
Selasa, 25 Agustus 2009
Sore sebelumnya, saya janjian sama nyonya untuk sama-sama beli lauk pauk buat sahur nanti. Karena masuk siang (Jam 2), dia baru pulang jam 10 malam.
Jam 22.11 saya sms dia. Sms gombal saya kirimkan
.
Saya : Malam say (sayton), da pulang belum? Wah nggak ketemu kamu sehari aku udah kangen neh say (ton).hehehehe
7 menit kemudian dia membalas smsku,
Nyonya : Malam juga say (sayyur), ni aku udah pulang. Gimana, jadi nyari lauk pauk buat saur? Kamu lagi ngapain say. Aku juga kangen ma kamu.(preeeeeettttt tt)
Ahaaa…sms gombal berhasil mengenai target! Dengan sok perhatian dan kasihan saya membalas smsnya.
Saya: nggak jadi wes say (ton). Kemaleman ni, lagian kamu baru pulang kerja. Pasti capek kan?
Nyonya : Ya udah wes, aku nanti tak sahur makan mie aja. Aku pikir kamu sudah nunggu didepan Giant. Nih aku juga sudah beli semangka buat kamu.
Saya : Gimana ya, mau tidur nggak bisa tidur. Mau keluar sudah kemaleman. Kamu gapapa ta keluar sekarang? Kalau gapapa aku tak berangkat daripada kamu sahur makan mi aja.
Nyonya : Iya wes say (yur), berangkat sekarang gapapa kok. Kalau perlu kita sahur di Kertosono atau Nganjuk saja.hehehehe
Di kamar ada temennya mbak Dwi (teman sekamar nyonya) ngrokok. Kamarku bau rokok.aku gak suka.gimana? aku besok masuk siang.
Saya : Ya sudah, aku berangkat.
Nyonya : Jadi kemana say (yur)?
Saya : Lah, jare golek sahuran?! (Lah, katanya cari sahuran)
Nyonya : Yaaah…ngggak jadi turing dong?
Saya : Turing gundulmu petal??!!!!!
Nggak jadi wes, aku tak tidur aja.
Niat mau cari lauk pauk untuk sahur lah kok malah ngajak turing bocah ini??!!
Nyonya : Y a wes cari sahuran. Jangan marah to say (yur), baru sebentar seneng sudah dimarahi. Terserah deh!
Saya : oke, aku brrrrrr…rangkat layyyyyy!!!! !
15 menit kemudian saya sampai di depan kost-nya. Langsung saja kami meluncur ke Jalan Kaliasin Pompa, sebelah Tunjungan Plasa untuk membeli lauk pauk di warung Sarehan. Warung yang jadi tempat favorit baru untuk beli makanan. Menu pilihan banyak dan murah. Senin kemarin, makan berdua sama nyonya Cuma habis 15rb plus minumnya. Selain murah, didepan warung biasanya banyak cewek seksi (SPG di Tunjungan Plasa) yang berlalu-lalang. Mudah-mudahan saja nyonya tidak tahu kalau saya suka warung ini karena banyak cewek seksi yang lewat.hehehehehe
Ternyata warung yang dituju sudah tutup. Kami meneruskan menyusuri jalan Kaliasin Pompa, mencari warung yang masih buka. Penyusuran kami tidak sia-sia. 500 meter dari warung Sarehan ada warung yang masih buka. Menunya juga masih banyak. Sambel goreng tempe dan pepes ikan paus jadi pilihanku. Sementara nyonya memilih menu telur bali. Semuanya ditukar dengan 2 lembar uang 5ribuan.
Setelah membeli lauk pauk, kami bingung akan kemana. Mau pulang ke kost masing-masing nyonya menolak. Dia nggak tahan dengan asap rokok dikamarnya. Setelah memutar otak akan kemana enaknya, akhirnya saya putuskan untuk turing saja. Nyonya pun langsung mengiyakan ajakan saya.
“Wah, gitu tadi disms diajak turing malah dibales gundulmu petal, sekarang turing beneran kan,” kata nyonya.
“Iya say (ton), tau gitu tadi langsung meluncur ke Bungur ya,” sahutku.
Saat itu jam di hp menunjukkan pukul 23.15. Saya berpikir, wah nanti naik apa ya? Memori di otak langsung bekerja. Lalu memori di otak ini memunculkan angka 90 dan 11. Ya, dua Sumber Kencono dengan plat nomor 7190 dan 7611 langsung terbayang-bayang dipikiranku. Saya segera memacu motor dengan kecepatan tinggi agar tidak ketinggalan 2 SK itu.
SK 90 merupakan faforit kami. Teman-teman Jatimer biasa menyebut driver sebagai ebes e Budi (Bapaknya Budi). Bisnya baru, drivernya bernama Pak Wito, berkumis dan berkaca mata. Bawaannya ngebut dan nggak ugal-ugalan. Tapi dia selalu berhasil disalip oleh SK 11.
SK 11 adalah SK paling fenomenal. Drivernya terkenal dengan nama Vallentino Rossi team SK. Bawaanya ngebut, ugal-ugalan dan terukur. Mboh apane seng diukur.hahahaha
15 menit kemudian kami sudah sampai di Bungur. Dari pintu keluar bis kami berjalan melawan arah menuju parkiran motor di sebelah air mancur. Saat sampai di pembayaran retribusi bis, kami bertemu SK 90 yang baru berangkat.
“Wah say (yur), bapak (Pak Wito) sudah berangkat tuh,” kata nyonya.
“Kalau gitu kita naik Rossi saja say (ton), “ sahutku.
Setelah motor dipakirkan, kami segera berjalan menuju jalur Ja Solo – Ja Solo. Di depan SK 11 ada kondekturnya yang sedang berjoget. Saya segera mendekati dia dan bertanya, bos sopo sopire iki? (bos siapa ini sopirnya?).
Di langsung menjawab, “Rosssiiiii!! !!!” (Sambil menunjuk sesosok orang bertopi yang sedang duduk dan merokok)
“Wah manteb iki!!” kataku. Kondektur langsung tersenyum. Sepertinya dia tahu kalau saya butuh kecepatan.hehehe
Bangku kedua sebelah kanan jadi pilihanku. Sekitar jam 23.45 Rossi take off dari Bungur. Akhirnya, setelah hampir 2 minggu tidak menikmati kegarangan SK kami bisa menikmatinya lagi. Dari awal keluar terminal Bungur, Rossi sudah menunjukkan kegilaannya. Deru mesin Hino AK punya Rossi ini benar-benar garang.
Di jalan raya Sepanjang, truk-truk yang sedang konvoi berhasil disalip satu persatu. Goyang kanan goyang kiri, si kernet tak henti-hentinya memandu Rossi. Sepertinya si kernet sudah pengalaman sekali. Panduan dan aba-aba dia teriakkan tanpa ragu-ragu. Rossi pun selalu mematuhi aba-aba yang diteriakkan oleh kernetnya.
Akas NNR jurusan Ponorogo berhasil diblong sesaat sebelum jembatan layang Trosobo. Di by pass Krian, kira-kira 300 meter sebelum lampu merah Rossi mengurangi laju kecepatan bisnya. Dari jauh terlihat bahwa hitungan detik di traffic light masih menunjukkan detik ke 45. Rupanya dia sengaja menunggu lampu merah dari jauh dan enggan berhenti di traffic ligth itu. 50 meter sebelum traffic light lampu hijau menyala. Tapi akhirnya dia behenti juga di traffic light itu karena ada penumpang yang naik dan turun. Akhirnya lampu merah kembali menyala.
Di jalur Krian-Mojokerto, Rossi benar-benar tampil memukau. Saya berharap agar Rossi bisa menyalip SK 90 yang ada didepannya. Asli, saya pasti happy banget kalau SK yang saya naiki ini bisa menyalip SK didepannya.
Mojokerto-Jombang. SK 90 yang saya harap-harapkan bisa disalip Rossi masih belum terlihat. Musuh utama Rossi di jalur Sby sampai Jombang hanyalah konvoi truk gendeng eh gandeng.
Jam 00.50 Rossi sudah memasuki Kota Jombang. Dari jauh terlihat lampu belakang bis. Mungkinkah itu SK 90? Setelah berhasil didekati ternyata itu adalah Eka Jupiter Li RK 8 dengan nopol S 7151 US. Setelah melewati truk-truk yang menghambat laju SK dan Eka, kedua bis ini terlibat duel seru. Duel berhenti saat kedua bis ini berhenti di lampu merah. Setelah lampu hijau menyala, kedua sopir langsung menginjak gas dalam-dalam. Tapi Rossi agak mengurangi gas saat melewati Stasiun Jombang dan Eka pun bisa memperlebar jarak. Beruntung di depan Stasiun Jombang tidak ada penumpang yang naik maupun turun sehingga duel bisa kembali terjadi.
Rossi berhasil mendekati Eka yang terhalang truk gandeng. Sempitnya jalur membuat Eka agak ragu-ragu untuk menyalip. Sementara Rossi sudah tidak sabar untuk menyalip truk itu sehingga dia benar-benar menempel ketat Eka sambil memainkan lampu jauh.
Sesaat kemudian Eka berhasil menyalip truk gandeng itu. Rossi yang ingin mengikuti pergerakan Eka terhalang oleh sepeda motor dari arah berlawanan. Setelah motor itu lewat, Rossi langsung menyalip truk gandeng dan berusaha mengejar Eka. Lagi-lagi Eka berhasil ditempel ketat. Sepertinya driver Eka tidak mau mengalah begitu saja. meskipun Rossi sudah siap menyalip dan memainkan lampunya, Eka tetap tidak mau menepi dan memberikan jalan ke Rossi. Karena tidak diberi jalan, Rossi kali ini benar-benar menempelkan bisnya ke Eka sambil memainkan lampu dan klakson. Akhirnya Eka harus bertekuk lutut di tangan Rossi.
Duel telah berakhir. Memasuki kawasan Perak Jombang, konvoi truk kembali menghadang. Saat akan menyalip truk dan posisi bis separuh keluar dari garis putih, dari arah berlawanan terlihat truk yang lumayan kencang juga. Rossi tetap pada posisi siap menyalip , dia sama sekali tidak goyang ke kiri untuk menghindari truk dari arah berlawanan itu. Hingga akhirnya, saat jarak Rossi dan truk semakin dekat justru sopir truk dari arah berlawanan tersebut yang membanting stir ke kiri. Dasar wong edyan!!!
Jam 01.11 Rossi sampai di Braan. Saat akan turun, Didepan terlihat SK 90 dan Mira 62. Weleh-weleh…mau turun kok ya baru kenak semua bis didepan itu. Entah bagaimana kisah Rossi selanjutnya. Mungkin dia terlibat perang kecepatan dengan SK 90 dan Mira 62 di sepangjang jalur Kertosono-Nganjuk. Nyesel juga nggak turun di Nganjuk.
Begitu turun dari bis, nyonya langsung jackpot. Tiiiing…tiiiiingg……huweeeekkk…sooooorrrr…… rupanya dia KO setelah merasakan goyangan Rossi.
bersambung.. …
Salam,
Budi




rossi numero uno…..
Wah sayang aq saiki jln ke timur…ada referensi ke Jember, ada jam aldy(anggun krida) dari bungur jam 4an josss setengan wolu wis nang jember…..
Kapan kalo ke caruban tak naik rossi…..