Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Jika hari itu telah tiba, aku akan melepaskan anganku tuk singgah di tempat yang selama ini aku angan-angankan. Entah berapa lama aku harus menunggu, namun mimpi itu harus kulaksanakan.

(prolog)

Pagi hari pada akhir pekan, terbangun dan masih tetap membuka mata di tempat yang mengaku sebagai kota megapolitan. Minggu, 2 Mei 2010. Kubangunkan pagi mata ini, karena dengan satu tujuan bahwa hari ini ada pertemuan rapat anggota. Ku SMS temanku, dan kita janji berangakat jam 08.00 wib. Mata ini sudah terbangun sejak jam 06.00 wib (waktu yang standar tuk bangun). Mengurus hal yang berkaitan dengan kebersihan badan dan mengurus perut yang kosong melompong.

Semua persiapan siap dilaksanakan, hingga pada pukul 07.45 ku langkahkan kaki ini keluar dari pintu rumah dan yang ku tuju adalah palataran depan halte, yang menurut pemegang kekuasaan halte tersebut adalah salah satu sarana yang menunjang alat transportasi massal untuk menanggulangi masalah kemacetan. Ku tegakkan kaki ini di belakang halaman satu-satunya universitas yang menyandang status negeri di kota megapolitan ini dan telah banyak ‘Umar Bakri’ yang tercipta dari tempat ini. Menunggu kedatangan seorang teman yang akan bersama menuju tempat rapat. Aku menunggu di pinggir jalan yang ‘tak pernah tua’, sembari sesekali ku tengok angka jam digital di handphoneku. Kisaran waktu jam delapan lewat setitik (sedikit), datanglah Teguh dan kita berangkat ke daerah Cinere.

Singkat cerita, sekitar pukul 09.20 wib kita sudah berada di depan gerbang perumahan namun menunggu waktu hingga teman-teman yang lain datang kita putuskan untuk tidak masuk terlebih dahulu ke rumah Pak Didik. Baru sekitar jam 10.15 wib, kita putuskan tuk masuk ke area perumahan, di depan gerbang sudah dijaga oleh pihak keamanan dan bagi para tamu wajib menyerahkan kartu identitas (KTP) pada pihak keamanan. Lalu tibalah di rumah Pak Didik dan sudah ada beberapa teman-teman di sana.

Acara rapat berlangsung secara serius dan santai, banyak pendapat dari masing-masing korwil diutarakan di sini. Inilah rapat salah satu komunitas penggemar bis di Indonesia. Di sela rapat dan istirahat, munculah ajakan dari salah satu rekan, “siapa yang mau menemani saya keliling jawa jualan ban bis?” Tanya Om Riyanto kepada teman-teman yang menghadiri rapat. Keliling Jawa? Inikah kesempatan itu? Kesempatan tuk touring yang selama ini aku pendam? Agak ragu juga menerima tawaran ini. Tapi inilah BMC, pasti ada saja yang menjadi ‘kompor’,,,hehehhehehhe……’sudah pik, ikut saja! Kapan lagi kesempatan seperti ini bisa datang?’ ujar sebagian rekan dan tentunya bisikan dari dalam hati. Tuk saat ini aku belum bisa mengiyakan tawaran tersebut, karena aku tetapkan kepastianku ikut atau tidak adalah besok pada hari senin. Maklum, masih kepikiran tugas kuliah sing semakin ora genah (yang semakin tidak jelas).

Setelah selesai rapat, selanjutnya teman-teman menghadiri acara kopi darat yang dilangsungkan di Terminal Lebak Bulus. Nah, di sinilah niatku tuk ikut jualan ban dengan Om Riyanto di ranah Pulau Jawa agak goyah dan perlu dipertanyakan kembali. Apa benar aku harus mengambil keputusan ini? Keputusan untuk menemani Om Riyanto yang disebutnya sebagai road show. Tapi kalau kesempatan ini tidak diambil, apa ada kesempatan seperti ini lagi? Ya sudahlah, tunggu saja kondisi esok hari, apakah niat ini dari dalam hati atau hanya panas hati?

Senin, 3 mei 2010. Saatnya bangun tuk kuliah pagi agak siang. Kuliah jam 10.00 wib, pagi juga tidak, siang juga belum datang. Bajigur Jangkrik, sudah selesai mandi ternyata dapat info bahwa hari ini tak ada kuliah. Ya sudah, terlanjur sudah rapi sekalian aja ke kampus tuk berpamitan dengan salah satu temanku. Sesampainya di ruang fakultas, baru aku tahu alasan mengapa fakultas ini libur, ternyata fakultas ini sedang merayakan hari jadinya yang ke….ahhhh sudahlah I don’t care, mau seberapapun umur fakultasku, itu bukan urusanku. Acaranya sendiri digelar di depan pelataran parkir fakultas, tapi niatku bukan tuk menonton acara ini, aku ingin menemui temanku. Kegiatan Short Massage Service pun dilakukan hanya sekedar tuk tahu keberadaannya. Sudah SMS yang kesekian, akhirnya ketemu juga. Berpamitan sebentar lalu pergi lagi. Lho kok pergi lagi? Ya kali ini tujuanku ke Agen PO. Rosalia Indah di Cijantung, kali ini ingin menyerahkan keperluan untuk magang/PKL di tempat kerja Mas Roy. Selesai keperluan itu semua, saatnya kembali ke kontrakan tuk beristirahat dan bersiap mengemasi pakaian tuk perjalanan esok hari. Telah aku tetapkan hati dengan nawaitu yang mungkin baru 75%, mengapa baru di kisaran angka ini? Yang pertama adalah bahwa aku belum membuat surat izin kepada dosen, jadi go show saja, apapun nanti yang terjadi pada kuliahku maka itulah konsekuensi dari apa yang telah aku korbankan. Karena saat ini bukan waktunya tuk berpikir keras sebagai seorang mahasiswa yang sok intelektual dengan banyak perhitungan. Sekali-kali bolehkan tidak serius dulu dalam bidang pelajaran. Karena satu alasan mengapa aku begitu tak memperhitungkan konsekuensi tugas kulian, karena aku mulai jenuh dengan suasananya yang tak berubah dengan individualitas kelompok. Cukupkan aku mengolok sedikit tentang kondisi kuliahku?

Istirahat,istirahat……

Prepare pakaian, semalam sudah menyetrika dan sekarang tinggal dikemas ke dalam tas. Semalaman tak enak tidur bagai insan merindu dalam kasmaran (haaallllaaaahhhh….). Gluntang-gluntung membenarkan posisi tidur tapi masih tetap mata ini enggan tertidur, waduh, kalau begini besok bisa kesiangan dan tidak bisa menikmati perjalanan padahal waktu sudah hampir menjemput angka jam 12 malam yang artinya bersiap tuk menuju hari berikutnya. Teng….sudah jam 01.00 wib, menginjak hari H (selasa), namun mata tetap enggan terpejam. Masih tetap sibuk berceloteh dalam hati ‘kapan mata terpejam dan siap menyandarkan rasa penat ini dalam peraduan keheningan malam?’ Tunggu-tunggu dan menunggu, akhirnya sekitar jam 03.00 wib bisa juga kupejamkan mata ini. Lha kok mengapa aku tahu jam berapa aku tidur? Kan ada jam yang sering dan terus aku lihat angkanya.

Selasa, 4 Mei 2010…..hari H (hari pertama)

Ddhhheeerrr…….ddhheeerr…dddhhheeerrr……kkukukruruyuukkkk….pekpekpekpetokkk…… Getaran dan alarm jam dari HP ku membangunkan mata kantukku ini. Tepat jam 04.30 wib terbangun, bersiap tuk melakukan ritual pembersihan tubuh. Selesainya, mengudap mie instan sebagai ganjalan perut sesaat. Kulihat lagi jam HP ku, sudah saatnya aku beranjak menuju start point di Terminal Rawamangun karena ini sudah jam 05.52 wib dan kita akan berangkat jam 06.00 wib dari sana. Naik Metromini, waduh Cuma ada tiga orang, maklum baru angkatan pertama soalnya. Tak lama kunaiki, supirpun mengarahkan kendalinya ke SPBU tuk memberi makan alat transportasi sekaligus alat rumah tangga ini. Lanjut berjalan ke arah tujuan, setibanya aku ulurkan tangan ini dengan selembar uang. ‘gak ada uang pas aja bang?’ Tanya si supir, ‘wah gak ada bang.’ ‘yaudah bawa aja!’ dan itu artinya baru kali ini aku BDB (Bebas Dari Biaya) Metromini, hhehehehe……

Aku tunggu di Agen PO. Pahala Kencana sesuai dengan arahan Om Riyanto, waduh sudah jam 06.08 wib. SMS Om Riyanto, dan langsung dijawab ‘Waduh, sorry aku bangun kesiangan, OK kita jadi.’ Selang waktu 1 jam kemudian, datanglah Om Riyanto dan langsung menuju target yang pertama yaitu Majalengka. Perjalanan ini adalah tugas kerja pribadi Om Riyanto dalam memasarkan produk ban, namun cerita ini sendiri aku buat bukan menyasar pada ban yang dijual namun mengenai sedikit data yang mungkin belum lengkap betul tentang kunjungan ke PO-PO yang akan kita singgahi dari kota ke kota.

Mulai menyusuri tol dalam kota tuk menuju Tol Cikampek, kondisi jalanan terhitung masih lengang. Namun ada kepadatan untuk ke arah Cawang dari arah Bekasi, biasalah jamnya kerja dan beginilah wajah Jakarta. Sempat singgah sebentar di rest area KM 57 tuk membeli minuman. Perjalanan pun dilanjutkan dan kita akan mengambil route Pantura. Keluar Tol Cikampek, berhenti sebentar tuk membeli tahu goreng dan lontong. Area Pantura masing lengang jalanpun lancar. Sesekali membuntuti dan mendahului (baca: ngeblong) kendaraan yang berjalan di depan.

Laju mobilpun agak diperlahan karena ingin masuk RM. Uun, kok masuk sini ya? Apa mau makan di sini? Banyak PO. Dedy Jaya yang terparkir. Om Riyanto mengeluarkan sebuah alat yang aku belum tahu fungsinya untuk apa. Ternyata, Om Riyanto sedang melakukan sidak (inspeksi mendadak) mungukur kembangan ban bis itu, ternyata alat tadi untuk mengukur ketebalan kembangan ban. Ada sekitar 6 unit bis yang kena sidak, sidak ini dilakukan pada bis yang memakai produk ban dari Om Riyanto. PO. Dedy Jaya adalah salah satu konsumen dari ban itu dan PO ini akan mengalihkan semua penggunaan ban biasa ke ban tubeless. Ini tentunya pangsa pasar yang besar.

Lanjut lagi perjalanan menuju Majalengka, berjalan masuk jalur Seceleng. Deretan konvoi truck mengekor panjang, satu per satu dapat didahului namun sewaktu ingin mendahului truck yang terdepan tiba-tiba, dhekkkk……spion kiri mobil nyenggol bak truck. ‘gak apa-apa, itu namanya stick. Jadi nyenggol sedikit body tapi gak akan parah hasilnya, paling cuma lecet.’ Terang Om Riyanto sang driver. Selepas pasar Jati Barang, terdapat lampu merah, di pertigaan itu kita ambil kanan ke arah Widasari.’Pik, tapi aku belum pernah ke Majalengka lewat sini.’ Waduh, nyasar gak ya? Terus mengikuti arus jalan, sempat bertanya jika bertemu dengan persimpangan jalan. Arah kita menuju perbukitan.

Papan petunjuk jalan ke arah Majalengka semakin jelas dan kita semakin dekat dengan daerah itu. Memasuki area Majalengka, suasana religius daerah ini sudah terasa, sesekali terlihat jajaran papan yang terbuat dari seng bertuliskan huruf arab dan cara baca serta artianya dalam bahasa Indonesia. Semakin ke selatan udara semakin sejuk dirasakan. Jajaran perbukitan mangapit daerah ini, memberikan hawa kesejukan bagi mereka yang telah terbiasa bergelut dengan panasnya kota.

Jalan Tegal Sari, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka. Di sinilah home base PO. Metropilitan berada, PO dengan warna dasar bis putih dengan kombinasi gambar dengan corak daun berwarna hijau, kuning dan biru ini bergarisikan tepat di jalan menanjak. Tak terasa akhirnya sampai juga pada pukul 12.15 wib. PO ini berkantor pusat di sini dan juga membuka cabang perwakilan di Bekasi (Jawa Barat) dan Tegal (Jawa Tengah). Dengan rincian bahwa di kantor pusat ini memiliki sekitar 45 unit armada. Di bekasi terdapat 22 unit armada dan di Tegal ada 13 unit armada. Dari total armada tersebut, PO. Metropolitan memiliki 9 unit bis bermesinkan VOLVO B7R, 9 unit bermesinkan MB dengan chasist OH 1525, 4 unit MB OH 1526, 5 unit bis ¾ bermesinkan Hyundai dan sisanya adalalah unit dengan mesin MB intercooler. Selain menggunakan beberapa jenis varian mesin, PO. Metropolitan juga menggunakan beberapa jenis varian model karoseri sebagai ‘seragam’ kebanggaan, sebut saja ada Karoseri Adi Putro, Rahayu Santosa, Merpati Bali, Tentrem dan MBM untuk unit armada ¾ nya. Semua unit bis memakai pendingin udara alias AC.

Sebelum menjadi berkembang seperti ini, dulu PO. Metropolitan merintisnya dengan unit mikro bis (elf) untuk angkutan antar daerah Majalengka saja. Setelah itu dikembangkan dengan membeli 6 unit armada bis 3/4 bermesinkan Mitsubishi yang melayani trayek Bekasi-Majalengka. Pada tahun 1996, Metropolitan membeli 1 unit armada bis besar dan akhirnya berkembang hingga sekarang. Untuk keperluan pemesanan armada, bisa hubungi nomor telepon (0233) 284 335.

Tak terasa sore pun menjelang dan tugas di Metropolitan telah usai, saatnya menuju ke Tegal. Selepas Azhar, roda mobilpun bergulir kembali, kali ini menyusuri jalanan yang menurun ke arah Cirebon. Tak lupa mencicipi kuliner khas yaitu Sop Dengkil yang hangat, setelah itu lanjut. Pemandangan selama diperjalananpun masih tetap asri tuk dinikmati, namun agak mendekat ke Cirebon memang semakin agak panas. Melewati depan Terminal Cirebon terlihat suasana biasa saja, tak ramai juga tak sepi. Terus mengarah ke arah timur dan diputuskan tuk melewati Tol Pejagan. Sebagai catatan adalah baru pertama kali ini aku melewati Tol Pejagan yang pengerjaannya dikerjakan oleh ‘tangan’ Bakrie. Kontur jalan pertama memang dirasakan mulus dan kendaraan dapat melaju denagn kecepatan maksimal. Namun hati-hati jika akan melewati jembatan, karena konstruksi sambungan jalan dan jembatan di tol ini kurang sempurna. Mengapa demikian? Karena saat melewatinya maka kendaraan akan terasa ‘loncat’ (ini mobil apa kodok?). Jalan yang lengang, lebar dan bebas hambatan tak selama berkahir dengan menyenangkan. Buktinya sewaktu akan keluar dari tol, ada truk container yang terperosok di sebelah kiri tol. Ternyata tol itu juga tak bisa menjamin 100% perjalanan jadi aman. Yang mengherankan lagi, sewaktu ingin keluar pintu tol ternyata jalurnya dialihkan dan dibuat jalur darurat. Wah, ternayata jalan yang di jalur keluar amblas, waduh, ini salah kostruksi atau salah pengerjaan, sekelas Bakrie gitu loh?.

Keluar Tol Pejagan jalan memang sempit dan hanya cukup untuk kres saja. Menyusuri Jalan Raya Cimohong, Brebes. Om Riyanto menunjukkan target selanjutnya yaitu PO. Dedy Jaya. Tapi itu untuk jadwal hari esok dan tuk sekarang kita menginap dan beristirahat dulu di Tegal.

Bermalam di Kota Tegal dengan kuliner malamnya yaitu Nasi Ponggol dan tahu goreng. Setelah itu kita main dulu ke kantor perwakilan PO. Pahala Kencana menemui rekan lama dari Om Riyanto. Bermalam di Tegal, memang aku rasakan ada keanehan karena memang inilah yang biasa aku rasakan jika bermalam di tempat yang baru pertama aku singgahi.

Rabu, 5 Mei 2010…….(hari kedua)

Bangun pagi, prepare tuk ke PO. Dedy Jaya. Sebelumnya srapan Lontong Bongkok dulu. Setelah itu menuju alun-alun Brebes tuk bertemu dengan teman Om Riyanto dan kita dijamu dengan hangatnya kenikmatan Teh Poci gula batu, setelah itu langsung ngeblas ke Dedy Jaya. PO yang sudah termasyur karena kegigihan usaha dari sang owner yaitu Bapak Muhadi.  Mulai berangkat, jalanan dipenuhi bis yang menuju ke barat. Setibanya di sana, baru kali ini menjamah home base Dedy Jaya. Ruang parkiran dan reparasi bis terlihat luas dan sederhana. Yang masih aku sayangkan adalah dengan lahan yang luas untuk menampung kurang lebih 225 unit armada, tapi kok belum ada lay out yang jelas mengenai area reparasi bis. Soalnya ada beberapa unit sedang direpasi namun mengambil area depan bis yang parkir walaupun masih berada dalam pintu gerbang. Lalu tentang hal kebersihan, kebersihan menurutku kurang baik. Karena ada sampah yang tercecer namun karyawan yang lalu lalang tetap saja cuek bebek. Sampah dan kotoran itulah yang banyak mengundang lalat. Aga risih dengan banyaknya lalat yang berseliweran tanpa permisi. Maaf, jika hal ini terlalu mengkritik karena ini juga untuk segi yang bisa diperbaiki lagi oleh pihak Dedy Jaya. Namun, memang harus diakui, sang owner adalah pengusaha yang berhasil. Tak hanya PO, namun beliau juga memiliki Rumah Sakit, Hotel, Mall, SPBU, Sarana Rekreasi, Toko bangunan dan lain-lain yang mungkin teman-teman sendiri telah banyak mengetahuinya.

Masuk ke jam istirahat makan siang, diputuskan tuk makan siang dengan Pecel Belut. Berangkatlah kami dengan Pak Edi dan Pak Untung tuk siap menyantap makanan yang memang aku sendiripun masih penasaran. Pecel Belut, nama yang telah disematkan pada kuliner khas Brebes yang satu ini, karena memang bahan dasar yang utama dari lauknya adalah Belut. Dengan campuran ulekan bumbu kacang dan irisan tomat serta bawang merah maka siaplah disantap dengan 1 piring nasi panas. Setiap gigitannya mengundang sensasi karena sering juga mengggit duri belut. Aku kira bentuknya tak sebesar ini, soalnya ku biasanya dulu mengudap kripik belut yang secara ukuran lebih kecil.

Selesai makan, kita lanjut lagi pulang ke garasi Dedy Jaya. Hingga menjelang waktu Azhar, urusan di Dedy Jaya pun usai. Adapun di Dedy Jaya, kami juga menyinggung perihal rencana kunjungan BMC ke Dedy Jaya dan dari pihak Dedy Jaya pun siap menerima kita.

Lanjut pulang ke penginapan, menyusuri Jalan Kolonel Sugiono lalu singgah sebentar di Garasi PO. Tegal Indah. PO pariwisata ini memiliki 11 unit armada yang diantaranya memiliki 2 unit armada ¾. PO yang memiliki corak body dominan putih ini beralamatkan di Jl. Kolonel Sugiono No. 18, Tegal dengan owner bernama Bapak Kartono. Untuk pemesanan juga bisa menghubungi (0283) 340756/356676. Dahulunya Bapak Kartono ini ‘bermain’ di bidang angkutan truk yang biasa memuat angkutan barang yang berada di sekitar Tegal untuk didistribusikan ke luar kota dengan nama truk-nya adalah ‘SM’. Selepas berbincang, kami pun pamit undur diri, maklum sudah sore dan harus beristirahat karena besok subuh harus sudah angkat kaki dari kota ‘tahu aci’ ini.

Menu tuk makan malam kali ini memang sangat berbeda yaitu nasi kuning, karena tuk merayakan ulang tahun Om Riyanto yang tepat jatuh pada hari ini. (Selamat ulang tahun ya Om.)

Setelah makan-makan usai, aku minta lanjut main ke kantor perwakilan PO. Pahala Kencana lagi. Ingin memanjakan mata dengan panorama bis malam pantura, namun memamng tak lama karena harus mengingat besok subuh harus ke Purwokerto. Ya sudah kita balik dan ….zzzzzzzz…….zzzzzz…..(ikutin gaya tulisan caper temen-temen kalo menandakan bahwa mata terpejam).

Kamis, 6 Mei 2010…….(hari ketiga)

Jam 04.00 wib, waktunya bangun dan menyiapkan semua keperluan menuju selatan. Tepat jam 05.00 wib sesuai jadwal, kita sudah angkat kaki dari kota ‘tahu aci’. Tentunya masih dengan suasana yang gelap dan hanya berteman bis yang baru datang dari barat menuju ke Puertorico (Purwokerto).

Panorama jalan meuju jalur selama memang memberikan suasana yang sejuk, hamparan sawah di kanan kiri jalan dan jajaran pohon yang meneduhkan. Disekitaran Bumi Ayu, diparkirkan sejenak mobil ini karena kondisi Om Riyanto masih mengantuk dan sekitar setengah jam kita berada di pinggiran jalan raya dan aku tetap masih menahan pipis karena efek dari dinginnya udara pagi dan AC mobil. Mata sudah dirasa siap untuk mengintervesi pandangan jalanan, maka guliran roda Xenia pun mulai digelindingkan.

Bersiap memasuki area Purwokerto dan menuju ke PO. Teguh. Sempat beberapa kali bertanya dan akhirnya ketemu juga garasinya. Lha kok dilalah (opo bahasa indonesiane iku?) harus menuju arah kantor saja atas instruksi dari karyawan di sana. Lha kok dilalah lagi kantore tutup jeh…..masih jam 8-nan, ya sudah lanjut ke trip berikutnya menuju ke Banjarnegara. Jadi di Purwokerto tak ada PO yang kita singgahi.

Mencari arah menuju Pasar Purwonegoro seperti yang diaba-abakan teman Om Riyanto di selulernya. Di dekat pasar inilah salah satu PO pariwisata bermarkas. PO itu bernama VANDAMA, beralamatkan di Jalan Raya Purwonegoro RT 01/1, Banjarnegara. Sekarang Vandama memiliki 10 unit armada pariwisata dan 4 diantaranya adalah ex-dari SAFARI pariwisata. Dahulunya pada kisaran Tahun 1997/98, Vandama bermain di jalur Semarang-Purwokerto, karena dirasa persaingan semakin ketat dan lahan pariwisata dirasakan semakin menggoda maka semua unit armada dan operasi dialihkan ke lahan garapan pariwisata. Semua unitnya bermesinkan Mercedes Benz. Ada satu lagi hal yang menggelitik, pada saat saya tanyakan arti kata Vandama kepada sang owner yanitu Mas Rivan, beliau malah bertanya balik kepada saya (apa arti Vandama menurut Mas sendiri?) lha ini kok yang nanya yang harus jawab, gimana toh?. Lalu dengan tertawa ringan ia jelaskan arti kata Vandama. Vandama itu gabungan dari 2 nama, yaitu Van yang diambil dari nama Mas Rivan dan Dama dari Damayanti yang tak lain adalah adiknya sendiri, maka jadilah Vandama. Untuk pemesaran unit sendiri bisa melalui (0812 155 8484) dengan Pak Toha.

Selesailah sudah kunjungan ke PO. Vandama, selanjutnya adalah Wonosobo (tempat kedua dalam anganku). Waktunya merasakan udara dingin perbukitan Dieng.

Dieng, biarkan aku sejenak menjadi pujanggamu, membaitkan uraikan sajak yang kuuntai dalam gumaman mulut sesaat, ku rayu lembut eloknya ronamu, sejuk alammu, sang dingin yang menjadi penarik hatimu diantara jajaran terik menyengat suasana kota besar di sana, dan biarkan angan ini kusematkan di tingginya punggung dataranmu dan sambil mengingat kembali dan berkata dalam hati ‘Dieng, aku bisa kembali lagi memenukan kesejukan dalam dinginnya hati’.

Menuju Jalan S. Parman No.64 Wonosobo, di mana PO. Dieng Indah berkantor (0286) 321297. Tak berapa lama kita pun menuju ke garasinya. Mendapati beberapa unit yang siap beroperasi, sebagian perpal dan sebagian lagi dalam reparasi. Sempat ku tanyakan tentang sesuatu kepada salah satu montir tentang kebenaran keberadaan unit Dieng Indang yang bermesinkan V-Engine, karena bentuk rupanya memiliki overhang depan yang panjang namun bermesinkan MB intercooler dan unitnya pun ada di situ. Dan muncullah keterangan dari sang montir bahwa Dieng Indah tak mempunyai mesin V tersebut, yang ada adalah mengapa overhang depan armada RS Celcius itu lebih panjang? Karena body bis sendiri dibeli secara second dari bis yang sebelumnya memakai mesin Volvo, jadi itulah jawabannya mengapa overhang depannya lebih panjang. Namun mau dipercaya atau tidak itu terserah rekan-rekan yang mungkin memiliki data yang lebih akurat lagi. Soalnya sempat juga mengingat anekdot dari teman-teman yang berbunyi ‘jangan percaya omongan crew!’ kalimat yang selalu membuat mosi tidak percaya atas omongan atau keterangan dari crew perihal benar atau tidaknya suatu info. Karena cuaca mendung dan tidak mendukung, maka kami percepat langkah keluar kami dari garasi tuk menuju warung makan tuk mengisi perut yang kelaparan. Hujan deras sebagai pengiring teman disaat menyantap makan siang, angin berhembus kencang yang semakin mendinginkan kondisi badan dan aku senang dengan kondisi ini.

Tak menunggu hujan reda, kita langsung menuju ke Temanggung. Inilah yang aku ingin lihat kembali dari panorama asri dan sejuknya Wonosobo dan dengan kalimat yang sampai saat ini masih tertambat dalam hati ‘Pusaka ning jiwa Pujangga Nyawiji’, sebetulnya aku tak tahu betul maksud dari kalimat ini tapi tak usah perdulikan itu, yang penting enak untuk diucapkan maka teruskan. Hamparan bukit permadani beralaskan hasil bumi, kabut seakan menahan pandangan mata menuju daerah selanjutnya dan seakan menahan dan mengajak singgah di sini. Namun saying, diantara pemandangan yang memanjakan mata, ternyata perbukitan di seberang sana sudah gundul di atas pemukiman warga yang bernaung di bawahnya, akankah….?

Memasuki area Temanggung udara kembali mengahangat, saatnya kita bermain ke kandang gajah. Tepat di Jalan Dewi Sartika No.39 inilah keluarga gajah bermukim, terlihat kandang yang begitu tertata rapih dan bersih mengisyaratkan bahwa operasinalnya dijalankan secara baik. Tapi apa itu benar? Coba sebentar aku tengok unit non-AC, sepertinya terlambat diremajakan ya? Kok terlihat lusuh sendiri, sedangkan gajah yang lain terlihat kinclong. Tahukan apa maksud ‘gajah’ di sini? Ya inilah PO. Safari Dharma Raya (OBL), dengan layanan sambungan telepon (0293) 492828. Lahan garasi luas, pokoknya enak kalau dipandang. Sekitar kurang lebih 2 jam kita di sana. Sampai pada akhirnya harus kita langkahkan kaki tuk menunggangi kendaraan 1000cc ini. Selanjutnya adalah menuju Kulonprogo, menyambangi saudara dari Om Riyanto.

Perjalanan menuju Magelang diiringi hujan, melewati depan jalan Karoseri New Armada berada (ternyata di sini posisinya). Untuk menemani perjalanan, sebungkus gorengan tahu tempe dan dan mineral berhasil kita tebus, tentunya juga dengan buah tangan tuk sanak saudara di sana. Menuju Kulonprogo disajikan dengan kesunyian dan terbatasnya badan jalan. Suasana lintasan yang berkelok menambah kuatnya gigitan mulut ini mencengkram hangatnya gorengan tahu tempe.

Adzan Maghrib berkumandang iring langkah kita menjajaki Kulonprogo. Sesampainya di sana, kita dijamu secara hangat dan maafkan kami karena tidak bisa menginap semalan di sana karena harus menuju jantung kota Sri Sultan. Berpamitan lalu kita gulirkan kembali kendaraan 3 silinder ini menuruni Kulonprogo dengan diiringi 1 album lagu dari Stinky.

Kita sudah ada janji dengan Mas Febri BMC Jogja, janjian ketemu di sekitaran ring road (aku gak tahu yang sebelah mana, lha wong bingung jehhh….)

Akhirnya bisa bertemu dan singgah di kost-an Mas Febri, kegiatan selanjutnya adalah MAMAT Sih (MAlam juMAT besrsih). Lalu bersiap mencari hidangan malam khas plat AB, semua bawaan berat dikeluarkan dari mobil antara lain 1 tas ransel, 1 koper travel, 1 tas punggung, 1 tas jinjing dan sekarung Beras buah tangan dari keluarga tercinta dari Kulonprogo.

Target kuliner kita kali ini belum ditentukan, karena menunggu rekomendasi dari Mas Febri. Aku Om Riyanto dan tidak terlalu suka makanan yang manis (kan sudah manis…hehehheeh…..), maka dapat wangsit dari Mbah Febri kita harus melangkahkan kaki kita bertiga ke oseng-oseng mercon. Lokasinya pernah dikunjungi oleh Pak Bondan dalam salah satu acara kulinernya yang sering kita mengingatnya dengan ungkapan ‘Mak Nyus’.

3 porsi oseng-oseng mercon dan 1 porsi bebek goring tersaji dengan pasrah di depan predator kuliner, siiiikkkkkaaattttt……..eh…selamat makan. Oseng-osengnya emang pedes banget, bercucuran keringat, mata nangis dan ujung-ujungnya pasti ketagihan. Puas menyantap oseng-oseng mercon, kita lanjut berkeliling ke Malioboro, sempat melewati ‘Sarkem’, aku mau tahu lokasi Sarkem itu dimana, udah lama penasaran tapi aku takkan mencoba. Setelahnya ya kita menginap di kost-an Mas Febri. Badan pegal mata ngantuk, ditambah satu lagi rasa pedas oseng-oseng mercon waktu di mulut itu tidak seberapa namun panas di perut sungguh terasa. Sempat berpikir ‘sebenarnya penjual oseng-oseng mercon di Jogja pernah mencicipi masakannya atau tidak ya?secara meraka itukan identik dengan makanan manis.’ Dan memang yang banyak menikmati oseng-oseng mercon adalah orang dari luar kota, terimakasih Jogja karena bisa memanjakan lidah.

Jum’at 7 Mei 2010….(hari keempat)

Kira-kira bangun jam 06.00 wib, siap-siap soalnya stage selanjutnya adalah Kebumen ke PO. Efisiensi. Kegiatan JumSih (Jum’at Bersih) pun cepat dilakukan, berbegas kami bertiga ke kediaman Mas Desika sekitar jam 08.00 wib, karena sudah janji akan bersambang ke rumah ‘Mbak Efi’ bersama. Rumah Mas Desika berada di Daerah Gamping, setibanya di sana ternyata sudah ada 3 tamu dari BMC Sragen. Ngopi-ngopi sejenak lalu berangkatlah kita ke Kebumen. Waktu tempuh cukup panjang, kita melewati proyek jalur selatan yaitu jalur yang sering disebut dengan Jalan Daendles, kita bisa menghemat beberapa waktu jika melewati jalur ini.

Jam 11.00 wib, sampailah di kediaman ‘Mbak Efi’. Inilah kerajaan Efisiensi, PO yang bisa dikatakan telah mendominasi jalur Purwokerto-Jogja dan Cilacap-Jogja. Menunggu sang owneryang biasa disapa dengan panggilan Pak Eri memang agak lama. Sempatkan mata memandang armada yang keluar masuk di home base yang berada di Jalan Raya Wonosari KM 6, Kebumen dengan sambungan telepon (0287) 384444. Di sini rest area bagi penumpangnya, jika yang bertujuan ke Bandara Adi Sucipto Jogja dari Purwoketo ataupun Cilacap, tiket shuttle bus gratisnya bisa didapatkan di loket tepat di depan parkiran bis secara gratis.

Sekitar jam 11.30 wib, seseorang yang kita tunggu akhirnya tiba juga. Namun tak lama perjumpaan kita, hanya sekitar 15 menit karena waktu mepet ke Sholat Jumat dan kita kembali ke Jogja. Dari perbincangan yang singkat itu, bisa didapat sedikit info bahwa jumlah unit armada Efisiensi berjumlah 60 unit. Namun uniknya armada itu tak semuanya armada tetap karena Pak Eri juga menjalankan bisnis jual beli armada bis namun walaupun ada armada yang dijual dan membeli yang baru kembali namun angkanya tetap berada pada 60 unit. Sempat juga melihat 1 unit armada OH 1526 dengan balutan new travego marcopolo Adi Putro dengan 3 ciri khas klakson yang dikerangkeng diatas atap bis dan sayangnya ini adalah unit yang siap untuk dijual bukan untuk trayek.

Sesampainya di Jogja (Jogja Kembali), kita singgah di garasi PO. Ardian Transport. Beralamatkan di Jalan Hayam Wuruk No.37 Yogyakarta. Nomor teleponnya banyak nih, (0274) 741993, office (0274) 586695, 557557 (hunting), fax (0274) 586901, 566436, e-mail: ardiantransport_517@yahoo.com. PO pariwisata ini memiliki 8 unit armada. Kita langsung bertemu dengan sang owner yaitu Mas Dolin Ardian. Beliau bisa dikatakan masih berumur muda dalam usaha bis ini. Sekitar kurang lebih 1 jam kita berbincang, aku, Om Riyanto dan Mas Febri pamit tuk berkunjung ke PO selanjutnya. Mas Desika sendiri masih ada keperluan di Ardian dan tetap tinggal di sana.

Lanjut makan siang, kali ini menunya adalah masakan Padang. Cari yang murah aja, yang penting halal dan bisa mengobati sakit lapar.

Go…ke PO. White Shark dan PO. AO Transport, namun sayang tak mendapatkan info dan data yang bisa dimasukkan ke dalam catatan ini. Tapi Mas Febri sedikit mengingat bahwa yang diingatnya adalah istri dari pemilik White Shark itu orangnya cantik banget. Bahkan teman-teman BMC jika ada kopdar/kunjungan ke White Shark pasti ingin melihat istri dari sang owner. (iki piye toh,Lik? Bis-e sing di senengi udu wonge.) tapi itu adalah isyarat bahwa pria di BMC masih normal karena masih ada respon dengan wajah wanita bukan hanya berkutat dengan semoknya body bis.

Urusan selesai, siap ke PO. Tunggal Daya pariwisata yang berada di Jalan Ringroad Barat No.5 dengan hot-line (0274) 617301. Langsung bertemu dengan Mas Pungki. Yang menjadi perhatianku adalah 2 unit SCANIA ex-dari EZRI dan Colby Persada, akhirnya aku dapat melihat rupa mantan unit bis kebanggaanku. Salah satu dari Scania itu berbalut Morodadi Prima setra yang siap pada malam hari ini membawa rombongan mahasiswa ke Jakarta. Yang satunya lagi berbalut Adi Putro setra. Total ada 20 unit armada yang dimiliki oleh Mas Pungki. Bannya aja sudah diiisi pakai gas nitrogen tuk menjamin kenyamanan. Namun waktu terus mengejar ke pukul 16.30 wib. Itu tandanya harus pamit ke Mas Pungki, karena ada kopdar dengan BMC Jogja di PO. Karya Jasa. Tancappppppp…………

Jam 16.30 wib, sampai juga di garasi PO. Karya Jasa. PO pariwisata yang memiliki jumlah armada terbesar di Jogja ini mempunyai 29 bis besar AC dan 2 diantaranya OH 1526, 16 bis besar non-AC, 14 bis ¾ (Hino dan Dongfeng). Ternyata acara ini adalah untuk test ride salah satu OH 1526 yang dimiliki Karya Jasa. Lumayan bisa coba mesin baru, soalnya pas di IIBT belum cicipi OH 1526 LAKSANA. Lama menunggu hingga tak terasa Maghrib menjelang dan barulah ada info bahwa tidah jadi menggunkan OH 1526 dan diganti dengan Dongfeng. Sewaktu si Dongfeng akan dipanaskan, terjadi ketidakberesan di panel AC dan akhirnya dikembalikan lagi kita mencoba OH 1526 Legacy, cihuyyy….cing.

Maklum bis baru masih bau toko, hehehehe….

Buaian leave spring-nya belum begitu terasa, siap memutari Jogja dengan fasilitas 10 unit LCD TV. Kita dijamu oleh Karya Jasa di Restauran Lombok Idjo, menunya ayam goreng dan es the cukup untuk menu makan malam sekalian. Selesai makan-makan senda gurau ala BMC Jogja, saatnya balik ke garasi Karya Jasa, mengantarkan Mas Desika ke rumahnya yang sudah ditunggu oleh tamunya dan kami pun pulang ke kost-an Mas Febri. Perut kenyang, tidur pun lancar, tapi sebelum tidur ada baiknya FB-an dulu.

Sabtu, 8 Mei 2010…..(hari kelima)

Next, garasi PO. Tami Jaya kita singgahi di pagi hari. Mbak Tami rumahnya beralamat di Jalan R.E. Martadinata No.84, Yogyakarta. Bisa berhubungan dengan Bpk. Yanto di 0811250147. Berarmadakan total 25 unit armada berbasis Mercedes Benz dan Hino. Garasi sederhana namun bersih, terlihat beberapa unit masih dimandikan setelah menempuh perjalanan. Tak berapa lama kita di sana lalu bergegas menuju ke Godean, ada apa di sana?

Jalan Raya Godean KM.14, Godean, Jogja (0274) 6497236, fax (0274) 6497169. Di sinilah markas dari PO. Prayogo bermukim, dengan 8 unit armada bertrayekkan ke Pulau Sumatra dan 15 unit pariwisata. PO ini mempunyai warna khas coklat krem agak kehijauan untuk yang bertrayek Jogja-Jateng dan warna putih untuk yang bertrayek ke arah Sumatra dengan ciri logo lingkaran pelangi dan tanda tangan dari sang anak, apakah ini ciri dari armada yang sudah diturunkan ke sang anak?

Ada sedikit seloroh dari Mas Febri ‘Pik, anaknya yang punya Prayogo itu cantik banget lho.’ Rasa penasaran langsung muncul, secantik apa rupamu? Sebuah mobil Honda Jazz keluar dari parkiran dan langsung saja ditebak sama Mas Febri ‘Nah, itu dia anaknya Prayogo, yah mobilnya pake kaca film lagi, kok sekarang sudah berjilbab ya?’ ungkap Mas Febri. Aku sendiri pun masih penasaran. Apakah hal ini harus diselidiki?

Selesai dari Prayogo, kita langsung meluncur kea rah ringroad namun menyempatkan tuk isi perut dengan menu Bakso Kepala Sapi. Lumayan enak menu kali ini, walaupun aku masih bingung juga ‘mana kepala sapinya?’

Urusan perut kelar jalan pun lancar. Lanjut ke PO. Eddy Tour’s & Transport yang berkantor pusat di Ponowaren, Nogotirto, Gamping (Ringroad Barat Demak Ijo) Yogyakarta. Dengan Telp. (0274) 621503, 621358, fax (0274) 621358, dan HP. 0811252591. Eddy Transport memiliki 8 unit armada dengan warna dasar putih dengan livery belakang body bergambarkan pemandangan alam. Selesai tugas di Eddy Transport, kita melanjutkan perjalanan ke Imogiri.

Imogiri, rumah dari PO. Gege Transport yang memiliki 12 unit armada dan yang terbarunya adalah MB OH 1526, tepatnya beralamatkan di Jalan Makam Raja-raja No.486, dengan telp. (0274) 6460871. ‘GeGe yang berarti Gelis Gede (Cepat Besar)’ ungkap Pak Hantoro yang sering disapa dengan nama Pak Han. Keunikan lainnya berada ada pada nomor telepon dan HP-nya, coba perhatikan nomor-nomor berikut, 0817269393, (0274) 7879393, 081392259393. ‘Empat digit nomor belakangnya kesemuanya berakhiran dengan angka 9393 = gege = GeGe.’ Ungkap Pak Han. Mantab juga neh buat inspirasi para pengusaha yang lain tuk memiliki nomor yang identik dengan nama perusahannya.

Selesai dari GeGe, lanjut ke garasi PO. Maju Lancar dan PO. Citra Adi Lancar. Namun sayang, lagi-lagi aku lupa mencatan alamat dan no. yang dapat dihubungi. Ya sudahlah, baru sadar juga pas waktu nulis catatan ini, heheheheh…….

Menyambangi kantor perwakilan PO. Pahala Kencana Jogja, lagi-lagi Om Riyanto bertemu dengan teman lama. Menyisihkan waktu sebentar tuk berbincang-bincang. Sekitar ½ jam di sana namun harus bergegas ke PO. Putra Remaja karena ada janji jam 16.00 wib.

Sampai di Putra Remaja pukul 15.50 wib, ‘kalo kata orang Jepang, lebih naik menunggu daripada ditunggu apalagi telat.’ Ungkap Om Riyanto. Tak seberapa lama dan tak banyak pula info yang di dapat dari Jalan Ringroad Demak Iji ini, namun jika ada yang memerlukan nomor telepon silahkan saja catat (0274) 6213222.

Kembali ke kost-an, siap-siap packing pakaian yang sudah dijemur tuk malam ini menginap di Kantor Pahala sekalian silaturahmi. Selepas Maghrib berangkat masih dengan Mas Febri. Sampai di Pahala masih terdapat penumpang yang masih menunggu bisa dari Blitar yang akan menuju ke Bandung. Gerimis dan disusul hujan deras pun turun, mendinginkan kondisi badan yang lelah selama 2 hari ngobok-ngobok Jogja. Setelah beberapa penumpang terakhir telah berangkat acara selanjutnya yaitu makan malam. Kali ini masih tetap menargetkan menu oseng-oseng mercon yang kemarin lusa kita santap. Dengan tambahan 3 orang dari Pahala, maka makan malam kali ini ada 6 orang. Menu oseng-oseng mercon pun telah tersaji dan tinggal eksekusi. Tampak keringat mengalir deras, apalagi 3 rekan kita dari Pahala, sangat merasakan pedasnya makanan yang satu ini, ‘wah, pedasnya ngalahin sambel bledheg solo iki.’ Ungkap Mas Hengki mekanik Pahala. Melihat muka yang berkeringat dan tak hentinya membuka mulut pertanda bahwa makanan yang disantapnya memang pedas.

Selesai makan, kita nongkrong sebentar di Malioboro. Tak lama menikmati suasana ini dan harus kembali ke kantor Pahala karena hujan yang tadinya reda sudah mulai lebat kembali.

Sesampainya di kantor Pahala, mata ini sangat berayun manja dan ingin memejam ditambah menahan panas di perut karena makan malam dan akhirnya…….ZZZzzzzzzZZZZzzzz……..

Minggu, 9 Mei 2010….(hari keenam)

Pagi-pagi harus bersiap lagi dari kantor Pahala Jogja menuju Solo area. Masih tetap ditemani Mas Febri yang setia mengantarkan kami. Perjalanan pun dimulai, suasana jalanan ke arah Klaten cukup ramai namun tak ada halangan berarti.

Sesampainya di Solo, tujuan pertama adalah PO. Mulyo Indah dan PO. Rajawali, namun pada hari minggu kantornya tutup, jadi tuk area solo nihil dan terpaksa Cuma bisa stay beberapa jam di Terminal Tirtonadi. Kebersamaan dengan Mas Febri harus berakhir di sini karena sudah jam 12.30 wib, Mas Febri harus kembali ke Jogja dengan Jemputan PO. Puspa Jaya. Terimakasih Mas Febri atas penginapannya dan setia mengantar ke PO-PO di Jogja hingga Solo. Selanjutnya adalah Pracimantoro.

Namun aku sempatkan dulu singgah di Sukoharjo beberapa jam tuk berziarah ke makam Almarhum Bapakku. Hujan lebat menemani dari Solo hingga ke Sukoharjo. Selesai berziarah, terus ke arah Wonogiri.

Singgah di garasi PO. SM Trans di Jalan Brigjen Katamso No. 72, Wonokero, Wonogiri. Dengan no. telp dan fax (0273) 325891 dan alamat web www.mavatransbali.co.id. Terlihat ada 1 unit yang turun mesin, 2 unit ex Kerub berbaju RS Celcius. Terus ke selatan, kali ini melewati Waduk Gajah Mungkur, mampir ke rumah yang punya PO. Serba Mulya. Berbincang sebentar lalu lanjut ke area Al-Amin, mengapa demikian? Yang pertama adalah bahwa yang punya Al-Amin masih terhitung saudara dengan Om Riyanto. Dari Al-Amin Sari Giri menuju ke Al-Amin Timbul Jaya. Lalu menginap di rumah kakak sepupu dari Om Riyanto.

Senin, 10 Mei 2010…..(hari ketujuh) satu minggu sudah

Sarapan pagi, siap berangkat ke Pacitan. Tak sabar ingin melihat walaupun sekilas panorama pantai yang katanya sangat bagus. Perjalanan pun dimulai menyusuri daerah yang akses jalannya sempit. Singkat cerita sudah memasuki area Pacitan, disuguhi dengan berbagai papan penunjuk jalan ke tempat wisata seperti wisata goa dan pantai.

Kali ini singgah di Jalan Panglima Sudirman No.60 Pacitan. Kantor pusat PO. Aneka Jaya dengan nomor telepon (0357) 881091. Aneka mempunyai total 70 unit armada besar.

Melewati proyek jalur selatan Pacitan yang belum selesai benar. Menyempatkan diri membuat kenangan di depan Pantai Taman, panoramanya memang indah namun saying sekali tidak sempat menjamah Pantai Klayar sebagai Primadona Pacitan.

Sempat singgah di rumah teman Om Riyanto, berbincang tentang kenangan kerja semasa dulu. Banyak sudah hal kenangan yang diungkap kembali, tak terasa terik siang tersenyum lebar mengarahkan kami melanjutkan perjalanan ke Tulung Agung. Melewati jalur Pacitan-Trenggalek, jalannya sempit dan berbukit. Sesekali melewati jalan bekas sisa-sisa longsor, tak ada pengaman pembatas jalan yang memadai dan seringkali kanan kiri jalan langsung bertatapan dengan jurang, hiiiiihhhh…..ngeri…..

Memasuki area Trenggalek, perut terasa lapar akhirnya singgah di warung makan yang menyajikan menu soto ayam yang lumayan enak dan bisa untuk menghangatkan badan. Perjalanan kembali dilanjutkan dan memasuki Trenggalek terus ke arah timur menuju garasi PO. Harapan Jaya Tulung Agung karena sudah ada janji dengan Pak Kuncoro.

Garasi PO. Harapan Jaya terletak di Jalan Mayor Sujadi No. 23A, Tulung Agung. Dengan layanan telepon di (0355) 321620, 321624, 327575. Fax (0355) 322505, email: poharapanjaya@yahoo.co.id. Bapak Kuncoro Cahyana sebagai direkturnya. Jumlah armada kurang lebih berjumlah 200 unit untuk kebutuhan trayek dan pariwisata. Sempat menanyakan isu apakah benar Harapan Jaya akan mengeluarkan ATB (AC Tarif Biasa atau bisa juga Adem Tur Banter)? Pak Kuncoro menjawab dengan senyum dan tertawa ‘itu info darimana?’. Ini adalah pertanyaan titipan dari Mas Tri Budiono BMC Tulung Agung karena pada malam harinya dia diberitahu info itu oleh crew Harapan Jaya. Hayo, info dari crew masih bisa dipercaya apa gak ya?

Sekitar jam 16.00 wib. Selesainya dari Harapan Jaya, kami langsung singgah di rumah Mas Tri yang jaraknya tak begitu jauh dari garasi Harapan Jaya. Sesampai  di sana kita disuguhi minum-minum, apalagi kalau minuman itu bernama beras kencur, mantab. Tak ada ½ jam kami pun bergegas keluar dengan Mas Tri sebagai navigator.

Yang pertama adalah garasi PO. Jaya Baru yang berada di Ds. Serut RT 01/07, Ds. Tapan, Kec. Kedungwaru, Tulung Agung. Telp. (0355) 323603-324429 dan kami bertemu dengan Ibu Betty yaitu istri dari Bpk. M. Utomo selaku owner. Jaya Baru memiliki 30 unit armada yang ada diantaranya adalah 2 unit MB, 1 unit Volvo ex- PO. Sedya Mulya (yang katanya akan dijual) dan sisanya bermesin Hino.

Dilanjut ke PO. Bojana Group di Jalan Raya Togogan, Srengat, Blitar (0342) 554750. Dahulunya Bojana memiliki usaha angkutan truk yang dikendalikan oleh Pak Edi, lambat laun mulai mencoba usaha di bidang jasa bis pariwisata yang usahanya diserahkan kepada adiknya. Anehnya sendiri Pak Edi mengaku masih kurang paham dengan dunia per-bis-an karena dia masih serius menukangi truk-truknya.

Malam semakin larut, tak terasa hampir jam 21.00 wib namun kunjungan masih belum berakhir dan kali ini menyambangi PO. Bimario di Jalan Complang, Ponggok, Blitar (0342) 552842, 555292. Bapak Supono sebagai ownernya, uniknya usaha ini mulai diturunkan dan dipelajarkan kepada anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP sedangkan Pak Supono sendiri sebagian kesibukkannya masih mengurus ternak ayam yang iya punya.

Akhirnya kurang lebih jam 23.00 wib selesai sudah lawatan kita ke garasi PO di sekitaran plat AG. Namun perjalanan dari Blitar ke Tulung Agung tak satu pun menemukan warung makan. Akhirnya baru setengah jam kemudian ketemu lesehan nasi pecel atas rekomendasi Mas Tri di daerah Tulung Agung. selesai akan langsung pulang dan bermalam di rumah Mas Tri.

Selasa, 11 Mei 2010….(hari kedepalan) bangun kesiangan

Waduh, sudah jam tujuh kurang. Bangun gelapan langsung menuju kamar mandi, merendam pakaian, cuci pakaian, menjemur terus mandi dan berangkat jam 08.30 wib. Karena cuaca mendung dan pakaian belum kering terpaksa menjemur pakaian di dalam mobil di atas ban bis yang kita bawa selama perjalanan. Pakaian dijemur sepanjang perjalanan Tulung Agung-Malang. Sebelum berangkat, mari kita sarapan dulu nasi pecel kreasi dari ibunda Mas Tri tercinta.

Sebelum langsung ke Malang, Mas Tri mengajak singgah sebentar di PO. Perdana yang berada di sebelah utara Balai Desa Kaliwungu, Nunut, Tulung Agung (087858551333). Perdana memiliki 4 unit armada yang terbagi dalam 2 unit armada besar dan 2 unit armada ¾. Setelah selesai, perjalanan ke Malang pun dilanjutkan.

Perjalanan lancar menuju malang, hingga akhirnya siang menjelang dan perut pun merasa keroncongan dan akhirnya singgah di rumah makan. Kali ini menu yang di pesan adalah sambel belut untuk aku dan Mas Tri, sedangkan Om Riyanto memilih ayam kampong goreng. Perjalanan pun berlanjut seusai makan dan kita janji bertemu dengan Mas Dudi BMC Malang.

Ketemu juga dengan Mas Dudi dan sejenak kita singgah di rumahnya sembari menurunkan jemuran pakaian di mobil tuk dijemur ke tempat jemuran yang lebih layak dan lebih jemuran-wi. Sejenak melepas dahaga, langsung kita berangkat lagi dan kali ini siap ngobok-ngobok Malang.

Yang pertama kita singgahi di sini adalah PO. Zena yang berada di Jalan Mayjen Sungkono No.121, Malang (0341) 6310202 dengan fax (0341) 710198. Zena memiliki 20 unit armada tuk keperluan trayek dan pariwisata. Setelah itu kita beranjak lagi dari Zena menuju etape berikutnya.

PO. Medali Mas, aku lupa mencatat alamatnya namun letaknya seperti di kawasan industri, lagi pula kita tak ada hitungan 5 menit di sana.

PO. Al-Rifaa’I, Jalan Panji Suroso, depan Plaza Raya. Memiliki 6 unit armada bus besar tuk layanan pariwisata dengan nomor telepon yang dapat dihubungi adalah 081233033404 dengan ibu Alisa.

Selanjutnya menuju ke garasi PO bus yang menggadang namanya dengan kota Malang ini. Ya, itu adalah PO. Malang Indah dengan 10 unit armadanya namun garasinya tertata dengan rapih. Malang Indah berkantor pusat di Jalan Aris Munandar No.62, Malang (0341) 326262, sedangkan garasinya sendiri terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto No. 166, Malang (0341) 491080.

Ke arah Batu, melongok home base PO. AM Shantika. Namun di sini pun hanya sekedar diisi dengan kegiatan melihat-lihat bis saja. Sore telah menjelang, saatnya kembali ke rumah Mas Dudi. Jalanan pulang kondisi padat, namun tertolong karena adanya iring-iringan mobil patwal dan kita memanfaatkan hal tersebut tuk ikut berlari membuka jalan agar cepat sampai tujuan.

Lagi dan lagi memang tak jauh dari acara makan, kali ini makan sore mencicipi bakso bakwan Malang. Aku baru tahu jika cara menikmati bakso bakwan itu bukan dengan cara mencampurkan sambal, saos dan kecap ke dalam mangkok bakso. Tapi ada mangkok kecil sendiri sebagai tempatnya dan bakso, somay dan bakwan tinggal dicocol secara terpisah. Ya tapi kalau aku cuek aja, campur semuanya dalam 1 mangkok praktis bukan?

Kembalilah ke rumah Mas Dudi, kali ini makan malamnya disuguhi sensasi iwak wadher, hmmmmm……kuliner aneh lagi nih. Enak juga rasa iwak wadher ini tapi ada rasa pahitnya. Selesai memanjakan perut, saatnya memenjakan mata. Namun Om Riyanto merasa tak enak badan imbas dari telat makan sewaktu dari Blitar ke tulung Agung.

Rabu, 12 Mei 2010….(hari kesembilan) pagi di Kota Malang

Selamat pagi Malang, dirimulah yang selama ini aku gadang sebagai tempat dalam angganku yang menduduki chart pertama dan paling atas. Acara pagi ini adalah mandi, nyetrika baju kemarin yang dicuci, sarapan, terus berangkat lagi. Rencananya akan ke Probolinggo menemui AKAS IV, namun berita di radio menyiarkan bahwa terjadi banjir di jalur pantura Jatim, tepatnya di Pasuruan. Mendengar berita tersebut, maka Om Riyanto memutuskan untuk membatalkan berangkat ke Probolinggo dan langsung saja berangkat ke Surabaya masih dinavogatori oleh Mas Tri. Perjalan beranjak dari rumah Mas Dudi ke Surabaya diiringi oleh hujan, dan ucapan terimakasih kasih untuk Mas Dudi dan keluarga yang telah menjamu dan mengizinkan kami tuk menginap sejenak.

Singkat cerita, mau memasuki tol menuju Surabaya, namun sudah ada peringatan dari warga bahwa jalan tol putus, puncaknya saat kita masuk ke area tol, kita disusul oleh seorang pria mengendarai motor dan berujar bahwa tol ini putus karena musibah lumpur Lapindo. Kenapa kami diperlakukan seperti ini, maklum saja karena mobil yang kami bawa berplat nomor B. ‘itu sih penunjuk jalan kampung,Om.’ Tegas Mas Tri. Akhirnya dengan keterbatasan mengenali jalan, kami pun melewati jalan kampung, hanya sekali bertanya kepada warga dan sisanya mengandalkan penunjuk jalan yang telah disediakan oleh piha Dishub.

Sesampainya di Sidoarjo, PO yang kita singgahi adalah EKA dan MIRA tepatnya di jalan Raya Kriyan, Sidoarjo. Terlihat banyak bis yang keluar masuk garasi ini.

Masih di sekitar kawasan Sidoarjo, PO. YPM lah target berikutnya. Berada di Jalan Raya Ngelom No.86, Taman, Sidoarjo. YPM sendiri singkatan dari Yayasan Pendidikan Ma’arif. Karena yang empunya memiliki sekolah, pondok pesantren hingga universitas.

Masuk ke Kawasan Industri Wira Jatim, tepatnya di Jalan Raya Mastrip No.70, Karang Pilang, Surabaya, berkunjung ke garasi PO. Setiawan. Terdapat kemiripan letak garasi PO. Setiawan dengan PO. Medali Mas, yaitu sama-sama berada di dalam ruang lingkup kawasan industri.

Sore menjelang dan diputuskan tuk cangkruk di Bungur bareng teman-teman BMC Jatim. Sesampainya di Bungurasih, Om Riyanto bergegas mencari tukang pijit langganan para driver bis di sini. Info punya info, dapat juga tukang pijit yang dimaksud. Dalam posisi siap dalam perawatan, Om Riyanto mulai merasakan pijitan demi pijitan yang akan membantu memperbaiki kondisi badannya. Kita sampai di Bungurasih sekitar jam 16.00 wib dan janjian dengan BMC Jatim jam 17.00 wib, masih ada waktu tuk relax dan memanjakan mata dengan bis Jawa Timur-an.

Satu yang aku cermati di sini, bahwa terminal yang satu ini beraktifitas 24 jam, itu juga menurut penuturan dari teman-teman sebelumnya. Jakarta? Jakarta mana ada yang kayak gini, jadi sudah saatnya Jakarta ngiri dan membenahi angkutan transportasi-nya yang sebagian memang sudah tak layak lagi ‘kaleng krupuk bhodhol’.

Waduh, tak terasa sudah hampir jam 18.30 wib, kok belum ada penampakan dari rekan BMC Jatim, janjinya jam 17.00 wib tapi sampai sekarang kok belum datang, ngantuk euyyy….

Lama juga menunggu di ruang tunggu penumpang, sampai pada akhirnya yang ditunggu datang juga. Sedikit perbincangan lalu mengarah kepada ibu-ibu penjual naasi bungkus tuk dijadikan target bidik makan malam. Setelah kenyang dan selesai makan, langsung deh ke centre point cangkruk-an yaitu di air mancur Bungurasih. Ternyata begini rasanya cangkruk di bungur, enak juga ya. Tapi perjumpaan kita harus diakhiri sekitar Isya, karena harus ke Tuban mengejar waktu esok hari. Berpamitan dahulu dan segera ke tempat parkir mobil siap tuk berangkat lagi menggulirkan tapak roda 14 inchi. Mas Tri mengantar kami sampai di sini, terimakasih untuk Mas Tri.

Keluar Terminal Bungurasih memasuki Tol ke arah barat, sempat terjadi kemacetan di pintu masuk tol tapi dalam keadaan merayap. Kondisi lalu lintas tol dalam keadaan ramai lancer, sempat bertemu PO. Mawar yang baru keluar Terminal Bungurasih menuju ke Jakarta. Keluar di pintu tol Gresik (kalau tidak salah, soalnya baru kali ini aku menapaki Jawa Timur), terus melaju dengan jajaran truk-truk. Tak lama hujan pun turun, menambah kelelahan di tubuh ini dan hawa ngantuk pun mulai melanda. Memasuki Lamongan, masih tetap hujan. ‘Lamongan Kota Soto’ itulah tag line di gapura Lamongan, bangga dengan soto-nya. Tak lama berselang terjadi antrian kendaraan, di sini sempat mendahului Lorena dan tepat di belakang Tingok. Ternyata kepadatan ini disebabkan terjadinya kecelakaan truk trailer di jalur arah ke barat, terdapat 3 truk yang terlibat insiden sedang menepi. Akhirnya jalan lancer kembali, sempat meladeni aksi takeover Tingok, namun karena Tingok terhambat truk akhirnya kami bisa mendahuluinya. Masuk area Tuban bertemu dengan Indonesia Galaxy ATB yang tadi berangkat dari Bungurasih, terlihat bangku penumpang sudah mulai kosong. Akhirnya sampai juga di persinggahan malan ini yaitu RM. Taman Sari Tuban. Om Riyanto bergegas memasuki kantor Pahala, lalu apa yang didapat? Ternyata di sana hanya didapati karyawan baru, yang diharap Om Riyanto adalah bertemu dengan karyawan lama sehingga bisa numpang tidur di dalam kantor, akhirnya rencanapun berubah dan malam ini harus tidur di dalam mobil.

Kamis, 13 Mei 2010…….. (hari kesepuluh)

Sempat terbangun beberapa kali dari tidur, mulai tengah malam dan menjelang pagi sudah banyak bis yang mulai masuk ke RM. Taman Sari Tuban ini. Bis yang terbanyak masuk sini sepenglihatanku masih  didominasi Pahala lalu Si Ijo.

Kuniatkan membuka mata karena hampir pukul 05.30 wib, ngejar waktu lagi ke arah barat, bangun dan bergeliran mandi di kamar mandi rumah makan. Baru kusadari saat keluar dari kamar mandi dan menghampiri mobil, ternyata rumah makan ini langsung bertatapan dengan bibir pantai. Jadi untuk para penumpang yang singgah di sini pada pagi hari, pemandangan ini bisa untuk refreshing sebentar sambil istrirahat sarapan mungkin.

Selesai sudah semua persiapan, saatnya berangkat. Suasana jalan agak lengang, aspalnya pun hanya cukup tuk berpapasan. Terlihat 2 unit bis PT. Semen Gresik saling berlenggak-lenggok di depanku, mendahului satu persatu kendaraan yang ada di depannya. Bodynya masih terlihat mulus, karena bis yang di belakang memakai baju new travego Morodadi Prima terbaru. Namun kebersamaan kita harus diakhiri karena kedua bi situ memasuki pabrik Semen Gresik.

Jalan yang langsung persebelahan dengan pantai membuatku berpikir bagaimana kalau ada kendaraan yang nyelonong terus nyebur ke dalam air? Apa lagi batas pengaman jalan cenderung seadanya. Ditambah dengan kontur aspal yang tidak rata, bahkan cenderung sudah banyak yang berlubang.

Udara di sini panas, sangat kontras bila dibandingkan dengan guyuran hujan yang kurang lebih 3 hari sudah selalu setia menemani perjalanan kami. Memasuki kawasan Rembang, mentari masih terik bersinar.

Mencari Jalan Pemuda untuk berkunjung ke garasi PO. Subur Jaya. Akhirnya ketemu juga, tepatnya di Jalan Pemuda No.37, Rembang. Sempat masuk sebentar untuk bertemu dengan sang owner, namun menurut karyawan yang punya itu datang sekitar jam 11.00 wib. Sekarang saja baru jam 09.50 wib. Ya sudah, keluar saja dulu sebentar. Aku kira mau kemana, ternyata hanya memarkirkan mobil di seberang jalan lalu tidur, maklum Om Riyanto masih dalam masa penyembuhan.

10.45 wib, terbangun dari tidur dan bergegas dari istirahat tuk masuk kembali ke area parkir kantor Subur Jaya. Langsung bertemu dengan sang owner, Bapak Agus Tjahyana. Malah Om Riyanto sempat bertemu dengan mantan driver Pahala dulu yang sekarang menjadi driver Subur Jaya. Ngobrol dan ngobrol, akhirnya Om Riyanto diminta tuk memeriksa salah satu unit bis Subur Jaya. Aku tak tahu pasti apa yang dibicarakan, yang jelas sepertinya menyangkut masalah teknis mesin.

Waktu berkunjung telah usai, sekarang saatnya melanjutkan perjalanan ke Semarang. Namun di tengah jalan sempat bingung apakah mau ke Jepara dulu atau langsung ke Semarang? Setelah dipikir dan pertimbangan waktu, akhirnya jadwal ke Jepara dicancel dan langsung menuju ke Semarang lewat Pati lalu singgah di Kudus dulu menyambangi Pak Haji Haryanto.

Melewati Pati, perut sudah didera virus keroncongan. Cari-mencari kuliner khas Pati yaitu nasi gandhul di sekitaran Terminal Pati. Sempat berputar-putar tuk mencari tempat makan yang enak dan akhirnya dapat juga. Ramai juga tempat ini, apakah ini berarti makanannya enak? Harus dicoba dulu dan ternyata memang enak. Nasi gandul tampilannya memang sederhana tapi dijamin bagi yang belum pernah mencoba dan baru mencoba pasti ingin nambah lagi.

Perut kenyang jalan pun tenang. Selanjutnya menyinggahi garasi PO. Haryanto, tepatnya di sekitar jalan masuk ringroad Kudus. Tak berapa lama di sini hanya sekitar 10 menit dan langsung bertemu dengan sang Empunya bis.

Perjalanan dilanjutkan, kali ini kemudi diarahkan ke kantor PO. Pahala Kencana Kudus (Om Riyanto reunion lagi). Menurut Om Riyanto, sayangnya Pahala Kudus masih mempertahankan mesin-mesin lama. Dan pertemuan dan perbincangan di sini pun tak berlangsung lama sekitar 10 menit juga. Soalnya harus ke Semarang sore ini juga.

Semarang, yang kami tuju adalah Kawasan Industri Candi tuk menyinggahi kandang PO. Shantika Patas Semarang-Solo. Langsung bertemu dengan Pak Slamet dan membuat janji juga tuk bertemu dengan teman-teman BMC Semarang di sini. Tuk teman-teman yang lain, jangan takut main ke sini karena in ibis bukan milik tetangga, OK. Lagipula Pak Slamet dari pihak Shantika juga mempersilahkan bagi teman-teman BMC tuk main ke garasi ini. Sayang sekali tidak bisa bertemu dengan Pak Taufik Shantika. Padahal menurut Om Riyanto kalau kita menginap di Semarang, kita akan disediakan kamar hotel khusus tuk kita. Namun sekali lagi ya  saying, kan harus buru-buru ke barat.

Sehabis Maghrib, selesai urusan dengan Shantika, langsung kopdar bareng BMC Semarang di Jalan Krapyak tepatnya di warung makan Pak Yoko. Makan sambil ditemani bis-bis yang seliweran di jalan dan tempat ini memang tepat tuk cangkruk.

Isya menjelang dan pertemuan pun harus diakhiri karena akan melanjutkan perjalan ke Pekalongan, terimakasih BMC Semarang.

Jalan ke Pekalongan sempat terhambat bahkan berhenti karena adanya perbaikan jalan setelah keluar Alas Roban jika dari arah timur.

Sampai di Terminal Pekalongan sekitar jam 22.30 wib, ketemuan sama Bupati BMC Pekalongan Dadik dan langsung makan malam lagi, kali ini menikmati lesehan segho meghono. Aku baru tahu kalau di Pekalongan juga ada lesehan, biasanya sehabis maghrib saja Pekalongan sudah sepi.

Selesai makan, kami bertiga melanjutkan perjalanan ke Tegal untuk mengisturahatkan badan karena esok hari harus menyambangi Dedy Jaya tuk membahas parihal kunjungan BMC ke sana. Sempat berhenti di depan kantor perwakilan Pahala Kencana Tegal tuk menjemput Nano yang sudah niat menyusul kami ke Tegal.

Jum’at, 14 Mei 2010………(hari kesebelas)

Pagi lagi di Tegal sarapan dengan lontong bongkok dan tahu goreng sebelum berangkat ke Dedi Jaya. Dengan tambahan 2 orang, maka berangkatlah kami ke sana sekitar jam 08.00 wib dengan agenda utama yaitu pembicaraan perihal kunjungan BMC.

Sesampainya di sana sempat menunggu karena Pak Fauzi sedang ada meeting dengan para rekan bisnisnya. Menyempatkan diri tuk keluar kea rah depan gerbang, dan yang membuat kaget adalah penampakan sosok Kramat Djati Hercules yang datang dari arah timur yang dulunya memakai baju Adi Putro Setra Hino RG, sekarang berganti dengan new travego/marcopolo Adi Putro Hino Air Suspension.

Lama sudah ditunggu dan akhirnya giliran kami bertemu dengan Pak Fauzi. Perbincangan membahas masalah teknis kunjungan dan tak lama selesai karena Pak Fauzi juga masih ada urusan yang lain.

Selesai dengan Dedy Jaya, kami tak lantas pulang. Kami melakukan observasi dulu ke area wisata yang ada di Brebes. Yang pertama adalah Tempat Wisata Pantai Randu Sanga dan yang kedua adalah Ciblon Waterboom (masih ada hubungannya dengan Dedy Jaya). Selesai observasi, lalu pulang tuk istirahat tidur siang soalnya nanti amalm harus kembali ke Jakarta.

Sempat menyandarkan tubuh yang lelah ini barang sebentar namun sore sekitar jam 16.30 wib harus bangun tuk siap-siap berkemas. Maghrib, Dadik pamit tuk kembali ke Pekalongan karena esok harinya ada urusan.

Perjalanan dimulai sekitar jam 20.30 wib, dengan tambahan Nano, maka kami bertiga kembali ke Jakarta. Jalanan lancer hingga menemui penyempitan jalan di Tol Kanci-Palimanan-Plumbon karena ada perbaikan jalan yang mengarah ke barat.

Selepas keluar Tol Kanci, kemudi diserahkan dari Om Riyanto kepada Nano. Perjalanan malam ini lancar total. Sempat beristirahat di salah satu SPBU, ternyata ada seorang bapak yang sibuk mengganti ban. Nampaknya bapak yang satu ini dalam kesusahan karena tidak ada yang membantu karena yang turut serta dengannya adalah istri dan dua putrinya yang masih kecil. Maka kami berinisiatif tuk membantu, tak hanya sekedar melepas dan memasang roda, namun Om Riyanto pun langsung menambal ban mobil yang bocor itu. Untuk bawa peralatan tambal ban tubless, jadi bisa langsung dipakai tanpa harus mencari tukang tambal ban. Selesai istrirahat, perjalanan dilanjutkan.

Terjadi kemacetan parah dari arah barat menuju Pasar Ciasem Girang, ini dikarenakan adanya perbaikan jalan tapi mengapa tak ada polisi yang mengatur lalu lintas ya? Padahal daerah ini macet tanpa adanya pengaturan dari polisi.

Selepas Ciasem terus ke arah Cikampek memasuki tol, keadaan sangat lancer sampai pada akhirnya keluar tol Pondok Gede menuju ke arah Cipinang tuk mengantarkan Nano pulang namun menyempatkan makan dulu di warung nasi uduk, makannya aja jam 02.15 wib.

Setelahnya, lansung menuju ke kediamannya masing-masing tetap diantar dengan mobil 1000 cc. pertama mengantar Nano di sekitran Cipinang dan selanjutnya Om Riyanto mengantarku ke Jalan Pemuda dan akhirnya Om Riyanto pulang sendirian ke Sunter.

Terimakasih untuk Om Riyanto yang berkenan mengajakku turut serta dalam perjalanan walaupun aku telah banyak merepotkan (maaf Om, aku tidak bisa nyupir) dan terimakasih juga kepada rekan-rekan BMC di daerah yang kami singgahi, terimakasih telah berkenan untuk menerima kehadiran kami.

BisMania Community………

Sejatinipun Seduluran………………………………


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Taofiq "Pipik"
Ditulis oleh

'Seating Beauty,'

0 Comments

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;