Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

“Minggu mau naik apa, Pa?”

“Pahala aja ya, Ma, yang dekat rumah. Kasihan mama kalau mengantar ke terminal Rembang”

Wajar saja istriku bertanya begitu. Karena aku benar-benar bokek, dan bersandar penuh pada belas kasihnya untuk mensubsidi penuh biaya perjalanan tugasku kali ini. Alasanku lebih memilih Pahala Kencana (PK), selain tidak ingin merepotkan mama-e Naura yang tengah berbadan dua, sebenarnya ada agenda tersembunyi. Keingintahuanku yang begitu besar untuk kenal lebih dekat wajah Ombak Biru sekarang. Seingatku, terakhir kali naik PK Bojonegoro, pascabanjir bandang meluluhlantakkan jalan pantura timur Jawa Tengah, dua tahun silam.

“Ini Pa buat beli tiketnya. Jangan lupa, nanti sore pas jemput ibu mampir ke agen Pahala”, pesan pendampingku saat mem-bailout kondisi dompetku yang benar-benar koma.

Dalam perjalanan berdua dengan putri kesayanganku menuju Padangan (Bojonegoro) untuk menjemput simbah putrinya, kusempatkan diri singgah di agen PK Kota Sulang.

“Mbak, pesen tiket Pulogadung buat besok!”

“Eksekutif apa VIP, Mas”

“Beda harganya berapa, Mbak?”

“Yang eksekutif 130 ribu, beda 30 ribu dengan VIP”

Sip…Masih cukup. Baru saja diinjeksikan dana segar senilai 150 milyar…eh ribu. Tapi, kupikir-pikir, tak enak ah…mentang-mentang gratis maunya kelas premium.

“VIP saja kalau begitu, Mbak”

Inilah rencana terselebungku. PK divisi Kudus –yang membawahi trayek Bojonegoro– akan kujadikan bahan penggenap kesimpulanku, tentang benar tidaknya 99% bus malam sekarang adalah bus banter.

Menurut kacamata-ku sebagai pengguna bis mingguan, PK divisi Kudus bak anak tiri di keluarga besar Pahala Group. Menatap skuad Bojonegoro, Lasem dan Bangilan yang eksis, semakin mempertegas anggapanku. Hanya bus-bus lawas, mengandalkan Hino RG serta Mercy Intercooler, sekian tahun tanpa pembaruan mesin. Kalaupun ada geliat, hanyalah ganti baju, re-painting atau make-over, dengan jahitan karoseri sekelas Tri Sakti atau Tri Jaya Union.

Hati ini terbakar api cemburu dipameri kecepatan jelajah bus divisi Malang, melihat New Marcopolo-nya Bandung, mendengar kabar big buy unit MB OH 1525 chapter Jakarta atau ekspansi trayek lintas pulau PK cabang Jogja. Bagiku, semua itu barang mahal yang bisa didapatkan dari tubuh PK Kudus.

Sementara pesaingnya dari Lereng Muria makin wah dan jor-joran menggolakkan peta persaingan. Meski pasar penumpangnya sudah banyak digerus PO-PO kemarin sore, PK terkesan adem ayem dan cenderung bermain aman. Padahal, dari divisi Kudus-lah si pembawa hoki, lahan pesemaian awal tumbuhnya gurita bisnis salah satu operator PO terbesar di Pulau Jawa ini.

Ah, tanpa ada pembuktian, buat apa aku selamanya berasumsi miring begitu. Besok sore, armada VIP Pulogadung akan kuhadirkan sebagai saksi ahli, benarkah PK Kudus sudah mengubur dalam-dalam paradigma lama, sebagai bus lelet dan hanya nyaman untuk perjalanan keluarga, tak bisa diandalkan komuter mingguan untuk memangkas waktu?

Pukul tiga Minggu sore, kutunggu kedatangannya. Tak sekalipun berani membayangkan yang datang nanti adalah Proteus OH 1525 lungsuran divisi Malang atau PK Kudus meminjam bus wisata Nirwana untuk VIP Pulogadung. Tebakanku, “si dia” itu paling-paling Laksana Clurit, Panorama 3, model AC jadoel, Pagupon Doro. Hehehe…

“Mas, ini nomor bisnya, B 7415 NL,” kata Mbak Nafis, ticketing girl saat aku check in.

Duh, aku benar-benar buta armada PK Bojonegoro. Armada 15NL itu yang mana ya? Yang lekat dalam ingatanku sewaktu berlangganan dulu, kalau tak salah, cuma B 7298 ZX, dan tiga armada B 7889 … dengan dua huruf belakangnya saja yang berbeda.

Kemudian, defile bus penguasa tlatah Blora-Cepu-Bojonegoro menampakkan diri. Dari yang terdepan, Old Travego Kupu-kupu Kalideres, Setra Ombak Lebakbulus, Setra livery baru Bogor, Old Travego Kupu-Kupu Pulogadung (eksekutif) dan yang bontot…

Jreng…VIP Pulogadung, siluet Butterfly.

Pahala-Bojonegoro

Pahala-Bojonegoro

Tebakanku fifty-fifty keabsahannya. 50% benar produk Laksana, 50% lagi salah sebab bukan Panorama 3 melainkan Panorama DX.

Setelah cipika-cipiki dengan bidadari kecilku yang ikut mengantarkan, kudaki tangga menuju ruang interiornya.

Really, really, Laksana taste…Minimalis. Posisinya deck-nya rendah atau bisa jadi karena kaca tinggi, dan tentu (maaf) bangunan body coach gedobrakan ketika bus berjalan. Untungnya, fasilitas lapak punggung dipercayakan pada jok Alldila.

Dan konfigurasi seat 8 baris non leg rest adalah  garis pembatas kelas VIP dan eksekutif. Meski pitch antar kursi begitu longgar, tapi tetap saja kelasnya VIP. Padahal, andai saja dibenamkan kelengkapan ini, masih cukup ruang untuk dipasang. Kelengkapan piranti leg rest inilah, yang bagiku, sebagai pembeda kelas VIP dan eksekutif di kalangan bus-bus Muria Raya.

Tapi itu tetap tak mempengaruhi penilaianku, meski hanya kelas VIP, kesan PK sebagai bus nyaman sangatlah kentara. Bersih, wangi, lapang, beraura positif dan sejuk di hati saat berada di dalamnya.

Nggreng…suara knalpot OH-1521 menggelegar panjang mendaki tanjakan Kota Sulang. Dan secepat kilat wuss…wuss…wuss…ketika kontur jalan berganti menurun, gesit membelah jalan. Ces…ces…cesss…bunyi pneumatic brake riuh rendah khas Mercy bersahutan saat lajunya tertahan kendaraan di depannya.

Sungguh, aku takjub dibuatnya. Wah…wah…mantap juga yang bawa. Speedfull, skillfull, smoothfull dan anti ogah-ogahan. Sang driver cukup royal menginjak gas dalam-dalam, seakan stigma bus ini miskin solar ini teramputasi, dijawab dengan gerakan enerjiknya. Tak salah mengetuk palu vonis memilih PK untuk trip kali ini.

Menyandang status anak tiri, seolah HT 719 ini tak mau diremehkan dan disepelekan. Mulai Rembang hingga pool Kudus, sisa-sisa kehebatan mesin 6000 cc benar-benar ter-ekspose. Lincah meliuk-liuk menaklukan deretan panjang angkutan barang. Bahkan sempat nekat meladeni tabiat pecicilan bus Restu di depannya.

Dan semua ini semakin menegaskan statemenku, bahwa bus malam sekarang memang banter-banter. Karina, KD, Malino Putra, OBL dan PK, semakin kencang berlari-lari di permukaan aspal. Kini, tak usah pilih-pilih bus ke timur, karena hanya 1% sampling error mendapatkan bis lemot.

Mampir sebentar di garasi Kudus untuk controlling, jam 17.36 bendera start dikibarkan kembali. Asyiknya, sekeluar dari Jembatan Tanggulangin langsung disambut pantat Garuda Mas dan PO Haryanto Motor. Bertiga berkonvoi, tanding kelihaian menyeruak di antara lalu lintas yang kondisinya ramai lancar di jalur Kudus-Demak yang hampir seluruhnya telah empat lajur. Sayang, keikutsertaan Grand Aristo 78 Kopral berakhir di Kota Wali karena lewat jalan lama.

Tinggal berdua di sirkuit Lingkar Demak, RS Evolution vs Panorama DX. Kupu-kupu terus menempel ekor Garuda bahkan nyaris saja berhasil menyalipnya. Namun, bus bernomor E 7543 KA tak mau dipecundangi. Justru semakin dipacu, terlebih dibekali mesin Hino RG dengan aksekerasi yang lebih responsif dibanding Mercy Intercooler. Dan harus kuakui, driver Garuda Mas bertrayek Tayu-Jakarta itu sulit ditaklukan.

Hukum alam masih abadi, kepak sayap Garuda masih terlalu tangguh untuk dilumat kibasan sayap kupu-kupu.  Makin lama, gapnya semakin jauh dan bus berkelas ekonomi AC itu makin tak terkejar, hilang ditelan kepulan asap truk-truk angkutan berat.

GM-Tayu-Jakarta

GM-Tayu-Jakarta

Di jalur Kudus-Semarang, hanya dua bus yang diasapi, Sumber Larees bumel dan PO Suka, Jepara-Tasik.

Setelah mengambil penumpang terakhir di agen Dr. Cipto, Semarang, genderang pengembaraan  si  Kupu-Kupu Malam di hutan pantura ditabuh.

Teng…teng…teng…dan lonceng petualangan dibunyikan.

Krapyak, zona batas “it’s trully Pantura” telah ditapak. Kupu-kupu pun tetap istiqomah dengan karakter awal, total determinasinya. Apalagi pas ramai-ramainya bus arah Jakarta. Buah kerja kerasnya, berhasil menyalip Lorena Celcius LE-371, Damri jurusan Palembang/ Jambi, serta GMS Setra New Armada di lingkar Kaliwungu.

Dan cerita perjalanan KE-461 berulang. Dua misil balistik Pak Hans, yakni HS 205 dan HS 204 dilepaskan, memaksa PK mundur selangkah. Edan…naik bus apa saja, selalu jadi bahan bulan-bulanan amunisi Nusantara.

Tapi, gegar prestasi belum berujung di sini. Tiga armada pariwisata, masing-masing dua armada pinky PO Duta Bangsa Malang dan satu bus wisata S 7046 UW melemahkan kibasan sayap kupu-kupu.

Memang cukup panas atmosfer pantura malam Senin ini, ngga bus malam, ngga bus wisata, semua show of force, adu kecepatan, berlomba menunjukkan dominasi.

Pukul 20.30 singgah di Rumah Makan Sendang Wungu. Wow…Gringsing jadi lautan biru dijejali armada PK dari pelbagai jurusan. Dan terakhir kali di-service di sini, nilai rapor makanan Pahala Kencana di bawah standar, hanya layak untuk penganjal perut, minim citarasa.

Namun, tidak lagi untuk malam ini. Bagiku sudah ada improvement. Dan hal itu dishahihkan juga oleh penumpang sebelahku.

“Menunya lumayan ya, Mas. Sambal goreng tahu dan mie goreng bumbunya terasa. Nasinya juga pulen. Benar-benar cocok di lidah orang Jawa”, katanya saat bertestimoni.

And next…petualangan fase kedua dimulai, dengan tenaga baru sebagai personel pengendali.

Sayang, kesan pertama yang kudapatkan, kurang match dengan driver I. Alon-alon. Dan saking pelannya melintasi alas Roban, disalib saudara serahim, K 1546 AB, Bogor Indah Skania dan GMS Proteus.

Ah…sudahlah, life is never flat. Menikmati keleletan bus enaknya dengan tidur. Zzz…

Dalam lelap dibuai kenyamanan produk Jerman, kurasakan serrr…serrr…serrr…laju darahku mengalir lebih deras. Alarm alami tubuhku memberi inputan bahwa bus sedang high speed.

Kubuka mata lebar-lebar, dan benar adanya. Marga Intercooler ini sedang bernafsu memburu pantat seksi milik Tante Rosa, Rosalia Indah. Wah…jangan-jangan driver II ini setipe dengan mesin diesel, makin panas makin bertenaga. Kuhapus kesan awalku, kini kuacungi jempol buat “kusir” tengahnya yang makin menghela kuda besi bertenaga 210 HP.

Ternyata oh ternyata… Pahala usang ini sengaja menguntit, tak ada niatan untuk menyalip Proteus 245. Justru, dari sinilah simbiosis mutualisme antara kupu-kupu dan bunga rosalia terjalin, lewat jembatan komunikasi yang berwujud lampu sein. Terlihat AD 1490 DA benar-benar mengawal perjalanan Kupu-kupu, tanpa lelah memberi isyarat dengan permainan nan elegan dari lampu sein kanan/ kiri ataupun lampu hazard. Saat menyalip kendaraan dari lajur kanan, dan dihitung kupu-kupu di belakangnya juga aman untuk menyalip, sein kanan terus dinyalakan.  Kalaupun dirasa tak cukup, langsung sein kiri, mencegah belakangnya ikut menyalip. Pun demikian saat menyalip lewat sisi kiri. Saat kondisi di depan dalam bahaya, semisal ada truk mogok atau mendekati titik persimpangan jalan, lampu hazard dinyalakan, sebagai amar agar kupu-kupu berhati-hati.

Merasa dibantu, driver-ku pun memadamkan high beam, cukup lampu senja. Kalau tak salah, kode ini sebagai pemberitahuan bus di depannya, bahwa bus belakangnya hanya mengekor, tak ada rencana menyalip.

“Kang, itu lho hebat ya yang bawa Rosalia. Ngga egois, tapi malah menolong kita. Kita ngga usah ngintip kondisi depan, cukup lihat aja seinnya. Sudah jarang sopir yang punya kesadaran begitu. Apalagi sopir-sopir baru, maunya kenceng, tapi menyepelekan bus yang lain”, puji sopir saat berbincang dengan asistennya.

Sambil ber-SMS-an dengan Mas Hary, kusaksikan dua makhluk beda jenis yang dipertemukan oleh jalan raya, tak ubahnya harmoni indah keselarasan semesta. Karakter bangsa yang gemar bergotong royong, saling menghargai dan menjunjung toleransi, sungguh-sungguh tersuguhkan.

Sayang, kebersamaan ini dirusak oleh kehadiran  red ferrari Muji Jaya K 1450 BC, Kramat Djati Jack Daniels dan GMS Setra OH 1525, eks Symponie. Bertiga bergantian menginfiltrasi hubungan sehati kupu-Kupu dan bunga rosalia. Dan parahnya, ketiga-tiganya mau menang sendiri, tak ada laku tepo seliro. Lampu seinnya pun tak beretika, asal nyala untuk kepentingan dirinya sendiri.

Driver PK pun hanya geleng-geleng kepala. Racun adigang adigung adiguno semburat di pelupuk matanya. Persahabatan bagai kepompong sopir-sopir bus malam tempo doeloe kian langka, hanya jadi cerita manis cangkrukan para penggila bus.

Merasa kupu-kupu keteteran, super eksekutif Ros-in merasa iba. Dipelankan kecepatannya, diberikan lewat ketiga bus “destroyer” tersebut. Dan kembali, jalinan dua hati terangkai kembali.

Aku jadi ingat. Kalau tidak salah Rosalia Indah SE berbadan Proteus ini pernah ditampik cintanya oleh Sunan Kelantan negeri Bismania, Tuan Haur Koneng. Dan bisa jadi, sebagai pelariannya, rosalia bermaksud menggandeng kupu-Kupu. Hehehe…

Karena hendak berhenti di pitstop Tegal, kupu-kupu pun menyusul rosalia. Disejajarkan posisinya kemudian tangan kru PK dilambaikan, seraya menyalakan klakson secara lembut dan pelan, sebagai tanda ucapan terima kasih telah banyak dibantu. Driver rosalia pun paham, dan sejurus kemudian membalas dengan aba-aba klakson, dan mempersilahkan kupu-kupu untuk maju ke muka.

Manis dan romantis drama percintaannya, meski hanya cinta sesaat di ruas Pemalang hingga Tegal, dan putus hubungan di tangan petugas kontrol Tegal.

Benar-benar menyinggung sisi kemanusiaan. Itulah realitas hidup. Kerukunan, persahabatan, percintaan, take and give, egoisme, ingin menang sendiri, pencederaan moral, kesombongan,  prahara, bukan sekedar bumbu-bumbu kehidupan, namun juga bumbu-bumbu pantura. Bukan semata soal kecepatan, unjuk nyali atau tema blong-blong-an.

Kulanjutkan tidur malamku, yang terpotong untuk menyaksikan sinetron “Cinta Rosalia”. Esok mesti berladang dan fisik harus fit untuk menggarapnya.

“Cikarang…cikarang….”, teriak kenek membangunkan penumpang tujuan Cikarang. Dan mayoritas penumpang turun, tertinggal empat orang yang bertiket Pulogadung.

30 menit kemudian, kupu-kupu landing di Pulogadung, ketika jarum waktu menyinggung angka 04.55. Meski sempat mengalami engine problem, bahasa lapangannya “masuk angin”, capaian waktu B 7415 NL ini masih dalam batas rata-rata normal.

Siluet-Kupu

Siluet-Kupu

Inilah akhir sementara dari episode “It’s not Slowtime”. Sekarang memang bukan masanya bus “alon-alon asal kelakon”, berganti “biar cepat asal selamat” atau “boleh irit asal penumpang jangan menjerit”. Kecepatan, yang berkorelasi langsung dengan waktu tempuh, telah diposisikan kembali sebagai panglima, satu elemen penting dari pelayanan bus malam. Dan itu dinyatakan secara cetho welo-welo dengan dua armada yang aku percayakan untuk perjalanan pulang dan balik akhir pekan kemarin, Kramat Djati dan Pahala Kencana.

Semoga  “It’s not Slowtime” akan jadi warna kekal deru operasional bus-bus Indonesia.

Viva Indonesian buses…!!!

(Artikel dan Poto oleh Didik Edhi)


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Ditulis oleh

'BisMania Community Yogyakarta Berhati NyamNyam'

5 Comments

  1. ario_lorena /

    Cerita perjalanan mas djon bagus bgt !!
    Dr mulai CePer pake KD sampe PK,bikin ngiri aja kpngen jalan teruuus…

  2. siapa bayu?
    bayu-sanjaya /

    jadi pengen berpetualang di pantura. hehe

  3. defrimon
    defrimon /

    bagus bgt cerita nya mas…tenang, mengalir seperti air…semoga keakraban bus itu menjadi contoh bagi bus-bus lainnya tidak hanya untuk bus malam saja.hal tersebut bisa mengurangi resiko terjadinya kecelakaaan.
    bravo bus indonesia…
    salam hangat dari padang…

  4. djon /

    ario_lorena said:

    Cerita perjalanan mas djon bagus bgt !! >>>> ralat mas…saya cuman upload dari milis ke web…caper itu punya nya mas didik edhi…

  5. anggaraminded /

    gokil.. nih report touringnya…
    terharu ane pas baca cinta rosalia..
    mana sambil dgerin lagu hanz Zimmer

    salut ma supir rosalia dan pk…

    [quote]Benar-benar menyinggung sisi kemanusiaan. Itulah realitas hidup. Kerukunan, persahabatan, percintaan, take and give, egoisme, ingin menang sendiri, pencederaan moral, kesombongan, prahara, bukan sekedar bumbu-bumbu kehidupan, namun juga bumbu-bumbu pantura. Bukan semata soal kecepatan, unjuk nyali atau tema blong-blong-an.[/qoute]

    udah jarang bget nih mas..

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;