
Tanggal 15 Agustus malam lalu, akhirnya sampai juga diriku ke kota kelahiranku di Nganjuk.
Perjalanan dari Surabaya ke Nganjuk kali itu terpaksa tidak naik bis karena sudah bisa dipastikan sulit dapat bis, mengingat long weekend. Aku terpaksa menunggang Mitsubishi Kuda menembus kemacetan di sekitar Krian serta kepadatan jalan yang terus mengiring perjalanan hingga sampai Jombang.
Karena penasaran dan termakan provokasi teman-teman Jatimers, menjelang Jombang aku telp Doni dan Cak Awan minta info dimanakah Pecel Bra’an Kertosono yang konon kondang seantero dunia itu ?. ”Sialan…” keduanya ga ada yang angkat telpon, tapi aku maklum hari itu kan malam minggu, sangat mungkin mereka berdua sedang “indehoiii…” sama pacarnya masing-masing maklum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam lebih.
Tapi dasar kedua orang itu berumur panjang, tiba-tiba kurang lebih lima belas menit setelah itu Doni membalas telponku dan menunjukkan dimanakah gerangan letak Pecel itu berada. Tak lama kemudian, berikutnya Cak Awan (Sunan Tuban) membalas telponku, namun diawali dengan pertanyaan “ini nomor siapa ya…??”, barangkali saja dia berharap yang missed call ke hpnya itu seorang cewek. Ternyata harapanmu Salah !!!, Iki ngono telponku…. Cak..he he… he…., Akhirnya Cak Awanpun dengan terpaksa menjelaskan juga dimana pecel itu berada, (meskipun dalam hati barangkali misuh-misuh / mengumpat “Halah… tak pikir telp dari Cewek yang ngajak sayang-sayangan, ternyata malah telpone Bismania Tuwek…!!” he he he…)
Singkat cerita, pengalaman makan nasi pecel tidak bisa aku ceritakan di sini, apalagi sekarang bulan puasa… bisa memprovokasi orang untuk membatalkan puasa. Dan apabila itu terjadi, itu termasuk tindakan dosa besar…
Besoknya tanggal 16 Agustus aku harus balik ke Jakarta dari Nganjuk.
Dengan pengalaman berangkat yang menyedihkan dan melelahkan maka aku minta tolong saudaraku mencarikan tiket bus Nganjuk – Jakarta sebelum aku sampai Nganjuk.
Pilihan armadanya jelas tidak banyak, cuman Harjay, Rosin, PK atau Ijo. Sudah tahu sendiri kan kalau Ijo tidak bakalan jadi pilihan, hingga tinggal 3 yang lain. Sayangnya saudaraku tidak terlalu perhatian / tidak terlalu senang dengan bis, sehingga dituju pertama adalah PK dan begitu dibilang masing kosong langsung dibeli tiketnya tanpa ba bi bu….. Setelah beli tiket baru dia telpon aku bahwa tiket sudah dibeli… , ya sudah mau apa lagi… ngikut aja…. karena yang dibeli tiket PK nomor Seat 2 A
Bayanganku.. … aku akan naik PK RG AP Setra lampu depan smile dan lampu belakang pistol yang biasa dipakai jatah Jakarta – Blitar. Tapi ketika jam 13.30 lewat dikit aku dibuat kaget dan meringis…. , yang datang ternyata RG Ombal Old Travego yang interiornya sudah dekil..alias bulukan.
Aku amati wajah Pak Sopirnya tidak asing lagi, dia P Waluyo langgananku di Continental dulu. Beliau adalah salah satu sopir paling favorit di Continental dulu. Langsung saja aku sapa. “Pak Waluyo dulu di Continental ya ?”.
“Nggih mas…” jawabnya
“OOaalah Pak, Njenengan dulu yang bawa Conti Nissan CB Kaca-Kaca toh ?”
“Nggih mas.., njenengan kok inget” katanya
Untunglah wajah bulukan PK Old Travego itu tidak terlalu mengecewakankku karena tertutupi oleh Sopirnya adalah Sopir favoritku dulu.
Akhirnya dari beliau dapat penjelasan bahwa bis yang dibawanya hari ini adalah bis cadangan yang biasa ngelen Madura sedangkan bis asli pegangangan P Waluyo sedang perpal. Pantesan, interior bis ini kelewat berantatakan.
Ada kejadian menarik, waktu bis berhenti di Maospati agen PK di sana sempat adu mulut karena ada penumpang yang komplain kenapa bis yang jalan kok jelek sekali. Akhirnya penumpang yang istrinya bercadar ala keluarga Noordin M Top tetap pasarah naik bisku karena agen tidak mau mengembalikan harga tiket. Saudaranya yang mengantar sempat marah-marah tetapi Crew dengan sabar melayani dan mengatakan bahwa dia hanya menjalankan bis saja dan kebetulan bis aslinya sedang rusak.
Selanjutnya setelah itu yang ada hanya kelincahan P Waluyo membawa bis, bedanya di saat jalan sepi beliau tidak mau injak gas dalam-dalam, tapi di saat jalan ramai jelas sekali manuver-manuver ngeblongnya sangat lihai. Sopir keduapun tak kalah nyamannya dalam membawa bis. Bisa dibayangkan kalau yang dibawa RG Setra yang asli untuk trayek itu tentu aku akan puas.
Alhasil perjalanan Nganjuk – Jakarta meskipun dengan bis bulukan tetapi hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Di perjalanan PK bisa mengimbangi bis-bis lain. Meskipun tidak agresif menyalip tapi terus mengekor bis-bis lain.Yang bikin surprised bagi saya ternyata Old Travego PK ini tidak banyak “tikusnya” (tidak bunyi cit..cit…cit. .., seperti Jayut Jupe Patas Semarang Surabaya). Padahal body Jayut Jupe jelas jauh lebih baru tapi kenapa ya kriyet….kriyet. …nya kencang sekali membuat kuping jadi capee….
Didik Setiadi
sumber photo : http://pahalakencanabandung.multiply.com/photos/album/88/PK_Ombak_Travego#photo=9
Catatan Perjalanan yang lainnya:
Mengejar Cinta Bersama Pahala Kencana HT 817
Prediksi Perbisan tahun 2011 (lanjutan)
My First Trip With PO Haryanto Bagian 1
“Barbar Kids” Rhapsody (3)
PO. Continental (nasibmu kini)
Touring with Love




Komentar