Maaf, saat ini website sedang dalam PERAWATAN (MAINTENANCE)

Tahap 1: Pemindahan Data [sedang berjalan]

Tahap 2: Penggantian Tampilan

Tahap 3: Penambahan Fungsi

Tahap 4: Pengaturan Member

Mukadimah

Sebenarnya niatan ini sudah cukup lama dan semakin membuncah semenjak kemunculan Evobus New Armada RK8 R235 saat meramaikan arus mudik 2010 kemarin, tapi berhubung rutinitas dan kesempatan waktu yang tidak banyak, aku lebih memilih untuk menikmati wujudnya saja.

Beriring berjalannya waktu akhirnya momen yang memang kutunggu tersebut perlahan tapi pasti mulai terlihat dipelupuk mata, ditambah lagi pertemuan singkat dengan Bang Mack saat transit disini semakin memantapkan niat untuk menunaikan perjalanan ke Padang.

Kenapa harus Padang?
Alasannya cukup sederhana.. selain berbatasan langsung dengan Jambi, untuk perjalanan ranah minang yang sudah-sudah aku belum pernah sekalipun menjajal yang namanya naik bus karena selalu menggunakan kendaraan pribadi bersama keluarga, itulah mengapa Padang menjadi pilihan yang menarik untuk tujuan bermusafir kali ini.


Jumat, 21 Agustus 2011 (07.42)

Matahari sudah meninggi, sekilas kuamati dari jendela kamar kabut tipis pagi perlahan beranjak pergi digantikan lalu lalang kendaraan yang bersliweran didepan rumah. Ritual mandi pagi, berseragam dan mengisi perut sudah dilakukan satu jam sebelumnya tapi hingga jam yang bertengger didinding kamar hampir menunjukkan pukul 08.00 wib aku tak kunjung beranjak, semua ini dilakukan bukan tanpa alasan..

Jumat pagi itu sengaja aku berangkat rutinitas agak siangan dari rumah
ini kumaksudkan untuk memberi toleransi waktu “untuknya“
dan setelah dirasa cukup, menjelang 08.15 wib aku tinggalkan rumah ditemani skuter yang menjadi partner setia menyusuri sudut kota ini.

“nya” yang kumaksud adalah armada FRC trayek Jambi-Padang
Biasanya jika tidak ada halangan, armada yang berangkat dari perwakilan Padang masuk perwakilan Jambi menjelang matahari terbit, tapi berhubung belakangan banyak kendala dilapangan
Armada Padang-Jambi hampir dua bulan ini biasa check-in diantara range jam kerja
Itulah alasanku mengulur waktu rutinitas…
benar-benar tidak professional ya hehe

Karena sudah lewat jam kerja dan sekolah kepadatan lalu lintas pagi mulai mencair
Tak sampai 5 menit mengendarai skuter dari daerah telanai sampailah didaerah simpang mayang yang belakangan terkenal dengan macetnya.

Dari deretan ruko-ruko yang berjejer dengan Jambi Town Square bisa terlihat area parkir dan plang nama yang bertuliskan PT. Family Raya Ceria
Saat berada tepat diseberang kantornya, dalam pengamatan sekilas terlihat geliat rutinitas sudah terjadi disana
tampak 2 travel engkel keluran new armada standby dijalur pemberangkatan sembari loading barang pada bagasi belakang.

Karena penampakan itu bukan alasan utama melintas di depan FRC simpang mayang
sekejap kemudian aku mencari jawaban yang kuinginkan..
Akhirnya dalam hitungan detik pandangan ini mendapati sebuah bus merah dengan arah buritan mengarah ke jalan yang terdapat dipojok kanan area parkir perwakilan Jambi..
tapi.. tapi.. kok?

Tidak tahu harus menyikapinya dengan ekspresi apa
senangkah, gembirakah, harukah, atau malah kecewa
setelah berlalu dari daerah simpang mayang
beberapa saat aku memandang kosong sambil sesekali membatin
“ahh.. kok jadi begini”

Akhirnya lamunan serta pertanyaan yang entah dialamatkan untuk siapa selama perjalanan membuat waktu tempuh simpang mayang – kota baru seperti tak berjarak, tanpa terasa kawasan yang hampir 6 tahun belakangan menjadi tempatku menyambung hidup sudah didepan mata.

Sejurus kemudian kuparkirkan skuter sambil meluapkan kenyataan yang belum bisa diterima
“kok Legacy ya..”
Ya ternyata hari itu bukan roster FRC Evobus..
seperti diketahui regulasi armada Jambi-Padang adalah putar kepala
jadi tiba di Jambi pagi dan malam harinya bertugas kembali ke Padang
dan dari penampakan tersebut bisa dipastikan untuk keberangkatanku malam harinya mendapatkan jatah Legacy yang terparkir dikantor simpang mayang

Jujur… aku cukup kecolongan apalagi untuk perjalanan Jambi-Padang p/p memang sengaja kualamatkan untuk menjajal Evobus.. bukan New Marco apalagi Legacy
Ditambah lagi saat mengingat tiket keberangkatan dan kepulangan seat 1B yang sudah kupesan seminggu sebelumnya
Ah benar-benar komplit..

Tak mau patah arang sepulangnya berutinitas kira-kira pukul 11.30 wib menjelang waktu Jumatan
Kusambangi kantor FRC dengan maksud mengundur waktu keberangkatan
Terlihat saat itu legacy berbasis RK8 sedang dimandikan berbarengan dengan armada Bk. Tinggi Laksana custom yang juga menggunakan chassis serupa

Karena cukup penasaran dengan kabinnya
kucoba melongok sebentar kedalam bodi Legacy keluaran Laksana Ungaran tersebut
dalam kilasan pandangan saja sudah disambut dengan barisan seat yang benar-benar rapat
saat kembali mengamati sekitar dan memandangi louver AC-nya terlihat 6 LCD kecil bertengger disana.. ah tapi bukan itu yang kucari
kebetulan aku tidak terlalu menaruh simpatik dengan bus yang terlalu banyak piranti kosmetik

Kusudahi rasa penasaran tersebut dan melangkah menuju meja penjualan tiket
Saat menapaki ruko satu lantai yang memanjang ke belakang
kedatangan ini disambut empat orang wanita serta dua pria yang sudah standby dimeja masing-masing, tanpa perlu bertanya lagi langkah ini segera menuju meja kanan yang memang digunakan untuk penjualan tiket bus tujuan Padang dan Bk. Tinggi, tampak satu dari mereka sudah mengenali wajah ini karena memang kebetulan seminggu sebelumnya dialah orang yang bertugas saat aku melakukan reservasi, tak perlu berlama-lama kujelaskan maksud kedatangan kesana dan respon awal yang didapati adalah penolakan, tapi setelah kujelaskan akhirnya mereka luluh juga.

Beruntung.. untuk mengundur waktu keberangkatan esok harinya yang jatuh pada hari sabtu
Aku berhasil mendapatkan kembali singasana 1B tapi untuk bangku kepulangan masih menjadi misteri, apalagi ini adalah touring putar kepala.. sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan yang sesuai dengan harapan menjelang hari H dan setelah perwakilan Jambi melakukan kontak via sambungan telepon dengan perwakilan Padang didapatlah informasi untuk hari minggu yang tersisa dari Padang hanya seat 9B

Usia menutup telepon wanita dibalik meja penjualan mengalamatkan tanya padaku
“gimana bang.. jadi hari minggunya?”
pertanyaan itu tak langsung kujawab
lama aku berdiam diri karena menurutku ini adalah pilihan berat
mundur.. atau maju terus, jadi bingung sendiri

Beberapa saat aku bergeming dibangku tunggu
Dalam suasana timbang-menimbang tersebut bagian penjualan dan crew memberikan info terbaru yang menambah kekecewaan, dijelaskan mereka bahwa keseluruhan Evobus yang biasa melayani Jambi-Padang dikembalikan ke Magelang untuk restorasi
satu atap bocor dan satu lagi laka menghantam dua kerbau di mersam minggu lalu
dan subtitusi untuk keduanya adalah Legacy RK8 dan AP HD 1526 yang biasa untuk jatah Pati
ah.. benar-benar kacau
berarti yang jalan esok harinya adalah AP HD 1526
Hmm… jujur untuk yang satu ini aku juga tidak terlalu tertarik

Sebenarnya touring kali kualamatkan untuk “benchmarking” kualitas bodi yang diklaim sebagai rancang bangun masterpiece jebolan karoseri New Armada yang bertajuk Evobus
Aku cukup penasaran bagaimana rasanya didalam sana
apakah nyaman
apakah senyap
apakah gegar dan apakah-apakah lainnya
tapi karena sepertinya hal itu tak akan terwujud
akhirnya langkah alternatif pun diambil berdasarkan perbincangan dengan Om Didik SS beberapa bulan lalu disini, dikatakan Om Didik SS Hino RK8 keluaran terbaru suspensinya sudah cukup nyaman dan akhirnya ini yang menjadi fokusku yang awalnya ingin menguji kualitas karoseri bergeser menjadi uji tingkat kenyamanan suspensi Hino RK8 keluaran terbaru
kebetulan pula Legacy yang terparkir diluar sana diboyong menjelang arus mudik 2010 berbarengan dengan Evobus.

Okelah setelah timbang menimbang kumantapkan niat sambil berkata ke bagian penjualan
“tidak jadi diganti mbak.. saya jalan malam ini”
Wanita yang sebelumnya sempat mesam-mesem itu akhirnya tersenyum sambil berkata
“Jam setengah 18.30 wib sudah disini ya Bang”
Tak lupa kuucapkan terimakasih padanya karena sudah mau repot-repot mengurusi penumpang yang sedikit plin-plan seperti diri ini

Sekedar informasi saja untuk tiket keberangkatan dan kepulangan yang kupesan seminggu sebelumnya tidak kena cash satu peser-pun
semua hanya bermodal kepercayaan..
sebenarnya bisa saja aku mangkir karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan
tapi karena lebih memikirkan hubungan baik jangka panjang aku memilih untuk tidak seperti itu
salut buat bag. penjualan Family Raya

Take the risk


Suasana senja sudah menjemput, menjelang kumandang adzan maghrib kulangkahkan kaki dari rumah menuju lokasi angkot yang biasa ngetem disimpang depan beriring rasa bersalah.. ya lagi-lagi touring tanpa pamit dengan orang dirumah dengan alasan klasik yang lagi-lagi menjadi senjata
kerjaan mendadak, pulang jam 10…
Ediyan

Singkat cerita aku berada ditengah keramaian Simpang Mayang menjelang 18.30 wib, tapi bukan FRC yang kutuju melainkan rumah seorang kawan yang letaknya tidak jauh dari sana
kebetulan amunisi pemberangkatan kutitipkan padanya
usai menjemput 1 tas yang kutitipkan hari kamis
aku undur pamit karena waktuku sudah tidak banyak

Berjalan kaki kira-kira 3 menit akhirnya tiba juga ditujuan utamaku “FRC Simpang Mayang”
Dilihat sekilas bus sudah dalam keadaaan langsam dan hampir semua penumpang sudah stay dibangkunya masing-masing, kulihat jam ditangan sudah menunjukkan pukul 18.49 wib
Belum terlambat.. ujarku

Sedikit bergegas melangkahkan kaki menuju kearah meja tiket
wanita yang tadi siang kutemui masih bertugas disana
akhirnya Rp. 115.000 bertukar dengan selembar tiket tujuan Padang
beriring ucapan terimakasih sesaat kemudian aku berlalu dari sana dan berjalan menuju bus

Dalam langkah menuju Legacy aku berpapasan dengan pria berseragam FRC yang jika dilihat dari tampilannya bisa dipastikan pengemudi, kutanya sekenanya “ini bus kito da”
“iyo” jawabnya singkat

Saat berjalan mengitari bus tampak para penghantar sudah berjubel disisi kiri
tapi mengapa tidak ada satupun orang yang melambaikan tangan atau sekedar menyapa padaku..
tidak seperti penumpang yang lain
aku baru ingat..
ya iyalah… wong sendirian tidak diantar siapa-siapa
hehehe

Tangga bantuan yang selaras dengan bukaan pintu depan menjadi sambungan tapakan kaki ini menuju tangga kabin, saat masuk kedalamnya raga ini langsung disambut hawa semilir yang ditiupkan pendingin udara keluaran Thermo King bertitel Mark IV, musik-musik khas minang sudah mulai berkumandang dengan volume yang lumayan ber-artifak layaknya penjual VCD bajakan di Simpang Mayang hehe..

Enam LCD yang berjejer disisi kiri dan kanan mulai dibuka layarnya dengan maksud menghibur penumpang… entahlah ini advantage atau hanya sekedar ajang prestise belaka
padahal satu unit LCD didepan sudah cukup besar menurutku
untuk kedepan mudah-mudahan FRC meniru Kramat Bandung saja
dua LCD besar sudah cukup kok.. toh juga dalam pengamatanku rata-rata penumpang tidak terlalu peduli dengan apa yang disuguhkan

Saat mengamati sekilas siapa penunggu seat 1A, terlihatlah seorang yang sedang sibuk mengutak-atik BB-nya… ternyata mahluk halus bertengger disana
Tak ada kata yang terucap, setelah meletakkan tas dibagasi atas aku duduk manis sembari mengamati keadaan sekitar dashboard, dalam pengamatan sekilas kudapati headunit Legacy ini menggunakan JVC

Jam ditangan hampir menujukkan pukul tujuh, mendengar perbincangan antar crew dan bagian penjualan bisa kutangkap aku bukan yang terakhir, masih ada beberapa penumpang yang harus ditunggu karena belum menampakkan batang hidungnya hingga menjelang jam keberangkatan.

Akhirnya berselang beberapa saat naiklah seorang mahluk halus lagi
sepertinya penghuni garda belakang karena dalam pengamatan sebelumnya seat depan hingga tengah sudah terisi… tapi tunggu dulu ada yang menarik… ada sesuatu ditangannya
sebuah box yang kuyakini snack
sangat kontras denganku yang minus apa-apa
akhirnya setelah beberapa saat flashback
aku teringat penampakan dimeja tiket saat bertukar rupiah

Tak perlu menunggu lama aku kembali kesana sambil bertanya ke bag. Penjualan
“ini snack saya ya mbak?”
dan wanita bagian tiket menjawab sembari tertawa ringan
“saya kira tadi abang gak mau”
kujelaskan padanya aku tidak tahu regulasi pembagian snack di FRC
kupikir seperti bus malam yang biasanya dibagikan diatas kabin

Kembali lagi ke singasana, si mahluk halus masih sibuk dengan BB-nya
beberapa crew travel dan bagian penjualan mencoba menggoda mahluk halus di 1A
agak terganggu juga sebenarnya apalagi semua itu terjadi dihadapanku
tapi berhubung aku bukanlah seorang superhero yang siap membela kebenaran
akhirnya momen tersebut kubiarkan terjadi
maaf mbak aku bukan superhero..

18.55 wib Legacy ber “base” merah belum menunjukkan tanda-tanda akan beranjak karena menurut instruksi bag. penjualan masih ada 2 orang lagi yang harus ditunggu dan akhirnya 3 menit berselang naiklah 2 orang bintang yang dinantikan tersebut. Merasa sudah sesuai dengan SPJ, bus dipersilahkan berangkat beriring ditutupnya pintu kiri depan tapi siapa punggawa kemudi belum terlihat penampakannya, akhirnya sejurus kemudian pintu kanan dibuka dari luar dan terlihatlah seseorang yang kualamatkan tanya beberapa menit sebelumnya, pria berseragam FRC yang jika dilihat dari perawakan dan penampilannya sudah menginjak kepala 4.

Airbrake ditanggalkan dan tepat 19.00 wib bus perlahan keluar dari area parkir FRC Simpang Mayang..
Tepat waktu.. Mantap!

Melewati keramaian Jamtos sesekali terdengar suara kriyet-kriyet yang sukses disamarkan oleh perangkat audio yang ditanamkan pada kabin, ritme suspensi yang kucari belum kunjung terlihat karena kontur jalan kota masih cukup bersahabat, saat melintas diatas box culvert Jambi Town Square suspensinya cukup stabil dan mampu meredam getaran.. tapi aku belum berani menarik kesimpulan karena semua terjadi dalam situasi RPM bawah.

Melewati garasi Jatra diseputaran pemancar RCTI Jl. Pattimura terlihat armada tujuan Padang masih standby disana, FRC Legacy terus berlalu dan menjelang SPBU Simpang Rimbo RK8 perlahan menepi, awalnya kukira akan menaikkan sarkawian karena asisten kemudi langsung membuka pintu saat bus masih dalam keadaan berjalan tapi ternyata penumpang legal yang memang minta naik dari SPBU.

Saat penumpang tersebut mendekat.. bus tidak serta merta langsung berjalan
Dikatakan penumpang tersebut sisa barangnya belum diantar keluarganya
dan akhirnya beberapa menit setelahnya Legacy diparkirkan disisi kiri jalan

Cukup lama kami menepi, keberadaan Jatra belum juga terlihat
akhirnya karena si pengantar barang tak kunjung datang
penumpang tersebut berinisiatif berangkat tanpa barang yang ditunggu
19.24 wib Legacy bersampul beethoven yang dilingkari bintang-bintang kembali berjalan perlahan menyusuri malam mengarah ke Mendalo

Menjelang stasiun RRI Mendalo sebuah Jupiter MX menghentikan laju FRC berbasis RK8
ternyata inilah sang pengantar barang yang ditunggu-tunggu
setelah selesai diload ke bagasi sang pengantar barang pamit dengan seorang wanita berumur yang naik dari SPBU, ternyata wanita tersebut ibunya.. salut buat anda bro

19.31 wib perjalanan kembali dilanjutkan, “step by step” kecepatannya mulai meningkat dan disinilah aku merasakan goyangan RK8 untuk kali pertama.. sempat mengira bus ini serasa mau tumpah saat menyabet tikungan ganda dengan kecepatan 70 kmh, cukup membuat darah ini berdesir.
tapi aku tidak sepenuhnya memberatkan kesalahan pada sektor suspensi
Juru mudi juga berperan besar disini, harus kuakui sepanjang perjalanan dari kota hingga melewati UNJA mendalo bisa kurasakan meski bawanya lumayan joss tapi gaya mengemudinya kurang smooth.

Setelah beberapa saat beradaptasi, aku mulai bisa mengikuti ritme menikung Hino RK8
karena lintasan UNJA Mendalo hingga menjelang Pijoan sedikit sekali dihiasi kerusakan jalan
redaman suspensi belum bekerja maksimal

Pada lintasan ini joki RK8 benar-benar allout..
meski lagi-lagi kurang smooth tapi aku cukup antusias
ditambah lagi jarang terdengar kabar FRC bisa unjuk gigi
setidaknya ini satu momen langka yang layak untuk dinikmati

Mulai dari konvoi truk batu bara bermuatan kosong, mobil pribadi hingga travel engkel tujuan Kerinci sukses dilahap… kecepatan selalu dalam rata-rata 90 kmh
untuk bus trek Jawa kecepatan ini memang belum seberapa
tapi untuk Sumatra yang notabenenye single track dan banyak dihiasi kerusakan jalan, ini sudah cukup

Pukul 19.21 wib memasuki Kec. Jembatan Mas Kab. Batang Hari
disinilah suspensi RK8 mulai diuji, awalnya sempat timbul keraguan padaku
apakah sesuai dengan cerita Om Didik SS.. okelah aku saksikan saja pertunjukan ini

Ternyata apa yang aku sangsikan tidak terbukti
Lubang-lubang dihajar dengan mudahnya dan pada ayunan kedua pada lubang yang cukup dalam bisa kurasakan ayunannya benar-benar maknyuss.. meski bukan bandingan tingkat kenyamanan OH1521 tapi aku yakin ini sudah lebih dari cukup, malah jika sektor suspensinya diadu dengan MB generasi terbaru seperti 1525/26 spring aku masih pegang RK8 ini, kurang tahu juga suspensinya sudah rombakan atau masih orisinil tapi yang jelas lubang-lubang menganga disepanjang jalan terus dilewat dalam kisaran kecepatan 40 – 60 kmh
Sepertinya apa yang dipertontonkan sudah cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan
dan lewat pengalaman ini kuamini perkataan Om Didik SS
Terbukti Om hehe

Menjelang Kec. Pemayung hujan lebat mengguyur
laju RK8 diredam pada kecepatan 60-70 kmh
cukup salut dengan headlampnya.. penerangan sepanjang hujan lebat cukup mumpuni
wiper dan pendingin ruangan berfungsi baik, hanya kabut tipis yang bertengger dikaca depan
masih cukup terang untuk mengamati jalan
karena hujan semakin lebat, aku sempat berpikir kabin akan bocor
tapi ternyata tidak… malah yang biasa kutemui pada sebuah karoseri ternama air hujan masuk dari ventilasi atas tidak terjadi di laksana
salut..

20.00 wib melewati keramaian pasar malam di Kec. Pemayung dalam iring-iringan truk batu bara
lepas pasar malam juru kemudi mulai menggeliat, legacy mulai diarahkan mencari celah
tak berapa lama akhirnya konvoi truk diasapi dengan cara stik-nya yang benar-benar khas
lumayan mantap meski sedikit memaksa
kulihat sekitar, semua penumpang tampak tenang-tenang saja
entahlah… benar-benar tenang atau pura-pura tenang
hehehe

Hujan terus mengguyur saat memasuki kota Ma. Bulian pukul 20.30 wib
R235 berhenti sejenak di pasar bulian karena seorang penumpang mengambil titipan dari keluarganya yang sudah menunggu disisi kiri jalan, tak berapa lama legacy melanjutkan perjalanan dibawah guyuran hujan lebat dan setelah prosesi pembayaran TPR di terminal Ma. Bulian
Lega Light menepi sejenak untuk kontrol.

Selepas Kontrol Legacy berlari bak kerasukan
Jalan raya yang basah dan memantulan bias cahaya tak membuat ciut nyali juru mudi
lintasan Ma. Bulian menuju Ma. Tembesi diganjar 100 kmh
dan puncaknya terjadi menjelang jembatan timbang simpang terusan pada pukul 20.50 wib
layaknya video bismania yang pernah kutonton
momen yang dihadapi FRC RK8 hampir sama persis..
dalam sekali sentakan bus berlivery Beethoven ini sukses memblong 8 truk, beberapa mobil pribadi, dan Imi pada sebuah trek lurus dan setelah itu posisi kres menjelang tikungan ke kanan
benar-benar fantastis !
sayang tidak kuabadikan

Melewati RM. Roda Baru Ma. Tembesi mulai terlihat bias lampu didepan sana dan ternyata milik Transport Express yang berangkat lebih dahulu dari Jambi
Kebetulan sudah hampir dua bulan belakangan Transport kembali membuka trayek Jambi-Padang namun kali ini dengan tambahan embel-embel Lb. Basung

Bersamaan dengan ini
aku tak bisa lagi menahan hasrat ingin mendarat dibangku CD yang memang kosong semenjak dari Jambi, akhirnya tak perlu menunggu lama aku sukses berpindah singasana
tak mau berbasa-basi lagi kubuka “jurus cair” dengan juru mudi “ini RK8 da”
dengan bahasa minang dia menjawab
“indak, iko oto RKZ” (bukan, ini RKZ)
Jederrr.. hehehe
Oke aku paham maksudnya

Seusai melewati Simpang Tembesi, Transport berbasis OH1521 berbodi Evolution imitasi hasil rancangan bangun karoseri Cipta Karya sukses dilewati
tapi bukan dalam posisi head to head
Transport sengaja menepi untuk penumpang tambahan

21.14 wib tapal jarak sudah menunjukkan KM 100 dan kembali disambut kerusakan jalan lintas barat Sumatra, karena dijejali lubang-lubang yang lumayan dalam tak jarang juru mudi mencuri jalur lawan yang kadang kondisinya sedikit lebih baik
Meski medan jalan tidak bersahabat iring-iringan truk dilewati dengan mudahnya
bantingan suspensi cukup nyaman meski kriyet-kriyet kabin mulai akrab ditelinga

Disinilah aku dan juru mudi mulai terlibat percakapan intens seputar armada terbaru FRC
Tak lupa juga kupuji suspensi armada yang kami naiki dan hal tersebut diamininya
saat kutanyakan “orisinalitas” suspensinya kudapati jawaban sektor kaki-kaki RK8 ini masih orisinil
Ditambahkannya pula dia juga cukup kapok membawa si HD dengan kode buntut chassis 26
“pernyo indak sarancak iko”.. (bantingannya tidak sebagus ini)

Saat memasuki daerah Mersam jam sudah menunjukkan pukul 21.30 wib
bersamaan dengan kondisi jalan yang mulai bersahabat tempo permainan RK8 perlahan ditingkatkan
karena sepertinya malam itu hujan cukup merata diberbagai tempat
Tak ayal sepanjang jalan hanya dihiasi genangi air hujan.

Dengan kecepatan yang lumayan krusial dalam situasi hujan gerimis dan kondisi jalan yang kembali kurang bersahabat, akhirnya selepas Puskesmas Mersam penumpang yang rata-rata sudah terlelap spontan terbangun dan berteriak saat Legacy berguncang hebat
Ternyata kami baru saja menghajar lubang dalam yang digenangi air pada kecepatan 90 kmh
sebelumnya Legacy sempat slide ke kanan karena direm keras secara mendadak
untunglah driver-1 ini tak lepas kendali
jika tidak aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi
tapi anehnya pada situasi tersebut tidak ada sedikitpun rasa takut pada diri yang kebetulan duduk dibangku CD, aku seperti punya keyakinan bus ini tidak akan mencelakaiku
setelah kejadian itu kulihat jam ditangan menunjukkan pukul 21.36 wib

21.49 wib sempat kres dengan LE-141 Evo-G 1521 dari Padang saat memasuki daerah Sungai Rengas, kurang setengah jam kemudian barulah skill pengemudi FRC RK8 diuji saat memasuki lintasan berkelok didaerah Tebo.. kulihat lagi jam ditangan menunjukkan pukul 22.06 wib dan menjelang pukul setengah sebelas kami memasuki kawasan tebo ilir.

Tikungan demi tikungan yang membelah perkebunan kelapa sawit terus dilibas, seperti yang sudah-sudah lagi-lagi konvoi truk dilewati dengan mudahnya meski dalam modus lintasan berkelok.. ada beberapa ciri yang selalu kudapati dari pengemudi yang satu ini
Dalam rata-rata kecepatan tikungan 80 kmh dia tak segan-segan membanting stir hingga suspensi RK8 terasa seperti mentok baik saat buang ke kiri ataupun kanan, satu lagi yang selalu tak ketinggalan
Saat menikung sering mengambil jalur lawan, benar-benar kontroversial dan krusial.

Setelah puas disuguhi aksi juru mudi FRC RK8 yang menurut pengakuannya mantan pemain bus malam Medan-Padang, pukul 22.50 wib hazard Legacy dihidupkan dan kamipun merapat di RM. Family Raya Ceria Sungai Bengkal KM 163, akibat sudah diganjal dari rumah dan didukung oleh snack FRC akhirnya dalam situasi guyuran hujan aku lebih memilih satu cup mie seduh saja dan pada kesempatan itu tak lupa kuabadikan keberadaan Laksana Legacy disana.. maaf hasilnya kurang maksimal

1.jpg

23.05 wib seperti sebuah kesepakatan bersama
semua penumpang kembali ke posisi masing-masing
begitu pula denganku yang memilih fokus di 1B
driver-1 kembali berada dibelakang lingkar kemudi RK8
ternyata subtitusi belum terjadi
setelah menanggalkan airbrake, perlahan Legacy mundur dan saat mengamati kedalam rumah makan aku baru sadar ternyata RM. Family Raya menerapkan sistem prasmanan..
Satu hal yang cukup langka untuk rumah makan jalan lintas di Sumatra

Semangat baru sepertinya terpancar dari wajah-wajah penumpang FRC
sangat kontras jika dibandingkan dengan beberapa jam sebelumnya
kabin hanya dijejali suara piranti audio, minus suara penumpang yang sibuk merajut mimpi
Tapi sepeninggalnya rumah makan suasana kembali seperti saat awal pemberangkatan
backsound musik masa kini yang direcycle menjadi musik koplo juga tak mau kalah berkumandang

Karena diri ini juga butuh hiburan akhirnya kukeluarkan bahan-bahan dasar yang dibutuhkan
1 headset
1 handphone
dan batre secukupnya

Lewat playlist iTunes yang sehari sebelumnya sengaja kuupdate
Red Hot Chili Peppers – around the world menjadi tandem pembuka menemani perjalanan menuju Ma. Tebo, sekilas kulihat mahluk halus disisi kiri sudah mulai menyelimuti diri dengan sweater hitamnya
kasihan juga.. kebetulan bus ini minus bantal dan selimut, tidak seperti Evobus.

Berhubung hujan diluar tak kunjung reda ditambah lagi tampilan panel Thermo King yang diletakkan dipojok kanan atas Legacy menunjukkan digit 21 derajat, akhirnya akupun mengikuti jejak tetangga dan mengenakan jaket yang selama perjalanan kuselipkan diantara bangku dan pinggang.

Lebih setengah jam perjalanan saat mulai memasuki pinggiran kota Ma. Tebo
FRC Legacy membuntuti sebuah penampakan samar milik sebuah bus yang belum bisa kuterjemahkan siapakah empunya, saat semakin dekat barulah bisa diterlihat didepan sana Yoanda Prima berjalan gontai dalam gelapnya malam, dengan mudahnya FRC masuk menggandengnya dari kanan
Tak ada perlawanan sedikitpun dan saat kuamati ternyata Yoanda Ekonomi minus penumpang
TKP saat itu terbaca 22.44 wib

Guyuran hujan lebat pukul 23.56 wib menyambut kami saat melintas didepan RM. Sederhana Ma. Tebo
Dipelataran parkirnya terlihat ALS Evolution, Yoanda Prima Eksekutif Skania RI, serta microbus Sibual-buali dan Tampalo
FRC terus berlalu…
mengitari tugu simpang tebo… mengarah ke kanan
dan selanjutnya melibas hujan ditengah lebarnya jalan Ibu Kota kabupaten Ma. Tebo

Masih dalam situasi hujan, 00.01 wib setelah kawasan perkantoran Ma. Tebo Lega Light kres dengan RS Concerto milik Jatra dari arah Padang.

Tak terasa setengah jam berlalu akhirnya simpang Jambi terlihat juga.
Sebenarnya FRC bisa saja mengambil arah kanan dan langsung menuju sungai rumbai
tapi karena harus kontrol dulu ke Ma. Bungo akhirnya sein Legacy berkedip ke kiri
tak kurang 10 menit menyusuri Lintas Sumatra Beethoven pun tiba juga di perwakilan Ma. Bungo
terlihat disana 4 travel terparkir, 2 new armada, 1 merpati bali dan 1 RS
melihat kondisi keempatnya sepertinya baru saja tiba dari pemberangkatan masing-masing

Karena jam digital pada kabin FRC Legacy ngawur
akhirnya kembali jam ditangan menjadi patokan
kulihat jam menunjukkan pukul 00.35 Waktu Muara Bungo
Sembari menaikkan tuas airbrake
Juru mudi mengambil SPJ Legacy yang diletakkan di dashboard
Tukang ojek dan para pedagang asongan yang mengais rejeki hingga dini hari mulai naik kedalam kabin
satu persatu dari mereka menawarkan jasanya
ada yang menawarkan jasa mengantar sampai tujuan
dan ada pula yang menawarkan beraneka ragam dagangan
mulai dari yang standart terminal seperti tahu, kacang, perkedel, telor asin, telor puyuh
hingga kopi seduh kemasan cup
Ya perjalanan darat dengan bus memang menyenangkan
lewat momen ini kita bisa melihat lebih dekat orang-orang yang secara tidak langsung terikat simbiosis dengan transportasi massal yang satu ini.

5 menit berlalu akhirnya Legacy angkat roda dari perwakilan Ma. Bungo
Ternyata subtitusi juru mudi belum juga dilakukan, perubahan hanya terjadi pada tampilan driver-1
Kali ini beliau mengenakan jaket kulit yang mungkin dimaksudkan untuk mengusir hawa dini hari
sempat terpikir apakah FRC Jambi-Padang menganut sistem engkel mengingat selama perjalanan hanya sekali pengemudi yang satu lagi kedepan dan itupun sekedar hanya untuk meminta asisten untuk mematikan keseluruhan LCD saat melintas di daerah Tebo, selebihnya banyak dihabiskan dikadang macan.

Beriring kembalinya RK8 menapaki Lintas Sumatra, asisten kemudi memanggil seorang mahluk halus yang berada digarda belakang untuk pindah ke seat CD karena pemberhentiannya di daerah Simpang Rengas sudah tidak jauh lagi.

Entah karena pengaruh mahluk halus di seat CD, sang punggawa kembali tampil allout
setelah melewati simpang Jambi, Legacy masuk terminal Ma. Bungo untuk membayar TPR
tampak diarea parkir terminal Yoanda Prima yang sempat diasapi didaerah Tebo sudah berada disana.

Keluar terminal dengan diiringi latar perbincangan antara juru mudi dan mahluk halus diseat CD, FRC berchassis negeri matahari terbit perlahan tapi pasti dimaksimalkan lajunya, kembali truk-truk dan kendaraan pribadi diasapi dengan mudahnya dan puncaknya terjadi saat dari kejauhan ditrek Ma. Bungo – Sei. Rumbai yang terkenal dengan lintasan lurus ini FRC disambut buritan bus malam yang perlahan kukenali sebagai ALS eksekutif yang berjalan sendirian dalam pekatnya dinihari.

Lagi-lagi dengan mudahnya FRC RK8 mendahului kendaraan didepannya
ALS yang buritan belakangnya dikenali sebagai Evolution RS tak memberikan perlawanan saat dilibas dalam kecepatan 110 kmh, tapi ada yang aneh setelahnya
saat mulai menggandengnya dari kanan terlihat bagian sampingnya menganut RS celcius
ALS tambal sulam ternyata hehe

00.53 Wib tibalah kami di Simpang Rengas, mahluk halus di bangku CD turun disini
karena tidak ada bawaan bagasi, tak sampai semenit Legacy kembali mengudara di Lintas Sumatra

01.07 wib dinihari
Menjelang simpang danau semagi, Legacy di dim berulang dari depan oleh sebuah sinaran yang dihiasi LED Biru dan saat dalam posisi kres ternyata FRC AP HD 1526.. wah benar-benar terlambat
Apalagi jika mengingat FRC jebolan Laksana ini kres dengan Jatra Padang 1 jam sebelumnya.

Akhirnya yang kutunggu-tunggu sejak di Ma. Bungo terjadi saat melintas di Sei. Rumbai
sein kiri dihidupkan, tuas airbrake dinaikkan dan aplusan kemudi berlangsung tepat didepan BPD Sei. Rumbai pukul 01.37 wib, juru mudi dengan perawakan tambun yang sebelumnya bermukim digarda belakang kali ini bertugas menggantikan punggawa sebelumnya yang hampir 7 jam berkutat dibalik kemudi, setelah menyaksikan semua itu aku baru mengerti ternyata estimasi waktu tempuh dibagi 2 dan tidak ada istilah aplusan rumah makan.. jadi pergantian dilakukan diperjalanan.

Tempo permainan pengemudi sebelumnya yang sudah terlanjur melekat selama perjalanan ternyata harus berbanding terbalik saat memasuki sesi driver-2
semenjak beranjak dari perhentian aplusan, speedometer hanya diganjar 50 – 60 kmh dan rela ikut antrian truk batu bara layaknya rangkaian gerbong kereta api
Meski hiburan kabin nonstop berkumandang, disinilah konsentrasiku menyimak detail perjalanan mulai pecah dan akhirnya sang tamu bernama kantuk itu datang menghampiri.

Dari sini aku mulai setengah sadar dan tak banyak yang bisa diingat
hanya segelintir yang bisa kutulis
01.43 wib Melintasi RM. Alam Raya tampak ALS disana
02.06 wib Memasuki Sei. Dareh, 3 Handoyo terparkir diperwakilannya
02.35 wib merapat di RM. Family Raya Ceria Dharmasraya hanya untuk sekedar kontrol
ada ALS tujuan Jogja terparkir disana
02.46 wib membayar TPR didepan terminal Kiliran Jao

Terjaga saat bus mulai meliuk-liuk mengikuti kontur jalan
Kulihat jam ditangan pukul 03.22 wib
ternyata kami sedang melintasi tanjakan dan kelokan-kelokan daerah Sijunjung
memory tahun 2002 yang sudah lama terkubur akhirnya menyeruak kepermukaan
Disinilah pada dinihari 9 tahun lalu aku masih bisa merasakan tangan dingin Alm. Bapak dalam berkendara, benar-benar tak terlupakan.

04.03 wib hujan kembali mengguyur saat memasuki daerah Palangki
Hiburan kabin digantikan oleh petuah-petuah saluang yang berkumandang menjelang subuh
Seorang pria sarkawian berusia senja yang selama perjalanan berdiam di smoking area tiba-tiba kedepan dan menanyakan pada juru mudi tentang daerah pemberhentiannya..
Apa mau dikata, karena ketiduran ternyata si bapak tersebut sudah melewatkan 2 jam perjalanan yang seharusnya turun didaerah kotogadang kini sudah hampir tiba di solok.
Akhirnya karena tak mau terlalu jauh lagi, sebuah kedai kopi dikiri jalan menjadi pilihannya untuk transit dan menunggu microbus tampalo yang akan mengantarkannya kembali kebelakang, saat turun aku baru sadar ternyata ia bersama seorang anak kecil dan barang-barang yang lumayan banyak dalam derasnya hujan dinihari, pemandangan yang miris.

Legacy kembali melanjutkan perjalanannya dalam kesendirian
hanya sesekali kendaraan kres menjadi teman sesaat
barulah dalam sebuah lintasan lurus yang tak begitu panjang
RK8 sedikit diredam lajunya, aku mencari tahu apa yang menyebabkannya jadi begini
ternyata Transport yang kami lewati di Simp. Tembesi meminta jalan

Juru mudi berperawakan tambun tersebut akhirnya memberikan tampuk kekuasaan pada Transport keluaran cipta karya pada pukul 04.18 wib, awalnya tak ada perlawanan.. barulah beberapa saat kemudian tampak usaha untuk mengejar Transport yang semakin menjauh didepan sana

Pengemudi sesi dua ini mencoba meminimalisir jarak
tapi apa daya Transport begitu lincah ditambah lagi kondisi jalan Palangki menjelang Solok mulai dihiasai kerusakan, tampak dalam pengamatanku Transport OH 1521 dengan gampangnya meliuk-liuk dan melibas hamparan lubang-lubang yang menganga, tapi hal itu tak berlaku bagi FRC.. tidak seperti juru mudi sebelumnya untuk sesi kali ini RK8 lebih diperlakukan hati-hati
dan tanpa perlu penjelasan panjang lebar Transport berlalu dan menghilang bersama hujan dinihari, melihat gaya bawaan driver-2 kali ini terbaca dia bukan seorang petarung jalan lintas.

04.24 wib seorang pria penghuni seat tengah turun dipertigaan Sawah Lunto

Tepat pukul 05.00 wib gerimis menjelang fajar menyambut kami diterminal Solok
Ibu paruh baya yang naik dari SPBU Simpang Rimbo turun disana
ada pemandangan yang cukup membuatku berdecap kagum saat melihat ke sisi kiri
ternyata Sari Mustika tidak hanya bermain hingga ke Bk. Tinggi
Solokpun tak luput dari lintasannya, di agennya yang tak begitu besar tampak Sari Mustika OH1525 keluaran Tri Sakti yang dulu biasanya digunakan ke Jambi diperpalkan disana.

Kembali lagi mengamati sekitar terminal solok kudapati jauh didepan Lorena New Travego rombakan Equator sedang terparkir entah karena apa, ternyata jawaban itu kudapati saat FRC mengarah kepintu keluar terminal.. tampak jelas Ijo sedang storing.

10 menit setelah keluar terminal Solok, FRC singgah disebuah Masjid untuk memberikan waktu kepada para penumpang yang ingin menunaikan ibadah subuh, FRC diparkirkan disisi kanan jalan.. tampak diparkiran Masjid, Transport yang sebelumnya mendahului kami akan beranjak dari sana.

Disini ada kejadian lucu, karena ingin merenggangkan otot-otot yang kaku selama perjalanan
aku turun dari kabin beriringi gerimis pagi, saat baru saja menapakkan kaki ditanah Solok
tanpa ba-bi-bu badan ini langsung bergetar hebat…
ternyata hawa pagi daerah ini benar-benar menusuk hingga ke tulang
mengalahkan Thermo King yang digunakan Legacy hehehe
Setelah berkeliling sejenak akhirnya aku lebih memilih kembali kedalam.

Kuota penumpang kembali dihitung saat Lega Light hendak beranjak
bersamaan dengan itu muncul seorang penumpang dari arah belakang yang menanyakan arah tujuannya pada tiket yang tertulis Bk. Tinggi, dijelaskan crew jika bus ini tidak melewati bk. Tinggi
dan akhirnya setelah debat singkat dengan crew, pria tersebut turun disini bersama seorang anak perempuan.. lagi-lagi kejadian yang sama, hujan dan membawa anak-anak.
Hmmm….

Perlahan sinaran matahari muncul dari ufuk timur
rinai hujan 05.40 wib menyambut kami saat melintasi Kotamadya Solok
10 menit setelahnya memasuki perbatasan Solok – Padang
berselang beberapa menit dari batas disambut pinggiran indarung, pemandangan alam yang tak terlupakan menyambut pagi dibumi Andalas.. Kontur jalan yang menanjak, menurun, tikungan-tikungan curam, bukit, lembah, hijaunya hutan-hutan dataran tinggi serta efek kabut yang dipertontonkan merupakan sebuah mahakarya yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.. aku hanya tertegun menikmatinya.

Setelah 11 jam perjalanan barulah aku berani memandang kearah mahluk halus yang bermukim disisi kiri, aku tak ingin melewatkan momen ini sedetikpun dan lewat jendelanya bisa kusaksikan lembah dan sungai-sungai yang dihiasi bebatuan dari gunung
benar-benar pagi yang tak terlukiskan.

Sebenarnya aku ingin sekali menyambit kepala asisten kemudi dengan botol air mineral sembari berkata
“wow.. ini keren sekali”.. tapi hal tersebut tak kulakukan
ya iyalah, ketimbang disambit balik pake kunci roda hehehe
aku membatin saja menikmati pemandangan alam yang dipertontonkan pagi itu
benar-benar sempurna

06.20 wib tibalah Legacy pada tikungan fenomenal.. apalagi jika bukan panorama 1
dari atas sana bisa terlihat pinggiran kota Padang, indah sekali.

06.45 wib pemandangan alam yang berdurasi hampir 1 jam berakhir
R235 mulai melaju dijalur ganda, aroma pinggiran kota mulai terasa saat melintas disini
tak sampai 15 menit berselang tibalah FRC di Pool Cengkeh Padang
beberapa penumpang turun
nah disinilah aku mulai diuji
karena tak ada arah tujuan dan kepulangan masih 11 jam kedepan
aku bingung setelah ini mau kemana hehehe

Mengamati hingga seat belakang sebagian besar penumpang masih setia pada bangku masing-masing
ini menandakan pool cengkeh bukan perhentian akhirnya
okelah kuikuti kemana dia pergi

07.10 wib sepasang suami istri diseat 1C-D turun diperempatan agen Transport Jl. bypass
kulihat lagi kebelakang, para penumpang masih stay dibangku masing-masing
begitu pula dengan mahluk halus disebelah
oke.. lanjut

Saat bus ber “roof rack” ini berjalan kembali, barulah crew menginformasikan pada kami bahwa FRC tidak masuk kota dan semua penumpang akan diturunkan disimpang kataping..
entah daerah mana aku juga tidak tahu

Nah pada kesempatan inilah dari arah sebelah kiri
telinga ini seperti menerima resonansi vokal yang frekwensi gelombangnya cukup dekat
Ternyat mahluk halus disebelah mengalamatkan tanya padaku
wah.. ada apa ini
dikatakannya jika BB-nya drop dan dia butuh telepon untuk menghubungi keluarganya
berhubung telepon genggamku mulai dari solok sudah tidur panjang
aku tak bisa banyak membantu dan dari sanalah percakapan kecil berlanjut
dikatakannya perhentian terakhir FRC Padang biasanya terjadi di ulakkarang
sebuah daerah diseputaran Padang kota..
akhirnya setelah 5 menit berlalu tibalah kami di simpang kataping

Bus menepi disisi kiri jalan bersamaan dengan suara asisten kemudi yang mengatakan
Padang Habis.. Padang Habis..
Penumpang mulai turun satupersatu
kukemasi bawaanku sembari mengikuti langkah penumpang yang lain

Cerahnya udara pagi menyambutku dibumi andalas
dan disinilah petualanganku akan dimulai
karena tidak tahu seluk beluk kota Padang sama sekali
aku ibarat kapal yang terombang-ambing dilautan luas
kota ini benar-benar asing ditambah lagi minus alat komunikasi.. lengkap sudah

Seperti pribahasa yang mengatakan malu bertanya sesat dijalan
akhirnya bermodal perbincangan singkat diatas kabin sebelumnya
kudekati mahluk halus yang sepertinya juga sedang dilanda kebingungan
suasana semakin bertambah runyam saat mendapati sekawanan supir taksi dan tukang ojek yang menawarkan jasanya layaknya penyidik yang sedang melakukan interogasi.

Kulihat si mahluk halus cukup terganggu dengan ulah supir taksi tersebut
disinilah aku merasa ada sedikit tanggung jawab
kukatakan pada supir taksi kami sedang menunggu jemputan
dari sini obrolan sekedar antara aku dan mahluk halus mulai terjadi

Supir taksi yang sepertinya tahu betul dengan gelagat kami yang kebingungan setia menunggu sambil kembali menawarkan jasanya
aku tetap dengan pendirian… “tidak, sudah dijemput da”
entah dijemput siapa aku juga tidak tahu hehehe

Perlahan para penumpang FRC di simpang kataping mulai mencair
sekawanan supir taksi dan tukang ojek sudah berlalu dan tinggalah kami berdua disana
entah dari mana awalnya kami mulai intens berkomunikasi

Dikatakannya tujuannya ke Padang untuk sekedar liburan dan mengunjungi keluarga dan keluarganya yang sudah standby diulakkarang tidak mengetahui jika ia terdampar di simpang kataping

Kali ini dia yang melontarkan tanya mengenai tujuanku ke ranah minang
nah ini yang bikin bingung.. akhirnya kudesainlah sebuah skenario yang akhirnya menjadi senjata makan tuan saat dia menanyakan dimana lokasi yang akan kutuju apalagi ditambah embel-embel
“nanti kita bareng aja.. aku dijemput naik mobil”
Aku terdiam dan entah mengapa untuk orang asing yang satu ini aku jujur saja layaknya orang yang sudah kenal lama.. akhirnya kuakui yang sebenarnya perjalanan ini hanya untuk misi menjajal bus dan aku akan pulang kembali ke Jambi pada sore harinya..

Tak perlu menunggu lama dia tertawa sambil berkata
“wah.. pagi-pagi kok sudah ketemu orang aneh kayak kamu ya”
kuamini tawanya.

Dalam beberapa pertanyaan setelahnya
dia menanyakan namaku.. ku jawab “rio”
aku yang memang sengaja tidak ingin lebih jauh mengenalinya mencoba memanggilnya dengan sebutan mbak saja
dan akhirnya disinilah momen yang membuatku tertegun sesaat saat ia mengatakan “nggak usah panggil mbak, nama aku ria”
waduh… sebuah kebetulan yang benar-benar ediyan menurutku
sama-sama terdampar dan punya kesamaan nama dengan tingkat kemiripan 90%

Karena kurasa ini cukup unik akhirnya kami sepakat untuk mencari bantuan bersama
ide brilliantnya muncul.. “charge handphone saja” ujarnya demikian
aku menurut saja dan untunglah tempat yang kami cari ternyata tak jauh dari tempat kami berdiri
handphoneku dan BB-nya mendapatkan asupan energi disebuah warung yang menyediakan sarapan pagi, susu hangat dan roti kemasan dipilihnya sebagai pembuka pagi dan aku lebih memilih teh hangat saja, setelah itu perbincangan kembali berlanjut.

Aku ingin tahu detail kota Padang darinya
mulai dari jurusan angkot, bis kota dan yang pasti agen FRC ulakkarang
untunglah meski notabenenya dia juga pendatang sama sepertiku
tapi karena sudah cukup sering menyambangi ranah minang
si mahluk halus ini cukup hafal seluk beluk kota yang sempat luluh lantak diguncang gempa tahun 2009

Lebih setengah jam berlalu, jemputan yang dinantikan si mahluk halus pun tiba
Sebuah Toyota vios.. kukira awalnya terdiri dari keluarga kecil
tapi apa yang terlihat berbanding terbalik
keluarlah seorang pria… kutunggu lagi penampakan berikutnya
ternyata tidak terlihat apa-apa, dia hanya seorang diri

Dari percakapan yang kutangkap bisa dipastikan mereka sebuah pasangan yang menjalin cerita
karena tak ingin menggangu
kukemasi bawaanku sembari mengambil handphone yang masih di charge
aku undur pamit.. tapi sejurus kemudian dia berkata
“nggak bareng kita aja?”
kuucapkan terimakasih padanya.. sembari melunasi sarapan kami pagi itu

akupun berlalu dalam kesendirian

ah tidaklah nona..
entah kenapa aku lebih nyaman menjadi diri sendiri
tak perlu bala bantuan selagi masih bisa menghadapinya

Ini adalah perjalanan yang cukup unik menurutku
bagian per bagian memiliki kisahnya sendiri

buat yang belum atau sedang merencanakan perjalanan kesini
sangat-sangat saya rekomendasikan
terutama indarung menjelang pagi
tak terlupakan..

Salam,
Rio

ini ada sedikit oleh-oleh

2.jpg

3.jpg

4.jpg


Catatan Perjalanan yang lainnya:



PAIDI
Ditulis oleh

''

1 Comment

  1. Suplentonk Jaya
    plentonk /

    Mantap,
    lengkap,

    cocok buat jadi wartawan ..

    bung rio minta no kontaknya,
    he he he …

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;