Semua yang bermula pasti berakhir, begitulah hukum alam di kehidupan
dunia fana ini.

Semua yang hidup tak pernah ada yang kekal. Kekekalan dan keabadian
hanyalah milik-Nya semata, Tuhan Sang Maha Pencipta kehidupan.
Begitulah kiranya pelajaran hidup yang kualami baru-baru ini, ketika
sosok lelaki yang paling kubanggakan dan kusayangi selama hidupku
dipanggil menghadap sang Khalik.

Banyak sekali kenangan yang terajut bersama beliau sejak diriku masih
kecil hingga kini usiaku telah lewat empat dasawarsa. Sosoknya yang
penyabar, ramah, santun namun tegas. Sifatnya pengayom, tenang dan
damai, namun tak kenal lelah sebagai pekerja keras yang selalu haus
ilmu dan informasi baru, telah memberikan keteladanan yang luar biasa
bagiku dan keluarga besarku dalam menjalani kehidupan selama ini.

Tak mengherankan, dengan goresan perjalanan kehidupan yang telah
beliau tunaikan itu, ….kemudian di saat waktunya tiba, ketika beliau
harus dipanggil menghadap sang Kuasa, semua orang yang pernah mengenal
kepribadian beliau, berbondong-bondong memberikan penghormatan
terakhir.

Sahabat, kerabat, tetangga serta tentunya sanak keluarga, dengan aura
kesedihan, namun dilandasi keikhlasan, semuanya rela menghantar
kepergian beliau kembali ke pelukan bumi asal kita sesama makhuk
bersebut manusia diciptakan….. “Ina Ilahi wa Inalillahi Raji’un”.

Kenangan yang tertoreh, bahwa semasa hidup Alharhum paling senang
mengadakan acara kumpul-kumpul teman, tetangga ataupun sanak saudara.
Sayangnya acara kesenangan seperti itu tak mampu lagi beliau lakukan
sejak beliau mengalami kemunduran memorinya (kepikunan) beberapa tahun
terakhir ini.

Acara penghormatan terakhir kepergian beliau ini, ternyata mampu
menjadi momentum “reuni” kumpul-kumpul besar teman, kerabat, tetangga,
handai taulan yang telah lama tidak beliau bisa selenggarakan.
Ketenangan beliau ketika menghadapi Sakaratul Maut, ditambah dengan
keikhlasan sanak saudara dan handai taulan yang hadir mampu membuat
suasana sedih dan haru karena kepergian beliau tak sampai
berlarut-larut. Wajah beliau semasa hidupnya yang jarang sekali
terlihat sedih ataupun marah, membuat aura atmosfer suasana kepergian
beliau menjadi hangat dan akrab seakan beliau masih ada dan hadir di
tengah-tengah kami semua..

Ucapan bela sungkawa terus mengalir silih berganti dari hadirin yang
tak terhitung jumlahnya. BBM, SMS, telpon dan emailku pun penuh dengan
ucapan simpati dan duka cita. Tak terkecuali, rombongan BMC Jatimers
(Hari, Luis, Wayan dan kawan-kawan) menyempatkan waktunya datang ke
rumah duka di Nganjuk.

Sungguh luar biasa !, semboyan “Sejatining Seduluran” yang dipegang
BMC bagiku terasa amat nyata. Makna seduluran BMC tidak hanya di
saat-saat gembira, ternyata di saat duka merekapun berkenan hadir
menguatkan ketabahan keluarga kami yang sedang kehilangan orang
tercinta. “Terimakasih kawan !”.

Dua hari setelah pemakaman beliau, tiba saatnya bagiku harus kembali
meneruskan kehidupan bersama keluargaku, mencari nafkah di Jakarta.

Demi kenyamanan perjalanan setelah lelah fisik dan bathin melepas
kepergian beliau maka kembali kupercayakan perjalananku kepada Rosin
SE yg berangkat dari Madiun ke Lebak Bulus.

Menurut perkiraanku hari itu aku akan kebagian Rosin 282 lagi
mengingat keberangkatanku dari Madiun bertepatan dengan tanggal
ganjil.

Diantar oleh karyawan perusahaan keluargaku di Nganjuk dengan
mengendarai Corolla DX keluaran tahun 83 milik Almarhum akupun
berangkat menuju Pool Rosin di dekat terminal Madiun.

Laju mobil tua yang masih terawat itu terasa santai karena memang
waktu masih banyak tersedia. Jam menunjukkan pukul 11 lewat sedikit
Corolla biru tua itu sudah menurunkan jangkarnya di tempat aku akan
memulai pelayaran memecah malam di jalur pantura.

Kulirik di dalam pool ada sesosok mulus nan bersih habis mandi.
Berbalut busana Tentrem Jupiter Li, kuyakin sosok itu adalah 282 yang
minggu lalu sempat membuatku sengsara.

Nyatanya aku salah sangka. Si Mulus nan jangkung bak peragawati kelas
dunia yang padat berisi itu ternyata bukan 282, tapi 217 !. Hari itu
si 217 ini ditugaskan ke melayani tujuan Rawamangun – Tangerang
menggantikan saudaranya , salah satu dari Marco AP kode 313 / 317.

Hmmm…inilah Rosin yang selalu berani tampil beda. Salah satu Marco
AP 313 / 317 berteknologi electric (by wire) 1525 ditarik dari tugas
pelayanan Super Executive jurusan Madiun – Rawamangun – Tangerang,
malah digantikan suadara tuanya yang kini telah berbaju baru.

Jurus seperti inilah yang dulu pernah diprotes saudaraku Haur Koneng.
Kritikannya cukup pedas dia tidak habis pikir kenapa Perusahaan
sekelas Rosin pengaturan armadanya “aneh”. Mengapa bis-bis barunya
banyak yang “hanya” berkelas eksekutif, sedangkan untuk kelas yang
paling bergengsi (SE) malah memakai chassis lama.

Salah satu bentuk protesnya yang paling keras adalah dengan
menghanguskan tiket yang sudah dibeli gara-gara yang datang adalah
armada Proteus (entah 239 / 245) sementara yang dia harapkan adalah
313 / 317 Marco AP 1525.
Inilah “kecerdasan” Rosin yang tak dimiliki PO lain. Ke”pedhe”annya
luar biasa !. Rosin lebih percaya pada “brand image” nya sendiri yang
dianggap lebih mampu menarik penumpang ketimbang “brand image”nya
pabrikan.

Tidak percaya ?, buktinya hanyalah Rosin yang selalu “pedhe” dan
berani memasang logo asli pabrikan di armadanya. Tengok saja, di semua
armada Rosin yang berchassis MB King / Intercooler terpasang logo MB
saja tanpa perlu diberi embel-embel “Euro 3″ apalagi “1725″ he he
he…. Di armadanya yang Hino RG / RK dengan bangganya terpampang
logo “H” tanpa perlu mengelabui penumpang dengan logo merk lain,
sementara PO lain lebih suka menyembunyikan identitas asli chassisnya.
Bagi Rosin lambang “RI” (dengan huruf kecil) lebih merupakan “brand”
penarik minat pelangganannya melebihi “brand” pabrikan chassisnya.
Mungkin saja strategi ini sebanding dengan McLaren atau Red Bull yang
mampu mengungguli Mercedes maupun Renault di arena F1 meski Mc Laren
mengusung mesin Mercedes dan Red Bull mengusung dapur pacu yang
Renault yang sama dengan peserta F1 Team berbendera asli pabrikan.

Perumpamaan lain, Rosin boleh dibilang tak kalah pedhe dibanding
Valentino Rossi. Rossi tak peduli tunggangannya berlabel Honda, Yamaha
atau Ducati dia tetap yakin bahwa label Nomor 46 tetap disukai orang.

Jam menunjukkan pukul 12 siang ketika 217 diberangkatkan dari Pool
Madiun. Aku dan 3 orang penumpang lainnya diikutkan 217 sampai ke
Palur baru ganti bis asli menuju Lebak Bulus.

Body baru nan mulus dipadu dengan seat Restindo 1 – 2 yang nyaman,
membuat aku kerasan di dalam bis bersuspensi original leaf spring
chassis MB 1521 intercooler itu. Apalagi dengan dapat posisi seat no
1A, enggan rasanya berpindah ke bisku yang asli berkode 245 berbody
Proteus.

Keluar dari Madiun, bis dipacu dengan kecepatan sedang – cepat. Tak
sadar karena kecapekan, tiba-tiba saja mataku terbuka ketika bis sudah
hampir sampai Ngawi beriringan dengan 3 unit Laju Prima. Di hutan
antara Ngawi menuju Sragen sempat menyalip Ijo LE 350 (jurusan mana
itu ya ?)

Menjelang masuk Sragen bis terpaksa menepi sampai ke bahu jalan karena
ada arak-arakan Kampanye PilBup (PilKada(L)) Sragen.

Sebagai seorang Pembayar Pajak aku merasa sangat kesal dengan ulah
orang-orang seenak pusarnya sendiri ini. Ulah itu jelas mengganggu
kepentingan umum di jalan raya. Lha wong belum jadi Bupati saja sudah
ngrepotin orang banyak apalagi nanti kalau sudah jadi ya ?

Alhasil jadwal perjalanan jadi terganggu, bispun berjalan
perlahan-lahan selama melintas di wilayah administratif Sragen.
Efeknya ketika sampai di Palur bisku yang asli (245) harus tertunda
keberangkatan hingga 1 jam karena menunggu penumpang yang diikutkan
Rosin dibelakangku yang konon terjebak arak-arakan di Sragen.

Pukul 15.35 armadaSE kode 239 ex Lebak Bulus- Ciputat diberangkatkan
menuju Merak.

Sekitar pukul 15.50, menyusul SE kode 217 (yang tadi kunaiki dari
Madiun) mulai bergeser keluar pool menuju Rawamangun – Tangerang.
Lanjut lagi dengan SE 293 jurusan Bogor berbaju RS Evo, yang dulu
pernah kunaiki bareng Roy, start dari Palur jam 16.10, menuju Bogor.
Akhirnya…. sekitar pukul 16.20 SE 245 ku, yang sama dan sebangun
bentuknya dengan 239 tujuan Merak, mulai merangsek keluar dari hiruk
pikuknya Pool Palur.

Menurut Mas Hartanto (bagian operasional Rosin) “hari ini agak sepi
pak, karena hari ini hanya 43 unit yang berangkat”.

“Ck…ck…ck…. 43 unit bis kok dibilang sepi..weleh..weleh” kataku dalam hati

Pak Slamet Kumis ditugasi sebagai Driver 1, sementara Driver 2 yang
aku kurang tahu namanya adalah Driver “cadangan” yant batangannya lagi
perpal di Cibitung. Driver 2 sempat bilang ke Asisten Pengemudi “besok
tolong kasih tahu agen-agennya mana saja ya…” Kata Driver yang agak
mahal senyum ini. “Aku gak pernah jalan ke Jakarta dan gak pernah
pegang mercy” sambungnya.

“Waduh…. jangan-jangan Driver 2 ini nanti bermasalah” kataku dalam
hati dengan nada khawatir.

Karena posisiku dekat dengan tempat duduknya, kucoba mengakrabkan diri
dengan bertanya “biasanya jalan mana pak ?”

“Biasanya bagian saya ke Muara Enim pak” jawabnya ramah meski
senyumnya tetap mahal.

“Kalo jalan ke Sumatera nyantai pak. Apalagi kapalnya sering bermasalah”

“Hhmm…bakalan kesiangan lagi nih” gumamku dalam hati dengan
kekhawatiran yang makin besar. “Ya sudahlah pasrah saja mau sampai jam
berapa di Jakarta, toh aku juga masih cuti” kataku dalam bathin saja.

Pak Slamet Driver 1 ternyata cukup cekatan membawa Proteus 245 kondisi
bis ini masih jauh lebih bagus dibanding 239 yang pernah dua kali
mengecewakanku. Bahkan sampai di Tingkir Salatiga masih bisa barengan
sama 293 jurusan Bogor yang berdasarkan pengalamanku ngejoss itu.

Proteus 245 memang lain dibanding dengan saudara kembarnya si Proteus
239. Kondisi interiornya lebih bagus, suara dalam cabinnya pun senyap
tak ada “gemlodhak” ataupun “kyiyet-kriyet”, tarikan mesinpun lebih
spontan. Alhasil, semua kenikmatan itu melambungkan khayalku ke alam
mimpi. Sadar- sadar bisku sudah terhenti di Rumah Makan, bahkan tiba
lebih dulu ketimbang SE Evo 293 yang menuju Bogor.

Soal servis makan, Rosin memang jagonya. Bukan soal rasa makanannya
yang enak, tapi pelayanannya sangat “ngajeni” (menghargai) penumpang
kelas SE.

Cerdik pangkal Cepat. Begitulah semboyan yang dipakai oleh Driver
kedua Rosin 245 ini. Selepas Plelen, ketika jalanan alas roban menuju
Batang sedang ramai, Driverku sangat cerdik mengambil “slag”. Nu3
Singa Swedia berbody Irizar sanggup diimbanginya. Beberapa kali Irizar
menyalip 245 tapi beberapa kali terjebak oleh truk yang ada di
depannya yang kesulitan menanjak. Akhirnya si 245 bisa menyerobot
kadang dari kanan atau dari kirinya sehingga tak tertinggal oleh
Irizar ini.

Tak hanya dengan Irizar, Haryanto 1526 pun diajak main lomba
kecerdikan mengemudi di jalur padat.
Sayangnya menjelang masuk Batang, lagi-lagi soal usia dan soal
kapasitas mesin yang bicara. Nu3 Irizar dan Haryanto 1526 pun lambat
laun menghilang dikegelapan.

Lelah dan kantuk tak dapat kutolak. Sesekali mataku melek dan kusadari
bisku tetap berjalan dengan speed yang tidak mengecewakan. Banyak
rival sesama spesies soloensis dan lain-lain yang dipecundanginya,
namun sempat pula kucatat ada dua Soloensis yang berhasil mengasapi
245 ku yaitu : Gajah Mungkur dan Rosin Hino Bisnis AC kode 1.. (
sayang aku lupa mencatat kodenya), keduanya sama-sama berbaju RS Evo.

Suspensi nyaman, bangku single no 1A yang nyaman dan gaya membawa bis
yang nyaman adalah perpaduan serasi yang paling menyenangkan untuk
menghias mimpi-mimpi diperjalanan.

Sepotong roti, secangkir teh manis dan selembar handuk hangat yang
disajikan dengan keramah tamahan di Rumah Makan Rosin Indramayu
semakin melengkapi kenikmatan perjalananku bersama Rosin SE ini.

Yang sungguh melegakan ketika sampai di rumah makan itu, Rosin Jupe
217 Rawamangun – Tangerang juga masih ada disitu, begitupun Evo 293
Bogor yang dulu pernah memuaskanku karena nyamannya dan ngejossnya,
juga baru tiba beberapa menit di belakang bisku (hampir bersamaan
dengan 245 ku).

Akhirnya sekitar pukul 06.15, dengan puas kuusaikan perjalananku
pulang ke Jakarta, setelah berkabung melepas kepergian sosok lelaki
kebanggaanku.

Selamat Jalan Bapak…. Aku tak akan pernah lupa pada senyuman
ramahmu, pada pengorbananmu, pada kesabaranmu dalam mendidik,
mengajarkan kehidupan selama membesarkanku.

Semoga Tuhan memberikan tempat yang paling baik bagimu….

Terimakasih Rosin, kau telah memberikan pelayanan dengan baik dalam
perjalananku kali ini.

Salam, Didik


Catatan Perjalanan yang lainnya:



PAIDI
Ditulis oleh

''

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;