ilustrasi (foto dok. FB Pahala Kencana Sedjati)

ilustrasi (foto dok. FB Pahala Kencana Sedjati)

Tanggal 8 Januari 2010, tepat jam 11.00 aku check out dari hotel.

Sebenarnya perutku belum terlalu lapar, tapi sadar jadwal bisku
berangkat jam 13.00 ya terpaksa harus memajukan jadwal untuk mengisi
perut dulu supaya nanti ga kelaparan di perjalanan.

Hari itu Palembang lagi mendung dan titik-titik air hujan mulai turun
sehingga hawa jadi lebih dingin dari biasanya, wajarlah yang kemudian
terbayang adalah makanan panas berkuah. Pilihan favoritku adalah
Pindang Patin Musi Rawas, tapi karena semalam sudah makan pindang masa
harus makan pindang lagi sih ? Bisa-bisa pulang jakarta istriku tak
mengenaliku lagi karena aku jadi makin mirip sama ikan patin. Ya
sudahlah akhirnya bayangan makan pindang patin (lagi) harus di delete
dan akhirnya diganti dengan Sop Kumis di Jalan Veteran.

Selesai makan sudah jam 12 lebih. Karena tempat makan dari pool PK
cukup jauh makanya langsung tancap gas ke tempat pemberangkatan bis.
Di jalan Soekarno – Hatta.

Menjelang pertigaan alang-alang lebar ketemu PK ombak Old Travego.
Sempat bertanya-tanya dalam hati jangan-jangan itu tadi bisku dan
sudah berangkat alias aku ketinggalan bis. Kuangkat tangan kananku dan
kupelototi jarum jamku, ohh lega… ternyata waktu masih menunjukkan
pukul 12 .40 jadi kayanya ga mungkin kalau itu tadi bisku.

Melintasi terminal alang-alang lebar terlihat sederetan calon “busway”
Palembang “berjudul” TransMusi sedang terparkir rapi di sana. Aku tak
bisa mengenali karoserienya bikinan mana tapi yang jelas bis 3/4 itu
berchassis Hyundai

Dugaanku benar , sesampai di pool PK masih ada 3 unit bis disitu . 1
RG livery ombak body karoserie AP Selempang dan 2 biji berlivery baru.
(1 biji berbaju AP Selempang lampu depan Smile lampu belakang “pistol”
dan 1 biji MB 1521/1518 lampu smile berbaju rombakan TJU)

Bergegas aku melapor ke petugas agen dan langsung ditunjukkan bisku,
yang posisinya terparkir di tengah (salah satu dari yg berlivery
baru). Ketika memasukkan barang ke bagasi sempat kaget, kulirik nomor
identitas bis di atas jok sopir : HT 604… Hmmm…??? Rasanya aku
familiar banget dengan bis ini. Apalagi ketika si Kenek menghampiriku,
aku langsung tanya ” Ini kan bis yang biasanya ke Blitar toh?”. Dia
menjawab ” Betul pak”.

“Siapa yang bawa?” tanyaku lagi.
“Samsuri Pak, ini batangannya Pak Waluyo, tapi dia lagi libur”

“Beginilah kalo orang bersabar dan nrimo itu, pasti disayang Tuhan” ,
kataku dalam hati. Betapa tidak ?. Karena sebenarnya aku sudah
mempersiapkan mental dapat bis Old Travego livery ombak yang bodynya
makin terlihat butut. Mengapa ?, karena belakangan ini bila Kopdar di
RM kuperhatikan PK yg jalan ke Palembang selalu kebagian RG Old
Travego butut.

Tepat jam 13.00 si livery ombak AP setra Selempang “take off” lebih
dulu menuju Bandung. Sepeluh menit kemudian bisku menyusul. Sementara
si MB TJU perpal di Palembang konon kabarnya mau dipakai bawa
rombongan besok harinya.

Perjalanan dari Palembang sampai Kayu Agung berjalan lambat karena
jalanan sempit, padat dan turun gerimis. Sempat saya sms Rian Haur
Koneng si Raja Touring yang di hari itu juga sama-sama sedang
melakukan “Ritual Keramat ala BMC” (touring) dari Jambi ke Jakarta
naik Laju Prima. Sewaktu bisku tiba di RM Pagi Sore OKI dia posisi
masih di Betung. Dengan bangga di cerita LPnya baru “mencontreng” ALS
yang ada didepannya.
Masuk RM Pagi Sore nampak banyak pemandangan indah. Di sana LP dan PK
Bandung siap-siap take off kembali disusul PK ombak Old Travego.
Sementara itu 1 Unit Giri Indah Trisakti, 1 unit KD Marco Air Sus dan
2 Unit Harum masih duduk manis disitu, semanis beberapa gadis
penumpangnya yang berumur sekitar 20 tahunan yang tengah bercanda
menikmati makanan di Pagi Sore. Konsentarasi jadi pecah, satu sisi
pingin lihat-lihat bis yang terparkir di depan rumah makan tapi di
sisi lain sayang sekali meninggalkan posisi strategis yang sudak aku
okupasi di bangku rumah makan itu, yang tepat menghadap
bidadari-bidadari bawaan KD dan Harum menuju Kota Kembang. Yang makin
menarik, diantara kerumunan bidadari itu tak tampak “herder”
(cowoknya) sama sekali. Andai saja di touring kali ini Kak Simon atau
Cak Awan ikut, aku dengan senang hati mau melamarkan mereka ke salah
satu bidadari itu, bahkan bila perlu perpal sehari disitu untuk cari
Pengulu buat menikahkan merekapun aku rela dan OK saja. Aku yakin Kak
Simon atau Cak Awan ga usah pilih-pilih, masing-masing tinggal “ambil”
satu – satu saja dijamin kualitasnya OK punya. Wajah dan Bodynya
mantab-mantab tak kalah sama New Marco AP ataupun Evo RS,
kesimpulannya.. Dijamin tak akan rugi buat Kak Simon ataupun Cak Awan
untuk melepas status perjakanya dengan salah satu dari mereka he he
he… (Btw Kak Simon / Cak Awan apa masih perjaka ya…???, Piss
Bro….)

Bayangan melamarkan Kak Simon lenyap seketika saat petugas sudah
memangging- manggil penumpang KD dan Harum untuk segera berangkat.
Akhirnya bidadari-bidadari itu mulai beranjak dari tempat duduknya
sambil tak lupa menghabiskan jus jeruk minumannya untuk kembali ke
singgasana mereka di buaian air sus KD dan Evo 1521 Harum menju kota
indah nan sejuk di Bandung sana. Melihat cara bidadari- bidadari itu
memegang gelas dengan jari jari lektik dengan kuku panjang berwarna
pink dan kemudian mengamati meneguk cara mereka Jus Jeruk itu, aku
yakin kalau Kak Simon / Cak Awan sempat menyaksikannya pasti akan
kehilangan kata-kata, lidahnya jadi kelu, matanya tak bisa terpejam
dan akan selalu terbayang-bayang wajah mereka minimal hingga satu
dasawarsa. Ha ha ha…

Beberapa saat kemudian Lorena dari Pekanbaru masuk ketika bisku mulai
siap-siap take off dari Pagi Sore. Kali ini Driver 2 (sorry aku lupa
namanya, tapi aku sering ketemu dia, tapi jadi malu mau nanya lagi
namanya) membawa mobil dengan kecepatan yang lebih bisa diandalkan.
Aku berharap KD dan Harum tadi bisa disusul . Ternyata benar,
kira-kira satu jam menjelang Bandar Jaya, 2 biji Harum berhenti
dipinggir jalan dan biskupun ikut menepi. Di depan Harum ternyata Giri
Indah sedang kempes dan harus ganti ban depan. Sopirku turun, setelah
agak lama ga naik-naik aku penasaran pingin tahu ada apa, tapi ketika
pintu kubuka hendak ikut turun si Sopir kembali dan bercerita tentang
kejadian kempes ban itu. Aku heran , kenapa yang kempes Ban Giri Indah
Tri sakti tapi 2 Harum dan 1 PK tutut berhenti. Akhirnya si Driver
cerita kalau semua bis yang jalan Palembang. Mulai dari LP, Harum,
Giri Indah , kD semuanya kompak kalau ada masalah saling bantu,
kecuali Lorena karena si Ijo merasa banyak kawan satu bendera jadi
“mals”membantu PO lain soalnya kalau ada trouble pasti dibantu
kawannya sendiri. Buat apa repot-repot ? (Begitu kira-kira pandangan
mereka).

Setelah itu akupun pindah tempat duduk ke bangku kenek menikmati bisku
ngeblong truk-truk dan mobil kecil yang ada di depannya. Sementara
Harum dan Giri Indah mengikuti di belakangnya. Kamipun mengobrol
panjang lebar soal PK, soal Lorena dan Giri Indah. Kebetulan Sopirku
ini pernah di Giri Indah dan Lorena sebelum pindah ke PK.

Banyak hal yang dia ceritakan tapi tidak semuanya layak untuk aku
share lewat milis ini. Satu info yang bisa dishare, bahwa armada PK yg
biasa dipakai ke Palembang saat ini sedang direhab di TJU. Belum jelas
setelah jadi nanti akan dipakai ke Palembang lagi, atau Palembang akan
dapat bis baru.

Tak terasa sampailah kami di Gadang Jaya 3 , perutku masih kenyang dan
aku tidak makan hanya jalan-jalan lihat bis yang ada disitu. Terlihat
bidadari penumpang Harum turun menuju Toilet, tapi KD dan para
bidadarinya sudah tak terlihat lagi. Anehnya justru LP yang berangkat
paling awal dari Pagi Sore tadi masih nampak dan siap-siap berangkat.

Kembali ke atas bus rasa kantuk mulai menyerang. Aku dapat sms dari
Haur Koneng dia juga sudah meninggalkan Pagi Sore.

Gadang Jaya 3 – Bakauheni benar-benar terbuai dengan nyamannya
kombinasi suspensi RG yang meliuk-liuk dan seat Aldilla yang lengkap
dengan leg-restnya, jadi ceritanya hanya “Zzzzz….Zzzz…zzzzzzz…”,
bangun bangun sudah di antrean panjang naik ke kapal. Melek bentar
tertidur lagi dan melek lagi ternyata bis masih belum bergerak ” Duh
panjang juga antrean ini ya….” Melek lagi bis sudah di kapal dan
mesin. Harus dimatikan.

Interior bis mulai terasa panas, aku keluar dari bis. Kutengok kanan
kiri. Aku tak temukan LP, KD, Giri Indah dan Harum yang tadi kutemui
di Rumah Makan. Bidadari-bidadari pun seakan “lenyap ditelan selat
sunda” Yang ada malah 4 biji Gumarang Jaya Non AC dan 1 biji Jaya
Prima Wisata Neoplan. Aku tidak tahu lagi bisku. Yang ditinggal oleh
“teman-temannya” atau malah sebaliknya. Di atas kapal aku masuk ke
“executive class” nya kapal dengan bayar tiket sebesar Rp. 11.000
(baru tahu ini di Ferry ada kelas Executivenya). Tempatnya nyaman ber
AC dan ” zzzz…. Zzzz… “tidur lagi.
Setelah kurang lebih 3 jam berlayar akahirnya sekitar jam 5 pagi kapal
bersandar di Merak.

Akhirnya, singkat cerita jam 07.05 pagi bisku “landing” di LB. Selesai
sudah perjalanan selama 17 jam bersama HT 604 Palembang -Jakarta
dengan armada yang biasa dipakai ke Blitar dan beberapa kali aku naiki
bila aku ke nganjuk

Kepuasan perjalanan tak membuat aku menyesal telah menghanguskan tiket
pesawat Garuda yang sudah aku kantongi sebelummnya sejak aku berangkat
ke Palembang dari Jakarta.

Insya Allah kalau tidak ada halangan minggu depan aku bisa melakukan
“Ritual Keramat” (Touring) lagi dari Surabaya ke Jakarta. Bayangan
sosok Proteus /Jupiter / Galaxy sudah menggoda

Salam Touring,
Didik

Ditulis oleh

'BisMania Community Yogyakarta Berhati NyamNyam'

4 Comments

  1. Suplentonk Jaya
    plentonk /

    buset dehh , baca web ini kok bawaannya iri melulu ya … :( (
    harus menabung untuk sumatera !

  2. beniepurba
    beniepurba /

    wah… orang palembang juga nih..
    sama bro..
    gw mahasiswa di Palembang yang sering PP jkt_PLg naik Bis
    sejauh ini semua bis eksekutif pernah gw naikin ke PLG
    mulai dari
    Lorena, Kramat Djati, Pahala Kencana, Harum, Giri Indah, Sari Harum, Ampe yg kelas ekonomi Gumarang, ALS hampir semuanya dah gw naikin hehe.. :)

    tapi ada satu Bis yang gw salut banget am jadwal dan kecepatan
    dia adalah eng ing eng… LAJU PRIMA

    ini bis sebenernya jurusan Bekasi-Palembang
    pertama kali naik bis ini buset cepet banget
    bis Lorena aj disalib!!
    utk Jakarta-Palembang LAJU PRIMA yang paling cepet deh bro..

  3. Hendy Aristya
    hendy /

    pengen nihh k sumatra……

  4. Raiyan
    raiyan_gmm /

    dulu ke blora pernah naik HT 604 juga, keliatannya sekarang sumatera udah dikasih rk8 jupe sama galaxi nih

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;