Touring stoot 30 jam Semarang-Jakarta-Semarang
9:48 am in Buletin, Caper (catatan perjalanan) by Yeremia
Touring pertamaku, (yg sempat di posting)
Berawal dari obrolan dengan teman pada senin 7 September 2009. waktu itu teman kuliah saya Mas Fitrah, anak Jakarta, kuliah Semarang lagi ngobrolin mudik sama anak Jakarta yg lain. Iseng-iseng nguping ah…..
Fitrah : ” eh loe mudik kapan??”
Mrs X(udah lupa ngobrol ma sapa) :” Q mungkin tgl 5 sore naik Senja, loe gmn??”
Fitrah : ” Q ikutan mudik gratis Indosat, pake bis Nusantara.”
eiitss……apaan nie, jaman sekarang kok ada kata gratis dan nu3 tara dalam 1 kalimat???
karena rasa ingin tahuku, tanpa ada undangan buat nimbrung, tanpa malu (sebagai anak ndeso) ikutlah aku nimbrung.
Aku : “mudik gratis naik nusantara, bisa sampai mana?? gimana caranya???”
Fitrah : “Daftar aja di galery Indosat Pandanaran, syaratnya cuman beli pulsa Indosat limapuluh ribu.”
……….
Sore itu juga, langsung meluncur ke galeri Indosat Jl Pandanaran, Semarang.
Aku : “Mbak, mudik gratis Indosat masih bisa??”
Mbak yg jaga: “masih bisa mas, tanggalnya 15, tapi koutanya tinggal buat 2 orang.”
Aku :” oh…., saya sendirian kok”
singkat cerita, satu tiket sudah ditangan, Nusantara, berangkat tanggal 15 sore dari Galery Indosat Semarang.
…………………………………………………………………………………………………………
Seminggu berlalu, sesuai kesepakatan, penumpang kumpul jam 15.00, karena tidak ada kerjaan, kuliah kosong, jam setengah 2 sudah nyampai di galery Indosat. terlalu cepat tiba, mampir di DP mall aja dulu, ngadem, beli Baterai AAA buat mp3+air mineral buat di perjalanan.
setengah 3 balik ke Galery Indosat, penukaran tiket, sempat juga timbul pertanyaan, kok di tiket tidak ada nomor kursi, tujuan penumpang kok juga tidak ditanyakan spesifik -kan nggak lucu kalau nanti terjadi ada penumpang jurusan Bekasi, Pondok Gede, Kalimalang, Lebak Bulus,, dan Kali Deres ngumpul di satu Bus, nah lo mau lewat mana ini nanti bus????-
setelah acara haha-hihi, pembagian souvenir, voucher, juga ada yg dapet HP, dan terakhir seremony dikit, akhirnya penumpang diperbolehkan masuk bus. Karena tidak ada nomor kursi, maka siapa cepat, dapat kursi keramat, alias 3-4, dan tentunya orang yg cuman mau touring pasti lebih cepat buat masuk bus dibandingin yg mau mudik beneran…jadilah aku duduk di Kursi Keramat, sebelah juga anak Undip, dari Fakultas hukum, tapi kayaknya nggak nyambung deh sama aku kalau ngomongin dunia kita-kita ini.
16.30 rombongan 2 bus Nusantara HS 200 dan HS 188 berangkat dari galery Indosat Jl Pandanaran Semarang. sempat kecewa juga kok cuman dapet bis reguler yang standar banget 1525 AP, reguler Kudus-Jakarta, padahal sempat berharap dapat Cyber bus (kan yang nyelenggarain Indosat), atau mencicipi SCANIA, atau minimal pakai Symphonie lah, tapi setelah ingat kalau ini gratisan segera aja mengucap syukur.
mau keluar dari Semarang aja susah, jalanan macet dari Tugu Muda hingga Kali Banteng.
17.00 Rombongan sampai di pertigaan Krapyak,tidak puas dengan kursi keramat, aku maju, dan tanya ke Sopir, “pak, kalau Saya duduk CD boleh kan?”, pak Sopir dengan agak ketus cuma jawab, nanti kalau ada yang mau ngrokok, mas pindah belakang lagi, ini kursi buat yang ngerokok”. Ah masa bodoh, berarti selama nggak ada yang minta pindah, aku berkuasa atas kursi ini. Perjalanan berlalu dengan tenang, kami mulai ngobrol, pak Sopir yang semula saya kira galak, ternyata mulai cair juga, bersama pak Kernet, obrolan mengalir.
Semula Pak Sopir mengira kalau kami ini rombongan karyawan Indosat, tapi aku jelaskan kalau kami ini pelanggan biasa. berikutnya sempat terjadi ketegangan ketika kru menanyakan tujuan kami, karena ternyata sesuai dengan prediksi saya, penumpang carut-marut dalam satu bus. Kata pak Sopir, beliau cuma ditugasi bawa penumpang ke Jakarta, sehingga mengira kalau penumpangnya sudah dikoordinir dengan baik.Setelah sama-sama mengeluarkan argumen, akhirnya mereka mau mengerti, kalau yang kurang penanganannya dari pihak Indosat. Akhirnya beberapa penumpang saya bujuk untuk turun di pulo Gadung, dan di Pool Daan Mogot, sementara penumpang turun jalan tetap diperbolehkan turun di pintu Tol.
17.45 bertepatan waktu berbuka, bus masuk RM Sari Rasa, eh disana ternyata Masih ada acara bareng Indosat, termasuk makan malam dan menu berbuka puasa yang ditanggung Indosat.
turun dari Bus, seorang penumpang lain merangkulku, Satrio, anak Hukum Undip, dia mengenaliku sebagai BMC karena “seragam tempur”ku dari BMC Jogja. Satrio juga anggota BMC (tanpa aku tahu BMC yg mana), tapi biarin lah, dapet saudara baru. makan malam, kami asyik ngobrol tentang Bus. Seseorang datang menghampiri kami, Yoga, juga anak Hukum Undip juga, dan tentunya BMC juga, tapi dia naik HS 188, tambah ramailah obrolan kami.
selesai makan, perburuan bus dimulai, Garuda Mas New Trav,masuk, langsung jepret. sempat juga ketemu Mas Adji, (kalau tidak salah BMC Blora/Cepu) penumpang Garuda Mas yang lagi-lagi kenal karena seragam tempurku.
19.00 perjalanan berlanjut, driver ganti, driver kurus, yang dulu konon pernah dapat penghargaan sopir teladan jaman masih di Sumber Harapan. Sopir yang satu ini juga enak, dan tentunya driving stylenya sesuai dengan “lidah” kami.karena aku “naik pangkat” ke kursi CD, maka tahta nomer 3 pun kuserahkan ke Satrio. ber empat kami ngobrol ngetan-ngulon (karena bicaranya di pantura, jadi bukan ngalor-ngidul, ingat, pantura kan timur ke barat….)
21.00 kenaikan pangkat!!! sang kernet mundur, milih tidur, akhirnya dapat juga kursi kernet, perjalanan lancar, dan tidak ada kendaraan lain yang bisa bertahan lama di depan HS 200.
Sampai Pemalang, dalam kondisi hujan, terjadi kecelakaan kecil, posisi kami berhenti di lampu traffic light, sebuah colt diesel dari arah Jakarta oleng, hingga menabrak posko mudik dan becak-becak yang sedang mangkal, kayaknya karena pengereman di jalan licin.
perjalanan lancar, sambil facebookan, aku tetap ngirim aba-aba ke pak sopir. malam semakin larut, penumpang terlelap semua, HS 188 tidak tampak di spion.
22.30 persisnya jam brapa,aku lupa, Bus masuk Kanci,,ternyata ada juga penumpang tujuan Cirebon, sampai di gerbang Tol Plumbon tepat di atas jalan layang, mereka turun, bapak-ibu paruh baya. sementara kernetnya terus terlelap, praktislah aku jadi kerja sosial.
baru aja bis jalan, ada lagi seorang ibu yang mendekat, “Mau turun bu?” tanyaku. “Ya mas, pintu tol depan.” sahut ibu ini. “Palimanan?” tanyaku, “Bukan mas, Plumbon”. Lhah, benar khan,,, ada aja penumpang kesasar..”Bu, Plumbonnya sudah lewat, Barusan pas ada dua penumpang turun itu Plumbon” kata Pak Sopir. “Ibu Mau Ke Mana?” tanya pak Sopir lagi. “Ke Kedung Jati, lho pak bukannya di depan ada gerbang tol lagi?”. “yang di depan itu Palimanan bu, Plumbonnya sudah lewat, Ibu nanti turun Palimanan saja trus oper angkutan kecil-kecil masih ada kok.” beruntung ibu ini mau mengerti, tidak protes atau marah-marah. Ibu ini bersama anaknya, cewek usia SMP-SMA, kasihan juga sebenarnya, nggak ada yang bantuin, apalagi pakai kebablasan segala. Singkat cerita, Sampailah di pintu keluar Palimanan, Ibu-anak ini turun, tak lupa mengucapkan terimakasih padaku, layaknya pada kernet beneran. Anaknya imut juga, hehehe, kalau dia sendirian saja, sudah kubatalkan touringku, buat anterin dia pulang sampai rumah…….
Selepas Palimanan, bus masih berjalan “standar”nya Nu3tara. antara 70-90an, tidak banyak bus yang bisa dilalap, karena posisi kami dari awal masih di depan konvoi bus dari Jateng-Jatim yang mau ke Jakarta, kalaupun ada, paling-paling cuma konvoi Sinar Jaya dan Dewi Sri, atau justru beberapa bus Bumel Jateng yang “nyodok” ambil penumpang Jakarta, bahkan ada juga armada microbus ber plat AA, K, atau G yang ikutan “nyodok”.
23.30 Bus memasuki wilayah Pemanukan, dua orang lagi mendekat, usia Kuliahan, satu cowok, satunya lagi cewek, kalau yang ini sepertinya sudah pengalaman naik bus, mereka persiapan dulu, kemudian sudah hafal “ancer-ancer” rumahnya. Rupanya yang turun cuma yang cewek, cowoknya masih terus lagi. Cewek satu ini sama saja, setelah turun bilang “terima kasih, Pak”…… Lho, memangnya saya bapakmu??, paling usia kita juga sama kok aku dipanggil Pak.Aku cerita ke Pak Sopir, dia ketawa aja.
sekitar sepuluh menit kemudian penumpang cowok ini juga turun, tepatnya di balai penelitian pertanian, mungkin orangtuanya dinas di sana. Menyusuri jalan Pemanukan bus masih bisa berlari, tak tampak sama sekali bahwa ini sudah memasuki arus mudik. Bahkan dibandingkan Mei lalu ketika aku melewati ruas jalan yang sama, justru lebih sepi sekarang (dulu symphonie yg kutumpangi sampai harus ngeblong ruas jalan dari barat), hanya saja mulai tampak dari arah Barat konvoi pemudik sepeda motor.
Kurang Lebih 00.00 pergantian driver lagi, kali ini kembali Pak Sopir yang gemuk yang pegang kendali. Eh dasar sial, baru seperempat jam pegang stir sudah ketemu macet, susahnya lagi bagian marka jalan sudah diberi pembatas tonggak bambu satu setengah meteran dan rafia, praktis bus tidak bisa ngeblong. Pak Sopir ini cuma bisa curhat ke aku, menyalahkan sopir satunya kok tidak lewat Sadang.
rupanya macet tidak terlalu panjang, penyebabnya karena ada truk dari arah barat yang mogok, sehingga jalur dari timur diminta satu. Bus segera melaju lagi, kali ini dengan kecepatan sedang, karena jalan mulai padat. Masuk keramaian Cikampek, bus merayap pelan, tapi tidak sampai macet, lepas dari keramaian, bus kembali berjalan cepat, pintu tol Dawuhan, langsung masuk Tol Cikampek-Merak. Tol saat itu masih lengang dua arah, dengan mudah bus menyalip bebreapa truk yang masih beroperasi, juga Sinar Jaya yang berjalan pelan di kiri, “Ngantuk kok nyopir” begitu kata Pak Sopir mengomentari Sinar Jaya yang berjalan pelan. memasuki kurang lebih KM 53 Pak Sopir unjuk kebolehan, kebetulan speedometer bus masih nyala, 120 KM/Jam!!!! hebat juga Pak Sopir, hebat juga Nu3tara.
01.30 Setelah aksi 120 KM/jam yg terjadi 2 kali, bus relatif berjalan konstan antara 90-110Km/Jam. Melewati beberapa pintu tol, beberapa penumpang tujuan Bekasi segera kubangunkan, karena lambat, beberapa penumpang tujuan Pintu Tol Bekasi Barat kebablasan, maklum persiapan lama, bus sudah lewat pintu tol, eh mereka masih di kursi masing-masing. “Jatibening aja ya,…sudah kelewatan soalnya.” kataku, beberapa penumpang mungkin masih belum percaya kalau jam segitu Bus sudah sampai, jadi mereka nggak persiapan. Jengkel juga Pak Sopir ditinggal dua rekannya, apalagi tahu penumpangnya semrawut, Ia minta aku membangunkan kernetnya, segera setelah Pak Kernet bangun, kembalilah ia ke “singgasananya”. Akhirnya sampai Pintu Jatibening penumpang Bekasi dan sekitarnya Turun, banyak juga, sisa penumpang tinggal separo. Setelah bus jalan lagi, sisa penumpang ku sensus ulang, beberapa Pulo Gadung, satu orang Lebak Bulus, Sisanya Grogol-Pool Daan Mogot. Lebak Bulusnya kubujuk turun Daan Mogot, syukurlah mau mengerti.
02.00 Bus sudah masuk kota Jakarta, menyusuri Tol dalam kota. Rupanya Bus mau ke Daan Mogot dulu, dan terakhir stand by antri di Pulo Gadung buat ambil penumpang Kudus pagi/siangnya. Di perjalanan tadi sempat Pak Sopir tanya ke aku, apa aku ngerti Pool Daan Mogot yg baru, Dia biasanya bawa yang Ke Pulo Gadung, apalagi katanya Pool Daan Mogot baru saja pindah, dari pada sok tahu, mendingan ku jawab tidak tahu. Tanya juga Pak Sopir ke kernetnya, hanya dijawab “Nek aku ra ngerti, ra tekan nggone” (kalau aku tidak tahu, maka pasti tidak sampai tujuan) mendapat jawaban mengambang ini, Pak Sopir percaya saja sama Pak Kernet.
sampai persimpangan Fly over Grogol, dengan mantap Pak Kernet minta Busnya ambil kiri, turun. Turun juga dua penumpang di situ. Bus berjalan sedang melewati Daan Mogot yang masih sepi. seperempat jam berjalan, kok nggak sampai-sampai, sempat juga terlihat ada pagar jembatan kecil bertuliskan Nusantara. Pak Sopir tanya ” Opo kui kok ono nusantara nang kono”(apa itu tempatnya? kok ada tulisan Nusantara disana?), namun kernetnya tidak menjawab. Bus tetap berjalan, karena benar-benar lama tak juga sampai Pak Sopir kembali ragu.
“Koe Ngerti tenan ora panggone??” (kamu bener tahu nggak sih tempatnya) tanya Pak Sopir ke kernetnya.
“Lha Yo sebrange Indosiar, mlebu sithik, to?”(Seberang Indosiar masuk sedikit kan”) sahut kernetnya
“Lho Indosiar ki wis keliwat mau, tak kiro koe ngerti panggone, kok mau meneng wae?”(lho Indosiarnya sudah tadi kelewatan, Aku kira kamu tahu persis tempatnya, kok kamu diam saja tadi?”, perdebatan dimulai.
“Lha kan mau aku omong, ngko nang Indosiar maju sithik, lha kan karepku koe alon-alon wae ,trus tekan Indosiar ngomong ro aku, aku ngertine yo seko Indosiar kui mau.”(lho tadi kan saya bilang, nanti dari Indosiar maju sedikit, kan seharusnya kamu tadi pelan saja, terus kalau sudah sampai Indosiar kasih tahu aku, aku juga cuma tahunya dari Indosiar itu.)
“Yo wis, iki arep kepiye?”(ya sudah, terus sekarang gimana”) kata pak Sopir.
“Bablas Poris wae sisan”(terus sampai Poris sekalian) kata Satrio yang memang mau ke Tangerang, setengah bercanda.
“Kali Deres wae pak” (Kali Deres aja pak) kataku, tempat yang relatif netral, karena sebagian besar penumpang yang mau turun Pool Daan Mogot, memang tujuan Tangerang.
“Yo wis kene wae lah Kali Deres wis nang ngarep kui kok”(Ya Sudah sini saja lah, Kali Deres juga sudah dekat di depan itu kok). Pak Sopir sudah malas rupanya.
Penumpang dibongkar, Bus mencari tempat putar, balik ke Pulo Gadung. Masih saja terjadi perdebatan antara Pak Sopir dan Kernetnya, Buat jalan Pulang ke Pulo Gadung Saja, mereka masih “eyel-eyelan”, sempat juga terucap,” Tapi yo bener mase kui mau paling pas dibongkar di Kali Deres”(Bener kata masnya ini, paling tepat memang dibongkar di Kali Deres). Akhirnya Bus masuk Tol, arah Bandara dulu, kemudian putar kembali ke Pulo Gadung. Daripada merasakan situasi panas, mendingan memejamkan mata dulu, persiapan buat nanti pulang lagi ke Semarang.
03.00 tepat, Bus masuk Pulo Gadung, Aku turun di Pintu Keluar, tak lama kemudian HS 188 masuk juga, rupanya mereka berhasil menemukan lokasi Pool Daan Mogot, jadi lebih lama masuknya di Pulo Gadung. Bersama Yoga, BMC yang juga touring, dengan HS 188, aku keliling Pulo gadung, Wah, Jam tiga pagi begini, banyak juga Nu3tara yang sudah antri. Setelah minum kopi bersama di Warung depan terminal, akhirnya kami berpisah, Yoga mau ke Bogor mengunjungi teman-temannya dulu, Aku memilih cari tempat mandi. Berjalan menuju SPBU di sebelah Utara terminal, Mandi, ganti baju, karena tidak ada yang jaga, hanya selembar seribuan yang kumasukkan ke kotak di depan kamar mandi SPBU.
Selesai Mandi, kembali ke terminal, mampir warnet yg di depan Dewi Sri ngetem, say hello dengan teman-teman yang sudah nunggu update laporan lalu lintas mudik, juga numpang cas HP di warnet tersebut.
Masih bersambung di Touring Stoot 30 Jam Semarang-Jakarta-Semarang part 2

“Ngantuk kok nyopir” begitu kata Pak Sopir mengomentari Sinar Jaya yang berjalan pelan. = maklum mas, namanya juga mobil stut pas lebaran, pasti nguantukkkkk. Hehehehe
Salam kenal,
Himawan
lam knal juga……..
Manatap Yer..
kpn2 touring lg..
aku ikut
pengen ikut tourng tp gag tau caranya mas….