PO. Safari Dharma Raya

PO. Safari Dharma Raya

Itulah pepatah bijak yang telah lama kudengar, namun baru dalam turing kali ini kurasakan. Jika biasanya, estafet Jakarta Jogja atau naik mas PK, Bung Lorena, ataupun Mbak KD to Surabaya. Tanggal 26 Februari lalu, kucoba untuk mencoba gajah yang lain lagi yang kata om Bob Andi dan Hendra waktu Kopdar di Rawamangun dijamin jos. Siapa lagi kalau bukan Gajah OBL yang makin lama makin beranak pinak.

Minta Denpasar No Banyuwangi

Ngeyel, mungkin itu kata yang ada dibenak agen OBL di Rawamangun saat aku seminggu sebelumnya beli tiket dan minta naik OBL Denpasar, bukan yang Banyuwangi. Karena lagi-lagi, kata Om Bob dan Hendra, yang Denpasar dijamin banter. Padahal, aku mau ke Surabaya en OBL Dps ini ga mampir Bungur, alias turun Porong. Namun, dasar Bismania – lakon aneh itu pun dijalanin. Pas, si mbak tanya kenapa ga mau naik Banyuwangi? ”Mobil Denpasar baru-baru dan mau naik Scania Vanhool kalau beruntung,” jawabku. ”Engga kok, sekarang juga dah ada yang baru,” sahutnya.

Terngiang-ngiang kembali, obrolan singkat dengan raja turing baru – Om Bob dan Hendra yang ngomong, siap-siap aja naik Hino RK 8 ya. Nah lho, jangan sampe deh, sudah bosen naik Hino – apalagi RK 8 yang notabene berpredikat suspensi keras di jagat perbisan. Lebay.

Harapan Tak Jadi Kenyataan

Yes, turing lagi. Jumat siang pukul 11:00 langsung go show ke Rawamangun. Di tol Bekasi Timur, jalan masih sepi – sayang P 9 A nya juga sepi – namun tidak penumpangnya. Tumpah ruah, padahal ini hari libur. Tunggu punya tunggu menunggu nucleus, eh malah penuh. Ogah ah. Tak lama, datanglah 9 A lain, karena waktu sudah mepet – ragu-aku pun berdiri sambil melirik adakah bangku yang kosong di di dalamnya. Ternyata si pramudi awas matanya, langsung menginjak rem dan kondektur berteriak kosong-kosong. Terpaksa deh naik. Niat hati mau naik Nucleus dapatnya malah Hino AK lama – dengan koplingnya yang gemrotak dan bodi super lawas. Sudah lah, nikmatin saja – seperti kata mas Edhi – namanya turing ya gini – siap selalu dengan perubahan.

Di daerah Bekasi Barat, di arah berlawanan terlihat PK Travego garapan Central Karoseri melenggang ke Timur. Sudah jalan dari Priuk rupanya. Sudahlah, lupakan naik Madura, tiketnya lagi mahal. Karena tak bisa langsung ke Rawamangun, turunlah aku di Salemba, dengan rekor 9 A yang tak disalip 9 A belakang, lumayan larilah nih bis, walau lawas. Dari Salemba, Metromini Manggarai Pulogadung jadi pilihan. Di sini, jalan juga masih sangat lenggang, begitu juga penumpangnya. ”Sepi banget, jalan kaya hantu,” kata pramudinya.

Hampir 30 menit, perjalanan ini, bukan karena macet, tapi karena si mini ngetem di mana-mana. Beruntung, ada sedikit pemandangan segar di dalamnya, sayang dia duduk di belakang, coba di depan – sedap di pandang deh. Di pandang aja lho. Tiba di Rawamangun, waktu masih panjang, laporan dulu dan lagi-lagi ditanya, Surabaya nya turun mana? Langsung aja bilang, ga pa-pa turun Porong, ga masalah. Bingung deh tuh agen. Di atas, tiket lalu dituliskan B 7168 IZ. ”Ini no bis nya,” katanya.

Sekilas, ini no Scania, Man, atau MB ya? Maklum tak tahu nih. Dalam hati masih saja berharap, Vanhool. Ya Van Hool. Tunggu punya tunggu, pukul 14:00, belum datang juga tuh bis. Padahal Bung Lorena dah pada nongkrong, Mbak KD juga, apalagi mas PK. Rame deh, kemana ya OBL ini. Tak lama, agen OBL teriak, Safari Denpasar, Safari Denpasar. Bisnya dibelakang. Tak sabar, segera bergegas ke parkiran belakang, dan alamak – Hino maning – Hino maning. Bosen!

Hino NT MP Panel Kayu

Cemberut ya iya, senyum ya iya. Cemberut karena Hino lagi – senyum karena ini mobil baru – New Travego Morodadi dengan aksesoris yang semua pake kayu, dari panel dashboard, lantai, sampai bagasi atas yang juga dilengkapi penutup. Bangkunya dipersenjatai dengan Hai, nyaman, plus selimut yang full wangi. Sayang, tidak disediakan bantal sama sekali, tanya kenapa?

Interior sudah, eksterior? Mantap juga, dengan lampu yang asli New Travego, bikin bis ini terlihat elegan, apalagi ada GPS juga di dalamnya. Mau lari berapa, tinggal lihat GPS di kanan dashboard. Toilet juga oke, dengan struktur yang full fiber en semprotan air yang masih berfungsi, ga pake gayung gitu lho.

Bagaimana dengan suspensinya? Ini masih tanda tanya, RK 8 gitu lho. Speednya bagaimana juga? ”Kita lihat saja nanti,” gumam dalam hati.

Gajah Full Speed

Pukul 14:30, keluar Rawamangun dengan penumpang yang hampir full seat. Pantas, OBL belain sekali Jakarta Denpasarnya, bagus okupasinya. Di tol dalam kota, OBL ini sudah mulai berakselerasi, kiri kanan, kanan kiri – tidak mau diam laksana gajah yang lari berhasrat cari makan. hingga tol Cikampek, belum ada yang berhasil ngeblong OBL ini, malah sebaliknya – bolak balik ngeblong yang lain. Namun bagaimana selepas Jomin, masihkan full speed?

Image0093

Selepas Jomin, naiklah 2 orang penjual dodol, promosi sana sini – dan turunlah mereka setelah omset serasa sudah cukup. Lumayan simpatik caranya, apa karena dah sering kali ya. Di sini OBL masih tetap saja full speed, Sedya Mulya, Harapan Jaya, dan yang lainnya putus.

Setibanya di Taman Sari, kita pun turun dan makan. Soal makan, OBL ini standar sekali, bahkan seperti bukan makanan kelas eksekutif. Tapi, namanya gretongan ya terima aja. Gratis mau enak. Wkwkwkw

Image0098

Image0101

Selesai isi perut, perjalanan dilanjutkan, dan pramudi pun berganti. Dari yang tadinya bapak agak gemuk, sekarang yang kurus kecil. Dan sunvisor pun digulung. Nah gitu dong, dari tadi lihat aksi-aksinya terhalang. Mantap. Bangku pun diluruskan dan bersiap menikmati permainan.

Benar saja, aksi-aksi memikat pun disuguhkan dengan apik. Semua bis yang ada di depan disikat habis, tanpa ampun, demikian pula yang satu ini. Masih ada yang ingat ga ya, tipe mesin dan merknya.

Sehabis bis ini, bis-bis lain pun menyusul kena diover taking. Tiada ampun dan tiada balas. Tetap full speed. Pantura yang mulai bopeng-bopeng bukan halangan karena ternyata suspensinya sudah lebih empuk bahkan keempukan karena sudah diganti pake yang punya Mercy kata pramudinya. Pantes tetap enak aja, meski bunyi tikus sudah terdengar di mana-mana. Entah dari suspensi atau karoserinya.

pukul 23:00. OBL masuk wilayah Semarang. Pramudi pun sudah berganti lagi. Karena ngantuk, dari Weleri sampe Semarang, mata pun tertutup. Dari sini, sudah tak banyak lagi bis yang diovertaking karena bung Lorena masih di belakang, ketahuan karena paket Lorena di agen Pekalongan belum diambil saat OBL ambil paket juga. Sementara mas PK, tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Di daerah Demak sempat juga ngeblong Symphonie merah yang lagi jalan santai pulang pul.

Gajah Pemberani

Lepas Pati, dari belakang ada sinar lampu terang menempel. Bung Lorena, PK atau KD kah? Asyik, ada teman ngeblong bareng. Ternyata, yang ngeblong Symphonie Scania! Alamak, mana sanggup ngelawannya! Tapi, OBL ga mau kalah, walau kalah akselerasi, soal top speed lain cerita. Saat lagi top speed, OBL nempel terus dan berharap bisa curi kesempatan ambil celah. Om Symphonie rupanya tahu dan terus lari. Hingga mau masuk Juwana, Om Symphonie masih ditempel ketat, sayang di perempatan kota, dia belok kiri ke arah Tayu. Cape deh, tidak jadi seru-seruan.

Bertemu Haryanto Madura

Alhasil, dari sini sepi bis lagi. Cuma truk aja yang banyak. Memang beberapa kali ketemu mbak Restu, tapi ga masuk hitungan – diblong karena lagi cari muatan. Pagi itu, di taman Sari, beberapa PK dan Lorena sudah rehat sebentar.

Lepas kota Tuban, di kejauhan tampak lampu-lampu bis. Ada tiga. Siapa saja mereka? Kita lihat lebih dekat. Jaya Utama ekonomi, Patas Indonesia Galaxy, dan Haryanto Grand Aristo Madura. Haryanto Madura? Ya Kopral Madura lagi seru-seruan. Perlahan namun pasti, Jaya Utama ekonomi kena blong. Lalu yang kedua, Haryanto Madura memberi jalan.

Akhirnya…. puas sudah naik OBL karena waktu naik Haryanto Madura sama om Edhy akhir tahun lalu kena blong OBL di daerah sini juga. Tak salah memang memilih OBL untuk ke Surabaya. Masuk daerah Lamongan, terlihat bung Lorena sedang berlari. Tak butuh waktu lama, bung LE-610 yang dipersenjatai 1525 ini takluk di tangan OBL. Kata siapa ijo sudah lari lagi, nyatanya masih tuh, kena blong.

Masuk Gresik, lagi-lagi di kejauhan terlihat kerlap-kerlip bis. Apakah bis itu gerangan. Makin dekat dilihat makin jelas, itu….PK Madura Travego Centralindo yang kulihat kemarin siang di tol Bekasi Barat. Gila…bener-bener gila nih OBL. Beda 3 jam lebih, masih bisa kena PK ini. kagum dan salut. Walau, di tol PK ini tak sempat diblong Cuma dibututi karena pas mau diblong dia ke kiri ke arah Perak sementara OBL ke kanan ke arah Porong.

Waktu menunjukkan pukul 04:00 pagi, dan Waru pun dilewati. Saat di tol ini, top speed yang bisa dicapai 130 km/jam, sebuah catatan baru dalam turingku. Meski ngeri kalau sampe ban meledak, abis deh. Karoseri yang mumpuni ternyata juga memberikan kenyamanan, walau lari kencang, tetap terasa stabil.

Turun Porong

Pukul 04:20, aku pun turun di Pasar Porong. Cangkruk di warung – makan sego en ngombe kopi. Nikmat benar turing kali ini. full speed dengan safety yang oke pula. Poko e mantap, besok-besok coba yang Banyuwangian ah, biar bisa turun Bungur. Usai cangkruk, Tentrem ke Surabaya pun ku stop, dengan 3.000 rupiah, tibalah di Bungur dan segera melangkah kaki menuju terminal buskota dan turun di bonbin menunggu jemputa….Tak kenal maka tak sayang…OBL

Rute :

Bekasi Timur – Salemba : P 9 A Ekonomi tarif 4.500

Salemba – Rawamangun : Metromini Manggarai Pulogadung tarif 2.000

Rawamangun – Porong : Safari Dharma Raya B 7168 IZ tarif 200.000

Porong – Surabaya : Tentrem tarif 3.000

Surabaya – Bonbin : Buskota Ekstra Mandiri tarif 4.000

Total Bekasi Surabaya plus mampir Porong : Rp 213.000

Waktu tempuh : 13 jam 50 menit

Evaluasi :

- Servis makan biasa saja

- Bantal tidak ada

- Kecepatan oke

- Pelayanan oke (khususnya kernet yang selalu ditempat dan memastikan perjalanan dan keselamatan perjalanan)

(Artikel ditulis oleh Himawan Susanto)

Ditulis oleh

'BisMania Community Yogyakarta Berhati NyamNyam'

1 Comment

  1. Wonogiri-VIP
    wonogiri-vip /

    boleh juga dicoba, siapa tahu pas ada job di banguwangi.
    sip, maju terus…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;