yang mondar mandir menawarkan pelipur dahaga sempat menggodaku untuk membeli sebotol minuman dingin, tapi kuurungkan niatku bersamaan dengan kedatangan sedulur baru berpelat nama yanto. Ijab kabul berjalan dengan lancar dan halal (karena pasti tidak menyandang gelar sarkawi ataupun penumpang gelap dengan adanya tiket & nomor kursi). Lepas sudah satu tugas dan masih menyisakan waktu untuk menghadap kepada pemilik mahluk satu ini otomatis melangkahkan kaki ini menuju pintu keluar dan sign kiri menuju tempat ibadah.
Kembali menuju ke dalam kabin PK hideck rajutan adiputro berdapurpacu Hino mesin belakang (RK), bentuk bodi jetbus dan lampu belakang marcopolo menegaskan julukan jetmarco menurut adikku saddam yang juga penghuni tetangga sebelah (bismania.com), sebagai bismania pecandu kecepatan yang kurang mengenal dengan detail spesies-spesies benda kotak besar beroda enam ini cukup terbantu juga memiliki adik dengan hobi sepaham.
Seat aldila berbahan semi kulit Jumlah seat 9 kanan dan 7 kiri cukup nyaman untuk menampung tumpukan lemak pendosa berkilogram hampir satu kwintal ini. Suasana kabin sangat bersih dan wangi, dinginnya hembusan AC tertangani oleh adanya selimut dan bantal, toilet yang wangi dan air yang cukup menyandangkan kualitas pelayanan yang prima pada bus ini, mobilisasi penumpang cukup terganggu dengan adanya beberapa tempat sampah di sepanjang koridor tengah walaupun berhasil untuk menjaga kebersihan koridor tersebut.
Bus ini takeoff tepat pukul 14.30 WIB dengan supir pinggir yang berjalan tidak terburu, dan berhenti untuk memuaskan dahaga benda bongsor ini agar tidak kehausan di perjalanan nanti pada res area di KM57, perjalanan cukup santai dan minim sekali dengan “blong-blongan”, hanya ada satu kejadian penyebab kemacetan di simpang jomin ternyata akibat kebodohan dua elf yang memaksa memotong putarbalikan tepat setelah flyover dari karawang menuju subang. Berhenti kali ini untuk memuaskan lambung pemakai jasa bus ini di RM UUN tepat pukul 16.53 WIB dan kembali mengaspal pukul 17.38 WIB. Perjalanan dengan supir tengah pun tidak banyak yang bisa di ceritakan dan cenderung membosankan, hanya pertolongan dari layar televisi yang memutar film dengan judul RAMBO bisa sedikit mengalihkan dari “kemonotonan” ini.
Selasa 21 Agustus 2012.
Pukul 01.12 WIB supir tengah menghentikan kendaraannya lalu dengan santai masuk kedalam kantor yang ada plank PK setelah terminal jati kudus, dia meninggalkan bus yang tergolek tak berdaya tanpa sang jurumudi, cukup lama sebelum supir pinggir mengambil kendali untuk menggerakkan benda bongsor ini menuju titik penurunan di SPBU depan matahari kudus pada pukul 01.33 WIB. Rombongan sepeda motor plat B menyambut kedatanganku bersamaan menjauhnya lampu belakang marcopolo menjadi pengakhir perjalanan.

Maaf jika anda kurang bisa menikmati caper kedua saya ini jika bisa di bilang caper (masih terus belajar sampai liang lahat).

Rgds,
Amron Kholil

Dari Kota: Jakarta

Jam Berangkat: 14:30

Tujuan Kota: Kudus

Tiba jam: 1:33

P.O: Bejeu

Harga Tiket: 250000

Kelas: Eksekutif

Tanggal: 08/20/2012


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;