jumat 8 april 2011 jam 3 pagi

dari tempat tidurku aku melihat sibodohku tertidur dengan pulasnya.
sekedar info kamar tempat kami menginap double-bed jadi aman dari setan lewat.
entah karena sudah kebanyakan tidur siangnya atau sudah tidak sabar ingin turing yang sesungguhnya, mata ini sudah tidak bisa terpejam lagi.
kubangun pelan-pelan dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil namun suara sandalku membangunkan sibodohku, langsung kubersiap-siap tuk berangkat dan sibodohku menanyakan apakah kita mau berangkat sekarang, kujawab ‘ya kalau kamu mau bobo sebentar lagi ya ga papa’.
ternyata ia ikut bangun dan beres-beres lalu packing.
jam 4 subuh kami check-out, bangunin tukang becak, membayar 5ribu sampai terminal pacitan.

ada 3 bis didalam terminal pacitan tersebut yang ternyata kesemuanya adalah aneka jaya, 1 bis yang dari jakarta proteus, 1 bis ac surabaya, 1 bis ekonomos buat solo.
langsung menuju bis balutan trisakti non ac tujuan solo, duduk di seat 1-2 dan langsung berangkat dengan hanya 5 penumpang meninggalkan saudara ac’nya tujuan surabaya.
sedikit demi sedikit penumpang bertambah, hari masih gelap, jalanan terus menanjak dengan tikungan tajam yang seolah-olah tiada habisnya, pening pala ini dibuatnya.
sayang sekali apabila sudah agak terang pasti sangat indah pemandangannya, sebelah kiri jurang dengan pemandangan laut selatan di kejauhan, sebelah kanan hutan dan tebing.
ibarat melewati alas roban tetapi panjang jalur ini hampir 5 kali lipat lebih panjang dari alas roban.

sesuai prediksiku, ketika terang tiba ketika itu pula tepat kita di bagian paling atas dari jalur ini.
dengan diselimuti kabut dan rintik-rintik hujan serta diselingi raungan hino mesin depan, pemandangan pegunungan nan indah tampak dibalik kaca besar yang nanti malam menyuguhkan tontonan lain dengan judul lain, yaitu balapan pantura.
memandang dataran wonogiri dari atas bukit, tampak tidak percaya bahwa kampung halaman mbahku itu kekeringan air.
wonogiri dari atas begitu asri, begitu hijau, dengan hiasan waduk gajah mungkur.
namun aku mengalami sendiri bagaimana masa kecilku ketika aku sering diajak mbah pulang kampung ke wonogiri, gunung mijil tepatnya, pegunungan kapur membuat sulit sekali mendapatkan air bersih.

mulai memasuki kabupaten / pinggiran wonogiri, sudah mulai kres dengan bis-bis dari barat / jakarta semacam gajah mungkur, sedya mulya, sumba putra, dll. ketika itu jarum jam ada di angka enam, yang berarti menurut perkiraanku bis-bis tersebut bisa dibilang kesiangan / telat masuk wonogiri.
memasuki pasar wonogiri bis ngetem sebentar, penumpang mulai penuh, yang tampakny memang penumpang langganan untuk aneka jaya jam keberangkatan 4 pagi dari pacitan, terlihat dari tegur sapa dengan supir dan kenek bisku ini, bahkan tampaknya supir sudah hapal sekali titik-titik dimana ia harus berhenti dan mengambil penumpang yang paling tidak sudah ia kenal muka.
anak kuliah dan anak sekolah dengan seragam pramuka mulai ramai memenuhi bisku ini, tidak beda tampaknya dengan bis kota di jakarta dimana banyak penumpang berdiri hingga ke pintu.
yang ku salut adalah jarak yang harus ditempuh oleh para anak sekolah ini untuk menuju sekolahnya, cukup jauh, ibarat kalau di jakarta jika rumahnya di bekasi ya sekolahannya terletak di kota jakarta, wow, anak rajin.
sama seperti sibodohku yang rumahnya di bekasi kuliah dan kerjanya di jakarta, saking terbiasanya jalur senayan-kalimalang-bekasi timur kubilang dekat. teringat ketika pertama kali kerumahnya terucap dari mulutku bahwa ku kapok kerumahnya yang sangat jauh dan macet itu, belum panasnya, tapi ternyata sekarang.

setiap menaikkan penumpang supir selalu teriak ke keneknya untuk cepat-cepat dan tidak berlama-lama, mungkin ini karena rasa sungkan dan tidak enak dengan angkutan lainnya karena hampir semua jatah penumpang diangkutnya.
memang harus diakui untuk urusan mengejar waktu, aneka jaya bumel ini lebih baik dari bis kecil dan armada bumel wonogiri lainnya, dimana pagi itu kebanyakan penumpanng orientasi waktu lebih penting daripada kenyamanan.

memasuki kota wonogiri penumpang satu persatu turun, mulai dari anak sekolah, anak kuliah, pegawai pemerintahan, pekerja kantoran / toko, ibu-ibu, bapak-bapak, dsb.
mulai bertemu dengan bumel lainnya, laju bis pun mulai terasa ciri khas bumel, grasak-grusuk ingin menjadi paling depan merebut jatah kue tersisa menuju terminal tirtonadi solo.
sempat kres dengan sindoro satria mas legacy merah dan hidek biru, kutunjuk ke bis itu dan bilang ke sibodohku bahwa bis itu ngebut, ia hanya tutup kuping tidak mau mendengarkan.
sempat ia nyeletuk dan ngeluh kalau jalan bis ku ini si aneka jaya bumel mulai membuatnya takut, kuhanya bilang ‘ini belum seberapa dibanding entar malem’, ia melotot tajam kepadaku.

masuk terminal tirtonadi solo, calo menyambut cukup ramah, selalu menanyakan tujuanku dan ku hanya menjawab kalau aku pengen makan.
lapar memang dari pagi belum sarapan, jarum jam menunjuk ke angka 8 yang berarti 4 jam lamanya perjalanan kami dari pacitan menuju solo.
masuk ke parkiran bis semarangan / jawa tengah tuk mencari makan, dengan diiringi alunan suara calo yang selalu dengan pertanyaan favoritnya ‘mau kemana mas?’.
‘mau makan jawabku’, dan kami menuju kupat tahu, sambil menyantap kupat tahu sambil melihat-lihat patas semarangan, cukup ngiler ku dibuatnya, terparkir atb sumber kencono yang ku sangat ngiler ingin menaikinya, tetapi sibodohku tidak mau kalau sumber kencono, kebetulan ia orang surabaya jadi cukup mengenal / mendengar kabar angin mengenai sumber kencono walau belum pernah menaikinya.

sambil sarapan sambil berdebat rencana turing selanjutnya, tetap mau ke purwodadi atau semarang, akhirnya karena pertimbangan kenyamanan bis dan masih banyak waktu untuk mengejar ke pati, ia setuju semarangan, seandainya purwodadi ada yang patas.

ismo kurang sreg, rajawali kurang sreg, masih jam setengah 9 jadi masih banyak waktu tuk milih-milih bis.
kutanya ke orang warung tempat kami makan jadwal sumber kencono selanjutnya, ternyata jam 1 siang dilatarbelakangi dengan mata melotot dan cengkraman tangan kuat sibodohku.
1526 safari masih mengantri di urutan ketiga tuk masuk jalur keluar, yasudah cari safari yang mau jalan saja, kurang sreg juga tapi ya mau gimana lagi, 1525 new travego dengan supir dan kenek yang masih muda, bangku / seat 1-2 kami tempati.

langsung keluar terminal tirtonadi mendorong-dorong ismo didepannya tuk segera menjauh dan bermaksud tuk giliran ngetem, tapi belum beberapa lama kemudian rajawali gantian mendorong-dorong kami dari belakang tuk segera menjauh / lari.
solo-semarang sungguh jalur gemuk dan keras, jarak antar bis paling lama 5 menit, kalau tidak pintar-pintar mengatur tempo / jarak antar bis dapur dirumah bisa-bisa tidak ngebul.
bis berjalan dikisaran 60 km/jam dan tampaknya sibodohku menikmatinya, sialan.
tapi ku bisa mengerti dan memahami, jika terlalu lari maka jarak dengan bis di depannya terlalu dekat, tentu juga berpengaruh ke okupansi penumpang yang kemungkinan besar makin dikit tentunya karena baru saja naik bis yang didepannya, kalau terlalu pelan jelas tidak enak dengan bis dibelakangnya, teringat kota jakarta ‘rapat lay’.

baru teringat ku belum punya tiket tuk nanti sore, kuhubungi anez tuk memesankan tiket haryanto / nusantara tujuan pulogadung / rawamangun.
lama tidak dapat kabar, kumulai resah, sibodohku hanya meledek ‘asik naik kereta’.
akhirnya anez memberi kabar bahwa haryanto / nusantara tayu tujuan pulogadung / rawamangun sudah penuh semua, waduhh.
kuhubungi mas indra, walupun ku sudah tau pasti jawabannya apa, tapi tetap kuhubungi.
‘selamet dan madukismo gimana bay’, yak itulah jawabannya ke semua orang yang bertanya kepadanya, dasar, kuhanya bisa tersenyum. tetap kuminta nomor agen haryanto / nusantara pati, setelah akhirnya mendapatkan nomor tersebut dari mas indra, langsung kuhubungi agen-agen tersebut yang ternyata kesemuanya tinggal seat / tempat duduk tengah-belakang atau bisa dibilang habis karena ada yang menyisakan hanya 1 kursi.

maaf ya mas indra bukannya tidak mau naik selamet, tapi dari rumah sudah niat ingin memperkenalkan haryanto / nusantara dulu ke sibodohku ini.

bingung belum dapat tiket, dan aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sangat jarang ini, pokoknya harus haryanto / nusantara dan tempat duduk baris depan tuk ngasih liat ke sibodohku seni pantura.
akhirnya aku memutuskan nyari tiket di semarang, dimana bisa ikut haryanto / nusantara dari berbagai jurusan, setidaknya lebih banyak kemungkinan mau diikutkan bis yang mana oleh agen, baik dari rembang-pati-jepara-kudus.
bilang ke kenek untuk ke kalibanteng harus turun dimana, yang ternyata nantinya diturunkan di terminal ungaran tuk nyambung damri.
setelah turun di terminal ungaran kulangsung naik damri yang terparkir disitu, dengan jurusan banyumanik, setelah membayar aneka jaya 20ribu, safari 20ribu, kali ini damri 3ribu karena ternyata salah jurusan, harusnya bukan yang ke banyumanik dan harus turun tidak jauh dari selepas terminal tadi, disuruh nyambung bis kecil 3/4.
kutuju tempat ngetem bis kecil 3/4 tersebut, kutanya lewat kalibanteng atau tidak, yang ternyata kata keneknya lewat.
kami naik dan sungguh hebat ternyata supirnya anak kecil, ya ampun yang kuyakin sim pun pasti tidak punya.
langsung dijalankan bis kecil ini dengan agresif goyang kanan goyang kiri mepet kanan mepet kiri, waduh kubilang ke sibodohku ‘nyampe ngga ya kita ke kalibanteng’, ia hanya tersenyum.
kenek menghampiri kami, kuberi langsung 6ribu rupiah untuk 2 orang tapi ternyata katanya kurang, ia meminta 12 ribu rupiah, waduh kuberdebat dan akhirnya hanya mau turun 10ribu rupiah, ya sudahlah malas ku meladeninya, tetapi sibodohku tetap menggerutu kecil dan kusenggol kakinya untuk ikhlas.

nah lho, ternyata si kenek yang tadi berganti menjadi supir dan si supir kecil tadi menjadi keneknya sekarang, sambil diomeli si supir kecil tadi karena bawanya ngga becus.
dengan beda umur yang tampaknya tidak begitu jauh dan masih sama-sama muda ternyata bawanya lebih ngaco, kaya bawa kambing, kopaja dan metro mini di jakarta kalah, aku dan sibodohku hanya tertawa dan tampaknya ia mulai menikmati adrenalin ini, sambil kubilang ‘kamu udah resmi jadi bismaniatun’.

ternyata kami dituruni di lingkar lawang sewu, yah maklum buta kota semarang jadi gampang dibohongi, payah.
lagi-lagi kami harus menyambung angkot tuk menuju kalibanteng, sebelum memasuki angkot kupastikan dulu apakah angkot ini lewat kalibanteng persis di depannya agen haryanto / nusantara, dan supirnya yang sudah cukup tua mengiyakan.
seakan ingin menebus kekecewaanku terhadap angkutan umum di kota semarang, pak supir angkot itu tampaknya begitu memastikan tempat ku turun, ‘kalibanteng yang banyak agen bis itu mas ya, mas mau kemana, agen kramat djati atau yang mana, jurusan mana?’, dan semua pertanyaan bapak itu kujawab ‘mau naik haryanto pak, jakarta’, langsung bapak itu memberhentikan angkotnya tepat didepan agen kecil dengan cewek manis dan montok didalam agen itu.

muka yang familier, terakhir melihatnya ketika naik gold dengan rombongan turing wonosobo.
langsung kuminta dicariin tiket pulogadung / rawamangun, ia dengan gesit menghubungi semua agen untuk mencari kursi tersisa, meskipun ia tahu bahwa yang kucari adalah kursi depan.
dengan menyesal ia memberitahukan bahwa tinggal tersisa seat 13-14 untuk rawamangun dan seat 21-22 untuk pulogadung.
sibodohku sudah ngomel-ngomel bahwa tidak masalah duduk di tengah atau belakang, tetapi bagiku masalah, karena tujuan turingku kali ini adalah ingin menunjukkan kepadanya seni dari hobiku, pelajaran pertama yang ingin kuberikan kepadanya adalah bis ngebut dengan tontonan layar pantura sekaligus.

kuminta izin dari mbak manis dan montok yang jadi agen haryanto itu untuk mencari tiket lain.
kulewati shantika, lalu bejeu’ku maaf ya karena aku bukan ke lebak bulus dan untuk armada pulogadung mu terlalu gambling buatku, muji jaya lewat, langsung menuju agen besar nusantara.
wow ramai sekali di agen nusantara ini yang ternyata adalah penumpang cirebon-tegal yang sedang menunggu bisnya yang telat datangnya.
langsung menuju pemesanan tiket sempat terucap dari mas ticketing’nya kalau pulogadung sudah penuh, dan diceknya lagi untuk rawamangun, puji Tuhan ternyata ada seat 7-8 baris kedua dari depan, langsung kutebus 230ribu rupiah.
kutanya kepadanya mengapa aneh yang tersisa kok seat 7-8 sedangkan yang belakang-belakangnya sudah penuh, dan ternyata diketahui ada batalan, sungguh beruntungnya aku.

dicetaknya tiket online dengan data diri lengkap, ns 19, 33 seat, yang berarti biasanya scania rembang dengan 7 baris kiri 8 baris kanan 3 bangku belakang.
asik scania bukan 1525.
balik ke mbak manis dan montok di agen haryanto itu, langsung menanyakan dapat atau tidak ku tiket, dan kubilang sudah dapet.
mbak itu menebak kalau ku dapet muji, begitu kukasi tau kalau kudapet nusantara seat 7-8 mbak itu kaget karena biasanya nusantara paling pertama kali full terlebih untuk bangku baris depan.
pamit dan minta maaf dengan mbak’nya, pindah ke agen nusantara untuk beristirahat.

cari tempat duduk pun sulit di agen nusantara semarang tersebut, kuambil kursi plastik, lalu ke toilet untuk bersih-bersih dan lain hal, istirahat sebentar, waktu menunjukkan setengah 2 siang, sebenarnya sibodohku ini mau-mau aja diajak lanjut ke pati, tapi dari kalibanteng menuju terboyo butuh waktu, dari terboyo menuju pati juga butuh waktu, seandainya terkejar pun pasti di pati hanya sebentar, selain capek tentu tidak puas jika hanya begitu ketemunya dengan rekan pati.
untuk sahabat-sahabatku di pati, maaf kemaren tidak jadi lagi.

merasa cukup beristirahat jam 3an kami mencari makanan sambil jalan-jalan, naik becak 15ribu ke lawang sewu yang ternyata hari itu sedang direnovasi, menyusuri pandanaran hingga simpang lima hanya untuk mencari makanan, cukup jauh dan lelah namun fun.
makan disimpang lima sampai sore, balik mengirit ongkos jadi menghindari becak, pilihannya hanya bis, kupastikan dulu tentunya apakah lewat kalibanteng atau tidak.
sepanjang perjalanan macet sampai depan agen nusantara, yang nantinya macet ini belum mencair juga sampai malam.

menjelang maghrib kami beristirahat kembali di ruang tunggu tersebut, bersih-bersih lagi, diluar lalu lintas tetap macet parah, yang kutau pasti kedatangan bis juga telat.
setengah 7 malam mulai lewat pahala kencana baik divisi kudus maupun jakarta, jam 7 kuajak sibodohku ini keluar tuk melihat aksi catwalk bis-bis muriaan.
dimulai dari 2 bejeu beriringan, intercooler dan rg, wah seandainya ku tau rg ngelen pasti kuincer dia.
menyusul haryanto hm 21 gold, seandainya kudapat dia.
lalu haryanto destroyer wheel crazy, salah satu target yang kuincar kres-kresan destroyer laskar pelangi, tiba-tiba bodohku berkata ‘bisnya bagus bodoh’, yes tampaknya sudah mulai teracuni pikirannya.
lewat juga purple, ocean rk8, dan yang menarik jelas bejeu favoritku b8 rk8 hidek meskipun belum mencoba batangan baru yang membawanya sekarang.
melihat bejeu sibodohku ini sangat tertarik dengan wifi’nya juga coffee maker’nya, tambah lagi kena racun bis pikirannya.

‘bodoh itu scania’
‘bodoh aku suka deh sama warnanya nusantara’
senang mendengar ia mengeluarkan kata-kata itu, walaupun setiap kubilang kalau bis ini kenceng pasti dia langsung menutup telinga seolah tidak mau dengar, dasar.

berturut-turut nusantara mulai datang mengambil penumpang di agen tersebut, ns 19 ku termasuk rombongan terakhir karena angkatan dari rembang.
yang kusuka ketika menunggu bis adalah rasa deg-deg’an dan bertanya-tanya akan dapat apakah armada nanti, atau ngeblongkah bisku nanti.
dengan bertuliskan ns 19 dikaca depan, scania irizar hs 152, setidaknya ini untuk pertama kalinya ku menaiki irizar walupun jadi-jadian.

langsung menuju bangku kami, membelah kemacetan kota semarang hingga memasuki lingkar kendal tetap padat merayap, dengan driver depan yang lincah mengintip dan berpindah jalur kiri / kanan, berbondong-bondong konvoi bis ada didepan dan dibelakang kami, wuih seru nih.
setiap goyang dikit sibodohku ini menutup wajahnya dengan selimut seakan tidak mau lihat dan tangannya mencengkeram lenganku seolah ketakutan atau sedang ngerem tangan mungkin.
baru dari agen semarang hingga rumah makan aja dah seru gini apalagi nanti di pantura, tapi sayang ditengah aksi blong-blongan tersebut kusempat ketiduran sebentar, maklum sudah capek dari pagi hingga sore.
tercatat cukup banyak yang diblong sebelum rumah makan, tapi yang menarik bagiku adalah aksi mengejar hs 208 1525 dan shantika scorking k380 asli. sementara dibelakangku menumpuk sesama kompatriot yang siap menyalip jika salah ambil langkah sedikit, baik ns 21 scania atau 1525, juga ns bandung.

masuk rumah makan, nyam-nyam.
bahkan kakek-nenek pun tidak mau antri, kami hanya saling tersenyum, dan memberi pengertian ke sibodohku memang begini ketika makannya.
belum aja dia merasakan antrian penumpang bejeu yang didominasi mas-mas.

lepas rumah makan berlanjut ke supir tengah langsung terasa mantab tarikannya juga jauh lebih lembut, lebih pasti ketika menyalip diselingi aksi mepet bokong terlebih dahulu, bahkan sibodohku juga merasakan hal yang sama kalau supir yang sekarang lebih enak dan lebih ngebut kayaknya walaupun ia hanya melihat kesamping kaca dan belum berani melihat depan / layar pantura langsung.
sudah mulai masuk dikit-dikit bismaniatunnya.

belum sampai tanjakan plelen tercatat sudah banyak bis yang di blong, mantab dengan tenaga yang berlimpah.
terlihat iringan konvoi bis di tanjakan plelen dan bisku ini lebih memilih lewat jalur alas roban lama / jalur truk dan ternyata salah prediksi karena banyak truk dan banyak kres-kresan jadi laju bis agak sedikit terhambat.
keluar alas roban bis yang tadi kami blong kembali ada didepan kami, dan harus mengulang dari awal untuk mengeblong mereka satu persatu.
mantablah itu gas dibejek terus, shantika ungu sempat memberikan perlawanan alot dari pekalongan hingga pemalang, walaupun akhirnya menyerah sebelum masuk lingkar pemalang.
masuk lingkar pemalang mencoba agresif dan tampak bokong putri michiko rk8, didepan putri michiko tampak juga bokong ns o4 scania.

satu per satu lepas dari kepadatan lingkar luar pemalang, duet maut ns 19 ku dan putri michiko tidak dapat terhindarkan lagi, sementara ns 04 yang didepan tadi telah lebih dulu menjauh.
sambil merem melek karena lelah dengan padatnya kegiatan dari pagi hingga sore tadi, masih sempat menyaksikan keganasan duet ini, ngeblong beberapa bis tanpa banyak basa-basi tanpa aksi tempel menempel.
saya akui rk8 masih sanggup menandingi tenaga besar scania ku, memang generasi 260hp dibuat untuk menandingi keganasan singa dari swedia ini.
aksi duet konvoi ini berlangsung hingga pintu kereta pejagan, sayangnya si putri michiko tersebut belok kiri untuk masuk tol pejagan dan ns 19 ku lurus dengan mengambil jalur lama yang ternyata sekarang jembatan layangnya sudah jadi, sehingga bebas dari kemacetan.
tidak disangka ternyata ns 04 scania super eksekutif sudah didepan mata, seakan merasa didorong dan tidak mau disalip, ns o4 tersebut semakin lari, entah mengapa ku merasa scania ns 04 tersebut lebih unggul larinya dari ns 19 ku, memang berdasar info scania ns 19 termasuk scania generasi pertama dan paling tua jika dibandingkan scania ns 04.
namun jelas skill driverku lebih unggul sehingga mampu terus menempel dan sesekali memasukkan setengah badan bisnya pertanda meminta jalan, tapi lagi-lagi kelas diatas bisku ini tidak mau begitu saja memberi posisi depannya.

masuk tol cirebon tetap dengan ns 04 didepanku ketika melewati jembatan layang diatas tol tampak haryanto phoebus diikuti putri michiko baru melintas.
mulai memasuki jalur tol yang sama dengan phoebus dan putri michiko tersebut duet scania ini mulai menunjukkan tenaga besarnya, melibas putri michiko dan berusaha mengejar phoebus yang makin menjauh.
tak kukira ns 04 yang pernah 3 kali kunaiki namun mengecewakan larinya, malam itu ia begitu garang layaknya bukan bis super eksekutif, mengambil bahu jalan untuk menyalip pahala kencana, lalu zig-zag untuk masuk ke jalur kanan lagi, sementara ns 19 ku tetap mengikuti ns 04 namun anteng dan bermain aman di jalur aman pula, tidak seagresif ns 04 tersebut.

sibodohku hanya bilang kalau bis ini lari kenceng banget.
perlahan mulai kelihatan lampu biru dari bagian bawah phoebus, memasuki kepadatan pintu tol lagi-lagi ns 19 ku menunjukkan feeling dan kelincahannya lebih unggul dibanding ns 04 dan phoebus, berhasil mengambil alih posisi di depan 2 bis tersebut akhirnya bisku lari hingga tak terkejar lagi.
seandainya itu bukan air suspensi scania pasti kami merasa tersiksa di dalamnya, lari dengan kecepatan tinggi namun lubang-lubang pantura hanya terasa seperti garis kejut jalan tol.

mata sudah tidak dapat dikendalikan lagi, sesekali melek sedang mengeblong beberapa bis, lalu merem lagi.
melek lagi sedang pergantian supir, lalu merem lagi.
melek lagi sudah dirawamangun, jam setengah 6 pagi sabtu 9 april 2011, berangkat telat jumat malam 8 april 2011 jam 10 malam dari agen semarang, lumayan.
sayang sekali seandainya malam itu aku tidak lelah pasti sangat seru karena sepanjang perjalanan bermain terus dan mendapat lawan yang sepadan.

-bay-
ym :  yuanitobayu
fb :  yuanito bayu anggoro tiko


Catatan Perjalanan yang lainnya:



PAIDI
Ditulis oleh

''

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

;