kamis 7 april 2011 jam 10 malam

‘subuh ketemu subuh’
yak, itulah kata yang terucap dari pasangan turingku kali ini, seorang wanita cantik, pintar, dewasa, dan tentunya ku sangat sayangi.
kata yang terucap dengan spontan begitu kujelaskan jalur turing yang akan kami lalui.
sambil menyantap nasi goreng dengan rasa seadanya, yang terletak dibelakang hotel pacitan, hotel tempat kami menginap, dengan semangat saya menjelaskan rincian turing kami yang dimulai subuh nanti.

kilas balik

selasa 5 april 2011 jam 7 malam

maghrib itu seperti biasanya ritual menjemput doi, sebutlah sibodoh panggilannya, panggilan sayang kami berdua, karena kami memang bodoh, berantem terus tapi ga bisa pisah, aneh.
entah mengapa setiap ku melihatnya melangkah mendekatiku, ku selalu bangga akan dirinya, apalagi jika di keramaian seolah kuingin selalu berkata ‘cewek gue nih’.
sibodohku ini melangkah keluar kantor lalu mendekatiku dan berkata dengan excited / semangat, bahwa ia disuruh liputan ke pacitan sendiri.
kebetulan sibodohku ini seorang wartawati sebuah tabloid, walupun baru tapi sudah menjadi ujung tombak tabloid tersebut dan menjadi kesayangan bos’nya.

mendengar kabar itu kaget karena begitu mendadak, takut karena ia sendirian perginya, sedih karena harus berpisah sementara waktu.
tapi kuhanya bisa mendukungnya dan harus mendukungnya demi kemajuannya, meski terkesan sedikit bawel karena aku selalu bertanya inilah itulah, entar disana gimana, naek apa, nginep dimana, dan segala pertanyaan ribet lainnya.
semua kebawelanku hanya karena ku khawatir dan sangat sayang dengannya.

rabu 6 april 2011 jam 10 pagi

pagi hingga siang itu memang kebetulan sedang lowong kerjaanku.
disaat belum adanya kepastian akan naik apakah sibodohku menuju kota paling selatan di pulau jawa, kota kelahiran presiden indonesia, tetapi aku ga memilihnya, kota yang bernama pacitan, aku mencari-cari info melalui conference yahoo messenger mengenai bis-bis tujuan pacitan, sambil update terus dengan sibodohku ini mengenai kepastian keberangkatannya.

entah mengapa gilaku kambuh, terbersit keinginan tuk menemaninya sekaligus melepas kerinduan turing, juga melepas gelar ‘cemen’ yang diberikan teman-teman bismaniaku karena sudah lama ngga turing dan apabila ada rencana turing disaat terakhir pasti tidak jadi karena masalah dana.
saat itu pula entah mengapa, padahal sibodohku ini adalah yang paling vokal jika aku sudah ada rencana turing, pasti dia yang paling ngelarang aku karena kecerobohanku dalam mengatur keuangan yang ujung-ujungnya gali lubang tutup lubang untuk over budgetku, entah mengapa saat itu sibodohku langsung mengiyakan dan mau ku ikut, masalah dana untuk saat itu pakai uang perjalanan dan uang pribadi ia dulu.

ternyata siang itu situasi dan kondisi tidak memungkinkan tuk mengejar bis pacitan yang notabene’nya berangkat dikisaran jam 12 siang, sementara ia harus sudah berada di pacitan esok harinya paling lambat jam 7 pagi.
kebetulan sibodohku ini termasuk kereta mania, jadi ia mengajakku naik kereta argo yang berangkat dikisaran jam 7-8 malam.
langsung ku mengambil cuti 2 hari dengan alasan keperluan keluarga.

jam setengah 3 siang ku pulang tuk bersiap-siap.
karena merasa masih banyak waktu hingga jam 7-8 malam, jadi ku santai-santai saja dalam persiapan saat itu. sedang asik mandi tiba-tiba nyokap teriak ‘bayu tadi pipit telepon terus sms bilang kalau keretanya berangkat jam 5′. waduh.
langsung ku cepet-cepet dan melihat jam sudah pukul 4 sore, dari rumahku yang terletak dekat stadion senayan gelora bung karno hingga menuju stasiun gambir, kuhela nafas panjang vixion kinclongku dikisaran 80-120 km/jam.
perjalanan sejauh 12 km itu kutempuh dalam waktu 15 menit, yang biasanya jika pagi dan macet waktu tempuhnya paling cepat 30 menit.
kira-kira setengah 5 sore kumasuk ke parkiran motor gambir yang ternyata jika menginap tetap dihitung tarif per jam 1000 rupiah yang berarti jika 2 hari menginap minimal 48 ribu rupiah, wow.
sangat kebetulan jarak stasiun gambir ke kantorku sangat dekat, tepatnya di Gereja Katedral seberang Masjid Istiqlal.
kutitipkan motorku di parkiran kantor, bilang ke satpam bahwa motorku nginep 2 hari, lalu menaruh helm dan jaket di loker kantorku. kupanggil tukang ojek yang sore itu padahal bisanya 5000 rupiah tapi ia meminta 8000 rupiah dari kantorku menuju stasiun, karena terburu-buru ku sudah malas menawar lagi dan menyuruh tukang ojek itu ngebut.
singkat cerita sampai dijalur 1 stasiun gambir berbarengan dengan masuknya kereta bima, langsung ku mencari gerbong 6 dan dibangku 9ab sudah menunggu wanita cantik dengan muka menakutkan.
belum sempet bernafas langsung diberondong pertanyaan, kenapa telat, ‘bikin aku takut aja sih’.
selesai mendengar keluh kesah dia selama deg-deg’an menunggu kedatanganku yang hampir ketinggalan kereta, baru gantian aku menanyakan kenapa mendadak berubah dari argo keberangkatan jam 7-8 menjadi bima keberangkatan jam 5.

yang akirnya didapat kesimpulan bahwa argo sampai solo subuh, dan dari solo menuju pacitan masih 3-4 jam menggunakan mobil dan 5 jam’an menggunakan bis, jadi tidak akan bisa terkejar tuk sampai pacitan paling telat jam 7 pagi.
sementara bima yang notabene’nya kereta surabaya, meskipun tetap harus bayar tarif surabaya 370ribu untuk turun solo / jogja, sampai stasiun solo balapan jam 2, jadi masih ada waktu banyak untuk mengejar sampai pacitan jam 6 pagi.
selesai berdebat waktu kami habiskan tuk bercanda-canda, menikmati waktu berduaan ini, dan beristirahat meskipun aku ga bisa tidur dan sedikit pusing ditambah hawa dingin.
seandainya kereta blong-blongan pasti seru.
seandainya naik bis pasti seru.

kamis 7 april 2011

sampai solo balapan jam 2 pagi, jam 3 menyarter mobil tuk ke pacitan, digetok 100ribu per orang, wow.
yasudahlah, memang pengeluaran tuk keberangkatan tidak bisa dikontrol lagi, yang penting pengeluaran tuk baliknya harus terkontrol dan memuaskan pastinya.
padahal jika ke terminal tirtonadi solo pasti ada aneka jaya yang siap berangkat ke pacitan, tapi sibodohku ngga mau gambling karena ini menyangkut profesionalitas tuntutan profesi.

menyusuri jalur solo-wonogiri, mobil kami diblong baik dari kanan ataupun kiri secara berturut-turut oleh serba mulya, purwowidodo, sedya mulya, gajah mungkur, dan langsung menghilang ditengah kegelapan malam menjelang subuh itu.
kubilang ke sibodohku ini bahwa bis-bis barusan yang nyalip kita besok ngga ada apa-apanya di pantura dan hanya jadi santapan empuk bis yang akan kita naiki.
langsung dengan mata melotot ia memandangku dan berkata, ‘pokoknya aku ngga mau naik bis ngebut’.

sayang sekali kami tertidur padahal menjelang terang pemandangan indah terpampang di jalur tersebut.
bangun-bangun sudah sampai jalur yang tikungannya sangat tajam dan turunannya sangat curam, yang pasti untuk bis tidak akan bisa tidak akan sanggup melewati jalur tersebut.
kata supir mobil kami bahwa jalur tersebut adalah jalur motong dari jalur utama dan selisihnya 11 km lebih pendek dari jalur utama yang dilewati bis atau truk.
jam 6 kami sampai di alun-alun pacitan yang memang acara yang mau diliput oleh sibodohku ini letaknya di kantor bupati depan alun-alun persis.
masih ada waktu 1 jam kami gunakan untuk mencari hotel dekat-dekat situ, yang akhirnya langkah menuntun kami ke sebuah hotel lusuh yang bernama hotel pacitan, jelas ditulis dihotel itu bahwa bukan muhrimnya dilarang 1 kamar, akirnya kami memesan 2 kamar.
selesai sibodohku mandi dan bersiap-siap, langsung kuantar dia menuju kantor bupati tersebut menyusuri alun-alun, sejuk kuakui udara di pacitan, tenang, dengan pak polisi mengatur lalu lintas yang pagi itu ramai didominasi anak sekolah.
setelah melepas sibodohku tuk menunaikan tugasnya, langsung ku menuju warnet samping hotel lagi-lagi tuk berkomunikasi dengan anak-anak bismania community tentunya tuk mencari info rencana turingku selanjutnya.

kuhabiskan siangku tanpa sibodoh yang baru selesai menunaikan tugasnya nanti sore menjelang maghrib katanya, tidur siang, bangun sore lagi-lagi kewarnet tuk ngecek email dan berkomunikasi dengan rekan bismania, nyari cemilan, nanya-nanya info mengenai kuliner dan tempat rekreasi kota pacitan, nonton bola liga djarum persijap vs deltras sidoarjo.
jam setengah 5 sore sibodohku dateng langsung kami pergi ke pantai teleng, naik becak yang kami carter pulang pergi 30ribu rupiah plus tip 5ribu rupiah.

pantai yang bagus dengan ombak yang tidak seperti pantai selatan pada umumnya, tidak seperti parang tritis lebih seperti pantai kuta.
berjalan-jalan menyusuri pantai sampai lupa tas yang isinya dompet hp dan sebagainya, ketinggalan ditempat kami berfoto-foto tadi, untung tidak hilang begitu kami kembali ke tempat tersebut untuk mencarinya, sungguh beruntung, yang pasti kalau hilang kami tidak akan bisa pulang, terlebih data liputan sibodohku ada dalam tas tersebut, fiuhh.

lepas maghrib balik kehotel, menyusuri jalan yang begitu sunyi, sampai-sampai saking sunyinya suara roda becak kedengaran jelas ditelingaku, memang benar kata om hari intercooler kalau pacitan kota yang tepat untuk menyendiri.

jujur ditengah kesunyian itu lagi-lagi kami ribut karena hal kecil yang kami besar-besarkan.
perbedaan prinsip dan sifat kami sangat mencolok, tetapi entah mengapa kami sanggup bertahan, namanya juga bodoh.
sampai dihotel hanya diem-dieman, langsung masuk kamar masing-masing, kucoba tuk tidur tapi ngga bisa, akirnya ku keluar ke lobby tuk liat tivi ternyata sibodohku juga ada di lobby sedang melihat tivi, daripada tambah rusak kuajak sibodohku ini cari makan malam.
belum juga makan malam lagi-lagi kami ribut, akirnya ku makan malam sendiri sementara sibodohku balik kehotel.
belum habis makan malamku, kubayar langsung kuhampiri sibodohku ke kamarnya, selesaikan masalah lalu kupaksa tuk makan malam yang akirnya kami keluar lagi menuju nasi goreng dibelakang hotel kami.
melupakan masalah kami lalu membahas rencana turing, kuberi 3 pilihan yaitu jalur pacitan-solo-purwodadi-pati, jalur pacitan-solo-semarang-pati, jalur pacitan-surabaya-pati.
akirnya kami sepakat pilihan pertama yaitu pacitan-solo-purwodadi-pati, ‘subuh ketemu subuh’ ucapnya.

selesai menyantap nasi goreng dengan rasa seadanya, bingung mau kemana karena memang itu bukan malam minggu dan kota pacitan sangat sepi. akirnya kami memutuskan tuk beristirahat.
nekat ku menemani sibodohku ini satu kamar karena pikirku kasian sibodohku ini tidur sendiri, ditambah dia agak takut dengan keadaan kamar itu sendiri, dengan jendela yang rawan orang ngintip.
yang penting kamar itu tidak kukunci jadi kalau memang orang hotel mau gerebek silahkan, toh juga ngga ngapa-ngapain, yang penting aku bisa menjaganya dengan aman.

bersambung turing yang sesungguhnya

-bay-
ym :  yuanitobayu
fb baru :  yuanito bayu anggoro tiko


Catatan Perjalanan yang lainnya:



PAIDI
Ditulis oleh

''

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;