Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

assalamu’alaikum warahmatullah sedaya sedulur Bis Mania community, saya Taufik Akbar, salam kenal sakderengipun. Mohon maaf baru caper yang ke-4 ini saya baru memperkenalkan diri., mohon maaf bila kurang nikmat dibaca J, masih belajar. Monggo disimak…

Setelah kemunculanya yang cukup meyakinkan, dan beberapa testimony dari para rekan-rekan Bismania Community, hati ini pun akhirnya termakan iming-iming harga tiket yang murah dari trans Zentrum AC Ekonomi Gemolong-LB. Ya, kuputuskan Zentrum-an saja kepulanganku ke Bandung setelah libur di kampung halamanku Surakarta Hadiningrat.

9 September 2012

Hari ahad siang kukendarai kendaraan 102cc menyusuri jalan Solo-Purwodadi yang makin hari makin ramai dengan kendaraan. Selang 30 menit waktu yang kubutuhkan untuk mendekatkan jarak Solo-Gemolong menyusuri jalanan yang pemandangan di kanan kiri menurutku begitu serasi. Hutan jati dan pemukiman yang jauh dari perkotaan. Setelah tiba di perempatan kota, kuarahkan sepeda motorku berbelok ke kiri, kemudian belok kiri lagi, kemudian belok kiri lagi untuk menuju ke sebuah terminal sederhana di jantung kota kecil bernama Gemolong. Sebuah terminal yang sudah ke-4 kalinya aku kunjungi.

Kulayangkan pandangan mata menyapu area disekitar terminal berusaha mengenali sebuah obyek yang menjadi tujuanku siang itu. Di suatu sudut, ebuah ruangan kecil bercat dominan kuning dan hijau mengehentikan pandanganku. Ya, ini yang kucari, agen bus transZentrum. Loket kecil berukuran 2×2 meter yang menyerupai loket masuk pasar malam ini akan menjadi perantaraku untuk bersyahdu di gelap malam,menderu di atas aspal jalanan. agen bus trans Zentrum ini tepat bersanding dengan agen burung malam dari Cirebon, Garuda Mas, penguasa jagad Purwodadi dan sekitarnya. Nampaknya, sang raja mendapat tantangan duel oleh ketua suku lokal purwodadi dari kerajaan Zentrum J. Bentuk kedua agen ini seolah saudara kembar, hanya cat dan tulisanya saja yang berbeda.

http://i1260.photobucket.com/albums/ii569/aboeoemar/bismania/back%20west%20java%20zentrum/hdrzentrumTZ17Gemolong_zps039e0818.jpg

pak, kulo badhe tumbas dingge tanggal 23 September kursi nomor 2 saget dilayani pak? Lenggahe sesuai nomor kursi mboten geh?, saget dibatalke nopo mboten?”….dsb, sederet pertanyaanku kepada 2 bapak punggawa agen Zentrum Gemolong ini yang semuanya di jawab dengan sambutan hangat.

iso mas, wes pesen saiki mosok ra iso(bisa mas, masa sudah pesan jauh hari ga bisa), jawab bapak agen meyakinkanku.

ooo…nggeh, kulo tumbas setunggal pak, ngge tanggal 23 kursine no.2

Setelah deal untuk tiket Zentrum tanggal 23 September 2012 nomor kursi 2, segera kupindahtangankan secarik uang kertas merah bergambar proklamator kepada bapak agen. Namun ada sesuatu yang kurang rasa-rasaku, sepertinya tidak disusuki. “sing niki le pak”, kuacungkan jari menunjuk stiker harga tiket ac ekonomi di kaca loket tersebut, ac ekonomi Rp 70.000,

nggih mas, niki nitip riyin Rp 100.000 soale regine dereng normal. Mengke nek pun medun geh dibalekke 30 ewu(ya mas, ini nitip 100ribu dulu harganya belum normal, nanti kalau sudah normal dkembalikkan 30ribu) jawab pak agen.

oo..nggih pun pak, naming niki teng tikete mang tulis nitip 100ewu(oke pak,tapi di tiketnya tolong ditulis titip 100ribu). Kulakukan agar pencatatan jelas sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

SKIP

Ahad, 23 September 2012

Pagi itu aroma segar udara begitu menentramkan harmoni alam di pedesaan Palur, desa rejosari yang terletak di bantaran sungai Bengawan Solo. Kabut tipis dan udara yang cukup dingin semakin menambah suasana syahdu desa tersebut. Hari itu aku masih berada di rumah Palur. Rencananya pagi ini aku akan berboncengan bersama sang kekasih kembali ke mojosongo dan mempersiapkan semua perbekalan untuk kembali ke tanah Sunda. Setelah sang surya menapak lebih tinggi, aku berpamitan dengan orang tua kekasihku alias mertua, kami berdua meluncur menuju ke mojosongo. Di mojosongo kutata semua barang dan atribut yang akan dibawa untuk memulai semester 3 dari total 6 semester yang harus kujalani.  Kurencanakan menuju Gemolong menggunakan bis Rela, kemudian Zentrum menuju LB dan naik primajasa ac ekonomi menuju cileunyi.

Manusia hanya berencana tetapi Allah lah yang menentukan. Sebuah charger HP nexian menjegal usahaku untuk berada di atas rencana. Charger tersebut yang harusnya kubawa malah tertukar dengan charger ibuku, yang sedang ada acara di Solo Paragon. Tak pelak, aku harus menyusul dahulu menjemput si charger.

waduh, wes jam 12 an ik(aduh, sudah jam 12-an ni).

Rencana awal jelas tak terkejar. Melihat situasi “supet” alias super mepet, sang kekasih menawarkan bantuan untuk mengantar ke Gemolong sehingga waktunya nututi. Jadi, kami berboncengan ke Paragon, lalu baru menuju Gemolong. Baiklah, bismillah.

Kembali Yamaha 102cc ku tunggangi. Kuarahkan panel kendali menuju Solo Paragon, sebuah apartemen mewah menjulang puluhan lantai, dipadu super mall dan lain-lain yang pokoknya serba wah blewah di jantung kota, tak jauh dari stadion Manahan Solo. Sesampai di sana ku sms ibuku. Namun lama tak ada balasan. Akhirnya dengan raut wajah bingung, ku mendatangi pak satpam yang berjaga. Kutanyakan perihal acara ini dan ini. Namun siapa sangka, ekspresi pak satpam pun tak kalah linglung J. Akhirnya aku di minta untuk masuk saja dan Tanya ke bagian resepsionist. Cukup menyita waktu juga acara substitusi charger HP ini, masih lebih cepat ritual substitusi pemain sepak bola…fikirku.

Tak lama ummi muncul dan segera kutukar charger, berpamintan dan meminta restu. Langkah kaki ini kemudian bergerak cepat menuju area luar dari Paragon. Tak lupa senyuman kulepaskan kepada pak satpam tadi sebagai isyarat berpamitan.

13.15, jarum jam di tanganku menunjuk. Estimasi perjalanan menuju gemolong sekitar 30 menit. Waktu kumpul setengah 2. Berangkat jam 2. Insyaallah sampai. Bismillah !. panel kendali kini kurahkan menuju Gemolong. Tenaga mesin yang berada di bawah bendera mesin tunggangan Andrea Dovisiozo ini kumaksimalkan menyusuri aspal Solo Purwodadi. Bak sopir Sumber Kencono, lampu motor ku-dim-dim kan sebagai isyarat meminta jalan dari kendaraan arah berlawanan. Sebuah usaha mempersingkat waktu yang tak terlalu kusukai menggunakan moda beroda dua ini.

Walhasil, pukul 13.55 tapak roda dua ini merapat di agen Zentrum terminal gemolong.

tak kiro ra sido mangkat mas(saya fikir tidak jadi berangkat mas), sebuah kalimat yang dilontarkan agen mengomentari keterlambatanku.

Lalu ku serahkan tiketku untuk ditulis nomor armada dan harga tiket hari itu. Rp 80.000, sebuah nominal untuk menuju LB. naik 10 ribu dibanding bulan-bulan sebelumnya. Sisa uangkupun tak lupa di kembalikan alias disusuki.

 

ayo mas, ndang munggah. Bise meh mangkat(ayo mas naik, bisnya mau berangkat). Kata petugas yang berseragam Zentrum dengan tulisan TIKET di belakangnya.

Segera ku melangkah memasuki kabin trans Zentrum TZ 23 jetbus Hino R260, setelah berpamitan syahdu dengan kekasih dan berpesan agar hati-hati di jalan.

Sebuah sekat antara pengemudi dan penumpang, itulah pemandangan yang lazim ada di setiap armada regular transZentrum. Dengan jumlah 60 kursi konfigurasi 3-2, pintu dan toilet di tengah, serta jok rakitan Rimba Kencana (Hai) plus pengharum ruangan otomatis, bis ini terasa cukup nyaman untuk kelas ac ekonomi.

Tubuh ini segera kuselaraskan di kursi berbalur kain berwarna coklat ber-angka 2 menunggu keberangkatan. Tak banyak bis yang tersisa di terminal Gemolong karena rata-rata sudah berangkat sebelum pukul 2 siang. Tercatat hanya Zentrum-ku, Gunung Mulia, Raya, Cah Angon Bejo, dan duo Garuda Mas ac ekonomi yang masih menunggu para penumpangnya.

14.15 WIB, TZ 23 diberi lampu hijau oleh petugas tiket untuk berangkat. Di depan TZ 23, telah keluar dahulu Garuda Mas Euroliner menuju Purwodadi. Dan Garuda Mas yang kedua berangkat setelah TZ 23. Perlahan nan pasti raksasa yang mengusung kabin HD ini mulai mencengkram aspal Solo Purwodadi. Tapak rodanya berputar cepat dan suspensi-suspensi nya begitu lembut mengayun. View dari kursi nomor 2 ini begitu luas meskipun ada sekat di depan dan kursi tambahan di depan sekat yang posisinya lebih rendah dari lantai kabin utama. Perlahan, akselerasi terus ditambah dalam perjalanan menuju purwodadi. Beberapa kali  TZ 23 berhenti di agen sepanjang jalan penghubung Solo Purwodadi bersama 2 armada Garuda Mas. Dari okupansi ke dua operator ini yang semuanya full seat, tersimpul bahwa pasar penumpang Jakarta di wilayah seputaran Purwodadi begitu gemuk.

Hamparan hutan-hutan jati kering, area persawahan seluas mata memandang, kicauan burung hutan yang menyeruak di keheningan hutan, dan rumah-rumah penduduk yang jarang, sebuah komposisi harmoni nan syahdu. Jalan aspal sempit yang membelah harmoni tersebut seolah menjadi wahana bagi bus-bus raksasa mengarungi suasana pedesanan kering tanah Jawa. subhanallah.

Toroh, persinggahan Zentrum selanjutnya. Penumpang semakin ramai menjejali bus.  Penumpang subur ini memang berkah tersendiri bagi pengusaha bus tanah Purwodadi. tercatat Sido Rukun dan Harapan Kita berbaju legacy keluar dari terminal Toroh mengangkut penumpang yang tak bisa dibilang sedikit. Tak ketinggalan pula bis Cah Angon Bejo, bis asli Gemolong yang berada di belakang Zentrum ini juga berhenti di toroh menaikan beberapa sewa yang sudah memesan sebelumnya untuk menuju Jakarta.

Pukul 15.35 WIB TZ 23 memasuki area terminal Purwodadi. Lingkar kemudi diarahkan memasuki area keberangkatan menuju Ibukota Jakarta yang baru saja gegap gempita menyambut Gubernur baru. Di dalam terminal sudah terparkir rapi Haryanto Purple B 7879 VGA, Pahala Kencana kuning, Sido Rukun, Budi Jaya, Harapan Kita, Dedi Jaya, Dewi Sri dan beberapa serdadu Zentrum yang sudah datang terlebih dahulu. beberapa penumpang yang bukan penghuni TZ 23 pun dipersilahkan turun untuk menunggu armada sesungguhnya yang akan mereka naiki. Aku sendiri menunggu TZ 07 yang belum juga tampak senyum jetbusnya. Sembari menunggu bis datang, sekedar aku berjalan jalan di area terminal untuk melihat lihat panorama raksasa yang akan melaju di aspal peninggalan Daendels.

http://i1260.photobucket.com/albums/ii569/aboeoemar/bismania/back%20west%20java%20zentrum/TZ07_zpsd0a8f3ea.jpg

Pukul 15.59 WIB, armada Zentrum TZ 07 pun datang dan  parkir di samping Sido Rukun legacy. Kuamati ada perbedaan interior antara TZ 07 generasi awal kemunculan dengan TZ 23 yang masih baru, yaitu warna kursi, letak toilet dan bentuk sekat depan. Blia generasi awal TZ 07 sekat depan tidak simetris, tetapi mengikuti konfigurasi seat 2-3 sehingga sisi kanan lebih luas, dengan pintu geser dan pintu tepat menghadap lorong. Sedangkan TZ 23 sekat depan simetris sehingga lorong kabin tidak lurus dengan pintu sekat.

Sudah puas ku menunggu keberangkatan J, akhirnya pukul 16.28 WIB para penumpang TZ 07 depersilahkan naik karena bis akan segera berangkat. Okupansi TZ 07 dari terminal Purwodadi ini hanya terisi sedikit di bagian belakang, hanya aku saja yang duduk di bagian depan. Kursi kosong lainya akan diisi di agen agen antara Purwodadi hingga Gubug.

Journey to the west just begun. Dari akselerasi awal, terlihat kalau pak sopir ini gage-gage, cekat-ceket, anti lelet. Hingga sampai beberapa kali peringatan RPM pun harus berbunyi mengingatkan putaran terlalu tinggi. Sepanjang Purwodadi ke Semarang bis dipacu dalam kecepatan tinggi. Mendahului kendaraan-kendaraan kecil. Akan tetapi lebar jalan yang sempit dan padatnya lalu lintas menahan TZ 07 ini untuk mendahului bis lain.

Memasuki jalanan yang mulai lebar menuju semarang, didepan TZ 07 ada 2 buah Zentrum lain yang salah satunya TZ 23. Bertiga serdadu Zentrum ini beraksi meliuk-liuk mendahului kendaraan lainnya dan saling berusaha mendahului sesama Zentrum. Debu-debu pun beterbangan dari tapak roda  raksasa-raksasa ini.

Ada sebuah moment, ketika di sebuah perempatan (masih belum sampai di gerbang tol) yang traffic light menyala merah, TZ 23 di sebelah kanan dan ada sedikit sisa jalan di sebelah kiri, pak sopir TZ 07 ini mengarahkan bodi giga-nya Zentrum masuk ke sisa celah tersebut. Sampai-sampai seorang ibu-ibu yang naik sepeda pancal dari kiri langsung turun dari sepedanya dan melotot tajam ke sopir. Raut wajahnya menyiratkan kaget dan takut melihat bis besar yang tersenyum seolah hendak memangsanya. Hehe…gumamku.

Ketika lampu berwarna hijau menyala, akselerasi hino R260 TZ 07 segera diangkat untuk mendahului Zentrum yang lain dan…,ces..ces…TZ 07 mantap mendahului TZ yang lain.

18.32 WIB. trans Zentrum TZ 07 sudah menapaki aspal jalan tol semarang. Di dalam tol speed Hino R260 ini dibejek oleh driver. Tercatat speed di dalam tol, TZ melaju dengan 110 km/jam. Dalam Tol, sang Biru, Sugeng Rahayu yang sedang bermarathon dari arah Surabaya-Solo mudah didahului oleh Zentrum TZ 07. nampaknya determinasi sang fenomenal tanah Jawa bagian Timur ini sedikit mengendur di etape akhir menuju kota Semarang. Lalu sesosok Sido Rukun, dan penjelajah barat Jauh, Gumarang Jaya menjadi raksasa lain yang menyerah dibombardir akselerasi mesin Hino R260 serdadu TZ 07, sembari TZ 07 mantap bergoyang kanan kiri mencari celah diantara kendaraan-kendaraan lain.

18.43 WIB. Masih di ruas jalan tol Manyaran, sayup-sayup di depan terlihat stoplamp khas Legacy yang diusung oleh laju Prima golden dragon. Tampak sang burung prima tersebut sedang mengejar Bogor Indah Nucleus. Dan ketika hendak mendahului Bogor Indah tersebut, laju Prima menempel Bogor Indah hingga kaca depan Laju Prima begitu dekat dengan buritan armada pasukan Kota Hujan, baru digoyang ke kanan, ces…ces…ces…. Catatan kondisi disekitar dua bis tersebut sedang sepi…luar biasa. Zentrum pun dengan mudah pula mengasapi Bogor indah ekonomi ini.

18.47 WIB setelah keluar dari ruas jalan tol, Zentrum membuntuti Laju Prima tadi, dan tak perlu berlama-lama duel untuk meninggalkannya di belakang. TZ 07 kembali berjalan sendirian menuju Mangkang. Memasuki Kaliwungu, didepan terlihat bis lawas khas yang teridentifikasi armada Dedi jaya. Dedi Jaya ini tak kalah atraktif pula, meskipun hanya mengusung mesin lawas, Dedi begitu lincah hap kanan kiri mendahului truk-truk.

Barulah di jalanan yang sepi Dedi Jaya ini dapat didahului setelah minggir ke lajur kiri beserta sebuah raksasa, Sindoro Satria Mas.

 19.05 WIB terjadi kemacetan di ruas Kaliwungu Kendal ini. Trans Zentrum 07 ini terjerembab dalam kemacetan bersama Dedi Jaya Purwodadi tadi, Ramayana ekonomi dan eksekutif, GMS, Setia Negara, Lorena Evonext dan banyak lagi. Dalam kemacetan, TZ 07 kurang cepat dan berani memanfaatkan celah sehingga dapat didahului oleh Lorena dan trans Zentrum 01 vip yang dalam kisah ini menjadi raksasa jalanan tercepat.

Lepas dari kemacetan Lorena kembali tersungkur dibelakang bersama Langsung Jaya AD 1683 BF di ruas Cepiring. Sedangkan TZ 01 sudah tak terlihat lagi jejak maupun bayang-bayangnya.

20.05 WIB TZ 07 memasuki RM Sari Rasa. Di parkiran depan, TZ 01 sudah terparkir dengan rapi disamping TZ vip lainya. TZ 07 pun terus masuk menuju parkiran belakang. Disana sudah ada 3 bis Zentrum ac ekonomi yang sedang leren. Segera ku turun dan menuju mushola untuk solat jama’ ta’khir.

Selesai ku bermunajat kepada sang Kholiq, langkah kaki ini menuju halaman parkir dan sekedar memandangi raksasa-raksasa yang berkumpul disini. Zentrum, Kramat Djati, Guning Mulia, Rosalia Indah, semuanya terparkir rapi mempersilahkan penumpangnya istirahat.

20.35 WIB. TZ 07 mulai keluar dari RM Sari Rasa dan melanjutkan ekspedisi menuju Ibu Kota Jakarta. Baru saja menapaki aspal pantura, sesosok body raksasa berwarna oranye biru Scorpion King masuk dari sisi kiri. GMS yang berstiker Commando berusaha menjegal langkah TZ 07. Dengan determinasi tinggi GMS ini terus menempel TZ 07. Namun, RM Sendang Wungu harus menghentikan laju GMS dari tanah Wonogiri tersebut untuk memberikan waktu istirahat bagi penumpangnya.

21.48 WIB. Di sebuah palang kereta api, ketika palang telah terbuka, Sido Rukun Legacy mengalir dengan deras mendahului TZ 07. Namun pengemudi TZ 07 ini hanya menempel Sido Rukun tersebut. Kemacetan di pemalang masih di belakang Sido Rukun. Tercatat pula GMS berstiker Tornado. Werr…werr…sebuah armada H. Haryanto warna merah bertag Special One melaju di sisi jalan arah berlawanan, dibelakangnya berturut-turut bis lain pula termasuk Gajah Mungkur. TZ 07 tak dapat berbuat apa-apa, hanya mengikuti arus keluar dari macet.

Selepas kemacetan yang disebabkan perbaikan jalan, Sido Rukun melambat dan mempersilahkan Zentrum maju. Lalu Zentrum konvoi bersama Handoyo Gemolong dan Handoyo final fantasy. Kedua bus tersebut berhasil didahului. Namun Handoyo FF terus menempel hingga ketika TZ 07 stuck, nyangkut truk, Handoyo FF maju di depan Zentrum. Handoyo FF pun ditempel, namun memberikan perlawanan yang alot. Akhirnya di tikungan menuku jalan yang kanan kirinya krikil, Zentrum masuk dari sisi kiri dan menyodok kasar hingga Handoyo FF-pun menyerah. Zentrum TZ 07 tidak lewat tol Pejagan, tapi lurus kea rah Cirebon.

02.00 WIB hari Senin, 24 September 2012. Terjebak macet di Indramayu.

03.04 WIB. Berhasil lepas macet, namun jam 03.15 terkena macet lagi. Akhirnya pak sopir yang sudah berganti sopir lagi berinisiatif masuk jalur lawan. Baru beberapa ratus meter maju, laju bis dihadang 4 polisi. Polisi tersebut meminta Rp 20.000. tapi pak sopir sengaja memberi Rp 10.000 sambil ngeles uangnya sudah habis buat bayar polisi juga di belakang tadi. Tapi polisinya tetap ngeyel Rp 20.000. pak sopir tidak mengalah juga, sambil ngeles, bis dijalankan. Lepas dari polisi J

03.43 WIB. Hujan deras di daerah Ciasem. TZ 07 berjalan perlahan. Namun masih bisa mendahului Serdadu Zentrum yang lain, TZ 21. Selepas hujan, bis kembali melaju dengan determinasi seperti sebelumnya, berusaha sepagi mungkin memasuki kota Jakarta. Beberapa bis tercatat berhasil didahului selepas hujan. Diantaranya Kramat Djati ‘jackdaniels’ dan Sumber Alam ‘wangi’.

04.34 WIB. Masuk tol cikampek melalui gerbang tol Kali Hurip. Di dalam tol sudah banyak mobil-mobil pribadi yang memenuhi jalan tol. Tercatat di dalam tol cikampek, TZ 07 mendahului Laju Prima. Dan didahului oleh Bejeu Scorpion king. Dan akhirnya, jam 15.45 WIB, transZentrum TZ 07 sampai dengan selamat di terminal Lebak Bulus.

Kulangkahkan kakiku turun dari kabin TZ 07. Kupandang raksasa hijau itu. Tampaknya, pasukan dari Purwodadi ini akan menjadi buah bibir banyak penggemar bis maupun masyarakat. Serdadu-Serdadu tanah Purwodadian, Serdadu Zentrum.

http://i1260.photobucket.com/albums/ii569/aboeoemar/bismania/back%20west%20java%20zentrum/TZatLB_zpsa9dd6ce0.jpg

Kuselayangkan pandangan ke area terminal, mencoba menikmati pemandangan pagi di terminal. menyaksikan raksasa-raksasa jalanan yang sedang tertidur setelah semalaman berlari sejauh ratusan kilometer. Sambil berlari kecil aku menuju parkiran Primajasa dan segera naik ke dalam kabin Primajasa ac ekonomi LB tasik untuk melnjutkan sisa perjalanan, menuju kota Kembang.

Tapak roda bus malam menyisakan kisah-kisah jalanan yang keras, yang pantas untuk dikenang dan menjadi pelajaran bagi kehidupan. Tak hanya soal kecepatan dan kenyamanan, namun terkadang juga membawa rasa haru tersendiri menyaksikan pemandangan yang terlihat diluar kaca lebar dari sebuah moda raksasa bernama bus…pengalaman yang berharga, yang didapat dengan melihat dan mendengar aktifitas manusia di setiap persinggahan maupun perjalanan bus…

Semisal seorang bapak yang telah renta mengipas jagung bakar dengan pakaian sederhana dan mengayuh sepeda kumal, yang mengipas jagung, berharap ada seseorang dari kerumunan penumpang bus yang mau membeli daganganya seharga Rp 1000,00, di sebuah agen antara purwodadi-Gubug…, sebuah pemandangan nan penuh ibrah akan perjuangan hidup.

http://i1260.photobucket.com/albums/ii569/aboeoemar/bismania/back%20west%20java%20zentrum/bapakjagung_zps20ae8f4a.jpg

Assalamu’alaikum warahmatullah

Salam sejatinipun seduluran

Taufik Akbar

Journey, never ending story

Dari Kota: Gemolong
Jam Berangkat: 14:10
Tujuan Kota: Jakarta
Tiba jam: 5:45
P.O: Trans Zentrum
Harga Tiket: 80000
Kelas: AC Ekonomi (kursi 2-3)
Tanggal: 09/23/2012

 


Catatan Perjalanan yang lainnya:



Taufik Akbar
Ditulis oleh

'trust me, i am logistician'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;