Kali ini aku mau nyaper model kayak mas Didik Edhi Ya, istilahnya kali ini aku macak ( berlagak ) pujangga, walaupun jadinya seperti pujangga Bungurtainment alias Pujangga Odong2 berguling di lantai, check this out Bro and Sis…. Once upon a time alias pada suatu hari……
One Missed Call.
Perjalanan ini bermula dari sebuah satu missed call, ya sebuah missed call dari kru Pahala Kencana, mas Jefry namanya seorang assistant pengemudi Pahala Kencana yang kukenal dikala aku masih rajin wira wiri Surabaya-Jakarta tiap dua pekan.
Aku mengenalnya ketika dia bertugas di salah satu armada PK Jakarta ( RM ) – Surabaya malam, kala itu pemberangkatan jam 18.00 dari Rawamangun menuju Surabaya menjadi pilihan satu2nya yang mengakomodir kebutuhanku mobile Jakarta-Surabaya direct dan pas sesuai dengan after hour office.
“…….. mas hary, saya sekarang jalan Super Executive 1830 sama pak Agus, besok saya di Arjuno, kalo ada waktu besok main2lah sejenak di Arjuno……” demikian salah satu petikan pesan yang dikirimkan kepadaku Rabu malam 30 Mei silam, saat aku lagi asyik nonton bioskop bersama GPS, kubalas pesannya sembari kuberjanji untuk menengoknya esok di Arjuno sesaat sebelum dia bertolak menuju Jakarta.
Esok sorenya aku bertandang ke agen Arjuno, agen PK sekaligus tempat mangkal armada periwisata PK, sosok berwajah bulat dengan body Intalan tampak melongok keluar sesaat setelah kupanggil namanya dari pintu Jetbus nano-nano bertoilet tengah ini. Akhirnya kami bersua juga walau hampir 3-4 bulan tak bertukar kabar, dipersilakannya aku menaiki kabin OH 1830 berID B 7182 WV, dinyalakannya OM926LA dan Denso mengingat kurang lebih 30-40 menit lagi, salah satu varian Mercedes Benz bersuspensi udara ini akan mengantar sewa menuju Jakarta.
Tak lama kemudian Pak Agus dan Pak Purnomo selaku duo punggawa OH1830 ini muncul dan kami berempat asyik mengobrol hingga sesosok pemuda naik dan menaikkan barang2nya di atas bagasi kabin, sesekali dia memotret interior bis, dashboard lalu turun dan mengambil angle dari depan, samping. Dugaaanku ini pasti Mania nih hehehehe
Betul juga, walau canggung dan kaku diawal namun pada akhirnya kamipun larut dalam perbincangan walaupun pengetahuannya tentang bis lebih handal dibanding aku yang cuman turing dan foto2 doang, Agung namanya dan ternyata member pasif BMC, nama Binsar yang terucap mencairkan suasana. Eh Binsar, mas Agung nitip salam nih hehehehehe
Tak terasa waktu menjelang keberangkatan telah tiba, tak lupa aku abadikan momen ini.
“gimana?enak khan?Sabtu ikut ya? nanti makan gampanglah, Sabtu itu terakhir setelah itu bis ini Service lalu rehat nunggu Kudus”
Wooww menarik sekali tawaran dari mas Jefry, tak pelak hasratku makin mendidih untuk menjajal buaian Built In Air Sus Mercedes Benz, kapan lagi coba bisa menjajalnya dari Surabaya hingga Jakarta? terlebih setelah uji coba jalan Surabaya-Jakarta konon armada ini akan menggawangi Lasem-Rembang-Pati-Kudus-Semarang-Jakarta dengan kelas yang sama, apalagii….. tawaran makannya…. yummy….. bisa puas ambil ayam goreng nih, terlebih biasanya tiap minggu tidur entah di Alldila atau Hai atau Versa atau ex DC 10 rasa2nya koq kasur di kos kalah handal dibanding yang kusebut tadi dan Denso lebih semriwing dibanding Mr. Slim yang menempel di kamar kosku hehehehe.
Jumat sore, hari pertama di bulan Juni.
Aku sengaja mengajak makan GPS di sebuah Chinese Food restaurant, sebenarnya lumayan menguras kantong terlebih aku kali ini ada maunya dan bubur di restoran ini merupakan favorit GPSku, lauknya juga kesukaan kami berdua, seporsi sapi lada hitam, seporsi sapo tahu polos hot plate dan seporsi ayam lemon menemani aksiku melancarkan rayuan kepada GPS.
Rayuan Pertama, gagal!
Rayuan Kedua, mulai menampakkan hasil walaupun ada syarat yang lumayan berat, ah elu Bismania koq kalah lihai ama GPS? demikian bisikan nafsu turingku yang begitu menggebu, akupun tidak putus asa.
Rayuan Ketiga, sebenarnya GPS setuju mengeluarkan SIT ( Surat Ijin Turing ) namun dia keukeuh ingin ikut menjajal 1830, kembali negosiasi menjadi alot sebab GPS Senin pagi harus ngantor ontime, sedangkan tawaranku berkutat berangkat PK SE balik ke Surabaya naik KD Denpasar pagi atau Akas Asri agar bisa mengejar mesin absensi kantor GPS, namun GPS tak mau ambil risiko sebab aku tak bisa memberikan jaminan Senin ngantor ontime, sebuah alasan logis mengingat tahun ini kami berdua mungkin akan mengambil cuti panjang, berlibur dan turing hehehehe, bisa berbahaya bila terlalu banyak noda di catatan absensi GPS.
Whatever It Takes
Rayuan ke empat, ibarat sebuah serangan tiki taka sesekali one two ala Catalan untuk mencetak gol dikala mengurung pertahanan gerendel ala Milano, tentunya kesabaran dan ketelatenanlah yang bisa membongkar kekukuhaan GPS, sebuah solusi kurang waras dengan perhitungan over cost biaya turing kugulirkan kepada GPS dan tak dinyana GPSpun kali ini bertekuk lutut oleh sebuah goal handal Koh Jumbo hehehehe, pokoknya elu jual gue beli nyah, tak peduli walaupun untuk menciptakan gol kudu mengurung total dari segala penjuru, bila perlu pura2 jatuh dan mengerang kesakitan bila sedikit kesenggol di area 12 pas, kira2 itu gambarannya berguling di lantai
Perjuangan selesai?? Tidak!! Malam harinya aku tiap jam membuka website mencari tiket promo CGK-SUB yang benar2 terjangkau, bahkah saat mas Jefry menelponku untuk kepastian Sabtu besok aku belum memberikan jawaban Iya.
Sabtu, hari kedua di bulan Juni
Jam dinding menunjukkan angka 10 pagi, ijin pulang jam 13.00 sudah diapproved oleh boss lady, kubuka satu persatu website Airlines yang menawarkan tiket promo CGK-SUB termurah untuk hari Minggu sore agar ada sela waktu di Rawamangun untuk ngapelin Emul bahkan kusiapkan juga rencana untuk ngepret Lik Ponirin jika kami bersua di RM setelah beberapa hari terakhir Lik Pon agak mokong jarang mbales smsku hehehehe. Setelah dapat yang kucari, aku pun menelpon mas Jefry untuk reservasi seat untuk 2 orang sore ini.
Seat 3a dan 3B kupilih mengingat GPS rentan dengan asap rokok yang dihembuskan oleh kru yang bertugas..
Sabtu 2 juni 2012 13:20
Sebuah pesan dari Fanani Gandhi mengabarkan dia sedang di Bungur dan kebingungan mencari mandor PK Bungur, sebenarnya aku sudah tahu dia hari ini bakal mencoba naik PK SE, namun aku sengaja diam, kubalas smsnya agar ketemuan di Arjuno saja karena dekat dengan kantorku
15.20
Setelah ritual menjemput GPS dan menitipkan skutik di Pacuan Kuda, aku kembali ke Arjuno dan berjumpa dengan Fanani Gandhi, dia pun bengong melihat polahku yang naik ke dalam kabin PK SE bersama GPS sembari menenteng 2 tas ransel dan menaruh di bagasi kabin diatas 3A dan 3B.
“Lho awakmu melok pisan ta??bangkee… bangkeee….” sambil mesam mesem keki aku kerjain
“Lha saiki kan iso kopdar sedino sewengi nang kene Gan ( nah sekarang kan bisa kopdar sehari semalam disini Gan )” berguling di lantai berguling di lantai
“semalam ada temannya juga lho yang ngikut sampai Tuban” kata mas Jefry
Selidik punya selidik ternyata mas Prima Cs, wah kena blong nih tapi eh koq tumben SIT turun nih,
16.05 Let The Journey Begin, Gentlemen Starts Your Engine!
OH 1830 angkat jangkar meninggalkan Arjuno dengan sewa sebanyak 8 orang, Pak Agus sebagai Driver Pinggir memulai tugasnya, tarikan 6 silinder segaris 7200cc dihelanya dengan ringan saja dalam rpm zona hijau sedangkan Gandhi rada ngedumel sebab ada bapak paruh baya kira2 seumuran pak Didik atau Dhe Harsono, mengkudeta seat 1Anya gara2 asik keenakan ngobrol denganku di 1B dan 1C, sepertinya bapak ini adalah salah satu pelanggan PK dan komuter Jakarta-Surabaya, hal ini terlihat dari keakrabannya dengan ketiga kru PK SE dan ground crew Arjuno sesaat sebelum berangkat.
Jok empuk, entah buatan mana aku tidak tahu sebab tak kutemukan identitas jok ini, 20 seat dibenamkan di dalam kabin 1830 non smoking area ini terasa begitu lapang, jarak antara seat bahkan jika reclining seat disetel mentok rebahan ( walau gak sampe pol ), cocok lah dengan ukuran Intalanku , toilet di tengah dengan lebar dan tinggi yang proposional sehingga menyisakan 1 seat di sisi kanan deret ke 4 dan 5 disebelah toilet ( tertera angka 4B dan 4C walau tidak bersebelahan ). B 7182 WV mengambil sisi kiri untuk kemudian memutar di U Turn menuju Demak-Dupak tanpa harus mengisi lapak kosong di Agen jalan Tidar, konon menurut Pak Didik agen Tidar merupakan agen langganan PK oversek ( over seket ) alias langganan PK gaek bahkan jauuh sebelum Arjuno berdiri, disinilah tempatku dulu hunting Neoplan selepas kuliah sore, biasanya selalu ada saja PK yang mampir di Tidar. Yakinlah aku bahwa sesi uji coba ini tidak ditarget okupansi penumpang terlebih di Arjuno tak nampak spanduk atau banner pemberitahuan adanya kelas Super Executive.
Memasuki kepadatan jalan Kalibutuh klakson berulang menyalak, namun yang membuat geli adalah suara klakson varian OH 1830 ini tidaklah menyalak garang nan memekakkan telinga, tepatnya lebih cocok klo piranti isyarat suara yang terinstalasi ini lebih mirip klakson mobil, mungkin sedulur ada yang tahu kenapa??
Lepas Kalibutuh, Demak, Dupak melenggang dengan santai di zona hijau rpm, jalanan bergelombang saat memasuki area Dupak-Margomulyo namun tidak terasa berguncang karena diredam oleh Air Suspensi yang menurutku koq lebih anteng punya Scania, senada dengan GPS yang emang kesengsem dengan Singa Scandinavia, maklumlah sebagai keturunan langsung dari Papa yang mantan punggawa PO bertag line comittment to excellent, tak salah bila mindset Skandinavia, mahal dan nyaman terpatri hingga kini
Perjalanan menuju kota pudak ditempuh dengan waktu 45 menitan, aku juga tak tahu dengan jelas 1830 ini berjalan dgn kecepatan berapa sebab jarum di indikator kecepatan menunjukkan angka 125km/h alias mentok padahal jarum di rpm seputaran angka 20 ( x100rpm ) mustahil bila berjalan sedemikian cepat, dugaanku hanyalah kisaran 80-90 km/h saja mengingat Pak Agus sebelum berangkat sempat membuka kompartemen mesin bertenaga 300 tenaga kuda dan mengatakan semua masih standar pabrikan, masih disegel semua katanya, jadi tidak bisa dibuat untuk berlari kencang.
Ah biarlah, mau pelan diblong SE PO langgananku juga tak apa, dengan tarif 280 ribu perak pergundul rasa-rasanya semakin lama juga semakin baik terlebih aku telah memilih salah satu armada Boeing livery singa berjadwal 18.45 sebagai moda pengangkut pulang ke Surabaya, katakanlah mau macet panjang sampai jam 3 atau 4 sore baru nyampe RM pun tidak masalah, Enjoy aja lah.
Setiba di Gresik, berhenti agak lama, kira2 5 menitan, sewa bertambah 1 orang, mas Jefry menaikkan snack dan langsung membaginya mengingat arus lalin yang didominasi truk, mobil pribadi menuju ke barat sangat rapat dan padat, bahkan sempet stagnant.
Isi Solar sejenak di SPBU Bunder, walaupun sudah beremisi Euro 3 tersenyum lebar, menurut pak Agus untuk konsumsi solar 1830 lebih banyak 20-22 liter bila dibanding 1526 untuk destinasi Jakarta pool-Rawamangun-Surabaya Arjuno PP.
Keluar SPBU masih berkutat dengan rapatnya kendaraan bertonase besar dan banyak sekali motor, 1830 dibejek dengan ringan saja bahkan sebuah AK1J 2005 Laksana Sprinter dgn identitas L 7032 UV mengusung genre AC Tarip Biasa Surabaya-Tuban-Kudus-Semarang mampu merangsek memanfaatkan selah tipis untuk mendahului 1830, tak terpancing pak Aguspun tak bernafsu untuk membalasnya.
“ini masih baru, saya masih agak hati2 mas, harap maklum ya”
aku hanya mengangguk mengamini, malahan dalam hatiku klo bisa pelan2 saja pak, rugi dunk mahal2 kalo masuk Rawamangun jam 8 pagi, entah apa dibenak pikiran partner turingku, aku tak tahu, sebagai pelanggan Harapan Jaya rasa2nya dia sependapat denganku
GPS?sementara GPS kutinggal sejenak di 3B, sudah sesuai kesepakatan aku bakal maju di depan ngobrol bersama Gandhie dan pak Agus, aku baru mendampinginya jika malam tiba, toh dia pun biasanya main Angry Birds di Gadget Pintarnya, aku dan Gandhi pun asyik bertukar pengalaman dengan bapak paruh baya tadi, beliau banyak bercerita tentang PK, Ijo, OBL, Continental, Presta Prima dan Jawa Indah, tampak sekali di usianya yang beranjak sepuh dan rambutnya yang mulai banyak beruban menandakan kilometer yang ditempuhnya mungkin sudah berdigit 6, kelak kira2 bila Yuanita Bayu berusia kepala 4, berapa juta kilometer yang telah ditempuh ya??
Dibelakang kami di row 2B-2C sepasang muda-mudi tampak memadu kasih, sesekali mereka bersenda gurau sampai cekikikan,ehhm Bay kira2 kalo sampe ketawa cekikian gtu pada ngapain ya? tampaknya yang laki2 juga penggemar bis aku sempet mencuri dengar yang laki2 cukup hafal denga beberapa tipe bis bahkan hapal denga beberapa armada Muriaan.
17.20 Masuk wilayah Lamongan, aku beranjak ke 3B, tiba2 GPS merajuk memintaku ke belakang sebentar, rupanya aku lupa berpamitan ke mama bila minggu ini tidak pulang , pasangan muda-mudi di depan kami cukup mengganggu karena sesekali terlihat mereka berdua mengumbar kemesraan, sesekali yang laki2 tertangkap kamera nyosor dan merajuk ke pasangannya.
Akupun dilanda kekuatiran 1830 tak mampu menunaikan kewajibannya mengantar kami finish ke Rawamangun, antara percaya dan tidak percaya namun mitos yang berkembang seperti itu, terlebih mas Edhi sudah mengalaminya dalam episode apes rasa Budi Jayaa, satu hal yang tiba2 menjadi bebanku dalam turing kali ini.
teeeett…. teetttt….. klakson menyalak dari sisi kiri lampu beam menyala berulang2, sebuah AK8 New Proteus livery burung Dali bertitel Dali Prima mengambil posisi dari sisi kiri saat tepat berada di teritori Sukodadi. Sebuah keunggulan yang tak berumur panjang sebab New Proteus tadi kudu menepi menurunkan penumpang sedangkan 1830 yang kutumpangi tetap melenggang dengan santai.
17.58 masuk Babad, AK1J sprinter tadi menepi tepat diatas jembatan yang melintasi aliran sungai Bengawan Solo, bisa dikatakan jembatan ini sekaligus sebagai terminal bayangan Babad, kadangkala bis tujuan Tuban, Semarang ataupun Surabaya berhenti sejenak menunggu operan di titik ini, sementara itu terminal Babad sendiri sekarang berubah wujud menjadi sentra oleh2 dan kerajinan.
18.40 berhenti di agen Tuban, ambil sewa total 11 sewa malam ini berada dalam kabin 1830
19.02 rehat di Sendang Wungu ( sebelah persis Taman Sari ) apakah masih satu grup dengan Taman Sari ya?
Mas Jefry mempersilakan para sewa untuk mengambil jatah makan malam gratis, namun sayang sekali malam ini aku seolah terbelenggu borgol GPS, sudah jadi rahasia umum GPS sensitif dengan asap rokok, alhasil ajakan pak Agus dan mas Jefry ikut makan di belakang pun terpaksa kutolak dengan halus. Pupus sudah bayangan 3-4 potong ayam, 1 telor ceplok bercampur satu porsi full nasi putih.
Realita yang ada kami para sewa Super Exeecutive harus bercampur dengan Executive untuk urusan service makan, nasi, opor ayam berjatah dan sayur urap2.
“mbaak super executive nih, masa ayamnya satu” aku pasang tampang mengiba, lalu pelayan itu bagaikan tersihir oleh aura Jumboku sepotong kecil ayam tambahan berpindah ke piringku
Selesai makan aku mengabsen, GPS kembali menuju singgasananya kebetulan mas Jefry cepat sekali makannya, pendar cahaya LED putih menggoda para penumpang PK lain untuk sekedar menolehnya, melihatnya dari jarak dekat, terlebih jok SE yang lebar seolah menebarkan aura “ngantuk” dan “tidur pulas” siap untuk melayani calon sewa2nya kelak.
B 7789 IZ 1526 Marco Banyuwangi, B 7789 IS 1525 Marco, B 7089 BK 1525 Marco, B 7489 IZ 1525 Marco Denpasar, B 7689 IZ 1526 marco, duo Jetbus 1526 N 7712 UA dan N 7707 UA serta satu Projetbus ( Proteus dipermak jadi Jetbus ) RK8 B 7589 IV menjadi partner rehat makan malam.
Battle of Pantura
Satu persatu mulai 7489 IZ disusul 7089 BK, 7789 IZ, 7789 IS dan 7712 UA meninggalkan rumah makan lalu giliran 7182WV yang kami tumpangi, kemudi berpindah ke tangan pak Purnomo. Aku sendiri berpindah ke 3B menemani GPS, pasangan muda mudi depanku sudah agak jinak, agaknya mereka kelelahan, dugaaanku pasti hari jumatnya mereka ke Surabaya, lalu putar kepala menjajal 1830 ini.
Pak Purnomo menginjak dalam2 pedal gas, terasa ringan akselerasinya, menyalip truk2 besar pun tak berasa susah malahan 2 Marco yang beragkat di depan kami sudah tampak di depan mata, 2 Marco dan 1 Jetbus 1830 terus berkonvoi hingga daerah Bulu salah satu PK Marco plus 1 Ijo setra LE 551 tadi berhasil ditake over. Pak Pur lebih berani dalam mengemudikan 1830 ini.
Semilir Denso dan buaian lembut Suspensi Udara membuat mataku berat, demikian pula pasangan muda mudi depanku sudah dalam posisi tenang, sudah berada di alam mimpi tak lama kemudian aku pun ikutan tertidur I-) tidur
Aku terbangun saat melintas Rembang, kukirim sms kulonuwun kepada pujangga ranah Muria agar 1830 yang lancar sampai Rawamangun dan aku tidak kualat
menjulurkan lidah
Ah tak dibalasnya smsku, mungkin beliau lagi tidur, sengaja aku tidak bilang sedang turing dengan 1830, menurutku catatan perjalanan lebih berbobot bila beliau sendiri yang bertutur, bila saja beberapa hari ke depan PK SE ini resmi menggawangi Lasem-Jakarta mungkin catatan sederhanaku ini tak akan pernah ada, khasanah buspedia dan kamusku sangatlah kalah telak dibanding beliau. Apabila dibandingkan, mungkin serasa Scania dengan solar yang dijatah
Kaliori, 21.50
Kerlipan tail light bus, truk tampak dipelupuk mata, makin lama makin terang menandakan arus lalu lintas di depan mengalami kemacetan. Tanpa berpikir panjang lingkar kemudi digoyang sedikit ke kanan dan body bongsor garapan Adi Putro ini sedikit terhuyung lalu berpindah lajur yang kosong melompong, over taking truk, 2 Kalisari Travego Smile, 2 PK Marco,1 Lorena Evo dan 1 KD setra lalu berhenti disebuah tikungan, tepat dibelakang sebuah truk gandengan dengan posisi memakan separuh lajur berlawanan, heal light dimatikan, menyisakan hanya lampu kota saja, yang menyamarkan keberadaan
Dari kejauhan tampak nyala biru rotary mobil patroli lalu sedikit demi sedikit dari arah berlawanan mulai ramai kendaraaan, makin lama makin tersendat karena kendaraan besar mesti mengurangi kecepatan, menyesuaikan lajunya dan minggir ke kiri sedikit agar tidak terjadi kontak body dengan 1830. Tercatat 1 buah PK RG Trisakti Marco berstiker “Jetbus”, 1 Setra Ombak 7282 WV putar balik dan menginfokan akan lewat Rembang-Blora-Purwodadi.
The Punishment
Nahas, tepat dibelakang PK setra sedan biru putih Elantra moncongnya tepat berhenti di depan moncong bongsor Jetbus kami, 1 orang petugas mengatur arus lalu lintas dan 1 orang menghampiri, menanyakan surat2, mas Jefry dan pak Pur pun turun.
20 menitan berselang, mulai bergerak namu agaknya kami dihukum, barisan kendaraan dibelakang merangsek maju meninggalkan 1830 yang masih “mati kutu” dipalang moncong Elantra, hampir 10 menitan pula membisu terpaku menyaksikan kendaraan hilir mudik lalu dua orang petugas itu pergi, satu ke arah barat numpang pengendara motor,satunya lagi masuk ke dalam Elantranya lalu pergi.
Agaknya Pak Pur lebih bijak, kali ini cukup mengekor antrian, sesekali jika arah berlawanan kosong beliau berani goyang kanan tapi sesegera mungkin masuk ke antrian jika di depan macet lagi atau kres.
Batangan, hampir 50 menit berlalu setelah terhambat di Kaliori. Berjalan merambat melewati sebuah Pasar dengan halaman yang cukup bila dihuni 2 unit 1525/1526
senang
“Itu agen langganan e mas Edhi, dulu klo balik ke Jakarta naiknya dari sini, ini agen handal mendadak pun pasti dicari2kan asal jangan terlalu mepet telponnya” aku menunjuk ke sebuah toko kecil dengan meja dan kursi tak bertuan jika malam tiba, ah agaknya GPS sudah tidak fokus lagi kuajak ngobrol.
Aku masih ingat suatu minggu pagi ada yang telpon minta tolong titip tiket Haryanto, mendadak sekali namun si dia partner turingku dulu masih kebagian seat 17 walau Minggu malamnya berbasah2 ria menembus derasnya hujan di kota Lunpia mengejar Blue Titans
Merambat…….
Ngeblong………
Ngantri lagi….
Begitu terus berulang2 seolah tak berujung membuat mataku sayu I-) tidurI-) tidur
Kurasakan bis berjalan gontai, sesekali suara kabin bagasi di atas agak berisik, lirik kanan kiri ternyata aku melihat SPBU dengan ATM di sisi kanan, pastinya sudah tiba di Jekulo.
Sinar Mandiri New Proteus diover take, sedikit sekali penumpangnya, di susul Widji Patas New Armada S 7415 UJ yang giliran menambah daftar yang diasapi, idem SMM ekonomi tadi bisa dibilang sisa perjalanan mereka ke Terboyo berpredikat “Mbambung” alias okupansinya bisa dihitung dengan jari. Pantas saja demikian, sekarang sudah hari Minggu, hari ketiga di bulan Juni, bahkan sudah hampir jam 1 pagi siapa pula yang mau bepergian di tengah malam begini. Entah berapa jam yang terbuang efek kemacetan panjang di ruas Juwana-Batangan-Kaliori, aku tak tahu.
01.10 Depan terminal Kudus
01.17 entah di daerah mana, 1830 menepi. Kulihat ada PK 1526 nano2 Madura sedang membuka kap mesin
“Jefry coba dilihat ada apa sama bis Madura itu?” Pak Pur mencolek Mas Jefry yang lg asyik tidur bersebelahan dengan Gandhi
) tertawa
Mas Jefry yg separuh raganya masih berada di alam mimpi segera turun bersama Pak Purnomo menengok kompatriotnya sesama kuda Bavaria beda varian.
Tak sampai 5 menit perjalanan dilanjutkan dengan posisi di belakang Nano2 Madura tadi, untunglah 1526 Madura berjalan cepat dan tak ada niatan Pak Pur untuk mendahuluinya, akupun kembali terlelap
Lampu kabin dinyalakan, lirik kanan kiri…. ternyata sampai di Mangkang untuk antri isi Solar, terlihat RG setra 7282, 7489IZ, 7789IZ dan Trisakti “Jetbus” di depan kami. Keputusan tepat diambil pak Pur untuk tidak terpancing lewt Purwodadi, menurut info rekan2nya ada 3 titik kemacetan perbaikan jalan di jalur Purwodadi-Semarang, sementara itu penumpang 1C masih berada di alam mimpi bersebelahan dengan asisten pengemudi yg juga raganya belum genap
15 menit lamanya di SPBU yang pagi buta itu menerima limpahan PK yang menumpuk akibat kemacetan tadi, perjalanan dilanjutkan kembali dengan pak Purnomo tetap di belakang kemudi ( klo ikut pak ikhsan biasanya oplosan di Mangkang ), menapak aspal pantura, sejauh mata memandang teman seperjalanan hanyalah kompatriotnya, 1 Marco 1526 dugaanku 7789 IZ dan RG Setra Madura yang tadi antri isi solar di depan 1830. Bertiga membelah kecamatan demi kecamatan tanpa salah satu berusaha untuk menjadi number one setibanya di Uun nanti.
Melewati Sari Rasa kedua kelopak mataku hanya menangkap beberapa Rosalia Indah, Kramat Djati dan Harapan Jaya Patas yang sedang melakukan Pit Stop, demikian pula saat melintas depan Mekar Sari hanya 1 Garuda Mas New Celcius yg sedang menapak keluar, letak parkiran Mekar Sari yang menjorok di belakang dan terhalang oleh pepohonan membuatku kesulitan untuk melihat apakah armada2 handal mandoranku tengah melakukan Pit Stop juga di situ.
Selama jadi komuter Surabaya-Jakarta hanya 2x saja mampir di Mekar Sari. Pertama saat naik Jaya AE 7017 US dan yang kedua PK B 7989 IW, tidak semua PK berhenti disini, sepertinya hanya beberapa gelintir saja dan PK divisi Malang ( tidak semuanya lho, kalo Pak Ikhsan, Pak Podo langsung bablas ), Garuda Mas hanya AC 2-3 dan Ekonomi yang pernah kulihat berhenti disini lalu tentu saja armada handal penganut setoran Madjoe grup serta Jaya Ac 2-3 dan Jaya executive.
Kembali ke aspal,
Melintas depan Gerbang Elok, tampak beberapa Ramayana dan Raya sedang melakukan Pit Stop.
Berbelok kanan memasuki Gringsing, mataku yang sayu masih menangkap penampakan TSU Scorpion King, Harta Sanjaya, 3 Laju Prima di Raos Eco, Sendang Wungu, Bulit Indah, telaga Indah tak sempat kutoleh. Tanjakan Plelen kurasakan dapat ditaklukkan dengan mudah, dengan gigi 3 ditunjang lenggangnya arus lalin di pagi buta itu. Kombinasi semilir Denso dan goyangan lembut Suspensi Udara kembali mebutaku tersungkur di pelukan GPS asiikkk asiiiiikkkkk………:"> pipi memerah:x jatuh cinta:x jatuh cinta alangkah indah road test 1830 kali ini apalagi berduet dengan GPS ( tuh Pon, kapan nih ada kiperpon feat nyonya Ponirin, eh di FB status “pacaran” emank beneran tuh?no pic = hoax ah )
Batang, Pekalongan, Pemalang hingga Tegal kota kulewatkan begitu saja hingga kurasakan bis berhenti di sebuah masjid kecil di daerah Brebes.
Kru beserta beberapa penumpang menunaikan ibadah sholat subuh, salut untuk duet Pak Agus dan Pak Pur, sewaktu pak Agus dgn pak Asep masih jalan Surabaya malam pun beliau senantiasa turun pantura dari aspal sejenak, meluangkan beberapa menit untuk menghadap sang Khalik demi melantunkan puja puji syukur diberi limpahan rizky dan keselamatan tanpa kurang suatu apapun selama mengaspal.
Grrkkk…. gkkk…
Sepertinya suara dari bagian sistem transmisinya, lingkar kemudi berpindah ke pak Agus, tampaknya agak susah meindah tuas dari netral ke posisi 2 atau bahkan 1, lalu tak lama kemudian 1830 kembali mengaspal setelah tuas persneling agak dipaksa masuk ke gigi 2.
Sayup-sayup kudengar ketiga kru berkeluh kesah, entah kenapa disaat trip terakhir sebelum 1830 ini berisitirahat untuk maintenance menunjukkan gejala agak rewel, kutengok layar display di jadul cell phoneku, terpampang angka 05.25 saat berbelok ke arah kiri menuju entry gate tol Pejagan.
wuussss….. sebuah RG rombakan Trijaya Union Madura-Jakarta menyalip dengan sadis 1830 yang berjalan gontai kisaran 70-80km/h di ruas Pejagan menuju Palikanci, disusul kemudian New Marco 1525, dugaanku ini 7489 IZ denpasar atau 7789 IS.
wuussss….. kali ketiga kompatriotnya overtaking, kali ini Jetbus Nano Nano, dugaanku ini bis dari Madura yg kemarin ditemani saat di Kudus.
Aku kembali harus takluk oleh semilir Denso dan empuknya jok super lebar ini I-) tidur
7.30 Minggu 3 Juni 2012 mendarat di Uun, terlihat 7489 IZ, 7789 IZ, 7789 IS,Nano2 Madura dan 1 RG setra yang ternyata ke arah timur. wauwww kemanakah gerangan RG Triun tadi?cepat sekali dia. kembali ajakan servis makan handal kutolak sebab GPS agak dalam mode cemberut, hadeehh beginilah jika turing feat. GPS entah berapa potong ayam goreng yang kulewatkan , tiada sarapan pagi hanya 2 gelas teh hangat dan sepotong roti susu asupanku pada pagi hari ini apes…… apes……
30 menitan Pitstop di Uun, kendali kemudi tetap ditangan Pak Agus
Grrrkkk….. grrrkkkk…. kembali gaduh suara itu tatkala pak Agus memaksa tuas masuk ke posisi 2.
Beruntung pagi ini tak ada kemacetan di ruas Ciasem hingga Sukamandi, hanya sedikit merambat saat melintas di depan Pasar Sukamandi. Terlihat pula Rasa Sayang New Celcius di sisi kiri membuka kap mesin. Tiada pula aksi2 over taking antar bis malam AKAP, hanya membuntuti OBL Sprinter cooler Mataram sedari depan pasar Sukamandi hingga Jomin.
It’s Over….
Gate Cikampek menjadi saksi akhir catatan perjalananku bersama 1830, kali ini tuas persneling tak bergerak sama sekali walau berulang kali dipaksa, pak Agus menyalakan hazard, Mas Jefry turun untuk meminta asistensi petugas Jasa Marga, apa yang aku kuatirkan semalaman telah terjadi, 1830 mengalami trouble, sejenak pak Agus berusaha memaksa memindah tuas persneling namun sia-sia, diputuskannya untuk mengoper ke Pahala Kencana yang mengarah ke Rawamangun. Antara percaya dan tidak akan mitos itu, aku hanya bengong sesaat.
Beruntung tak sampai 5 menit 7789IZ datang lalu minggir untuk melangsir ke Rawamangun, tampak guratan kekecewaan GPSku yang kubangunkan dari peraduannya yang empuk dan lebar, 1830 didorong mundur mencari ruang yang luas di sisi kiri, tak lupa pak Agus dan Mas Jefry menyampaikan permohonan maaf karena adanya masalah gangguan teknis ini.
Sebagai penumpang terakhir yang menaiki kabin Executive 1526 new Marco ini, aku dan GPS kebagian seat 8C dan 8D sementara pasangan muda mudi yang lagi hangat2nya berada di 8A dan 8B.
7789IZ melaju menapak aspal tol Cikampek, cukup kencang juga, sedikit menghiburku terlebih 7789IZ ini tidak melakukan ritual isi solar di KM 62, langsung ngejoss meliuk2 jalur 3 dan 4 mendahului beberapa kendaraan pribadi, tidak dengan halnya GPSku. Agaknya dia masih shock atas terjadinya Down Grade kelas mendadak ini, terlebih setelah asyik dibuai Air Suspension tiba2 harus merasakan Per daun 1526 yang agak keras.
10.50 7789 IZ tiba di Rawamangun, untunglah tiba dengan selamat mengingat saat di tol tadi pasangan muda mudi itu tertangkap kamera Paparazzi sedang asyik berduaan
Sayang sekali hingga pukul 15.05 tak tampak batang hidung Ponirin Similikepret, padahal tangan udah gatal mau mengepretnya.
Rabu 20 Juni 2012 03.50
aku masih sedikit batuk dan pilek padahal sudah berganti 2 dokter, agaknya aku masih stress kepikiran biaya turingku yang naik hampir 3x lipat dan meludeskan hampir separuh gajiku.
Hary BW aka Intercooler Jumbo
Dari Kota: Surabaya
Jam Berangkat: 16:5
Tujuan Kota: Jakarta
Tiba jam: 10:50
P.O: Pahala Kencana
Harga Tiket: 200000
Kelas: Super Eksekutif
Tanggal: 06/02/2012






Komentar