Kalau bukan sebab dering telepon di siang itu, entah berapa lama lagi perhelatan tradisi akhir pekan dengan sedikit wah ini betah bersemayam dalam angan-angan.
Adalah perayaan ritual sakral yang merdeka dalam segalanya, tak terjajah aturan dan norma-norma. Saatnya pesta pora, hura-hura dan foya-foya menikmati kebebasan pulang ngetan, tanpa pening soal budgeting, tidak acuh perihal batasan waktu tempuh, dan tak terkurung oleh jeruji PO-PO tambatan. Pengkondisian yang sengaja kuniatkan untuk mencari nuansa dan romantika baru dalam lakon mingguan; me-remove kejenuhan wira-wiri yang masih terus membelenggu.
“Pa, tadi malam keluarga Paklik M***** bersilaturahmi ke rumah,” istriku membagi warta lewat piranti komunikasi nirkabel.
“Bawa kabar apa, Ma?”
“Hari Minggu besok anaknya married, dapat arek Suroboyo,” ujar wanita yang hampir sembilan tahun menjabat sebagai ibu negara.”Kita diminta ikut iring-iring temanten!”
Surabaya! Ah, mana mungkin cukup waktu untuk melawat ke kota pemilik kosakata j*nc*k, jika hanya menggantungkan spacetime dua hari on weekend.
“Papa ambil cuti lah!” pintanya, meski aku juga sedang berpikir ke arah sana.
Tentu tetap kululuskan permintaan yang akan mengusik my workdays itu. Mengingat sosok ‘Bapak Cilik’ begitu lekat dalam kehidupan rumah tanggaku. Dia yang menghalalkan hubungan dengan calon pendampingku kala itu, dalam ikatan resmi yang bernama pernikahan. Beliaulah yang didapuk sebagai penghulu, host acara ijab kabul nan agung lagi suci bagi kami berdua.
Sekecil apapun bantuan yang diminta, pasti tak akan kutampik selama aku mampu. Demikian tekad yang kugaungkan sebagai wujud darma bakti kepadanya.
“Baik, Ma, aku cuti saja barang dua atau tiga hari.” pungkasku.
Kamis, 14 Februari 2013
16.16
“Kepada penumpang Raya non AC yang bernama Didik Edhi, mohon segera naik ke armadanya. Bus siap diberangkatkan!”
Baru saja aku kelar melunasi hutang salat asar di mushola pool, panggilan lewat pengeras suara itu terdengar menggema.
Ya ampun, baru seperempat jam lepas dari pukul empat, mengapa sudah diuber-uber untuk bersiap. Batinku memprotes.
Aku pun bergegas melapor pada seorang ticketing girl di bagian help desk, melakukan boarding pass untuk tiket yang kupermanenkan sehari sebelumnya. “Mbak, ini Didik Edhi.”
“Langsung naik ya, Pak. Busnya persis di samping kiri kantor.“ instruksinya dengan ramah.

“Mas turun mana?” tiba-tiba laki-laki muda mendekat dan kemudian menyapa.
“Semarang, Mas!” jelasku singkat. Rupanya, dia kenek bus yang akan menjadi transporter pembawa ragaku menuju kota pemproduksi kue lunpia.
“Eh, Mas, kalau mau lanjut ke Terboyo, enaknya turun mana ya?” selidikku, mengingat ini kali pertama aku menciptakan rute baru, menyimpang dari alur pelayaran lama untuk menuju kampuang nan jauh di mato.
“Kalau turun Krapyak, Mas kudu naksi. Kalau mau nge-bus, ya turun Sukun apa Banyumanik!” paparnya gamblang. “Jam dua-an sudah ada kok yang ke Terboyo!”
Catet…
Kurang semenit dari setengah lima teng, Si Nona (akronim dari non AC) itu menonaktifkan tuas pengunci parking brake.

Meninggalkan teman dengan grade di atasnya, di antaranya gerombolan eksekutif AD 1503 AG, AD 1497 AG, AD 1511 AG, AD 1430 AG dan AD 1509 AG. Tak lupa pula bilang “Aku duluan ya!” pada pasangan strata Super Top, Legacy SR-1 dan Comfort, yang masih kerasan berhabitat di markas Pulogadung.



Gerakan agresif ditunjukkan dengan memotong paksa arus kendaraan yang menyemut di jalan protokol penghubung Pulogadung-Bekasi.
Mantap…walau hanya bersenjatakan ‘kavaleri’ tahun emisi 80-an, OH 1113 masih menyalak garang, menuruti karakter trengginas sang juru mudi.
Sayang, kesemrawutan yang berpangkal di pertigaan Igi hingga ujung Pasar Cakung memangkas tempo banter yang coba dirancang. Sementara ulah PO Setia Negara ‘Shely’, B 7377 WB, yang menginfiltrasi jalur motor kian menahbiskan premis bahwa Laskar Cirebonan adalah penganut paham “ora ngedan ora keduman”.

16.56
Belum berselang lama usai menuntaskan transaksi di Gerbang Entry Cakung, anak kecil yang duduk di baris kedua muntah berulang.
Aku pun memaklumi, bus tanpa pendingin udara, identik dengan angkutan ‘orang udik’ yang jarang melakukan perjalanan jarak jauh. Wajah-wajah yang berdiam di atas ketiga puluh enam seat yang terpancang di kabin melambangkan warga dusun pelosok. Adalah hal yang lumrah, biasa lagi jamak, mabuk darat berteman akrab dengan modanya kau jelata. Aku harus kuat menahan jijik dan geli andai ada yang sukses mengotori geladak dengan lontaran cairan dari dalam perut.
“Malu-maluin ibumu saja, Nduk…Nduk…!” damprat si ibu sembari membersihkan isi lambung yang berceceran di lantai.
Beberapa penumpang di sekitarnya menutup hidung, mungkin sembari mengomel mengapa orang tuanya tidak tanggap darurat dengan ‘kebencanaan’ seperti ini.
Sementara asisten driver dengan cekatan mengulurkan pertolongan. Bantuan yang berwujud kain lap dan kain kresek sebagai media antisipatif, diberikan. Inilah sikap positif yang dilanggengkan para kru sehingga PO Raya begitu dicintai penggemarnya. Nguwongke uwong, pepatahnya.
Dibarengi penampilan apik suara penyanyi Ratih Purwasih yang diputar melalui rekaman MP3, bus yang cuma punya semburan hulu ledak setara 130 tenaga kuda berinisiasi membangkitkan sisa-sisa nafasnya.
Kupandangi panel-panel yang terbenam di dashboard. Masih lumayan terbaca, mulai indikator water temperature, jarum skala rpm, serta penunjuk tekanan angin. Hanya speedometer yang mogok kerja, sama sekali jarumnya tak mau bergerak untuk menghitung seberapa cepat pusingan roda.
Tapi di mana pusat kontrol perangkat AC-nya? Ops…aku lupa kalau ini minus penyejuk ruangan. Hehe…
Pantas saja nangkring sebiji kipas angin mini sebagai penyegar lapisan kulit Pak Sopir di kala didera kepanasan.

Wuss…wuss…
Hembusan angin yang cukup telak menyusup melalui sela-sela kaca geser yang terbuka ketika ‘Grobogan EpiZentrum’ TZ-25, K 1677 DF, meng-overtake secara barbar dari samping kanan, di Km. 49 JORR Cacing.

Wow…kebisingan dan keriuhan udara mistis Pantura lebih bisa dirasai dengan bis non AC.
Di Interchange Cikunir, bersualah dengan salah seekor member of Haryanto Group. HR-04, demikian kode yang dicantumkan.
Hal itu mengundang decak kagum ibu-ibu yang duduk di sebelahku.
“Bus Lor (utara) sae-sae ya, Mas!” pujinya jujur dan mangkus.”Saya paling suka kalau lihat Shantika.”
Weleh…weleh…ternyata lumayan melek bab dunia per-bus-an. Dari tutur cerita selanjutnya, beliau adalah pengguna setia Raya dari tahun 1980 hingga sekarang. Tak sekalipun pernah berpaling dari PO lain, bahkan untuk trip kali ini, beliau gratis tis hasil barter 10 tiket yang dikumpulkan sebelumnya.
Dalam kemampatan lalu lintas, Damri berbodi Magneto B 7111 TAA serta Mayasari Bhakti B0904 mencuri derapnya. Sementara HR-04 tercecer di belakang karena terhalang ratusan obyek perintang.
Lepas dari area Cibitung, energi gedor mulai meluap-luap. Output mesin yang full untuk menggerakkan flywheel tanpa digandoli tali kipas penggerak kompressor AC, benar-benar membuatnya meroket untuk ukuran bus tua.
Bus karyawan, PO Parahyangan B 7273 IS serta Restu N 7710 UG dikandaskan. Meski untuk urusan top speed di lintasan sepi masih dikalahkan oleh Sahabat ‘Robet’ dan Sinar Jaya 73DX.
Wuss…wuss…de javu, dan terjadi lagi hempasan angin mengibarkan gorden-gorden pelindung kabin dari sengatan cahaya mentari.
Kini giliran HR-04 dengan tagline ‘Bara Tangguh’, menyejajari. Dari balik kaca, pramudi MB OH 1526 itu memberi kode da-da-da-da. Driver Raya yang secara senioritas sepertinya lebih unggul membunyikan klakson dan mempersilahkannya untuk mendului. Sebuah persahabatan kental dan erat antarsesama abdi jalanan.

Menjelang gate otomatis Cikarang, Gunung Mulia Proteus dan 73 DX kembali tertinggal karena bus yang menancapkan kaca depan model two pieces ini menang dalam pemilihan jalur yang lebih steril.
Sembari menikmati snack gratisan, kupandangi tarian HR-04 nan super eksotis. Meliuk kanan kiri, membelah sirkuit, mengiris kepadatan, memamerkan lampu rem yang terus berkedip-kedip, menjunjung nama kehormatan sebagai the new alap-alap.


Namun sayang, sessnya bus langganan itu tak serta merta membikinku untuk selalu stay tune, beristikamah mereguk kehandalannya. Ada kalanya muncul aspirasi bosan dan jemu lantaran tiap saat dicekoki racun speedy. Itulah alasanku mengapa memilih Raya sebagai wahana perselingkuhan dari artis-artis papan atas pelat K. Ingin kugali dan kurasai sendiri, benarkah bus yang dikalungi medali dangerously comfortable coach bisa disatukan dengan DNA Muria-an yang mengalir di dalam nadiku?
Aku pengin menyelenggarakan perkawinan multi-etnik antara unsur Muria dan zat Raya. Muria-Raya United, demikian aku mengistilahkan. Bisakah klop dalam persenyawaan heterogen antarkeduanya?
Dari jauh samar terlihat pijaran lampu rotary PJR. ‘Bhara Tangguh’ responsif, dengan menggeser posisi dari lajur 4 ke lajur 3, meski alirannya agak tersendat. Dan inilah kesempatan busku untuk mendekat pantat “Red Phoenix” itu.
Cukup lama keduanya ‘bertempelan’. Bahkan jet darat berakte AD 1506 AG menurutku luar biasa, berani mengimbangi kedigdayaan armada yang bertangsi di Ngembal Kulon, Kudus.
Mendadak HR-04 berkilah ke lintasan samping kiri, lalu menurunkan kecepatan, seolah mendorong Raya untuk menyebelahi. Lagi-lagi, keduanya bersulang klakson sembari berkomunikasi lewat isyarat yang aku sendiri tidak dapat menerjemahkan. Karena keasyikan nge-date, Dream Liner BCB 181 serta Sinar Jaya B 7520 VB melangkahi.
Si Nona pun merangsek ke depan, sementara B 7057 VGA mengalah sebagai wujud sikap tahu diri, rendah hati, sportif dan berempati, mengejawantahkan slogan Oldies First.
“Hebat kan, Muria-an dibikin mundhuk-mundhuk (merendahkan diri) di hadapan Solo-ensis!” aku bersorak.
Di Km. 42, hujan turun dengan lebatnya. Hal itu mentrigger ter-ekspose-nya amalan langka yang tak kujumpai di bus malam. Dibantu kenek, para penumpang beramai-ramai menutup kaca geser, menyumbat jalan agar air tak membasahi ruang kabin.
Handicap ini pula yang membuat spesies-spesies Hinomaru ‘ketakutan’, dengan melambatkan ritme putaran ke-enam bannya. Dengan mudahnya, kakak PO Sedya Utama ini menyalip 73 DX

dan Rosalia Indah 125 Hino RG, namun gagal dalam usaha mencundangi Dedy Jaya G 1494 GR. Sementara terlihat PO Prayogo Cileungsi-Klaten menepi, berkutat dengan permasalahan mesin.
Di bahu jalan Km. 53, lampu atreet Haryanto eks PO Tridiffa menyala silau. Ada apa gerangan sehingga HR-78 itu melakukan gerakan yang membahayakan pengguna tol? Apakah lantaran kelupaan ataukah terlalu ngebut sehingga kebablasan tidak melakukan pengisian solar di SPBU ‘Diamond Class’ Km. 52?
18.03
Kemacetan menjuntai panjang di jalan akses keluar dari Gerbang Tol Dawuan karena adanya lubang besar di depan pabrik perakitan Hino, Cikampek. Dengan kenekatannya, Zentrum 09 dan Rosalia Indah dengan nomor lambung 134 memporakporandakan jalur berlawanan. Kendaraan kecil dipaksa minggir, mengobarkan semangat negatif adigang, adigung, adiguna.
Aku pun kegerahan dan secara refleks tangan menjulur ke atas untuk meraba-raba keberadaan louver AC. Tapi…yaelah, mengapa aku senaif ini. Ini bukanlah refrigerator berjalan. Hehe…
Dalam sedikit ketidaknyaman hawa udara, timangan leafspring chasis OH-1113 benar-benar tak diragukan. Dalam dekapan empuknya kursi eks pesawat DC-10 milik Maskapai Garuda Indonesia, tak kuasa aku melawan kantuk sehingga masyuk dalam peraduan.
Zzz…zzz…
Menapak daerah Ciasem Girang, dengan ringannya mengakuisi posisi PO Agung Putra, bernomor STNK AA 1500 DM. Menilik pelat nomor dan corak warnanya, jelas bus wisata ini mengkaryakan armada seken PO Efisiensi.
Wuss…wuss…
Dengan lancang, dari sebelah kanan meluncur deras Laskar Tidar yang menjuluki dirinya dengan sebutan Lelaki Cadangan. Siapa lagi kalau bukan Santoso line Merak yang kondang dengan high determination-nya itu.
Jalanan penuh jerawat dan mengikal jadi penghambat Merah-Oranye untuk melepaskan diri dari panduan Dedy Jaya ‘Lapendos’, Laki-Laku Penuh Dosa. Dan akhirnya, Rumah Makan Markoni Pamanukan benar-benar menghentikan kiprahnya di etape pertama, menyusul Junior Eksekutif AD 1488 AR dan Senior Eksekutif AD 1504 AG yang tiba terlebih dahulu.


Kutukarkan kupon yang menyatu dengan tiket tanpa sampul, dan kemudian diberikan keleluasaan untuk meracik menu prasmanan empat sehat yang dihidangkan. Bebas tanpa syarat, silahkan keruk sepuasnya tanpa perlu was-was ditegur pramusaji andai ketahuan mengutil ayam lebih dari sepotong. Hehe…

Saat menyantap gala dinner, mataku tertuju pada tumpukan snack yang tertata rapi di atas meja makan. Mungkin itulah yang dipersiapkan bagi penumpang super eksekutif yang ketinggalan kereta, sehingga menumpang sementara waktu pada bus yang lain sebagai pelangsir, sebagaimana yang pernah dialami Kang Mas Ponirin. (Hehe…piye Dab kabare?)

19.46
Angkutan massal yang sekarang diorganisir kakak beradik, Bapak Nata Laksana dan Bapak Brata Laksana, melakukan kick off babak tengah, disaksikan oleh enam unit armada Ramayana di sisi parkir timur.
Sopirnya malah lebih sepuh dari pengemudi pinggir, dengan postur tinggi jangkung dan agak kurus. Tak ada seragam formal yang menempel di badan, hanya pakaian casual namun sopan. Alas kakinya pun merakyat, cukup sandal jepit. Barangkali PO Raya ingin menyampaikan pesan bahwa saat on board, antara penumpang dan kru adalah satu family, sama-sama sederajat dan sehati. Mengaburkan konteks berbisnis bahwa dalam usaha komersial terbangun tingkatan antara penjaja jasa/barang dan penggunanya (user).
Karakter driver jangkar ini lebih santai, sangat santun dan menanggalkan egoisme di atas jalan raya. Hanya sesekali mengerek jarum rpm ke puncak aman di skala 2.000 rpm. Tapi kelihaiannya memainkan setir kemudi yang segede tampah, mempertegas tingginya jam terbang yang dia punya.
Jalanan kembali tak ramah, aspal mulus jadi barang mahal. Meski bodyroll terombang-ambing oleh kontur tak rata, belasan truk-truk penghancur properti peninggalan Daendels dilibasnya dengan smooth.
Dan entah aku harus berkomentar apa, saat tanah Kandanghaur merekam aksi Raya mengasapi HR-04 untuk kedua kalinya. Bus yang sedang menggawangi trayek Poris-Tayu itu terlihat ogah-ogahan, kehilangan greget, kurang match dengan nickname ‘Bhara Tangguh’.
Dan kini giliran Sinar Jaya 84 J yang kudu mencicipi rasa pedas kala dikebiri bus lain, dan selanjutnya terus menorehkan raihan positif dengan menihilkan medium bus pelat merah B 7788 EQ milik Badan Koordinasi Penanaman Modal berkaroseri garapan Delima Jaya.
Hoek sorr…hoek sorr…
Owh…si ibu yang menyemprot anaknya gara-gara mabuk darat tadi seakan kena ‘karma’. Justru dari kevulgaran suara yang dikeluarkan, kualitas muntahannya lebih hebat dari putrinya. Dan efeknya, penumpang yang lain pada membisik tentang ketidaksopanan yang ditunjukkan ibu tersebut.
Aduh..duh…pahit memang memaknai hakikat art of travelling.
“Prei…prei…awas, parkir…”
Tak kenal henti kru #03 mengawal laju perjalanan bus pecinta body builder Ungaran, Laksana, ini. Tentu beda dengan habit kenek Muria-an yang lebih memilih bobo manis di depan toilet, percaya penuh pada kemampuan kerja partnernya.
“Ayo…kosong…”
Teriaknya saat PO Madjoe Utama, AE 7088 UB, dengan livery siluet angsa PO Setiawan disikatnya dari lajur kiri dan berikutnya gantian Sahabat Pariwisata, E 7652 KA, disungkurkan.
Tettt…tett…
Tebasan duet Pahala Kencana MB OH 1626 B 7907 IZ dan Pahala Kencana Setra RG B 7912 IW membobol blocking jalan yang dikreasi bus yang berhomebase di Bulakrejo, Sukoharjo. Selarik bukti nyata bahwa armada-armada Gang Pegangsaan itu tak lagi memusingkan soal fuel consumption, mengangkat ketepatan waktu tempuh sebagai panglima. Dan aku sendiri merasai, bagaimana empat kali berturut-turut mudik mingguan naik Ombak Biru Madura-an, hanya sekali yang tampil mengecewakan. Selebihnya, ngebut, sekencang kompetitor barunya di jalur tersebut.
Celeng. Itulah lintasan yang dilalui, menghilangkan eksistensi bypass Losarang-Widasari yang hampir semua PO menjadikannya sebagai lintasan rujukan untuk mengarah ke Jatibarang. Hanya bertemu satu unit bus di atas track yang mati suri ini, yakni PO Damri jurusan Bandung-Indramayu ketika tengah mogok.
Underpass rel kereta Widasari, yang merupakan meeting poin jalur lama dan baru, Nona langsung disambut Legacy Sky Madu Kismo, K 1455 BD, dan Rosalia Indah Super Eksekutif. Dan selanjutnya berparade malam menyisir alam Cirebon.
Bahkan, aku harus angkat topi pada performa penggawa Palur beridentitas 377 di ruas Kertasemaya. Perjuangan dalam menumbangkan saudara muda Tri Sumber Urip jurusan Bangko-Solo-Pati itu, plus keberaniannya memotong langkah GMS Scorpion King serta Sumber Alam Proteus, AA 1521 CC, sembari menuntun busku, pantas diapresiasi.
Tett…tett…
Genderang perang seakan ditabuh kembali oleh another member of Pahala Kencana Imperium. Jetbus Hi-Deck ‘nano-nano’, B 7830 IZ, memamerkan hegemoni dan dominasinya, mencecerkan Raya dari persaingan race Pantura.
Bidak-bidak Bapak Hendro Tedjokusumo sukses berakting antagonis malam itu, memerankan momok yang menyeramkan bagi PO-PO lain. Salut…
Blitz…
Kilatan lampu hi-beam dari kendaraan arah berlawanan membelalakkan mata. Aku pun terjaga dari lelap. Tegal, itulah kesimpulanku saat menatap layout tata kota dan bangunan di kanan kiri jalan.
Bus yang hampir berumur 30 tahun ini tetap melenggang stabil dan meyakinkan. Kolega-kolega Pantura yang lebih muda dan fresh berusaha meminta jalan. Tercatat Kramat Djati D 7520 AB, Rosalia Indah 349 dan Pahala Kencana B 7912 IW diberi kelonggaran untuk melenggang di depan.
23.55
Di teritorial Ulujami, Pemalang, Nona mendekat ke bidang buritan PO Santoso, AA 1505 CA. Bus yang mengusung jingle Assololey — sebuah salam mesra khas bumi Nganjuk yang direpopulerkan oleh Mbak Eny lewat musik Djanduth (Djaranan Dangdut) Sagita — memberi perlawanan liat dan ulet.
Sayang, makhluk yang digilai Sanlov itu terbujuk iming-iming lambaian tangan dipinggir jalan saat tensi balapan mulai meninggi. Sebagai gantinya, Pahala Kencana divisi Kudus, K 1707 B, didegradasi menuju trap di belakangnya.
Raya tak lelah mengumbar puing-puing kekuatannya. AKAP yang mematok tarif Rp115.000,00 untuk jurusan Jakarta-Solo kembali menurunkan panji-panji PO Purwo Widodo Putro, AD 1476 FG, serta bis 7/8 aset sebuah sekolah kebidanan di Brebes. Rosalia Indah AD 1633 DA tak luput menghirup jelaga karbon yang dihembuskan knalpot OM-366A ini, saat disungkurkan selepas perlintasan sebidang rel kereta api di Jl. Dr. Wahidin, Pekalongan.
Gen Muria-anku terpuaskan lagi menyaksikan aksi jantan Bapak Sopir dalam mengandalkan intuisi dan kejelian membaca peluang saat memelorotkan posisi New Marcopolo Safari Dharma Raya AA 1616 BY dan Purwo Widodo Putro 06 di Tanjakan Sengon, Alas Roban. Bunyi mesin yang renyah, tarikan enteng dan larinya ngacir adalah kunci di balik kesuksesan kisah di atas, sekaligus memantulkan fakta bahwa PO Raya memang jago angon barang-barang gaek.
Belum jauh mencicipi lingkar Sentul, Plelen, kemacetan mengular. Dari bawah, truk-truk bertonase besar kepayahan mendaki, sementara antrian kendaraan ke timur berhenti total.
“Puter…puter…. panjang macetnya!” seru salah satu sopir truk Colt Diesel menggurui.
Dan terlihat tiga truk termakan rayuan, buru-buru melakukan manuver balik, memanfatkan parkiran warung-warung makan untuk tempat memutar 360º.
Dari air muka, ada sedikit penyesalan dari driver Raya berkode 13, mengapa tidak mengambil jalur lama Poncowati?
“Gimana ini, Mas, ikut balik arah apa sabar menunggu?” tanya Pak Sopir meminta pertimbangan pembantunya.
“Sudah, sabar saja. Sebentar lagi jalan! Palingan di depan ada truk mogok!” suruhnya mempercayakan pada feeling dan pengalaman.
Dan benar saja, tidak sampai 15 menit, lalu lintas mulai mencair. Penyebabnya adalah mogoknya truk tronton B 9984 DA berjenis Mitsubishi Fuso pas di tengah-tengah tanjakan. Buntut ketersendatan hampir mencapai pertigaan Kutosari, Gringsing, menandakan bahwa keruwetan ini sudah berlangsung agak lama.
Di Weleri, terjadi acara subtitusi pemain, pilot tengah menepi usai menuntaskan durasi tugasnya selama hampir 5 jam. Dan bus yang melabelkan diri dengan sebutan Bisnis RS ini meneruskan sepertiga sisa dari rute pengembaraannya.

Saat membayar retribusi Terminal Mangkang, Semarang, berjumpa dengan bus lain yang memiliki jam keberangkatan nyaris serempak dari Pulogadung. Dia adalah NS-39, armada yang layak kusemati mahkota ‘life achievement’, yang malam itu menunjuk HS-218 sebagai penjaga lapak trayek Pulogadung-Cepu. Hal ini sekaligus menandakan bahwa meski beda rating mesin, OH 1113 versus OH 1526, nyatanya menghasilkan waktu tempuh yang nyaris sama, tanpa pemenang. Remis begitulah istilahnya dalam permainan catur.
Legacy SR-1 Euro 5 dan Jetbus HD OH 1626 berikut Sindoro Satria Mas XBC-1518 dan kompatriotnya SM 201 tertinggal secara ‘tidak gentle’ karena keperluan isi solar dan tengah menurunkan penumpang, sebelum New Proteus yang dilengkapi toilet ini mencapai mulut Tol Semarang.
Di Km. 2 Tol Manyaran, Dara Ngadirojo, Tunggal Dara B 7221 WV bukanlah musuh sepadan untuk menghadang laju bus yang cikal bakalnya dari usaha bisnis ekspedisi truk bernama Radar.
Demikian pula Ramayana AA 1666 AB, dan poolmatenya, New Travego Morodadi Prima bergambar Pemanah, dibobol pertahanannya di Simpang Susun Jatingaleh, sebelum mengkaramkan Royal Safari bercangkang Grand Aristo bikinan New Armada, Magelang, menjelang loket pembayaran Gerbang Tembalang. Lalu dipungkasi dengan drama adu speed dengan PO Timbul Jaya AD 1712 AG sebelum pertigaan Sukun menceraikan mereka berdua.
Jumat, 15 Februari 2013
02.50
“Oh, Mas yang turun Semarang?” tanya Pak Sopir saat aku berkemas, mencangklong tas punggung yang semalaman ngumpet di bawah bangku nomor 3, berstatus sebagai penumpang pertama yang terdongkel dari singgasana.
Dan di kolong Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) Banyumanik inilah aku mengakhiri debut perdanaku menggandeng PO Raya sebagai pemain baru dalam khazanah rutinitas mingguan.
Tak bisa kupungkiri, PO Raya memang unik dan eksentrik. Keniscayaan bahwa armada baru dengan beragam fitur yang modern, up to date dan high-end lebih bisa menjaring penumpang terbantahkan oleh perusahaan otobus tinggalan mendiang Bapak Witikno ini. Nyatanya, dengan ketelatenan merawat aset-aset uzur, mengakrabi para pengguna jasanya dengan sentuhan sisi humanis dan njawani, mengartikulasikan makna kenyamanan sebagai inti dari pelayanan, PO Raya berhasil menyulap kebersahajaan dan kesederhanaan fasilitas armada sebagai mesin handal pencetak loyalis-loyalis sejati. Dan itu tidak bisa ditiru oleh PO-PO dari Semenanjung Muria.



Tak salah bila aku melekatkan atribut “Tukang Sihir dari Jagalan, Solo” sebagai bentuk ketakjuban kepada PO Raya.
***
10 menit sudah aku mematung, tersergap atmosfer sunyi sepi sendiri di tengah belantara ibukota Jawa Tengah. Seolah tanpa kehidupan di sekelilingku. Taksi-taksi, bus-bus kota, serta microbus seolah menjadi batu nisan di tengah pusara Terminal Banyumanik. Hanya satu tukang ojek terlihat sedang mangkal di seberang jalan. Beruntung defile bus-bus Solo-an jadi sedikit penghibur hati menanti bus Terboyo yang tiada kunjung datang.
Dan kekurangberuntunganku bertambah, tatkala bus Budiman, Tasik-Semarang, tak mengangkut satupun sewa yang berdestinasi Banyumanik. Bus yang mengusung model Setra designed by Tri Sakti Carroserie itu lenggang kangkung di depan mata, cuek terhadap lambaian tangan yang kujulurkan.
03.10
Dalam keadaan terkantuk-kantuk duduk di trotoar, mendekatlah sorot lampu mayang yang kemudian tepat berhenti di depan Terminal. Aku tak mampu mengidentifikasi bus apa gerangan, terburamkan oleh keremangan cahaya dinihari. Yang penting aku kudu berlari mendekat, tak mau kalah tempo dengan beberapa orang yang turun.
Saat penumpang terakhir menginjak aspal, aku pun tergesa-gesa menaiki tangga berundaknya.
Wow… sinaran lampu LED biru yang menempel di langit-langi dan bersembunyi di bawah selasar mencitrakan bahwa bus ini tergolong gres. W 7068 UZ, itulah sticker nopol yang tertempel di dinding kaca, sekaligus ciri petunjuk bahwa AC Tarif Biasa ini pastilah aushan Sumber Kencono Group.
Ditabuhi gendang rancak dari hiburan dangdut koplo yang disetel cukup kencang, bus yang pernah menggegerkan jagat tanah air dengan serangkaian kecelakaan yang menimpanya itu melesat cepat.
Memasuki jalan tol, terunggah driving style yang menurutku kurang kerjaan, sarat keisengan dan tentu saja menguras energi serta konsentrasi pengemudi. Kendaraan-kendaraan yang merintangi jalan didekati, lalu ditempel mepet-mepet, sebelum banting setir sekuat-kuatnya ke sisi jalur yang kosong. Padahal lalu lintas cukup lengang di pagi buta itu. Aneh, memang!
Bus lain yang sempat dilukai adalah Garuda Mas Evolution dan secara penuh nafsu berupaya melengserkan PO Wisata Remaja AA 1526 CK sebelum mencapai u-turn Kaligawe, meski berujung kegagalan.
“Terboyo…Terboyo…Semarang terakhir!”
Lantang suara yang dilisankan sang navigator saat bus berhenti di pojok pertigaan yang mengarah ke Terminal Terboyo. Aku pun melangkahkan telapak kaki keluar, sembari menelisik eksterior berjersey warna biru-silver ini. Sugeng Rahayu, itulah asmanya. Dan ternyata…oh…ternyata…berjubah keluaran terbaru, Discovery.
Menurut info Edison Chen Mojoagung, 68UZ ini adalah angkatan 19.30 dari Bungurasih, generasi keempat yang menyuksesi jam-nya driver favorit Jatimers, Cak Abas, sewaktu menggenggam batangan W 7600 UY, sebelum digantikan oleh W 7182 UY. Sedang tahta ketiga ditampukki W 7741 UY.
Sumber Kencono…Sumber Selamat…Sugeng Rahayu. Dari pertama mengenalmu saat duduk di bangku kuliah sebagai langganan dwi mingguan saat seringkali PP Jogja-Cepu via Ngawi, dan belasan tahun kemudian berpisah karena waktu dan kesempatan yang tidak pernah berjodoh, ternyata perilakumu tidaklah berubah. Tetap sebagai bus banter, sruntulan, menantang adrenalin, mayak-mayak dan galak ketika mengangkangi jalanan.
“Kudus…Rembang…Tuban…Bungur…”
Teriak kondektur bus Sinar Mandiri Mulia, N 7480 UG, menggiringku untuk menaiki ‘alat bajak’ hariannya. Aku pun mengistirahatkan lelah bersandar pada punggung bangku kusamnya, sembari memutar ulang jejak kepulanganku yang serba anomali ini.
Thanks a lot, My Lord, peta baru perjalanan Jakarta-Rembang memanfaatkan wahana estafet bus kidul-an berhasil aku lukis. Ternyata tidaklah rumit sebagaimana yang aku bayangkan.
Sederet nama kemudian menghias reka pikiranku. Agra Mas, Sindoro Satria Mas, Laju Prima, GMS, Gajah Mungkur, Sedya Mulya, Safari, Harapan Jaya, Gunung Harta, Rosalia Indah, Jaya, Gunung Mulia, New Ismo, Purwo Widodo, Langsung Jaya, Putera Mulya…dan lain-lain…dan lain lain.
Hmm…who will be the most wanted? J
Didik Edhi
Dari Kota: Jakarta
Jam Berangkat: 16:16
Tujuan Kota: Semarang
Tiba jam: 2:50
P.O: Raya
Harga Tiket: 115000
Kelas: Ekonomi (kursi 2-2)
Tanggal: 02/14/2013






Komentar