Sedikit catatan perjalanan BisMania Community (BMC) Yogyakarta nggrudug ICE 2009 di Jakarta kemarin. Ada hal yang menarik dari perjalanan tersebut, yakni tampilnya salah satu punggawa BMC Yogya menjadi driver dadakan. Bagaimana kisahnya ? Yuk, kita simak bareng…

Muria Transport
Perjalanan BMC Yogya menuju Jakarta menggunakan armada Muria Transport AB 7136 AS bermesin MB Prima balutan Morodadi Prima. Bis ini dikemudikan Pak Dul dibantu seorang kru Mas Kabul. Berangkat dari kandang Muria di kompleks Harian BERNAS jam 19.45 WIB Jumat malam Sabtu. Gerimis mengiringi kepergian kami. Jalan cukup padat oleh lalu lalang kendaraan.
Jalur selatan menjadi rute keberangkatan. Memasuki daerah Wates, jalanan mulai lengang. Kebanyakan adalah truk pengangkut barang. Sesekali kami berpapasan dengan bis-bis pariwisata. Pak Dul mulai menambah kecepatan. Kami semua larut dalam obrolan khas anak-anak BisMania. Belum ada yang tidur, apalagi ketika dibagikan arem-arem kreasi ortu Mas Ipung.
Memasuki Banyumas, perjalanan terhenti sejenak. Ban belakang sebelah kanan kemps. Setelah diganti, bis berpacu lagi menembus gelapnya kota Majenang dan Ciamis. Malangbong dan Nagreg menjadi tantangan kami selanjutnya. Beruntung, pagi itu tak banyak kendaraan melintas. Jalanan menanjak dengan kelak-kelok membuat perjalanan terasa menyenangkan. Perbukitan, lahan persawahan ditambah hamparan kebun-kebun strawberry menjadi santapan mata yang menyegarkan.
Matahari pagi terasa hangat menyinari ketika kami sampai di kota Bandung. Di sini arus lalu lintas cukup padat. Banyak anak sekolah yang hendak masuk. Begitu juga dengan pegawai dan karyawan. Untunglah, kami cepat-cepat memasuki jalan tol.
Kami beristirahat di rest area tol Cipularang km 80-an, tepatnya di wilayah Sadang. Setelah menyegarkan badan dengan guyuran air dingin, kami lantas sarapan pagi. Kira-kira jam 08.30, bis kembali menderu. Yang surprise, kali ini stir berganti pengemudi. Adalah Robertus Yoseph atau biasa disapa Bung Uus yang berinisiatif untuk menggantikan tugas Pak Dul.
“Pak Dul terlihat kelelahan. Biar istirahat dulu. Kalau diperbolehkan, saya yang akan memegang kendalinya”, ujar Bung Uus dihadapan rekan-rekan. Hal ini diamini semua yang hadir. Semua setuju. Termasuk Pak Dul dan Mas Kabul.
Bung Uus mengemudikan bis perlahan-lahan. Biasa, penyesuaian lebih dahulu. Semakin lama, semakin digenjot. Tarikannya mantap, perpindahan giginya juga halus. Taka ada rasa yang menghentak tubuh. Kecepatannya juga stabil. Saking kencangnya tapi tetap nyaman, sebagian dari kami tertidur. Dan sepertinya, Bung Uus lebih berani memaksimalkan tenaga MB Prima tahun 1989 ini. Terbukti, larinya lebih kencang daripada ketika dikemudikan Pak Dul. Yah, mungkin faktor usia juga mempengaruhi. Bung Uus kan masih muda, gejolak jiwanya masih bergelora.
Rombongan tiba di Parkir Timur Senayan sekitar pukul sebelas siang. Setelah muter-muter, ketemu juga stand BMC di ICE 2009. Rekan-rekan yang sudah standby di sana segera menyambut kami dengan akrab dan hangat. Jabat tangan dan senyum ceria mewarnai siang itu. Selanjutnya, kami bergabung memeriahkan stand BMC di gelaran bertajuk Indonesia Consumunity Expo ke-3 ini. Sekitar enam jam kami berada di sini.
Jam menunjukkan pukul 16.05 WIB ketika kami harus meninggalkan kemeriahan ICE 2009. Kemudi dipegang Pak Dul. Beliau terlihat lebih segar dan siap kembali ke Yogya. Suasana Jakarta sore hari begitu hangat menyapa. Jalan dibasahi oleh gerimis yang turun sporadis. Di beberapa ruas jalan, kami sempat terhenti oleh padatnya kendaraan. Maklum, akhir pekan. Banyak orang yang ingin weekend. Selalu menjadi kebiasaan, antara berangkat dan pulang melalui jalur yang berbeda. Untuk kepulangan kali ini, kami menjajal jalur pantura.
Macet lebih parah dimulai ketika memasuki tol Cikampek. Kendaraan benar-benar tumplek blek di jalan. Padat merayap. Sesekali terhenti. Pak Dul terlihat kelelelahan mengetahui kondisi jalan yang lebih banyak berhenti ketimbang jalan.
Bung Uus tahu gelagat ini. Ia unjuk gigi lagi. Bung Uus lantas mengambil alih kemudi.Pak Dul ngaso diikuti Mas Kabul. Bung Uus ditemani rekan Tito, Akbar dan Rendy. Sementara itu, rekan lain sudah banyak yang terbuai dalam belaian mimpi. Yups, mungkin saking lelahnya , kami langsung tertidur ketika bertemu empuknya jok dan nyamannya tarikan Bung Uus.
Kami tertahan di Kanci sekitar dua jam. Benar-benar berhenti total. mesin dimatikan. Perjalanan sedikit molor. Kali ini Bung Uus menjadi lakon. Gas dibejek dalam-dalam. Banter. Kuenceng dab ! Truk-truk disalipi. Tak cukup disitu, dia juga berani ngeblong bis-bis trayekan (maaf, tidak bisa saya sebutkan karena menyangkut etika). Beberapa kali bis-bis tersebut diblong dengan gaya menawan. Meliak-liuk kanan kiri. Hingga akhirnya pukul empat pagi kami sampai juga di Slawi.
Minggu pagi hari, sekitar jam setengah tujuh, kami beristirahat sejenak di SPBU Candi Mas Banyumas. Setelah dirasa cukup, bis kembali on the road. Kemudi berganti ke pengemudi aslinya. Kali ini Pak Dul membawa kami sampai ke Yogyakarta sekitar jam 10.35 WIB. Pak Dul merasa senang tugasnya dibantu oleh rekan-rekan BMC. “Biasanya kalau bis ini disewa, saya yang mengemudikan. Eh, lha ini kok si penyewa yang nyetir. Baru kali ini kedudukan saya terbalik, sekarang malah jadi penumpang”, jelas Pak Dul sambil tertawa.
Menurut beliau, Bung Uus mengemudikan bis dengan sangat baik. “Tenang, terampil, dan membawa dengan enak sekali”, komentar Pak Dul yang diamini Mas Kabul.
Perlu pembaca ketahui, Bung Uus baru pertama kali ini mengemudikan bis dengan jarak dan rentang waktu yang lama. Pria humoris ini biasanya mengemudikan Isuzu ELF atau kendaraan kecil lainnya. Makanya, dia sangat senang dan bangga bisa membawa bis besar membelah jalanan Jakarta.
“Bis ini enak dikemudikan. Tenaganya masih mumpuni dan masih bisa diajak lari. Pengendaliannya juga enak. Lincah menjelajah sesuai dengan gambarnya, macan Muria. Secara pribadi, saya senang bisa membantu sekaligus menyalurkan hasrat terpendam”, jelas Bung Uus. “Sudah lama saya ingin mengemudikan bis, tetapi belum ada kesempatan. Terkadang juga belum dipercaya. Beruntung kesempatan itu datang, langsung tak sambar saja. Saya juga senang dengan sambutan rekan-rekan”, sambungnya lagi sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Namun, ada sedikit keluhan. Bung Uus mengeluh kakinya pegal-pegal. “Ini akibat macet di Kanci. Nginjak kopling terus, eh lama-lama terasa linu. Sampai di rumah harus dipijat nih”, ujarnya meringis sambil menunjukkan kempolnya yang terlihat membesar.
Rekan-rekan BisMania merasa senang. Perjalanan berlangsung aman, nyaman sesuai harapan. Ehm, besok-besok lagi kalau menyewa bis, nggak perlu sopir cadangan. Kan ada Bung Uus yang siap beraksi. Ready for drive ! He he he…. Selain itu, mungkin ada PO yang membutuhkan sopir pocokan, Bung Uus bisa masuk rekomendasi lho ?!*****
(artikel ditulis oleh Bowo GK, poto oleh Bowo Gk dan Mukhlisin Aziz)




Kalo di jkt ada mas Wito & mas Boim, di Jogja ada mas Uus. Manteplah …..
hahahahaha…
bisa-bisa jebolan BMC pada jadi Sopir pocokan armada wisata nih…
ga nyangka teman-teman ternayta jauh menghayati….. ndak kayak ambo, takut + ndak berani Nyopir hehehe
Mantep ga sia-sia jadi bismania….Jkt and yogya ada, ayo Jatimers..keknya Mas Awan neh…
mantap bro reportnya…
baru berani test drive aja…
AKU IRRRRRRRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
Kalo jatimers ama jateng, sapa ya sopir cadangannya??
mantab tu haaaaa….. aaargh… jadi iri+malu gak bisa ikut….
mantepss brooo…. btw Mas Uus punya sim B1 gak ya? Saya punya usul gimana BMC mengadakan pembuatan sim B1 kolektif bagi member jadi klo ada kejadian spt ini dah punya “pegangan”
saya beraninya cuman muter di garasi… hehehe, memang sudah bakat terpendam kali ya ?
Lucu juga ya? pengalaman yang menarik itu. Saya dulu punya andai-andai seperti itu, tapi sekarang sudah tak lagi, tak mungkin rasanya..
@Sigit:
pengambilan SIM B1 (apalagi yang UMUM) kayaknya harus ke POLDA masing-masing, MAs..
wah mantap juga yaa…
mw banget nch bawa BIS, smpe2 kLo bawa mobiL kecil atau motor, aq kondisi kan sperti bawa BIS, sperti gaya2 bawa Bis,suara2 BIS,apalagi cara2 Bis ngeblong…
salut dch buat Bung UuS…
Enak to? Kandhani kok.. Bawa mobil gede jauh lbh nyaman. Pandangan bebas, setir bahkan lbh enteng daripada sejenis kijang kapsul. Selama ini bawa yg gede2 aku pake SIM A. Asal ga nglanggar ga ktahuan kok. Kalo ada petugas, siapin aja goceng beres. Ga ngajarin jelek lho, tp itu realita di jalanan Indonesia.
Kren jg….sy ngeliat supir nyetir bis aj trkagum2 palagy debut pertma….salut dech
pengeeeeeeeeeennnnnnnnnnn…..nyobaaaaaaaa………jugaaaaaaaaaa……dongggggggg……
Sekedar info Bung Uus sudah mempunyai SIM B1 semenjak SMA dan sering bawa Truk 3/4, Travello, Elf untuk wisata luar kota jadi sudah banyak pengalaman dan dalam keadaan darurat mengantisipasi sopir ngantuk jadi otomatis diperbolehkan oleh Panitia BMC Jogja (Om Desika Arif, dkk)..
hebat & mangtabs euy…kl sy dl suka berangan-angan jd supir chasis baru yang mau dibajuin di karoserie…apalagi kemaren denger ceritanya mas yudi, kl bw chasis uang jalannya gede, dah gitu dapet helm & jaket…(-mupeng mode on-)