Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Salam,

Minta maaf karena saya telat menaikkan catatan perjalaan ini ke milis. Kisah ini tentang perjalanan saya dari tanggal 24-27 Maret yang lalu. Maaf kalau caper ini terlalu panjang. Kalau tidak ada waktu senggang, ya, silakan dilewati.

Salam,

M. Faizi

Catatan: caper ini juga diposting di blog http://kormeddal.multiply.com;


PERGI
DENGAN PO HARYANTO “BIRU” B-7978-VGA

Setiap kali menunggu bis di pertigaan itu, Prenduan, saya sering kali dilanda “demam perjalanan”, yaitu perasaan tegang pada saat menunggu bis yang akan datang. Apakah kondisi seperti ini juga dialami oleh orang lain? Mungkin saja demikian. Keadaan ini, kalau dibandingkan, mirip dengan kondisi emosi seorang artis pemula yang demam panggung. Jika demam panggung mengakibatkan penguasaan emosi di atas pentas, skill, dan olah vokal, jadi amburadul, demam perjalanan menyebabkan hasrat buang air kecil berlipat-lipat.

Haryanto hijau B-7544-IS lewat. Saya cuek. Saya tahu, bis itu juga berangkat dari terminal Arya Wiraraja, Sumenep, dengan tujuan Jakarta. Namun karena ada sambungan telepon dari agen limabelas menit yang lalu (“Pak Faizi?” // “Iya.” // “Posisi kami baru keluar dari terminal. Anda di mana?” // “Saya di partelon Prenduan.” // “Ya, baiklah. Haryanto yang biru, ya, Pak.”), saya berkesimpulan itu bukanlah bis yang akan saya tumpangi.

Sekitar lima menit menjelang pukul 11 siang, Haryanto biru datang. Saya naik. Sejuk kabin menyambut. Kursi empuk bertaut. Kursi nomor 1-D kosong, dan segera saya mengambil posisi di shaf depan itu. Saya pun menikmati perjalanan dengan rasa kantuk yang sangat karena sejak semalam hingga pagi tadi, aktivitas penuh telah menguras banyak energi. Mata dipejamkan, menghayati embusan pendingin ruangan, selimut, dan leg rest yang nyaman.

Bis masuk Jalan Jakarta pada pukul 13.50 dan tiba di RM Pangestune sekitar pukul empat. Ada dua armada Madura-an yang lebih dulu parkir di sana. Makan-shalat selesai ketika armada Haryanto hijau B-7544-IS baru masuk, terpaut beberapa menit ketika armada yang saya naiki bersiap meninggalkan rumah makan pada pukul 16.30. Saya menduga, bis tersebut terlambat karena mengambil penumpang di daerah Bangkalan.

Lewat Sluke, entah sebelum atau sesuh perbatasan Jatim-Jateng, bis menyalakan lampu sein kiri, parkir. Di sisi jalan, tampak satu bis PO Haryanto yang lain sedang parkir dengan kap mesin terbuka. Kelihatannya bis ini sedang mengalami masalah. Beberapa orang berkerumun di belakang. Seseorang menyentrongkan senter, tangan-tangan kekar belepotan oli mengutak-atik mesin. Kesimpulann dihasilkan setelah satu jam lebih.

“Bagaimana, Pak?”

“Kayake enggak bisa, Pak. Selangnya pecah.”

“Jadi, kami dioper?”

“Ya. Nanti penumpang dibagi ke empat bis. Di pool Kudus, Bapak akan mendapat ganti armada yang baru.”

Sontak, semua penumpang dipindahkan kepada empat armada Haryanto yang lain yang ketika itu telah turut merapat.

Di satu sisi, kerjasama yang bagus ini patut diacungi jempol. Semua kru Haryanto Madura-an bahu-membahu, membantu menyelesaikan masalah mekanikal yang dialami salah satu bis rekan mereka. Namun, pemumpang yang menggerutu tentu juga banyak. Mereka merasa telah kebagian getah dari buah yang tidak mereka sentuh. “Persaudaraan” versus “tepat waktu” seperti yang diandaikan tidak bisa berjalan beriringan pada saat Maghrib menjelang Isya itu.

Empat bis berangkat, berkonvoi. Saya terbangun ketika bis masuk pool Kudus. Seperti yang direncanakan, saya melakukan shalat rapelan Maghrib-Isya di mushalla pool yang kelihatannya dalam tahap penyelesaian itu. Hati jadi tenang. Tugas ibadah shalat sebagai seorang hamba, meskipun seringkali hanya menjadi ritualitas penggugur kewajiban, untuk hari sudah terlaksana. Perjalanan 9 jam ke depan akan saya nikmati di balik selimut, menyelonjorkan kaki dan menyorongkan sandaran lebih ke belakang; tidur.

Kota demi kota dilalui bis ini dengan kecepatan merata, yakni kisaran 90-100 km/jam di jalan biasa dan 110-120 di tol. Betul, ini memang Hino, tetapi dengan mazhab lima lembar per, suspensi RK-8 ini tidaklah sama dengan yang pernah saya alami tahun lalu. Redam kejutnya sangat baik. Rasanya mirip dengan kelembutan suspensi Mercy Intecooler. Tidak banyak lagi yang dapat saya ceritakan dalam perjalanan malam itu. Yang saya ingat, sebuah pesan masuk ketika bis telah masuk tol Cikampek, “Selamat menikmati perjalanan. Dan selamat menikmati kemacetan kota Jakarta.”

(Waktu yang serbamepet membuat agenda “satu hari di Jakarta” harus dimampatkan sedemikian rupa. Mengapa sehari? Pagi hari Kamis sebelum berangkat, saya masih punya kewajiban menyaksikan akad nikah seseorang di desa tetangga, sementara Minggu lusa, undangan serupa juga menunggu. Tak ada pilihan lain. Untuk menghargai undangan rekan-rekan BMC ke IIBT, saya nekat berangkat ke Jakarta meskipun dengan resiko hanya satu hari di sana.

Turun dari bis di Pulo Gadung, sarapan soto Emul di Rawamangun, mampir sebentar di rumah Nano di Pasar induk [yang ternyata si Nano-nya ada di Kudus], lalu lanjut ke rumah Mas Andra di Puri Gading, ke kampus UKI di Cawang untuk menemui seorang kawan yang lain, semua agenda tersebut saya selesaikan dari pagi sampai sore. Dari Cawang, perjalanan dilanjutkan ke hajatan inti, IIBT di Jakarta International Expo, Kemayoran. Perlu dikethaui, perjalanan bersepeda motor menyusuri kemacetan kota Jakarta, sejak pagi sampai malam, saya diantar oleh Mas Moko dan Mas Andra, hebat. Nah, setelah pameran tutup, kami pergi bersama-sama, mengunjungi kontainer Pak Dhe Fatur di Menteng [Kisah persaudaraan yang hangat di sana akan saya tulis secara terpisah, tentu juga dengan subjek yang terpisah, di milis tercinta ini]. Esok paginya bersiap meninggalkan Jakarta.)

PULANG DENGAN PO HARYANTO “KOPI SUSU” B-7789-VGA

Duduk di kursi depan, diantar dua Kijang LGX ke Pulo Gadung, saya merasa seperti seorang mempelai pria yang hendak mempersunting seorang mempelai putri. Sudah selayaknya, mempelai pria, tidak berani datang sendirian kecuali mau dianggap gila. Saya diantar oleh teman-teman BMC yang berangkat bersama-sama dari “kontainer” Mas Fathur.

Tiba di terminal Pulo Gadung, aneh, tak ada satu pun calo yang menawarkan tiket bis pada saya. Barangkali karena mereka telah akrab dengan wajah-wajah yang sering berada di terminal ini; Fathur Razzaq, Boim, Bagus, Arifin, Tri, Susi, Kiki, Astari, dan sudah barang tentu, duo Nano dan Rully.

“Maaf, saya tidak bisa memesankan tiket di kursi nomor 1,” kata Rully.

“Tidak apa-apa.”

“Pak Bukhori lupa katanya. Dia tidak segera mencatat kursi pertama.”

“Sungguh, ini tidak masalah,” jawab saya meyakinkannya. Namun, rupanya Nano punya tawaran yang lain. Dia menimpali, “Kalau kursi CD, mau? Biar saya bilang ke kru.”

Saya tetap tidak bergeming, “Tidak masalah. Saya duduk di kursi belakang saja. Sekali lagi, terima kasih.”

Akhirnya, setelah sesi pemotretan selesai dan saya duduk manis di kursi nomor 7, Haryanto berwarna kopi susu, B-7789-VGA itu, barulah mereka kembali, mungkin menuju arena IIBT.

Bis lepas landas dari Pulo Gadung saat jam mendekati 11 siang, sama seperti ketika berangkat dari Prenduan. Jalan tol Cikampek siang hari Sabtu itu dipenuhi oleh barisan kendaraan dari berbagai jenis, padat memenuhui semua lajur. Pemandangan ini sangat menggoda gairah. Dan karena saya lihat kenek dan sopir sama-sama berada di belakang, saya maju ke depan, duduk di kursi CD, samping pintu kiri.

“Numpang duduk, Pak, mau merokok.” Kata saya kepada seseorang yang rupanya telah berada di kursi CD itu, lebih dulu daripada saya.

“Oya, silakan.”

Semestinya, selesai merokok, saya segera kembali ke tempat. Saya masih ingin menikmati pemandangan jalan raya di terik siang yang panas, dari balik kaca yang lebar, di dalam kabin yang sejuk dan nyaman. Kami menikmati suasana kesejukan metaforis. Itulah teknologi. Ia sering kali menciptakan ironi: membuat suasana sejuk sekaligus melepas polusi lebih banayak ke udara. Bukankah ironi memang merupakan satu hal yang disukai manusia?

Teman duduk saya itu mungkin bingung karena saya anteng-anteng saja di sana. Dia pun bertanya.

“Sampeyan mau terus duduk di sini?”

Awalnya, saya merasa risih dengan pertanyaannya. Apakah ini tanda dia tidak suka dengan kehadiran saya? Saya mengkonfirmasi.

“Ya, ndak lah. Mana mungkin saya duduk di sini sampai Madura? Emang, kenapa, Pak? Tempat duduk Bapak di nomor berapa?”

Rupanya, ada udang di balik batu. Ada soal menyimpan mau.

“Tidak. Saya tidak kebagian kursi. Bis ini sudah penuh, tetapi saya tetap ikut karena harus segera pulang ke Surabaya. Saya baru saja tiba tadi pagi di Jakarta, belum istirahat, dan harus segera pulang ke Surabaya. Kalau boleh, sementara saya ganti tempat duduk Sampeyan.”

“O, begitu toh. Iya, silakan, Pak. Saya juga sama-sama capek. Cuma, mungkin Bapak lebih capek daripada saya. Silakan, Pak. Tapi, dengan catatan, lho. Kalau nanti saya sudah tidak mampu menahan kantuk, kita tukar tempat kembali, ya!”

Bapak itu hanya membalas dengan senyuman. Ia ngeloyor pergi ke belakang. Duduk di kursiku, menarik selimut, dan segera istirahat.

Dari baris terdepan, aktivitas lalu lintas jalan raya yang bergerak cepat terasa semakin jelas saya lihat. Roda-roda berputar menghidupkan laju perekonomian. Semua orang seperti sedang terburu-buru, selalu. Rezeki menunggu di mana-mana, tetapi mereka terus memburu, berpacu dengan waktu. Apa yang hendak diburu? Irama hidup yang cepat menuntut kita bergerak cepat. Siapa yang tekun, dia yang dapat.

Dalam perjalanan keluar dari tol Cikampek menuju peristirahatan pertama, RM. Taman Sari (Subang), Po. Haryanto “kopi susu” ini berjalan seiring dengan Po. Haryanto Sumenep yang—mungkin—berangkat dari Priok, eks Blue Star, dengan nomor punggung B-7778-VGA, berbaju travego lawas. Istirahat-makan-shalat selesai dan bis kembali melenggang pada pukul 13.55.

Selain bertemu Aneka Jaya jurusan Pacitan, hingga masuk pintu tol Palimanan pada angka 15.23, lalu pukul 16.53 di kota Tegal, sekuel tersusun tanpa kejutan. Tidak ada tokoh penting berganti watak, atau pemain figuran yang diperdaya. Semua berlangsung wajar saja. Aneka Jaya tujuan Pacitan dan Sandy Putra Jember-Kuningan melintas apa adanya pada bagian-bagian lain di dalam cerita.

Namun, saat jam menunjukkan pukul 17 lewat 16 menit, sebuah peristiwa penting terjadi. Ketika itu, bis melaju dalam kecepatan 115 km/jam, atau lebih (data ini saya peroleh kemudian), di ruas jalan yang lurus dan sepi di daerah Babadan, Pemalang. Bebarapa puluh meter di depan, sebuah truk dari arah berlawanan (saya menduga truk tersebut bermuatan semen) secara mendadak memotong jalan, masuk ke SPBU.

“Gila!!”

Kelihatan, sebuah sepeda motor yang berada agak jauh di depan yang kutumpangi kelihatan mengerem mendadak, nyaris adu kambing dengan truk. Tapi, itu sepeda motor bercakram. Namun, bagi bis yang berbobot di atas 12 ton dengan penumpang penuh dan sedang melaju di atas 100 kilometer per jam; mampukah?

Bis direm secara penuh. Body besar itu jadilah limbung. Saya membayangkan yang tak pernah terbayangkan, sebuah peristiwa yang akan terjadi kurang dari 5 detik lagi: saat sepeda motor dan truk di depan itu tinggal beberapa meter, sopir bis justru melepas rem dan membiarkannya menggelinding. Begitu dekat, cepat ia membating setir, melewati sepeda motor dan truk itu dari sisi kanan. Sontak, bodi bis oleng dan masuk ke ruas jalan lawan. Lalu, dalam sepersekian detik, sopir kembali membanting ke kiri, melewati bokong truk dan kembali masuk ke jalur semula, kembali memutar ke kanan, mengendalikan setir. Ajaib. Tuhan masih menolong kami.

Pengemudi muda itu tidak memaki-maki. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum sinis, melirik spion kanan, menarik napas yang terasa berat, namun tetap mengendalikan bis dengan kecepatan masih seperti biasanya.

Memasuki kota Pekalangan, mataku tak kuat menahak kantuk. Saya pun kembali ke kursi hak-ku, nomor 7-D. Ayunan per lima lembar Hino RK (berdasarkan penuturan si sopir; baru saja diganti beberapa hari yang lalu) tidak butuh waktu yang lama untuk membuaiku. Menembus Batang, melwati kota Kendal, Semarang, Demak, Kudus, tak ada yang saya ketahui apa saja yang terjadi, kecuali kenek membangunkanku bahwa sekarang adalah jam istirahat.

“Oh, sudah Pangestune. Tuban berarti. Pukul 00.30,” batinku.

Sambil kucek-kucek mata, saya turun, masuk ke rumah makan. Saya merasa heran karena tiba-tiba kenek bis mengajakku ke ruang prasmanan untuk kru. Sudah pasti, semua yang dihidangkan di sana akan menjadi gratis. Tapi, karena kurang biasa makan tengah malam, saya hanya memesan secangkir kopi setelah lebih dulu shalat rapelan Maghrib dan Isya.

Sejak keluar dari RM Pangestune, yang saya lakukan hanya buka-tutup mata, tidak bisa benar-benar tidur seperti semula. Bis terus melaju dan pengemudi muda itu kembali duduk di belakang kemudi, menyusuri kota Gresik (02.30), masuk tol (02.39), lalu Jalan Jakarta (02.57) dan pukul 03.10 di atas Jembatan Suramadu. Dengan kecepatan rata-rata 90 km/jam, jika bis berada di Suramadu pada jam segitu, bisa dipastikan Subuh baru akan berkumandang di kota Pamekasan. Namun, karena menurunkan beberapa penumpang di terminal Bangkalan, terjadilah injury time yang cukup banyak. Azan berkumandang saat bis menurunkan tiga penumpang lagi di Blega. Harapan masuk pagi ke Sumenep semakin mustahil setelah bis dihadang petugas dishub saat mau masuk kota Pamekasan.

“Ndak boleh. Sudah siang. Bis lewat Pademawu,” kata petugas itu sambil melambai-lambaikan tongkat lampu warna merahnya.

Kenek menarik uang retribusi kembali. Bis pun mundur, memutar, menembus by pass, melewati Panempan, Pademawu, dan keluar di pertigaan Tambung.

“Saya turun di Trasak”

“Di mana?”

“Di Masjid. Masjid pertama kalau dari lampu merah Tambung,”

“Loh, bukannya tadi Anda bilang turun di Prenduan?”

Harapanku, dengan mengetahui kalau saya hendak turun di sebuab masjid di Trasak padahal sebelumnya bilang akan turun di pertigaan Prenduan, pengemudi akan menawarkan parkir dan seluruh penumpang dapat leluasa untuk shalat Subuh. Tapi, sayang, dia tidak mengerti bahasa kiasan ini. Karenanya saya merasa perlu untuk menjelaskannya lebih tegas lagi, “Ya, itu tadi karena saya menduga Anda akan menurunkan penumpang Bangkalan di Tangkel (tidak perlu masuk terminal) dan bis akan masuk kota Pamekasan lebih pagi. Kalau sekarang, ya, sudah tidak mungkin. Saya harus shalat Subuh di Trasak. Jika tidak, pasti saya akan tiba kesiangan di Prenduan.”

Di pertigaan itu saya turun, menyeberang jalan, menuju kamar kecil masjid, mengambil air wudhu, menunaikan shalat subuh pada menit-menit terakhir sebelum thulu’ (terbit matahari).


Catatan Perjalanan yang lainnya:



M Faizi ~Guluk-Guluk~
Ditulis oleh

'bernama punggung "M. Faizi" dalam persatuan-persahabatan BMC ini merupakan penggemar bis yang, sayang sekali, sulit keluar rumah :-('

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;