Mengingat pengalaman masa kecilku, saat perjalanan pulang dari Jogja menuju Bengkulu bersama kedua orang tuaku. Waktu itu kalo tidak salah ku duduk di bangku belakang supir. Awalnya, perjalanan menggunakan bis favoritku kala itu Bengkulu Indah terasa menyenangkan. Aku begitu menikmati laju bis yang saat itu paling berjaya di Bengkulu. Hingga tak terasa perjalanan mulai memasuki hari ke dua, bis Bengkulu Indah pun telah memasuki Propinsi Lampung. Sore menjelang magrib bis Bengkulu Indahku beristirahat di sebuah rumah makan. Namun sayang, ku sudah lupa tepatnya di mana lokasi rumah makan ini, yang jelas masih di Propinsi Lampung.

Setelah sekitar satu jam beristirahat, bisku mulai melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, belum jauh meninggalkan rumah makan sesuatu hal terjadi. Saat akan melahap tikungan, bisku yang masih berjalan perlahan bersenggolan dengan sebuah motor yang berusaha menyalip dari belakang. Saat akan menyalip motor tersebut sepertinya terlalu mepet dengan bis sehingga menyenggol bemper depan bisku. Pak sopir yang kebetulan waktu itu supir serep langsung panik. Ia bergegas lari keluar meninggalkan mobil. Aku sempat melihat kaca spion, sebuah jip hitam tampak berhenti mendadak kemudian langsung jalan kembali. Tampaknya supir bisku tadi menumpang jip tersebut.

Tak lama kemudian, para warga sekitar keluar. Mereka tampaknya penuh amarah, sebagian dari mereka membawa senjata di tangan mereka. Tak jelas di mataku, apakah itu golok ataupun hanya sebatang kayu, maklum hari itu telah gelap. Mereka menarik paksa kenek bisku dari dalam bis. Memang kenek bis kami tak sempat kabur mengikuti jejak supirku tadi. Tampaknya para warga tersebut akan menghajar habis-habisan sang kenek. Barulah kini kunsadar mengapa sang supir tadi begitu panic saat kecelakaan terjadi. Mungkin hal seperti inilah yang ia takutkan.

Para warga tampak marah apalagi begitu mengetahui supir bis kami tak ada. Mereka berteriak, ‘Bakar bis ini!! Bakar bis ini!!’. Aku yang waktu itu masih kecil (masih TK kalo gak salah), hanya bias menagis ketakutan. Sang kenek sempat masuk kembali ke dalam bus, ia menyerukan kepada penumpang paling belakang untuk membangunkan supir 1 yang telah terlelap tidur. Ia kemudian berpesan kepada kami para penumpang untuk tetap tenang di dalam dan tidak meninggalkan bis. Namun, setelah itu ia kemudian keluar lagi dan menutup pintu dan mencegah warga yang berusaha naik ke dalam bis.

Untungya polisi cepat tiba di lokasi, sehingga tindakkan anarkis tak terjadi. Seorang pria asing tiba-tiba naik ke dalam bis. Tapi menurutku ia bukan warga sekitar, tapi ku juga ragu untuk menyebutnya polisi karena ia tak berseragam. Ia kemudian bertanya “di mana supirnya?”, namun tak seorang pun diantara kami para penumpang yang bias menjawab pertanyaannya. Kemudian ia juga bertanya kepada seseorang berkemeja biru yang berdiri di dalam bis yang sebenarnya adalah supir 1 bis kami. “kamu siapa?” kata pria tersebut. Kemudian supir 1 bis kami pun menjelaskan bahwa ia adalah penumpang yang tak kebagian tempat duduk. Pria asing itu kemudian bertanya lagi pada kami apakah ada yang bisa mengemudikan bis ini. Tapi, tak seorang pun diantara kami para penumpang yang menjawab bisa.

Tak lama kemudian bis kami bersama para penumpangnya di bawa ke kantor polisi terdekat. Entah siapa yang mengemudikannya. Setelah sampai di kantor polisi, kami dipindahkan ke truk. Sedangkan bis kami ditahan di kantor. Dengan truk tersebut kami termasuk supir 1 di bawa kembali ke rumah makan yang sebelumnya juga dijadikan tempat peristirahatan bis kami tadi. Satu hal yang masih teringat adalah, saat di perjalanan kami diteriaki ‘Kambing’ oleh para warga sekitar.

Di rumah makan tersebut kami harus menunggu hingga sekitar jam 10 malam sampai sebuah bis Sumber Mulya menjemput kami. Mungkin para pembaca masih ingat bis ini. Bis ini pernah bergabung dengan PO. Putra Rafflesia, namun saat ini telah tiada lagi.

Setelah naik ke dalam bis Sumber Mulya kami pun melanjutkan perjelanan ke Bengkulu. Supir 1 bis kami tadi tampak berdiri di samping kenek bis Sumber Mulya dan berbincang-bincang dengan supir Sumber Mulya. Namun tak terlihat kenek bis kami, mungkin ia ditahan di kantor polisi juga. Setelah itu aku terlelap tidur, dan berharap besok ku telah sampai di Bengkulu dengan selamat. Namun, di tengah malam aku terkejut dan terbangun. Bis Sumber Mulya yang ku tumpangi berhenti di tengah tanjakkan tinggi. Semua penumpang laki-laki dewasa diminta untuk turun oleh sang kenek. Ternyata bis ini tak kuat melahap tanjakkan tinggi di depannya ini. Yahh, lintas Sumatra memang banyak tanjakkan tinggi. Semua penumpang, tampak cemas, begitu juga diriku. Namun, sang supir berhasil juga menaklukkan tanjakkan ini. Aku pun merasa lega. Semua penumpang yang tadinya turun dipersilahkan naik kembali. Setelah melanjutkan perjalanan baru ku sadari saat ini ku berada di lintas barat Sumatra. Kemudian terpikir olehku inilah penyebab bis ini tak mampu melahap tanjakkan tadi. Setauku bis ini biasa dengan jalur Lahat, Lubuklinggau untuk menuju Bengkulu. Mungkin karena supir yang tak menguasai medan, atau juga karena bis yang sudah tua sehingga tadinya tak kuat di tanjakkan.

Besok siangnya aku dan orang tuaku, serta penumpang lainnya sampai juga di kota Bengkulu dengan selamat. Agak kesal juga diriku, karena harus turun di tempat yang masih jauh dari rumah, apalagi saat itu hujan deras. Namun, orang tuaku mengingatkan ku untuk tetap sabar dan bersyukur telah sampai dengan selamat.

Demikianlah ceritaku, mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan. Terima kasih.

wisnu prianto


Catatan Perjalanan yang lainnya:



wisnu_prianto
Ditulis oleh

'Wisnu Prianto, asal Bengkulu. Tinggal di Semarang.. I love Bis'

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;