Edisi : Liga Super Executive
Sebuah catatan perjalanan
Parakan,Jawa Tengah
Sabtu 21 April 2012,
“Depan kiri Pak..” teriak Yeremia Adi Prabawa (YAP) ke kenek yang dikenalnya,tapi bus dari Sukorejo ini masih saja lewat dari titik perhentian yang diharapkan.
Akhirnya bus berhenti di sudut kota Parakan,tepatnya samping tugu Bambu Runcing. Tak perlu khawatir di bonusin beberapa puluh meter oleh bus ¾ dari Sukorejo ini,karena kota Parakan tidak terlalu besar.
“arep sarapan opo? Gudeg, capcay, soto??” tawarnya
Gudeg sudah sering,walau katanya gudeg Parakan berbeda dengan gudeg Jogja, soto juga belum menarik minatku. “iku warung gudegnya,dulu Ko Himawan pernah tak ajak makan di situ” ujarnya menunjuk sebuah penjual gudeg lesehan.
Aku menyusuri trotoar kota Parakan,sebelum akhirnya kami terhenyak oleh bus berlivery Symphoni di PO Citra BSM bikinan New Armada yang melintas anggun.
“ itu punyae sodaraku,ex Putra Remaja,mesinnya cooler (=baca Mercy OH-1521)” kata Yeremia dalam bahasa Jawa logat Semarangan.
Menurut benchmark yang kami temui,saat ini kami sudah berada di titik nol kilometer kota Parakan,sebuah kota mungil yang biasanya hanya kunikmati di atas bus OBL Safari Dharma Raya,ataupun kompatriotnya Safari Dharma Jaya dan bus Santoso.
di titik nol kilometer kota Parakan
Setelah menyusuri jalanan perkampungan yang situasinya hampir mirip kawasan Kotagede Yogyakarta karena kaya akan bangunan berarsitektur kuno (cocok nih buat pre wedding…),kami tiba di warung Bah Kebak (YAP menyebutnya Bah Kebek,dalam bahasa Jawa kebak berarti penuh,lidah orang Jawa menyebutnya kebek), di sini kami mengisi perut dengan seporsi capcay dan mi goreng, entah sarapan atau makan siang,karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.30,ya anggap saja makan setengah siang. Tapi maaf, di sini tidak tersedia ayam goreng.![]()
sebelum coba disarankan tanya ke pujangga Parakan dulu
Setelah perut kenyang dilanjutkan menuju rumah pujangga Parakan yang lagi galau ini,numpang mandi dan cas hape.
Tak lama kemudian muncul sebuah sms,ajakan bertemu di kota Semarang oleh seorang mahluk halus..Sudah beberapa hari lalu aku mengajaknya bertemu tapi tidak ada sms balasan darinya… “jam semene arek iki baru ngabarin,kemarin kemarin gak jawab…wis lupakan saja dah..” aku berbicara sendiri,sementara YAP hanya menaik turunkan frame kacamatanya
menaikkan alis,mungkin dia mau jawab apa juga bingung hahaha…
Jam 12.30 meninggalkan kota Parakan menuju Magelang dengan bus Citra BSM,ini bukan bus gede kayak tadi pagi tapi bus ¾ Sukorejo-Magelang,estimasinya 2 jam lagi tiba di Jogja,untuk berburu tiket Rosalia Indah Super Executive, namun plan B pun disiapkan untuk menuju ke Solo jika seandainya tiket Rosalia Indah SE habis. Tentunya jika ke Solo,akan berburu bus Raya kelas Supertop. Hitungan waktu kami sangat mepet,diperlukan tindakan cekat ceket agar tidak ketinggalan bus malam ke Jakarta sore ini.
Di dalam Citra BSM, aku tertidur hingga terminal Soekarno Hatta Magelang. Begitu turun langsung disambut awu-awu PO Sumber Waras,tapi pujangga Parakan yang tahu sisik melik bumel Semarangan mengajakku untuk naik bus ke Jogja yang stand by di pintu keluar.
Sebuah Hino AK berbaju Trisakti Prestige kepunyaan PO Ramayana membawa kami menuju Jogja. Saat melewati garasi PO Santoso,tak lupa sang pujangga Parakan merangkap mandor KW 3 Santoso ini melirik garasi PO kesayangannya.
Kemudian Ramayana ngetem di depan Artos (Armada Town Square), sekarang Magelang sudah punya mall,walau belum rame,dan beberapa minggu lalu di mall ini si pujangga Parakan berinisial YAP ini secara sengaja pernah bertemu dengan cinta lamanya jaman masih menjadi mahasiswa,makanya wajahnya begitu sumringah terbawa nostalgi,walau siang ini sejauh matanya memandang hanya menatap pintu masuk mall saja wkwkwkw….![]()
Mungkin saja dia ingin perpal di kota Magelang berharap nanti malam pukul tujuh teng ngapel di rumah pujaan hatinya,tapi karena terikat kontrak turing bareng Ponirin, memupus impiannya malam nanti..
Asal tau aja,saat itu kami berdua masih jomblo dan sedang taruhan siapa yang kalah cepat dapat pacar maka harus nraktir turing pake bus kelas Super Executive. Sebetulnya aku iklas kalo dia mau turun memboikot rencana turing kami ini demi ngapel pujaan hatinya demi taruhan kami juga,tapi sepertinya dia belum siap kalo malam ini harus mengetuk pintu hati wanita pujaan hatinya eh maksudnya mengetuk pintu rumah cewek idamannya…![]()
14.25 kami tiba di terminal Jombor,dan segera menuju agen Rosalia Indah di deretan kios sebelah barat.
“super executive hari ini masih ada Mbak?” tanyaku
“..hee..super masih ada tempat gak??” kebetulan saja dia sedang menelpon,sekalian ditanyakan.
“wah habis mas,mau kemana?”
“Rawamangun” jawabku
“executive saja gimana,ikut yang Tangerang” tawarnya
“makasih Mbak,saya nyari yang SE” dan kami meninggalkan agen Rosalia Indah.
Plan ke 2 dijalankan,karena harus menuju Solo,maka daripada kecele mending telpon Pak Kenthung agen Raya,no telpon ini diberikan oleh H. Budi Wijaya
“masih ada Bos, tinggal Pulogadung,nomer 17-18,berangkat jam 6, gimana?”
“yang lebih depan ada?”
“13 sama 16 bos?”
“yang 17-18 saja,nanti jam 5 saya ambil,saya masih di Jogja”
“okeeeee…siaaappp booosss…” jawabnya sumringah.
Aku segera beranjak menuju pintu keluar,menunggu bumelan dari Magelang yang ke terminal Giwangan. Tak disangka ternyata di angkringan pojok terminal bertemu bung Temmy dan rekan BMC Jogja, Temmy ini akan tek tok ke Jakarta menggunakan Rosalia Indah SE.
Nah ini dia yang ngabisin tiket RosIn SE…![]()
Setelah berbincang sebentar,aku dan YAP melanjutkan perjalanan dengan bus Jaka Kendil bodi antah berantah,pokoknya jadul abis…
oldies
Jaka Kendil finis di terminal Giwangan
Tak lupa sms ibunda,kalo aku tidak mampir ke rumah,melintas Jogja saja.
Jam 15.05 tiba di terminal Giwangan,dan langsung menuju parkiran bus Suroboyoan. Sebuah MIRA bodi Scorpion King siap berangkat menuju Solo, kami segera masuk karena ada jaminan tempat duduk. Ternyata aku duduk di CB,sedangkan YAP nangkring di atas kap mesin bersama 3 orang penumpang lain. Buat bismania,ini adalah rejeki nomplok, buat penumpang awam jika duduk di kap mesin ini adalah siksaan ![]()
Di perempatan blok O,seorang penumpang tujuan Prambanan diturunkan dengan hormat.
“iku panganane Solo-Jogja” kata krunya. Kru menolak membawa penumpang tersebut ,karena jarak yang dekat dan hari masih terang,masih banyak bus ke Prambanan,bahkan Trans Jogja juga sampai Prambanan.Sementara penumpang di atas kap mesin yang mau bayar tarip ke Sragen,diminta bayar Solo dulu,apakah mungkin biar tidak membingungkan sehingga semuanya bayar tarip Solo dulu,entahlah. Jogja-Solo padat banget,gak bisa ngebut, wajar kalo MIRA ketutul Sumber Kencono 7568 walau sebetulnya selah waktunya sudah 4 menit.
“iku gak ono isine..” katanya kepada kenek,perihal okupansi penumpang di SK 7568. Ternyata SK ini dikemudikan oleh sopir yang menempuh S2 di SK,maksudnya dulu dia nyopir SK setelah ‘lulus’ ,pindah MIRA,dan masuk lagi ke SK,jadilah dia ‘menempuh S2’ di SK,jadi sopir MIRA ini juga mengenalnya,ee tibake koncone dhewe. Setelah kulihat,benar juga seat SK masih banyak kosong, sedangkan MIRA ini saja sampai pada duduk di atas kuburan yang tidak lagi setinggi Hino AK versi lawas,entah kenapa tadi jam 3 sore penumpang di lajur Suroboyoan terminal Giwangan membludak dan lebih memilih MIRA.
tapi ternyata SK juga tak bisa lari saking padatnya jalanan,ketutul Mira lagi,hingga akhirnya di Delanggu,SK lolos,sementara MIRA sibuk nurunin penumpang. Karena sudah banyak yang turun,aku pindah ke bangku biasa,jadi saat ini semua yang tadi duduk di “kuburan”,sudah duduk di bangku biasa. Di Kartosuro,sempat kres dengan beberapa RAYA ke arah Jakarta,yang tentunya membuat hati semakin dag dig dug der dor..apalagi Pak Kenthung juga belum telpon atau sms.
Memori ketinggalan supertop di Lebak Bulus (KiperPon : Apes Rasa RAYA) mengusik ketenangan. Tiap kali berpapasan dengan RAYA,sedapat mungkin dilihat serinya,dan sebuah SuperTop melintas dari timur
“mas,agennya udah telpon belum?” tanya YAP (aslinya sih tanya pake basa Jawa),yang mungkin juga terkena sindrom H2C dag dig dug der dor
“belum jeh..” Menjelang Tirtonadi,SK mengalah saja,kebetulan sopirnya saling mengenal,mungkin sopir SK sungkan ngerebut jam parkir MIRA yang dikemudikan temannya.
17.20 MIRA tiba di Tirtonadi dan terjadi royokan,yang di luar pengen naik yang di dalam mau turun..
*awas copet,jaga barang bawaan Anda di situasi ‘caos’ seperti ini*
Aku diikuti YAP segera mencari keberadaan Pak Kenthung ticketing PO RAYA,beberapa kali harus bolak balik dan gak enak juga sampai di sms sama agen karena jujur tidak paham di manakah lokasi penjualan tiket bus malam di terminal ini
Setelah aku telepon dengan kondisi baterai kritis,dan diberi petunjuk seorang petugas,akhirnya sampai juga di ujung barat deretan kios
“mas hendi ya??” teriak seorang dari balik loket
Basa basi sebentar,dan kutukar 2 lembar tiket dengan 400ribu rupiah. Meski ditawari single seat depan belakang nomer 13 dan 16,namun aku tolak karena biar bisa ngobrol sama YAP dan ngrasani bus-bus malam.
Ternyata RAYA supertop ini adalah yang pemberangkatan terakhir,bukan jam 6 sore tapi jam 7 malam,jadi masih ada spare waktu 1,5 jam,bisa buat makan dan cas hape.
Karena bertindak sebagai sapujagatnya RAYA,kuberi julukan Sweeper Top plesetan dari SuperTop,sweeper berarti penjaring,jadi podo wae lah dengan sapujagad hehehe…tapi ini sapujagadnya priyayi,priyantun,priyasedjati,seatnya pun 2-1.![]()
AD 1507
Meski masih jam 17.30 tapi ternyata sweeper top ini sudah standby, dengan mesin dinyalakan dan tentunya AC juga dihidupkan.
Karena waktu pemberangkatan masih lama,kami sepakat isi perut dulu,mengingat jam makan gratis dari RAYA hitunganku dengan berangkat jam 7 malam, maka makan malam dikisaran jam 10 malam. Sebuah warung di pojokan loket bus malam,adalah yang beruntung menjadi pilihan kami,2 porsi nasi goreng di request 1 pedas dan 1 sama sekali tidak pedas, cukup untuk mengganjal perut,ditambah gratis cas hape,benar-benar kami merasa tidak salah pilih warung makan.Bersama kami juga ada beberapa kru yang makan di sini.
Kalo ada kru bus yang makan di sini,kemungkinan ada 2 kesimpulan yang bisa diambil yang pertama harganya “murah” dan yang kedua bisa ngebon(utang)..husss…ngawur ae,kru bus sekarang duitnya banyak loh apalagi akhir pekan,gak percoyo tanya YAP tuh![]()
Tersisa di parkiran bus malam,ada Lorena body Evonext,entah ke mana,lalu ada duet Muncul bodi mirip Legacy,dan Teguh Jaya. Saat jam pemberangkatan kurang 10 menitan,kami beranjak dari warung makan,dan menyiapkan amunisi berupa pulsa,dan minuman dingin. 19.05 Raya Sweeper Top diberangkatkan.
rapi, minimalis
Di pertigaan Kerten,ada kemacetan kecil,maklum malam Minggu,dan dekat situ juga ada mal besar. Di Kartasura,berhenti sejenak sepertinya ada agen,dan 1-2 penumpang masuk.
Menuju Boyolali,sopir memacu bus, cukup gesit ,dan beberapa kali memamerkan aksi jilat sapi, namun justru membuat tidak nyaman karena berkali-kali pula melakukan ‘rem paku’ alias rem mendadak.
Masuk wilayah kota Boyolali,bus menepi di belakang Mulyo Indah, tidak ada agen di sini,membuat aku dan YAP bertanya-tanya,selang 5 menit naiklah seorang lelaki, dan kesimpulan kami,dia adalah sopir kedua.
Sweeper Top melewati patung sapi,kemudian menuju arah terminal Boyolali tapi gak masuk terminal,sementara di depan ST ini ada Safari dan Mulyo Indah yang masuk terminal.
ST menuju Salatiga,masih dengan gaya rem paku,membuatku malas menyimak kondisi jalan,sementara YAP sudah menarik selimut,aku pun tidur tidur ayam.
Salatiga tidak menyimak (lah berarti turu..),melek lagi sudah Bawen,lanjut Banyumanik,lalu tol.Di tol sempat di belakang Haryanto,lalu masuk jalur biasa,tinggal tidur lagi aja…
Di Kendal melek lagi,YAP juga bangun,ngobrol ngalor ngidul,sampe akhirnya tiba di RM Pantes.
Suasana yang sepi,bersih,bangunan dengan arsitektur lawas,sempat membuatku begidik,andai saja Agus Yulianto a.k.a Alay ikut turing ini pasti aku suruh inspeksi bangunan ini dulu,siapa tau ada ‘temannya’…hihihihi…![]()
Entah karena dasarnya memang priyayi dan priyantun,atau aku yang priyasedjati,jadinya kok malah pada malu-malu antre makan. Ataukah mereka penumpang yang bernostalgi sehingga taunya RAYA belum ngasih gratisan makan?
Sepertinya sih tidak,kemungkinan besar priyayi dan priyantun itu sudah mengisi perutnya dari rumah,karena memang ini sweeper top,beda dengan kami para priyasedjati,meski tadi sudah jajan nasi goreng,sekarang makan lagi ayo aja,dan aku menjadi penumpang pertama yang dilayani…
Dan 22.15 malam itu,kurelakan kupon makan disobek,ditukar dengan sebungkus garang asem.
“nambah apalagi mas?”
“ini nih..” tunjukku pada sayur tahu, begitu sayur tahu sudah berpindah sedikit (banget) ke piringku,maka piring diserahkan lagi kepadaku.
Lah,udah ta,Cuma segini tok? Ini ST loh protesku dalam hati…apalagi jariku sudah siap menunjuk menu berikutnya…eee yo wis…telunjuknya jadinya nuding-nuding ke lantai aja..
Di ujung sana ada kerupuk,ah lagi males krupuk. Dan kupilih meja yang tak terlalu belakang,kesannya kok rada gimana gitu,apalagi rumah makan berstyle jadul ini plafonnya tinggi bener,seperti ciri rumah jaman londo. ..(Agus Alay van Yulianto,kemarilah kau,gue BDB deh..hahahaha)
Dan garang asem kubuka,laaah…kok garang asem kayak gini ya? Sepotong ayam berkuah bening dan asin. Selama berwisata kuliner,garang asem itu tidak ada yang asin,namanya juga asem,dan kuahnya merah segar,la terus ini apa ya? Seketika impian kenikmatan bergarang asem sirna sudah,nafsu pun tiada,kecewa pun menghinggapi.
Tapi hal ini berbeda dengan YAP,mungkin prinsipnya apalah arti sebuah nama,yang penting ini bukan ayam goreng,sikat habis dah (meskipun seharusnya malam ini dia candle light dinner menikmati kupat tahu bersama pujaan hatinya di Magelang).
Sekali lagi,penumpang memang priyayi dan priyantun,di saat petugas sudah mengemasi masakan,eh la kok baru ada yang datang minta jatah,alhasil sebungkus garang asem yang sudah masuk lemari pendingin dikeluarkan lagi.Emang tadi kemana aja ?
Selesai makan,lanjut ke toilet,dan suasana ‘aneh’ masih menyelimuti,toilet yang bersih, interior lawas nan terawat,dan suasananya berbeda kalo masuk toilet SPBU MURI yang sama-sama bersih.
Sambil menunggu bus di berangkatkan,aku nyantai dulu,terlihat 1 buah bus cadangan parkir di sini.Sebelum kami naik bus,lampu-lampu rumah makan mulai dimatikan,saat sweeper top siap berangkat sekitar jam 22.40,pintu rumah makan sudah tertutup menandakan kalo ST ini bener-bener sapujagad priyayi,bener-bener sweepertop.
Aku pun menatap jalanan nan sepi,pandanganku bebas ke kaca depan,bisa begini karena semua bangku di depanku direbahkan semua,jadi pandangan los ke depan. namun setiap nopol kendaraan di depan bus ini tak terbaca.
23.27 melintas Plelen
Sesaat aku sadar melakukan aksi monolog setelah melewati kota Batang,karena teman turingku sudah tidurrrr..
YAP sudah menarik selimutnya,wah jangan-jangan ngambek dia, gara-gara tadi siang tak kuijinkan perpal di Magelang,mungkin pilihan yang sulit buatnya, menikmati kenyamanan supertop atau memandang wajah cantik bidadari pujaan hatinya di malam Minggu. Dan sepertinya kali ini dia tidur di sweeper top sambil membayangkan bidadari pujaan hatinya.![]()
Kata orang sih,mengantuk itu virus,dan mataku sudah lelah,karena pegel juga dari tadi gak ada lawan,aku jadi ketularan ngantuk dan tertidur…ZZzzzz..
Kurasakan desingan mesin Mercedes lawas yang masih terawat,meski suspensi tak terlalu empuk dan mesin serasa dipaksakan berlari,namun bawaannya lebih enak daripada sopir pinggir. Sayup-sayup kulihat BEJEU dilibas dari sisi kiri,lalu ku tertidur entah si Bejeu tadi rebound ato gak.
Dan malam itu energiku sudah habis,setelah sejak Jumat malam berestafet,tak kulihat lagi kerlip-kerlip lampu sepanjang pantura. Pun dengan YAP,yang tampaknya sedang asik bercumbu dengan pujaan hatinya walau hanya dalam mimpi.![]()
5.36 Sweeper Top melintasi km 35,aku pun terbangun,kulihat YAP masih tidur pulas.
06.00 masuk tol Cawang kemudian mengarah ke Cempaka Putih. Hingga melewati RS Mediros, masih juga YAP tidur.
Masuk terminal Pulogadung,ternyata tak satupun penumpang yang turun, dan YAP mulai bangun,saat kesadarannya pulih mungkin dia sedikit kecewa karena pagi ini ternyata sedang tidak berada di Magelang tapi di Pulogadung hahahaha….![]()
06.15 Tibalah di pool PO RAYA depan PTC. Dan usai sudah perjalanan bersama Sweeper Top ini. Agar tubuh kami lebih segar dan rileks, juga agar darah mengalir lancar , kami pun jalan kaki 200 meteran di Minggu yang cerah itu kembali menuju ke terminal Pulogadung.
-sekian-
Dari Kota: Solo
Jam Berangkat: 19:05
Tujuan Kota: Jakarta
Tiba jam: 6:15
P.O: Raya
Harga Tiket: 200000
Kelas: Super Eksekutif
Tanggal:














Komentar