Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Banyumanik, Semarang 30 April 2012

Dengan langkah enteng kutapaki paving block depan deretan agen di terminal mungil ujung Selatan Kota Semarang ini. Beberapa nama tenar tak juga mengusik hati untuk menjatuhkan pilihan mengisi kencan satu malamku. Kutinggalkan halaman terminal, seraya menuju ke arah utara, menjauh dari terminal, dan rambu-rambu “S” dicoret. Melintas Purwo Widodo “Prestise” Karoseri Tri Sakti, yang seolah membangkitkan kenangan manis dengan bus Plat AD-G, dimana pukul dua dini hari aku berhasil merebahkan tubuhku di pembaringan kostku setelah berkencan semalam bersama Sari Giri awal tahun silam. Purwo Widodo lewat tanpa “menoleh” sedikitpun, begitu pula dengan Tunggal Dara Putera, serta duet “Pinguin” Marcopolo.

Rona kelam mulai menggantung di cakrawala, tampak sang surya sudah tidak pada kondisi “top performance”-nya, sementara saat kulirik jam tangan, kedua jarum nyaris berhimpitan di antara angka lima dan enam. Nampak dari ujung selatan jalan meluncur sebuah bus dengan sticker besar “Angkutan Lebaran 2011” yang disponsori oleh produk “Anti angin” yang masih melekat erat di sisi atas kaca depan bus. Bus tersebut berhenti mengikuti perintah traffic light Banyumanik, segera aku berpindah ke posisi yang lebih ideal, hingga saat bus kembali melaju di lajur kiri, kulambaikan tangan, “Pulo Gadung” terucap dari mulutku. Bus melambat, aku dan seorang lagi naik. Sarkawi?? Tidak menurutku, karena bus plat AD-G memakai sistem kontrol.

Konfigurasi seat 2-2 dengan delapan baris kiri dan sepuluh kanan, serta toilet kiri hanya menyisakan dua dari tiga bangku paling belakang. Agak sesak kursi belakang untuk dihuni tiga orang, maka kuputuskan untuk pindah ke bangku CD. Memasuki Tol Srondol-Tembalang kurasakan Mercedes OH 1521 ini masih mampu diajak berlari, sepanjang track lurus hingga gate Tol Tembalang kutaksir kecepatan berada di kisaran 90-100kph. Saat membayar ongkos Tol, di sisi kiri masuk dua unit Bus Pariwisata symphonie body Setra Adi Putro, yang unik adalah adanya penambahan nama “Rolling Stones” di atas kap mesinnya. Bahkan tak seberapa jauh di depan pada satu unit “rolling stones” yang lain tercetak susunan huruf “Honky Tonk Woman” -judul hits dari band fenomenal dari negeri Ratu Elizabeth ini- pada posisi yang layaknya tertulis nama PO. Rolling Stones Symphonie sendiri juga tak kalah uniknya jika dicermati, karena gambar Beethoven juga masih terpampang tidak serta merta diganti dengan gambar wajah Mick Jager vokalis kawakan Band Rolling Stones tersebut.

Cess…..Cess… kuuk….. suara rem bus saat menuruni Turunan ruas Tembalang-Jatingaleh, khas Mercy lawas. Lalu lintas di dalam tol masih belum padat, tidak tampak antrian panjang kendaraan, bahkan selepas interchange arah Manyaran dan arah Muktiharjo, bus dibelokkan ke kiri, tampak ruas Tol hingga kolong Fly Over Jatingaleh bebas dari kendaraan sama sekali. Saat mulai mengambil nafas, meluncur dari kiri Garuda Mas Ekonomi body RS evolution dengan dorongan power Hino dengan mantap menggoyang bus yang kutumpangi.  Kedua bus mampu menjaga jarak, dan bahkan hingga ujung Tol Krapyak Garuda Mas berhasil dilewati lagi. Krapyak, Mangkang, Kendal, hingga melewati Lingkar Weleri tidak ada hal menarik, lalu lintas masih sepi, dimana petarung-petarung pantura yang lain masih tertinggal di belakang. Di sepanjang stage dengan beberapa lintasan panjang-lurus tersebut power mesin intercooler masih sanggup dimaksimalkan, seolah sedang show bahwa bus Wonogirian tidak melulu menjadi penghias lintasan, bukan lagi backmaker Grand Prix Pantura. Beberapa kali kutaksir kecepatan bus mendekati 100kph menunjukkan bahwa bus ini bukan lawan yang mudah ditaklukkan, hanya saja sedikit gangguan bagi seisi kabin saat kaki-kaki bus menghajar lubang jalan, terdengar benturan keras diiring bunyi “glodak”, yang menunjukkan bahwa suspensi bus ini tidak dalam kondisi terbaiknya. Obrolan santai antara kami bertiga (aku, kernet, dan driver pinggir) mengalir lancar malam itu, kurasakan keramahan khas orang Solo asli di dalam pribadi crew yang malam itu bertugas mengantar penumpang ke Bekasi-Pulo Gadung-Lebak Bulus-Ciledug.

Memasuki Weleri bus diarahkan tembus ke pusat kota, melewati jalan lama yang bersinggungan dengan lintasan Kereta api. Sebelum lintasan KA, ritual mengisi tangki solar dilakukan. Nampak di samping pompa Solar sebuah Purwo Putro body model “Helikopter” (begitu orang menyebutnya) terlebih dahulu mengisi “wadah minumnya”. Solar senilai IDR 334.260 berpindah menjadi sumber energy bus yang kutumpangi. Di belakang busku sudah mengantri Tunggal Dara Putra, rupanya SPBU ini adalah SPBU favorit bus Soloensis-Wonogirian. Melintas Pasar Weleri, nampak Purwo Putro masih stay di depan pasar mencoba mengisi sisa-sisa bangku kosongnya, sementara di depan lagi sebuah bus warna hijau gelap bertuliskan MABESAD dengan plat nomor putih juga mencoba peruntungannya untuk mencari tambahan uang saku.

Meninggalkan keramaian Weleri, bergabung dengan jalur dari Lingkar Weleri arus kendaraan ke barat masih belum ramai, begitu juga dengan Pelataran RM Gerbang Elok, belum tampak barisan Penari anggun dari Kabupaten Magelang. Tepat pukul tujuh Malam, pelataran RM Bukit Indah menjadi tempat persinggahan bus berbody Panorama 3 ini. Terparkir di pelataran Rumah Makan, Selamet evobus hitam yang ternyata sedang menuju arah timur (pemberangkatan pagi??), bersanding dengan Puspa Jaya, dan Neo Sari Indah nomor 286 model Old Travego entah buatan mana.

Tiga puluh tiga menit waktu yang diberikan untuk beristirahat, termasuk dengan prosesi kontrol yang dilakukan tanpa ada satupun penumpang yang harus turun kemudian menunggu di depan Rumah Makan. Semua yang di dalam bus masuk dalam proses penghitungan. Meninggalkan Rumah Makan, tanjakan Plelen sudah menghadang, ancang ancang sudah dilakukan, kemudian sebagai langkah antisipasi gigi rendah sudah digunakan sedari tahap awal pendakian. Di depan bus ku ada Garuda Mas Marcopolo, dan saudaranya Ekonomi Evolution. Jarak ketiga bus ini konstan, tidak ada yang mendekat, tidak ada yang menjauh. Laju Prima Marcopolo Adi Putro dan Garuda Mas dengan tempelan sticker “X-3W” melewati busku dengan entengnya. Sekarang total ada lima bus yang beriringan mendaki Tanjakan Plelen dengan jarak yang relatif konstan sampai kemudian satu persatu bus merapat, dan bergeser ke lajur kanan karena di lajur kiri tampak Bumel Bonanza storing. Crew bumel tersebut tampak bekerja ekstra untuk mengatur lalu lintas terlebih untuk menghentikan arus kendaraan yang sedang menanjak agar bergantian dengan kendaraan yang turun. Tak banyak driver mau menghentikan kendaraannya di posisi tanjakan Plelen. Di ujung tanjakan terparkir Bumel Sahabat sebagai Reinforcement yang siap menarik Bonanza meninggalakan tempat crowded tanjakan Plelen.

Lepas dari jalur Plelen, bus masih harus mengatur nafas mendaki sisa lajur alas roban yang menanjak landai, namun panjang tiada putus. Garuda Mas “udah makan semangat” ikut menambah berat upaya mercedes non elektrik tersebut saat sang Garuda membalap dari sisi kiri, kemudian menutup paksa ruang gerak seniornya ini. Berlanjut di belakangnya meluncur Bus Bogor Express (yang masih satu trah dengan Bogor Indah) dengan body Legacy. Setelah pendakian melelahkan, bus mulai melaju di lintasan menurun, perlahan namun pasti akselerasi terus bertambah, hanya saja bus-bus yang sudah di depan telah menghilang terlebih dulu.

20.00 Sesampai di daerah Sengon, tampak sisi barat macet total karena dua truk tronton mogok pada posisi bersebelahan. Puluhan kendaraan terjebak pasrah dalam kemacetan, termasuk sebuah PK Jetbus Nano-Nano, dan Aneka Jaya body Nucleus.

20.25 Memasuki kota Batang kres dengan Ezri body Selempang dengan AC Trapesium, Putera Mulya dengan body meriah buatan karoseri sendiri, Purwo Widodo Volvo dalam balutan gaun baru dan Neo Sari Indah. Batang-Pekalongan perbatasan dua wilayah yang sangat rapat, di Pekalongan sempat papasan dengan Dwi Jaya warna Merah, uniknya selain nama Dwi Jaya, tertempel pula sticker besar di kaca depan “SARI GIRI”, dan juga tulisan kecil “SARI GIRI” di bawah nama Dwi Jaya pada body samping. Ponolawen, hingga keluar Kota Pekalongan tidak sekalipun bus berhenti, langsung joss menuju Ibukota, sesekali suara benturan-benturan benda keras saat kaki-kaki bus menghajar lubang jalan ditimpali dengan “ckk….” oleh beberapa penumpang. Driving style driver tengah yang tidak se-smooth driver pinggir semakin diperparah dengan beberapa kali telat oper gigi, menimbulkan beberapa hentakan-hentakan kecil.

20.58 traffic light Comal, Bus berhenti di sisi kiri, di depan ada dua kendaraan, entah karena apa gigi bus tidak masuk netral, sehingga saat kopling diangkat mesin mati………

Prrrrr…….prrrrr……. mesin coba dinyalakan, namun tak jua menghasilkan dampak positif. Lampu-lampu, dan AC dimatikan, usaha menghidupkan mesin kembali dilakukan. Situasi semakin parah saat lampu traffic light menyala hijau si Mercy Intercooler tak juga siuman. “Dinamone ora ngisi iki…” (dinamo tidak mau ngisi stroom) begitu kata kernetku yang segera menyambung dengan kalimat getir “Kudu nyurung iki…” (harus didorong nih..) seraya membuka pintu dan keluar dari kabin. Percakapan yang dengan jelas kudengar ini langsung kurespon dengan mengikuti langkah kernet  menuju bagian belakang bus. Berdua kami coba menggerakkan badan bongsor bus, namun apa daya tak semilimeter-pun bus bergerak. Sang kernet membuka pintu belakang membangunkan beberapa penumpang laki-laki muda “Mas nyuwun tulung nyurung nggih..” (Mas, minta tolong bantu dorong ya..) kata kernet dengan panik. Dua penumpang turun, bergabung dengan kami, begitu juga seorang pemuda dengan dandanan punk yang ada di emperan toko dekat lampu lalu lintas secara spontan tanpa pamrih bergabung dengan kami. Satu kali upaya menyalakan mesin gagal, dua kali gagal, sementara antrian di belakang semakin panjang. Beberapa kendaraan kecil nyelonong masuk dari kiri. Seorang lagi bantuan “diterjunkan” oleh kernet masih dari bangku barisan belakang. Pada kesempatan inilah dengan kekuatan enam orang mesin bus dapat dinyalakan #:-S whew!. Rasa perih pada telapak tangan karena “hangat”nya kap mesin segera sirna tatkala sang tunggangan siuman :) happy kemudian meraung-raung saat pedal gas ditekan beberapa kali oleh driver tengah. Semua penumpang kembali pada posisinya masing-masing kemudian bus kembali dijalankan. Tensi sedikit dikendorkan, khawatir kejadian sama berulang lagi. Sebagai konsekuensinya, melintaslah dua unit Zentrum Pariwisata, KD “bugem-Crew Penyayang” (bukan lagi “dugem”), lalu Madu Kismo Legacy SR-1 pintu tengah warna Hijau, Garuda Mas Keysha, dan ditutup Shantika Orange.

21.22 Menyelesaikan stage pendek Lingkar Pemalang dimana di dalamnya berpapasan dengan Ismo Evobus, Purwo Widodo Phoenix, dan Ismo Volvo selempang. Selepas Lingkar Pemalang hujan turun dengan derasnya. Kurebahkan sedikit posisi sandaran punggung kursi CD yang tak seberapa besar ini.

22.05 aku terbangun saat melintasi Jalan Proklamasi Kota Tegal, dimana di kiri-kanan jalan nampak bangunan-bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang masih terawat, dan dihiasi lampu-lampu dengan nuansa yang senada. Sungguh elok pemandangan kota Tegal malam itu. Kembali mata kupejamkan…zzzzz…..I-) sleepy.

22.49 Laju bus merayap pelan, dengan rel kereta api di sisi kiri, tanpa waktu lama kuidentifikasi posisi bus ada di pertigaan Tanjung. Di depan tampak Sinar Jaya 67J, Rahayu Persada, Sumber Alam “Black Sweet”, dan “Jaran laut” semua bus ada di lajur kiri, entah yang mana yang hendak ke barat, entah mana pula yang baru saja putar balik hendak menuju Bumiayu, yang jelas karena lajur kanan  kosong, maka dengan mudahnya busku mengasapi bus-bus tersebut. Memasuki ruas Tol Pejagan sama sekali tidak ada yang kuingat, kantuk yang sangat kuat sukses menghempaskanku ke alam mimpi. Aku kembali terjaga saat bus menapaki aspal sepi yang aku yakin buka lagi berada di Tol. Ya, inilah jalan menuju Terminal Harjamukti Cirebon. Tiga orang mendekat ke depan, “Pak kulo Palimanan nggih” (Pak saya turun Palimanan yaa..). Tidak begitu aku ingat percakapan antara ketiga penumpang tersebut dengan crew, yang jelas akhirnya mereka turun di Terminal Cirebon dengan pertimbangan dari terminal Cirebon lebih banyak angkutan untuk ke tujuan mereka daripada dari Palimanan. Di terminal Cirebon sempat berhenti beberapa saat untuk urusan kontrol, jam menunjukkan pukul 23.46 saat bus berhenti di Terminal Cirebon. Beberapa hal dibicarakan oleh crew dengan petugas kontrol, namun tak satupun yang kudengarkan karena aku sudah beranjak dari kursi CD, mengisi kursi kosong “warisan” penumpang tadi. Mungkin crew dan petugas kontrol membicarakan tentang update info lalu lintas pikirku.

Kususuri lorong tengah yang “banjir” limpahan air dari “sarang tawon” AC Thermo Air. Kucari tempat duduk manakah peninggalan penumpang tadi, hingga kemudian mataku tertumbuk pada sebuah kursi kosong di baris ketujuh sebelah kiri, yaitu kursi nomor 26. Seorang gadis remaja usia kuliahan duduk meringkuk di kursi nomor 25 tampak menahan semburan hawa dingin dari penyejuk ruangan. Agak ragu untuk memulai pembicaraan dengan tetangga baruku ini.Sekitar lima menit kami saling membisu, sebelum kemudian kubuka pembicaraan “Turun mana?”tanyaku yang kemudian mencairkan suasana. Agaknya sang tetangga juga tidak dalam posisi mengantuk, sehingga meskipun sudah lewat tengah malam tapi kami masih sempat bertukar cerita. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari bahwa penumpang yang turun di Cirebon tadi masih kerabat dari “tetangga baruku” ini, tentang kuliahnya, dan banyak lagi. Sesekali kuintip kaca depan ataupun kaca samping untuk mencari tahu posisi bus sampai di mana. Jalanan dua jalur yang halus sempat kupikir bus melaju melalui Karangampel, namun ada yang aneh, seharusnya kalau lewat Karangampel ada kobaran api besar di sisi kanan tempat kilang minyak Pertamina. Kucek GPS, ternyata bus melaju di ruas Cirebon-Sumedang, yang berarti bus melewati jalur tengah menghindari potensi macet Pantura. “Sampai mana nih mas?” suara dari sebelah, “bla…bla…blaa……” jawabku panjang lebar layaknya seseorang yang ditanyai tentang hal-hal yang disukainya.

Melewati Tomo, bus berbelok kanan, masih saja tidak ada rasa kantuk yang menyerang. Sesekali kutatap wajah penumpang sebelah, wajah-wajah tegasnya sukses menutupi status anak tunggal yang identik dengan sifat manja. Kuketahui pula apa keperluan gadis ibukota ini ke Pracimantoro, kuliahnya di mana, dan beberapa hal lainnya. Masih kusempatkan pula sesekali mengecek ke depan, atau dari celah-celah tirai kuintip sisi kiri yang masih juga dipenuhi pemandangan perladangan, hutan, dan pemandangan sunyi sepi. Menengok ke depan, tampak pantat bus model Legacy (atau jetbus) beberapa saat kemudian bus tersebut berhasil didekati, dan kuidentifikasi bahwa itu adalah ekor GMS. Sekian lama kedua bus berjalan beriringan membelah sunyi hutan melalui jalur beton menuju kota terdekat, yaitu Subang.

01.40 dari kaca sisi kanan yang tidak terhalang tirai kulihat melaju sebuah Sumber Alam Non AC mendahului kami, entah nomor body berapa. Mengekor dibelakangnya Sebuah Santoso body Marcopolo buatan Tri sakti. Dari tulisan “LAKSAMANA” di kaca belakang, maka kuyakini bahwa bus tersebut adalah Santoso Seri F AA1502CA. Santoso segera mengambil alih posisi dari Sumber Alam, kemudian GMS pun dilewati, sehingga meninggalkan iring-iringan GMS, SA, dan bus tungganganku.

02.11 Melintas lagi Santoso Laksana Comfort AA1628AA dari sisi kanan, posisi bus masih di jalan beton. Sempat tersendat beberapa lama karena harus bergantian jalan, sebelum kemudian jalan lancar kembali, namun sama halnya dengan kejadian Sebelumnya, Santoso langsung menjauh, sempat sedikit was-was kalau bus tungganganku sudah diblong dengan bus langgananku, jangan-jangan nanti sampai tujuan sudah telat. Namun sisa waktu kurang lebih lima setengah jam sebelum jam 07.30 tentu menentramkanku. Melintasi Subang mulai menggeliat aktivitas pagi, tampak pula Kramat Djati yang mulai ngetem.

Meninggalkan Subang melewati Kalijati di mana di kiri-kanan dihiasi hutan-hutan karet, dari perkataan tetangga sebelah, aku baru tahu bahwa sepanjang ruas Tomo-Subang tadi terdapat beberapa spot yang dihuni Makhluk halus beneran. Entah benar entah tidak perkataan itu. Selepas Cipendeuy, Bus beriringan dengan SA Proteus AC VIP, mencoba melewati geliat angkutan barang yang berjalan lambat, hanya saja saat  berusaha melewati beberapa “Gerandong” SA di depan hanya menyalakan lampu Hazard, sehingga saat busku nekad masuk, ternyata tak cukup ruang tersisa. Bus kembali “mundur”, mengakhiri convoy dengan Si Biru Kutoarjo.

03.38 Melewati Campaka, dengan derasnya Haryanto Slempang menjadi armada Muriaan pertama yang mendahului kami. Entah kurang jelas livery Haryanto tersebut, apakah Kopi Susu atau warna ungu.

03.50 Perempatan Sadang mengovertake Handoyo Evobus yang sedang menurunkan penumpang. Tidak seperti bus lainnya, “Si Clurit” ini dibelokkan ke kanan menyusuri jalan lama menuju Cikopo, tidak masuk Tol Melalui Sadang.Setelah sekian lama akhirnya kantuk mulai menyerang…zzzz…..I-) sleepy. kunikmati istirahat di bangku kelas VIP non legrest ini. Sempat kurasakan bus berhenti entah seberapa lama, agaknya posisi bus sudah ada di dalam Tol, mungkin sedang pergantian driver. Cikarang Utama belum tampak antrian, mata masih saja berat untuk terbuka.

05.10 Bus keluar Tol di Bekasi Barat, rupanya hendak menurunkan penumpang Bekasi, dan kemudian menyusuri Jalan Raya Bekasi. Guyuran air dari “Rumah Tawon” ke ujung celanaku cukup membuatku terjaga penuh. Kulihat tetangga sebelah, rupanya juga baru saja terbangun. Agak lucu saat kami baru berkenalan di atas Fly Over Tol Bekasi Barat, setelah sekian jauh lamanya ngobrol panjang lebar. Menyusuri Jalan Raya Bekasi yang tersendat semakin mengurangi jatah istirahatku pagi itu, hingga saat menapaki pertigaan Cakung sang surya mulai menampakkan eksistensinya. Dari arah Tol meluncur Sinar Jaya 86DX Adiputro Slempang jurusan Slawi, mengekor di belakangnya Sari Indah produk 286 yang semalam ketemu di RM Bukit Indah. Lima mobil di depan tampak Ramayana yang hendak drop penumpang Pulo Gadung.

Di depan Pasar Cakung bus menepi menurunkan kiriman paket. Dari kanan meluncur Muji Jaya MD-036 intercooler air suspension livery Ferrari yang menjadi bus muriaan kedua yang menyalip busku. Untung lalu lintas pagi menuju Terminal Pulo Gadung tidak seramai biasanya, meskipun masih juga terjadi kemacetan di beberapa titik. Tepat di depan terminal Pulo Gadung aku meninggalkan singgasanaku. Aku turun di sisi luar Terminal, kemudian menyambung ojek untuk menuju kost. Sekitar tiga puluh menit kubaringkan badan ini di kamar I-) sleepy, sebelum kembali ke rutinitas senin terakhirku tanpa embel-embel telat.

Thanks for Tunggal Daya, aneka rasa selama semalaman berkencan dengan “Tunggal Dara” eh Tunggal Daya :"> blushing. doaku eksistensimu terus lestari ditengah ketatnya persaingan bisnis transportasi. “Menawi riyen jaman Pak Harto niku Tunggal Daya saget mlampah dugi 10 bus per hari” kata kernet saat melintasi lingkar Kaliwungu semalam.

Kan Kudoakan “Jaman Keemasan” itu kembali padamu, tanpa peduli Jaman apa sekarang, orde apa yang nantinya berkuasa. Masyarakat pengguna transportasi massal masih mencintaimu !

Salam

Yeremia A P (Bukan Karoseri)
+6285640505919

Dari Kota: Semarang

Jam Berangkat: 18:0

Tujuan Kota: Jakarta-Pulogadung

Tiba jam: 5:0

P.O: Tunggal Daya

Harga Tiket: -

Kelas: VIP

Tanggal: 04/30/2012

 


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Yeremia
Ditulis oleh

''

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;