Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Lewat sedikit dari angka 8 pagi, saya sudah berdiri di sisi barat perempatan Ketandan (Jogjakarta), bersiap mencegat bis yang mengarah ke utara, ke Janti. Tujuan saya kala itu adalah Papringan, kira-kira 2 kilometer ke arah barat Janti. Untuk mencapai Papringan, dari perempatan Ketandan itu, saya mesti ke Janti lebih dulu. Itu yang saya tahu.

Di perempatan besar itu, hingga beberapa menit kemudian, belum tampak satu pun angkutan yang menepi ke tempat saya berdiri. Saya hanya melihat dua kali PO Mira lewat. Pergi ke Janti dengan bis tujuan akhir Surabaya itu tentu lucu karena jarak antara kedua tempat itu sangatlah pendek. Lagi pula, saya yakin, bis tersebut tidak akan berhenti jika saya cegat. Sementara di seberang jalan, saya juga dua kali melihat rombongan jamaah haji melintas bermobil patwal, dengan armada PO Tunggal Dara dan PO Karya Jasa.

Di arah selatan, saya perhatikan ada bis ¾ yang ngetem, lalu bergerak tetapi kemudian menyalakan sein kiri menuju Gedong Kuning. Manakah bis sejenis yang mengarah ke Janti? Apakah memang tidak ada angkutan ke arah sana? Jika memang benar tak ada, maka halte pemberhentian bis yang cukup besar dan berada tepat di belakang tempat saya berdiri ini akan tampak ironis sekali.

Segerombolan orang mendekat.

“Kalau mau ke Janti, ikut angkutan yang mana, Pak? Saya mau ke Papringan. Rencananya saya mau oper di Janti kalau memang tidak ada angkutan yang langsung dari sini.”

“Wah, saya nggak tahu, Mas.”

“Jalur 7!” Seseorang yang lain menimpali.

Sik, sik, sik…” Orang tadi mengernyitkan keningnya, seperti sedang memikirkan persoalan negara yang sangat rumit. “Keto’e memang ndak ada, Mas.”

Sekarang, kernyit kening itu berpindah ke dahi saya. Betapa jelimetnya urusan transportasi. Jarak sebegini lapang dan penting pun tak ada angkutan jarak pendeknya. Ah, apa iya? Saya tidak percaya. Mana busway? Tak ada halte-nya di sini. Saya masih tetap tidak percaya. Pasti ada angkutan umum yang lewat di sini, pikir saya. Namun, jika benar-benar tidak ada, jika untuk trayek pendek seperti ini pun tak ada jaminan ketersediaan moda transportasi massalnya, yakin deh, dijamin, Jogja akan semakin disesaki oleh pengguna sepeda motor yang akan memacetkannya, macet semacet-macetnya.

08.21

Belum selesai saya merenung, sebuah bis datang. PO Langsung Jaya rupanya. Bis ini mendekat, sein kiri, menepi, lalu berhenti di depan saya. Dan ternyata, segerombolan orang tadi itu adalah calon penumpangnya. Mereka naik lewat pintu depan. Sejurus kemudian saya berpikir, ikut ah. Saya pun turut, masuk dari pintu belakang.

Seperti biasa terjadi di Indonesia, bis langsung tancap gas sebelum patat penumpang, seperti saya ini, menyentuh jok dengan sempurna. Pukul 08.20. Duduk sebentar, toleh kiri-toleh kanan, saya baru maju untuk menyampaikan sesuatu, berjalan ke depan melewati koridor, menghampiri kernet dan bilang.

“Saya dekat saja, Pak, mau turun di Janti.”

Dua lembar uang bergambar pulau Maitara dan Tidore, pecahan uang kertas terkecil rakyat Indonesia, saya sodorkan kepada kernet bis yang berasal dari Kabupaten Karanganyar itu. Dia menerimanya dengan datar, sambil mempersilakan saya kembali, duduk di jok.

Dari dashboard-nya, saya tahu bis ini menggunakan mesin Mitsubishi BM, spesies yang nyaris punah karena tidak diproduksi lagi. Mungkin, Mitsubishi lebih tertarik membuat varian-varian baru truk daripada mengeluarkan chasis khusus untuk bis. Getaran mesin yang kencang membuat baut dan mur yang tidak lagi terpasang kuat bergemeletakan, seperti bunyi geraham Hulk ketika marah untuk melawan.

Lampu lalin “Blok O” menyala merah. Bis berhenti, tertib. Tidak lama, bis jalan lagi, menanjak ke arah jembatan layang, lalu ambil kiri untuk turun ke Janti, nyeser penumpang.

Saat ini, beda dengan tahun-tahun dulu, bis-bis tujuan Surabaya akan ambil kanan di atas jembatan layang pada waktu siang hari, yakni selama bis jarak-pendek beroperasi. Hal ini karena ada kesepakatan bahwa bis-bis Surabaya-an tidak boleh menaikkan penumpang sepanjang jalan Yogyakarta-Solo. Dengan kata lain, kita tahu bahwa yang membagi rezeki itu memanglah Tuhan. Namun, jika Sumber Group dan Mira yang notabene memiliki armada baru, rata-rata menggunakan AC, serta jarang ambil penumpang jarak pendek, bersaing dengan bis-bis lokal, akan beda ceritanya. Kisah buram masa lalu tentang rebutan penumpang PO Mandala akan terulang lagi, barangkali.

Merah; lampu lalin di pertigaan Janti. Bis bernopol AD-1529-AF pun berhenti lagi. Saya turun dan melambaikan tangan kepada kondektur yang beridiri di pintu depan. Dia membalas dengan senyuman dan sapuan pandangan sambil mencari-cari calon penumpang.

Di tepi ruas jalan Laksamana Adi Sucipto, Janti, saya menunggu bis Aspada jalur 7 yang akan membawa saya ke arah kota. Cek jam digital di ponsel: pukul 08.27. Enam menit waktu perjalanan telah ditempuh; 2,2 kilometer telah dilalui; ongkos 2 ribu rupiah telah terbayar. Saya catat: ini adalah perjalanan saya menggunakan bis dengan 3 “ter”: waktu ter-singkat; jarak ter-pendek; ongkos ter-murah.

Dari Kota: Ketandan Yogyakarta

Jam Berangkat: 8:21

Tujuan Kota: Papringan Yogyakarta

Tiba jam: 8:27

P.O: Langsung Jaya

Harga Tiket: 2000

Kelas: Ekonomi 2-3

Tanggal: 11/01/2012


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;