Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

… … … Melintasi Cileunyi, Nampak sebuah Maju Lancar yang minggir seperti menunggu sesuatu. Pak sopir pun memperlambat laju busnya dan mengatakan pada sopir ML,

“ayo pak, ikut saya, lewat Garut, gentong macet total !”… … …

# # #

27 Desember 2012, sore hari

Putaran roda Supra lawas cukup lincah membelah ruas Pasteur-PH.H Mustofa terus ke Cicaheum. Aku hanya duduk dibelakang membonceng seorang teman yang tinggal di sekitaran Pahlawan. Jalanan macet di sore hari kota Bandung nampaknya sudah semakin tak terbendung saja. Kata seorang teman, tahun 2014 nanti Bandung akan macet total. Tinggal cangkruk di pinggir jalan sambil melihat orang yang emosi dan misuh di jalan katanya, hehe.

Sekitar jam setengah 6 sore, tibalah Supralawas di terminal Cicaheum dan langsung masuk ke dalam parkiran bus. Tepat disamping sebuah bus Budiman Bandung-Yogya aku turun dan berpamitan serta hatur nuhun kepada teman yang sudah mengantar ke terminal.

R XXX berplat nomor Z 7859 HB, itulahkode bus Budiman jurusan Bandung Yogya yang menjadi transporter ku malam itu. Mesin dari kerajaan Hino yang di usung oleh chasis RG, dengan balutan baju baru, Jetbus HD cukup membuat hati girang. Yo girang, mengingat armada yang diturunkan untuk jalur Bandung-Yogya kalau tidak seri IL pasti DL (bukan durusul lughoh pelajaran bahasa arab lho:P).

Jam masih menunjukkan pukul 17.45 ketika kulangkahkan kaki menaiki kabin bus Budiman dan, lho…kursi nomor 2 sudah diakuisisi orang dengan tiket yang juga menunjukkan nomor kursi resmi 2. Segeraku turun dan mencari pak pengurus mencari kejelasan tiket, karena aku sudah membeli 2 pekan sebelum keberangkatan.

Setelah ku temukan pak pengurus, aku di tawari ikut bus Solo tapi duduk di tengah dan segera berangkat, atau tetap duduk di kursi 2 bus Yogya tapi nunggu beliau selesai mengurus-urus penumpang yang membludak karena libur akhir tahun. Opsi menunggu pun dipilih karena bus ke Solo E 3xx MB 1525 sudah 2 kali kunaiki ditambah tidak dapat kursi mlonyoh alias hot seat.

2 penumpang nomor 1 dan 2 tujuan Purworejo yang sebelumnya naik bus Yogya dipindahkan oleh agen ke bus Solo. Pak pengurus lalu mempersilahkan aku naik ke Budiman Bandung-Yogya. saat adzan maghrib berkumandang, tak lupa kutunaikan solat jama’ takdim Maghrib Isya dimusola terminal Caheum.

Naik ke dalam kabin Budiman Bandung-Yogya

Terlihat interior bus masih oke bin rapi, hanya saja jarak kursi tetap sempit. ditambah adanya kotak berwarna hitam yang menempel di sandaran kursi kernet dan sopir yang membuat penumpang terdepan tidak bisa duduk biasa, harus memijakkan kaki di kotak hitam tersebut.

Plek, kududuki kursi nomor 2. Di sampingku seorang bapak bapak yang setelah ngobrol, beliau sudah 25 tahun nglaju mingguan Kartosuro-Bandung karena mengajar sebagai dosen suatu universitas di kota Bandung. Beliau bercerita, biasanya menggunakan Rajawali non-ac untuk perjalanan pulang pergi. Beliau juga bercerita perbis-an ketika era 90′an dimana bus-bus masih mengadakan shuttle taksi gratis untuk perjalanan ketujuan akhir di kota Bandung.

Pukul 19.00 wayah kulon (wib)

Setelah penumpang yang naik sudah lengkap, bus Budiman yang (entah) menggunakan sistem bus malam ini mulai meninggalkan pelataran terminal Cicaheum, melintasi Jalanan yang padat khas kota Bandung. Sesampai di Ujungberung, bus di arahkan berbelok ke kanan memasuki Jalan Rumah Sakit. Jalan yang sempit namun cukup lancar. Nampak banyak kontainer-kontainer yang parkir di pelataran perusahaan sepanjang jalan Rumah Sakit. Lepas jalan Rumah Sakit, bus berbelok ke kiri yang dugaanku pasti akan masuk ke pool Budiman di Cibiru.

Pool Cibiru

Kreek… .., suara tuas parking brake yang di aktifkan saat Budiman Bandung-Yogya parkir untuk menaikan penumpang dan kontrol di pool Cibiru. Beberapa penumpang termasuk aku turun untuk BAK, setor dulu biar nggak ngempet di jalan mas bro. Merasa cukup di pool Cibiru, bus Budiman R XXX (entah berapa, mungkin 315) mulai meledakkan solar bercampur udara di ruang hampa, merangsek meninggalkan pool Cibiru untuk mengarungi lintas alam selatan Pulau Jawa.

 Ketika masih di terminal, sudah beredar info kalau Gentong macet parah. Pak sopir pun membuat rute untuk melintasi garut, menghindari kemacetan di Gentong. Ketika melintasi Cileunyi, Nampak sebuah Maju Lancar yang minggir seperti menunggu sesuatu. Pak sopir pun memperlambat lajubusnya dan mengatakan pada sopir ML,

“ayo pak, ikut saya, lewat Garut, gentong macet total !”, teriak pak sopir.

Bus kembali melaju di temani padatnyajalanan Cileunyi. Terlihat driving skill sopir Z 7859 HB yang ber-genre banter. Hehe…aku hanya senyum-senyum sendiri kesenengen. Sebelumnya 2 kali naik bus Solo E 3xx sopir pakai topi, walah, jalannya santai. Sampai di tinggal oleh gerombolan Budiman Solo maupun Yogya.

Di perwakilan Cileunyi, bus melakukan kontrol. Di sini Nampak 2 Budiman berbaju RS Evo di depan. Mungkin jurusan Wonosobo dan Magelang. Setelah dikontrol petugas berseragam biru, bus kembali mengaspal. Memasuki ruas Rancaekek sekitar jam 20.00 wib tejadi kemacetan karena Banjir. Budiman Yogya berjalan perlahan di belakang Kramat Djati. Terlihat air menggenangi jalanan. Cukup tinggi untuk ukuran sepeda motor. Oh…ini to banjir yang beritanya masuk TV batinku.

Selepas macet, mesin RG mulai dimaksimalkan, KD mulai di tinggal di belakang. Dengan kecepatan cukup tinggi, bus di pacu, bergoyang kanan kiri mendahului kendaraan yang berjalan lebih lambat. Di depan terlihat buritan bus berjalan kencang yang setelah mendekat, tercatat sebuah bus Budiman Cimahi-Tasik bermesin DL / IL. Berdua bus Budiman melaju kencang membelah jalanan berkelok menuju Nagrek. Sedang asyik berduet, terlihat di depan lampu belakang khas bus yang teridentifikasi Sumber Alam berkelas pariwisata. Bus SA cukup mampu bertahan menghadapi determinasi kencang kedua bus Budiman. Tanpa aksi bergoyang dan meliuk, SA pun mulai tertinggal di belakang oleh kedua Budiman.

Masih dengan kecepatan yang tak lambat, Hino RG mulai memburu Budiman Mercy DL / IL Cimahi di depan. Kapasitas mesin yang berbeda segera memindahkan Budiman jurusan Cimahi-Tasik itu kebelakang Budiman Yogya. lepas Budiman Cimahi, terlihat lagi sorot lampu belakang milk Evo Budiman. Sang sopir pun menginjak pedal gas untuk mengejar Budiman yang bertrayek Bandung-Wonosobo. Tak perlu lama dibidik, Budiman Wonosobo sudah tersungkur tertembus anak panah Hino RG Budiman Yogya dan tertinggal di belakang.

21.00 wib

Malam semakin larut di ruas Nagrek. Kecepatan bus masih sama, kencang dan ingin di depan. Sorot lampu kendaraan dari arah berlawanan sesekali menyilaukan mataku yang mulai terserang kantuk. Namun kantuk tak jadi menyerang ketika sayup-sayup terlihat lampu belakang Evo bergoyang di remang-remang jalanan. Pak sopir memburu sosok bus di depan. Sebuah Budiman Bandung-Magelang sedang berjalan sendirian. Jetbus HD Yogya ini segera saja goyang kanan dan menghentak mensejajarkan dan kemudian mendahului Budiman Magelang dan meninggalkanya sendiri di keheningan Nagrek. Mata kini benar-benar terpejam seiring sunyinya jalanan.

Beberapa kali terbangun, diantaranya ketika tiba di pal 3 menuju Garut, lalu di kota Garut yang ada toko toko menjual `Chocodot’. Sekali bus berhenti karena sopir dan kenek mau BAK. Aku juga menyusul turun sekalian ikut BAK. Saat bus kembali melaju di jalanan menanjak, wuungwuuung… dari kanan meluncur deras Daihatsu Terrios putih yang dikejar Suzuki X over Biru yang segera lenyap di kegelapan. Setelah itu kembali terpejam. Aku benar-benar terbangun ketika bus melaju di jalan yang berkontur pegunungan. Kabut yang turun terlihat jelas membatasi jarak tembak lampu. Tebing bekas potongan excavator yang sudah kembali ditumbuhi tanaman menghiasi sisi kanan dan kiri jalanan yang aspalnya masih bagus ini. Bus di pacu perlahan menyusuri jalur pegunungan Garut.

Nampak Rajawali Sonic Hijau Sukabumi sedang ngaso di suatu warung di jalur ini. Pada saat melintas di beberapa tikungan, ketika berpapasan dengan bus dari arah berlawanan, harus berjalan bergantian karena haluan berbelok tidak cukup untuk dua bus. Tak kuat menahan infeksi kantuk serta buaian seat yang empuk kembali menidurkanku.

Kembali terbangun sesaat memasuki kota Tasikmalaya. Bus diarahkan menuju pool Budiman. Sesampai di pool yang memang mirip seperti SPBU, bus di parkir dan kru keluar. Aku ikut keluar sekedar meluruskan dan meregangkan tubuh plus mengeksplorasi bentuk pool. Saat sedang mengeksplorasi, tiba tiba menghampiri seseorang yang menanyakan apakah bus ini akan ke Wanareja dan apakah masih ada Seat. Ku katakan tunggu saja kru nya atau ke kantor tentang ketersedian kursi kosong. Laki-laki tersebut pun segera berlalu. Setelah itu kulihat dia dan rombongan keluarganya keluar dari pool Budiman. Dugaan kuatku mereka pasti menunggu di luar pool dan akan dinaikkan bus ini oleh kru.

 photo SPBUPoolBudiman_zps989d90da.jpg

 photo BudimanPoolTasik_zps5e0d6007.jpg

Letupan energi cair di ruang hampa mendorong torak bergerak mengengkol dan memutar roda belakang bus untuk beranjak keluar pool kembali melanjutkan ekspedisi harian menuju Yogya ( / Bandung).Tepat di depan pool, lelaki tadi dan keluarganya telah menunggu. Bus pun kemudian menaikkan mereka yang terdiri dari seorang suami istri yang membawa seorang bayi dan seorang `makhluk halus tua’ alias nenek. Sang suami istri duduk di emper di samping sopir, sedangkan si nenek berdiri karena tidak ada kursi tersisa. Bus kembali berhenti sesaat memasuki tikungan lepas pool Tasik. Seorang wanita muda yang di antar keluarganya naik ke dalam bus dan ikut mempersempit emper depan. Penumpang tambahan ini semua bertiket naik di atas bus, namun ketika melewati kontrol di Jawa Tengah mereka di samarkan (disembunyikan), membingungkan.

Merasa tidak pantas kalau aku hanya duduk sedangkan sang nenek berdiri, segera saja ku persilahkan beliau duduk di kursi milikku dan aku menggantikanya berdiri hingga tujuanya. (mirip-mirip iklan buktikan merahmu itu lho..). aku berpindah ke depan kenek yang duduk di kursi lipat. Karena mungkin merasa terlalu sesak, kenek kemudian pindah ke tangga pintu belakang. Sekarang aku yang duduk di kursi kenek.

Menyusuri lengangnya malam Tasikmalaya

Jalanan yang lengang nan lebar membuat RG Budiman di hela kencang. Sesekali ku keluarkan suara semacam “kres” atau siulan untuk membantu pak sopir. tak banyak teman sepanjang Tasik sampai rumah makan tempat servis makan. Setiba di RM, kubuka pintu bus menggantikan fungsi kenek. Para penumpang segera berhamburan keluar untuk mengambil servis gratis makan, ke toilet, meregangkan tubuh, ataupun merokok.

Sekedar ku renggangkan otot tubuh sambil memandangi pelataran restoran. Terekam ada Budiman Solo RS Evo yang berangkat satu jam lebih dulu. Budiman yang lain juga banyak memadati area parkir restoran. Kumanfaatkan waktu rehat ini sebenar-benarnya untuk buang air kecil agar tidak ngempet sewaktu di bis nanti.

Malam semakin larut dan satu persatu bus Budiman yang bertujuan ke Jawa tengah mulai berangkat. Kembali ku naik ke atas bus dengan konfigurasi yang masih sama, sang nenek masih duduk di kursi milikku dan aku masih duduk di kursi kenek. Perlahan, bus kembali ke aspal jalur selatan yang menyimpan eksotisme malam, meninggalkan pasir dan debu yang berterbangan di pelataran restoran.

Sorot lampu kendaraan dari arah berlawanan tak membuatku terganggu untuk asyik memandangi hamparan hutan disisi kanan dan kiri. Gelap yang menyelimuti menyiratkan sepinya aktifitas masyarakat di jalur ini pada malam hari. Tak lama, kembali nampak di kejauhan lampu khas RS Evo. pak sopir terlihat mulai bersemangat dan menginjak pedal gas lebih dalam. Budiman Wonosobo menyemburkan asap gelap menyambut kedatangan saudara muda di belakangnya. Determinasi dari Jetbus Yogya ini ditanggapi ciamik oleh Budiman Wonosobo di depanya. Nampak bus Di depanku mulai meningkatkan tensi kecepatanya agar tak didahului oleh bus dibelakangnya. Semburan asap pekat menandakan nafasnya yang kurang sehat ketika bus Wonosobo tersebut berlari mendahului truk-truk di depanya yang juga diikuti bus yang kutumpangi.

Posisi bus tak berubah hingga kontrol di suatu daerah (ga apal daerahnya). Nenek dan sepasang suami istri yang naik dari Tasik sudah turun. Namun bus tetap saja kelebihan seorang penumpang `mbak-mbak’ yang juga naik dari Tasik. Pak kenek memintaku duduk di deret kursi nomor 3-4 yang diduduki seorang ibu dan anaknya yang masih kecil untuk mengelabuhi petugas kontrol. Selepas kontrol, kembali bus berlari mengejar bus Wonosobo yang sudah berjalan duluan.

 

Masih di gelapnya malam jalur selatan

Bus Wonosobo tak lama mulai terlihat. Ketika sedang asyik menguntit bus Wonosobo, tiba-tiba menyalip dengan kencangnya Sinar Jaya berlampu belakang travego lama. Sinar jaya tersebut kini berada di depan bus Budiman Yogya. seolah mendapat teman duet, pak sopir menyelaraskan pedal gasnya dengan kecepatan Sinar Jaya. Setelah dikuntit cukup lama, Sinar jaya berhasil mendahului bus Budiman Wonosobo di depanya yang juga diikuti bus Budiman Yogya. Lama busku menguntit Sinar Jaya karena memang bus tersebut berlari dengan kencang dan tak ingin didahului. Hingga arus lalu lintas di depan seketika macet. Pak sopir dan kenek turun mencari tahu apa yang terjadi. Usut punya usut sebuah mikrobus selip dan melintang di jalur menuju Jawa Barat. Cukup lama menunggu evakuasi bus tersebut. Lagi-lagi kumanfaatkan momen ini untuk buang air kecil.

 photo Tersendatkebumen_zpsb4d41008.jpg

Begitu evakuasi selesai, arus lalu lintas kembali normal. Sinar jaya masih di depan dan berlari kencang. Bus ku pun berusaha mencari celah untuk mendahului Sinar Jaya tersebut. Saat sedang berusaha mendahului, clap-clap,  ada sorot lampu meminta jalan. Kukira bus Wonosobo di belakang, ternyata sebuah pahala Kencana berbaju Tentrem Galaxy Exl yang langsung mendahului busku. Lagi-lagi seolah mendapat teman duet maut, busku kini menyelaraskan dengan akselerasi pahala Kencana. Dentuman besi yang sudah uzur dari suspensi terdengar jelas ketika bus ku menginjak lubang dalam rangka menempel Pahala Kencana. Sekitar pukul 03.00 wib, Pahala Kencana diikuti bus Budiman Yogya yang kutumpangi berhasil mendahului Sinar Jaya di depanya. Bus Budiman Yogya hanya mengekor Pahala Kencana dan berhasil mendahului Bandrex serta Maju Lancar. Setelah itu Pahala Kencana tersebut lenyap tak terkejar di lalu lintas malam.

Setelah ada penumpang  yang turun, akupun dapat kembali duduk di kursi nomor 2. Jalanan yang sepi membuat mata ini tak kuat dan mulai merem. Sesekali terbangun dan kulihat bus Yogya ini sedang berada di belakang Rosalia Indah non AC saat melintasi terminal Kebumen. Kembali tertidur hingga kurasakan riuh ramai di dalam bus. Kubuka mataku mencari tahu apa, wah… bus kini sudah penuh sesak dengan orang-orang berdiri yang menggunakan almamater sebuah PTS di Yogya. cahaya matahari sudah muncul dan membuat suasana kabin bus menjadi terang. Bergegas kulaksanakan solat subuh mengingat hari sudah pagi.

Yogyakarta

Sekitar pukul 07.00 wib, bus Budiman Yogya memasuku terminal Giwangan. Aku turun dan mengucap terima kasih pada kru. Ku berdiri sejenak meluruskan tubuh dan memandang bus Budiman berbaju Jetbus tersebut. Ahh…, pelayanan memuaskan dan kurang memuaskan kurasakan semalam, bus berlari kencang, yang aneh bus di kontrol tetapi penumpang naik di jalan bertiket, sistem apa ini sebenarnya gumamku. Whatever……, . Ku langkahkan kaki menuju parkiran satria-satria biru Krian di terminal giwangan. Sebuah Nucleus lumba-lumba segera kutumpangi meninggalkan merah yang terlihat lebih ramai sewanya.

  photo BudimanLandingGiwangan_zpsa507f113.jpg

Taufik Akbar


Catatan Perjalanan yang lainnya:



awasbus
Ditulis oleh

'seorang penggemar bus dari Yogyakarta'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;